DUA DUNIA, SATU JIWA

By: konohafled

Ditulis untuk menjawab tantangan Infantrum "Black and White"

Set: Black/Angst

Fandom: His Dark Materials (Disclaimer: Phillip Pullman)

Pairing: Lyra-Will

.

Kita masuk ke bagian Chorus yaitu tentang Mrs. Coulter. Tema yang cocok untuk side chara ini tentu saja "Daemon from Heaven"

Huruf italic adalah POV Will atau Lyra


-Chorus-

Wanita Cantik dan Monyet Emas

.

Will

Suara itu seperti membiusku. Pelan tapi terdengar jelas. Lembut tapi tegas. Dan manis. Entah kata apa lagi yang pas untuk menyebutnya. Yang jelas, aku seperti terbawa ke sana. Aku seperti berada dalam pelukannya. Aku seperti harus percaya padanya.

Tapi Lyra sudah melarang. Dia sendiri yang bilang, ibunya adalah wanita licik, paling licik di dunia. Entah dunia siapa yang dia maksud. Duniaku atau dunianya, atau dunia Citagazze. Atau dunia mana lagi yang belum pernah kudatangi.

Yang jelas lagi, aku penasaran. Seperti apakah rupanya? Apakah seperti Lyra? Atau jauh lebih cantik, seperti bidadari dalam buku-buku dongeng? Mungkin memang secantik itu, karena tampang Sir Charles nampak begitu… aneh. Aku cuma bisa melihatnya sekilas. Tapi dari yang sekilas itu kelihatan bahwa lelaki itu seperti ingin… menerkamnya.

Tampaknya ini saat yang tepat untuk mencari alethiometer. Ya, mumpung dia sedang bersemangat menjelaskan tentang Citagazze, Specter, medan magnet bumi, dan … ayahku? Hey, tunggu! Apa yang dia tahu tentang ayahku?

Bayangan kecil, pendek yang sedari tadi mondar-mandir di dekat asal suara wanita itu kini diam. Aku jadi bisa melihat bentuknya dengan lebih jelas. Dari siluetnya, dia seperti monyet. Ekornya dikibaskan sekali, lalu diam. Dan nampaknya semua ikut diam ketika Sir Charles berkata, "Saya penasaran dengan alat ini. Jelaskan cara kerjanya."

Dia pasti bicara tentang alethiometer. Aku beranikan diri mengintipnya. Benar! Itu alethiometer yang kucari.

Aku menoleh ke jendela ke dunia Citagazze. Lyra sedang berjongkok di sana, ikut menguping seperti aku. "Alihkan perhatian dia," bisikku. Lyra berkedip.

Mereka kembali bicara. Aku sekilas melihat tampang Sir Charles semakin menjijikkan. Suaranya pun berubah menjadi semakin rendah, lambat, dan seperti… apakah itu yang namanya merayu?

Tak lama kemudian, sebuah batu melayang ke ruangan ini. Lyra sudah melakukan tugasnya. Dua orang itu terpekik kaget. Beberapa batu lagi melayang, disusul sumpah serapah Sir Charles. Aku pun ikut melayang, menyambar alethiometer dan kabur. Sempat kulihat monyet berbulu keemasan, pemilik bayangan yang mondar-mandir tadi. Sempat juga kulihat muka Sir Charles yang merah padam. Jauh berbeda dengan tampangnya saat bicara dengan wanita tadi. Sempat juga mataku mengejeknya.

Bodoh sekali, percaya pada wanita yang daemonnya monyet!

Dalam sekejap aku telah kembali ke Citagazze, kembali ke Lyra.

.

oOo

.

Tubuh lelaki gemuk itu kini terkulai. Bola matanya seperti terpelintir ke atas. Buih putih bercampur darah belum lagi kering di ujung bibirnya. Tak jauh darinya, bangkai ular terbaring tenang. Tubuhnya tinggal separuh. Bukan, bukan terpotong. Lebih tepatnya, hilang. Bangkai itu hampir separuh transparan sekarang. Entah berapa lama lagi, bangkai itu akan lenyap ditelan udara. Sama seperti bangkai daemon lain jika manusianya mati.

Padahal baru beberapa menit sebelumnya, ular itu menggeliat karena nyaris tak kuat menahan nikmat. Sentuhan sensual dari monyet berbulu emas, yang kini menatap sinis pada bangkainya, membuatnya menjeritkan desisan aneh yang hanya bisa ditangkap artinya sebagai: birahi.

Monyet emas itu melompat ke pangkuan Mrs. Coulter. Wanita cantik itu membelai daemonnya dengan penuh sayang.

"Kau benar-benar pintar, sayang," bisiknya pada makhluk mungil itu.

"Tapi masih ada satu pekerjaan lagi buat kita," sahut monyet berbulu emas itu.

"Aku tahu."

Sekejap kemudian, wanita cantik rupawan itu membalikkan badan. Dia berjalan ke suatu sudut tersembunyi di tempat itu. Daemonnya turun dari pangkuan dan berlari mendahuluinya.

"Kau kira dirimu seperti udara, hah?"

Gadis penyihir yang sedari tadi mengintip semua kejadian di tempat itu, seolah membatu mendengarnya.

"Kau tak akan bisa menyentuhku," desisnya, berusaha melawan di tengah balutan ketakutan.

"Aku tak akan menempelkan kulitku yang hina ini padamu, penyihir," kata Mrs. Coulter, lirih namun menusuk. Lalu dia menjentikkan jari-jarinya, menimbulkan suara yang lebih keras dari suaranya sendiri, "tapi dia yang akan menyentuhmu."

Sosok yang hanya sedikit lebih pejal dari udara datang mendekatinya. Hawa dingin ikut mendekat dan segera merasuk menembus pori-pori penyihir yang malang itu.

"Specter ini tampaknya menyukaimu," kata Mrs. Coulter sambil melirik pada sosok yang nyaris transparan itu.

Penyihir itu kini pucat pasi. Nyaris seluruh bagian tubuhnya tak dapat bergerak. Tinggal kelopak matanya yang sesekali menutup menahan sakit, dan mulutnya yang patuh bersuara. Mulut itu tak bisa menolak untuk membeberkan semua yang diketahui otaknya. Sama seperti yang dilakukan lelaki gemuk yang memiliki daemon berwujud ular itu.

Beberapa menit kemudian, nasibnya pun sama dengan lelaki gemuk itu. Tubuhnya terkulai lemah. Bahkan nyawanya pun sendiri tak tertarik untuk menemaninya.

Monyet berbulu emas itu melompat ke pangkuan Mrs. Coulter. Keduanya tersenyum puas.

.

oOo

.

Lyra

Seperti ada suara jeritan. Aku membuka mata. Dari mana asal suara itu?

Aku melihat dua penyihir yang bertugas menjagaku berdiri kaku. Mata mereka menatap nanar ke satu titik. Apa yang mereka lihat?

Aku berjalan mendekati mereka. Tapi… ah! Sakiiiit! Leherku rasanya tercekik. Apa yang terjadi?

"Hentikan itu!"

Sakit di leherku langsung hilang. Aku menoleh ke belakang. Pan terbatuk-batuk. Di sebelahnya ada monyet berbulu emas. Jadi monyet jelek itu yang tadi mencekik Pan.

Tunggu. Berarti yang bersuara tadi itu…

"Jangan takut, Lyra."

Ibuku. Ibuku yang kejam dan paling licik di seluruh dunia.

"Mereka dikirim untuk membunuhmu. Tapi kau tak perlu takut."

"Mereka siapa?" tanyaku ketus. Aku tahu, ibuku termasuk orang yang membenciku.

"Ah, kau tak perlu tahu siapa mereka, malaikat kecilku."

Aku melirik ke tubuh dua penyihir yang kaku tadi. Kenapa posisi mereka masih seperti itu? Apa mereka sudah mati? Kalau iya, siapa yang membunuh mereka? Jangan-jangan…

"Mereka dibunuh Specter," kata ibuku. Rupanya dia bisa membaca pikiranku.

Aku ingat Specter. Makhluk aneh tanpa bentuk yang melayang-layang. Kerjanya melahap jiwa orang dewasa. Tapi…

"Lalu kenapa kau tidak dibunuh Specter?"

Ibuku tersenyum.

"Anggap saja ibumu ini punya tolak bala, sayang. Mereka tak akan sanggup menyentuh sejumput pun rambutku. Tapi mereka tidak sendiri. Dan kau tidak aman di sini, sayangku."

Pan melompat ke pundakku. Aku memegangnya dan mendekapnya di dadaku.

"Tapi selama ada aku, kau tak perlu takut."

Suara itu. Aku ingat waktu kami bertemu pertama kali di Jordan. Suaranya yang lembut. Sorot matanya yang hangat. Aku ingat, aku dulu berharap bahwa dia adalah ibuku. Dan memang ternyata dia adalah ibu kandungku. Orang yang kini berbicara padaku.

"Ah, sudahlah. Kita minum-minum dulu supaya kau tenang. Ya, sayang?"

Ibuku menuangkan air ke gelas kosong, lalu menyodorkannya padaku. Dia sendiri minum langsung dari botolnya.

Aku minum dari gelas itu hingga habis hampir dalam satu teguk. Ternyata aku haus.

"Kita memang pernah punya masalah. Tapi kita akan memulai awal baru yang indah. Seperti keluarga lain. Ya, sayang?"

Mataku terasa berat. Tanganku seperti hilang dari tubuh. Aku seperti tidak menginjak tanah.

Pan jatuh dari dekapanku. Aku tidak mendengar suara 'buk' tubuhnya beradu dengan tanah. Mungkin monyet emas jelek itu sudah menangkapnya. Atau mungkin Will… eh, di mana Will?

"Selamat datang, anakku sayang."

Aku merasakan kepalaku jatuh ke benda yang hangat. Lalu semua gelap. Aku merasa tenang, sangat tenang.

.

- akhir Chorus -


Uhah! Selesai juga melewati jurang writer's block dan lembah ke-tidakPD-an. Hahaha… lebay mode on forever^^

Seperti biasa, di bawah ada keterangan yang semoga membantu ^^

Bukan sekedar glosarium

Alethiometer:

berasal dari kata "alethia" (kebenaran), alat ini memang berfungsi sebagai penunjuk kebenaran. Seperti kompas, alethiometer memiliki jarum penunjuk dan simbol-simbol. Hanya sedikit orang yang bisa membacanya. Lyra memiliki bakat alam karena bisa membaca alat ini tanpa diajari siapapun.

Dunia Will

adalah dunia yang kita tempati.

Dunia Lyra

adalah dunia paralel dengan dunia kita. Kota dan negara-negara yang ada di sana sama namun berbeda dengan yang ada di dunia kita. Perbedaannya lagi adalah bahwa setiap manusia di dunia Lyra memiliki daemon.

Citagazze

adalah semacam portal dari segala dunia.

Di Citagazze ini, Will membuat jendela untuk masuk ke dunianya untuk mengambil alethiometer yang dicuri Sir Charles. Lewat jendela itu pula, Will kabur untuk kembali ke Citagazze.

Tentang Daemon

Pada usia anak-anak, wujud daemon bisa berubah-ubah. Setelah manusia menginjak dewasa, daemonnya berwujud tetap. Jenis kelamin daemon bisa berbeda dari manusianya.

Daemon selalu berwujud binatang. Ketika pertama kali bertemu Lyra, Will mengira Pantalaimon (daemon Lyra) adalah binatang piaraan.

Manusia dan daemonnya tidak bisa terpisah jauh. Jika terpisah dalam jarak tertentu, manusia dan daemonnya akan merasa sangat kesakitan secara psikis. Jika daemon dilukai secara fisik, maka manusianya akan merasa sakit secara fisik. Kejahatan besar yang dilakukan Mrs. Coulter, yaitu ibu Lyra, adalah memutus anak-anak dari daemonnya.

Apakah daemon itu? Baca saja fic saya, Anda akan tahu sendiri ^^

Tambahan dikit:

Daemon Mrs. Coulter (ibu Lyra) adalah monyet emas. Namanya tidak disebutkan dalam buku. Daemon Lord Asriel (ayah Lyra) adalah macan tutul salju bernama Stelmaria. Saya sedang membuat fic tentang dua orang ini.

Debu

Maaf, Anda harus menafsir sendiri arti Debu ^^

Yang jelas, anak-anak tidak memiliki Debu. Setelah dewasa dan wujud daemonnya tetap, manusia baru dikelilingi Debu. Dan istilah Debu ini muncul di dunia Lyra. Di dunia Will (dunia kita) namanya adalah Bayangan. Di kedua dunia itu, Debu/Bayangan masih menjadi topik penelitian menarik –sekaligus terlarang- bagi ilmuwan.

Ada dua tokoh penting yang menyelidiki Debu/Bayangan itu, yaitu Lord Asriel (dari dunia Lyra) dan Stanislaus Grumman alias John Parry (ayah Will, dari dunia kita).

.

dan seperti biasa, manfaatkan tombol di bawah untuk berkomentar, mengkritik atau mencaci fic saya.

saya terima semua dengan senang hati ^^

.