"*piip*, mitte! Boneka teddy bear milikmu ada di tanganku!"
.
"Baka! Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau akan pindah ke Amerika?!"
.
"Maafkan aku, *piip*. Hiks. Arigatou, to.. Sayonara."
.
"Maukah kau menikah denganku, *piip*?"
.
"Karin-chan, tolong jaga dia, ya."
"Hahh.. Hahh.. Hahh.." Surai brunette itu tampak acak-acakan. Iris emerald itu menatap ke arah selimut dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"What's wrong with you, dear? Why do you weake up at this early morning?" Pria yang ada di sampingnya itu menatap sang wanita dengan tatapan heran.
"Ne-nevermind. I just got a dream. But, this is.. Really painful, Jin-kun. I don't know why, but I think this is real." Wanita itu menatap sang pria dengan tatapan serius.
Jin menghela nafas berat, kemudian menatap sang istri dengan tatapan lembut dan mengelus bahu sang istri. "Daijobu, itu kan hanya mimpi, hime. Lebih baik, tidurlah. Kita kan akan ke Jepang besok." Ucap Jin sambil tersenyum tipis.
Karin menghela nafas berat. "Baiklah, Jin-kun. Oyasumi." Wanita itupun kembali merebahkan tubuhnya di atas spring bed dan tidur membelakangi suaminya.
Tangan kekar milik sang suamipun melingkar erat di atas perut ramping sang istri. Merengkuh sang istri dalam pelukan hangatnya. "Tidurlah, kau pasti lelah, hime." Ucap pria itu dengan nada manja.
"Hihihi.. Iya, iya sayang." Karin tertawa geli, kemudian memejamkan matanya.
Setelah mendengar dengkuran halus suaminya, ia membuka matanya. Memikirkan mimpi yang baru saja terjadi padanya.
'Kenapa semua ini terasa tak asing bagiku?'
LOVE
Disclaimer: Kamichama Karin and Kamichama Karin chu! Belong to Koge Donbo-sensei, and this unexplainable fiction belongs to me, Hayashi Hana-chan
Inspired by Kuch kuch Hota Hai film belongs to Karan Johar and My heart belongs to Armantono
Rated: T
Warning: OC (maybe); OOC; abal; gaje; perubahan marga; miss-typo; penggunaan bahasa inggris; inggris hancur; etc.
Summary:
Kini aku menyadarinya. Menyadari perasaanku pada sosok sahabat yang telah hidup bersamaku hingga bertahun-tahun lamanya. Aku terus mencari dan menunggunya bertahun-tahun. Namun, jerih payah yang kudapat bukanlah buah manis, melainkan buah simalakama yang begitu pahit. Apa salahku sehingga kami-sama membuatku begini?
(Bad summary) Request fiction from Kanagawa Hikari. Mind to RnR?
.
.
.
I hope you enjoy this, minna-san~
.
.
.
Iris emerald milik Karin memperhatikan seluruh seluk beluk yang ada di tempat yang ia pijaki saat ini. Irisnyapun juga menatap langit biru yang cerah dan pohon sakura yang bermekaran di sekitarnya.
"Uwaahh.. Sugoii!" Terdengar pekikan riang dari bibir mungil pria kecil berambut hitam legam khas sang ayah. Iris hijau daun itu menyapu ke segala penjuru - melihat pemandangan khas bandara di Tokyo.
Iapun berlari kecil ke arah pohon Sakura yang merupakan lambang dari negara yang ia kunjungi saat ini.
BRUKK!
Iapun menabrak sesuatu yang di depannya. Pemilik iris emerald itu melihat sosok tinggi menjulang dan memiliki iris biru laut yang tak kalah indah dari iris hijau daun miliknya.
Sang ibu yang melihat anaknya terjatuhpun berlari dan menghampiri sang anak.
"Hikaru-chan, are you okay? Apa ada yang terluka?" Karin menatap sang anak dengan tatapan khawatir.
"Mom, don't worry. I'm okay. I'm a boy, and a boy should not cry! This is just a little pain, mom! And don't call me with that suffix! I hate it!" Sang anak mengerang kesal ketika sang ibu memanggilnya dengan suffix '-chan'.
"Baka! Tapi itu kan sakit! Ayo biar mama obati!" Seru sang ibu tak kalah kesal.
"No, no! This is just a little pain, mom. I'm strong! I'm not a child! I'm bigger now!" Wajah itu menunjukkan bahwa ia tak kesakitan, namun justru membuat kekhawatiran sang ibunda tak hilang sepersenpun.
Karinpun menggenggam tangan sang anak dan mengalihkan pandangannya pada pria yang ditabrak anaknya.
Wanita itu mematung - entah kenapa. Tubuhnya terasa kaku. Jantungnya berdegup dengan kencang ketika melihat sosok Kazune yang juga tengah menatapnya. Dan hal itu sama dengan apa yang dirasakan Kazune ke Karin.
"Ka-Karin." Gumam pria itu tak percaya. Mata biru itu melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Sedangkan sang wanita, ia memiringkan kepalanya, mengerutkan dahinya.
"Apakah aku mengenalmu?" Pertanyaan polos itu muncul dari bibir Karin yang berhasil membuat Kazune mematung. Mata itu menatap sang wanita dengan tatapan tak percaya.
"Karin, Hikaru, where are you?" Pria kecil itu mulai memekik riang - memecah keheningan yang tercipta di antara Kazune dengan Karin.
"Daddy, we are here!" Pria kecil itu melambai riang ke arah sang ayah. Membuat sang ayah tersenyum tipis dan berlari ke arah sang anak.
Iris kucing itu menatap Kazune dengan tatapan ramah.
"What's wrong?" Pertanyaan itu berhasil membuat Karin tersadar.
"Tadi Hikaru terjatuh dan menabrak ojisan ini." Jelas Hikaru polos. Mata emerald itu menatap sang ayah dengan tatapan polos.
"Sou ka. Minta maaf pada ojisan." Ucap Jin memerintah sang anak.
"Gomen-nasai, ojisan." Anak itupun membungkuk dan menatap sang pria dengan tatapan penyesalan.
"A-ah. Nevermind. It's okay." Ucap Kazune sambil tersenyum tipis.
"Anoo, kami permisi dulu. Soalnya kami mau mencari penginapan." Ucap sang kepala keluarga.
Kazune menganggukkan kepalanya kemudian memposisikan dirinya ke kanan - memberi jalan pada keluarga yang tengah berbahagia itu.
Iris biru laut itu menatap punggung Karin dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Perlahan, sudut bibirnya terangkat ke atas - membentuk senyuman miris nan pedih.
'Kenapa kau melupakanku, Karin? Apa salahku?'
~LOVE~
"Jangan menangis hanya karena pemuda bodoh yang menolakmu itu, baka! Masih banyak lelaki lain yang ada di dunia ini. Bukan hanya dia!"
.
"Aku berharap terlalu banyak berharap padamu, ya. Padahal kenyataannya, kau menyukai orang lain."
.
"Jangan pergi, baka! Siapa yang akan melihat upacara pernikahanku nanti? Siapa yang akan melihat anakku nanti, hah?! Siapa!"
.
"Karin-san, tolong jaga dia, ya."
Perlahan, iris emerald milik Karin memperlihatkan diri - membuat kedua lelaki yang ia cintai menatapnya heran.
"Mom, what's wrong with you? Why did you cry? Are you sad?" Iris yang sama dengan dirinya menatap sang ibu dengan tatapan khawatir.
Jemari lentik miliknya menyentuh pipinya yang basah terkena air mata. Ia menghela nafas berat. Iapun menggelengkan kepalanya pelan. "Nevermind. It's just a dream." Sudut bibir sang ibu terangkat ke atas - membentuk sebuah senyuman lembut khas dirinya.
"Oh, I see. But, don't cry again. I'll be sad if you cry in front of me, mom." Ucap sang anak.
"Of course, dear. Don't worry, and thank you so much." Iapun tersenyum tipis mendengar ucapan sang anak.
Sedangkan sang ayah, ia hanya terdiam mendengar percakapan ibu dan anak itu. Iris kucingnya menatap lurus ke arah depan. Menyetir mobil yang ia beli sewaktu di Tokyo dan menitipkannya pada seseorang yang ia percaya di Tokyo selama beberapa tahun.
Sedangkan sang ibu, ia terdiam sambil melihat langit siang di kota Tokyo.
'Karin-san, tolong jaga dia, ya.' Ucapan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Suara lembut itu - entah mengapa ia merasa mengenal suara itu.
Ia memejamkan matanya. Dan menghembuskan nafasnya pelan.
Ia memijit kepalanya pelan. Jujur saja, ia memiliki satu pertanyaan yang terus terngiang di kepalanya.
Mengapa ia tak bisa mengingat masa lalunya?
Sesekali ia melirik sang buah hati yang tengah tertidur dengan pulasnya dengan tatapan lembut dan mengalihkan tatapannya ke arah sang suami yang tengah mengendarai mobil yang akan membawa mereka ke penginapan.
Inilah saatnya!
"Jin-kun, I wanna ask something for you." Mata emerald itu memandang pemilik iris kucing di sampingnya dengan tatapan serius.
"You can ask everything, dear. Don't worry. I'll answer it." Sang suami memamerkan senyum tipis khas miliknya dan melirik sang istri sekilas.
"I think you know my past life. Could you retell me again, please?" Keheningan itu tercipta setelah terdengar permintaan sang istri.
Pria itupun menimbang-nimbang keputusannya. Sebenarnya, ia tidak ingin membuka luka lama milik istrinya itu, tetapi di sisi lain, ia tidak bisa menolak permintaannya.
"Yang kutahu, kau memiliki seorang sahabat di Jepang. Dan sahabatmu akan menikahi wanita lain. Yah, itu saja. Why?" Mata kucing itu menatap sang wanita dengan tatapan heran.
"Oh, I see. I feel there are something wrong between us. I don't know what. But, I think there's a little memory that I've missed and you don't wanna tell it." Iris emerald itu menatap mobil-mobil yang ada di jalanan dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Aku merasa tidak asing dengan semua ini, termasuk pria itu. Aku merasa aku mengenalnya, tetapi aku tidak tahu dimana kami berkenalan." Sang pria terus mendengarkan cerita sang istri sambil mengendarai mobilnya.
Jika seandainya sang istri mengingat semuanya, apa yang harus dia lakukan?
~LOVE~
Iris sapphire itu menatap mobil-mobil yang ada di depannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Lagu gomen ne watashi yang dinyanyikan oleh Nanba Shiho menyapu pendengarannya. Dan memasuki relung jiwanya. Meresapi isi lagu yang disampaikan oleh sang pengarang lagu.
Iapun memejamkan matanya, kemudian mengeluarkan nafasnya berat. Ia memijit pelipisnya pelan.
Apakah ia bermimpi?
Iapun memejamkan mata sapphire-nya sekali lagi, dan mencubit pipinya kuat.
"Awww." Pria itu meringis pelan. Berarti, ini bukan mimpi.
Ingatannya berputar pada saat ia ditabrak oleh sosok anak kecil bermata emerald yang sangat mirip dengan milik sahabatnya.
Namun, kenapa wanita itu melupakannya? Kenapa wanita itu berlaku seperti itu padanya?
Apa salah dirinya sehingga wanita itu mengatakan 'apa aku mengenalmu?' Jujur saja, itu sangat menyakitkan.
Iapun menyentuh dadanya yang berdenyut perih. Tidak. Tidak mungkin wanita ber-notabene sahabatnya itu tidak mengenalnya.
Iapun memukul tangannya ke setir mobil yang ia kendarai dan mengacak rambutnya frustasi.
"ARGHH, Kami-sama, kenapa engkau menghukumku seperti ini? Apa salahku, kami-sama!" Iapun berteriak keras - mengeluarkan amarah yang sedari tadi ia tahan.
Liquid beningpun jatuh dari pelupuk mata pria itu. Menunjukkan seberapa sakit hatinya.
"Apa salahku, Karin? Kenapa kau membuatku begini?" Lirih pria itu pelan yang hanya dapat didengar oleh Kami-sama.
Kazune, kau tahu, kami-sama tengah mempersiapkan kado terindah untukmu dan juga dirinya. Bersiap-siaplah untuk menerima kado itu.
~LOVE~
Langit merahpun telah berganti menjadi langit biru tua yang identik dengan kehadiran sang dewi luna dan hiasan langit lainnya. Menggantikan sang dewa siang yang sudah menunaikan tugasnya menyinari bumi ciptaan Tuhan yang maha kuasa.
Mata emerald itu menatap sang dewi luna dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ingatannya berputar pada sosok pria bersurai blonde dengan mata sapphire yang begitu indah baginya. Hidung mancungnya dan bibir yang kissable itu membuatnya mulai tergoda untuk segera mencicipi bibir itu. Sudut bibirnya mulai terangkat ke atas. Membentuk senyuman indah yang berhasil membuat siapapun terkagum dan tertarik dengannya.
Ia menggelengkan kepalanya pelan dan menundukkan kepalanya ke bawah. Hei, mana mungkin ia bisa menduakan suami tercintanya itu?!
Namun, ia mulai merasakan wajahnya mulai memanas. Jantungnya mulai berdegup dengan kencang. Memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang merasakannya.
Tidak! Ia tidak boleh melakukan ini! Kenapa ia memikirkan sosok pria yang baru saja ditemuinya itu!
Iapun menghela nafas berat. Matanya kembali menatap sang dewi malam yang tengah menjalankan tugasnya. Semilir anginpun berhembus - membuat rambut brunette itu mulai berkibar menambah pesona sang pemilik.
Entah mengapa, ia seperti pernah merasakan hal yang sama. Tetapi ia tidak tahu kapan ia merasakan ini.
"Nee, kau kenapa?"
"Daijobu. Aku sedang memikirkan dia. Hehehe."
"Dia? Ternyata sahabatku ini sudah mempunyai orang yang disukai, heh?"
"Kenapa kau tidak cerita, Karin-hime?"
"Jangan memanggilku dengan panggilan itu!"
"Ughh.." Terdengar lenguhan yang keluar dari bibir Karin. Tangannya memijit pelipisnya pelan - berusaha untuk mengurangi rasa sakit yang menderanya.
"Kami-sama, kenapa aku harus mengalami ini? Apa salahku? Kenapa harus menyukai sahabatku sendiri? Kami-sama, kenapa ini begitu menyakitkan?"
.
"Kami-sama, bisakah kau mendengarku? Kami-sama, *piip* akan melamar *piip*! Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menyatakan perasaanku padanya? Kami-sama, apakah ini jalan terbaik untukku?"
.
"Karin-san, kau tahu, dia mencintaimu. Kaulah yang ada di hatinya. Kaulah yang ditunggu-tunggu selama ini. Jadi, jangan bersedih lagi, ne."
'Su-suara itu.' Matanya membola ketika mendengar suara lembut itu. Perlahan, pandangannya mulai kabur. Keseimbangannya mulai tak dapat ia kendalikan. Kepalanya mulai berputar-putar.
Iapun mulai berjalan - meninggalkan tempat ia memandangi sang dewi luna. Berjalan ke tempat dimana ia menyimpan obat-obatan yang biasanya ia minum jika sudah mengalami sakit kepala seperti ini.
Namun, niatnya itu tak dapat terlaksana. Ia jatuh tersungkur di depan tempat tidurnya dengan sang suami. Pandangannyapun mulai menghitam. Dan badannya jatuh ke samping.
~LOVE~
"Kenapa kau tidak cerita, Karin-hime?"
Iris emerald itu melihat lekukan tubuh jangkung yang tengah duduk di atas kursi. Ia juga melihat sosok gadis yang cukup mirip dengannya yang sepertinya tergoda oleh sang pemuda.
Ia juga melihat sekelompok orang di sekitar mereka yang sepertinya terheran dengan kelakuan mereka berdua.
Entah mengapa, ia merasa hatinya menghangat melihat adegan itu.
"Jangan menangis hanya karena pemuda bodoh yang menolakmu itu, baka! Masih banyak lelaki lain yang ada di dunia ini. Bukan hanya dia!"
Entah mengapa hatinya berdenyut perih ketika mendengar ucapan itu. Namun, di sisi lain ia seperti mengenal suara pria yang berbicara itu. Dan suara itu mirip sekali dengan pria yang baru saja ia temui di bandara.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Apakah dia baik-baik saja?"
"Sepertinya, dia mulai mengingat masa lalunya. Ini merupakan suatu kemajuan yang sangat pesat. Anda harus membantunya untuk mengingat masa lalu nyonya Kuga."
Samar-sama, ia dapat mendengar suara yang mirip dengan sang suami dengan suara pria lainnya yang ia tebak adalah sang dokter yang merawatnya. Tunggu dulu, masa lalunya? Apakah itu semua merupakan bagian masa lalunya? Apakah semua ucapan-ucapan yang tak begitu jelas itu adalah secercah ingatannya?
Apakah ia akan mengingat semua masa lalu dirinya?
"Karin-san, aku ingin memberitahumu satu hal. Dia mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku menyadari bahwa dia bukan yang terbaik untukku, namun aku terlalu egois dan menganggapnya dia akan menjadi milikku untuk selamanya. Tak seharusnya aku mengambil milik orang lain. Tak seharusnya aku mencari perhatiannya. Seharusnya aku memberimu kesempatan, hiks, tapi aku malah tak melakukannya. Aku menyesalinya. Maafkan aku, Karin-san."
Suara itu.. Kenapa suara itu selalu menghantuinya? Dia? Siapa dia itu? Ia benar-benar tak mengerti.
Namun di sisi lain, ia seperti mengenal suara itu. Tetapi, dimana ia mendengar suara lemah lembut itu?
Perlahan, indera pendengaran wanita itu mendengar derap langkah tegas khas sang suami mendekati tempat tidurnya. Iapun dapat merasakan hangatnya telapak tangan besar milik sang suami menelusuri kepalanya.
"Hei, Karin. Apakah salah aku menjadi egois?" Suara baritone itu mulai terdengar di samping kanannya. Tangan besar nan hangat itu masih saja bertengger di rambutnya dan mengelus kepalanya penuh kasih sayang.
"Aku ingat sekali sewaktu kau masih saja terpuruk karena sahabatmu akan menikahi wanita lain." Keheninganpun mulai menyelimuti ruangan dimana Karin dirawat itu.
Sebenarnya, ia ingin sekali membuka kelopak matanya dan membuat sang suami tersenyum tipis. Namun di sisi lain, Karin masih ingin mendengar dongeng tentang masa lalunya dari bibir sang suami.
"Dan di saat itu, aku benar-benar cemburu kepadamu. Aku jatuh cinta padamu Karin, namun kau tak pernah mencintaiku. Kau masih saja memikirkan sahabat yang ber-notabene pria yang paling kau cintai." Ia dapat merasakan adanya air mata yang jatuh tepat di kulit halus miliknya.
"Ahahaha.. Aku terlalu egois karena memisahkanmu dengan orang yang sangat kau cintai. Maafkan aku, hiks hiks." Hanya isakan tangis yang terdengar dari bibir prianya itu.
"Nee, aku pergi dulu ya. Aku akan menunggumu."
Seiring dengan menghilangnya punggung sang suami, iris emerald milik Karinpun mulai terbuka - menatap pintu tempat keluarnya sang suami dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
~To Be Continued~
A.N:
Holla! :D tadaima desu ne! :"D #digebukin _massa
Hana: ughh.. Sakit banget tahu.. -.-" kenapa Hana baru datang tiba2 digebukin? -_-"
Kazune: lu kelamaan Hana! -_- ngaret banget tau! -_-
Himeka: umhh.. *speechless*
Karin: *watados*
Hana: Karin-chan! Yokatta! Kau akhirnya bangkit! :D #peluk_karin
Karin: *watados mode on* anata wa, dare?
All: #pingsan
Karin: mereka semua kenapa sih? '-' aahh.. Baiklah. Saya akan membacakan kertas yang diletakkan di atas meja belajar entah siapa, yang jelas dia mirip orang itu *nunjuk Hana*.
Mimi Auziri
Ini udah di-update. Bahkan kayaknya lebih parah tingkat dewa desu ne.. :"D. Dan satu pertanyaan Hana, apakah sudah puas dengan chapter ini? :"D Yosh! Arigatou atas review-nya, dan maaf kelamaan. Mind to RnR again? '-'
Fujimoto Hanami
Insyaallah Hana buat kayak gitu desu ne. Soalnya Hana agak bingung dengan kelanjutannya. Hana aja cuma bisa sampai segitu.. :"3 apakah ini sudah mencukupi? '-'
Arigatou sudah review. :"D Mind to RnR again?
Ayu
Hontou ka? OAO uwaahhh.. Arigatou gozaimasu desu ne! :D #ngelap_ingus #woi! (Karin: #mulai_muntah) hehehehe XD bagaimana dengan chapter ini? Memuaskan kah? '-'
Arigatou sudah review! :D Mind to RnR again? '-'
Kirigaya Zikarishika
Hihihihi.. X"D arigatou gozaimasu yo. :D
Benarkah Hana buat Zikari-chan sampai sedih dengan chap 2 itu? '-'
Nee, apakah dengan chapter ini udah puas? '-'
Yosh! Arigatou sudah review, Mind to RnR again? '-'
Umroh Yoshioka
Ini sudah dilanjutkan. Apakah chapter ini udah bagus? '-'
Arigatou sudah review desu ne.. :D dan Mind to RnR again? '-'
Annisa KK
Yosh! Ini sudah dilanjutkan.. :"D gomen kelamaan. Karena di RL masih banyak kerjaan. :"3 #curcol_sambil_lirik_tumpukan_buku_UN_dan_PR
Chapter ini sudah memuaskan belum? '-'
Arigatou sudah review, dan Mind to RnR again? '-'
azahnurbandini
Arigatou atas kritikannya desu ne. Apakah ini sudah lebih baik? Kalau belum, maafkan Hana. Kadang Hana ga periksa2 dulu sebelum publish. -.-" #kebiasaanmu_hana-_-
Himeka udah menyesal karena mengambil kazu-nyan, kok.. :"3 (Karin: inner: *pucat pasi* me-nge-ri-kan).
Yosh! Apakah ini sudah memuaskan? '-'
Arigatou atas review-nya. :D
Mind to RnR again?
Aisha958
Arigatou gozaimasu ne, Aisha-san. :D
Apakah ini sudah memuaskan? '-'
Arigatou sudah review ff Hana.. Mind to RnR again?
Kanagawa Hikari
Ini ff-nya. Gomenne ga memuaskan.. :"3
Hehehehe.. :"D menurut Hika, ini udah memuaskan belum? :"3
Arigatou sudah review fic Hana.. :"D Mind to RnR again?
kujyo hezty
Ini udah dilanjutkan desu ne. Arigatou gozaimasu. :"D dan gomen kalau tidak memuaskan. :"3
Ini sudah memuaskan belum? '-'
Arigatou sudah review, dan Mind to RnR again? '-'
Karin: *ngelap keringat* fyuuhh.. Akhirnya selesai juga. *lirik semua orang pada pingsan* minna-san, pesan dari cewek itu *lirik Hana*.
Terima kasih sudah mau mampir, membaca, dan review fic Hana. Dan jika Hana ada kesalahan, dia memohon maaf sebesar-besarnya.
Dan jika ada kesalahan, misalnya typo atau apalah, Hana mohon maaf karena jarang memeriksa ulang. Dan kritik saran diterima disini..
Oh, ia.. Tapi, Hana bakal discontinue ff CHANGE, PRISON, dan My Eyes untuk sementara waktu karena Hana lupa sama semua alurnya dan tersibukkan dengan tugas Hana di RL yang begitu menumpuk plus kesehatan yang ya.. Agak menurun sebenarnya.
Insha allah Hana bakal me-remake ff yang 3 itu jika ada waktu. Karena jujur aja, Hana aja susah nyari waktu senggang karena tersibukkan dengan ujian yang begitu membanjiri hidup Hana. Plus PR yang berjibun membuat Hana semakin sibuk. Jadi, mohon dimaklumin.
Dan, kalau seandainya ada yang mau kritik dan memberi saran, beri kritik saran yang membangun dan beri alasan yang logis, agar Hana mengerti. Karena disini, Hana juga belajar bagaimana cara membuat cerita yang baik. Jangan langsung main ejek, karena Hana itu orangnya sensitif banget sebenarnya. Kalau seandainya memang pengen mencaci maki, langsung aja deh lewat pm, jangan lewat review. Lebih baik maki orangnya aja deh, daripada maki fanfic orang. Hana juga tau Hana punya banyak kesalahan dalam hal membuat fanfiksi. Namun, membuat fanfiksi itu sangat susah! Kita harus mencari ide dan inspirasi dulu. Belum lagi waktunya yang harus dikorbankan hanya untuk membuat cerita harus dimaki orang lain. Bagaimana perasaan kalian jika kalian ada di posisi Hana?
Hana memberitahu ini agar hana ga baperan lagi di RL hanya karena fanfic di flame sama orang.
Hanya itu yang dapat Hana sampaikan, dan terima kasih atas pengertiannya. oh, ia.. dan selamat hari raya idul adha bagi yang merayakan :"D
Karin: Hahh.. Akhirnya selesai juga membacakan ini. Oh, ia.. Terima kasih sudah mau berkunjung. Dan...
Mind to RnR again?
