"Yosh, kita berdua impas!"

"Apanya yang impas?"

"Siscon dan tsundere, saling melengkapi, nee?"

"Terserah kau sajalah.. Eh tapi bukan berarti aku setuju kita impas!"

.

.

.

.

.

My Sweet Lil-brother

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

.

.

.

.

"Anecchi, kau kok betah sekali belajar sih?"

"Urusai. Kembalilah ke kamarmu, kau menggangguku."

"Tapi aku tidak bisa tidur –ssu."

Ini sudah tengah malam. Aku masih berkutat dengan soal matematika yang diberikan Kojima-sensei tadi siang. Walaupun sudah mengerjakannya sedari tadi, belum ada satupun yang berhasil aku jawab. Uh tugas matematika kali ini sulit sekali, walaupun biasanya aku juga kesulitan sih. Bedanya, sekarang aku kesulitan karena tidak bisa berkonsentrasi gara-gara keberadaan Ryouta. Sedari tadi, Ryouta memang ada di kamarku. Dia bilang dia tidak bisa tidur dan seenaknya saja melengang masuk ke kamarku lalu berguling-guling di atas tempat tidurku. Awalnya aku tidak masalah dengan itu, tetapi semakin lama Ryouta semakin mengoceh tidak jelas, dan tentu saja membuatku terganggu.

Aku mulai menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

"Tidak usah memaksakan kalau memang tidak bisa, Anecchi. Besok kan hari Minggu, masih ada banyak waktu untuk menyelesaikannya –ssu. Lebih baik sekarang temani aku main."

"Ryouta, bisakah kau diam sebentar saja? Aku ingin menyelesaikannya malam ini juga."

Ryouta tidak menggubrisku. Ia malah semakin merengek.

"Aku bosan –ssu. Aku ingin main dengan Anecchi~~"

Emosiku mulai tersulut. Ryouta, adikku yang bodoh ini, tengah memperhatikanku dari tempatnya duduk, tempat tidurku. Memangnya dia pikir ini sudah jam berapa? Sekarang bukan waktunya untuk bermain! Aku pun membalikkan badanku agar dapat melihat Ryouta dengan jelas.

"Kalau kau memang merasa bosan, kenapa kau tidak coba saja kembali ke kamarmu dan tidur?! Kau bisa lihat kan aku sedang sibuk sekarang? Dan keberadaanmu disini sangat mengganggu!"

PLUK

Sebuah boneka anjing berukuran sedang mendarat telak di wajahku. Buru-buru kusingkirkan boneka itu dari wajahku, hendak protes kepada Ryouta. Ryouta benar-benar membuatku jengkel!

"Apa-apaan sih?! Aku sedang tidak ada waktu bermain denganmu! Memangnya kau ini anak kecil?!"

Kulempar kembali boneka tersebut kepadanya, tetapi dengan sigap Ryouta menghindarinya. Ia pun tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arahku.

"Anecchi membosankan sekali. Memangnya tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan selain belajar?"

Ia berhenti tepat di hadapanku. Menatapku tajam, membuatku sedikit bergidik. Aku tahu dari tatapan matanya dan cara bicaranya yang berubah, Ryouta saat ini sedang marah. Hei, seharusnya aku yang marah! Dia kan yang daritadi menggangguku!

"Tentu saja aku berhak marah. Anecchi akhir-akhir ini semakin sibuk belajar dan melupakanku."

Seakan bisa membaca pikiranku, Ryouta langsung melontarkan kata-kata protesnya terhadap sikapku selama ini. Memang, seminggu belakangan ini, aku sibuk belajar dan banyak mengerjakan soal-soal latihan, mengurung diri di kamarku dan hampir tidak pernah menggubris apapun yang dikatakan Ryouta. Bisa dibilang, aku mengabaikannya. Namun, apa salahnya? Minggu depan, ujian percobaan untuk kelas 3 sudah mulai dilaksanakan, jadi wajar saja kan aku belajar lebih giat dari biasanya?

"Kau tidak berhak! Aku ini sudah kelas 3! Seharusnya kau mengerti dengan keadaanku, dan wajar jika sekarang aku mengesampingkan hal lain selain belajar!"

"Termasuk mengesampingkanku juga, nee?"

Ryouta kemudian mencengkram tanganku dengan kasar, memaksaku berdiri. Ia menarik tanganku tinggi sekali sampai-sampai aku harus berjinjit untuk mengurangi rasa sakit akibat tarikannya yang tiba-tiba.

"Itte–.. Lepaskan aku!"

Aku berusaha melepaskan cengkramannya dengan satu tanganku yang bebas. Namun sepertinya sia-sia saja, perbedaan kekuatanku dengan Ryouta sangat kentara.

"Anecchi harus bertanggungjawab. Malam ini Anecchi harus menemaniku."

Sebelum aku sempat menanyakan maksudnya, tiba-tiba Ryouta mengangkat tubuhku dan meletakkannya di atas bahunya seperti mengangkat karung beras. Aku jelas tidak terima dengan perlakuannya ini. Aku pun berusaha memberontak, menendang-nendang dadanya, namun sia-sia karena tangan kekarnya itu kemudian menahan kakiku agar tidak bergerak.

"Turunkan aku, Kise Ryouta!"

"Iie. Sudah kubilang Anecchi harus bertanggungjawab sekarang juga."

Ryouta kemudian membawaku keluar kamar. Ia kemudian membawaku masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya, lalu meletakkan kuncinya di atas lemari yang tentu saja tidak terjangkau olehku. Setelah sukses mengurungku di kamarnya, akhirnya ia pun menurunkanku dari gendongannya.

"Dengan begini, Anecchi akan menemaniku main kan?"

Aku hanya dapat memandangi pintu kamar yang sudah terkunci rapat itu. Kalau sudah begini, aku tidak bisa apa-apa lagi. Aku pun berbalik, memandang kesal adikku itu. Ia sedang tersenyum penuh kemenangan melihatku tidak berdaya. Uh kalau dia tidak imut, mungkin aku sudah menonjok wajahnya berkali-kali!

"..Iie. Aku benci kau, Ryouta. Kau berisik."

"Ayolah, nee? Anecchi akhir-akhir ini selalu belajar –ssu, sekarang Anecchi harus menggantinya!"

Ryouta mulai bergelayut manja pada lenganku. Sifatnya sudah kembali seperti sedia kala rupanya. Aku menghela nafas berat. Aku jadi tidak bisa marah lagi padanya.

"..Memangnya kau mau main apa malam-malam begini? Aku juga sudah lelah."

"Huuu~~ kenapa kalau untuk belajar masih bisa –ssu? Tidak adil!"

Ah aku menyesal sudah mengatakannya. Kalau Ryouta sudah merajuk, memang sulit sekali untuk membujuknya menurutiku. Tapi, Ryouta memang benar. Aku terlalu asyik belajar sampai-sampai tidak menyadari kalau aku sendiri sudah lelah. Aku pun akhirnya hanya dapat mengacak-acak surai kuningnya itu, merasa gemas sekali dengan adikku yang satu ini.

"Kau sebaiknya tidur. Oke, intinya kau tidak ingin aku lanjut belajar. Kalau kau tidur sekarang, aku juga akan tidur. Bagaimana?"

Aku berusaha menyunggingkan senyumku yang paling manis. Niatku sih sebenarnya hanya untuk membujuk Ryouta, namun di luar dugaan, kulihat Ryouta tampak takjub melihatku tersenyum. Eh memangnya ada yang salah dengan senyumku?

"…Anecchi, kau manis sekali –ssu! Tidurlah bersamaku~~"

Heeeeeee?! Sebelum aku sempat mencerna kalimatnya barusan, Ryouta tiba-tiba menarikku dan menjatuhkanku di atas tempat tidurnya. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku kaget dengan tindakan Ryouta yang terbilang agresif itu. Aku masih belum bisa berkata apapun ketika akhirnya dengan gerakan yang cepat, Ryouta berbaring di sebelahku kemudian menarik selimut, menaungi tubuhnya dan juga tubuhku sampai ke kepala.

"R-Ryouta! Apa-apaan in– Hmmph!"

Saat aku berusaha untuk bangun dari posisiku, Ryouta meraup mulutku dengan tangannya, kemudian mendorong kepalaku sehingga membuatku terhempas kembali. Gawat! Aku mulai merasakan wajahku memanas. Pandanganku mulai berkunang-kunang saking malunya.

"Sudah lama sekali ya kita tidak tidur bersama seperti ini –ssu~~"

Kurasakan tangan Ryouta mulai berpindah ke pelipisku, menarik kepalaku agar lebih dekat dengan punyanya. Jantungku mulai berdoki-doki ria ketika Ryouta mengecup pelipisku pelan. Kecupan itu membuat sensasi geli yang membuatku menahan nafas. Alhasil, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dan menutup mataku, berusaha menahan rasa yang tidak biasa itu. Tanganku meremas sprei tempat tidurnya sekuat tenaga.

"Doushite, Anecchi? Tenang saja –ssu, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu~~"

Ryouta mengerling nakal kepadaku. Ia mulai memainkan ujung-ujung surai panjangku dan menciumnya.

BLUSH. Wajahku mulai memerah padam. Kurasakan hasrat fangirlku padanya mulai naik ke permukaan.. dan ini menyebalkan! Anak ini menyebalkan!

"Yamete, Ryou– "

Ucapanku terhenti ketika Ryouta tiba-tiba menyelaku dengan ciuman singkat di pipiku. Tanpa permisi pula, ia mengubah posisinya menjadi di atasku, lalu melanjutkan kegiatan menciumnya di daerah sekitar wajahku, mulai dari dahi, mata, telinga, hidung, juga daguku. Tentu saja pengecualian untuk bibirku, karena jika dia benar-benar melakukannya, aku tidak akan segan membunuhnya sekarang juga, tidak peduli dia adikku yang imut atau tidak sekalipun!

Aku pun hanya bisa diam, tidak berusaha memberontak dan membiarkannya menciumiku sambil berusaha menahan desahan-desahan yang ingin menyeruak keluar dari mulutku. Kedua tanganku meremas bahunya sehingga membuat bajunya sedikit kusut. Tentu saja kalau bukan karena hasrat fangirlku yang kuat, aku mungkin sudah marah besar kepadanya! Dan yang paling penting, kalau dia bukan adikku, aku akan mencincangnya dan menjadikannnya tempura kesukaanku!

Ryouta kemudian menghentikan kegiatannya. Ia tersenyum geli saat menyadari wajahku yang sudah merah padam.

"Anecchi manis sekali~~ Aku jadi ingin memakanmu –ssu~~"

Bulu romaku seketika berdiri.

"H-hentai! Cepat menyingkir dariku!"

Aku pun memukul-mukul dadanya, menjambak rambutnya, kemudian menarik kedua pipinya sekeras mungkin. Pokoknya apapun yang bisa membuatnya enyah!

"I-ittai, ittai, ittai! Aku hanya bercanda –ssu!"

Ryouta tampak meringis kesakitan diperlakukan begitu olehku. Karena sudah terlanjur kesal, sekalian saja aku hentakkan tubuhku ke depan sekuat tenaga dan menjedukkan keningku dengan keningnya sehingga membuat Ryouta kembali mengaduh dan akhirnya kembali berbaring di sebelahku.

"Hidoi –ssu Anecchi! Bagaimana kalau kepalaku benar-benar pecah, huh!"

Ia tampak mengelus-elus keningnya yang sakit sembari menggembungkan pipi. Bibirnya mengerucut.

"Salahmu sendiri, huuuh!"

Aku ikut-ikutan menggembungkan pipiku. Kali ini aku sudah tidak bisa lagi mempertahankan sifat tsundereku. Ryouta sudah meruntuhkan pertahananku seutuhnya. Namun, sejurus kemudian aku sadar lalu berusaha menggelengkan kepalaku kuat-kuat, mencoba mengembalikan imej tsundere. Aaaah, dameee! Aku tidak boleh memperlihatkan sifat lamaku lagi!

"P-p-pokoknya kau harus minta maaf! Aku tidak mau tahu!"

Ryouta kemudian memandangku heran.

"Ah kukira aku sudah berhasil mengembalikanmu –ssu. Ternyata masih tetap tsundere.."

Sial, ia tidak menggubrisku sama sekali. Dan karena ucapannya barusan, wajahku tambah memanas, perasaanku campur aduk antara kesal dan gemas kepada Ryouta. Aku pun melipat kedua tanganku di depan dada seraya memalingkan wajahku ke arah lain.

"..Cepat minta maaf! Ryouta no baka!"

"Hai.. Hai.. Gomen –ssu~"

"..Bagus."

Ryouta pun tersenyum. Ia menghadapkan tubuhnya kepadaku, sedangkan aku sendiri telentang menatap langit-langit kamar, masih dengan lipatan tangan di dada dan gerutu-gerutu yang kutujukan pada Ryouta. Ryouta kemudian memeluk leherku lalu menutup matanya, membuatku luluh dan menghentikan gerutuanku. Tanganku yang terlipat pun kulepas, kubiarkan tergeletak di atas perutku.

Selama beberapa menit, suasana diantara kami hening. Ryouta tidak bergerak sama sekali, hanya hembusan nafasnya yang teratur yang dapat aku rasakan di telingaku. Dan aku sendiri tidak berani bergerak sesenti pun.

"Nee, Anecchi.."

Jantungku mendadak bekerja lebih cepat ketika mendengar suara Ryouta yang berada tepat di depan telingaku. Kulirik sekilas wajah ikemennya. Ryouta memanggilku dengan mata yang masih tertutup. Aku pun cepat-cepat melempar kembali pandanganku ke langit-langit kamar sebelum jantungku benar-benar melompat akibat wajah imut adikku itu.

"N-n-nande?"

"Kalau Anecchi kelak lulus, apa Anecchi akan pergi dari sini –ssu..?"

Aku mengangkat sebelah alisku, heran dengan pertanyaan itu.

"Tabun.. Kalau aku melanjutkan pendidikan ke universitas yang jauh, tentu saja. Memangnya kenapa?"

Tangan Ryouta mulai turun ke pinggangku, membuat wajahku yang berangsur normal kini merona kembali.

"Aku.. Tidak ingin seperti itu –ssu.."

Aku bisa menangkap kesedihan dalam suaranya. Tentu saja sebagai kakaknya, aku pun tidak ingin meninggalkan Ryouta. Aku pun sama seperti Ryouta, aku ingin selalu berada di sampingnya. Namun, aku juga tidak ingin membuatnya terus-terusan khawatir tentang itu.

"Daijoubu yo, Ryouta. Kau tidak usah pusing memikirkan itu. Walaupun masih kalah darimu, tapi kau sudah melihat bagaimana kekuatanku saat aku memberi pelajaran pada orang-orang yang menggangguku di atap kan?"

"Bukan itu yang kupikirkan!"

Aku tersentak ketika Ryouta sedikit berteriak kepadaku. Kulirikan kembali mataku untuk melihat ekspresi Ryouta saat ini.

"Padahal aku sangat senang saat bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan Anecchi.. Padahal aku ingin bersama Anecchi lebih lama lagi.. Padahal aku belum bisa menepati janjiku untuk melindungi Anecchi.. Padahal.. Padahal.."

Ryouta menarik nafasnya lalu melanjutkan.

"Tapi kenapa semuanya terasa begitu cepat? Sebentar lagi Anecchi akan lulus, pergi dari rumah, lalu akhirnya benar-benar meninggalkanku."

Aku tertegun mendengarnya. Entah kenapa kata-kata Ryouta barusan sangat sukses menohok hatiku. Aku pun tidak ingin seperti itu, Ryouta! Diam-diam aku menyesal telah mengatakan aku akan pergi.

Perlahan aku beringsut mengubah posisiku menghadap ke arah Ryouta sehingga membuat kami saling berhadapan. Wajah Ryouta tampak berekspresi datar. Matanya menatap lurus ke mataku.

"Aku tidak akan meninggalkanmu. Jika kau menghendakinya."

Ryouta mulai mengerjapkan matanya yang mulai berbinar. Aku pun memasang kembali senyumku. Adikku ini memang benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku merasa damai di dekatnya.

"H-hontou..?"

Aku mengangguk pasti.

"Hontou desu! Kalau kau mengatakan tidak ingin aku pergi, aku akan benar-benar melakukannya!"

Kutangkupkan kedua tanganku di pipinya, menandakan bahwa aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Seulas senyum akhirnya dapat kulihat menghiasi wajahnya, membuatku semakin betah memandangi wajah imut Ryouta.

"Tetaplah disisiku sampai kapanpun –ssu~~"

Ryouta mengambil salah satu tanganku yang menyentuh pipinya, menggiringnya ke depan bibirnya, kemudian mengecup punggung tanganku pelan.

Rasanya malam ini berat sekali untuk menanggalkan senyum yang sudah terlanjur terpatri di wajahku, yang sudah dilukiskan oleh Ryouta. Aku sangat bahagia. Sangat bahagia sampai-sampai aku melupakan tsundereku. Ah tidak, memang hanya di depan Ryouta sajalah aku tidak bisa memperlihatkan sifat tsundereku meskipun aku sudah berusaha.

Kusibakkan surai kuning sewarna bunga matahari itu lalu membalas kecupannya di dahi.

"Hai. Dengan senang hati, Ryouta~"

Saling mendekap satu sama lain, kami berdua pun terlelap. Satu-satunya hal yang kuinginkan saat ini adalah terus mendekap Ryouta, selalu berada di sampingnya selama mungkin dan tidak akan pernah meninggalkannya~

.

.

.

.

.


Sudah bisa dipastikan, sekarang saya lagi kena sindrom lolicon, oh tidaaaak *gulinggulingsendiri

Eh, sebelumnya, terima kasih sudah membaca ff ini, maafkan saya kalo di chapter ini lolicon saya keliatan banget *bungkukbungkukbadan

Sebaiknya ff ini end atau lanjut? :3 Ditunggu masukannya ya reader-san~