Summary: Ketika Uchiha Sakura mendapat jatah libur dari pekerjaannya.

WARNING: Naik rating karena beberapa hal menjerumus. Kalau pikirannya masih polos mendingan ga usah dibaca chap ini (?)


She's Home
by Kwenda

Chapter 3
In The Night


"Makan dimana ya?" gumamnya pada diri sendiri. Matanya terfokus menelusuri satu per satu restoran yang terpampang di hasil pencariannya menggunakan zomato, sedangkan satu tangannya bergerak-gerak di dalam bungkusan snack yang tergeletak tak jauh darinya.

Kesal karena tidak kunjung mendapatkan apapun dari hasil rogohan tangannya, dia menyambar bungkusan snack itu ke depan wajahnya. "Ugh, masa sudah habis?" keluhnya, melempar bungkusan snack yang sudah kosong itu sembarangan.

Sakura menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa, melakukan perenggangan pada kedua tangannya dan bangkit dari posisi duduk bersilanya. "Snack dari Chouji masih ada tidak, ya? Dia beli dimana, sih. Aku tidak pernah melihatnya di supermarket." gerutunya seraya berjalan ke dapur. Bagaimana mau ketemu? Ke supermarket saja jarang.

Dapurnya masih hancur. Mau dibersihkan juga Sakura tidak tahu harus mulai dari mana. Terlampau hancur dan tidak bisa diselamatkan. Jadi, dia biarkan saja begitu sampai Sasuke melakukan sesuatu. Daripada aku malah memperburuk keadaan, batin Sakura mengangkat bahu.

Tangannya membuka pintu lemari penyimpanan yang hampir kosong. Untung saja benda tersebut rusak saat bahan-bahan makanan juga sudah menipis, bahkan hampir kosong, jadi tidak ada yang terbuang. Sakura sudah berjongkok agar bisa lebih mudah mencari incarannya. "Snack dari Chouji.. Snack dari Chouji.." jari telunjuk wanita itu ikut bergerak searah dengan kepalanya.

Tiba-tiba Sakura tersentak. "Eh! Chouji baru buka restoran, kan, ya? Makan di sana saja!" seru Sakura dan langsung beranjak. Tujuannya datang ke dapur telah dilupakan.

Iphone yang sedari tadi ditelantarkan di meja kini berada dalam genggaman Sakura. Benda tersebut terus mengeluarkan getaran-getaran heboh saat pemiliknya mencari kontak Chouji dari Line-nya. Biasa, notifikasi grup dokter. Tampang mereka saja yang berwibawa, kalau sudah selesai kerja, mah, maaf-maaf saja. Sudah seperti anak monyet nyasar di kota kalau kata Sasuke. Lihat apa heboh, lihat ini heboh. Maklum, kekurung di rumah sakit terus sampai jarang keluar.

"Hai Chouji, aku mau reservasi jam tujuh nanti di restoranmu, bisa?" ketik Sakura.

Balasan dari Chouji datang beberapa menit setelahnya. "Hai Sakura. Tentu saja bisa. Meja di sana selalu kosong untuk teman."

Sakura tersenyum. "Itu bagus. Boleh kirim alamatnya? Aku lupa-lupa ingat. Daripada nyasar, kan. :D" Alibi saja, sih. Aslinya mah benar-benar lupa.

"Konoha Village Blok C8 nomor 5. By the way, untuk berapa orang, Sakura?"

"Dua orang saja."

"Ah, cie, pasti sama Sasuke."

Sakura terkekeh. "Siapa bilang? But, thank you. See you later!" ucap Sakura mengakhiri chat mereka. Dia masih harus bersiap-siap.

"Okay, see you."

.

.

Mobil Sasuke datang saat Sakura baru saja keluar dari kamar mandi dalam. Tubuhnya sudah segar dan wangi dengan beberapa tetes air masih tersisa. Sakura segera turun membukakan pintu untuk suaminya, tidak peduli rambutnya masih basah. "Hei, pas sekali aku baru selesai mandi. Kau mau mandi dulu?"

Keletihan Sasuke karena perdebatan alot saat meeting tadi segera hilang saat melihat Sakura di rumah, menunggunya pulang. Tapi, kenapa wanita itu harus menyambut kepulanganya dalam keadaan basah begitu? Tidak tahukah wanita itu tubuhnya sangat menggairahkan sekarang?

Sasuke melirik sekilas jam dinding. Jam enam lewat sepuluh. Hanya tersisa 50 menit untuk bersiap-siap dan sampai ke restoran. Dan Sakura tidak akan senang jika dirinya melakukan quickie karena itu berarti dia harus mandi lagi.

Sasuke semakin berusaha mengendalikan dirinya saat bongkahan kenyal milik Sakura yang hanya tertutupi bathrobe tipis mengapit lengannya. Dia segera berjalan naik menuju kamar. "Hn. Kau sudah reservasi?"

Sakura mengangguk, bersamaan dengan semakin menempelnya tubuh wanita itu dengan tubuhnya saat menaiki tangga yang sempit. Sial. Seharusnya dia dulu membiarkan Sakura memperlebar tangga mereka.

"Sudah, kita makan di restoran Prancis milik Chouji. Sebenarnya sudah buka sejak beberapa bulan lalu, tapi aku baru ingat untuk mengajakmu ke sana. Tempatnya di Konoha Village, tidak begitu jauh kan dari sini?" papar Sakura.

"Hn."

Beginilah suami Sakura kalau wanita itu sedang bercerita. Hanya diam mendengarkan dan sesekali menyahutinya dengan gumaman khas. Berbeda jauh dibandingkan tadi pagi dan di mobil, ya? Hn.

Mereka sudah berada di dalam kamar dan berhenti di depan kasur. "Sana, mandi. Biar Sasuke-kun wangi lagi," suruh Sakura manja.

Sasuke masih diam di tempatnya, di depan Sakura. Matanya masih memperhatikan tubuh Sakura dengan kilatan gusar. Konoha Village dekat dari sini, hanya butuh 15 menit perjalanan. Beberapa foreplay juga bisa dilakukan, tapi, apakah Sakura tidak keberatan?

"Sakura?" suara baritone pria itu bergetar, menahan hasratnya yang semakin menjadi.

Sakura yang masih berdiri di sana hanya menatap Sasuke bingung di balik tatapan polos mata bulatnya. Wanita itu bingung dengan sikap aneh Sasuke sejak memasuki rumah. "Ya, Sasuke-kun?"

Bukannya menjawab, Sasuke malah mengacak-acak surai merah muda istrinya yang setengah basah. "Hn." gumamnya sembari tersenyum tipis dan berlalu ke kamar mandi. Sakura hanya mengangkat bahu dan membenahi rambutnya yang berantakan, kemudian mulai bersiap-siap.

Sekalian saja nanti malam. Batin Sasuke sementara berusaha menekan ereksinya dengan memikirkan hal-hal lain.

.

.

Konoha Village adalah sebuah daerah tempat makan. Cafe-cafe dan restoran di sana bergaya old style yang didukung oleh bentuk bangunan dan nuansa sekitar sehingga benar-benar menampakkan suasana desa. Walaupun Konoha Village baru dibuka, daerah tersebut sudah memperoleh perhatian banyak orang karena suasananya juga rasa makanan-makanannya.

Délicieuse, restoran Prancis milik Chouji, sangat ramai. Suasananya benar-benar nyaman dan bersahabat. Sekumpulan orang yang Sakura tebak anak kuliahan berpesta di sana. Tapi, kehebohan mereka tampaknya bercampur dengan keramaian yang ada sehingga suaranya tidak memekakan telinga. Selain anak kuliahan itu, sisanya merupakan pasangan yang tengah melakukan dinner sambil mengobrol.

Tubuh Sakura yang terbalut sebuah kemeja orange sudah berada dalam kukungan lengan Sasuke sejak mereka turun. Beberapa kali Sasuke harus mendelik ke beberapa pria di sana yang memperhatikan tubuh Sakura-nya dengan tatapan terpesona. Ck, padahal hanya lengan dan betis wanita itu saja yang terlihat, apa lagi kalau tadi Sakura tidak menutup dadanya seperti saat di mobil?

Mereka memang tidak langsung turun sesaat setelah mereka sampai. Tepatnya, Sasuke menahan pergelangan Sakura. Sakura langsung menoleh bingung ke arah Sasuke. "Ada apa, Sasuke-kun?"

Sasuke tidak berkata apa-apa dan langsung meraih kancing pertama kemeja Sakura. "Ayo, turun." Pria itu mulai membuka pintu.

Sakura mendelik, "Ih, ini kan gaya, Sasuke-kun!" protesnya sambil membuka kembali kancingnya.

Sasuke menoleh dan kembali duduk. Dia langsung mendekat ke arah dada Sakura dan memberikan banyak tanda kemerahan di sana. "Ya sudah, buka saja." ucap Sasuke meninggalkan Sakura yang mendesah kesal dan kembali menutupi dadanya.

Rok hitam bergaris merah sebatas lutut yang melapisi kaki Sakura berhenti berayun di depan meja resepsionis. "Hai, aku sudah reservasi atas nama Uchiha Sakura, apakah ada?"

"Ya, silahkan ikuti aku, Uchiha-san." Wanita di balik resepsionis itu tersenyum dan berjalan diikuti pasangan Uchiha.

Jarak antar meja di lantai dua lebih jauh dibandingkan di bawah. Kebisingan di sini juga lebih sedikit dan sangat memberikan keprivasian bagi pasangan-pasangan yang ada. Langkah mereka berhenti di sebuah meja yang terletak di pinggir balkon. Pelayan pria lain yang mengikuti mereka sejak mereka menapaki tangga segera mempersilahkan Sakura duduk.

Sakura menghirup udara dalam-dalam. Udara segar khas rerumputan dapat tercium jelas di sini lantaran di seberang mereka merupakan padang rumput kosong. Hal yang sangat jarang ditemui di kota sekarang. Tempat duduk mereka sangat romantis. Jauh dari keramaian, lampu kuning yang menerangi mereka, juga bunga-bunga yang berada di sekitar mereka.

Sudah 3 tahun ya? Sakura mengusapkan cincin pernikahan mereka ke wajahnya yang sedang bertopang dagu. Waktu cepat sekali berlalu dan aku masih egois. Apa Sasuke sekarang muak denganku?

Sasuke meletakkan handphone-nya. Dia baru saja menghubungi Deidara, arsitek rumah mereka, untuk merancang kembali dapurnya yang rusak, dan sayang sekali sepertinya Sasuke tidak bisa menggunakan dapurnya dalam jangka waktu yang cukup lama karena Deidara sedang disibukkan dengan proyek lain. "Dua minggu lagi tidak apa-apa?" tanya Deidara.

Saat Sasuke beralih menatap Sakura, yang muncul di wajah wanita itu hanyalah ekspresi sendu. Wanita itu sedang meratap, lagi. "Sakura?"

Sakura menoleh dengan sebuah senyuman tipis. Hal yang biasa dilakukan wanita itu jika masih gundah terhadap sesuatu. "Ya?"

"Dapur kita sepertinya baru akan kembali dua minggu lagi."

Sakura mengangkat alisnya. "Oh, kau sudah menghubungi Deidara?"

"Hn. Barusan."

Sakura mengangguk dan mereka kembali hening. Sakura tampak ingin mengatakan sesuatu tapi dia terus menahannya, sampai akhirnya dia menghela nafas dan mulai berbicara. "Sasuke-kun,"

Sasuke masih belum mengalihkan pandangannya dari Sakura, wanita yang telah bersamanya selama 6 tahun ini, wanita yang terus mendukung keputusannya, wanita yang terus memberikannya semangat untuk tidak menyerah, wanita yang terus menghiasi hari-harinya, wanita yang selalu berada di hatinya. "Hn."

Wajah Sakura yang tertutup tangannya kini terlihat jelas, menampilkan sebuah senyuman lebar khas wanita itu. "Aku akan lebih sering di rumah sekarang." Melihat tatapan bingung Sasuke, Sakura melanjutkan. "Aku sudah tidak akan menjadi kepala UGD, tetapi dokter VIP dan dokter TV. Aku akan pulang setiap hari, tidak ada jaga malam, tidak ada menginap di rumah sakit, dan tidak ada jadwal pagi. Kita bisa tidur sampai siang dan kita akan makan malam bersama setiap harinya, dan kalau kau merindukanku di siang hari, kau tinggal lihat aku di acara TV." paparnya.

Mata Sasuke berbinar bahagia. Membayangkan dia akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Sakura membuat sebuah senyuman terbit di bibirnya. "Kau serius? Tapi, kenapa tiba-tiba?"

Sakura mengangguk semangat. "Ingat saat aku menangis karena gagal menjadi profesor bulan lalu?" Sasuke menangguk. Saat dirinya pulang, dia menemukan Sakura dalam keadaan kacau. Istrinya terus menangis dan akhirnya bangun dalam keadaan mata bengkak. " Nah, 2 hari lalu aku dipanggil oleh ketua rumah sakit. Dia memberiku dua pilihan. Menjadi profesor yang selama ini aku inginkan atau menjadi dokter VIP dan muncul di TV yang jadwalnya lebih santai."

"Kenapa ... tidak pilih jadi profesor?"

Sakura mengangkat bahu. "Aku sudah cukup puas bekerja dan aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Aku juga merindukanmu, tahu."

Ujung bibir Sasuke kembali terangkat, membentuk seulas senyum yang lebih lebar. "Aku tahu."

.

.

.

.

.

"Sayang," panggil Sakura lirih. Wanita itu tengah bersandar di atas dada Sasuke. Tubuh mereka berdua sama-sama polos dan lengket karena bersimbah keringat seusai pergumulan panas mereka yang baru selesai beberapa saat yang lalu.

Sasuke yang dipanggil menunduk, menatap helaian rambut istrinya yang berantakan karena belaian tangannya yang masih tetap berada di sana. "Hn?"

"Kau masih mau anak?" tanya Sakura lirih, masih dalam posisi memeluk Sasuke.

"Apa?" Sasuke berhenti gerakan belaiannya. Dia sedikit bangkit dari tidurnya, membuat Sakura ikut bangun dan berbaring di kasur sebelah Sasuke.

"Kau masih mau punya anak?" ulang Sakura, menatap Sasuke dengan perasaan tak menentu.

"Kenapa tiba-tiba bertanya? Karena melihat Karin?" Melihat Sakura yang menolak menatap Sasuke, pria itu mengusap lembut pipi Sakura dan membuat wanita itu menatapnya. "Aku masih mau punya anak, tapi aku bisa menunggumu siap, Sakura. Kita tidak terburu-buru dan aku tidak memaksamu." jelas Sasuke yakin.

Sakura ikut menyentuh rahang Sasuke dan tersenyum. "Aku siap." ucapnya yakin. "Aku siap, Sasuke-kun. Aku siap meramaikan keluarga kecil kita. Aku siap menjadi ibu. Aku siap berhenti bekerja." tambahnya, masih dengan keyakinan yang sama.

Sasuke menatap Sakura terkejut. "Kau serius?"

Sakura mengangguk. "Sangat serius dan aku tidak pernah seyakin ini."

Terlalu banyak kejutan yang diberikan Sakura hari ini. Tapi, Sasuke senang. Penantiannya selama ini terbalas. Penantian mereka berdua terbalas. Sasuke telah kembali ke pelukan Sakura setelah wanita itu bersedia menunggunya di Jepang tanpa mendapat kabar apapun selama 2 tahun. Dan penantian Sasuke untuk menunggu Sakura siap menambah anggota keluarga terbalas setelah 3 tahun. Sekarang, mereka siap menempuh hidup baru dan menunggu kehadiran buah cinta mereka.

Sasuke membawa Sakura ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat sambil menciumi pucuk kepala wanita itu berkali-kali. "Terima kasih, Sakura."

.

.

.

.

.

Sasuke kira semua itu mimpi. Hari dimana rajukannya berhasil, hari dimana dapurnya rusak, juga hari dimana Sakura memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya dan siap meminang buah hati mereka. Semuanya terlalu mengejutkan untuk menjadi kenyataan. Seperti sebuah mimpi indah.

Tapi, itu semua nyata.

Mereka telah mempunyai jadwal sarapan dan makan malam tetap; setiap jam tujuh. Pil kontrastrepsi yang Sakura minum rutin selama 3 tahun ini tidak pernah disentuh lagi. Sasuke bisa melihat Sakura ada di dalam acara TV kesehatan saat dirinya sedang di kantor. Dan yang terakhir, bukti dari segalanya.

Kehadiran anggota keluarga kecil mereka dalam tubuh Sakura.

Tidak ada yang lebih sempurna dari ini.


E N D


Makasih atas segala review (yang log in cek pm) dan dukungan yang ada sampai akhirnya fic ini selesai!

Semoga kita bisa ketemu lagi di fic aku yang lainnya. Terimakasih!