Seventeen

Choi Seungcheol - Yoon Jeonghan

Kwon Soonyoung - Lee Jihoon

Kim Mingyu - Jeon Wonwoo

Lee Seokmin - Hong Jisoo

Once Again

.

.

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

.

.

Perkataan mereka benar tentang orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Memang seiring berjalannya waktu mereka akan belajar banyak dan berubah menjadi lebih baik. Tapi baik itu tentu saja baik bagi mereka, baik untuk diri mereka sendiri, bukan untuk semua orang.

Seiring berjalannya waktu janji akan berubah menjadi sekedar perbincangan biasa. Tidak ada yang special dari kalimat yang saat itu terucap dengan nada yang begitu yakin.

Begitu pun dengan sebuah hubungan, mau sekuat apapun ingin dipertahankan, yang namanya hubungan itu membutuhkan dua pihak bukan satu. Hubungan tidak bisa dipertahankan oleh salah satu saja. Kalau satu dari dua sudah menyerah, maka tidak akan ada gunanya.

.

.

.

.

.

"Kau gila?!" Seungcheol mengerang tidak suka mendengar teriakan Seokmin.

"Wah, Choi Seungcheol. Kau! Kau sudah tidak sayang pada nyawamu. Aku berani bersumpah kalau kau masih waras kemarin," ujar Seokmin dengan wajah tidak percaya.

"Ya! Jadi maksudmu aku sudah gila begitu?! Lebih baik kau pergi urus Hong Hong-mu itu daripada kau di sini dan membuatku menjadi benar-benar gila,"

"Bukan begitu. Tapi apa kau yakin? Hei, masalahnya ini Jeonghan bukan Jihoon. Jeonghan punya banyak mata dan telinga kau tahu," Seungcheol hanya mengangguk malas mendengar perkataan Seokmin.

"Saat Jihoon saja aku bisa, kenapa Jeonghan tidak bisa? Kau tahu mau berapa banyak pun kenalan yang Jeonghan miliki," Seungcheol menepuk dadanya, "Aku Choi Seungcheol yang tidak akan pernah bisa dilepaskan oleh Jeonghan," Seungcheol berujar dengan nada bangga.

Kalimat balasan Seokmin terhenti saat Seungcheol memberinya kode untuk diam sebentar karena ponselnya berbunyi.

'Aku sedang berada di Korea. Ku harap kau mau menyempatkan waktumu untuk menemuiku,…'

Seungcheol tidak salah baca, dia yakin itu. karena berapa kali pun dibaca, nama yang tertulis di pesan itu tetaplah sama.

'…Ini Lee Jiae.'

.

.

.

.

.

"Kau mau berkencan denganku atau dengan ponselmu, hah?!" Soonyoung tersentak mendengar Jihoon yang tiba-tiba membentaknya.

"Ah…hehe. Maafkan aku, Leezi. Aku tidak bermaksud," Soonyoung memasukan ponselnya ke dalam saku. "Lihat? Aku sudah menyimpan ponselku. AYO KITA BERKENCAN!" Soonyoung menggenggam tangan Jihoon lalu menariknya ke kedai ice cream yang ada di taman itu. Jihoon hanya bisa menundukan wajahnya dan mengeratkan genggamannya pada tangan Soonyoung.

'Memang begini, ini yang harus aku lakukan. Ayo Jihoon, ayo bahagiakan Soonyoung,'

Namun tinggal beberapa langkah mereka sampai di kedai ice cream tujuan mereka, Soonyoung tiba-tiba mengubah haluan mereka.

"Tiba-tiba aku lapar, Leezi. Ayo kita makan saja," Jihoon hanya menggangguk sambil tersenyum kecil.

Sebelum benar-benar melangkah kecil Soonyoung berbalik ke kedai ice cream tadi, kemudian tatapannya bertemu dengan seorang perempuan yang memakai dress putih yang sedang menyuapkan ice cream pada anak kecil yang berusia sekitar 4 tahun.

Menyadari kalau dia tidak salah lihat, Soonyoung mempercepat langkah mereka.

"Ah…aku lapar sekali," Soonyoung berujar saat menyadari tatapan bingung Jihoon yang diberikan padanya.

.

.

.

.

.

Getaran pada ponselnya tidak membuat Wonwoo mengalihkan pandangannya sama sekali dari sesosok perempuan bersurai coklat gelap yang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan alat-alat medis menempel di tubuhnya.

"Yewon-ah, kapan kau akan bangun? Oppa merindukanmu," Wonwoo memejamkan matanya yang terasa panas. "Oppa tidak akan mampu hidup sendirian, oppa butuh Yewon," berakhirnya nada lirih Wonwoo ditemani oleh setetes air mata mengalir di pipinya.

Klek.

Dengan cepat Wonwoo menghapus air matanya saat mendengar pintu terbuka dan menampilkan Dr. Hong.

"Pulanglah, Wonwoo-ya. Bukankah kau ada fashion show 2 hari lagi?" Wonwoo hanya menganggukan kepalanya.

"Aku yang akan menjaga Yewon. Pulanglah dan istirahat, kau harus sempurna kalau tidak mau dibunuh boss-mu," perkataan Dr. Hong membuat kedua ujung bibir Wonwoo terangkat dan menghasilkan senyum kecil.

"Aku mengerti,"

Wonwoo mendekatkan dirinya pada Yewon, "Oppa pulang dulu," dan memberikan kecupan di kening adiknya.

"Aku pulang, Jisoo-ya,"

Jisoo menghela nafas berat setelah Wonwoo keluar dari ruangan itu.

"Maafkan aku, Wonwoo-ya. Maafkan aku, Yewon-ah. Jika aku bisa lebih hati-hati saat itu, maka…"

.

.

.

.

.

Jeonghan baru saja keluar dari butik milik salah satu temannya saat pandangannya menangkap sosok Seungcheol sedang berada di café bersama seorang wanita yang asing bagi Jeonghan. Jeonghan langsung mengambil ponselnya kemudian menelpon Seungcheol.

"Halo," Jeonghan bisa melihat dengan jelas kalau Seungcheol menyuruh wanita itu untuk diam.

"Kau sekarang ada di mana?" Jeonghan berusaha untuk berujar dengan tenang.

"Aku sedang makan siang bersama client di luar," Jeonghan terdiam saat melihat Seungcheol mengusap bibir wanita itu.

"Client?" ulang Jeonghan.

"Eum, client. Memangnya aku makan dengan siapa lagi selain client kalau di luar kantor," mendengar jawaban Seungcheol, mata Jeonghan merasa panas.

"Ka-Kalau begitu selesaikan urusanmu dulu," setelah Jeonghan berkata seperti itu, Seungcheol langsung memutuskan sambungan telpon mereka.

Jeonghan mengusap air matanya kasar saat melihat Seungcheol dan wanita itu meninggalkan café dengan tangan Seungcheol yang memeluk pinggang wanita itu. Jeonghan bergegas ke mobilnya saat melihat Seungcheol dan wanita itu masuk ke mobil Seungcheol. Mengaktifkan GPS yang dia pasang secara diam-diam di ponsel Seungcheol, Jeonghan segera menyusul Seungcheol.

Jeonghan memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan saat melihat mobil Seungcheol masuk ke sebuah hotel. Jeonghan turun dari mobilnya dan berjalan pelan ke arah hotel itu. Dia bisa melihat Seungcheol membuka pintu mobil untuk wanita itu dan memberikan kunci mobilnnya pada valley service hotel itu kemudian masuk ke dalam hotel itu. Jeonghan kembali ke mobilnya dan langsung menghubungi Seungcheol namun ponsel Seungcheol tidak aktif. Pada akhirnya, Jeonghan menghabiskan harinya menangis di kamarnya dan menyesal karena dia tidak berani untuk menghampiri Seungcheol di hotel tadi.

.

.

.

.

.

"Heh anak tidak berguna, dari pada kau melamun seperti itu, lebih baik kau kerja," Mingyu mengalihkan pandangannya ke arah suara, saat melihat siapa yang berbicara, Mingyu memberikan senyum kecil pada wanita itu.

"Noona, sudah lama sekali. Ku pikir, kau sudah melupakanku," Mingyu beranjak menghampiri wanita itu, memberikan pelukan.

Wanita itu menghela nafas pelan sebelum menjawab.

"Theo meminta untuk ke sini, dia bilang dia merindukan uncle Mingyu yang tampan,"

"Lalu di mana keponakan manisku sekarang?" senyum Mingyu berganti dengan tatapan kesal, saat menyadari arti dari tatapan noonanya.

"Demi apapun noona, kenapa kau begitu percaya padanya sekarang?! Padahal dulu, kau mati-matian tidak membiarkan hyung berhubungan dengannya," Mingyu menghela nafas kesal di akhir kalimatnya.

"Dia sudah berubah, sayang," Mingyu hanya tertawa sini saat mendengar kalimat itu.

"Kalau dia memang berubah, apa dia datang padamu untuk melamarmu?" Mingyu mendudukan dirinya kasar ke sofa.

"Mingyu, dengar. Bukankah kita sudah pernah membahas ini? Kami, aku dan dia, memutuskan untuk tidak menikah, karena aku sudah bersama Justin saat itu jadi…" Mingyu memotong kasar ucapan wanita itu.

"Justin hyung sudah tidak ada noona. Jangan hanya pikirkan perasaanmu terhadap Justin hyung dan pria brengsek itu. Pikirkan Theo! Dia akan menyadarinya suatu hari nanti, kalau tidak ada sosok ayah yang menemaninya bertumbuh,"

"Mingyu, dia sudah punya kekasih. Aku tidak mungkin pergi dan melemparkan bom begitu saja pada kekasihnya,"

"Kau harus! Aku mematuhimu, noona. Aku membantumu untuk menghancurkan hubungan hyung dengan pria brengsek lainnya, dan sekarang aku memintamu untuk menghancurkan hubungan mereka bukan untuk kepuasan hatiku, tapi untuk Theo," Mingyu hanya tersenyum masam mendengar jawaban yang terlontar dari wanita itu.

"Maaf, tapi aku tidak bisa, Mingyu-ya,"

.

.

.

.

.

Seventeen

Once Again

Chapter 3

.

tbc

[Author's Note: Readers-nim (?), kalian sudah menemukan pattern ceritanya kan? Pasti ada la antar para readers yang nyadar keterhubungan antar tokoh.

Maaf yaa, kalau cerita itu alurnya berantakan, urutannya juga berantakan, pembagian yang ga rata. arMyJi sebenarnya bingung mau nyusun kayak gimana, kalau arMyJi mau bener-bener ngerapiin malah ga akan update update (takut kalau perfectionist-nya keluar) jad beginilah hasilnya.

Makasih banget bagi readers-nim yang mau review, arMyJi sangat berterima kasih karena arMyJi merasa ada yang mendukung dan menunggu cerita arMyJi dengan adanya review-review tersebut. arMyJi minta maaf karena ga bisa balas, sebenarnya bukan karena tidak bisa, tapi lebih tepatnya arMyJi tidak tahu mau membalas apa. Jadi mohon maklumi yaaa…

Sekian omongan panjang dari arMyJi,
arMyJi harap para readers tetap mau menunggu lanjutan cerita ini dan mengantisipasi cerita arMyJi yang lain.]