"Kau dari mana saja, Itachi?"
Seorang pria dewasa dengan sebuah apron yang melekat pada tubuh tegapnya tampak tengah berkacak pinggang. Kedua iris onyx-nya menatap Itachi tajam.
Menundukkan wajah, Itachi sedikitnya merasa tidak enak dengan keterlambatannya kali ini. "Aku terjebak hujan di halte bus, Ayah," ungkapnya, menjelaskan.
"Tsk …." Tampak tidak senang dengan jawabannya, pria itu mendecakkan lidahnya. "Sebaiknya kau segera ganti seragammu. Setelah itu bantu Sasuke melayani pelanggan. Hari ini kedai kita ramai oleh pengunjung."
"Baik, Ayah," jawab Itachi seraya mengangguk pelan.
Pria itu pun segera berlalu dari pandangan pemuda berstatus siswa SMA itu.
.
Suasana kedai sederhana keluarga mereka tampak ramai oleh pengunjung. Saling mengantre dan silih beganti, masing-masing pengunjung memesan semangkuk ramen.
Itachi dengan apron berwarna putih yang mengikat pinggangnya, membawa beberapa mangkuk ramen dalam sebuah nampan. Mengulas senyum tipis, pemuda itu sukses membuat para pelanggang berjenis kelamin perempuan tampak merona—terpesona.
"Ini pesanannya. Silakan dinikmati."
Berlalu pergi dari meja yang beberapa saat didatanginya, pemuda itu beralih ke arah meja yang tampak telah ditinggal oleh pengunjung. Meraih satu per satu mangkuk dan gelas yang telah kosong ke dalam nampan, dia pun mengelap meja tersebut dengan serbet yang tersampir di sebelah bahunya. Dengan telaten, Itachi tak sedikit pun membiarkan noda tertinggal pada permukaan meja pendek tersebut. Setelah memastikan pekerjaannya sempurna, dia pun bangkit dari posisi bersimpuhnya. Namun, belum sempat dirinya bangkit secara sempurna dari tempat itu, sebuah suara menghentikan pergerakannya.
"Kau benar-benar Itachi?"
Melirik ke arah samping kiri, kedua iris onyx-nya menemukan sesosok gadis yang sedikitnya terasa familier di matanya. Tampak duduk di atas tatami, gadis itu menatapnya penuh arti. Senyum ceria terpatri pada wajahnya.
'Gadis itu ….'
Melambaikan tangannya ceria, gadis berhelai rambut pirang panjang itu terkikik pelan. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini."
Tak berniat untuk menanggapi terlalu jauh, pemuda itu pun menegakkan tubuhnya. Pekerjaannya jauh lebih penting daripada hanya sekedar berdiam diri di sana.
"Aku sangat beruntung bisa menemukan kedai ramen ini. Selain enak, pelayan-pelayannya tampan sekali."
Walau sudah berada cukup jauh, Itachi masih dapat dengan jelas mendengar perkataan dari gadis bersuara cukup cempreng tersebut. Menulis catatan mental tersendiri, pemuda itu tak boleh lagi tertipu. Gadis bersuara lembut yang ditemuinya di halte tadi sore, aslinya memiliki suara yang begitu cempreng. Dan, sebisa mungkin Itachi tak boleh lagi berurusan dengan siswa berseragam sama dengannya—yang belum pasti kejelasannya itu.
Dulu, Sekarang, Dan Nanti
Naruto © Masashi Kishimoto Sensei
.
.
.
Naruto tidak suka dengan apa yang telah terjadi beberapa jam lalu. Pertemuan tak terduganya dengan sosok lelaki familier yang sudah hampir lima tahun belakangan ini tak dijumpainya itu, jujur saja cukup menimbulkan sensasi menggelitik dalam rongga dadanya. Keturunan Namikaze dan Uzumaki itu bukannya tak ingin mengakui tentang perasaannya yang sebenarnya. Hanya saja, memang tak mudah baginya untuk menunjukkan semuanya secara langsung dan terus terang. Lagi pula, dirinya memang sudah dasarnya seperti ini, dan Naruto sangat yakin bila lelaki itu pun sama saja seperti dirinya. selalu saja begitu, mereka berdua seringkali melakukan dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran juga keinginan mereka.
Hhh, menghela napas, perempuan itu pun melemparkan pandangannya ke arah luar jendela. Angin yang berhembus pelan tampak menggerakkan dedaunan yang ada di ranting pohon. Semburat jingga pun nampak begitu jelas dalam pandangan mata. Menarik sedikit sudut bibir, Naruto tersenyum begitu tipis.
Hhh, helaan napas kembali terdengar. Mengalihkan fokusnya, Kakak dari seorang dokter anak itu pun meraih secarik kertas yang berada di atas permukaan meja. Menatap secara seksama, dia pun mendengus sinis. Isi kertas tersebut membuat Naruto merasa kesal sendiri.
"Pantas saja aku tidak pernah bertemu lagi denganmu." Naruto menunjuk sebuah foto berukuran 3x4 yang tertera di permukaan kertas tersebut dengan jari telunjuknya, "Mengganti margamu dengan seenaknya ... kau berpenampilan begitu menyedihkan. Tsk, dasar Baka-Tachi."
.
.
.
Perkataan yang dilontarkan dengan nada lirih dari perempuan itu terus terngiang dalam pendengarannya. Lalu, sorot mata tajam yang syarat akan kemarahan dan kekecewaan itu pun masih tampak begitu jelas. Membuang napasnya secara kasar, Itachi merasa lelah.
"Kau benar-benar membawa pengaruh buruk untuk kehidupanku, Namikaze Naruto." Tersenyum sinis, lelaki itu menatap pantulan dirinya yang berada pada permukaan cermin. Tanpa kacamata tebal dan tanpa pakaian kebesaran yang tampak begitu licin yang selalu melekat pada tubuhnya ketika berada di luar flat sederhananya, sosok itu tampil apa adanya, khas dirinya yang sesungguhnya. Bukan sebagai Izanami Itachi, tapi sebagai seorang Uchiha Itachi; sosok lelaki yang berharap eksistensinya menghilang dari peredaran.
.
.
.
Naruto yakin ada yang tidak beres dengan kembarannya. Tampak begitu kacau, lelaki yang kabarnya memiliki daya tarik yang begitu kuat pada lawan jenisnya itu tengah bergerak aktif dalam mengacak-acak rambut hitam jabriknya. Frustasi, mungkin? Perempuan itu hanya bisa menyimpulkan secara sepihak.
Mendudukkan dirinya di samping lelaki itu, Naruto meraih remot televisi, dan kemudian segera menghidupkan benda berukuran 42 inch tersebut. Suara seorang wanita yang tengah membawakan acara infotaiment pun sontak terdengar dengan begitu nyaring.
"Bisakah kau mengecilkan volume-nya, Naruto?"
Tak merasa harus mengacuhkan protesan dari adik kembarnya yang merasa terganggu, perempuan itu memokuskan dirinya ke arah televisi yang menyala.
"Aku harus mempelajari kondisi pasienku di rumah sakit secara menyeluruh ... dan dari sekian banyak tumpukan data yang ada, aku hanya baru mempelajari sepertiganya."
"..." Naruto merasa heran dengan keberadaan prostitusi online yang semakin marak di kalangan selebriti dari sebuah negara di Asia Tenggara. Tangannya pun bergerak untuk menekan salah satu tombol yang ada pada benda persegi panjang yang ada pada tangan kirinya.
"Astaga ... kenapa kau malah menambah volume suaranya?!" Lelaki di sampingnya meradang.
"Kau berisik," ungkap Naruto begitu terdengar datar, tanpa berminat untuk melirik pada kembarannya sedikit pun.
"Berisik dari mananya?" Menma tak terima, "Jelas-jelas volume suara televisimu yang begitu kencang, Naruto."
"Ini apartemenku …." Akhirnya perempuan itu pun menolehkan pandangannya. Kedua matanya menatap lelaki di sampingnya skeptis. "Sesukamu mau seperti apa. Orang yang menumpang lebih baik diam saja."
"Ka—"
"Memang kenyataannya seperti itu, kok. Apartemen ini disediakan untukku, dan kalian hanya menumpang." Senyum sinis disunggingkannya. "Kalau tidak suka, silakan pergi. Pintu keluar selalu terbuka dengan begitu lebar."
Menma mengatupkan mulutnya rapat, tampak kehabisan kata.
"Dan kalau kau memang akan pergi, sebaiknya ajak serta si merah sok berkuasa itu."
"Hhh …." Menghela napas tidak pelan, lelaki itu pun dengan gerakan kasar bangkit dari posisi duduknya. Merapikan kertas-kertas yang tampak berserakan di atas permukaan meja, dia pun akhirnya berlalu pergi dari ruangan tersebut.
Sementara, Naruto yang ditinggalkan sang Adik begitu saja ke kamar hanya mengedikkan bahunya, tak peduli. Kembali memokuskan pandangannya ke arah layar kaca, acara infotaiment yang beberapa saat lalu disaksikannya telah berganti dengan sebuah acara drama dari benua Eropa.
"Waw, kedua bayi itu tertukar. Dua perawat bodoh itu melakukan kesalahan yang begitu fatal. Kasihan sekali kedua orangtuanya," komentarnya.
.
.
.
Suara musik familier itu menyentakkan Itachi dari fokusnya akan buku bacaannya. Melirik benda tipis berbentuk kotak yang ada di atas permukaan meja, tangannya pun bergerak untuk meraihnya.
Yang tampak dalam layar LCD itu membuat lelaki itu membentuk garis lurus pada bibirnya. Menghela napasnya untuk sejenak, dengan enggan Itachi mengusapkan jari telunjuknya pada icon gagang telpon berwarna hujau tersebut. Kemudian, benda itu didekatkannya pada daun telinga.
"..." Sebuah suara bernada familier terdengar dari seberang sana terdengar jelas.
"Hn, aku baik-baik saja."
"..." Ada hembusan napas yang terdengar lega. Itachi diam mendengarkan. Orang di seberang sana berbicara dengan begitu nada yang begitu monoton.
"Aku tahu."
"..."
"Hn, sesuai tebakanmu."
"..."
"Benarkah?" Itachi mendengus pelan. "Aku akan menanti undangan resminya."
"..."
"Kau tahu dengan pasti jawabannya."
"..."
"Hn, aku memang tidak mungkin datang." Lelaki itu menengadahkan wajah, menatap langit-langit ruangan yang catnya tampak mengelupas. "Lagi pula, aku tidak tertarik untuk mendatangi acara pertunangan paksamu."
"..."
"Aku turut bahagia. Akan Kukirimkan karangan bunga kamboja yang besar untukmu."
"..."
"Ya, aku juga menyayangi—"
Tut ... tut ... tut ….
Sambungan di putus secara sepihak dari seberang sana.
"—mu."
Itachi menatap datar layar ponselnya. Mendengus pelan, lelaki itu pun kembali meletakkan benda tersebut ke tempat semula.
"Dasar Baka-Otoutou ...," gumamnya begitu pelan.
.
.
.
Banyak orang yang mengatakan bila dirinya adalah sosok perempuan yang begitu sempurna. Terlahir dari dua buah keluarga besar, tepandang, kaya, dan berpengaruh, seorang Namikaze-Uzumaki Naruto dipastikan akan hidup sejahtera sepanjang masa hidupnya, bahkan begitu juga dengan keturunannya kelak. Tidak hanya berparas elok, kecerdasan yang dimilikinya pun menunjang sosoknya untuk tampak begitu sempurna di depan khalayak umum. Namikaze-Naruto bak seorang Putri dari Negeri Dongeng yang terdampar ke dunia modern.
Namun, kehidupan tentu saja tidak sesederhana itu. Orang-orang yang sebatas hanya bisa memandang dan memberikan penilaian terhadap kehidupannya yang tampak begitu sempurna, tentu saja tidak bisa melihat—dan peduli—akan kehidupan perempuan tersebut di belakang panggung bertajuk kesempurnaan tersebut.
Dituntut untuk selalu tampil sempurna di depan khalayak umum, Naruto sebisa mungkin harus mampu menyembunyikan—dan bahkan menyingkirkan—kecacatan yang melekat pada dirinya. Baik dalam, maupun luar. Seorang Namikaze-Uzumaki Naruto harus memenuhi standar sebagai anggota kedua keluarga besarnya. Suka atau tidak suka, mampu atau tidak mampu, mau atau tidak mau, perempuan itu harus memujudkannya.
.
Memeriksa setiap dokumen di atas meja kerjanya, perempuan itu berkali-kali dibuat harus menggelengkan kepalanya. Pekerjaan barunya sebagai Kepala Sekolah di sebuah SMA ternyata tidak semudah dan sesederhana pemikirannya. Seperti halnya dengan pekerjaan terdahulunya sebagai Manager, Naruto dituntut untuk teliti, agar tidak melakukan kesalahan fatal yang akan disesalinya pada kemudian hari. Nasib para guru dan muridnya ikut dipertaruhkan.
Naruto memang bukan tipe perempuan ambisius. Namun, ada suatu keinginan dan harapan yang cukup besar yang dirasakannya pada sekolah yang dipimpinnya saat ini. Maka untuk mewujudkannya, perempuan itu sedikitnya telah menyusun beberapa rencana yang akan dijalankannya dalam waktu dekat ini. Tersenyum menyeringai, sesosok lelaki berambut raven pun muncul dalam bayangannya.
"Ne, Itachi ... keberadaanmu yang berada begitu dekat denganku itu tak akan kubiarkan dengan percuma." Naruto memainkan pensil mekanik yang ada di tangan kanannya. "Maka, suka atau tidak suka ... kau bersiaplah untuk menjadi salah satu pion keberhasilanku."
.
.
.
Bohong bila Menma akan menyetujui dan menurut begitu saja pada setiap perkataan—atau lebih tepatnya merupakan perintah—yang dilontarkan oleh kakak tertuanya, Sasori. Lelaki itu walaupun tak pernah menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya—yang berlebih—pada sang Kakak kembar, tentu saja selalu menginginkan bila perempuan berambut pirang sebahu itu akan selalu dalam keadaan baik-baik saja. Maka dengan mengesampingkan risiko dan akibat yang akan ditimbulkannya pada kemudian hari, putra bungsu dari Namikaze Minato itu berani mengambil tindakan yang cukup terbilang ekstrim.
"Aku tidak sabar untuk secepatnya berada di Rasengan."
Mengulum senyum kalem, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu menatap perempuan berusia dua tahun lebih tua darinya itu penuh arti. "Kau bersabarlah, aku tentu saja tidak akan membuatmu terlalu lama menunggu. Kupastikan kurang dari dua minggu, kau sudah akan terdaftar menjadi salah satu staff pengajar di Rasengan."
"Benarkah?" tanya perempuan berambut panjang tersebut, terkesan penuh harap.
"Hu'um, aku berani menjaminnya," ungkapnya. Tangan kanannya yang tengah digunakannya untuk menggoyang gelas bertangkai berisi wine tampak bergerak dengan begitu elegan. Menikmati alunan musik yang terdengar lembut dalam indera pendengarannya, Menma merasa puas dengan restoran pilihannya malam ini.
"Syukurlah, kalau begitu," ungkapnya, lega. "Aku benar-benar ingin secepatnya kembali bertemu dan memperbaiki hubunganku dengannya."
"Kau sangat menyukai—"
"Bukan," selanya, cepat. "Bukan sekedar menyukai, tapi aku sangat mencintainya. Dia sangat berarti untukku."
"Begitu?"
"Ya," jawabnya, tanpa tersirat keraguan sedikit pun dari kedua bola matanya. Perempuan itu mengulas senyum lembut, "Aku sangat bersyukur, Tuhan akhirnya menjawab doaku. Akhirnya aku menemukan jalan untuk bisa menemukan keberadaannya."
"Dia sangat beruntung memiliki perempuan yang begitu mencintainya." Menma menatap lurus kedua bola mata perempuan di hadapannya. "Sampai rasanya aku merasa iri padanya."
"Entahlah, Menma, entahlah ...," Sorot matanya tampak sendu, "Itachi, aku terkadang merasa dia sama sekali tidak berpikiran seperti itu."
"..."
"Terlebih, dia yang tiba-tiba pergi meninggalkanku begitu saja, dan menghilang tanpa kabar ... membuatku merasa sama sekali tidak ada artinya untuknya."
Memasang ekspresi seprihatin mungkin, Menma tersenyum tipis—mencoba menenangkan. "Kau jangan pesimis seperti itu. Aku yakin, ada penjelasan tersendiri di balik kepergiannya."
"Kau benar ...," timpalnya, seulas senyum disunggingkannya. "Karena itu aku sangat berterimakasih padamu. Kau penyelamatku. Aku sangat bersyukur, kau datang di saat aku hampir saja menyerah dan berputus asa."
"Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya kulakukan," aku Menma seraya tersenyum kalem.
"..." Perempuan berparas elok itu menatap lelaki bermarga Namikaze tersebut penuh rasa ingin tahu.
"Itachi adalah temanku. Maka, sebagai seorang teman yang baik, sudah sewajarnya bila aku melakukan sesuatu untuk membantunya dalam meraih suatu kebahagiaan."
.
.
.
Itachi ingin sekali menangis. Doanya tidak terkabul. Harapannya hanya tinggal sebatas angan belaka. Padahal, keinginannya terbilang sederhana, dia hanya ingin hidupnya tenang. Dia sama sekali tak menginginkan hal apa pun selain bisa bernapas dan menjalani hari-harinya seperti biasanya. Namun, sepertinya Tuhan tengah mengujinya. Pun dengan Dewi Fortuna yang tak menaunginya.
Hanya bisa meratapi nasibnya dalam hati, Itachi berharap semua tak akan semakin buruk untuk ke depannya. Semoga perempuan yang saat ini tengah menatapnya dengan seringai khasnya—yang sangat menyebalkan—itu segera kembali ke habitat yang seharusnya.
"Anda tentunya akan melakukan tugas Anda dengan baik, kan, Izanami-Sensei?"
Seolah mendengar nyanyian kematian, lelaki itu merasa napasnya tiba-tiba menjadi sesak.
"Seorang sensei yang baik dan berdedikasi tidak akan mengecewa—"
"Saya mengerti, Uzumaki-sama." Mengesampingkan tata krama sebagai seorang bawahan, Itachi tidak membiarkan atasannya untuk menyelesaikan perkataannya. Jujur saja dia muak. Tanpa harus lebih banyak lagi disinggung secara halus oleh sang Kepala Sekolah, Itachi sudah sangat paham.
"Ah, baguslah kalau memang begitu." Perempuan itu tampak kehilangan mood-nya. Kedua mata beriris biru langitnya yang beberapa saat lalu tampak berbinar antusias kini meredup. "Saya sangat berharap yang terbaik dari Anda."
"Akan saya usahakan."
"Hm ... kalau begitu, Anda boleh keluar."
Tanpa perlu menunda-nunda, Itachi melakukan gestur penghormatan, kemudian berbalik. Namun, belum sempat dirinya melangkah, ucapan yang tiba-tiba dilontarkan oleh perempuan di belakangnya membuat lelaki itu membeku.
Menolehkan pandangan ke belakang, Itachi dengan jelas melihat perempuan tersebut tengah mengulas senyum lembut ke arahnya. Mengatupkan mulutnya rapat untuk beberapa saat lamanya, lelaki itu kemudian menghembuskan napasnya secara berat. Lalu, memilih untuk segera berlalu dari ruangan tersebut.
.
"Aku merindukanmu."
Menatap sayu ke arah pintu yang tertutup rapat, perempuan itu tersenyum getir. Menggigit bibir bawahnya untuk sejenak, suara kekehan bernada pahit pun terdengar beberapa saat kemudian.
"Apa yang telah kukatakan?"
Dia memejamkan kedua matanya. Air mata menetes begitu saja. Memukul-mukul dadanya dengan tangan kanannya yang terkepal erat, sesak terasa. "Kau hanya akan membuatnya menertawakan kekalahanmu. Kau bodoh, Naruto. Bodoh …."
.
.
.
Kazusha corner : Hai, ketemu lagi dengan fict ini. Semoga chapter ini sedikitnya bisa mengurangi rasa penasaran para pembaca.
Terima kasih kepada semuanya.
Silakan tuangkan uneg-unegnya di kolom review.
.
Balasan review :
Guest : Iya, lama. Aku masih perlu pembiasaan diri. Karena itu, aku kekurangan asupan. Sama Sasuke juga sangat cocok, aku juga suka. Sudah di-next. Thanks, ya.
Untuk yang log. in. akan dibalas via PM.
