Because I'm not a liar

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: T lah!

Author: Arum Fionitia (Minjem akunnya Kimoto Yuuhi)

Warning: OOC! TYPO! EYD NGGAK ADA! ABAL-ABALAN! NGACO! GAJE! GILA! DST… MEMBACA FIC INI (MUNGKIN) BISA MEMBUAT ANDA STRESS, KANKER, PENYAKIT JANTUNG, LEUKIMIA, TBC, OVER- HMMPHHHHH! *disumpel*

.

.

.

Sebelum itu, thanks banget buat yang udah nge review ini! Sumpah! Terharu! :') Wokeh, tanpa basa basi lagi.. (emang nasi?) Mari kita mulai chapter terakhir ini! This is my promise!

.

.

.

Preview: "H- Hidan, un?" "….." Hidan pun mendekatkan mukanya ke Deidara dan…

.

.

.

Chapter 3: I'm not a liar.

Hidan pun memajukan kepalanya sehingga….. Cu-! "CUUUTTT!"

Syuting Mode: OFF

"Kenapa di cut, leader?" Tanya Itachi yang lagi duduk santai karena posisinya sebagai cameramen diganti oleh zetsu.

"….. Gua mau boker dulu…" Kata Pain sambil berlari ke arah kamar mandi.

"Haaah… untung di cut! Coba kalo nggak! Hhhh…." Kata Hidan sambil menjauhkan mukanya dari Deidara.

"Kau kecewa ya?" Tanya Itachi lagi

"H-hah?! Maksud lo apa hah?!" Kata Hidan salah tingkah sendiri. "Tuh kan, bener." Kata Itachi sambil terkekeh pelan.

"….. AAAH! SIALAN KALIAN SEMUA!" Teriak Hidan sambil berlari menuju kamarnya. BRAK! Pintu kamar Hidan pun tertutup dengan sangat kencang.

"Hayulu Itachi-san… Hidan-san marah…" Kata Tobi dengan muka horrornya (?)

"Huuufftt… lega juga…. Nah! Ayo mulai lag- Loh?! Hidan KEMANA?!" Kata Pain sok histeris

"Itu leader-sama, tadi Itachi-san ngejekkin Hidan-san… jadi Hidan-san ngambek terus langsung pergi ke kamar." Kata tobi dengan ceria.

Aura negative pun mulai menyelubungi Itachi. Dan pemirsa! For the first time in forever seorang Uchiha Itachi ketakutan! (Readers: Author lebay….) "Itachi… Cepat bawa Hidan ke sini… SEKARANG…" Kata Pain

"Tunggu, leader-sama, un.."

"Apa Dei?!"

"Biar… aku yang membujuknya, un…" kata Deidara sambil berjalan kea rah kamar Hidan dan mulai membuka kenop pintu kamar Hidan

'Tak dikunci.' Batin Deidara.

"Hidan, un?" Kata Deidara memasuki kamar Hidan, Deidara pun melihat Hidan sedang berbaring di tempat tidurnya sambil menghadap tembok. "Hidan, un…. Ayolah… jangan ngambek, un…."

"Ngapain sih lo di kamar gue?!" Teriak Hidan emosi

"Membujukmu agar kembali syuting, un." Kata Deidara sambil duduk di samping tempat tidur Hidan.

"….. Percuma! Gua gak akan syuting lagi! Gua capek!" Kata Hidan lagi

"…. Hidan, un… sebenarnya kau kesal karena adegan yang kau tunggu tunggu dihancurkan oleh leader- sama kan, un?" Kata Deidara dengan suara yang lembut bahkan lebih lembut dari kain sutra, Karena perkataan Deidara, Hidan pun membalikkan badannya dan menatap Deidara dengan tatapan sedih dan bingung. "K…kenapa kau menatapku seperti itu, un? Apa kau memiliki masalah?" Tanya Deidara lagi.

"Tidak.. tidak ada…. Hanya saja… gua Cuma mau ngomong kayaknya gua itu suka sama lo." Kata Hidan enteng.

"E-eh?!" Muka Deidara pun memerah seperti kepiting rebus. "M-maksudmu, un?!" Kata deidara masih kaget.

"Hehehe….. Boong kok…" Kata Hidan lagi sambil ketawa

"A-apa?!"

"Hah… sudahlah… kita syuting lagi aja." Lanjut Hidan sambil bangkit dari tempat tidurnya meninggalkan Deidara yang masih cengok.

"…."

Baru saja Hidan ingin membuka pintu kamarnya, dia dikejutkan oleh Deidara yang memegang tangan kirinya. "…. Kenapa Dei?"

"…" Deidara tak menjawab, pandangannya hanya lurus menatap arah mata Hidan, Hidan tau tatapan itu. Ya, tatapan kosong. (Author: Hah?)

"Hidan.. sebenernya kau ini…. Yaoi bukan?" Tanya Deidara yang membuat Hidan, Readers, Author dan Masashi kishimoto terkejut! *Author dibantai*

"H-hah?! L-lu ngomong apa sih Dei?!" Kata Hidan salting

"Oh… jadi kau yaoi ya, un…"

"Errr! T-tidak! D-dewa jashin melarang hal laknat itu!" Teriak Hidan dengan panic.

"Jujur sajalah, un… aku tau kalo kau itu yaoi, un…" Kata Deidara dengan evilsmirknya

"….. Gak. Gua BUKAN yaoi. Ngerti?!" Kata Hidan dengan penekanan di kata 'bukan' "Udahlah! Sekarang kita syuting lagi aja!" Omel Hidan

"…. Oke deh, un."

Kemudian, Hidan pun membuka pintu kamarnya beserta Deidara.

"Aaaah! Lama banget sih lu pada! Gua udah lumutan nih nungguin kalian berdua! Emang kalian ngapain sih?! Lama banget!" Omel Pain panjang lebar banget.

"Ohh… mungkinkah kalian…..-" Ucapan Itachi pun terpotong setelah melihat deathglare dari Hidan dan Deidara.

"Mereka kenapa Itachi-san?" Tanya Tobi kepada Itachi yang lagi merinding itu.

"Nggak…Dah! Ayo lanjutin syutingnya!" Kata Itachi sok memimpin.

"Woy! Leadernya itu gue apa elo sih?!" Bentak Pain.

"Hehehehe… sorry leader-sama…"

"Okelah… nah sekarang Hidan! Deidara! To position back!" Kata Pain sok inggris

"Kebalik Pain." Kata Konan singkat

"Oh… sorry.. sorry.. ok! Back to position Aaaannndd…. ACTION!" Teriak Pain sambil mengankat salah satu tangannya tinggi tinggi (Author: Bau ketek*nutup hidung* Pain: Shinra tensei!)

Syuting Mode: On

Hidan pun mendekatkan mukanya, sehingga Cu-!

"Cuma bercanda kok." Sukses, kata kata Hidan membuat Deidara membuka matanya sambil menatap Hidan kebingungan

"M-maksudmu, un?"

"Heh. Kau benar semua." Ujar Hidan sambil menunjukkan kertas soal yang dia berikan tadi

"J-jadi… tadi itu…Cuma… bercanda, un…?"

"Hehehehe.. iya… memangnya kenapa?"

"…." "Wah… kecewa ya?" Sahut Hidan sambil memberikan evilsmirknya.

"A-apaan sih?! Kau ini ngaco banget sih!" Teriak Deidara salting plus panic banget

"Un-nya mana?" Ujar Hidan mengingatkan Deidara

"O-oh iya, un… ketinggalan…."

"… -_-"

"T-tunggu… berarti… tadi aku benar semua menjawabnya?"

"Iya."

"…." Awalnya, Deidara masih diam dengan muka polos dan tak lama matanya langsung berbinar binar "Benarkah?!"

"Beneran kok, un." Kata Hidan sambil terkekeh kecil

"Un…" Deidara pun menyadari perkataan Hidan barusan, dan ia menggembungkan salah satu pipinya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, Hidan pun mengetahui kalo Deidara ini sedang ngambek dan kemudian Hidan pun mengelus rambut Deidara pelan sambil mengucapkan

"Jangan marah ya… aku kan Cuma bercanda…"

"….." Awalnya Deidara terdiam, namun dia baru saja menyadari perlakuan Hidan itu, dan itu membuatnya-

BLUSH!-mukanya memerah.

"Hehehe…" Hidan pun terkekeh pelan melihat reaksi Deidara yang imut itu, kemudian matanya pun kelayapan (Hah?) sehingga melihat jam yang ada di dinding "Haah?! Udah jam segini?!" Kata Hidan setengah berteriak

"K-kenapa, un?"

"Waduh, sori aku harus segera pulang."

"Pulang, un?" "Iya." Ujar Hidan sambil membereskan tasnya dan mulai bangkit dari duduknya dan berjalan kebawah kearah pintu keluar kamar diikuti Deidara.

"Meow?"

"Hm?" Hidan pun menunduk kebawah, melihat Hira sedang menatap Hidan dengan kedua bola matanya yang berwarna biru laut dan seolah berkata mau-pergi-kemana? Hidan pun jongkok untuk mengelus Hira sambil berkata

"Aku pulang dulu ya, Hira. Kapan kapan aku akan datang lagi kok."

Kemudian, Hidan pun mengangkat Hira ke pelukannya sambil berjalan menuruni tangga dan menuju kea rah pintu keluar rumah Deidara dan saat itulah Hidan menurunkan Hira dari pelukannya dan dia segera memakai sepatunya.

"Aku pulang dulu ya, thanks banget loh makanannya… enak…." Ucap Hidan sambil menatap Deidara yang sedang memeluk Hira

. "Sama sama, un…. Maaf ya, aku merepotkanmu,un." Ujar Deidara sambil membungkukkan badannya 90 derajat.

"Gak kok…. Gak ngerepotin…" Baru saja Hidan ingin membuka knop pintu, Deidara langsung berkata

"Memangnya dirumahmu ada yang menunggumu ya, un?" Sontak, Hidan pun langsung berbalik melihat Deidara yang sedang mengelus elus Hira.

"Aku…"

"Kau enak ya, un… ada yang menunggumu dirumah… aku dari kecil tidak ada yang menungguku, un."

"Aku juga."

"Eh?"

"Di rumah. Tak ada yang menungguku. Siapapun itu." Ujar Hidan sambil menatap Deidara

"Kau beruntung. Masih memiliki Hira. Masih bisa diajak berbicara, bermain dan lainnya. Sementara aku?"

Deidara pun menatap Hidan dalam dalam.

"Tapi…"

"Un?"

"Tidak…. Aku pulang buru buru karena aku harus bekerja."

"Kerja, un? K-kau kerja, un?!"

"Iya. Kenapa?"

"D-dimana, un?!"

"Hm…. Kalo gak salah namanya itu… restoran Akimichi ataulah apa itu, aku lupa..." Ucap Hidan sambil melipat kedua tangannya di belakang kepalanya.

"Kau bekerja menjadi apa, un?" Tanya Deidara yang penasarannya makin menjadi jadi.

"Aku bekerja menjadi pelayan." Ucap Hidan sambil menundukkan kepalanya karena malu.

"Kalau begitu, sebaiknya kau segera berangkat, un! Kau tidak ingin telat 'kan, un?" Deidara pun tersenyum sambil mendorong keluar Hidan dari rumahnya.

BLAM!

"Haaah…. Un… sebainya aku juga segera bersiap siap bekerja, un." Deidara pun berlari menuju kamar mandi untuk bersiap siap untuk bekerja.

Tak lama, Deidara pun keluar dengan rok mini berwarna cokelat muda pendek dan juga baju berlengan pendek berwarna putih dengan rompi berwarna cokelat tua, oh juga tak lupa dengan pita berwarna putih yang berguna untuk mengikat rambutnya, sehingga rambut Deidara sekarang mirip sekali dengan rambut ponytail milik Ino dan juga jepitan berwarna putih untuk menjepit poninya yang memang menghalangi satu matanya.

"Ok… jaketku dimana ya, un?" Tanya Deidara sambil mencari cari jaketnya di kamarnya, kemudian dia pun ke ruang tamu dan akhirnya menemukan jaket hitamnya. Setelah menemukan jaketnya, Deidara segera pergi mencari sepatunya dan segera memakainya.

SKIP TIME

Saat ini, Deidara sudah berada di depan restoran tempat ia bekerja dan langsung saja Deidara berlari ke dalam restoran itu dan masuk ke ruang para karyawan dan langsung disapa ramah oleh seorang gadis.

"Hei, Deidara!" panggil gadis yang memiliki rambut bercepol dua, yo'i. dia itu Tenten.

"Tenten, un." Ujar Deidara sambil melepas jaketnya

"Wah, Deidara tumben sekali kau datang terlambat." Kata Tenten dengan sorot mata khawatir.

"Tenang, un… tadi tuh aku Cuma kelamaan mandi, un… hehehe…." Ucap Deidara yang disambut jitakan manis dari sahabat kerjanya itu.

"Kau ini! Bikin khawatir aja!" Kata Tenten sambil menahan emosinya lagi

"Adududuh…. Maaf, un…."

"Huh! Ya udah, sekarang kau bantu aku, antarkan pesanan ini ke meja no. 3, oke?"

"Oke, un…" Deidara pun segera mengambil nampan yang berisi pesanan makanan itu dengan cepat dan hati-hati.

Saat Deidara menyerahkan nampan itu ke pelanggannya, Deidara melihat Hidan yang sedang membersihkan salah satu meja yang kosong. Deidara pun melihat Hidan yang tampak berbeda. Sekarang, Hidan memakai Celana panjang berwarna Cokelat,juga baju berlengan panjang yang digulung hingga ke siku berwarna cokelat dan juga Topi berwarna cokelat yang ia pakai kea rah belakang (If you know what I mean XD)

Deidara pun melihat Hidan, menunggu Hidan menengok ke arahnya, dan benar saja! Hidan pun menengok ke arah Deidara yang sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum, ya sontak Hidan kaget,

'kenapa Deidara bisa ada di sini?' batin Hidan sambil melanjutkan pekerjaannya, dan akhirnya Hidan mendapat jawaban dari Deidara saat restoran itu tutup.

"Kukira kau ngapain disini, ternyata kau kerja disini juga toh…" ucap Hidan sambil mengambil jaketnya yang berwarna putih dan memakainya, tapi tidak di ritsleting.

"Hehehe… makanya tadi aku nanya, un… ternyata kita kerja di tempat yang sama, un…." Lanjut Deidara sambil mengambil jaketnya juga sambil men-stletingkan jaketnya.

"….. Ok, mau bareng gak?"

"Eh…. G-gak usah deh, un… aku naik bus aja, un."

"Ya iya, maksudku bareng gak naik busnya?"

"O-oh… boleh, un!"

Kemudian, Deidara pun berjalan bersama Hidan menuju halte bus yang ada di dekat mereka, dan mereka pun segera duduk di bangku yang kosong untuk menunggu bus yang akan datang. Suasana pun hening seketika, Hidan dan Deidara pun tidak ingin angkat bicara ataupun memulai pembicaraan. Dan akhirnya, Deidara pun yang angkat bicara duluan

"Hidan, un?"

"Hm?"

"Bolehkah aku bertanya sesuatu, un?"

"Apa itu?"

"Apa kau bisa bermain alat musik, un?"

"Bisa. Aku bisa bermain gitar, drum, piano dan bass."

"APA, UN?!" Teriak Deidara tak percaya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Kalau kau? Apa kau bisa bermain alat musik?" Tanya Hidan sambil menoleh kea rah Deidara

"Bisa, un…. Aku Cuma bisa bermain biola, un…." Ujar Deidara sambil menundukkan kepalanya, dengan muka yang merah karena malu kemampuannya lebih rendah dari Hidan

"Wah… kau pasti sangat cantik saat bermain biola, ya…." Ujar Hidan sambil menghindarkan pandangannya dari Deidara.

BLUSH!

Sekarang muka Deidara sudah semerah rambutnya Gaara dan Sasori. Hidan yang menyadari hal itu Cuma bisa tertawa pelan.

"Eh, bisnya udah dating."

"Ayo, un… kita segera bersiap pulang, un.."

"Hm.."

SKIP TIME

Sekarang, Hidan dan Deidara berada di depan rumah Deidara

"Terima kasih ya, un… sudah mengantarkanku pulang."

"Siapa yang nganterin kau pulang?"

"Eh? T-tapi, un…."

"Hoi, baka. Rumahku ada disebelahmu."

"Eh? A-apa maksudmu, un?"

"Haaahhh….. kita itu ternyata tetanggaan…. Makanya aku agak terkejut saat melihat kalau ini rumahmu…." Ujar Hidan sambil berjalan menjauh dari Deidara

"Oh… kalau begitu, sampai jumpa, un!" Ujar Deidara sambil melambaikan kedua tangannya

"Iya." Ucap Hidan sambil melambaikan salah satu tangannya

Kemudian Deidara dan Hidan pun menuju rumah mereka masing masing.

Keesokan paginya….

"Hoaaaahmmm….. sudah pagi, un….. jam berapa sekarang, un?" Deidara pun melirik jamnya "Wah, un… aku masih punya banyak waktu, un…" kata Deidara sambil berjalan keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dan akhirnya sampai ke kamar mandi. "Saatnya berendam, un!"

Sementara itu di rumah Hidan, dapat dilihat bahwa Hidan sedang memakan sarapannya di meja makan sendirian dan sudah memakai seragam sekolah dengan rapi. Nah, ayo kita liat Deidara lagi!

Sekarang, Deidara sudah memakai seragam sekolahnya dan sedang menaruh makanan di tempat makan kucingnya. Kemudian Deidara pun mengambil sepotong roti dan ditaruhnya roti itu dimulutnya sambil mengenakan sepatunya. Kemudian Deidara pun segera membuka pintu rumahnya dan mengunci pintu rumahnya. Dan disitulah ia melihat Hidan yang juga sepertinya sedang ingin berangkat sekolah juga. (?)

"Ohayou, Hidan, un!" ujar Deidara sambil mendekati Hidan

"Ohayou, Deidara-chan."

"Mau berangkat sekolah bareng, un?"

"Boleh. Ayo, kita berangkat."

"Iya, un!"

Hidan dan Deidara pun segera berjalan lagi ke halte yang ada di dekat rumah mereka, dan pas sekali! Sebuah bis dengan tujuan sekolah mereka sedang berhenti untuk menunggu penumpang, sontak saja Deidara segera menarik tangan Hidan untuk berjalan lebih cepat.

"Ayo, un! Nanti kita ketinggalan bus itu, un!" Ujar Deidara sambil berlari menuju bus itu dengan keadaan yang masih berpegangan tangan dengan Hidan.

Akhirnya mereka pun berhasil naik bus itu, sebelum bus itu berangkat, dan mereka pun duduk bersebelahan.

"Wahh… hampir saja, un…"

"Kau ini….. kalau mau lari…. Bilang bilang dong…" ujar Hidan sambil ngos ngosan

"Hehehe… maaf, un.." kata Deidara sambil mengambil saputangannya dan menggunakannya untuk mengelap keringat Hidan yang bercucuran (Author nangis kejer sambil lompat lompatan di atas kasur)

Tanpa mereka sadari, ada seorang laki laki yang melihat mereka sambil tersenyum evil dan segera mengambil handphonenya.

Pemberhentian berikutnya di halte Okinawa. Bagi yang akan pergi ke Mall Okinawa, ataupun Akatsuki High School, bisa turun disini.

"Ayo, kita turun." Kata Hidan sambil mengeluarkan uang dari dompetnya

"Iya, un."

SKIP TIME

Sekarang, Hidan dan Deidara sudah melewati gerbang Akatsuki High School. Dan saat itulah ada yang memanggil mereka.

"Hidan! Deidara!"

Yang dipanggil pun langsung menengok kearah belakang mereka, dan dapat dilihat seorang gadis bercepol dua berjalan dengan seorang laki laki yang memiliki iris lavender.

"Tenten dan Neji, un?"

"Mau ngapain mereka?" Tanya Hidan kepada Deidara

"Mana aku tau, un…"

"Akhirnya kau mendapatkan itu juga ya! Akhirnya sang gadis primadona sekolah ini mendapatkannya!Selamat ya Dei!" Ujar Tenten sambil memeluk erat Deidara

"A-apa maksudmu, un?" Tanya Deidara kepada Tenten

"Ah, kau ini… pakai pura pura gak tau lagi…. Dasar kau ini…tak perlu malu malu kok…" lanjut Tenten lagi.

"Eh? Aku masih tak mengerti maksudmu, un." Kata Deidara lagi kepada Tenten

Sementara itu, Hidan hanya menatap Neji dengan tatapan mata Ada-apa-sih-sebenarnya-jelaskan-sekarang-juga.

"Jadi begini, Deidara, Hidan…. Kalian pacaran 'kan?" Ujar Neji singkat, padat dan jelas.

"APAAAA(UN)?!" Teriak Deidara dan Hidan barengan

"Haduh, kalian ini…. Kan di Koran sekolah sudah diberitahu… nih! Liat deh Headlinenya! Kalian romantis sekali loh!" ujar Tenten sambil memberikan Koran yang tadi dipegang oleh Neji.

Headline Akatsuki High School

[FOTO HIDAN DAN DEIDARA YANG SEDANG PULANG SEKOLAH BERSAMA DAN SAAT DEIDARA SEDANG MENGELAP KERINGAT HIDAN TADI PAGI]

PASANGAN BARU! AKHIRNYA! SANG GADIS PRIMADONA SEKOLAH, MENDAPATKAN PASANGANNYA! PASANGANNYA MERUPAKAN SANG ANAK BARU YANG ADA DI KELASNYA! INI MERUPAKAN SEBUAH KEAJAIBAN TEMAN TEMAN SEKALIAN! MARI KITA DO'AKAN AGAR MEREKA BISA SELALU BERSAMA HINGGA MENIKAH NANTI!

-WRITER: UCHIHA ITACHI-

Mata Hidan dan Deidara membulat, Readers sweatdrop, Author pun jatoh dari tempat tidur dengan muka duluan.

"ITACHI(UN)!" Teriak Deidara dan Hidan barengan lagi, mereka pun segera meninggalkan Neji dan Tenten untuk meminta pertanggungjawaban (?) Itachi.

"Ya ampun mereka itu…." Kata Tenten sambil tersenyum sweatdrop

Sementara itu, di kelas XI – A, Itachi sedang membaca sebuah buku yang tebelnya kayak buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (Author: WOW!) dengan serius. Nampaknya, sekarang ia sedang bahagia (?) karena dia berhasil memberitahu seluruh dunia- aish ralat… maksudnya seluruh sekolah kebenaran yang sebenarnya.

Kemudian, keheningan di kelas tersebut terhenti ketika pintu kelas dibuka dengan kasar oleh Hidan dan Deidara dengan muka kesel plus ngamuk dan ditambah malu (?)

"ITACHI! JELASIN APA MAKSUD DARI INI?!" Teriak Hidan yang langsung mendekati meja Itachi.

"ITU BENAR, UN! JELASKAN, UN!" Teriak Deidara yang tak kalah kencangnya dari Hidan.

"Wow… wow…sabar dulu…. Ok… akan ku jelasin… jadi begini… sebenarnya aku itu terpaksa memuat kalian di kabar utama koran sekolah kita.. karena aku kehabisan ide!"

Deidara dan Hidan membatu, dan jangan lupa perempatan siku siku juga ada di kening mereka masing masing, yang mengakibatkan Itachi langsung menutup telinganya karena…

"LALU KENAPA HARUS KAMI (UN) ?!"

-Dia tau kalau Hidan dan Deidara akan berteriak kencang didekatnya yang membuat orang orang disekitar mereka juga ikutan menutup telinga.

"Memangnya kenapa? Kalian pacaran 'kan?" ujar Itachi yang membuat muka Hidan dan Deidara memerah sempurna.

"A-apaan kau ini, un?! T-tidak mungkin, un!"

"Tapi sepertinya tidak begitu bagi Hidan." Kata Itachi sambil ngeluarin evilsmirknya

"Eh?" Deidara pun menengok ke Hidan dan kemudian Deidara pun melihat Hidan yang sedang mengalihkan pandangannya dari semua orang yang sedang menatapnya.

"Hidan, un!" kata Deidara yang meminta perhatian Hidan, namun tetap saja Hidan tak mau menatap Deidara saat ini. Hingga, Deidara pun menarik lengan Hidan, hingga mereka pun sekarang bertatap tatapan, dan deru nafas mereka pun seperti menyatu (halahh…)

Itachi pun langsung mengeluarkan kameranya, bersiap untuk memotret hal yang (akan) terjadi. Sementara semua siswa siswi di kelas itu hanya diam menungu kelanjutan dari gerakan Hidan dan Deidara.

Kemudian, Deidara pun mulai menjinjitkan kakinya, lalu ia pun menaruh kedua tangannya di dada bidang Hidan, lalu ia pun mulai mendekatkan wajahnya ke muka Hidan. Saat ini, posisi Hidan dan Deidara saling muka lawan muka. Begitu terus hingga 10 menit sampai…

Syuting Mode: OFF

"CUUUUTTTTT!" Teriak Pein lagi

"Wah, senpai… harusnya kan senpai harus mencium Hidan-senpai…." Kata Tobi polos sambil menyapu nyapu lantai.

"Tapi, gak mungkin gua harus ngelakuin ini, un!" kata Deidara lagi

"Harus." Ujar Pein dengan muka sangar dan nada meyakinkan

"Cih, sialan." Kata Hidan lagi

"Ok… kalau begitu… kita mulai lagi ya… Siap… and…. ACTION!"

Syuting Mode: ON

Kemudian, akhirnya Deidara pun memberanikan diri dan makin mendekatkan dirinya ke Hidan, hingga…

"1..2…3.. Cheese!" ujar Itachi yan pas sekali saat dia mengucapkan kata Cheese, muka Deidara dan Hidan sudah berdekatan, dan bahkan bibir mereka pun sudah saling menempel satu sama lain. Kemudian, tak lama Deidara pun melepas ciumannya terhadap Hidan dan berkata

"Aku mencintaimu Hidan, un." Ucap Deidara sambil tersenyum kepada Hidan

"… Aku juga.." Jawab Hidan sambil mengelus rambut Deidara

"Wah! Selamat ya!"

"Uwaaahh… aku iri dehh…."

Seluruh kelas pun langsung berisik oleh sorakan dari anak anak kelas XI-A karena melihat adegan romantis Hidan dan Deidara.

Dan, mulai sekarang Hidan dan Deidara akan hidup bahagia… selamanya…

Tamat.

Syuting Mode: OFF

"CUUUTT! OKE! SYUTING KITA SELESAI!" Teriak Pein yang langsung mengambil rekaman itu dan memberikannya kepada Tobi untuk di edit oleh Tobi.

"Tobi, editin ya… yang bener loh! Kalo bisa selesai hari ini, oke?!" Ujar Pein sambil memberikan rekaman syuting tadi

"Tenang leader-sama! Tobi akan meng-editnya sepenuh hati dan secepat kilat kuning Konoha!" ujar Tobi sambil berlari ke kamarnya untuk segera mengedit rekaman syuting itu.

"Oke… terus Hidan, Deidara!" Ujar Pein sambil mendekati mereka berdua yang nampaknya sedang mematung,

"U…un…." Dan tiba tiba saja, Deidara pun langsung menunduk dan berlari ke dalam kamarnya yang membuat para anggota Akatsuki (minus Tobi, Deidara) menaikkan alisnya kebingungan. Dan kemudian, Pein pun memberikan tatapan kepada Hidan seperti ngomong Tuh-buruan-kejer-tuh-anak-dan.

"Iya, iya…." Kata Hidan yang berjalan kea rah kamar Deidara dan membuka kenop pintu kamar Deidara dan Hidan pun melihat Deidara yang sedang membuka kunciran rambutnya dan Deidara pun menyadari keberadaan Hidan dan segera menatap sedih kepada Hidan.

"Tenang, Dei…. Gua ngerti kalo lu sedih… tapi santai… jangan dibawa emosi…. Gua juga kesel sebenarnya… tapi.. yah.."

"Kau gak ngerti, un…. Itu first kiss ku, un!" ucap Deidara yang matanya langsung berlinang air mata "Kau gak akan ngerti, un… itu… first-" Ucapan Deidara terpotong saat Hidan memeluknya dengan erat.

"Itu juga first kissku, baka."

"Eh, un?"

"Kau… masih ingat apa yang kukatakan saat dialog terakhir syuting kita?" Tanya Hidan yang nampaknya mengubah kosakatanya dari gua lu, jadi aku kamu… ekhem…

"Ingat, un… memangnya kenapa, un?" Tanya Deidara yang makin penasaran

"Aku mengatannya dengan tulus.. aku benar benar mencintaimu… kau tau kan aku ini bukan seorang pembohong?"

"Ya, un… aku juga mencintaimu, un…"

TAMAT

OMAKE

"Haduh… si Hidan lama amat sih…." Kata Itachi sambil mengoleskan sebuah krim anti keriput bermerek Spond's (buahaha)

"Tau tuh…" kata Konan menambahkan

"Senpai-senpaiku semua! Tobi sudah selesai mengedit ceritanya!" seru Tobi girang

"Untuk apa?" ujar seseorang dari balik pintu markas Akatsuki.

"Yah, untuk dijual sehingga kita bisa mendapat uang kan?" Tanya Tobi kepada orang misterius itu

"Tak perlu lagi.."

"Tak perlu?"

"Karen gua udah dapet uang yang banyak, wuahahaha!" Ujar Kakuzu sambil ketawa tawa dan membawa banyak koper di tangannya.

GUBRAK!

"Jadi… percuma dong tadi kita, syuting?" Kata Pein

"Percuma juga dong gua udah bikin naskah, jadi cameramen jadi pemeran pula…. Gua jadi merasa tersakiti…" Kata Itachi sambil menangis tersedu sedu di pundak Kisame

"Percuma juga dong, Tobi nge edit rekaman ini?" kata Tobi yang merasa sedih

"Sudahlah… yang penting jangan sampai Hidan dan Deidara mengetahui ini, kalo tidak kita mati…" kata Konan memambahkan

"Iya… yaudah… kita simpen aja tuh rekaman di kamar gua… buat kenang kenangan…"

"Yaudah.. nih leader-sama." Ujar Tobi sambil memberikan rekaman syuting tadi yang sudah di edit kepada Pein.

FIN

Wuahaha! Akhirnya abis juga ini fic!Beuh, capek.. -_- Aku mah apa dah, bukannya belajar siap siap ujian malah ngelanjutin fic… hehehe…. Romancenya gak berasa ya? Maaf ya, author jones soalnya, jadi gak ngerti yang namanya romantis romantisan… (padahal baca fic romance mulu)

Wahaha… kalau fic ini masih ada kesalahan, mudah-mudahan aku akan sempat nge-edit fic ini. Dan thank you banget buat kohaiku! Karena telah menginspirasiku! Thanks!

Dan thanks juga buat para reader yang selalu setia membaca, me-review, nge-favorite, nge-follow dan nge-flame (hah?) saya berterima kasih sebanyak banyaknya! Dan saya pamit undur diri! Mudah mudahan bisa ngepublish fic lagi deh… palingan sih.. yaoi lagi…hehe..

#A.F

#Cuap-cuap dari sang pemilik akun

Yuuhi : Maaf menggangu, yah arum-senpai! maaf sebelumnya telat banget ngepublish ini fanfic.. "Kohai Kampret" abisnya sibuk bener dah sumpah.. mau TO bukannya belajar malah ngerjain tugas. Fyuh ini amanatmu Arum, semoga kau bahagia di alam sana. Arum:"Lo kira gue mati hah?". ini udah tamat? gak nyangka, padahal daku sendiri mau baca dan pengen tahu ceritanya lebih banyak lagi. Buat para readers mohon doakan kita berdua supaya dimudahkan di TO senin depan yahh.. Arum:*ngelap air mata dan ingus"..

Arum dan Yuuhi: Arigatou! Jaa nee!