Namikaze Naruto: A fire Sorcerer Adventure
.
.
By: Cmina-chan Namiuzukage
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Ooc, gaje, aneh, gak nyambung, humor garing, abal, dll.
Genre: fantasy, friendship, romance, humor, dll.
Rated: T
Chapter 3: Rival!
.
.
"Sa-Sasuke?" tanya Kiba tak percaya dengan siapa yang ada di hadapannya saat ini. Ck, repot juga kalau a harus berurusan dengan orang yang suka bertarung sepert Sasuke. Apalagi, kalau ia harus melawan teman-teman Sasuke juga.
"Wah, wah, ada yang menarik, nih!" ujar Suigetsu. Lumayan juga, setelah bosan tidak melakukan apa-apa selama 4 jam. Suigetsu mendekat, menunjuk Kiba dengan jari tengahnya, "Ayo bertarung, Inuzuka!" ujarnya sambil tersenyum.
"Ck..." Kiba tak tahu apa yang harus ia lakukan. Menerima tantangan Suigetsu yang jauh lebih hebat darinya, atau memilih kabur dan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Ck... sial! Apa yang harus ia lakukan?
"Biar aku saja!" ucap Yahiko lantang. Remaja itu maju selangkah lebih depan dari Kiba. Ia merasa, tanggung jawabnya sebagai ketua untuk melindungi teman-temannya lebih besar dibandingkan dengan keselamatan dirinya sendiri.
"Hm... boleh juga." Ujar Suigetsu. Ia melipat lengan bajunya sampai siku, dan merenggangkan tiubuhnya.
"Kalau begitu, aku juga akan memilih lawan." Ujar Sai sambil tersenyum. Melirik-lirik mana yang akan ia pilih sebagai lawan. Menma? Noo, terlalu membosankan. Kiba? Hm... tidak. Nagato? Apa kemampuan si cengeng itu? lalu... pemuda berambut pirang itu, kalau tak salah ia anak baru. Hm... bolehlah...
"Kau! Yang berambut pirang! Jadilah lawanku!" ujar Sai sambil menunjuk Naruto. Naruto melirik ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Apa mungkin, maksud remaja berambut hitam itu adalah dirinya?
"Aku?" tanya Naruto polos. Sai mengangguk. Naruto hendak berjalan mendekati Sai, apabila Yahiko tak menghentikannya. "Jangan, Naruto! Biar aku yang menyelesaikannya. Ini tugasku sebagai ketua." Ujarnya. Remaja berambut orange itu melangkah ke arah Sai, dan berhenti tepat di hadapannya.
"Kita buat peraturan. Pertama, aku yang akan melawan Suigetsu, siapapun diantara aku dan Suigetsu yang kalah, akan di gantikan dengan pemain dari grup yang kalah, sedangkan pemain yang menang akan tetap bertarung, sampai ia kalah. Lalu... akan terus berlangsung, sampai salah satu dari grup kehabisan pemain. Mengerti?" jelas Yahiko panjang lebar. Kiba mengerutkan keningnya, begitu pula Naruto. Sedangkan Nagato takjub, dengan kecerdasan Yahiko yang terbilang jarang. Dan Menma? Ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tanda ia mengerti. Namun, apakah ia benar-benar mengerti?
"Tunggu, tunggu! Apa maksudnya? Aku tak paham!" ujar Kiba.
"Benar! Kau terlalu cepat menjelaskan, Yahiko!" sambung Naruto. Yahiko menghela napas. 'Susahnya, jadi orang pintar.' Batinnya narsis.
"Hm... baiklah. Aku setuju. Bagaimana denganmu, Sasuke?" tanya Suigetsu, meminta persetujuan dari sang ketua."Hn... aku juga setuju." Jawab Sasuke.
"Tunggu! Kami masih tak paham!" seru Kiba dan Naruto berbarengan. Manma dengan segera langsung merangkul keduanya, dan menjelaskan apa yang ia ketahui—Menma sebenarnya juga tak paham.
"Baik. Ayo mulai!" ajak Suigetsu. Keduanya memang sama-sama pengguna sihir air. Namun, teknik dan kekuatan yang diajarkan pada mereka jauh berbeda.
Suigetsu langsung berlari ke arah Yahiko, kemudian menendangnya secara brutal. Yahiko terus saja menghindari serangan bertubi-tubi Suigetsu, ia sesekali mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Suigetsu dengan menendangnya di kaki, namun... gagal.
Duakkk! Dengan tenaga yang cukup keras, Suigetsu berhasil menendang lengan kanan Yahiko, membuat remaja berambut orange itu meringis kesakitan. Tentunya, bukan bagian itu yang Suigetsu incar, yang ia incar adalah bagian leher Yahiko.
"S-sial..aku lengah.." Yahiko bergumam pelan. Ia kemudian berlari ke arah Suigetsu, dan menendang lengan kiri Suigetsu. Membuatnya terlempar ke pohon besar di belakangnya. Harus Suigetsu akui, tenaga Yahiko sangat besar, sampai bisa membuatnya terpental sejauh itu. Namun...
"Kheh.. meleset, ya?" ejek Suigetsu. Yahiko tersenyum. "Iya, tadinya aku hanya mengincar kakimu, tapi karena kau bergerak, jadi yang terkena seranganku adalah lenganmu... hampir saja aku jantungan, kukira aku mengenai dadamu..." ujarnya polos. Kiba cengo.
"Kheh... jangan meremehkanku! Bertarunglah dengan serius! HYAAAAAA!" Suigetsu kembali menyerang, ia menyerang dengan jurus air level 2-nya. Tiba-tiba, muncul bola-bola air yang kemudian menyerang Yahiko. Yahiko membuat sebuah lapisan air sebagai perisai. Ia tak menyangka, bola-bola air itu langsung meledak begitu mengenai lapisan air-nya, membuat lapisan air itu hancuri dan membuat Yahiko terpental cukup jauh. Kemudian bola-bola air lainnya menyerangnya, ia terus-terusan menghindari bola-bola yang sangat banyak itu. hingga akhirnya, 2 buah bola air mengenai kakinya. Tak cukup dengan itu, Suigetsu kembali menyerang Yahiko dengan jurus air level 3-nya, yaitu menjadikan air seperti sebuah gelembung air yang tidak bisa ditembus begitu saja. Mengunci remaja itu di dalam gelambung yang tak berisikan udara—atau mungkin, tidak dapat disebut gelembung, ya?
Yahiko kembali merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin, ia bisa selengah itu? dengan pukulannya ia berusaha menghancurkan gelembung itu. namun, hasilnya... nihil. Tidak ada yang bisa ia lakukan di dalam sana. Napasnya pun semakin menipis.
Maaf teman-teman, sepertinya... a-ku... ti-dak...
"HYAAAAA! RASAKAN INIII!" tanpa diduga, Naruto dan Kiba menyerang Suigetsu. Api, dan es saling bercampur. Mengenai wajah Suigetsu dengan telak. "Hahaha... ayo kita bantu Yahiko, Naruto!" Kiba segera berlari menuju Yahiko, diikuti Naruto
"Oke! Dengan pelajaran singkat dari Kurama, aku rasa kita bisa menolongnya!" ujar Naruto dengan percaya dirinya.
.Flashback. On.
"Jadi, begini... kalau salah satu dari kita kalah, maka yang lain akan dihukum. Tapi, karena ini satu lawan satu, itu artinya... kita hanya boleh memukul lawan, saat Yahiko tidak melakukan apapun, begitu..." jelas Menma dengan sangat salah. Mau bagaimana lagi, itulah yang ia tahu.
"Ooohh.." ujar Naruto dan Kiba berbarengan. Mulut keduanya membentuk lingkaran, bahkan saat sudah tidak ada lagi suara yang keluar.
"Ahh, berjuanglah, Yahiko! Kau pasti bisa!" ujar Nagato pelan. Naruto, Kiba, dan Menma menoleh, menatap ke arah Yahiko yang sepertinya sedang berada dalam masalah. "Sepertinya, gelembung itu tidak bisa dipecahkan Yahiko..." gumam Menma. "Pasti ada sesuatu..."
"Hm... lebih baik ku tanyakan langsung pada Kurama." Ujar Naruto pada dirinya sendiri. Ia melepaskan liontinnya, dan menaruhnya di atas tanah.
Hening. Hening. Hening.
Tak terjadi apa-apa. Naruto kemudian mengambil liontinnya kembali, dan menggosok-gosoknya.
Diam. Diam. Diam. Tak terjadi apa-apa lagi.
"GYAAAAAA! KEMANA KAU KURAMAAAA?! KELUARLAH!" teriaknya.
Hening.
Hening.
Hening.
Masih tidak ada yang terjadi. Kemudian, ia membanting-banting, menginjak-injak,dan memukul-mukul liontin kesayangannya, eh—APA YANG IA LAKUKAN PADA LIONTIN KESAYANGANNYA?!
"Kurama! Cepat keluar kau! Kalau tidak, Kau akan ku—"
"Apa? Kau akan melakukan apa?" tanya Kurama tiba-tiba. Naruto tersentak kaget. Ia kemudian menatap Kurama dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan. "KENAPA BARU SEKARANG KAU KELUAR KURAMA?! DASAR BAKA!"
"Haih... maaf, maaf! aku lupa memberitahumu caranya memanggilku."
"Jadi... bagaimana caranya?"
"Kau harus bilang, 'Kyuubi tampan yang baik hati' begitu."
. krik.
"HAAAAAA?! YANG BENAR SAJA! KAU BERCANDA?" Naruto berteriak histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri sebagai bukti bahwa ia sedang dilanda frustasi. Kurama menatap Naruto malas, ia menopang dagunya. "Jadi... ada apa?"
"Aku.." Naruto mengerutkan keningnya, memikirkan sesuatu. Melihat ekspresi wajah Naruto yang menampakan keseriusan, Kurama menegakan tubuhnya. Sepertinya ada sesuatu yang penting. Ia mendekatkan telinganya pada Naruto agar dapat lebih menyimak setiap kata yang keluar dari mulut manisnya. "Ada apa, bocah?"
"Aku.."
"... lupa!"
GUBRAAKKKKK! Kurama merasa ingin mencekik lehernya sendiri saat ini. Bocah ini... benar-benar bodoh. Ha-ah, melihat wajah polosnya membuatnya lupa akan kebodohan bocah itu.
"Aaaaahhhhhh, iyaaaaa! Aku ingat! Hahaha... mana mungkin aku sepelupa itu. tidak sudi aku disamakan dengan seseorang yang lupa memberitahuku caranya memanggil nya." Ucap Naruto, beraksud menyindir Kurama. Kurama memutar kedua bola matanya. "Jadi... ada apa?"
"Apa kau tahu tentang sihir air yang bergelembung itu, lho! Bagaimana cara menghancurkannya, sihh?!"
"Ooh... itu sihir air level 3. Kau harus menggunakan chakra untuk menghancurkannya. Pusatkan chakra pada sesuatu yang akan kau gunakan untuk menghancurkan gelembung tersebut, dengan begitu kau tinggal mengenainya pada gelembung air itu. Selesai, kan?" ujar Kurama dengan cegirannya. Cengiran itu menghilang seketika begitu dilihatnya Naruto dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Remaja berambut pirang itu mengangkat sebelah alisnya dengan mulut yang menganga, tanda tak mengerti. Kurama menghela napas. Bagaimana bisa, ia memilih bocah sebodoh ini?
"Oke... kau tahu apa itu chakra?" Naruto menggeleng-geleng. "Chakra itu adalah energi yang kau miliki di dalam tubuhmu. Kau harus konsentrasi untuk memusatkan chakramu di suatu titik. Itu akan lebih mudah untukmu agar dapat memakainya sebanyak yang kau mau." Jelas Kurama panjang lebar. Naruto mengangguk-angguk mengerti. Tidak seperti Menma yang hanya mengangguk-angguk padahal dirinya sama sekali tidak paham maksud sebenarnya Yahiko, Naruto benar-benar paham. "Nah, kalau begitu... coba kau pecahkan!" titah Kurama. Naruto mengangguk. Sedetik kemudian, Kurama langsung lenyap, bersamaan dengan suara menguapnya. Setelah itu, Naruto menjelaskan apa yang Kurama jelaskan padanya tadi, pada Kiba. Dan kemudian, keduanya nekat untuk menyelamatkan Yahiko.
.Flashback. Off.
"Hyaaaaaaa!" keduanya berteriak sambil melompat ke arah gelembung air yang berisikan Yahiko. Kedua remaja itu telah memusatkan chakra mereka ke tangan mereka masing-masing. Di dalam, Yahiko tampak menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, dan menangis deras.
'Tenang, Yahiko! Kami akan menyelamatkanmu. Semua akan baik-baik saja.' Batin Kiba.
'Ya, tenang saja, jangan khawatir! Kami ada disini!' sambung Naruto. Seakan pikiran dua remaja itu tersambung padanya, tangisan Yahiko bertambah deras. 'Tidak! Justru kalianlah yang ku khawatirkan!'
BRAKKKK! Zrasssshhh! Gelembung itu hancur. Tepat sedetik setelah itu, Shikamaru dan Juugo memukul Naruto dan Kiba secara telak. Mengenai kedua wajah tampan itu, dan membuat pipi kedua remaja itu lebam seketika.
"Jangan melanggar peraturan! Ini adalah pertarungan Suigetsu dengannya." Ujar Shikamaru sambil menunjuk Yahiko yang tampak bernapas dengan lega saat ini. Remaja itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Naruto dan Kiba dengan ekspresi yang seolah-olah... menahan sakit?
"Hm.. kalau kalian mau, kita bertarung sendiri! Bagaimana?" tambah Juugo. Naruto dan Kiba tampak saling memandang satu sama lain. Tampak ada perselisihan di antara mereka. Yang satu—Naruto—mengangguk, dan yang satu lagi—Kiba—menggeleng. Tanpa diduga, Nagato melangkah maju dan mengangguk mantap. "Aku terima!" ujarnya lantang. Yahiko benar-benar inspirasinya. Pemuda berambut orange itu tahu bagaimana caranya bersikap saat berada pada situasi-situasi genting. Ia tak boleh diam saja. Ia tak boleh membiarkan Yahiko menanggung beban sendirian. Ia harus bertindak.
"Aku menantangmu!" ujar Nagato lagi. Ia menunjuk Shikamaru dengan penuh tekad. Shikamaru memasukan kedua tangannya di saku celananya, dan memejamkan matanya sekejap. "Boleh, saja! Ayo mulai!" balasnya.
Sai tersenyum mendapati makhluk-makhluk di depannya ini mulai bertarung satu sama lain. Kalau begitu, ia tak boleh kalah. Ia juga harus segera memilih lawan. "Aku menantang—"
"Aku! Lawanlah aku!" potong Menma. Nampaknya ia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, kejadian dimana ia mengatakan bahwa Sai tidak memiliki keahlian lain selain melukis, tentu saja hal itu membuat Sai jengkel, dan kemudian ia meng'iya'kan saja omongan Menma. Tapi kemudian, Menma malah mengatainya pecundang dan mereka bertengkar.
"Ooh.. jadi kau mau mencoba melawanku. Hm.. apa taruhannya?"
"T-taruhan?" beo Menma.
"Ya, apa taruhannya kalau aku yang menang?"
"Kau... aku... kalau aku yang menang? Bagaimana, hah?!"
"Aku akan menjadi pembantumu dalam seminggu ke depan. Tapi, kalau kau kalah, kau harus menggagalkan ujianmu ini!" Sai menatap Menma dengan senyumannya yang biasanya. Senyuman sok polos yang sebenarnya mengandung unsur kengerian yang mendalam.
"Baiklah. Aku terima!"
-Namikaze Naruto: A Fire Sorcerer Adventure—
.
.
Di tempat Kiba.
Duakkkk!
"Sial!" umpat Kiba. Ia meringis kesakitan karena bahu kanannya terkena pukulan dari Juugo. Baginya, lebih baik melawan orang sekuat Juugo, daripada harus melawan Sasuke si ambisius. Ia sudah pernah merasakan betapa kuatnya Sasuke saat awal masuk sekolah. Saat itu, kebetulan sekali yang menjadi lawan pertamanya adalah Sasuke. Dalam detik pertama, Sasuke dengan mudah menghantamnya dengan keras dan membuatnya pingsan selama seminggu. Sejak saat itulah, meskipun ia sangat benci pada pemuda emo itu, ia selalu berusaha menghindarinya.
"Rasakan ini!" seru Kiba, ia mengeluarkan pecahan-pecahan es-nya ke arah Juugo secara bertubi-tubi. Membuat Juugo sedikit kewalahan menghindarinya satu per satu. Hingga akhirnya, satu pecahan es terakhir, Juugo hantam dengan tangannya yang tiba-tiba berubah warna.
"HYAAAA!" dengan cepat, Juugo berlari ke arah Kiba dan memukul remaja itu hingga tubuh Kiba menembus belasan pohon di belakangnya.
.
.
.
.
.
"Ayo maju, pecundang!" ucap Naruto dengan percaya dirinya. Remaja bermata sapphire itu langsung berlari ke arah Sasuke, dan memukulnya. Pukulan Naruto yang menurut Sasuke sangatlah konyol itu dapat dengan mudah ia—Sasuke—hindari. Kemudian, anggota klan Uchiha terakhir itu langsung memukul Naruto dengan secepat kilat. Mengenai pinggung Naruto, dan mambuat remaja Namikaze itu memuntahkan air dari mulutnya. Tanpa merasa kasihan sedikitpun, sasuke menginjak kepala Naruto. "Menyerahlah, dobe!"
"T-tidak, teme!" tepat setelah Naruto mengatakannya, tiba-tiba seluruh tubuhnya mengeluarkan api, membuat Sasuke langsung mundur beberapa langkah,
Cih, sial! Level 5!
Sasuke mendecih kesal, ia berpindah secepat mungkin ke belakang Naruto, menyengat Naruto dengan 10000 volt namun, bukannya jatuh pingsan, Naruto malah merasakan apinya bertambah kuat, ia berbalik memegang tangan Sasuke, dan memukulnya. Sasuke langsung menghindar dari pukulan Naruto. Tangannya terbakar.
"Lumayan juga, dobe!"
"Kau juga, teme!"
Sasuke kembali melancarkan serangan, kali ini ia nekad menendang Naruto yang terbakar dengan kaki kirinya. Membuat Naruto terpental, dan otomatis api yang melilit tubuhnya langsung menghilang.
Set!
Dengan kecepatan kilat, Sasuke berpindah ke belakang Naruto dan memukulnya tepat di kepala. Naruto kembali terbatuk, mulutnya mengeluarkan darah segar.
Sial! Aku harus mencoba menggunakan chakra!
Batin Naruto, la langsung memusatkan chakranya pada telapak tangannya, dan membayangkan suatu pusaran api. Sasuke hanya terdiam. Memandang remaja yang menjadi lawannya itu dengan senyum tipis yang tak terlihat. Menurut Sasuke, ekspresi Naruto yang sedang berkonsentrasi sangatlah lucu. Lihat saja, keningnya yang berkerut dan mulutnya yang dimajukan ke samping. Ditambah lagi dengan wajahnya yang babak belur dan berlumuran darah. Ha-ah.. benar-benar ekspresi yang unik.
Usaha Naruto tak sia-sia. Di atas telapak tangannya, muncullah sebuah pusaran api yang ukurannya sangat kecil.
"Itu rasengan!" seru Kurama tiba-tiba. Naruto tersentak, ternyata Kurama bisa mengetahui apa yang sedang ia lakukan? Lalu kenapa ia tidak keluar saat Naruto memanggilnya tadi? Ah,, sudahlah! Daripada itu, ia lebih tertarik dengan kata yang Kurama ucapkan tadi. "Ha? Rasengan? Apa itu?" tanya Naruto. Membuat Sasuke bingung, mengapa remaja itu bicara sendiri. Tiba-tiba, Naruto berpindah ke sebuah ruangan serba putih yang pernah mereka datangi sebelumnya. Tentu saja hanya kesadarannya saja yang pindah.
"Jurus yang dipakai orang itu!" seru Kurama. Rahangnya mengeras, tampaknya ada hubungan tertentu antara Kurama dengan jurus itu.
"Apa maksudmu, Kurama?"
"5 tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pemuda yang berniat mengendalikanku! Seorang penyihir api sepertimu! Tapi aku tak bisa melihat wajahnya. Ia memakai topeng..."
"Penyihir api? Sepertiku?" beo Naruto.
"Ya, bahkan ia sudah mencapai tingkatan api hitam. Kekuatannya sangat besar, bahkan setengah chakraku berhasil ia rebut."
"M-memangnya ada yang namanya api hitam, ya?" tanya Naruto polos. Kurama menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tentu saja, tingkatan pertama adalah api biasa, kedua api hijau, kemudian api merah, dan yang terakhir hitam. Aku ragu kau adalah penyihir api,"
"Oh... jadi begitu.."
"Sudahlah! Kalahkan dia dulu, baru kita bicara!" potong Kurama, Naruto mengangguk. Kesadarannya kembali sepenuhnya, menatap Sasuke yang memandangnya dengan tatapan tajam.
Apa itu?
Sasuke membatin. Ia tidak berani bertanya secara langsung pada Naruto. Mau taruh di mana harga dirinya sebagai Uchiha?
"Cih... cepatlah maju, dobe!" seru Sasuke. Ia juga mulai memusatkan chakranya pada telapak tangannya. Mencoba melakukan jurus yang di ajarkan oleh gurunya, saat ia berusia 7 tahun. Chidori.
"Baiklah... aku akan mulai!" jawab Naruto. "Tapi... yang kau pegang itu namanya apa?" sambung Naruto. Sasuke tersenyum meremehkan. Baginya, ini kesempatan bagus, karena ia juga bisa bertanya nama jurus yang Naruto gunakan.
"Chidori. Lalu... yang kau pegang?"
"Ah...ini? entahlah... tapi sepertinya Rasingan..." jawab Naruto. "Rasengan, bodoh!" Kurama tiba-tiba berbicara, Naruto hanya menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal, dengan tangannya yag terbebas. "Eh... maksudku rasengan, Sasuke! Aku boleh memanggilmu begitu, kan?" tanya Naruto dengan susah payah. Rasegan yang berada di tangannya, sedikit demi sedikit mengikis kulitnya. Harus segera di lepas, pikirnya.
"Hn... terserahlah, dobe! Ayo maju!" jawab Sasuke. Ia juga tak tahan. Chidorinya benar-benar membuat tangannya kesakitan. Ia harus segera menyelesaikannya.
"Tunggu! Tidak jadi! Aku akan memanggilmu teme saja!" teriak Naruto. Sasuke memutar kedua bola mata onyx-nya—malas. "Terserah kau, dobe! Ayo maju!'
"HYAAAAAAA!" Naruto berseru, sambil berlari maju. Sedangkan Sasuke masih berdiri, menunggu Naruto menyerangnya, sambil tetap mempertahankan chidorinya.
Aku harus mengincar bagian vitalnya. Tapi—
Pikir remaja bermata onyx itu. Ia mengarahkan chidorinya ke arah tenggorokan Naruto dengan ragu. Naruto terkejut, bagaimana mungkin Sasuke berusaha membunuhnya. Mereka masih anak-anak!
"Sial!" dengan gerakan mendadak, Naruto mengarahkan rasengannya ke arah chidori Sasuke, bermaksud menangkisnya.
Rasengan dan chidori bertemu. Sapphire dan onyx bertemu.
Keduanya saling merasakan kekuatan masing-masing,
Rival? Mungkin. Mungkin saja keduanya merasakan hal yang sama. Tapi yang pasti, Naruto merasakannya.
Merasakan bahwa Sasuke adalah rivalnya.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
Ahh... pegalnya.
Ucapan terima kasih buat yang udah ngereview. Cerita ini memang berisi tentang sihir yang kayak di Fairy tail. Ini ceritanya saya buat dengan sesuka hati, jadi klo ada yang salah dan aneh, mohon maklum. Dan masalah pair-nya... ada kemungkinan NaruHina, NaruSaku, dll.
Pokoknya, masalah pair gak terlalu dipermasalahkan, kok! Dan Cmina mau minta tolong, apapun pair yang nanti Cmina buat, dimohon agar para readers bisa memaklumi. Saya hanya author newbie!
Cmina minta maaf klo ada kesalahan dalam cerita, maupun tutur kata. Mohon review-nya, please! Klo mau nge-folloe atau mau nge-fav boleh bgt!
Review!
