Disclaimers: Idem

Chapter 3

Jarum jam berputar berulang-ulang tak bosan bosannya melewati angka demi angka begitu juga dengan Neji yang melihat jam dinding yang meski berputar berulang-ulang waktu tetap berjalan dan semakin lama membuatnya semakin gelisah.

Hinata, sepupu kesayangannya yang terjebak dengan takdir Akai Ito mempercayai bahwa suaminya kini bukanlah ujung Akai Ito nya tengah bersama dengan seseorang yang menurutnya adalah takdir Akai Ito nya. Neji tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya kehidupan Hinata bila dia nekat untuk memutuskan mengejar takdirnya. Tidak, bukan hanya kehidupan Hinata tetapi juga kehidupan Klan Hyuuga.

Suara pintu depan terbuka mengagetkan Neji yang sedang terombang-ambing oleh pemikirannya. Disana dia melihat Hinata berdiri seraya tertunduk lelah. Tampak bekas air mata yang menghias pipinya yang chubby tapi yang membuat Neji takut, pancaran mata Hinata saat menatapnya mengatakan bahwa meski ada bekas air mata tapi Neji masih bisa melihat kebahagiaan dalam mata Hinata.

"Pergilah mandi dan beristirahatlah. Besok kau bisa ceritakan lagi padaku." Kata Neji sebelum Hinata mengatakan sesuatu padanya. Neji tidak sanggup mendengar kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Dia terlalu pengecut untuk menerima semua ketidakpastian akan kejadian hari ini. Neji akui itu.

Dengan langkah gontai dia masuk ke kamarnya. Meski malam sudah beranjak, tapi Neji tidak berniat untuk menyalakan lampu kamarnya. Kali ini dia ingin berpikir dengan jernih, mungkin dengan suasana seperti itu solusi atas permasalahan Hinata akan muncul di otak jeniusnya. Tapi, waktu sudah berjalan berjam-jam tapi otaknya seakan berhenti berpikir, seakan-akan menjerit untuk berhenti berpikir bermacam-macam kemungkinan yang akan terjadi bila Hinata menerima takdirnya sebagai istri Naruto dan bila Hinata bersikukuh untuk mengejar takdirnya. Hingga ponselnya berdering.

Nampak nama Hiashi tertera di dalamnya. 'Ugh!tidak sekarang.'

"Halo, malam paman"

"Neji, apa kau sudah mendengar soal Namikaze meminta Uchiha untuk menjalani upacara Akai Ito?"

"Tidak paman. Bagaimana bisa?Lalu, bagaimana jawaban Uchiha?"

"Info terakhir yang aku dengar mereka menyetujuinya kali ini. Setelah berabad-abad mereka akhirnya memutuskan untuk menerimanya dan aku bersyukur untuk itu."

"Ya tentu. Itu kabar bagus, dengan bersatunya Klan Namikaze dan Klan Uchiha tidak ada lagi saling sikut dalam bisnis dan tidak ada lagi pekerjaan kotor untuk saling menjatuhkan dari masing-masing Klan."

Mendengar nada bicara Neji yang tidak terlalu antusias, Hiashi merasa ada sesuatu yang Neji sembunyikan darinya.

"Kau sepertinya tidak terlalu senang dengan kabar ini Neji. Ada masalah?atau kau merasa ada sesuatu yang perlu kita antisipasi dalam hal ini?"

"Uh,tidak paman. Seperti yang aku katakan tadi. Akan lebih baik bila mereka bersatu."

"Baiklah kalau begitu. Oh,ya!bagaimana dengan Hinata dan Naruto?"

Neji terdiam, dia ingin sekali menceritakan soal Hinata tapi bukan tentang Hinata dan Naruto tapi tentang putrinya yang baru saja sepertinya menemukan takdirnya dan yang lebih parah lagi takdirnya itu adalah seorang Uchiha.

"Mereka baik-baik saja."

"Setelah pertemuan malam itu dengan keluarganya, apa Naruto jadi lebih sering ke rumah?"

"Tidak paman. Tapi paman tidak perlu mengkhawatirkannya, mereka juga masih sekolah."

"Baiklah terserah padamu Neji. Aku serahkan tanggung jawab menjaga kedua putriku padamu."

Sambungan telpon pun akhirnya terputus.

Setelah mendengar berita dari pamannya tentang Uchiha semakin membuat kepala Neji berdenyut sakit hingga akhirnya dia pun menelpon 'istri'nya yang mungkin masih belum tidur. Dengan segera dia pencet tombol speed dial nya.

"Apa kau sudah tidur?" Tanya Neji setelah mendengar suara parau Sakura yang terdengar mengantuk

"Hmm..tapi terimakasih sudah menelponku karena aku harus menyelesaikan beberapa makalah."

"Jangan terlalu dipaksakan, nanti kau bisa sakit."

Neji mendengar tawa kecil Sakura dan itu membuat denyutan di kepalanya sedikit berkurang.

"Sejak kapan kau jadi sentimental begitu?Katakan padaku, apa yang sekarang kau pikirkan?"

Inilah yang dia sukai pada Sakura, karena dia sepertinya tahu isi otaknya.

"Apa kau pernah berpikir mungkin takdir Akai Ito tidak pernah terputus dengan ritual atau upacara apapun?Mungkin kita sebenarnya sudah terikat Akai Ito tanpa harus menjalani ritual itu?"

"Ada apa Neji?Apa ada sesuatu yang terjadi?Apakah ini ada hubungannya dengan Hinata?"

"Bisakah kau menjawab pertanyaanku dulu Sakura?"

"Kita tidak pernah tahu seperti apa takdir yang sudah digariskan pada manusia. Kau ingat, saat kita merayakan ultah pernikahan kita yang ke-10 aku pernah mengatakan padamu bahwa aku tidak mempercayai soal ritual yang kita jalani saat kita berusia 7 tahun. Aku meyakini bahwa kau adalah takdir Akai Ito ku dan saat itu kau juga mengiyakan apa yang aku utarakan. Bila nanti kenyataan berkata lain, kau bukan takdir Akai Ito ku, aku akan tetap berkeyakinan kau adalah orangnya."

"Kau juga seperti itu bagiku Sakura."

"Lalu, bagaimana dengan pertanyaanku?"

"Hari ini aku pertemukan dia dengan Gaara salah satu dari 2 orang terakhir yang ada dalam daftar yang pernah aku ceritakan padamu dan aku bersyukur karena Gaara bukanlah orangnya. Lalu, aku memintanya untuk membelikan sesuatu untuk Temari karena waktu itu Gaara sedang menikmati permainan Shogi. Entah bagaimana dia bertemu dengan Sasuke, orang terakhir dari daftar itu.

Hinata menelpon kalau dia sedang dirumah sakit mengantar Sasuke yang katanya pingsan di jalan dan saat dia pulang tadi malam, aku bisa melihat bahagia di matanya."

"Apa kau sudah membicarakan ini dengan Hinata?"

"Aku terlalu takut mendengar apa yang akan Hinata katakan padaku. Aku takut mendengar dia mengatakan bahwa dia sudah menemukan ujung Akai Ito nya, takut permasalahan akan menjadi rumit. Apalagi, barusan paman Hiashi bilang kalau Uchiha menerima permintaan Namikaze soal ritual Akai Ito. Di satu sisi ada kebaikan dan di satu sisi ada kemungkinan permasalahan antara keluargaku, Naruto dan Sasuke. Terlalu ngeri membayangkan apa yang akan terjadi kalau Hinata memutuskan untuk mengejar Akai Ito nya."

"Sebaiknya besok kau segera bicarakan hal ini dengan Hinata. Setidaknya kau tahu nantinya apa yang akan kau lakukan setelah mendengar penjelasan darinya."

"Apa yang harus aku lakukan kalau ternyata Hinata lebih memilih Sasuke?"

"Kita belum tahu apakah benar apa yang Hinata rasakan pada Sasuke adalah perasaan cinta. Terkadang aku merasa keluarga kita terlalu mempercayai akan takdir Akai Ito, kita bahkan tidak tahu apakah benar ada di kelingking manusia satu dengan yang lain terhubung seutas benang merah pada manusia yang lain. Takdir memang tidak bisa dihindari Neji, saat takdir jodoh kita sudah ditentukan sebelum kelahiran kita maka sekuat apapun kita untuk menghindarinya atau mungkin memutusnya, kita tidak akan sanggup untuk lari darinya.

Kalau Hinata merasa yakin bahwa Sasuke adalah takdirnya yang sebenarnya, aku akan membiarkannya mengejarnya, tidak peduli apakah dia sudah punya kekasih atau bahkan suami karena pada dasarnya Hinata dan Naruto tidak bisa dibilang suami istri, sama seperti hubungan kita Neji. Bedanya kita lebih beruntung dibanding Hinata, karena kita punya perasaan yang sama.

Kalau saja Naruto lebih memperhatikan Hinata atau bersikap lebih manis padanya, aku yakin masalah ini tidak akan terjadi karena Hinata sebenarnya punya perasaan itu pada Naruto hanya saja Naruto bukanlah orang yang peka dan terkadang aku merasa Naruto mengacuhkan Hinata."

"Jadi, menurutmu aku biarkan saja dia memilih jalannya sendiri?Kau kan tahu Sakura, aku tidak bisa melihatnya terluka di kemudian hari karena aku tahu apa yang akan terjadi kalau dia memilih Sasuke?"

"Neji, aku tahu kau sangat menyayangi Hinata. Tapi, membiarkannya memilih jalannya sendiri akan lebih baik daripada menahannya dan memenjaranya dalam perasaannya sendiri. Aku tahu jalan yang akan mereka tempuh sulit tapi apakah bertindak seperti itu tidak terlalu kejam?Bukankah itu akan menjadi tidak adil padanya? Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir akan membawa mereka Neji.

Bagaimana kalau 'istri'mu saat ini bukanlah aku dan di saat bersamaan kau merasakan hal yang sama seperti perasaan Hinata pada Naruto?dan saat takdir mempertemukan kita dan ternyata membuat jantungmu berdetak untuk pertama kalinya, apakah kau akan mengejarku Neji?"

Neji terdiam. Dia paham betul apa yang sedang Sakura katakan padanya. Tentu dia akan mengejar Sakura dan dia tidak akan berpikir ulang untuk mengejar Sakura.

"Jawab aku Neji?"

"Tentu aku akan mengejarmu Sakura." Jawab Neji lirih

"Kau sudah mendapat jawabanmu jadi besok kau harus menerima semua keputusan Hinata dan aku harus menyelesaikan makalah ini. Selamat tidur Anata*."

"Hmm.. Terimakasih Sakura. Aku sangat menyayangimu."

"Aku tahu. Cepatlah tidur."

Malam itu, Neji memutuskan untuk mengikuti saran Sakura dan kalau pun nantinya Hinata memutuskan untuk mengejar Sasuke, dia akan mendukungnya sepenuh hati meski dalam hati kecilnya perjalanan Hinata akan sangat sulit

Hinata duduk menghadap meja belajarnya seraya membuka buku catatan kecil dan mulai mencoret-coret kertas putih dihadapannya. Disana tertulis beberapa rencana untuk lebih mengenal Sasuke. Hinata tidak merasa usahanya akan mengalami kesulitan yang berarti karena pada dasarnya dia dan Sasuke saling kenal hanya saja tidak terlalu dekat, hanya sebatas sapa saja.

Setelah puas dan merasa yakin dengan rencana yang dia buat, Hinata beranjak dari tempatnya duduk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terletak di sebelah meja belajarnya.

Seulas senyum menghiasi bibirnya seraya membayangkan kejadian demi kejadian yang dia alami. Pertama kali melihat wajah Sasuke dari dekat, melihat raut kekhawatiran yang membingkai wajah tampannya membuat Hinata merasa bahagia bahkan saat wajahnya menjadi pucat dan tiba-tiba pingsan membuat Hinata merasa ketakutan akan kehilangannya.

Tubuh kecilnya meringkuk seraya mengingat kejadian itu seraya kedua tangannya mendekap di depan dadanya. "Sasuke."

Dengan satu kata itu dia terbawa ke dunia tanpa mimpi.

XXX

Hari pun berganti, malam yang dinginpun berganti menjadi pagi yang penuh dengan kesegaran. Mereka bertiga, Hyuuga bersaudara sedang berada di meja makan menikmati sarapan paginya. Tidak terdengar celotehan yang biasanya menghias pagi mereka, hingga akhirnya Hanabi memecah keheningan itu.

"Apa ada masalah selama aku tidak ada?" Tanya Hanabi bak seorang ibu yang sedang menyelidiki anak-anaknya karena bersikap tidak seperti biasanya.

"Kau terdengar seperti ibu-ibu Hana-chan." Jawab Neji.

"Aku bisa merasakan ada yang tidak beres Neji-nii. Biasanya saat pertama kali duduk di meja makan, kau selalu menanyakan pada Hina-nee soal Naruto. Tapi, hari ini kalian hanya diam saja. Aku butuh penjelasan." Kata Hanabi

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Neji atau pun Hinata dan ini membuat Hanabi semakin kesal yang selalu dianggap anak kecil. Hingga akhirnya Hinata membuka mulutnya.

"Kemarin aku secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang akhirnya membuat jantungku berdebar-debar. Saat itu aku sedang ada di swalayan untuk membeli sesuatu, tiba-tiba saja jantung ini berdetak tidak seperti biasanya dan tanpa aku sadari aku mengejarnya.

Saat itu aku sudah putus asa karena lampu lalu lintas sudah berwarna hijau dimana orang-orang lalu lalang menyeberang dan entah bagaimana orang itu sudah berada di depanku. Saat itu juga jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya." Jelas Hinata

"Siapa orang itu Hina-nee?"

"Dia seorang Uchiha. Sasuke Uchiha." Jawab Neji

"Wow! Apa tidak salah Hina-nee?" Tanya Hanabi. "Lalu apa yang akan kau lakukan?Karena kita semua tahu, kau sudah punya suami"

Neji menunggu-nunggu jawaban dari Hinata dan dalam hati dia berdoa semoga apa yang dia takutkan tidak terjadi.

"Semalam aku sudah memikirkannya matang-matang dan aku berharap kalian berdua akan selalu mendukungku. Aku akan mengejarnya karena aku yakin dia lah orangnya. Aku tahu jalan yang aku tempuh ini sulit dan mungkin kalau ayah tahu dia pasti akan membunuhku karena sudah membuat keluarga ini malu tapi aku…" Hinata tidak bisa meneruskan perkataannya.

Neji terdiam setelah mendengar keputusan Hinata. Sebuah keputusan yang dia takutkan akhirnya menjadi kenyataan meski dia juga tahu ada getir dalam pengakuan Hinata.

"Kalau begitu lakukan apa yang menurutmu baik Hina-nee, aku akan selalu mendukungmu. Kalau kau butuh bantuanku katakan saja, sebisa mungkin aku akan bantu." Kata Hanabi.

Hinata tidak menyangka ucapan itu keluar dari Hanabi karena meski dekat dengan dirinya tapi kalau menurutnya salah dia tidak akan sungkan-sungkan mengungkapkan pendapatnya bahkan pada para tetua sekalipun. Hinata masih ingat saat ayahnya dipanggil oleh para tetua karena mendengar kabar yang tidak baik soal Hanabi yang sering berganti pacar sedangkan dia adalah penerus dari Klan Hyuuga, Hanabi dengan lantang mengatakan bahwa urusan pribadinya tidak ada hubungannya dengan Klan karena dia akan membawa Klan Hyuuga menurut caranya sendiri. Saat itu Hinata sangat mengagumi Hanabi yang berani mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.

"Kau tidak melarang Hana-chan?" Tanya Hinata

"Sejak awal aku tidak menyetujui ritual konyol itu dan selama Hina-nee yakin aku tidak akan melakukan tindakan yang membuatmu tidak bahagia. Benarkan Neji-nii?" Tanya Hanabi seolah-olah mengetahui apa bahwa Neji sebenarnya tidak suka akan keputusan Hinata meski dia tahu ketidak setujuan itu karena dia menyayangi Hinata.

"Tentu. Aku juga akan mendukungmu tapi sebelum itu kau harus tahu bagaimana perasaan Sasuke padamu karena bagaimanapun juga kau tidak dekat dengannya." Kata Neji. "Berjanjilah padaku Hinata, kalau ternyata Sasuke tidak membalas perasaanmu, kau harus segera menghentikan semuanya."

Hinata mengangguk dan tak terasa air matanya mengalir. Dia tidak menyangka saudaranya akan mendukung keputusan yang dia ambil.

"Aku berjanji."

Sesampainya di sekolah Hinata mencari-cari sosok Sasuke yang tidak kunjung terlihat. Ada perasaan kecewa dan khawatir. Namun, tak berselang lama jantungnya mulai berdetak tak seperti biasanya lalu ditolehkannya kepalanya ke segala arah dimana mungkin Sasuke berada dan benar disana, di pintu gerbang dia melihat Sasuke sedang berjalan memasuki gerbang sekolah. Ada perasaan lega saat melihat Sasuke dalam keadaan sehat dan saat dia hendak mendekatinya bel masuk pun berbunyi.

"Saat istirahat nanti aku akan menemuinya." Kata Hinata pada dirinya sendiri.

Waktu berjalan begitu lambat bagi Hinata meski berulang kali dia melihat jam tangannya tapi yang dia lihat jarum jam seolah-olah tidak bergerak semestinya hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi.

Dilangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dimana kelas Sasuke berada, namun saat di longokkan kepalanya dia tidak mendapati sosok yang dia cari. Lalu, Hinata berjalan ke arah kantin sekolah disana begitu banyak siswa lalu lalang seraya membawa nampan berisi makanan. Di edarkannya pandangannya ke seluruh kantin dan di pojok kantin ada seseorang yang sedang dia cari.

Dengan membawa nampan berisi makan siangnya, Hinata berjalan mendekati Sasuke yang sedang duduk sendiri menikmati makanannya.

"Hai, boleh aku duduk disini?" Tanya Hinata

Sasuke yang sedang menikmati makan siangnya menoleh ke arah Hinata. Sesaat jantung Hinata berdetak dengan kencang.

"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?" Tanya Sasuke

"Maukah kau berteman denganku?" Kata Hinata seraya meletakkan nampan makan siangnya dan duduk

"Bukankah kita sudah berteman?" Jawab Sasuke

"Aku tahu tapi aku ingin lebih mengenalmu." Jawab Hinata, tak mendapat respon dari Sasuke, Hinata melanjutkan perkataannya. "Apakah kau percaya Akai Ito?"

Sasuke mendengus mendengar pertanyaan Hinata. "Kau keturunan Hyuuga yang menjalani ritual konyol itu kan?Apa kau tidak takut ketahuan bicara dengan pria lain selain suamimu?"

"Aku menjalani ritual itu karena tradisi yang mengaturnya dan saat itu aku tidak bisa melakukan apa-apa karena usiaku baru 7 tahun dan saat itu aku meyakininya tapi tidak lagi saat aku bertemu denganmu." Kata Hinata mengacuhkan pertanyaan Sasuke.

Dalam hati Hinata tidak ingin mengatakan hal ini saat perkenalan pertamanya dengan Sasuke. Mengatakan hal itu terdengar dia sedang mengutarakan perasaannya pada Sasuke.

"Dengan kata lain, kau ingin bilang kalau aku adalah takdir Akai Ito mu?" Tanya Sasuke dingin

"Kau tahu soal takdir Akai Ito?Apa kau mempercayainya?" Tanya Hinata

Sasuke menggeleng. "Itu semua hanyalah omong kosong dan sebaiknya kau lupakan saja soal Akai ito, bukankah kau sudah melakukan ritual itu?itu artinya Akai Ito mu bukanlah aku tapi si Namikaze itu."

"Apa kau tidak merasakan apapun saat kita berada di jarak yang dekat, seperti sekarang ini?Apakah detak jantungmu tidak berdetak dengan aneh?" Tanya Hinata

"Sudah aku bilang aku tidak percaya dengan semua omong kosong ini dan berhentilah mengatakan soal Akai Ito. Kata itu membuatku muak. Aku tidak ingin dicap sebagai orang perebut istri orang dan aku tidak ingin terlibat masalah dengan orang lain." Kata Sasuke seraya meninggalkan Hinata yang masih terduduk di kantin sekolah.

Hinata terdiam

Bukan seperti ini, harusnya perkenalan dengan Sasuke tidak berakhir seperti ini. Kini, orang yang dia yakini sebagai Akai Ito nya membencinya bahkan kata-kata yang dia lontarkan terasa sangat menyakitkan bagi Hinata.

Tidak. Tidak seperti ini.

Dipandanginya punggung Sasuke yang mulai menjauh dan dilangkahkan kakinya dengan cepat lalu ditariknya lengan Sasuke.

"Aku tahu kalau aku secara tradisi sudah menjalani tradisi itu dan secara adat aku sudah menikah, aku terima semua itu. Kau benar, saat kau bilang kalau aku merasa kau adalah takdir Akai Ito ku. Kalau kau merasa aku sedang mengungkapkan perasaanku padamu, ya aku sedang melakukannya.

Sasuke, aku Hinata Hyuuga ingin mengatakan padamu, aku meyakini kau adalah takdir Akai Ito ku dan aku tidak akan menyerah meski kau menolakku atau bahkan membenciku karena aku yakin kau juga merasakan hal yang sama, jantungmu saat ini pasti berdetak kencang sama seperti yang aku rasakan saat ini.

Aku tidak peduli sekalipun adat telah mengikatku karena ikatan Akai Ito yang aku punya sanggup memutus ikatan adat itu dan aku akan membuatmu percaya bahwa aku adalah ujung Akai Ito mu." Kata Hinata seraya mengusap air matanya dan meninggalkan Sasuke yang diam berdiri tak berkata apa-apa.

Tanpa mereka tahu, Naruto mendengar semua apa yang Hinata katakan.

Sasuke menatap awan-awan dibalik kaca ruang kesehatan, setelah Hinata mengatakan pernyataan takdirnya memang jantungnya berdetak dengan kencang dan dia harus berakhir di ruang kesehatan seharian.

Sasuke paham benar apa itu takdir Akai Ito, karena kedua orang tuanya adalah contoh dari takdir itu. Ibunya dulu pernah mengatakan bahwa saat kau bertemu dengan ujung Akai Ito mu maka getaran dan debaran jantung mu akan berbeda seperti normalnya.

Sasuke akui bahwa tiap kali berada di sekitar Hinata ada getaran dan debaran jantungnya jadi tidak teratur tapi takdir itu tidak akan terjadi padanya karena jantung yang dia punya sekarang bukanlah jantungnya dan saat dia divonis mengalami kerusakan jantung dan harus menjalani transplantasi jantung saat itulah dia menyerah pada takdir Akai Ito nya karena pada dasarnya jantungnya sudah berhenti berdetak.

Dihelanya nafas tertahannya seraya bangun dari ranjang ruang kesehatan dan dilangkahkan kakinya keluar ruangan itu. Disana dia melihat seorang siswa sedang berdiri menungguinya.

"Pernyataan cinta yang mengharukan. Aku tidak pernah melihat dia menangis seperti itu meski aku ini adalah suaminya" Kata Naruto seraya menggerakkan kedua jarinya saat mengatakan kata suami.

"Katakan apa maumu? Aku tidak punya waktu untuk membahas hal konyol." Kata Sasuke.

"Kau benar, Akai Ito adalah hal paling konyol yang perlu dibahas karena aku tidak percaya dengan semua itu. Seperti yang kau bilang, itu adalah omong kosong." Kata Naruto

Tampak keterkejutan di wajah Sasuke karena Naruto tahu pembicaraannya dengan Hinata sebelum pernyataan konyolnya itu.

"Kau tidak perlu terkejut seperti itu Sasuke, lagi pula aku tidak terlalu peduli dengan semua yang kalian bicarakan karena yang paling aku pedulikan adalah akhirnya Hinata menemukan ujung Akai Ito nya. Aku juga sama seperti dia karena aku tidak merasakan apapun saat bersamanya tapi bukan berarti aku membiarkan orang lain menyakitinya dan sangat mengejutkan ternyata ujung Akai Ito nya adalah kau." Kata Naruto

"Aku tidak tertarik dengan cerita romansamu dengan Hinata." Kata Sasuke. "Jangan berkata se akan akan kau tahu kalau aku adalah takdir Akai Ito nya. Pernyataan bodoh."

"Hinata adalah gadis yang pantang menyerah dan keras kepala. Dia tidak akan berhenti sampai apa yang dia inginkan dia dapatkan dan aku bisa melihatnya saat ini. Dia ingin kau mengakuinya sebagai ujung Akai Ito nya karena keyakinan yang dia miliki tapi aku minta kau menjauhinya. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya.

Kau pasti sudah mendengar tentang keputusan Klanmu untuk melakukan upacara konyol itu kan?!Setelah sekian lama akhirnya Klan kita bisa berdamai. Aku yakin kau pasti tahu maksudku. Tolong jauhi dia." Kata Naruto

"Sebaiknya kau katakan itu pada istrimu karena bukan aku yang terobsesi dengan Akai Ito karena bagiku semua itu hanyalah omong kosong." Kata Sasuke seraya meninggalkan Naruto yang masih bersandar pada salah satu tembok kelas.

Diluar sekolah Suigetsu sudah menunggunya.

"Kenapa wajahmu kau tekuk begitu?Ada masalah?" Tanya Suigetsu

"Tidak ada. Bisakah kau mempercepat kayuhnya?Aku ingin tidur, hari ini melelahkan."Kata Sasuke tanpa memberi jawaban.

Sesampainya dirumah, di letakkannya tasnya sembarangan dan direbahkannya tubuh letihnya di atas kasurnya yang empuk.

Helaan nafas yang tertahan terasa masih berat meski berkali-kali Sasuke hembuskan, mengingat Hinata menangis hatinya terasa sakit dan yang membuatnya merasa lebih buruk adalah Hinata menangis karena dirinya. Ingin rasanya saat itu dia memeluk Hinata dan mengatakan kalau dia setuju dengan semua ucapan Hinata agar dia berhenti menangis.

Dirabanya dadanya dan indra perabanya menyentuh bekas luka sayatan pisau bedah yang membuat Sasuke menyadari bahwa dia hidup bukan karena jantungnya sendiri yang berdetak tapi jantung orang lain dan itu cukup bagi Sasuke meyakini bahwa dirinya bukanlah ujung Akai Ito Hinata meski dilubuk hatinya paling dalam ada sebersit keinginan kalau dirinyalah takdir Hinata. Namun, manusia pada dasarnya lebih menghiraukan hati kecil mereka daripada menurutinya.

Dia mantabkan dalam hati kalau sejak saat ini dia harus menghindari Hinata karena apa yang Naruto katakan memang benar. Akan ada kekacauan besar kalau Hinata tetap berada pada pendiriannya dan bila dirinya mengikuti kemauan hati kecilnya.

XXX

Dikediaman Namikaze, Naruto baru saja datang dari sekolahnya namun saat akan masuk ke dalam kamarnya ibunya menyuruhnya menemui ayahnya di ruang kerjanya. Meski merasa ada yang aneh karena di jam seperti ini harusnya ayahnya tidak ada dirumah.

Diketuknya perlahan pintu ruang kerja ayahnya dan setelah mendengar balasan dari ruang dalam, Naruto masuk.

"Tumben ayah ada dirumah di jam seperti ini." Kata Naruto seraya duduk di sebuah kursi di depan ayahnya.

"Apa kau sudah tahu kalau Uchiha mau menjalani upacara Akai Ito?" Tanya Minato

Naruto mengangguk

"3 hari lagi kita akan melakukan upacara itu untuk pertama kalinya. Ini benar-benar suatu kemajuan bukan?! Dan ayah tidak ingin penyatuan 2 Klan berjalan terganggu." Kata Minato

Nampak raut bingung menghias wajah Naruto.

"Ayah tidak ingin kejadian di sekolah hari ini terjadi lagi. Ayah tahu, menyembunyikan status Hinata sebagai istrimu bukanlah keputusan yang tepat tapi karena aturan yang ada di Negara ini melarang pernikahan anak-anak makanya kita mengambil keputusan itu. Ayah harap kau bisa menjaga hubungan yang baru terjalin antara klan kita dan Uchiha." Kata Minato tegas.

Naruto kembali mengangguk. Mulutnya tidak bisa membantah meski dalam hati dia merutuk dirinya dan otaknya berpikir bagaimana bisa ayahnya bisa mengetahuinya.

"Kau boleh pergi dan ingat saat harinya tiba ayah ingin kau mengajak Hinata menghadiri upacara itu." Kata Minato lagi.

Naruto dengan segera melangkahkan kakinya dengan cepat dan segera keluar dari ruang kerja ayahnya menuju ke kamarnya.

Ditenggelamkannya kepalanya di bantal putih yang tertata rapi di tengah tempat tidurnya.

"Ya Tuhan, hari ini benar-benar hari yang buruk. Apa yang harus aku lakukan?" Kata Naruto. Lalu dia ingat perkataan Sasuke "Sebaiknya katakan itu pada istrimu yang terobsesi dengan Akai Ito."

Diambilnya ponsel miliknya di balik saku celananya lalu dipencetnya nomor Hinata

"Halo." Terdengar suara Hinata dari seberang

"Hinata, bisakah kita bertemu sekarang?"

"Tentu, dimana?"

"Bagaimana kalau di Minty Mint jam 5?"

"Tentu."

Sambungan telpon pun terputus. Helaan nafas panjang terdengar dengan jelas di kamar Naruto yang senyap.

"Kau tidak pernah bicara panjang lebar denganku. Kau hanya menjawab tidak lebih dari 5 kata saat bersamaku tapi saat kau bersama dengan Sasuke kau bahkan mengungkapkan isi hatimu." Kata Naruto.

Di tempat yang sudah ditentukan, Hinata datang seorang diri dengan memakai rok A-Line berwarna biru dongker selutut yang dipermanis dengan ikat pinggang berwarna coklat besar dipadupadan dengan kaos putih berlengan pendek dan sebuah tas selempang berwarna senada dengan ikat pinggangnya sedang berdiri di depan Minty Mint.

Naruto datang tak lama setelah Hinata datang lalu keduanya duduk berseberangan. Naruto yang kala itu memakai kaos oblong berwarna oranye dengan gambar kacamata dan kumis dan celana pendek selutut.

"Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Hinata setelah memesan 1 porsi es krim vanilla

"Apa kau merasa tidak nyaman saat bersamaku?Kau bahkan tidak tanya bagaimana kabarku." Jawab Naruto dengan pertanyaan.

"Tidak, tidak. Bukan itu maksudku. Hanya saja ini pertama kalinya kau mengajakku keluar tanpa mengajak siapapun."

Naruto terdiam. Dia mulai mengingat-ingat dan mulai mengerti bahwa dia tidak pernah sama sekali mengajak Hinata keluar dan itu membuatnya malu. Betapa tidak perhatiannya dia pada gadis di depannya yang secara adat adalah istrinya.

"Aku mendengar semua yang kau bicarakan dengan Sasuke di sekolah hari ini. Jujur aku terkejut." Naruto memperhatikan reaksi Hinata. Hinata tertunduk dan kedua tangannya bertaut, gugup. "Aku juga sudah bicara dengan Sasuke dan aku ingin dia menjauhimu. Aku juga menginginkan hal yang sama padamu, aku ingin kau juga menjauhinya. Aku tidak tahu bagaimana kau meyakini kalau dia adalah takdir Akai Ito mu sedangkan kau menjalani ritual itu denganku.

Apakah dengan merasakan debaran saat kau berada di sekitarnya cukup membuktikan kalau dia adalah Akai Ito mu?Apakah kau tahu kalau setahun yang lalu dia menjalani transplantasi jantung?Bukankah dengan begitu pada prinsipnya jantungnya tidak berdetak karena yang dia pakai adalah jantung orang lain?Bagaimana…."

"Maafkan aku Naruto, aku tidak bisa menuruti keinginanmu. Aku tidak bisa menjauhi dirinya. Aku meyakininya karena tiap kali aku dekat dengannya, jantungku akan berdetak dengan kencang yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya bahkan saat aku bersama mu." Kata Hinata seraya menatap Naruto lekat-lekat. "Awalnya aku pikir mungkin karena kita masih anak-anak, jadi getaran itu belum muncul. Saat itu aku masih berharap kau lah ujung Akai Ito ku hingga akhirnya aku bertemu dengan Sasuke. Aku akui, aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat dia berada di dekatku. Tapi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku yakin dia lah orangnya."

"Bukankah dia mengatakan kalau Akai Ito hanyalah bualan? Apa yang akan kau buktikan Hinata?" Tanya Naruto

"Aku tahu dia tidak percaya tentang Akai Ito tapi aku akan membuatnya percaya." Kata Hinata

Saat Naruto ingin mengatakan sesuatu, Hinata tiba-tiba berdiri dan melihat ke sekelilingnya. Naruto bingung apa yang sedang Hinata cari. Lalu Hinata keluar dari tempat itu dengan di ikuti Naruto. Hinata yang sedang berlari kecil, lambat laun menghentikan langkahnya dan Naruto yang berada di belakangnya kini berada di sebelah Hinata seraya melihat ke arah mata Hinata melihat.

Disana berdiri seorang laki-laki dengan kaos berwarna biru dengan simbol kipas tengah berdiri seraya memasukkan kedua tangannya disaku celananya, entah sedang menunggu apa. Naruto tahu dengan sangat bahwa lak-laki itu adalah seorang Uchiha, Sasuke Uchiha meski jarak antara mereka lumayan jauh karena tidak ada yang punya potongan rambut seperti Sasuke.

"Aku memang tidak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa yakin bahwa dia adalah ujung Akai Ito ku tapi aku akan tahu bahwa dia dekat denganku karena ketika jantungku berdetak dengan kencang itu artinya dia ada di sekitarku." Kata Hinata seraya tersenyum dengan tidak mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang memunggunginya. "Aku yakin tidak lama lagi, dia akan menoleh ke arahku."

Naruto yang melihat ekspresi Hinata yang begitu bahagia kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sasuke dan apa yang Hinata katakan benar. Tak lama setelah itu, Sasuke berbalik dan menatap Hinata.

'Oh, Tuhan! Takdir apa yang harus kami jalani.'

Tbc…

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

A/N 1: Waahhh….Gomen ne, updatenya lama banget ya? T_T. semoga tidak mengecewakan setelah menunggu lama.

A/N 2: Apabila ada penulisan yang tidak benar dan tidak sesuai dengan EYD, kesalahan murni pada saya. Seperti sebelumnya, saya tidak menjanjikan update kilat jadi kalau kalian masih tertarik dengan fict ini saya mohon bersabarlah.

A/N 3: Trims untuk semua review, follower dan favorite cerita gaje ini, kalian sangat berarti.

So, mind to RnR?

Arigatou ^^