Hai minna-san…

===*** Semua***===

Disclaimer : Masashi Kashimoto

Rate : M

Pairing : Gaara/Tenten, Gaara/Matsuri, dan Sasori/Tenten…

Warning : hanya ada Tenten, Gaara, Sasori dan Rin…karena author Cuma suka sama Tenten… ada banyak typo, EYD yang masih belum benar, diskripsi yang mengecewakan dan alur cerita yang biasa aja…

Tenten berkedip, memfokuskan pandangannya. Memperjelas bayangan yang terbentuk, ia tersenyum. Bahkan dalam mimpinya ia tidak pernah memimpikan Gaara, kenapa sekarang bayangan itu terbentuk di mata Tenten?

Ini mimpi?

Gaara dihadapannya?

Gaara tidak pernah tidur di ranjang yang sama dengan Tenten. Bagimana mungkin ini bisa terjadi?

Tenten memejamkan kedua matanya. Menghirup udara disekitarnya, berdoa agar ketika ia kembali membuka mata, ia melihat bayangan Gaara terbentuk lagi di matanya, agar ia yakin bahwa bayangan itu nyata, bukan halusinasinya saja. Semoga.

Tenten membuka matanya dengan perlahan, ia tersenyum. Bayangan itu, bayangan itu terganti dengan rimbunnya bambu yang menghijau disamping kuil. Tenten menangis. Hari sudah pagi.

Tenten bangkit dari tidurnya, menarik napas dalam, mengingat bagaimana semua hal buruk terjadi padanya, satu hal yang ia sesalkan hingga hari ini, foto pernikahan. Tidak ada satu pun foto pernikahan yang menampilkan wajah berseri mereka berdua saat itu, hanya ada tatapan diam dan mata yang membisu palsu.

Tenten merasakannya, bagaimana jantungnya berdenyut sakit, ternyatakan dengan tetesan air mata. Kebahagian itu akan tercapai, kebahagian itu akan menjemputnya. Nanti. Nanti ketika ia berani keluar dari kehidupan palsu ini.

Dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan, Tenten mengangkat panggilan masuk di ponselnya. Ponsel yang sejak tadi ia biarkan bergetar.

"Ada dimana?"

Tenten menelan ludahnya, menghalau agar suaranya terdengar segar. Ia harus berkata seperti Tenten yang tegar dan kuat.

"Tenten!"

"Ohayou, aku sedang di kuil, Nii-sama. Ada apa?" jawab Tenten.

"Di kuil? Untuk apa? Berdoa?"

Tenten mengangguk, "Iya, apakah Nii-sama akan mengabulkan permintaanku?"

"Kau yang harus menyelesaikannya. Bagaimanapun juga ini adalah masalah kalian berdua. Katakan padanya, mintalah kepastian. Jika dia ingin kalian berpisah, maka berpisahlah. Aku akan menyetujui keinginanmu,"

Tenten menatap bingung pantulan bayangan dirinya di cermin, "Sungguh?"

"Tentu, setelahnya kau harus pulang ke China. Aku tidak akan mengijinkanmu untuk kembali ke Jepang!"

Tenten mengangguk antusias, "Aku akan menyelesaikannya!"

"Jaga kesehatanmu!"

Tenten menutup panggilan singkat tersebut, kakaknya tidak marah dan malah mendukungnya. Ini akan mudah untuk selanjutnya.

Tenten segera mandi dan menggunakan kimononya, bersiap melakukan doa pagi. Ini hari terakhirnya di kuil. Ia sudah sepekan. Kami-sama mungkin sudah menyuruhnya memantapkan pilihannya. Bicara dan mengambil keputusan.

Tenten sudah siap, ia tidak perduli ia akan menjadi janda muda atau mungkin cemooh dari publik. Toh setelah ini ia akan pergi dari Jepang. Ini mudah.

"Gaara, jemput istrimu!"

Gaara yang mendengar perintah tersebut langsung meletakkan sendok dan nenek Chiyo, seolah tersangka. " Maaf nenek, hari ini aku ada jadwal operasi. Biarkan pelayan yang menyambutnya."

Nenek Chiyo menatap Gaara, "Ini balasanmu untuk Tenten yang sudah berdoa? Ia berdoa agar kalian berdua segera memiliki keturunan. Gaara, jemput istrimu sekarang!

Gaara memejamkan matanya, "Aku harus membatalkan operasiku?"

"Kau bisa menjemputnya Gaara, hari ini tidak ada operasi, ini hari Minggu. Kau hanya ingin pergi mengunjungi wanita itu kan?" ucap seseorang yang berada di hadapan nenek Chiyo.

Gaara menatap sangar Sasori, pria yang berani membuat emosinya meledak di pagi hari. "Kupikir itu bukan urusanmu!"

Sasori mengangguk, mengelap bibir basahnya sehabis minum. "Aku hanya memberi tahu nenek Chiyo kebenarannya. Dan mungkin saja sebenarnya tetua sudah tau semuanya,"

Nenek Chiyo meletakkan alat makannya, menatap kedua pria dihadapannya. "Sasori jangan memulai. Gaara, selama wanitamu itu tidak berbuat rusuh, kami akan diam saja. Toh, ada Tenten yang menutupi skandalmu. Ingat, jangan berbuat lebih dari ini!"

Nenek Chiyo berdiri, meninggalkan sarapannya yang masih banyak.

"Aku akan menjemputnya," ucap Gaara penuh amarah.

Dan senyum kemenangan di bibir Sasori.

Tenten menggunakan dress selututnya, dengan sepatu sneakers. Senyuman menghiasi wajahnya, setelah ini semua akan kembali seperti semula. Dirinya dan keluarganya.

Tenten duduk dibawah pohon Sakaki, menatap pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Memandangnya, menenangkan pikirannya. Menyiapkan mental dan menguatkan tekadnya.

"Kau sudah siap?"

Tenten melirik asal suara itu, disampingnya. Gaara duduk disampingnya. Tenten kembali menatap pohon dihadapannya. Hatinya bergejolak bahagia. Ia pikir Kami-sama menuntunnya untuk menjauh dari pria itu, tapi kenapa sekarang Kami-sama harus membawanya berdampingan?

Tenten membuka kembali kelopak matanya, menatap pria yang masih duduk disampingnya, bibirnya tersenyum. Tenten kembali menatap pohon Sakaki dihadapannya. "Aku ingin kita berpisah," lirih Tenten mengutarakan keinginannya.

Gaara ikut memejamkan kedua matanya, membukannya kembali. "Kau harus bisa membawa Matsuri ke publik, sampai kapan kalian akan bersembunyi dibelakangku?"

Gaara ikut memandang pohon Sakaki yang berumur, "Mereka akan mendepak Matsuri. Mungkin menyingkirkan wanita itu selamanya. Tidak ada yang tau isi pikiran tetua,"

Tenten tersenyum, ini pertama kalinya mereka berbincang damai. Burung ikut berbincang dengan mereka, menyuarakan isi pikiran mereka. Mungkin menghibur keheningan ini.

"Pria akan melindungi wanita yang ia cintai, dengan apapun dan bagaimanapun caranya. Kalian akan mendapatkan keluarga yang bahagia,"

Gaara menatap Tenten, wanita itu. Dengan tekadnya ia berdiri, dengan kasihnya akhirnya ia menyerah berdiri. "Kenapa?"

"Karena aku bukan malaikat yang Kami-sama kirimkan untukmu. Mungkin malaikatmu adalah Matsuri,"

Gaara mengangguk, "Apa alasanmu?"

"Aku mandul,"

Gaara menatap Tenten dengan banyak pertanyaan, "Hanya dengan alasan itu mereka mendepakku dan hanya dengan alasan itu kita bisa berpisah secara baik-baik,"

"Tenten,"

Tenten menatap Gaara, tersenyum. "Kau memanggilku?"

Gaara menggeleng, "Kau tidak akan pernah memanggilku. Maka jangan pernah memanggilku,"

Gaara menggeleng lagi, memfokuskan bayangan yang tercetak di matanya. Wanita di hadapannya adalah Tenten. Benarkah?

"Setelah ini aku akan mengatakan pada semuanya, saat para tetua berkumpul untuk penyucian."

"Kau bersungguh-sungguh?"

Tenten mengangguk, "Tentu!"

Senyuman manis yang tercetak dimata Gaara menjadi bukti bahwa ia adalah pria terjahat didunia. Mencampakan wanita yang berstatus istrinya demi wanita lain yang berstatus sebagai kekasihnya.

"Maaf, jika selama ini aku terlalu erat memegang tanganmu. Aku hanya ingin mencobanya,"

Gaara mengangguk, "Jadi kita berpisah?"

Giliran Tenten yang mengangguk dengan senyuman yang menghias dibibir mungilnya. "Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk mencoba bergandengan tangan denganmu. Terima kasih,"

Gaara berdiri, "Perlu aku temani?"

Tenten menggeleng, "Mereka akan curiga,"

"Jika mereka ingin melakukan pemeriksaan ulang?"

"Kau dokter, tolong berusahalah agar rencanaku berhasil,"

Gaara mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Tenten berdiri. Tenten menolaknya, "Aku tidak ingin ada pelayan kita yang salah mengartikan kedekatan kita hari ini,"

Gaara menarik tangannya dan menyimpannya kedalam saku celananya. Ia berjalan menjauhi Tenten yang berjalan agak di belakangnya sambil berpamitan kepada para miko yang mengurus kuil.

Tenten menggunakan kimono putih dengan hiasan rumit yang cantik, tali obi terhias cantik di pinggulnya, rambutnya disanggul dengan hiasan cantik. Tenten telah melakukan proses penyucian akhir.

Sekarang mereka duduk melingkar, memakan manisan dimusim panas. "Maaf mengecewakan kalian semua," ucap Tenten menjalankan rencananya.

Nenek Chiyo melirik kearah Tenten, wanita tua itu tau siapa Tenten, gadis yang akan menahan segala rasa untuk ambisinya. Karenanya ia akan mempertahankan Tenten untuk segala skandal yang dilakukan oleh Gaara.

Jahat memang, licik dan tidak berperikemanusiaan, tapi itulah tugasnya. Menjaga nama baik Sabaku dimata dunia. Menjaganya agar tetap agung tanpa cela.

"Mungkin Kami-sama sayang kepada saya, karena saya diberikan cobaan yang mungkin tidak akan sanggup saya terima. Saya mandul. Saya tidak mungkin bisa memberi keturunan pada Gaara. Pada tubuh saya terdapat zat yang akan menolak benih Gaara, maaf jika saya menyembunyikan fakta ini. Saya hanya ingin diberikan kesempatan untuk mencoba, tapi selama dua tahun ini, hasilnya selalu nihil. Maafkan saya, jika mengecawakan." Ucap Tenten dengan menyembunyikan raut wajah bersedihnya. Mencegah agar tangisnya tidak pecah.

Salah satu tetua langsung menyiramkan sake ke wajah Tenten, tangis Tenten langsung pecah. Di sampingnya Gaara hanya bisa menunduk membisu. "Maafkan saya," ucap Tenten dengan sesenggukan.

"Carikan istri kedua untuk Gaara!"

Gaara langsung mengangkat kepalanya, memberikan tatapan tajamnya. "Tidak akan ada istri kedua!"

"Saya bersedia diceraikan oleh Gaara-sama, setelahnya kalian bebas mencarikan wanita lain untuknya," tambah Tenten.

Nenek Chiyo menggeleng, "kau akan tetap menjadi istri Gaara, Gaara bisa mengambil istri kedua. Kami tentu tidak ingin hubungan kedua keluarga ini hancur. Masalah kalian bisa diselesaikan. Ada ibu pengganti, kalian bisa menyewa seseorang untuk itu."

Entah keberanian muncul dari mana, Tenten menggenggam tangan Gaara, berusaha menahan amarah Gaara. Rencananya harus berhasil. "Nenek, masalah ini tidak ada hubungannya dengan perjanjian perusahaan kita. Kami akan tetap menjalin perjanjian ini. Perusaahan kami butuh perjanjian ini untuk tetap jadi pengembang di China,"

Tetua yang lain saling berpandangan, mereka menatap Tenten. "Baiklah, tapi kami tidak ingin membuat alasan yang menjatuhkan citra kami,"

Giliran Tenten yang mengangguk, "Alasannya bisa karena ketidakcocokan, lusa kami berdua akan melakukan konfrensi pers,"

Nenek Chiyo memandang Gaara, "Kau sudah mengetahuinya?"

Gaara menatap Nenek Chiyo, "Aku mengetahuinya, kami sudah melakukan pengobatannya. Nenek juga tau bahwa ia sudah berdoa setiap saatnya,"

Nenek Chiyo menajamkan penglihatannya pada Gaara, "setelah proses perceraian kalian selesai, aku akan mengirimmu ke Jerman, ambil doktoralmu disana,"

Gaara menggeleng, "Aku harus terus mengawasi rumah sakit! Kami sedang menjalani pengembangan di bagian maternity,"

"Sasori akan mengerjakannya, kau bisa memantaunya dari sana atau selesaikan proyekmu sebelum kau berangkat!"

Nenek Chiyo langsung meninggalkan acara jamuan tersebut, ia bahkan belum menyentuh makanannya.

Kepala wanita tua itu dipenuhi oleh rencana-rencana untuk menjauhkan Gaara dengan perempuan gila itu.

Kau mengambil langkah yang salah!

Sepergian nenek Chiyo, Tenten hanya bisa menunduk lesu. Kepalanya terasa berat, bukan karena hiasan kepala yang ia kenakan, hanya saja otaknya serasa mau meledak. Bagaimana tatapan kecewa yang diberikan nenek itu, membuat Tenten merasa telah membuat keputusan yang salah.

Para tetua telah meninggalkan ruang perjamuan. "Terima kasih,"

Tenten mengangkat kepalanya, menatap pemilik hatinya. "Terima kasih karena mau menanggungnya,"

Tenten tersenyum, "Aku hanya ingin bebas, kita tidak terikat karena cinta yang mungkin sulit untuk disembuhkan. Kita hanya terikat karena tanda tangan di buku nikah. Jangan berlebihan,"

Gaara menatap Tenten, lalu beranjak dari duduknya. Meninggalkan calon mantan istrinya di ruangan yang sepi dan kosong.

Tenten menatap punggung Gaara, ia bahkan tidak pernah memeluk tubuh tegap itu, hanya memandang.

Dua tahun.

Dua tahun hanya memandang Gaara yang bisa ia lakukan.

Tenten berjalan menuju kamarnya, melawati lorong kamar yang menawan dengan relief di dindingnya. Tenten ingin menikmati suasana rumah ini sebelum ia pergi dari sini. Semua terasa menyedihkan sekarang.

"Kau mempunyai bakat sebagai penipu yang hebat,"

Tenten mendengar suara itu, itu suara Sasori. Mengabaikan setiap ucapan sinisnya adalah tindakan terbaik yang saat ini ia pilih. Tenten terus melangkah, berharap ia segera mencapai kamarnya.

Sasori mengejar Tenten, manarik pergelangan tangannya. "Kau mengabaikanku?"

Tenten tersenyum sinis, "Apa perdulimu? Sekarang kalian bisa bersaing, siapa yang akan mendapatkan Suna dan Mayuri?"

Tenten menajamkan pengliahatannya, ia melihat Sasori dengan wajah marahnya. "Oh, tapi aku bisa bertaruh jika Gaara akan mendapatkan keduanya. Dan seperti yang lalu, Sasori hanya bayangan dari Gaara!"

Puas dengan kata-katanya, Tenten menghempaskan tangan Sasori yang mencengkal lengannya. Tenten berbalik, melangkah secepat mungkin menjauh dari Sasori.

Tangan Tenten tertarik ke dalam sebuah kamar, entah kamar siapa itu.

"Lepaskan!" rontah Tenten menatap tajam iris gelap dihadapannya.

Sasori hanya tersenyum mengejek, "Sebagai salam perpisahan darimu, bolehkah aku mencicipimu?"

Tenten semakin merontah dibawah kukuhan lengan Sasori, ia terus berontak, mencoba melepaskan diri. Tenten menggerakkan kaki dan kepalanya, sampai tamparan keras terasa di pipinya yang mulai merasa panas.

Air mata Tenten meleleh. Gaara bahkan belum pernah menyentuhnya. "Bajingan!"

Sasori langsung duduk diatas perut Tenten, merobek kimono yang Tenten kenakan. "Nikmati saja, jalang!"

Tenten mulai meronta, memukul bagian tubuh Sasori yang bisa ia gapai, ia bahkan mulai lemas ketika Sasori mulai meraba bagian bawah tubuhnya. Tenten bukannya menyerah untuk melepaskan diri, tapi ia merasakan sensasi aneh dibagian sensitifnya, seperti sesuatu yang siap meledak, dan Tenten baru tau ini, ini yang disebut orgasme.

Sasori seperti lepas kendali, ia menggila diatas tubuh lemas Tenten. Ia bahkan telah melewati masa pelepasan. Tapi tubuhnya menginginkan lebih, Sasori terus memompa, merasakan kenikmatan yang tertawarkan oleh tubuh Tenten. Begitu mencandu.

Tenten bahkan tidak bergerak sama sekali, hanya ada rasa nyeri yang luar biasa didaerah intim miliknya, nyeri seperti luka yang terkena alkohol, perih.

Sasori berguling disamping Tenten, menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Senyuman puas tercipta di bibir Sasori.

Tenten merasakan sensasi itu kembali lagi, sepertinya baru beberapa menit ia tertidur, sekarang ia merasakan nyeri di pangkal pahanya terasa kembali, Tenten membuka matanya. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Tenten melihat pria bersurai merah itu berada di bagian tubuh bawahnya.

Sasori merangkak ke bagian tubuh atas Tenten, "Aku akan merekam semua rasa yang kau berikan malam ini,"

Tenten mendorong tubuh Sasori, menarik selimut, mencoba menutupi tubuh telanjangnya. "Aku mohon, lepaskan aku. Aku tidak ingin merasakan sakit ini,"

Sasori tersenyum, "Aku terlanjur menggilai tubuhmu, mungkin tubuh Matsuri lebih menyenangkan daripada tubuhmu. Apa karena itu Gaara menceraikanmu? Aku penasaran bagaimana rasanya?"

Tenten langsung melempar bantal ke wajah Sasori, cukup untuk melepaskan segala sesak didadanya.

"Kau bicara apa, hah? Kau pikir aku sudi kau sentuh lagi?"

Tenten langsung beranjak dari ranjang, menarik selimut dan mengambil pakaiannya.

Tenten merasakan perih yang teramat. Ia terus berjalan menuju kamarnya. Gaara pasti di ruang kerjanya.

Tenten membuka pintu kamarnya dengan pelan, matanya membesar ketika menangkap bayangan Garaa duduk di tepi ranjang mereka. Menatap Tenten dengan garang. Gaara melangkah mendekati Tenten, menutup pintu yang berada di balik punggung Tenten dan menamparnya.

Tenten langsung memegangi pipinya yang terasa panas.

"Berani kau melakukan tindakan sebodoh itu?"

Tenten menatap Gaara, Gaara langsung mengeluarkan ponselnya menunjukkan gambar Tenten tanpa busana. "Aku melakukannya untuk bersenang-senang,"

Gaara tersenyum menghina. "Aku bersyukur kita besok bercerai,"

Tenten menatap Gaara, "Kita tidak pernah menikah Gaara!"

Tenten berjalan melewati Gaara, membuka lemarinya dan mengambil satu pasang pakaian. Tenten membuka pintu kamar mandinya. "Kau adalah kesalahan terbesarku!"

Tenten melepas genggaman pada daun pintu kamar mandi, berbalik menatap Gaara. "Maaf, anggap saja kau tidak pernah mengenalku. Aku hanya debu di baju kotormu. Silahkan kau buang baju itu,"

Tenten melangkah kedalam kamar mandinya. Melepas lilitan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Tenten menyakan shower dan mengisi bath up-nya. Harga dirinya sudah hilang, bercak merah di selimutnya telah menjadi saksi.

Tenten menangisi semuanya, bagaimana ia harus kalah melawan drama kehidupan. Bagaimana ia menyerah pada suaminya-pria yang ia cintai. Tenten menenggelamkan tubuhnya. Ia sudah merasa lelah. Ia ingin segera pergi dari neraka ini.

Ada banyak rangkaian bunga sebagai pelengkap dekorasi kali ini. Ini adalah press conference untuk menjelaskan sebuah perceraian, bukan rencana pernikahan. Mengapa banyak bunga disini?

Tenten menatap heran saat ia mengamati ruang serba guna ini. Para wartawan sudah duduk rapi di meja yang telah disediakan, kamera mereka berada di tempat yang akan mendapatkan gambar yang terbaik.

Tenten tersenyum, kalian akan menertawakan apa yang dipakai oleh Tenten. Ia mengenakan mini dress berwarna peach dengan aksen lace di bagian lengannya. Rambutnya dibiarkan terurai dengan make up minimalis.

Gaara duduk disampingnya dengan setelah jas mahal layaknya akan meresmikan mega proyek. Lucu bukan?

Tenten tidak mendapatkan kesempatan berbicara, pihak yang berbicara hanya Gaara dan pengacaranya saja. Semua sudah diatur. Sudah terencana.

Tenten menarik senyuman dibibirnya, ia tidak ingin melihat gambar dirinya berwajah jelek terpampang di media massa.

"Kami sudah hidup bersama selama dua tahun, kami belajar bagaimana memahami dan menyelesaikan masalah yang timbul dari kesalahpahaman yang ada. Pada akhirnya jalan kami berbeda, entah siapa yang benar dan salah. Tentu kami akan punya alasan yang kuat kenapa kami berpikir bahwa berpisah adalah yang terbaik,"

Seorang pria dengan menggunakan rompi berwarna hitam dengan logo salah satu stasiun tv mengangkat tangannya, terlihat tidak sabar untuk bertanya. "Apa karena kalian tidak punya anak?"

Gaara tersenyum, "Kami percaya, bahwa anak adalah anugrah dari Kami-sama. Menyalahkan ketidakhadiran seorang anak sama juga dengan menyalahkan Kami-sama. Tentu kami berdua tidak menyalahkan Kami-sama,"

"Lantas masalah apa yang membuat perbedaan pandangan kalian?"

Tenten tersenyum, "Mengenai rasa wasabi yang mint atau pahit? Jawabannya terserah pada kita bagaimana memandangnya. Sebagian orang mengatakan bahwa wasabi terasa mint dan sebagian lagi mengatakan pahit"

Gaara memandang Tenten, ini tidak ada di rencananya.

Tenten balas menatap Gaara, ada tampilan menyedihkan di retina Gaara. Bagaimana wanita dihadapannya terlihat anggun padahal ia di campakan. Bagaimana dunia ini menciptakan wanita seperti ini?

Gaara dan Tenten berdiri, membungkuk hormat sebagai ungkapan terima kasih.

Gaara dan Tenten meninggalkan gedung pertemuan dengan menggunakan helikopter milik pribadi. Sesampainya di kediaman Sabaku, Tenten langsung masuk ke mobil yang telah disediakan.

Semalam sebelumnya, Tenten sudah merapikan semua perlengkapan yang ia butuhkan. Ia akan meninggalkan Jepang. Kota dimana ia mengenal manisnya dan pedihnya cinta.

Tenten menyeret koper berwarna navy blue-nya. Melangkah meninggalkan cerita di negeri Sakura. Hatinya masih disini, cita dan cintanya bahkan tertinggal disini. Tenten terus melangkah, menunggu sampai pesawatnya siap mengatarnya.

Tenten melihat awan putih yang bebas dari jendela pesawat, menatapnya takjub, entah perasaan bangga atau iri. Awan putih itu seolah tersenyum mengejek kepadanya. Tenten menatap bangku di depannya dengan nalar, bagaimanapun ia tidak menginginkan perceraian ini.

Pernikahan adalah hal yang dimimpikan semua wanita, menikah, mempunyai anak dan menjadi ibu. Semua wanita akan mengusakan yang terbaik untuk kehidupannya dan Tenten pikir semua manusia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan.

Pernikahannya sudah berakhir, dengan pria yang memberikan rasa cinta yang maya. Bersandiwara di depan orang, bersandiwara untuk tersenyum dengan tatapan bahagia. Semua semu, sesemu bagaimana perasaannya. Dan Tenten mengikhlaskan semua, berharap rasa semu itu tertinggal di Negeri Sakura.

Tenten terlelap dalam lamunan panjang yang menyisakan buliran air mata yang mongering. Tenten tetap ada rasanya, masih sakit karena tak terbalaskan tapi ia telah meninggalkannya, melupakannya dan membuangnya jauh.

Selamat tinggal…

TBC

Horeee….

Selesai…

Maaf pendek….

Jangan lupa tinggalkan jejak ya..

jelliesdewi : maaf update supper karet, maaf ya…sebel sama Gaara ya? Entahlah…aku juga bingung mau dibawa kemana cerita ini..review lagi ya

umm : Sayangnya disini Sasori bukan hal baik…maaf harus mematahkan keinginananmu…jangan lupa review lagi ya..meskipun updatenya karet

Pandaman23 : maaf, ini semua kekurangannya ayas aka saya dalam menuliskan perasaan dan watak yang belum matang sehingga membuat kamu jadi agak bingung…ayas juga bingung..gimana dong panda-chan?

Taomio : terima kasih kalau kamu suka penulisanku, maaf ya belum tingkat W-A-H untuk penulisannya, ayas juga masih belajar, mohon koreksinya ya...review lagi Tao-chan

Guest : Wah..Guest-san sudah mulai bisa menebak ya?

Husni Uchiha : uhh…karet masih melekatdi ayas aka saya ya… ngandat…jadi pindah jaringan pake karet aja…maaf ya..sepertinya itu gk akan terjadi deh..maaf…

Ok readers….terima kasih ya atas perhatian kalian…semoga menghibur…

Masih ada kelanjutannya ya…

Jangan lupa tinggalkan jejak langkah kalian

Love you all