Kali ini ada 3 hal yang pengen saya teriakkan:

1. AKHIRNYA UTS LAKNAT YANG BIKIN GILA ITU KELAAAARR~!!! XDD DAPET NILE BAGUS LAGIIIIII~!!!! *disorakin temen2 sekelas*

2. AKHIRNYA FIC INI JUGA KELAAAARR~!!! O(w)O

3. OTANJOUBI OMEDETTOU KETUA KELAS SAYA!!! \^0^/

Ah, diriku baru nyadar, ternyata fanfic ini selalu diupdate setiap kali ada yang ulang tahun -_-. Yah, bulan maret emang yang ultah banyak sih! =="a

Yasudahlah, yang penting fanfic ini udah kelar. Saya sudah tidak ada hutang lagi sama readers *halah*. Sekian bacotannya.

Dedicated for My Birthday xD

Ohya, juga buat Kak Koko yang entah saya kenal darimana yang ultahnya sama kayak saya! ;DD

Ada tambahan lagi, buat Ronggeng a.k.a Lina yang ultah tanggal 13 ^^

Dan yang terakhir, buat Ketua Kelas a.k.a Hugo a.k.a cowok malang yang seenaknya dijadiin uke dari pasangan yaoi ciptaan temen saya (sorry kalo yg bsangkutan ikut baca ^^ tapi itu emang kenyataan) yang pokoknya ultah dibulan maret juga! *lho?lho?lho?*

An Akatsuki's nistaness fanfic

Mengungkap Rahasia Itachi © Ceprutth DeiDei

All Akatsuki © Kishimoto Masashi

Pengecualian,

Deidara is mine!!! *dipukulin rame2*

Genre : Mystery/Humor

Rated : K+

WARNING : sangat-sangat OOC, sudah pasti nista, dan selalu mengandung unsur gaje. Ada juga beberapa adegan yang melenceng dan OC asal-asalan. Ohya! Gila tanggung sendiri!

Enjoy it!

^0^

Mengungkap Rahasia Itachi

^0^

Seminggu kemudian di Markas Akatsuki..

Semuanya berjalan seperti biasanya. Tak ada yang berbeda. Hanya saja, tiba-tiba Deidara en Tobi yang biasanya girang over plus cerewetnya kebangetan berubah jadi pendiem. Kakuzu juga sepertinya mulai menjaga jarak dari Hidan. Padahal Hidan kagak bikin salah apa-apa. Dan Itachi selalu pergi entah kemana dengan alasan 'aku ada misi penting'. Padahal jelas-jelas, sang ketua tak memberikan titah apa-apa ke Uchiha keriputan ini.

Di pagi yang cerah itu, keenam—atau bisa disebut tujuh orang karena Zetsu punya kepribadian ganda—akatsukiter yang masih betah-betahnya nganggur sedang asyik berkumpul kebo (baca: kebo-kebo yang pada ngumpul) di ruang tipi. Mereka adalah Pein, Konan, Kisame, Hidan, Zetsu—putih dan hitam—dan Sasori.

"Gue rasa ada sesuatu yang aneh..," ulang Pein untuk yang ke-987654321 kalinya sambil bergaya ngelus-elus janggut ala detektif lagi mikir. Alhasil, piercing yang ada dibawah bibirnya tiba-tiba nyangkut di jari telunjuknya. "WADAOOW!! ATIT BEUDH!! AUTHOOR, HELEP MI PLEEEIISSSHH!!!" (teriakan macam apa ini? =.="a)

Konan dengan cekatan menarik telunjuk Pein yang nyangkut dan akhirnya jari malang itu pun bisa terbebas dari piercing dibawah bibirnya. Mungkin author bener-bener ngabulin *halah! Kayak si author tu apaan aja! xp* keinginan Pein barusan. Pein menghela napas lega. "Apa yang aneh, Pein-kun?," tanya Konan penuh selidik.

Pein pun menjawab, "Dei, Tobi, Itachi, sama Kakuzu akhir-akhir ini makin aneh aja.."

"Setuju tuh!," potong Sasori antusias. Pein langsung membisu—keliatan kalo dirinya kesel omongannya disela mulu. "Pertama, Itachi sama Kakuzu yang tiba-tiba tukeran kostum tanpa alasan. Kedua, kenapa mereka nggak bilang-bilang ke kita kalo mereka yaoi-an? Ketiga, Deidara sama Tobi sikapnya berubah 180 derajat," kata Sasori menyebutkannya satu-persatu.

"Itachi juga pelit! Nggak mau kasih tau 'rahasia'-nya ke kita-kita. Ya, kan?," tambah Konan.

"Kakuzu juga mulai meninggalkan diriku.. kayaknya bentar lagi gue bakalan dipecat jadi partnernya Kakuzu deh! Hiks.. hiks.." Hidan pun ikut menambahkan walaupun dia ngomongnya sambil nangis-nangis geje.

"Sikap mereka berempat juga aneh pas di sidangnya DeiTobi kemaren..," tambah kedua Zetsu bersamaan. Memang sih. Bahkan saking aneh dan jaraaaaaaangnya kejadian kayak gitu, bisa aja kejadian kemaren masuk rekor MURI (baca: MUseum Rekor akatsukI) kategori 'Hal Yang Sangat Jarang Terjadi'. Ah, tapi nggak jadi deh. Kok kayaknya lebay banget!

"Nah, itu dia! Menurut gue juga, kayaknya si Itachi yang paling patut dicurigai..," analisis Pein. Yang lain cuma ngangguk-ngangguk tanda sok ngerti. "Dia kan disidang kemaren berusaha mati-matian buat bo'ong didepan kita, sampe bela-belain jadi ahli hukumnya si Deidara segala."

"Kayaknya ada sesuatu yang mereka sembunyiin dari kita!," lanjut Pein lagi. Yang lain ngangguk-ngangguk tanda mereka beneran ngerti—bukannya sok ngerti. "Kita harus cari tau! Gimanapun caranya!"

"YOSH!!!," sahut yang lainnya penuh semangat.

Dan disaat-saat yang sangat tepat itulah, sutradara memaksa Deidara dan Tobi dengan susah payah agar mau tampil lagi di penpic ini. Dan begitu si Christian Bauketek bilang 'action!', akatsukiter yang lagi kumpul kebo di ruang tipi langsung menyerbu dua anak autis itu dengan membabibuta.

"DEIDARAAAA!!! TOBIIIII!!!," teriak all akatsukiter sambil nimbrung kearah DeiTobi.

"HYAAA~" Dan kedua orang yang baru datang plus nggak tau apa-apa itu pun jadi korban timbrungan temen-temen se-organisasinya. "Apa-apaan sih kalian, un? Bikin gue jantungan aja deh, un!," bentak Dei kesel gara-gara dikagetin kayak gitu.

"Gomen, Dei-chan," kata Konan sambil nyengir. Sudah kewajibannya untuk meminta maaf karena ia sudah dilantik menjadi wakil dari all akatsukiter buat minta maaf. Soalnya yang lain gengsi kalo mau minta maaf, jadi akhirnya dialah yang disuruh minta maaf. Yak, makin lama omongannya jadi makin nggak nyambung, geje, dan membingungkan, mari kita kembali ke Konan yang daritadi udah siap-siap buat ngomong, "Kita mau tanya sesuatu ke kalian berdua."

"Apa, un?," tanya Deidara dengan nada nggak minat.

"Jujur aja, lo berdua sebenernya tau kan 'rahasia'-nya si Itachi?," tanya Pein to the point. Mata baygonnya yang kata author kayak bunglon itu melototin Deidara dan Tobi yang mukanya sekarang keliatan kaget. "EH—?!"

"Ng-nggak kok, un." Dengan cepat dan gesit sebelum ember bocor Tobi membongkar semuanya, Deidara berdusta didepan akatsukiter. Tobi pun akhirnya cuma kebagian ngangguk-ngangguknya doang.

"Jangan bo'ong deh! Bo'ong dosa lho!," rayu Konan sambil ngelirik kearah Tobi, berharap agar kedua orang yang menurut dirinya bloon akut itu mau berkata jujur tentang 'rahasia' Itachi.

"Uh~ uh~" Tobi terlihat seperti terpancing oleh rayuan Konan barusan. All akatsukiter minus keempat tersangka smirking bareng-bareng. "Maaf, Tobi udah bohong! Tobi anak baik! Tobi janji nggak akan bohong lagi! Tobi tau kok 'rahasia' Itachi-senpai yang kalian maksud itu!!"

Pein, Konan, Kisame, Hidan, Sasori, Zepu, and Zeit smirking berjamaah. Deidara shocked.

Kemudian, Pein yang berbicara. "Gue tau kalo Tobi yang disuruh ngejelasin pasti kelamaan, jadi Deidara.." Mata bunglon Pein ngelirik ke Deidara. "Y-ya, un?," jawab Dei geregetan.

"Lo harus kasih tau ke kita semua soal 'rahasia' itu sekarang!," titah Pein.

"Uhmm.. O-oke, un.." Deidara ngelap keringet bentar, kemudian memulai ceritanya, "Jadi gini..

Cerita Deidara mode on

"Senpai! Senpai! Lagi ngapain?," tanya Tobi sambil jingkrak-jingkrak gaje didepan Deidara yang lagi khusyuk memainkan lempung-lempung kesayangannya. Deidara lalu menoleh kearah Tobi dan menjawab dengan nada kesal, "Main lempung lah, un. Nggak usah nanya lo kan udah bisa liat sendiri, un."

"Oh iya.. hehe," kata Tobi sambil nyengir plus ketawa-ketiwi nggak jelas. "Tobi pinter deh! Secara Tobi kan anak baiik!!," lanjutnya kemudian. Sukses membuat Deidara kaget. 'Yang ada gue kali yang pinter, un!,' runtuk Deidara dalem ati.

"Tobi," panggil Dei lirih. "Ya, Senpai?," jawab Tobi sambil menatap senpainya dengan mata yang berbinar-binar sebelah. Kalo yang sebelahnya lagi ya biasa aja. Nggak berbinar-binar dengan lebay. Soalnya, ngapain susah-susah dibikin lebay kayak gitu, toh nggak ada yang ngeliat. Kan ketutupan topeng.

"Cari kerjaan lain yuk, un! Gue bosen nih main lempung mulu, un," ujar Deidara sambil jongkok. Tangannya masih asik nyolek-nyolek lempung dengan genit.

"Oke deh, Senpai."

"Jadi, kita mau ngapain, senpai?," tanya Tobi sambil ikutan jongkok. Keduanya terdiam. Tak ada yang punya ide.

15 menit kemudian, setelah berlama-lama berjongkok dalam diam..

"Ah, kalo sama elo kerjaan gue jadi berasa ngebosenin terus, un," ujar Dei kesel sambil melakukan ritual senam kaki darurat gara-gara kecapekan jongkok. Sementara si Tobi langsung pundung gara-gara dia merasa udah bikin senpai-nya selalu merasa bosen. Deidara melihatnya dengan iba, kemudian berkata, "Yaudalah, un. Kita muter-muter markas aja, un."

Tobi mengangguk senang. Dan dua makhluk autis ini pun akhirnya bekerja keliling markas.

Pertama, di teras markas akatsuki. Disana tampaklah si Pein yang lagi baca-baca majalah 'piiiip' sambil senyum-senyum mesum. Deidara langsung nutupin lubang topeng Tobi begitu anak baik itu mau ngintip isi majalah 'piiiip'-nya si Pein.

Kedua, mereka menuju ke ruang tipi akatsuki. Terlihat Zetsu yang sibuk keluar-masuk tanah markas. Entah apa maksudnya dua makhluk yang dilas jadi satu itu melakukan hal geje seperti itu. DeiTobi sweatdropped. Disebelah venus flytrap itu, Sasori terlihat sangat kusyuk main boneka sambil ngomong sendiri. Yah, begini inilah salah satu contoh anggota akatsuki yang MKKB a.k.a Masa Kecilnya—sangat—Kurang Bahagia.

Ketiga, di dapur. Sang anggota cewek akatsuki satu-satunya—siapa lagi kalo bukan Konan—lagi kebingungan gara-gara nggak bisa ngebedain antara gula sama garem.

"Tu-wa-ga-pat yang ku-pi-lih i-tu ga-rem!!!!" Konan bersenandung sambil menunjuk kearah toples kecil berisi garem dan toples kecil lain yang isinya gula secara bergiliran. Dan—oh, ternyata telunjuk Konan mendarat ke toples gula!!! Dan ditulisnya tutup toples gula itu dengan tulisan 'GARAM'. Kemudian, ia dengan santai membuat secangkir teh. Setelah jadi, si Konan pun langsung mencoba teh manis buatannya itu dengan hati berdebar-debar *halah*..

1 detik.

2 detik.

3 detik.

"BRRRUUUUSSSHHH~" Begitu minum teh 'manis'-nya itu, Konan langsung nyembur. Deidara tercengang sementara Tobi menatap kagum senpai ceweknya itu sambil membatin, 'Wah... Konan-senpai hebat! Bisa nyembur kayak naga!! Tobi juga pengen bisa!'. Dan sebelum sempat mewujudkan angan-angannya tadi, Tobi keburu diseret Deidara untuk melanjutkan patroli mereka keliling markas. Anak baik itu pun meronta-ronta.

Keempat, kamar mandi umum markas akatsuki. Dari celah pintu kamar mandi yang nggak ketutup rapat, terlihat Kisame asik berenang didalem bak air. Akhirnya mereka berdua tahu kenapa air yang mereka pake buat mandi selalu amis. Jawabannya: gara-gara abis dipake renang Kisame. DeiTobi kemudian melanjutkan patrolinya lagi.

Begitu lewat depan pintu kamar Itachi, Deidara dan Tobi langsung menge-pause perjalanan mereka mengarungi markas akatsuki. Keduanya bengong didepan pintu.

"Aduuuuuh~ kok keriputnya susah banget ilangnya, sih?!" Terdengar suara Itachi daridalam kamar. Kelihatannya akatsukiter keturunan Uchiha yang selalu sok keren dan kecakepan itu sedang ada masalah dengan keriput-keriput bandel yang daridulu udah bersarang diwajahnya.

Setelah mendengar eluhan Itachi daridalam kamar, keduanya pun memutuskan untuk menguping dan mengintip daribalik pintu.

CEKLEK!

"Mau ngapain kalian berdua?" Suara dingin itu tiba-tiba terdengar di kuping Tobi en Deidara yang lagi nguping.

"Ah-eh.. anu.. Itachi-senpai..," jawab Tobi gagap mode. "Hn?" Itachi mengangkat sebelah alisnya.

"Lo lagi punya masalah sama keriput bandel di muke lo kan, un?," sela Deidara sambil nyengir. Alis mata Itachi naik sebelah. Muka curiga mode on. "Gue punya obatnya lho, un!," lanjut Deidara masih sambil nyengir.

"Yang bener?" Sebelah alis Itachi makin naik keatas. Deidara manggut-manggut sambil terus menyengir dan bergumam, "He-eh, un."

"Apa obatnya?," tanya Itachi antusias.

"Lempung khusus yang dipake khusus buat perawatan wajah, un. Denger-denger, lempung kayak gitu asalnya dari Sidoarjo, un. Katanya bisa buat ngilangin keriput bandel lho, un!" Deidara pun menjawab—lagi-lagi sambil nyengir—dengan jawaban ala sales lagi promosi.

"Manjur nggak tuh?," tanya Itachi curiga. "Gue jamin pasti manjur deh, un," kata Deidara dengan nada merayu ala sales sambil nyengir dan berpose lebay ala Maito Guy. Bisa ditebak begitu fanfic ini selesai, mulut makhluk kuning itu pasti bakal langsung pegel dan lumpuh seketika *dibom Dei, langsung bereinkarnasi* gara-gara nyengir terus-terusan.

"Kalo gitu, gue pesen satu," kata Itachi sambil tersenyum tipis. Tipiiiis banget. "Duitnya mana, un?," tanya Deidara yang kali ini berpose ala pengemis. Itachi menghela napas.

"Oi, Kakuzu!"

"Ape?," sahut Kakuzu nggak niat dari kejauhan.

"Sini lo!," perintah si bocah Uchiha itu judes. Tapi toh si Kakuzu mau-maunya nurut sama orang kayak gitu. Dan begitu sampe didepan kamar Itachi, Kakuzu langsung ngelirikin Itachi seakan berkata 'Ngapain lo panggil-panggil gue? Ganggu!' pada Itachi. Mengerti akan maksud dari tatapan Kakuzu, Itachi langsung menjawab, "Gue mau ngebon!"

Mata ijo Kakuzu membelalak. "HUAA~ OGAH!!!," teriaknya sambil melangkah seribu. Sayangnya, Itachi keburu menyeretnya sebelum makhluk yang cinta uang itu sempet kabur.

"Eits, mau kemana lo?" Itachi mendeathglare Kakuzu sambil menyeretnya masuk ke dalam kamar. "Ampun. Gue lagi kagak ada duit. Sumpah deh!," kata Kakuzu sambil nangis darah.

"Gue tau lo pasti barusan abis ngitungin duit kan? Tangan lo aja sampe ikutan lecek gitu." Dengan mudah, Itachi mematahkan pernyataan dusta si rentenir malang itu.

"Gue kagak ada duit. Duit gue dikamar soalnya. Huhuhu," kata si Kakuzu masih sambil nangis darah.

Itachi menyeringai. Kakuzu dan dua anak autis yang ada disana langsung bergidik ketakutan. Bayangin aja seberapa seremnya tampang keriputan si Itachi pas lagi nyengir nista kayak gitu? Ngeri kan? Ngeri kan? Ngeri kan? Ngeri k—

(backsound: BUAAKK!! Dan teriakan "ADAOW!!" yang sumpah keras banget)

"Paris Hitam, jangan mentang-mentang disini kagak ada si author elo jadi bisa seenaknya ngomong. Kalo kerja yang bener dong!," semprot Christian Bauketek yang barusan tadi abis melayangkan sendal jepit ke kepala Paris Hitam.

"Uuhm~ gomen, Ketek-sama.."

"APE LU KATE? LU MANGGIL GUE APE TADI??!!!" Dan logat betawi si Bauketek pun nongol.

"Sorry, nggak ada siaran ulang. Hanya orang bodoh yang minta ngulangin kata-kata yang udah lewat."

"APE?! GUE NGGAK SUKA GITU TUH!!!"

"Huff.. cerdaskanlah dirimu lagi, Ketek-sama."

"HEH!! MANGGIL GUE APE TADI LU BARUSAN, HAH?!"

"Hah—emang dasar makhluk nggak cerdas. Mau dilanjutin apa nggak nih?"

Chirstian mengangguk.

Oke, back to the story lagi sodara-sodara sebangsa setanah air..

"Dei, Tobi, lo berdua ambil uang dikamar Kakuzu buat beli lempung mujarab tadi. Ambil secukupnya, jangan banyak-banyak! Gue kagak mau bon gue jadi tambah numpuk," titah si sulung Uchiha itu.

"Beres! Beres!!" Deidara en Tobi pun langsung ngacir ke kamar Kakuzu.

Setelah sukses mengambil uang dikamar Kakuzu tanpa dicegah-cegah sama pemiliknya yang pelit banget itu, Deidara dan Tobi pun berangkat ke Sidoarjo berbekal selembar uang 10.000-an dan—kaki. Well, kedua makhluk autis itu lebih memilih berjalan kaki dari markas sampe Sidoarjo—yang notabene jaraknya jauuuuh banget. Karena kata Itachi tadi mereka cuma disuruh ambil uang secukupnya buat beli lempung, jadi mereka kagak berani ngambil duit lebih dari 10.000. Padahal mereka sendiri nggak yakin kalo harga lempung yang mereka cari itu harganya cuma 10.000.

"Tunggu—!! Gue ikut!!!" Terdengar suara kakek-kakek tua dari arah belakang. Deidara dan Tobi langsung berenti berjalan dan menoleh ke belakang. Dan benar saja, emang ada kakek-kakek dibelakang mereka.

"Lhoh? Kakuzu-senpai ngapain ikut?," tanya Tobi bingung begitu si kakek yang penampilan sama perilakunya kontras banget itu sampai dihadapan mereka.

"Biar gue yang ngurusin keuangannya. Tenang aja, Itachi udah ngebolehin kok. Sekarang, mana duit gue tadi?," ujar Kakuzu tanpa menghiraukan Tobi yang sudah bertanya dengan baik-baik. Doi malah langsung aja minta duitnya dikembaliin. Sungguh, pria—uups, kakek-kakek yang satu ini emang bener-bener menomer-satukan uang diatas segalanya. "Nih, un." Tanpa pikir panjang, Deidara langsung menyerahkan selembar uang 10.000 ke si empunyanya.

Ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan panjang Markas Akatsuki-Sidoarjo. Dengan penuh perjuangan, penuh semangat, dan tanpa modal mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka yang masih jauuuuh banget.

Sore harinya, ketiga akatsukiter itu pun sampai di Sidoarjo. Kenapa mereka bisa cepet banget sampenya? Karena author males nunggu lama-lama. Jadi dibikinlah mereka sampai di Sidoarjo secara express.

"Atau mungkin mereka tadi numpang minta dianterin Bukichi yang larinya kuenceeeng banget?," sanggah suara-entah-darimana yang terdengar dari telepon umum yang ada dideket tempat syuting penpic ini.

"Nah kan, otak Hoshin Engi-nya kumat!" Paris Hitam sweatdropped.

"Ahaha.. Biasalah! Saya kan maniak Hoshin Engi!"

"CUUUUTT!!! Hoi, Author, lo udah minggat ke negeri Jiran nggak ngajak-ngajak masih aja berani ganggu kerjaan gue!!," semprot si Christian pake toa.

"Aa—iye iye, cabut dah gua...—Tuuut.. tuuut.."

Ehem-ehem, ehm ehm ehm, mari kembali ke cerita yang tertunda..

"Nah, disini nih tokonya, un!," kata Deidara sambil menunjuk kearah sebuah salon & spa yang gede dan kayaknya terkenal banget. Tobi memandangi gedung salon itu dengan kagum. Dan si Kakuzu mulai was-was. 'Kok firasat gue nggak enak gini, ya? Jangan-jangan lempung pesenan Itachi itu harganya mahal banget? TIDAAAAK!!,' jerit batinnya sendiri. Tangannya memegang erat-erat dompet asli dari kulit tokek yang udah lusuh nan bolong-bolong miliknya.

"Kakuzu-senpai kenapa? Kok mukanya pucet gitu?," tanya Tobi yang merasa khawatir pada senpainya yang sudah tua renta itu.

Kakuzu cuma menggeleng. Ketiganya pun masuk ke dalam salon.

^0^

Mengungkap Rahasia Itachi

^0^

Begitu ketiga makhluk asal anime naruto itu keluar dari pintu salon & spa mewah itu..

"HUAAA~," jerit Kakuzu sambil menangis keras-keras daribalik cadarnya. "Deiiii, kata lo harga lempungnya cuma 10.000? Duit gue jadi abis semua nih! Tamblas!," lanjut Kakuzu sambil menyodor-nyodorkan dompet kulit tokek yang kosong melompong itu ke muka Deidara.

"Yeee.. emang harganya 10.000 kali, un. Duit lo aja yang adanya tinggal 10.000, un. Bukan salah kita tau, un!," bales Deidara kesel. Tobi cuma ngangguk-ngangguk.

"Iya. Ini aja masih untung bisa dapet separonya!," bela Tobi. Kakuzu makin shock.

Deidara yang sedang marah, Tobi yang ketakutan—gara-gara Kakuzu, dan Kakuzu yang masih nangis-nangis plus jejeritan gaje pun berniat kembali ke markas akatsuki bersama-sama. Tapi, mereka mau mampir dulu ke lumpur lapindo berhubung Deidara ngebet pengen ngambil lempung gratisan.

Begitu sampai dilautan lempung itu, Deidara yang bertugas membawa lempung khusus pesenan Itachi itu pun langsung menceburkan diri kedalam lautan itu. Berenang-renang dengan riang. Kakuzu en Tobi langsung kaget kuadrat.

"DEIDARA-SENPAAAAI!!! LEMPUNGNYA ITACHI-SENPAI TUH!!!," teriak Tobi ketakutan sambil nunjuk kearah mangkuk kecil berisi lempung yang masih dibawa-bawa Deidara daritadi.

"UWAA~" Kakuzu cuma bisa menjerit-jerit.

Deidara terdiam. Diliriknya tangan kirinya. "UUUUN—?!!! LEMPUNGNYA ITACHI KECAMPUR LUMPUR LAPINDOOO~," teriaknya dengan tampang shock sambil terus memelototi si lempung Itachi yang malang. Buru-buru Deidara naik ke daratan dan mencoba memeriksa keadaan si lempung. Namun na'as, lempung mahal itu udah kecampur aduk sama lumpur lapindo.

"Yaaaah.. terkontaminasi deh lempungnya!" Tobi lemah, letih, lesu, lunglai, laper seketika.

"Duit gue melayang sia-sia doooong!!!," jerit Kakuzu sambil terus-terusan nangis.

"Tenang, un. Kita masih bisa beli yang baru kok, un," saran Deidara sambil nyengir dan memasang tampang sok tidak berdosa.

BUAKK!!

Sebuah tampolan keras dari kakek-kakek rentenir super pelit yang bernama Kakuzu itu mendarat dengan mulus dikepala kuning makhluk tak bergender itu.

"Beli lagi emak lo! Gue udah kagak punya duit lagi tau!!," semprot Kakuzu dengan emosi meluap-luap.

"Oh iya ya un..." Deidara nyengir.

Ketiga akatsukiter yang sedang menjalani cobaan yang berat dari Tuhan itu pun berpundung ria ditepian lumpur lapindo.

"Aha! Tobi anak baik tau solusinya!," ujar Tobi keras-keras—sengaja biar yang lain pada denger—sambil berdiri dan berpose lebay. Selebay apa posenya, saya serahkan kepada imajinasi readers masing-masing. Deidara en Kakuzu menoleh kilat kearah anak autis yang masa kecilnya tidak bahagia itu sambil menatapnya dengan antusias seakan bertanya 'Apaan?'.

"Kita sekarang balik ke markas aja. Biarin aja Itachi-senpai make lempung yang udah kecampur lumpur lapindo itu. Yang penting kan itu masih pesenannya dia. Kita cuma disuruh beli terus dibawa ketempat dia kan? Berarti kalo lempungnya terkontaminasi kan bukan tenggungjawab kita. Hohoho," jelas Tobi panjang lebar. Deidara en Kakuzu terdiam. Narator, sutradara, author, bahkan Masashi Kishimoto pun takjub begitu tau Tobi bisa dapet ide plus ngomong pake bahasa ribet kayak gitu.

"Tobi...," panggil Deidara pelan. "Ya, senpai?," sahut Tobi.

"Kau jenius, un!," lanjut Deidara sambil senyum. Tobi langsung menangis terharu mendengar sang senpai tercintanya itu memujinya. Dalam hati ia terus membatin, 'Tobi memang anak baik. Tobi anak baik yang jenius. Tobi anak baik hebat!'.

Ketiga makhluk itu pun langsung menghilang dari kota Sidoarjo, berpindah dimensi dan kembali ke markas akatsuki. Betewe, kok berangkatnya tadi pake susah-susah jalan kaki, ya? Oo

"ITACHI-SENPAAAAII!!!," panggil Tobi dengan nada ceria seperti biasanya. Kakinya melangkah santai kearah kamar Itachi sambil menenteng-nenteng mangkuk berisi lempung yang sudah terkontaminasi itu. Deidara dan Kakuzu mengikuti dibelakangnya dengan langkah lesu.

Begitu ketiganya sampe didepan pintu kamar Itachi, si pemilik kamar yang sudah menunggu-nunggu kedatangan mereka langsung menyeret mereka masuk ke dalem kamar tanpa ba-bi-bu lagi.

"Mana?," tanyanya singkat. "Ini, senpai." Itachi langsung merebut mangkuk berisi lempung yang ada ditangan Tobi dengan membabibuta. Uchiha bermuka tua itu menyeringai. Dioleskannya lempung itu banyak-banyak ke wajahnya yang penuh keriput. Beberapa menit kemudian, Itachi yang merasa sudah siap untuk melihat wajah barunya langsung mengambil cermin dan...

Mari hitung bersama-sama!

Satu..

Dua..

Dua setengah..

Tiga..

"UWAAAA~," teriak Itachi sejadi-jadinya. Dirinya shock berat begitu melihat wajahnya yang tambah ancur. Keriputnya makin banyak. Bentol-bentol kayak kena cacar air. Dan berubah warna menjadi UNGU!! UNGU, saudara-saudara!!! "APA-APAAN NIH?!"

Kakuzu, Deidara, en Tobi nyengir.

Itachi geram. "KALIAAAAN~"

Dengan kemurkaannya yang udah melewati batas, Itachi menyeret ketiga makhluk yang sudah menipunya itu ke kuburan kuil api negara Hi. Sampai disana, Itachi langsung mengubur DeiTobi di tanah kuburan itu idup-idup. Kakuzu merinding melihat perlakuan kejam Uchiha keriputan itu. Dipikir-pikir, ternyata anak sulung Fugaku ama Mikoto ini psycho ya?

"Kakuzu" Nada dingin Itachi terdengar memanggil nama Kakuzu. Kakuzu terperanjat kaget. "Y-ya?"

Tanpa memperdulikan aba-aba dari sutradara, lelaki bernama Uchiha Itachi itu langsung memolesi wajah penuh bekas jaitan Kakuzu dengan lempung yang udah terkontaminasi lumpur lapindo itu secara paksa. Tak peduli kalau si Kakuzu itu masih pake cadar. Kakuzu pasrah. Emang udah nasibnya begitu, jadi meronta-ronta ataupun jejeritan gaje kayak tadi tak dilakukannya lagi.

"Sekarang, pinjem kerudung sama cadar lo!," perintah Itachi. Kakuzu langsung melepas kerundung dan cadar yang selama ini selalu melekat padanya itu dan menyerahkannya ke Itachi dengan sangat tidak rela.

"Jangan sampe ada yang tau tentang rahasia ini. Ngerti?," ancam Itachi sebelum akhirnya berlalu. Pergi meninggalkan Kakuzu yang tanpa kerundung dan tanpa cadar dengan wajah berkeriput ancur berantakan itu.

Cerita Deidara mode off

..begitulah."

Keenam akatsukiter yang barusan denger cerita panjang dari Deidara langsung melongo.

'Mampus lah gue kalo sampe Itachi tau tentang hal ini, un..,' runtuk Deidara sambil membayangkan bagaimana nasibnya nanti. Mungkin dia bakal dibakar Itachi hidup-hidup pake amaterasu. Mungkin ditusuk-tusuk pake Sakegari no Tachi sampe mati. Mungkin disiksa seumur idup dalam genjutsu made in Itachi yang super-duper serem bin ngeri bin mistis bin—ah, apaan deh. Atau mungkin si Itachi malah akan menguburnya hidup-hidup untuk kedua kalinya seperti insiden di kuburan kuil api negara Hi kemarin? 'TIDAAAAAK, UUN!!' Deidara cepat-cepat menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran kotornya tadi.

"Wah wah, lagi pada ngapain nih rame-rame ngumpul disini?" Tiba-tiba terdengar suara dingin Itachi dari arah belakang.

All akatsukiter yang ada disana pun menoleh bersama-sama sambil berteriak nyaring, "WOY, ITACHI!!! KITA SEMUA SEKARANG UDAH TAU RAHASIA LO YANG SEBENERNYA!!!"

"Hah—?!"

Dengan sigap, cekatan, buru-buru, dan kilat Kisame langsung melepaskan cadar dan kerudung yang dipakai Itachi dengan paksa. Sontak, si pemilik mata Sharingan itu langsung kaget bukan main.

Daaaan~ JRENG JRENG!!! (backsound by suara gitar akustik yang dimainkan secara asal dan primitif *?* oleh author di dalem pesawat)

Keenam akatsukiter itu langsung melongo begitu melihat wajah Itachi yang sudah 'tak berbentuk' itu. Deidara en Tobi langsung pingsan mendadak saking takutnya mereka gara-gara udah ngebocorin 'rahasia' besar Itachi itu.

"WAKAKAKAKAKA!!! TERNYATA BENER!!! ITACHI, AKHIRNYA RAHASIA LO KETAUAN JUGA!! HAHAHA!" Tawa semua akatsukiter pun membahana ke seluruh dunia anime Naruto.

Itachi mematung ditempat.

^0^

Mengungkap Rahasia Itachi

^0^

Begitu rahasia besarnya yang memalukan diketahui oleh akatsukiter yang lain, Itachi langsung lari ngibrit kekamarnya sambil nangis-nangis.

Didalam kamar, dia berpikir keras. Mau bagaimana kehidupannya selanjutnya kalo dia bahkan udah nggak punya muka lagi cuma buat keluar kamar?

Akhirnya, sebuah keputusan—yang menurut Itachi—tepat pun dilakoninya. Ia pun segera menyiapkan 'segala sesuatu'-nya agar keputusan tepatnya itu bisa berjalan lancar.

Dan rupa-rupanya, sang Uchiha yang terkenal kejeniusan dan kehebatannya itu berniat menggantung dirinya dengan seutas benang tipis yang dibawahnya sudah disiapkan sepanci besar minyak goreng panas sambil meminum baygon dan menusuk perutnya dengan pisau. Sungguh cara bunuh diri yang sangat jenius. Bisa-bisanya ya dia mikirin cara bunuh diri yang seribet itu?

^0^

Mengungkap Rahasia Itachi

^0^

Keesokan harinya, di markas akatsuki. Tepatnya di kamar Itachi..

TOK! TOK! TOK!

Berkali-kali Kisame mengetuk-ketuk pintu kamar Itachi tetapi tak ada balasan dari si pemilik kamar. Dengan was-was, akhirnya manusia hiu jadi-jadian itu pun membuka pintu kamar Itachi—yang ternyata nggak dikunci—perlahan-lahan.

"KYAAAAA~" Teriakan lekong kembali terdengar. "ITACHI-KUN?! (astaga.. kun?)" Kisame langsung mematung ditempat.

Tak berapa lama, sang ketua Pein datang ke TKP sambil ngucek-ngucek matanya. "Apaan sih loe pagi-pagi udah teriak-teriak kayak lekong gitu?," protesnya karena merasa tidur nyenyaknya sudah terganggu.

"Hiks.. hiks.." Air mata menetes deras dari kedua belah mata Kisame yang ukurannya minus. "KETUAAAAAAAAAAAA!!! ITACHI UDAH NGGAK ADAAAAA~," teriak Kisame pake toa dengan lekong modenya yang seperti biasa. Bisa dipastikan semua orang—baik yang sengaja, nggak sengaja, maksa nggak denger tapi tetep kedengeran suara nistanya Kisame pun langsung berbondong-bondong pergi ke RS THT gara-gara tuli denger teriakan Kisame tadi. Kayaknya RS THT bakal padet banget hari ini. Hahahahaha—ehm, lanjut.

Pein melongo. Entah orang yang satu ini tuli juga apa enggak.

Dihadapannya terlihat mayat anak buahnya dari klan Uchiha yang bernama Itachi dengan keadaan bagian kaki sampai perutnya sudah hancur melepuh oleh minyak goreng panas yang berwarna kemerah-merahan karena tercampur darah, leher berkalungkan benang, dan mulut berbusa.

Seketika itu juga, Pein langsung muntah-muntah.

"Innalilahi..."

"Terus gimana nih, Ketua?," tanya Kisame serabutan. "Panggil semua anggota ke sini!," titah Pein sambil terus menatapi mayat Itachi yang benar-benar na'as itu. Dan Kisame pun langsung memanggil semua anggota untuk datang ke TKP.

Semua anggota akatsuki pun berbondong-bondong datang ke kamar Itachi.

"ZETSU!!!," panggil Pein keras-keras. Dan venus flytrap yang barusan dipanggil pun muncul dari dalem tanah. "Ya, Leader Pein?"

"Makan tuh mayatnya si Itachi!," perintah Pein sambil nunjuk-nunjuk kearah mayat Itachi yang udah ancur lebur.

"OKEEE, LEADEEEERR!!!"

Zetsu dengan penuh semangat dan penuh penghayatan (?) melahap habis mayat Itachi yang tak berbentuk. Sementara akatsukiter yang lain menabur-naburi Zetsu dan mayat Itachi yang sedang dilahapnya dengan kembang tujuh rupa yang mereka beli secepat kilat di warung terdekat.

"Semoga kau bahagia di alam sana."

FINNIE

WOOHOO!!!! \0/

Special thanks to :

God

Akatsuki

Masashi Kishimoto sebagai akang-akang yang berjasa bikin anime Naruto

Christian Bauketek sebagai sutradara

Paris Hitam sebagai narator

Bapak SBY sebagai presiden Indonesia (?)

Orang tak dikenal sebagai orang tak dikenal (?)

Haji Mahmud sebagai pemilik tanah yang tanahnya dijadiin latar cerita sementara

Bapak-bapak sangar sebagai penjaga dapur di warung terdekat (?)

Readers yang budiman

Reviewers yang sitiman (?)

Daaan~

CEPRUTTH DEIDEI SEBAGAI AUTHOR!!!! NYAHAHA xD *digaplok*

Jelek! Abal! Aneh! Gaje lagi! Mana panjang banget! XDD *jelas panjang bego!*

Chris Bauketek : nggak kok... makasih udah nyantumin nama gue di fic ini. Gue ampe terharu..

Lebay lo!

Saya sudah kembali dari negeri Jiran lho, readers.. soalnya ceritanya udah kelar. Ahaha.

Christian Bauketek : hn.

Sasori : apakah dirimu ngefans padaku?

Hah? O.o

Christian Bauketek : cape?

Sasori : elu lah.. ketek lo bau juga kayak gue ya?

Christian Bauketek : NO COMMENT!!

Oke oke... lagi-lagi ada debat gaje..

Kembali ke soal fanfic ini. Sepertinya saat ini saya lagi suka-sukanya bikin karakter-karakter Naruto mati di fic-fic saya. Entah kenapa... diriku pun tak tahu. T-T

Tapi tetep minta reviewnya donk!!

Teken tombol ijo dibawah, oke? Oke?

Sasori : eh, berarti lo juga bau dong?

Christian Bauketek : udah abis syutingnya! Pulang sana lo!

=.="

Entar dulu, bego! Ini belom sempet bales review!

Christian Bauketek : Kecut! Yaudah! Tapi awas kalo tuh orang keluar lagi!

Saso : halooo.. kita berjumpa lagi!

Christian Bauketek : UWOOOO~ TIDAKK!! *bunuh diri ala Itachi*

Cuekin aja deh tuh duo lebay! *gak sadar diri kalo author sendiri juga lebay*

Sekarang, silakan baca balasan reviewnya!!

Ryuku S.A.J: haha.. makanya, siapa suruh baca nih fanfic?! *digetok* Thanks udah mereview :). ku sayang pada anda yang udah mau nge-fave story geje ini..

Resaya Kosui Ryou: udah kebongkar tuh diatas. Malah udah mati pula! Hahaha. Thanks udah mau ngikutin n jadiin fave fic :)

Hatake Nekoshi: knapa males log in? Oo eman-eman dong! Ahaha *digetok again gara2 sok ikut campur* Sesuai Pasal 97 ayat 7z tentang terlambat update fic, ini sebenernya udah diapdet. Tapi berhubung saya mungkin kelamaan updatenya, silakan bunuh saya. *pundung* Thanks udah ngikutin n uda dijadiin fave fic ya! :DD

Wednesday, 24th March 2010

Ceprutth DeiDei