Sasuke berjalan beberapa meter di depan Hinata yang masih berdiam diri. Ia membawa beberapa peralatan sihirnya untuk mengikuti Sasuke atas perintah Kakashi. Setelah pulang dari taman bermain, Sasuke mengantar Hinata sampai di depan pintu rumah Kakashi, gurunya. Tak seperti yang mereka duga, guru muda berambut perak itu sudah berdiri dengan wajah garang dan berkacak pinggang di depan pintu.

"Y-Yo, Kakashi-sensei." Sapa Sasuke dengan mengacungkan telapak tangannya.

"Hinata, masuk ambil peralatan sihirmu dan ambil Holy Candle di ruanganku," Hinata dengan cepat mendongakkan kepalanya yang menunduk. Sasuke yang melihatnya hanya mengernyit.

"Apa itu Holy Candle?" tanya Sasuke ketika Hinata berlari masuk kedalam dengan kikuk.

"Sejenis peralatan dari dunia sihir untuk melangsungkan pernikahan. Seorang penyihir hanya bisa memakainya sekali seumur hidup. Kau sudah meminum darahnya, kan?" tanya Kakashi sembari duduk di sofa dan di ikuti oleh Sasuke.

"Kau tahu, sensei? Ah sudah kuduga, pasti bola Kristal. Benar, kan?"

"Kau sudah melakukan dengan tradisimu. Jadi harusnya kau juga melakukannya dengan tradisi kami."

"Setidaknya, kau bisa membuat para Hyuuga tidak bisa berkutik jika Holy Candle menolak Hinata ketika ia tetap dinikahkan dengan Akasuna itu, huh." Sindir Kakashi yang membuat seringai di wajah Sasuke.

.

.

.


MY LOVELY WITCH


MY LOVELY WITCHHACHI BREEZE2013

ORIGINAL CHARACTERNARUTOMASASHI KISHIMOTO

The first MY LOVELY WITCH was2011

Fic lama yang terbengkalai kini dilanjutkan dengan akun yang baru. Repost dengan perubahan dan inovasi baru.

3. Holy Candle (The Holy Promise)

Latest by : Hachibi Yui


.

.

.

Sasuke menutup pintu kamar asramanya pelan. Hinata sudah berada di dalam kamarnya, duduk dengan canggung. Sasuke berjalan mendekati Hinata lalu duduk di hadapan Hinata yang masih menunduk melihat jemarinya yang saling bertautan. Sasuke sedikit berdehem sehingga membuat Hinata tersadar dari pikirannya. Ia membeber kain hitam di atas lantai. Sasuke yang tadinya duduk kini membantu Hinata membeber kain hitam yang berbentuk lingkaran dengan tulisan-tulisan sihir seperti magic circle.

Hinata meletakkan sebuah lilin dengan tiga warna. Hitam, putih, dan merah. Ia menyalakan lilin itu di tengah-tengah kain yang sudah mereka siapkan. Sasuke dan Hinata berjalan mundur ketika Hinata memberi isyarat ke Sasuke. Hinata mengulurkan tangannya ke arah Holy Candle dengan membaca mantra. Bersamaan dengan Hinata membaca mantra, sebuah mantra pelindung tipis muncul dari ketiga warna lilin yang mengitari tiap sisi kain lingkaran hitam. Tulisan sihirpun juga jadi putih menyala, terang mengeluarkan cahaya.

"A-Ayo S-Sasuke-kun. K-Kita mulai."

Sasuke masih terdiam takjub ketika melihat Hinata sudah berada di dalam mantra pelindung yang mengitari kain hitam itu. Tidak bisa dijelaskan. Ketiga warna di lilin itu sudah berubah menjadi abu-abu karena warna yang tadinya di lilin kini telah menjadi pelangi sebagai mantra pelindung yang mengitari kain hitam membentuk kuncup. Hinata berdiri disana masih dengan tersenyum. Perlahan Sasuke memasuki pelindung itu.

"D-Di dunia k-kami, p-penyihir h-hanya b-bisa sekali m-memakai Holy Candle untuk u-upacara sakral seperti ini," Sasuke masih mendengarkan Hinata yang ada di depannya.

"J-Jika k-kami melanggar," Sasuke menatap Hinata yang masih menunduk. "K-Kami akan mati." Lanjut Hinata dengan menatap Sasuke dengan takut. Sasuke berganti memandangi lilin yang ada diantara mereka berdua, memisahkan jarak mereka berdiri.

"M-Merah, u-untuk kesetian. P-Putih, u-untuk kesucian. H-Hitam, untuk k-kematian. Dengan ini k-kuserahkan n-nyawaku untuk upacara suci Holy Candle. J-Jiwaku, h-hatiku, semuanya terikat dengan o-orang ini, Uchiha Sasuke."

Sasuke memandang Hinata yang masih berbicara dengan mantra-mantra yang tak dimengertinya. Ia sedikit tersenyum ketika Hinata memejamkan matanya dengan rona merah ketika menyebutkan namanya. Ia sedikit terkejut ketika tangan kanan Hinata terangkat dengan telapak tangan yang seolah-olah ingin ditempelkan dengan telapak tangannya. Tanpa Sasuke sadari tangan kirinya sudah ia tempelkan ke telapak tangan gadis di depannya. Ketika Hinata sudah selesai dengan mantranya, tulisan sihir di kain yang mereka injak semakin bercahaya. Hinata membuka matanya yang sedari tadi menutup matanya, dengan wajah yang tersipu ia memandang Sasuke. Hinata memberanikan dirinya untuk mendekatkan wajahnya ke arah Sasuke. Sasuke tidak bisa menolak. Ia juga mendekatkan wajahnya ketika wajah Hinata semakin dekat jangkauannya.

Kedua bibir mereka menempel. Mereka berciuman di atas api Holy Candle. Hinata menautkan jemarinya erat di sela-sela jemari Sasuke. Sasuke hanya membalas tautan jemari kecil Hinata dengan lembut. Kedua mata mereka masih terpejam. Mereka masih pada posisi yang sama.

Dan malam itu, kamar asrama Sasuke sungguh bercahaya.

.

.

.

Pagi sudah datang. Seperti pagi-pagi biasanya, Naruto dan Sakura datang lebih awal untuk bermain di kamar asrama Sasuke sebelum masuk sekolah. Karena jarak asrama Sasuke dekat dengan sekolah makanya mereka berdua selalu bermain di kamar Sasuke terlebih dahulu. Asrama di pagi ini terlihat begitu sepi, begitu juga dengan koridor asrama Sasuke. Naruto melangkah dengan bergedik ngeri dan bersembunyi di belakang Sakura. Lorong yang suram, efek-efek seperti rumah hantu mendadak muncul di asrama Sasuke. Itu menurut Naruto.

"Kok rasanya hari ini ada yang berbeda ya? Apa kau yakin akan tetap kesana, Sakura-chan? " tanya Naruto dengan memegang bahu Sakura

" Y-Yakin, h-hei..kenapa jadi kau yang bersembunyi baka! " teriak Sakura dengan menarik tangan Naruto yang ada di bahunya.

Dengan takut, Naruto berjalan di didepan Sakura. Mereka berdua berjalan dengan waspada di lorong gelap asrama Sasuke. Sakura menggenggam tangan Naruto, keringat dingin meluncur dari pelipis keduanya. Tinggal hitungan langkah lagi, tinggal hitungan nomor kamar lagi untuk sampai di asrama Sasuke.

'245, 246, 247, 248. Akhirnya sampai juga di kamar Sasuke.'

Sakura dan Naruto sudah berdiri di depan kamar Sasuke. Kedua mata mereka bertemu ketika mereka merasakan bau yang tak asing. "Bau ini..,"

"Oi Teme! Bangun." teriak Naruto dengan menggetuk pintu tak sabaran.

" Tem- "

" Ohayou," suara lembut yang membuka pintu kecil itu membuat dua manusia yang ada di depan pintu kamar Sasuke hanya mematung.

Mata Naruto dan Sakura sama-sama melotot. Apa pandangan mereka kali ini nyata? A-Apa yang ada di depannya ini benar-benar Sasuke? Seseorang berambut panjang tengah mengucek matanya dan masih dalam kondisi setengah sadar. Dia berdiri ditengah pintu yang terbuka. Memakai baju terusan berwarna putih berenda. Tunggu, jika dilihat dari bentuk lekuk tubuhnya dia bukan lelaki tapi wanita. Ada apa dengan Sasuke hingga terjadi begini. Gadis itu memperhatikan Naruto dan Sakura, lalu menggembangkan senyumnya. Ketika dia tersenyum, dia terlihat begitu...manis.

BLAM

Mereka hendak tersenyum sebelum pintu kamar itu tertutup. Pintu yang tadi terbuka dan menampilkan sesosok dewi tadi kini telah tertutup rapat meninggalkan Naruto dan Sakura yang melongo. Tak lama setelah itu, pintu terbuka lagi dan memunculkan Sasuke yang seperti biasanya.

"Oh kalian? Ayo masuk,"

Naruto dan Sakura hanya begong. Apa yang terjadi barusan, bukankah yang berdiri didepannya adalah seorang gadis yang cantik. Kenapa berubah lagi menjadi Sasuke yang berantakan.

"Kembalikan dia! Apa yang kau lakukan padanya barusan?! Cepat kembalikan malaikat itu!" Sakura mulai menggoyangkan-goyangkan pundak dan kepala Sasuke, memaksa Sasuke untuk mengembalikan sosok 'itu'.

"Siapa dia Teme! Cepat jawab!" kali ini Naruto ikut-ikutan dengan mengintip isi kamar Sasuke dan akan menerobos. Sasuke mendorong wajah Naruto menjauh dari area kamarnya yang berniat ingin mengintip ke dalam. Dan yah, posisi mereka kini sudah saling mengunci pergerakan di depan pintu.

.

.

.

Sudah hampir sepuluh menit mereka dalam posisi yang sama, saling mengunci pergerakan. Sasuke masih mendorong wajah Naruto sementara lehernya masih dicekik Sakura.

"S-Sasuke-k-kun," suara lembut itu memecahkan keramaian yang terjadi di depan kamar asrama Sasuke. Sontak semua yang ada di depan kamar Sasuke menghentikan kegiatan 'mengunci' mereka.

"Hinata,"

"Hinata?" ulang Naruto dan Sakura.

Naruto dan Sakura melepaskan kedua tangan mereka dari Sasuke lalu langsung masuk tanpa ijin. Mereka berdua duduk memperhatikan Hinata. Hinata yang merasa tidak nyaman dengan kedua teman Sasuke ini, hanya bisa diam dan memerah.

"Dia manis Teme, dapat darimana?"

"Jaga bicaramu. Dia ini gadisku, pengantinku." kata Sasuke dengan menarik Hinata kedalam pelukannya.

"HAH?! PENGANTIN?! SEJAK KAPAN?!" teriak Sakura dan Naruto tak percaya.

"Semalam." dengan enteng Sasuke menjawabnya dan tak lupa disertai kecupan di dahi Hinata.

Tok Tok Tok

Pndangan mereka berempat beralih ke arah pintu yang baru saja bersuara. Sasuke melepaskan pelukannya dari Hinata dan berjalan menuju pintu untuk menyambut orang di depan pintu. Hinata masih menundung canggung melihat kedua teman Sasuke yang masih saja memperhatikan dirinya. Naruto walaupun masih tidak percaya, dia masih memandang Hinata dengan serius. Sementara Sakura yang memandang Hinata hanya sedikit meremas tangan kanan Naruto yang ia peluk.

'Jadi benar,'

"Yo! Kalian rajin sekali sudah ada disini semua." sapa orang yang baru masuk ke kamar Sasuke dengan mengangkat tangan kirinya bermaksud menyapa. Sedangkan tangan kanannya menggenggam sesuatu dan dimasukkan kedalam saku celananya. Sasuke berjalan di belakang Kakashi menguap dengan mengacak-acak rambutnya yang semakin berantakan.

"Sensei? Ada apa?" tanya Naruto langsung berdiri sehingga tangan Sakura yang melingkar di lengannya pun terjatuh.

"Tidak sopan menjawab sapaan guru seperti itu," Kakashi berjalan melewati ke empat orang yang masih diam memperhatikan guru ini mencari kursi. "Kalian berisik pagi-pagi sehingga sampai kedengaran dari rumahku." Tambah Kakashi dengan mendudukkan dirinya di kursi yang tak jauh dari mereka memandangi dirinya.

"Oh ya, aku ingin memberikan ini kepada Hinata. "

"G-Gakuen?" Hinata membaca buku saku yang sudah ada gambar wajahnya. Kakashi hanya tersenyum dibalik maskernya ketika Hinata seakan bertanya tentang buku kecil yang baru saja ia berikan.

"T-Tapi i-"

"Aku akan menjadi wali kelasmu. Jangan khawatir, ngomong-ngomong. Semua orang yang ada disini akan menjadi temanmu. Dan mungkin kau akan mendapatkan kejutan disana. Jaa ne."

"Hinata akan satu kelas dengan kita?! Kyaa, senangnya. Baru ketemu hari ini sudah akan jadi satu kelas! Jadi aku teman pertamamu ya, ayo sini.." Sakura menarik tangan Hinata ke ruang tamu kamar Sasuke. Naruto masuk ke kamar mandi yang tak jauh dari ia berdiri tadi ketika Kakashi berjalan keluar di ikuti dengan Sasuke yang ada dibelakangnya.

"Seingatku, klan Hyuuga memiliki kekuatan sihir yang hebat. Sebagai ahli sihir, dulu saat aku di dunia sihir, aku mengacungi kehebatan mereka. Kurasa, kau butuh banyak teknik untuk melunakkan hati mertuamu nanti." kata Kakashi saat Sasuke ada dibelakangnya untuk mengantarkan Kakashi keluar.

" Keh, itu bisa di atur. Yang terpenting, Hinata selalu ada disisiku saja itu cukup." jawab Sasuke dengan menyunggingkan seringainya.

Setelah Kakashi menghilang di balik pintu, Sasuke masih terdiam memandangi kepegian Kakashi. Ia menutup pintu kamarnya dan berbalik masuk kedalam. Sasuke memandangi Hinata yang dengan serius memperhatikan Sakura menjelaskan tentang Konoha High School. Dipandanginya lekat-lekat wajah imut itu, sangat lucu ketika menirukan Sakura yang bersemangat. Perlahan, Sasuke tersenyum. Bahunya perlahan juga bergetar karena tawanya tiba-tiba meledak saat melihat Hinata menggembungkan pipinya mengikuti Sakura. Baru pertama kali ini Sasuke bisa tertawa seperti ini. Sasuke berusaha menenangkan dirinya dengan menutup mulutnya dan bernafas panjang. Sasuke tak memperdulikan Naruto yang baru keluar dari kamar mandi dan memperhatikan tingkah Sasuke yang aneh saat memandangi Hinata.

"Menarik bukan?"

"Apa maksudmu?" Sasuke berusaha tenang. Ekspresi biasanya kembali muncul dan tawanya tadi kini telah menghilang entah kemana.

"Mereka, para wanita itu. Mereka menarik bukan?" tanya Naruto dengan senyuman khasnya menunjuk kea rah Sakura dan Hinata.

"Bagiku, hanya Hinata yang menarik. Dan aku takkan mau kalah untuk mendapatkan Hinata dari Akasuna." jawab Sasuke lirih. Naruto yang ada di sampingnya saja tak bisa mendengarkan gumaman Sasuke barusan.

"Apa?" tanya Naruto memastikan.

"Tidak ada. Minggir aku mau mandi." jawab Sasuke dengan berjalan menuju ke kamar mandi.

.

.

.

Di kediaman Hyuuga kali ini terlihat sepi, tak seperti biasanya. Tapi tidak untuk ruangan tersendiri Hanabi. Hanabi bingung untuk mengantisipasi kecurigaan sepupunya, Neji. Belum lagi jika Neji akan menanyakan langsung ke teman-teman Hinata, bisa-bisa Hanabi akan mendapatkan hukuman membersihkan halaman tanpa mantra sihir. Tapi terlebih itu, Hinata pasti akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat jika semua ini terbongkar. Beban ini terlalu berat untuk Hanabi tanggung sendiri.

Neji yang ada di halaman belakang masih dengan setia mengawasi Hanabi. Dengan menyeduh teh hangatnya, matanya terus menuju ke arah kamar Hanabi. Mata klan Hyuuga mendapat anugrah sihir yang luar biasa. Mata itu mempunyai kemampuan melihat sesuatu yang jauh dengan sangat rinci. Begitu pula dengan Neji, saat ini dia sedang mengawasi Hanabi dari halaman belakang. Dapat dilihat oleh Neji jika Hanabi sedang mengacak-acak rambutnya dan berlari-larian di dalam kamarnya, Neji hanya bisa menyeduh tehnya dengan memijit pelan pelipisnya. Sepertinya memang ada yang disembunyikan Hanabi darinya.

"Neji!" dari pintu halaman belakang dapat dilihat Ten-Ten, tunangannya, masuk dengan membanting pintu halaman belakang di sertai tawa yang mengembang. Neji yang duduk di beranda halaman belakang dekat pintu langsung menyemburkan teh yang telah di sesapnya barusan.

"Uhuk uhuk! Apa yang kau lakukan?!" Neji membalikkan badannya menatap Ten-Ten yang masih tertawa innocent. Padahal beberapa bulan lagi ia akan menjadi bagian dari klan Hyuuga juga.

"Aku datang membawakan ini," jawab Ten-ten dengan membawa karung. Perlahan, Ten-Ten membalikkan karung tersebut dan menjatuhkan barang-barang sihir.

"Apa ini?" tanya Neji dengan mengambil satu di antara sekian banyak barang sihir yang dibawa Ten-Ten.

"Oh, itu? Itu adalah ramuan sihir terbaru, aku tak ingat pasti namanya apa tapi yang kutahu cairan itu bisa menghapus ingatan seseorang. Kalau tidak salah sih namanya Opprum Disappearproom." jelas Ten-Ten dengan meletakkan telunjuknya di depan mulutnya seperti berfikir mengingat nama cairan bening yang di pegang Neji.

"Lalu? Kau dapat ini semua darimana?" tanya Neji dengan memilah-milah lagi barang sihir baru yang dibawa Ten-Ten.

"Ini kudapat dari gudang yang pernah dipakai The Lord untuk menyimpan sesuatu. Lalu tanpa sengaja aku menemukan resep cairan ini yang sepertinya diracik sendiri oleh The Lord sebelum beliau turun ke dunia manusia." tunjuk Ten-Ten dengan mengambil cairan bening itu dari tangan Neji.

"Intinya kau mencuri?" Neji menatap Ten-Ten yang gelagapan bingung menjawabnya.

"B-Bukan! Keluargaku dan keluarga The Lord itu dekat. Karena gudang yang dipakai The Lord saat itu adalah milik keluargaku maka jika sudah tidak dibutuhkan kan bisa aku ambil!" bantah Ten-Ten dengan melempar sebotol cairan berwarna hijau yang masih tersegel.

"Jadi, kau membuatnya sendiri dengan melihat dari racikan The Lord?"

"Ya memang begitu!"

Ten-Ten terus menjelaskan satu persatu barang kepada Neji sedangkan Neji hanya mendengarkan dengan ekspresi yang datar. Matanya kembali tertuju ke kamar Hanabi tapi ada satu hal yang membuatnya tertarik dari penjelasan Ten-Ten dan membuatnya berhenti mengawasi kamar Hanabi.

"Neji-kun, aku punya hal yang sangat bagus untukmu." Neji hanya melirik Ten-Ten yang masih mengobrak-abrik barang dalam karung.

"Lihat, ada formula sihir baru untuk membuat rambut panjang lebat, bersinar dan cemerlang!" lanjut Ten-ten

SSSRRRIINNGGG.

Mata Neji yang awalnya menuju ke arah kamar Hanabi kini beralih ke Ten-Ten, lebih tepatnya ramuan sihir biru yang ada di botol genggaman Ten-Ten. Mata Neji yang awalnya sayu kini berbinar-binar dan bersinar. Bibirnya yang semula tanpa senyuman, kini membentuk sebuah lengkungan yang sangat lebar di wajahnya hingga menampakan senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain. Dengan sangat bangga dia memeluk Ten-Ten dan membaca formula sihir rambut tersebut.

.

.

.

Sudah jam delapan pagi. Pelajaran sekolah sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Selama di sekolah, Sasuke terus saja menggenggam tangan Hinata. Selain itu, semua fansgirl Sasuke langsung berteriak histeris dan pingsan melihat pemandangan itu.

Sebelum pelajaran dimulai, Kakashi meminta Hinata untuk datang ke ruangannya tanpa di ikuti Sasuke maupun Naruto dan Sakura. Hinata bisa merasakan aura sihir yang kuat dari ruangan Kakashi. Kakashi duduk di kursi dan masih tersenyum ke arah Hinata yang berdiri di depan pintu. Ya, kali ini Kakashi memberi sihir pelindung kedap suara pada ruangannya agar memperaman pembicaraannya. Memberi antisipasi kepada Sasuke yang nantinya akan menguping.

Kakashi mempersilahkan Hinata untuk duduk di kursi yang berseberangan dengan dirinya. Hinata duduk dengan takut-takut. Kakashi tahu jika putri sulung Hyuuga itu sangat pemalu jadi Kakashi maklum jika Hinata selalu menunduk. Hinata duduk dibantalan kursi yang sangat empuk dan hangat. Dengan berani Hinata mencoba menatap mata Kakashi dengan gugup.

"Tak perlu begitu. Dengarkan aku, di dunia manusia ini kau tak bisa bermain sihir sesukamu dan kau tak boleh mengeluarkan sihir di dalam kelas ataupun di daerah sekolah. Aku hanya mengijinkan jika kau dalam keadaan mendesak. Mengerti, Hinata?"

"M-Mengerti K-Kakashi-sensei."

"Mengenai kau menjadi pengantin Sasuke, kurasa lebih baik kau tidak boleh lepas darinya karena kurasa jika kau lepas darinya mungkin saja ada vampire lain yang akan membunuhmu. Dan aku tak mau ada penyihir murni seperti kau mati oleh vampire yang sama akan membunuh Sasuke." jelas Kakashi dengan bersandar ke bantalan kursinya.

"Baik." kali ini Hinata menjawab dengan mantap dari penjelasan Kakashi.

"Ah, aku baru ingat, ini baru pertama kalinya kau ke dunia manusia, kan? Kurasa kau akan menemukan teman yang sama denganmu disini,"

"T-Teman? Benarkah?" Kakashi hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Hinata.

"Banyak penyihir yang melakukan perjalanan ke dunia ini dan mungkin tak mau kembali. Lebih baik kau cari sendiri dan sekarang kau boleh kembali," perintah Kakashi dengan mengibas-ibaskan tangannya menandakan Hinata boleh keluar.

" Arigatou sensei," jawab Hinata dengan berdiri dan membungkuk hormat sebelum menuju pintu.

"Tunggu, Hinata?" Hinata menghentikan langkah kakinya dan masih menghadap pintu kayu ruangan Kakashi.

"Apa yang akan kau lakukan jika ayahmu menarikmu kembali ke dunia sihir dan berpisah dengan Sasuke?" satu pertanyaan retoris Kakashi yang membuat Hinata menghentikan pergerakan jemarinya yang hendak membuka kenop pintu. Ia masih diam di tempat tak bergeming sedikitpun .

.

.

.

Sasuke telah menunggu lama di depan pintu ruangan Kakashi. Gadisnya masih belum keluar juga padahal pelajaran sudah dimulai tapi kenapa Hinata masih ada di dalam bersama Kakashi. Tak lama setelah itu, pintu ruangan Kakashi bergerak dan memunculkan Hinata yang keluar dengan wajah yang seperti biasanya. Lorong kelas dan ruangan kali ini nampak sepi hanya ada beberapa orang yang masih lalu lalang melewati koridor itu. Sasuke menarik Hinata dan pergi meninggalkan ruangan Kakashi. Tepat seperti dugaan Kakashi, Sasuke menunggu Hinata di depan pintunya hanya untuk menunggu Hinata atau mungkin ingin mendengar dari luar. Sihirnya tidak sia-sia.

"Apa yang baru saja kalian bicarakan di dalam?" selidik Sasuke dengan mendempet tubuh Hinata ke arah tembok.

"T-Tidak ada." jawab Hinata dengan rona merah di wajahnya ketika jarak di antaranya dengan Sasuke hampir hilang..

"Kau tak berbohongkan, Hinata? "

"Ya. Kakashi-sensei hanya menyuruhku untuk tetap ada di dekatmu saja."

"Baguslah," jawab Sasuke dengan memejamkan matanya.

"A-Ano Sasuke-kun, i-itu j-jam pela-"

"Hinata, aku..haus." kata Sasuke seraya membuka matanya yang kini telah berubah menjadi warna merah seperti darah. Matanya memandang jemari yang ia lilitkan di antara helaian rambut Hinata.

"E-Eh ? K-K-Kenapa di saat s-seperti ini Sasuke-kun?" Hinata semakin merapat ke dinding dan memejamkan matanya ketika Sasuke membuka kerah baju hingga menampilkan lehernya yang putih.

"Sidikit saja," pinta Sasuke dengan menghimpit Hinata dan mempersempit jarak di antara mereka.

Taring-taring vampire nya telah keluar dan siap meminum lagi darah dari Hinata. Hinata hanya bisa memejamkan matanya, rasa sakit seperti waktu itu pasti akan ia rasakan lagi. tas yang ia pegang langsung jatuh ketika taring Sasuke telah menembus kulitnya. Rasanya, darah yang ada di tengkuknya mengalir keluar dari permukaan kulitnya.

"E-Engh, S-Sasuke-kun..sudah c-cukup," pinta Hinata dengan mendorong sedikit dada bidang Sasuke.

"Hei Sasuke, kenapa pagi-pagi sudah mesum? Eh?" seorang pemuda berambut hitam legam dan bermata onyx sama seperti Sasuke, kulitnya pucat dan senyuman selalu saja terukir diwajahnya. Dibelakangnya, ia di temani seorang wanita cantik berambut pirang. Matanya biru seperti langit. Sasuke yang terkejut langsung melepaskan taringnya di tengkuk Hinata dan melihat temannya yang tak kalah berisiknya dengan Naruto.

"Hey! Apa yang kau lakukan?" kali ini sang gadis dengan tertawa memukul bahu Sasuke walaupun itu bermaksud menyapa sang pangeran sekolah itu. Sasuke masih menyeka darah Hinata yang ada di daerah mulutnya.

"Kalian berdua jangan ganggu aku! Menge-"

"Sai-kun? Ino-chan?" kali ini Hinata bersuara dan memastikan bahwa dua orang yang ada di samping Sasuke adalah dua orang yang baru saja ia sebutkan. Sasuke tak percaya jika Hinata mengenal kedua orang yang baru ia temui hari ini. Sedangkan dua orang yang di panggil Hinata hanya bisa membulatkan matanya dan terkejut.

"H-Hinata? Ini sungguh kau? Kenapa kau bisa ada disini?" Ino langsung memeluk Hinata yang masih memegang tengkuknya sedangkan Sai hanya mendekat dan mengelus ujung kepala Hinata. Sasuke yang awalnya tak mengerti hendak mendekati mereka tapi tertahan oleh Sai.

"Kau lupa jika kami berdua ini adalah penyihir, Sasuke? Tentu saja kami mengenalnya karena kami bertiga adalah teman di dunia sihir." Sai tersenyum lembut ketika mengelus lembut ujung kepala Hinata yang masih dalam pelukan erat Ino.

Ya, kali ini Sasuke baru saja ingat hal tersebut. Ia lupa segala hal gila yang dilakukan pasangan yang satu ini, pasangan ini sangat menyukai ketinggian. Dulu ketika pertama kali mengenal mereka, Sasuke terkejut karena mereka berdua baik-baik saja setelah melewati fly high yang telah membuat banyak anak muntah. Sasuke tahu jika Sai dan Ino adalah penyihir, penyihir yang pindah dari dunia sihir ke dunia manusia. Sejak saat itu, Sai, Ino dan Sasuke saling menjaga rahasia dan membantu satu sama lain dengan sihir ataupun cara manusia. Tak lupa Kakashi yang selalu membantu mereka bertiga dari belakang.

Sasuke hanya diam melihat Hinata mulai menangis di pelukan Ino, begitu juga dengan Ino, tak jauh beda dengan keadaan Hinata. Sai yang ada disamping kedua gadis yang sama-sama menangis ini hanya bisa tersenyum tipis. Senyuman yang berbeda untuk kali ini, kali ini Sai terlihat tulus untuk tersenyum. Sasuke tetap diam sebelum ia ingat akan pelajaran yang sudah dimulai.

"A-Aku t-tidak menyangka b-bertemu Ino-chan dan S-Sai-kun. Ku-Kupikir kalian h-hilang setelah b-berpisah di pondok i-itu. T-Tapi kalian ti-tidak pernah datang, bahkan ketika aku s-setiap hari datang k-kesana." Hinata masih mengusap air matanya ketika Ino melepaskan pelukannya.

"Ah, waktu itu." Sai mengingat-ingat lagi ketika Ino sudah memeluk erat Hinata lagi.

"Sudah-sudah jangan terlalu erat mencekik pengantinku Ino." jelas Sasuke dengan menarik Hinata dari pelukan Ino dan mengusap air mata Hinata yang membasahi wajah cantik gadisnya.

"A-Apa?! Pe-Pengantin?!" Ino dan Sai sama-sama tercekat dengan penjelasan Sasuke barusan. Sasuke hanya mengangguk dan memeluk Hinata lebih erat. Hinata sendiri masih menghapus sisa air matanya yang ada di pipi, selain itu, Hinata juga menutupi wajahnya yang memerah.

"S-Sejak kapan?" tambah Ino tak puas dengan jawaban Sasuke.

"Kemarin,"

"T-Tapi, Hinata..lalu Sasuke..kan me-"

"Kita bicarakan nanti. Kami sudah sangat terlambat memasuki kelas." kata Sasuke dengan membawa lari Hinata meninggalkan Ino dan Sai yang diam tak bergeming. Sai sedikit mengelus rambut pirang Ino ketika gadis itu mulai menangis dalam pelukannya.

Sasuke dan Hinata berlari ke kelas mereka untuk mengejar jam pelajaran pertama yang sudah sangat tertinggal . Sasuke masih setia menggenggam tangan Hinata dengan hangat, sedangkan Hinata masih menunduk.

"Kenapa?" tanya Hinata pada akhirnya dengan menarik kembali tangan Sasuke agar mereka berhenti.

"Hn?"

"Kenapa m-mereka juga bisa ada di-disini?"

"Tujuh tahun yang lalu, mereka baru saja pindah kemari dan aku juga tak tahu mengapa mereka berdua pindah kemari. Yang kutahu adalah mereka pindah kemari bersama keluarga mereka. Tidak kabur sepertimu." jelas Sasuke dengan mengelus perlahan jemari Hinata.

"A-Apa mereka juga vampire hunter?" tanya Hinata dengan takut menggengga erat jemari Sasuke.

Sasuke terkejut, Hinata mengkhawatirkan dirinya. Keterkejutannya itu ia simpan dan ia ganti dengan sungginggan senyum yang manis di wajahnya. "Kau mengkhawatirkan aku?" tanya Sasuke dengan mengangkat dagu Hinata agar ia bisa melihat uniknya mata Hinata.

"Ya." jawab Hinata dengan malu-malu dan di akhiri dengan tundukkan kepala yang dalam.

Sasuke menarik Hinata ke pelukan hangatnya. Sasuke baru kali ini merasa senang dalam hidupnya, tak seperti yang sebelum-sebelumnya. Pelukannya yang ini terasa hangat dan menenangkan sama seperti pelukan Okaasan-nya dulu. Sasuke tak ingin melepaskan pelukan ini, rasanya ia ingin terus bersama dengan Hinata dalam kondisi seperti ini.

"Kau tenang saja, tak perlu khawatirkan aku. Mereka bukan vampire hunters, mereka sama sepertimu,kan? Kau pasti tahu itu, tetap sebagai penyihir murni tidak menjadi vampire hunters, mengerti?" tanya Sasuke masih dalam keadaan berpelukan dengan Hinata. Hinata hanya mengangguk dalam dekapan Sasuke. Tangan mungilnya yang semula berada di samping badannya kini mulai bergerak membalas pelukan Sasuke namun Hinata batalkan dan mengganti melepaskan pelukan hangat Sasuke.

"K-Kelasnya!" pekik Hinata mengingatkan Sasuke. Kembali berlari-lari lagi. Karena peraturan sihir tak dapat dibantah.

.

.

.


T.B.C