Chapter 3: Apppa?
Akhirnya Noah sama Springbirth memutuskan untuk jadi mata-mata. Mereka pun terus ngebuntutin Dogan ke mana-mana. Sampe suatu ketika, mereka ngikutin Dogan yang lagi jalan ke arah pantai sambil bawa buket bunga (bunga mawar, biasa) di iket pake pita item. Keliatannya dia mau pergi ke suatu tempat alias mau nemuin kecengannya. Maka Noah sama Springbirth pun nggak melepaskan pandangan mereka dari cowok yang sedang berbunga-bunga karna jatuh cinta itu.
"Nyampe ke Gaia Woods berapa, mang?" Tanya Dogan ke si mang-mang yang punya kapal yang lagi bertengger di pantai itu (sekarang sih emang nggak ada yang gratis. Beda sama waktu masih ngejalanin misi).
"HHmmm…" Si mang itu mikir dulu. "…500 GP. Itu udah diskon lho! Biasanya sih 1500 GP." (Gila!)
"Oke." Kata Dogan sambil merogoh-rogoh sakunya. Nggak lama kemudian dia ngeluarin sesuatu. "Nih." Katanya sambil ngasih uang 1000 GP ke mang-mang itu. "Kembaliannya ambil aja."
"Sip. Ayo naik."
Setelah itu Dogan pun ngikutin si mang-mang tadi naik ke atas kapal itu.
"Ke Gaia Woods?" Tanya Springbirth yang lagi sembunyi di balik semak-semak bareng Noah. "Ternyata kecengan Dogan ada di Gaia Woods, ya?"
Tapi Noah keliatan agak ragu sama Springbirth. Nggak mungkin ada cewek yang mau tinggal di hutan yang selalu kedatangan badai salju dahsyat. "Ato nggak dia cuman lewat aja ke Gaia Woods tapi sebenernya kecengan dia tuh tinggal di desanya Reinade. Bisa aja kan?" Akhirnya Noah ngasih pendapat lain. Namun tiba-tiba suatu pemikiran yang tidak menyenangkan melayang-layang dibenaknya.
Desa Reinade… de… de… (ceritanya ada gaung)
Desa Reinade… de… de…
Desa Reinade… de… de…
Reinade… de… de…
Reinade… de… de…
Reinade… de… de…
Karena kata-kata itu terus melayang-layang di benak Noah, akhirnya Noah pun sadar akan sesuatu.
"OH NOOOO!" Noah teriak tiba-tiba. Suaranya keras banget sampe membuat Springbirth menjerit kaget.
"IIIHHH! Lo apa-apaan sih? Kaget tau!" Springbirth kesel banget karena Noah tiba-tiba menjerit di deket telinganya.
"Reinade! Reinade! Jangan-jangan kecengannya Dogan tuh Reinade! Reinade!" Bentak Noah sambil mengguncang-guncang tubuh Springbirth.
"Maksud lo Reinade selingkuh gitu?" Springbirth nanya dengan nada datar.
"Ya emang siapa lagi yang ada di sana? Warga desanya Reinade kan udah pada mati semua! Masa Dogan ngeceng Turbo? (anjingnya Reinade) ato masa Dogan ngeceng Yanoka? Nggak mungkin 'kan?" Noah keliatan stress banget.
"Tenang bos Tenang! Nggak usah stress gitu! Kita kan bisa nyusul Dogan dan nyari tau apa Reinade itu bener selingkuh ato ngga?" Kata Springbirth sambil nepuk-nepuk kepala Noah. Moga-moga aja dengan itu Noah bisa normal lagi.
"Haahh…" Noah pun tarik napas dalem-dalem 3 kali. "… Iya… Bener… Tenang… tenang…" Katanya nenangin diri sendiri.
"Lagian kita kan bisa langsung nyampe di desanya Reinade pake tongkat sihir punya gue! Pokoknya problem solved deh!" Kata Springbirth mengacungkan tongkat sihirnya dan mengacungkan jempolnya pake tangan yang satu lagi.
Noah cuman senyum (ganteng banget, gila! 0) dan jelas-jelas setuju sama idenya Springbirth.
Sadar kalo Noah udah nggak sabar untuk menguak kebenaran, Springbirth pun mulai mengayunkan tongkat sihirnya kemudian mengucapkan sepatah dua patah kata (lagi) dan langsung ada cahaya yang muncul dari tongkat itu. Untuk yang kedua kalinya, Noah dan Springbirth pun menghilang secara misterius dan mereka pun sampai di suatu tempat.
Tapi kayaknya itu bukan tempat yang mereka harapkan, deh…
TRING!
Noah dan Springbirth tiba di sebuah tempat berpasir yang warnanya cokelat-cokelat muda pucet gitu, ada banyak pohon kelapa, banyak tebing-tebing, banyak ninja, ada gunug merapi tempat Ifrit sama Queen Jinn tinggal, dan nggak ada salju sama sekali.
Intinya, mereka sampai di dessert dan bukan di Gaia Woods.
"Puaaannnaaasss…." Gerutu Springbirth sambil ngipasin lehernya pake tangan.
Noah langsung stress lagi waktu sadar di sana nggak ada udara dingin sama sekali. "Kok kita malah di dessert, sih?" Bentaknya sambil muncrat-muncrat. "Ah! Elo! Ntar Dogannya keburu pulang dari Gaia Woods!"
Springbirth tiba-tiba ikut kepancing emosi juga. "Sabar mas!" Bentaknya tapi nggak sampe muncrat-muncrat. "Harusnya elo tuh sukur sihir gue nggak ngebawa kita ke istananya Elvira!"
Noah pun nggak membalas kata-kata Springbirth. Tentu saja Noah setuju dengan bentakan Springbirth barusan. Emang lebih baik nyasar ke dessert dari pada nyasar ke istananya Elvira.
Dan akhirnya kesunyian pun menyelimuti mereka.
Namun beberapa saat kemudian Noah bersuara.
"Ya udah. Cepetan pake sihir lo lagi biar kita cepet sampe Gaia Woods."
Springbirth pun mencoba mengayunkann tongkatnya dan baca mantera lagi. Tapi bedanya, kali ini nggak ada apapun yang keluar dari tongkat sihir punya anonymous wizard itu. Terus Springbirth nyoba mengayunkan tongkat sihirnya lagi tapi tetep nggak ada rekasi apa-apa.
"Kok nggak nyala?" Kata Springbirth sambil mukul-mukulin tongkatnya ke tangan. "Noah, nggak nyala lho tongkatnya!"
"APPHAA?"
"Iya! Nih, liat!" Springbirth membuktikan kata-katanya sama Noah.
"AAKKHH!" Noah teriak sambil ngacak-ngacak rambutnya sendiri. " Terus gimana cara kita ke Gaia Woods? Kalo pake perahu, gue nggak punya uang! Dan gue yakin lo juga nggak punya!"
Springbirth kaget karena Noah tau keadaan dompetnya. "Dari mana lo tau kalo gue nggak punya uang?"
"Firasat gue yang bilang gitu!"
"Oh." Springbirth membalas kata-kata Noah datar. "Wah, hebat."
Akhirnya setelah mereka berdua kebingungan nyari cara supaya bisa sampe ke Gaia Woods, Noah mendengar suara seseorang di belakangnya dan merasakan ada yang menepuk bahunya.
"Noah 'kan?" Tanya suara itu.
Noah pun berbalik. Springbirth juga.
"Lho? Fierro?" Kata Noah yang kaget karena ketemu sama temen yang udah lama nggak dia temuin. "Hei, pal, apa kabar?" Noah menjabat tangan Fierro.
"Haha… baik… baik… Elo gimana?"
"Sama. Eh, gimana Josefine, Jira, sama Master Yuri?"
"Ya… mereka juga baik-baik kok…" Setelah itu mata Fierro berpaling ke Springbirth. "Ini siapa?" Tanyanya.
"Springbirth." Jawab Noah.
Springbirth pun salaman sama Fierro.
"Eh, mau mampir ke dojo? Kebetulan di sana dayang-dayangnya (emang ada?) lagi masak yang enak-enak lho!" Ajak Fierro.
Noah keliatan keberatan. Kalau Springbirth, sih, cuman diem ngeliatin Fierro kayak ada sesuatu yang aneh dari ninja itu.
"Ng… nggak usah, deh." Tolak Noah sambil berusaha untuk nggak nyakitin perasaan Fierro. "Lagian sebenernya kita di sini nggak lama-lama kok. Baru aja mau pergi." Dia bohong.
"Oh." Fierro keliatan agak kecewa. "Okeh, nggak apa-apa sih… Ya udah kalo gitu. Gue ke dojo dulu ya! Udah laper, nih. Ciao!" Setelah itu Fierro ngilang kayak ninja betulan (bukannya dia emang beneran ninja?).
Noah pun kembali berpaling ke arah Springbirth yang lagi bengong sambil mangap ngeliatin arah pergi Fierro.
"Oi, oi!" Noah menggerak-gerakkan tangannya di depan muka Springbirth. "Kok bengong, sih?"
Springbirth tiba-tiba sadar. "Hah?" Katanya.
"Ayo cepet pake sihir lo lagi buat ke Gaia Woods!"
Tapi Springbirth malah ganti topik pembicaraan secara tiba-tiba. "Fierro itu…" Katanya sambil ngeliat ke arah Fierro pergi lagi. "… tiap saat dia suka pake topeng kayak gitu, ya?"
Noah pun mengangkat sebelah alisnya. "Ng… yah… kira-kira gitu, deh…" Dia jawab sambil garuk-garuk kepalanya.
"Gue penasaran kayak apa wajah Fierro yang asli…" Kata Springbirth dengan wajah yang menunjukkan ekspresi curiga (kok curiga, ya? Pokoknya matanya di sipit-sipitin gitu, deh)
"Iya, iya, tapi sekarang kita punya misi yang harus diselesein dulu di Gaia Woods."
Springbirth menggeleng pelan. "Nggak…" Katanya dengan suara datar. "Gue lebih pengen ngeliat wajah asli Fierro ketimbang tau siapa kecengan Dogan ato apa Reinade selingkuh ato nggak…"
"AH! JANGAN DONG!" Bentak Noah. "Gue nggak bisa pergi ke Gaia Woods sendirian.
Springbirth meringis. "Lo kan udah gede! Pergi aja sendiri!"
Akhirnya Noah dan Springbirth pun adu mulut selama beberapa dekade lagi.
Ck ck ck ck... Dasar cerita GeJe! Tapi terus ikutilah kelanjutannya! ;D
