Protect The Princess #3

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: Fiction T

Pair: Naruto & Hinata (NaruHina)

Genre: Romance, Hurt, Love, Action + supranatural, mistery (mungkin)

Maaf ya, kalau tidak bekenan di hati mohon maaf,,,,...

yahh maklum ini kan FanFic pertama saya. Jika ada kesamaan Judul, Ide, Latar, Setting, dll dengan Author dan Admin lain nya ini hanya fiktif belaka yang muncul dari otak saya yang paling dalam dan sedikit agak terbentur tadi...

#Plakk XD

T^_^T

By : Rifvany Hinata-chan

Warning : Typos, OOC, Jika tidak suka,,Jangan membaca!..bisa mengakibatkan kerusakan pada...

Yosshhh...Lama Amat!,,,,,,

Now, Happy Reading! :D

.

.

.

.

.

Capther #3

Naruto terus menatap Hinata yang terlelap dengan wajah putih pucat, serta hampir seluruh tubuhnya tenggelam dalam selimut miliknya. Naruto mendekat dan duduk dibibir kasur dan punggung tangannya menyentuh dahi Hinata.

Hinata dapat merasakan tangan lembut yang menyentuh dahinya. Sentuhan itu membuat kedua iris Lavendernya terbuka perlahan. Hinata memperhatikan sekelilingnya, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan itu. Dia berada di kamarnya sendiri.

Hinata mengerjap saat melihat Naruto yang tengah berdiri melihat dirinya disamping kasurnya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Wajah pucat Hinata langsung memerah.

"eh?" Lirih Hinata sembari bangun untuk duduk di atas kasurnya,

"Kau masih demam. Istirahat dulu." Suara Naruto memecah keheningan sesaat.

"Ta..tapi ano, kenapa a..aku bisa ada di ka..kasur ku?" Tanya Hinata sedikit gugup.

"Apa kau tidak ingat," Naruto mentipitkan matanya tampak seulas senyum tipis mengukir di wajahnya yang datar.

"Kau pingsan." Ucapnya lagi mencoba mengingat kan Hinata.

Mau tidak mau Hinata harus mengingat kembali bagaimana ia bisa berada di kamarnya sendiri, kemudian tiba tiba wajahnya yang oucat memerah seperti tomat, lantas Naruto langsung bergerak dan menyentuh dahi Hinata.

"Wajah mu merah." Naruto terkekeh. Hinata tergelak dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain karena dia tersipu malu.

"Kawaii ne," gumam Naruto masih terdiam.

"A..ano, mengapa Naruto-senpai bi..bisa ada di ka..kamar ku?" Tanya Hinata malu malu.

"Tidak suka ha?" Naruto mengernyit. Tersirat nada bercanda dari ucapannya.

"eh?"

"Kalau begitu aku pergi saja" Ucap Naruto.

"eh.."

"e..ehm. ti..tidak apa apa ji..jika Naruto-senpai ingin di..di sini" Kata Hinata terbata-bata, menundukkan wajahnya sambil memainkan kedua jari telunjuk nya di depan dada.

Naruto terkekeh tidak jelas. Dia berjalan dan duduk dibibir kasur Hinata, lalu sedetik kemudian Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata.

"Bilang saja ingin berduaan denganku." Goda Naruto disertai senyum simpulnya.

Hinata terbelalak, dia terkejut. Ia mengerjap dua kali dan menggeleng. "Ti..tidak." Hinata mengeleng ragu, dia melihat pria itu tersenyum kecil setelah itu menjauhkan wajahnya dari Hinata.

Naruto dapat melihat wajah Hinata merona lagi. Dia senang karena ada seorang gadis yang merona karena dirinya.

Dibalik itu semua Naruto mempunyai kewajiban untuk melindungi nya. Melindungi Putri Hyuga ini.

Naruto mengalihkan pandangan nya pada kalung yang menggantung di leher jenjang Hinata. Matanya tidak bisa lepas dari benda yang teletak ditengah kalung itu.

Kalung itu yang telah menghubungkan misinya dengan Hinata. Perasaan ingin memiliki wanita ini muncul ketika kilatan cahaya yang berasal dari benda itu mencul, sehingga menyilaukan matanya.

"Na..naruto-senpai" Suara Hinata yang lembut kembali mengambil alih pikirannya. Naruto menyadari sepasang mata Lavender kini tengah menatap dirinya. Namun, ia hanya tersenyum, tersentum gentir.

"Sudah ku bilang, pangil saja aku Naruto," Perintahnya kembali mendekati tubuh Hinata yang masih lemah itu. Lalu, merebahkan nya diatas tempat tidur untuk beristirahat.

"Na..naruto-kun." Ucapnya agak ragu. Namun suara lembut Hinata membuatnya sekali lagi mendekatkan wajahnya pada wanita yang tengah menatapnya malu.

Benar.

Perasaan ingin memiliki lebih dari apa yang ada di hati nya. Terlepas dari semua tanggung jawab yang ditugaskan untuknya.

Sebagai seorang anggota suatu Organisasi rahasia yang tertutup, Anbu. Sudah lama tidak memiliki perasaan apapun terhadap seseorang.

Baik Sasuke maupun Naruto, mereka dilatih untuk tidak menampakkan ekspresi atau pun perasaan sebagaimana pun itu di balik topeng yang menutupi wajah mereka, dalam misi yang telah ditugaskan.

Dan tidak memiliki ikatan terhadap orang lain.

Namun kini beda cerita nya jika Naruto sampai terjerat oleh Putri Hyuga ini.

Naruto semakin mendekatkan wajahnya. Hidung mereka saling menempel, sehingga dapar saling merasakan deru nafas mereka satu sama lain. Detak jantung Hinata kini berdegup kencang, tidak teratur.

Untuk jarak sedekat ini pasti Naruto bisa mendengar detak jantung Hinata yang semakin kencang.

"Ucapkan lagi." Titahnya. Hinata meneguk ludah.

"Na..naruto-kun." Ujarnya lirih. Namun ragu.

Suara lembut Hinata membuat Naruto merasakn aliran darahnya meningkat. Sehingga ia tanpa sadar mendekatkan bibir miliknya, mencium bibir mungil milik Hianta, serta menarik tubuhnya kedalam dekapannya.

Hinata lagi-lagi terkejut. Tidak menyangka Naruto akan menciumnya, begitu lembut. Naruto melepaskan ciumanya saat mendengar suara dorongan pintu yang perlahan terbuka.

Krek !

"Hinata-sama ada..." Tiba-tiba seorang maid membuka pintu kamar Hinata. Hinata sedikit mendorong tubuh Naruto.

Naruto melayangkan tatapn tajam pada seseorang yang mengintrupsi ciuman mereka.

"Maafkan saya Nona..." Ucap maid itu menutup kembali pintu.

Kini wajah Hinata semakin merona karena tidak mengetahui caranya menyembunyikan perasaan nya.

Beberapa saat kemudian, Hinata bisa merasakan bibir hangat Naruto menyentuh keningnya sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya dari Hinata.

"Istirahatlah." Naruto mengulas senyum tipis. Kemudian berjalan pergi untuk meninggalkan Hinata.

Mengingat perlakuan Naruto yang barusan itu semakin menenggelamkan wajahnya di balik selimut miliknya untuk menyembunyikan rona wajahnya yang benar. Benar. Sangat merah. Malu.

.

.

.

.

Tap. Tap. Tap...

Srak! Srak! Srakk!

Bunyi suara daun yang terjahut dari pohon memecah kesunyian malam di Hutan yang gelap. Hanya cahaya bulan yang meremang tatkala ketika awan yang tidak terlihat menyelimuti sebagian dari wujud bulan itu.

Brakk!

Dahan yang patah menandakan ada seseorang yang tengah antara terburu-buru atau berlari melewati Hutan yang tampak sunyi itu karena dikejar sesuatu.

"Kita berpencar!" dendam sebuah suara yang tajam.

"aku kearah timur. Dan kau kearah barat." Titah seseorang yang memakai topeng kucing.

"Hn, baiklah." Ujar pemuda lainya yang memakai topeng anjing. Dia langsung melesat kearah barat seperti yang diperintahkan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

.

.

Bunyi gesekan daun membuat Naruto berhenti seketika dari pengejaran nya dam langsung menoleh pada sumber suara. Dia melihat seseorang pria yang tengah terkejut dangan kehadirannya, setelahnya pria itu segera berlari. Lantas Naruto mengikutinya dari belakang.

Gerakan nya yang secepat kilat membuat pria itu ketakutan setengah mati melihat Naruto yang secara tiba-tiba sudah ada di depan dan sedetik kemudian.

JRASH!

Naruto menebas tubuh pria itu dengan pedangnya.

"Hanya Klon," Gerutu Naruto.

"Dobe," Tiba-tiba sebuah suara membisikinya di cuping telinga Naruto. Naruto melirik kearah suara itu berasal, di situ sasuke sudah berdiri di sebelahnya dengan menggenggam sebuah ikat kepala.

"Ini, pria itu meninggalkan ini." Sasuke memberikan ikat kepala yang adadi tangannya pad a Naruto.

"Dasar pria ceroboh!" Gumam Naruto tersenyum licik.

Angin perlahan terhembus melewati pori-pori lengan kedua pria itu yang sebagian terbuka memperlihatkan sebuah tanda yang menyatakan bahwa mereka memang benar-benar anggota suatu Oraganisasi Rahasia. Dengan misi-misi yang Rahasia pula.

Udara menyeruak di sekitar mereka seakan memberikan petunjuk sebuah teka-teki.

"Kita bisa melacaknya lewat udara." Ujarnya kemudian

"Benar." Jawab Sasuke setuju.

Tetapi memeng begitulah cara mereka mencari orang yang sedang di incarnya. Mungkin di kejarnya, bisa di bilang yang mereka layaknya sebuah mangsa.

#Merinding

.

.

.

.

Tok! Tok!

"Sumimasen, Hinata-sama." Seorang maid berdiri di depan pintu kamar Hinata, kemudian membuka pintu karena tidak ada jawaban dari balik pintu itu.

Hinata membuka matanya yang sedari tadi tidak bisa di pejamkan untuk tidur. Belum mengantuk, mungkin.

"Permisi Hinata-sama. Seseorang yang bersama anda tadi berpeasn kepada saya untuk memberikan obat ini kepada anda."

Hinata membuka sebagian selimut yang menutupi wajahnya.

"Taruh saja di situ." Jawabnya.

"Baiklah." Maid itu meletakan obat tersebut diatas meja yang bersebelahan dengan kasurnya,

"Dan segeralah meminumnya."

"ehmm.. Ayame tolong jangan beritahukan pada Neji-nii atau Tou-san kalau aku demam," Pinta Hinata pada maid pribadinya itu.

Tampak seulas senyum lebar di wajah Ayame, "Baiklah Nona" Jawab maid itu sebelum meminta ijin untuk mohon diri.

"hmm." Gumam Hinata. Tanpa mempedulikan obat itu. Hinata lagi-lagi menenggelamkan wajahnya di balik selimut miliknya.

Mungkin obat itu akan ia sentuhnya, nanti.

Atau mungkin tidak sama sekali.

.

.

.

.

Merinding.

Udara malam yang menusuk kalit tidak membuat mereka mengurungkan niat sedikitpun untuk bergidik takut.

Misi yang di berikan harus dituntaskan segera. Mereka semakin mempercepat laju melewati dahan-dahan.

Naruto dan Sasuke memperkuat langakah meraka, seakan udara itu memang menuntunnya menuju orang yang tengah mereka kejar.

Terdengar suara dahan-dahan pohon yang patah meyakinkan mereka semakin dekat dengan buruannya.

Naruto semakin mempertajam pandangannya, melihat jarak pandang yang lebih luas.

Pria itu hanya berjarak beberapa meter dari mereka.

Tentu saja pria itu membawa gulungan yang mereka cari.

Naruto melemparkan pedangnya dan menembus lengan baju kiri pria itu, dan ia beserta pedang Naruto tertancap di sebuah pohon besar.

Segera kedua Anbu itu menghampiri pria yang sedang meronta-ronta itu.

"Serahkan gulungan itu!" Tandas Sasuke. Tanpa banyak pikir Naruto langung menyawut gulungan itu dari tangan kirinya.

"Jangan bunuh aku. Ku mohon , aku punya alasan untuk mencuri gulunganitu." Ronta pria itu berusaha melepaskan diri karena disekitar pohon itu sudah terpasng kertas- kertas yang bertuliskan aneh. Kertas peledak. Mengurungkan pria itu untuk berontak.

"Apa yang kau ketahui?" Desak Sasuke

"Aku tidak bisa mengatakan pada kalian," Sergah pria itu berteriak. Naruto dan Sasuke, mereka berdua membuka topeng yang menyembunyikan wajahnya datar mereka.

Bayangan cahaya bulan menyembunyikan sebagian wajah nya, namun ketika memperlihatkan masing-masing dari mata tajam pada targetnya itu, dia tercengang.

Mereka mempunyai iris mata merah yang sama, tetapi pupil mereka sangatlah berbeda. Hal itu membuat pria itu terhenyak takut.

"Mizuki, kami tidak kan berbelas kasihan padamu." Ucap Naruto disertai wajah stoicnya. Mungkin bisa di bilang lebih menyeramkan dari masa-masa berada di sekolah.

"Kau tidak akan mengerti," kali ini pria yang di panggil Mizuki itu tersenyum gentir

"Cepat katakan!" Sasuke mengacungkan pedangnya yang berujung tajam tepat dilehernya.

"Sesuatu yang buruk akan terjadi jika benda ini jatuh ke tanganya." Mizuki akhirnya membuka mulut karena pedang yang Sasuke acungkan padanya.

"Mungkin kalian tidak akan membunuh ku,"

"Mengapa kau berfikir bahwa kami tidak akan membunuh mu." Naruto menekan setiap kata-katanya.

"Karena aku adalah pemegang kunci dari gulungan ini." Ujarnya meyakinkan Naruto maupun Sasuke.

"Haa.." Naruto tersenyum simpul. "Pria ini gila." Sasuke semakin menekan ujung pedangnya, namun belum sampai menggores leher Mizuki.

"Kita tidak punya banyak waktu." Ucapan Nruto seakan mengisyaratkan Sasuke untuk segera menebas lehernya. Namun tertahan saat pria itu mulail berkata lagi.

"Mungkin gadis itu ada hubungan erat dengan gulungan ini." Pria itu tertawa, menertawakan hal yang dianggapnya tidak ada yng lucu. Seketika Naruto ingat akan gadis yang dimaksudkan. Hinata. Mungkin lebih tepatnya adalah kaung itu. Apa artinya,

Tanpa bertanya lagi Naruto kemudian menarik pedangnya yang menusuk lengan baju pria itu yang masih tertancap di pohon.

JRASHH!

Suara tebasan pedang menggema. Setelahnya suara ledakan yang terdengar mendominasi suara yang ada di Hutan Bulan itu.

.

.

.

.

.

Yosh...karena ini FanFic pertamaku juga,,,

Mohon kritik dan sarannya OK! Maaf jika alurnya kecepetan,,,

Review ya..pembaca yang baik akan meninggalkan komentar...

# hihi maksa bgt

Kalau berkenan dihati aku lanjut...

T^_^T

TBC