Main Cast : Jeon Wonwoo
Genre : Romance and Friendship
Rate : T
Disclaimer : Mine
Warning : Typo
By : Yara
.
.
.
Wonwoo mengamati dengan lamat objek yang meringkuk di bawah pohon. Langkahnya tampak sangat hati-hati. Tidak ingin mengejutkan objek yang membuatnya tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.
Setelah memastikan makhluk itu bernafas, Wonwoo berjongkok. Tepat di hadapan makhluk kecil yang hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek. Wajah yang dibenamkan antara ke dua lututnya membuat Wonwoo tidak bisa melihatnya.
"Hai!"
Wonwoo mencoba menyapa. Mendengar suaranya, anak laki-laki bertubuh mungil itu semakin memeluk kakinya erat. Untuk sesaat Wonwoo terdiam. Mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan tanpa membuat makhluk kecil itu takut.
"Kau sedang apa malam-malam duduk di sini?" tanyanya dengan nada lembut. Namun lagi-lagi tidak ada respon. Anak laki-laki yang ia perkirakan berusia empat atau lima tahun itu masih betah dengan posisinya. Menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
Melihat anak kecil duduk di bawah pohon sendiri membuat hati Wonwoo terenyuh. Meski ia ingin mengabaikannya, namun lubuk hati yang terdalam memaksanya untuk kembali. Melihat anak kecil yang sendirian itu mengingatkannya pada dirinya sendiri. Ia seolah melihat dirinya dalam wujud yang berbeda.
Wonwoo mencoba menyentuh rambut anak itu. Membelainya dengan lembut. Pergerakan tangannya justru semakin membuat anak itu takut. Bahkan tubuhnya tampak bergetar.
"Hey jangan takut! Hyung bukan orang jahat!" meski usahanya tidak mendapat respon, Wonwoo tidak menyerah. Tetap sabar untuk mendapat jawaban dari anak kecil di hadapannya.
"Coba lihat wajah Hyung baik-baik! Apa Hyung terlihat seperti orang jahat?"
Usaha Wonwoo membuahkan hasil. Perlahan anak itu mengangkat wajahnya. Memandang Wonwoo takut-takut. Meski hanya menampakan separuh wajahnya, sudah membuat Wonwoo senang.
"Bagaimana? Apa Hyung terlihat seperti orang jahat?" tanya Wonwoo. Dengan gerakan lambat, anak kecil itu menggeleng.
"H-Hyung… cantik," ucapnya terbata.
Seketika Wonwoo membulatkan matanya. Jawaban anak kecil itu benar-benar tidak terduga. Namun dengan segera ia menggeleng. Menggoyangkan jari telunjuknya di depan anak kecil itu.
"Itu salah," ucap Wonwoo masih terus menggelengkan kepalanya.
"Hyung ini tampan. Sangat tampan! Coba katakan, Wonwoo hyung tampan!"
"Wonwoo… hyung… tampan," ucap anak kecil itu seperti mengeja. Seulas senyum langsung terpatri di wajah Wonwoo. Dengan gemas, ia mengacak rambut anak yang masih menyembunyikan setengah wajahnya.
"Itu baru benar!" ucapnya tanpa menghilangkan senyumnya. Senyum yang tidak akan pernah diperlihatkan pada orang lain. Terutama pada penghuni SVT house yang selalu mencapnya buruk.
"Jadi hyung boleh tahu siapa namamu?"
"Lee Chan," jawab anak itu sambil mengangkat kepalanya dengan sempurna. Karena Wonwoo tidak membuatnya takut, ia berani menampakan wajahnya. Dan detik itu juga mata Wonwoo terbelalak. Bahkan mulutnya menganga melihat pemandangan di hadapannya.
"Chan-ie terluka?" tanya Wonwoo sambil memperhatikan wajah polos Chan. Ternyata bukan hanya wajahnya, lengan dan lututnya juga terluka. Dan lagi-lagi membuat hati Wonwoo terenyuh. Ia yakini luka dan memar di tubuh mungil itu bukan karena terjatuh. Luka yang tampak di beberapa bagian tubuh Chan membuat mata Wonwoo memanas.
Anak kecil itu hanya menganggukan kepalanya. Matanya berkedip polos. Memandang wajah Wonwoo yang juga memandangnya dengan iba.
"Chan-ie mau ikut Hyung? supaya Hyung bisa mengobati luka Chan-ie?"
Tanpa ragu, bocah mungil itu mengangguk. Untuk pertama kalinya ia mau berinteraksi dengan orang lain. Dan untuk pertama kalinya ia menyetujui ajakan orang lain.
Perlahan, Wonwoo membantu Chan berdiri. Memastikan lukanya tidak tersentuh tangannya. Dan tanpa ragu, Wonwoo membawa Chan dalam gendongannya. Berjalan ke arah apotek terdekat.
"Ya Tuhan, siapa yang sudah melukainya seperti ini?" batin Wonwoo nelangsa. Dalam gendonganya, Chan terus memandangi wajahnya. Sedangkan Wonwoo hanya tersenyum hangat.
.
.
.
Mingyu berlari kencang menuju SVT house. Pintu yang ia buka tanpa hati-hati menimbulkan debuman kencang. Mingyu sudah tidak mempedulikan jika ada yang terbangun karena ulahnya. Karena saat ia memasuki rumah, beberapa anak lainnya sedang jalan mondar mandir.
"Kau kenapa Mingyu-ya?" tanya Seungcheol yang melihat Mingyu tergesa-gesa.
"Tidak apa-apa Hyung!" jawab Mingyu sambil merebahkan tubuhnya. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Melihat tingkah aneh adik-adiknya, kantuk Seungcheol langsung menguar begitu saja. Beberapa saat yang lalu ia dibangunkan karena suara ribut Soonyoung dan Seokmin. Saat ia melihat keluar, Soonyoung, Seokmin dan Jihoon sedang berputar-putar mencari sesuatu.
"Jadi kau belum tidur sedari tadi Jihoon-ah?" tanya Seungcheol yang dijawab gelengan Jihoon.
"Sedari tadi Jihoon Hyung sedang mengerjakan tugas," jawab Seungkwan yang masih memejamkan matanya. Duduk di lantai dengan menyandar ke dinding. Ia juga sama dengan Seungcheol, tidurnya terganggu karena suara ribut.
"Saat Jihoon hyung mau tidur, Jihoon hyung tidak menemukan robot miliknya. Jadinya dia memeriksa kamar kami dengan paksa." Kali ini Minghao yang mengangguk. Tidur nyenyaknya terganggu karena Jihoon yang masuk ke kamarnya. Belum lagi suara dua makhluk paling berisik di SVT house.
Jun yang menjadi teman sekamar Jihoon hanya membantu mencari tanpa suara. Ia tidak akan bisa tidur sebelum robot kecil itu berhasil ditemukan.
Saat mereka semua dipusingkan dengan keberadaan robot mainan milik Jihoon, Jeonghan muncul dengan rambut acak-acakan. Di belakangnya menyusul Hansol yang berjalan dengan setengah terpejam. Jika tidak dalam keadaan genting, mungkin Seungcheol sudah tertawa melihat yang lainnya.
"Jihoon-ah, robotmu di bawah tempat tidur. Apa kau lupa? Kau yang menyimpannya tadi pagi. Takut terjatuh kalau diletakan di nakas," ucap Jeonghan sambil menguap. Ia masih benar-benar mengantuk. Namun dengan terpaksa ia bangun karena masalah Jihoon.
Dengan gesit, Jihoon berlari ke kamarnya dan Jun. Senyum manisnya terkembang melihat robot yang tergeletak manis di kolong ranjangnya. Ia langsung memeluk robot mainan yang tampak usang itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Jihoon baring di kasurnya. Tanpa menarik selimutnya, Jihoon langsung memejamkan matanya sambil memeluk robot berwarna biru itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, pemuda yang memiliki tubuh mungil itu langsung terlelap. Membuat yang lain menggelengkan kepalanya.
"Aigoo… cepat sekali dia tidur. Kita bahkan belum berpindah dari sini," ucap Soonyoung sambil memandangi Jihoon yang tertidur pulas. Wajah imutnya tampak semakin imut saat tengah tertidur.
"Kenapa Jihoon hyung bisa langsung tidur kalau memeluk robot-robotan itu? Dan tidak akan bisa tidur kalau tidak bersama robot yang sudah usang itu? Bahkan sampai menangis?" tanya Seungkwan penasaran dengan menyembulkan kepalanya. Ia ikut mengintip Jihoon yang sudah lelap.
"Kita tidak akan pernah tahu jawabannya," jawab Jisoo sambil berlalu. Meneruskan tidurnya yang sempat terganggu.
"Lagi-lagi aku peringatkan pada kalian semua. Jangan pernah sentuh robot-robotan milik Jihoon. Aku tidak ingin melihatnya mengamuk lagi!" peringat Seungcheol yang diangguki semuanya. Tanpa diperingatkan terus menerus, yang lainnya juga tidak akan ada yang berani untuk menyentuhnya. Setelahnya, Seungcheol berjalan ke kamarnya. Menyusul Jisoo yang sudah masuk lebih dulu.
"Ayo kita tidur!" Jeonghan merangkul Hansol. Mengajak maknae mereka kembali tidur. Esok mereka masih harus melanjutkan kegiatan masing-masing.
Setelah Jeonghan dan Hansol masuk ke kamar, Seokmin dan Soonyoung juga menyusul. Yang kemudian diikuti Seungkwan dan Minghao. Jun yang paling akhir masuk menggelengkan kepalanya. Tingkah mereka ada-ada saja. Dan bukan sekali dua kali mereka dihebohkan karena Jihoon yang kehilangan robot-robotan miliknya. Benda yang paling berharga untuk pemuda mungil itu.
.
.
.
Wonwoo mendudukkan Chan di bangku depan apotek. Mengeluarkan beberapa obat yang di perlukan untuk mengobati Chan.
"Chan-ie, tahan sebentar ya? Sepertinya ini akan pedih." Chan hanya menganggukan kepalanya. Ia hanya memperhatikan kegiatan Wonwoo. Dan sesekali memandang wajah tampan di hadapannya.
Saat membubuhkan obat di luka itu, justru Wonwoo yang meringis. Sedangkan bocah manis itu hanya diam saja. Tidak menampilkan ekspresi kesakitan apalagi sebuah ringisan.
"Tidak sakit?" tanya Wonwoo setelah selesai memplester luka di dahi Chan.
"Ini cakit. Tapi lebih cakit kalau appa dan eomma yang memukul Chan."
Hati Wonwoo tertohok. Kalimat yang diucapkan dengan cadel itu membuat dadanya bergemuruh. Ia tidak tahu seperti apa kehidupan bocah mungil itu. Yang ia tahu, ia ikut merasakan sakit dan sedih yang Chan rasakan.
"Chan-ie mau makan sesuatu? Nanti Hyung akan membelikannya untuk Chan." Bocah itu memasang mode berpikir. Posenya yang lucu di mata Wonwoo membuatnya tersenyum lebar.
"Chan-ie mau makan eomuk, Hyung!"
"Eomuk? Makanan apa itu?" tanya Wonwoo bingung. Ia sama sekali tidak tahu makanan yang Chan sebutkan.
"Hyung tidak tahu eomuk cepelti apa?"
"Hyung tidak tahu!" jawab Wonwoo jujur.
"Ayo Chan-ie tunjukan!" tangan mungil Chan menggenggam tangan Wonwoo. Mengajaknya ke tempat yang menjual eomuk seperti Chan sebutkan.
"Kita bisa membelinya di sini?" tanya Wonwoo saat mereka berhenti di keda-kedai pinggir jalan. Pantas saja Wonwoo tidak tahu. Ia memang tidak pernah merasakan jajanan pinggir jalan seperti ini. Segala yang ia makan diawasi dengan ketat. Bahkan untuk bermain bersama anak yang lain saja ia kesulitan.
Setelah membeli beberapa macam eomuk dan air mineral, keduanya duduk depan sekolah taman kanak-kanak. Ayunan yang di cat berwarna-warni menjadi pilihan mereka.
"Jadi seperti ini eomuk," gumam Wonwoo sambil memandangi makanan di tangannya. Tampak seperti anak kecil. Adonan yang berbahan dasar ikan itu dibuat menyerupai sosis. Memanjang dan ditusuk menggunakan bambu kecil. Sedangkan yang di tangan Chan, adalah eomuk yang berbentuk pipih dan ditusuk berlipat-lipat.
"Enak," batin Wonwoo saat merasakan makanan yang baru pertama kali ia makan. Wonwoo tersenyum melihat Chan yang makan dengan begitu lahapnya.
"Chan-ie, kenapa tadi duduk di bawah pohon?" tanya Wonwoo saat kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
"Apa Chan-ie sering duduk sendirian di sana?"
"Pohon tidak jahat Hyung! pohon tidak membuat Chan cakit cepelti appa dan eomma."
Makanan yang berada di mulut Wonwoo langsung terasa hambar. Chan mengatakannya dengan begitu ceria. Wajahnya seolah tanpa beban. Padahal kalimat polosnya sudah menohok hatinya entah ke berapa kali.
"Appa dan eomma Chan jahat?" Wonwoo kembali bertanya dengan memandangi wajah mungil di sampingnya.
"Eng!" Chan mengangguk.
"Appa dan eomma celalu memukul Chan. Chan tidak tahu kenapa. Padahal Chan tidak pelnah nakal. Tapi appa dan eomma celalu caja malah-malah." Lagi-lagi Chan mengungkapnya dengan ceria. Kaki mungilnya bergoyang-goyang di ayunan. Dengan mulut yang terus diisi eomuk.
Wonwoo menunduk. Makanan di tangannya seperti tanpa rasa. Meski baru pertama kali bertemu dengan bocah cadel itu, tapi hati Wonwoo tidak bisa untuk tidak tersentuh. Wajah polos tanpa dosa itu membuat dadanya semakin sesak.
"Chan-ie, habiskan eomuk ini ya? Hyung sudah kenyang."
"Chan-ie boleh manghabickannya?" tanya Chan dengan mata berkedip takjub.
"Tentu saja boleh! Hyung senang kalau Chan-ie makan banyak. Supaya Chan cepat besar!" Bocah yang Wonwoo belum tahu usianya itu tersenyum lebar. Menampilkan deretan gigi susunya.
"Mungkin aku harus mencari kerja," batin Wonwoo. Mengingat sang appa tidak memberinya uang, membuatnya harus mencari kerja. Uang yang ada di tangannya tidak akan bertahan lama. Tidak lebih dari dua minggu.
"Kalau di lumah, Chan-ie tidak boleh makan banyak." Tangan mungil Chan kembali mengambil setusuk eomuk. Dan dengan lahap, bocah yang juga memiliki rambut hitam itu memakannya dengan ceria.
Wonwoo berdiri dari duduknya. Mendekati Chan dan mengangkat bocah menggemaskan itu. Mendudukannya di pangkuannya.
"Kalau bersama Hyung, Chan-ie boleh makan sepuas yang Chan-ie mau."
"Chan-ie akan makan banyak. Cupaya Chan-ie cepat becal," ungkap Chan dengan kaki yang di goyang-goyangkan. Wonwoo memasang senyum sedihnya. Anak sekecil ini sudah merasakan kesedihan yang mendalam. Bahkan ia menanggung luka dan sedih itu dalam kesendiriannya. Hampir mirip dengannya, hanya saja ia tidak pernah merasakan luka fisik seperti yang Chan rasakan.
"Chan tidak mengantuk? Ini sudah malam?" dalam pangkuannya, Chan menggeleng. Bocah cadel itu sudah tidak meneruskan makannya. Sepertinya ia sudah kekenyangan.
"Chan celing duduk di bawah pohon cendilian. Chan-ie balu bica pulang ke lumah kalau appa dan eomma cudah tidul."
"Supaya tidak di pukul lagi?" tanya Wonwoo yang jawab anggukan. Nafas Wonwoo tertahan. Matanya terasa memanas saat ini. Baru pertama kali ia menemukan anak setegar dan seceria Chan. Meski hidupnya penuh dengan penderitaan. Anak seusia Chan seharusnya masih mendapatkan perhatian dan kasih dan sayang dari orang tuanya. Bermain bersama anak-anak seusianya.
Beberapa saat kemudian, Chan memutuskan untuk pulang. Sebagai siswa, ia harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah.
"Hyung akan mengantar Chan-ie sampai ke rumah!"
"Chan-ie bica cendili. Chan-ie anak yang pintal. Jadi Hyung tidak ucah mengantal Chan-ie pulang." Wonwoo tersenyum dan mengacak rambut Chan dengan gemas.
"Telima kacih Hyung!" bocah mungil itu membungkuk. Kembali mengangkat tubuhnya dan tersenyum.
"Hyung olang yang paling baik cedunia." Chan merentangkan tangannya. Mengibaratkan dunia dengan ke dua tangan mungilnya. Mau tidak mau membuat Wonwoo terkekeh pelan.
"Chan-ie pulang dulu. Annyeonghaceyo!" Dengan tangan mungilnya, Chan melambai pada Wonwoo. Tidak lupa senyum polos yang membuat dada Wonwoo semakin bergemuruh hebat.
"Aku tidak sebaik itu. Kalau tidak, tidak mungkin aku dilupakan seperti ini," batin Wonwoo masih memandangi kepergian Chan.
Semenjak saat itu. Wonwoo dan Chan semakin sering bertemu. Wonwoo akan menemui Chan di tempat yang sama. Tidak jarang dalam keadaan yang sama saat pertama kali mereka bertemu. Tubuh mungilnya yang tampak terluka dan lebam. Namun yang berbeda, Chan akan menyambutnya dengan senyuman.
Dan semenjak saat itu juga, penilaian penghuni SVT house semakin buruk untuknya. Beberapa cacian dan umpatan buruk sering ia terima. Tapi bukan Jeon Wonwoo namanya kalau menanggapi penilaian buruk yang ditujukan untuknya. Selagi itu tidak membahayakan orang lain, ia tidak akan peduli.
.
.
.
"Dia tidak mau makan lagi?" tanya Jeonghan saat Seungcheol keluar dari kamar Mingyu. Wajah murungnya meyakinkan Jeonghan kalau usaha pemuda tertua itu gagal seperti sebelum-sebelumnya.
"Lucu sekali dia menjadikan rumah ini seperti hotel. Tidak pernah menampakan diri dan berbicara. Dan saat malam hari dia akan keluar entah kemana," ucap Seokmin dengan nada tinggi. Ia sudah tidak mempedulikan bagaimana perasaan Wonwoo. Yang ia tahu, semakin hari semakin bertambah kekesalannya.
"Ini sudah hari ke enam semenjak dia tinggal di sini," gumam Jeonghan sambil ikut berpikir keras. Tidak tahu apa dan bagaimana sifat Wonwoo. Selama enam hari ini, pemuda bermarga Jeon itu sama sekali tidak pernah berbicara. Bahkan ia tidak pernah menyentuh makanan yang Seungcheol sisakan untuknya.
"Hyung sadar tidak? Semenjak kehadirannya, kita sering beradu mulut. Kehadirannya membuat rumah kita ini seperti neraka. Tidak pernah ada kedamaian. Selalu saja ada hal yang di ributkan. Dan itu semua karena dia," ucap Soonyoung pedas. Tangannya menunjuk tepat ke arah kamar Mingyu. Meski Wonwoo tidak melihatnya, ia yakin pemuda yang hari-harinya dihabiskan dengan gadget itu akan mendengar ucapannya.
"Aku juga merasakannya Hyung! rumah ini jadi tidak nyaman lagi," keluh Minghao dengan wajah sedihnya. Ia tidak suka pertengkaran. Tapi hampir seminggu ini ia selalu mendengar perdebatan yang itu-itu saja.
"Kalau begitu kita abaikan saja dia! Mudahkan?" Jihoon menimpali.
"Memangnya kita ada yang mempedulikannya? Selama ini hanya Seungcheol Hyung yang peduli dengannya," Jun mengingatkan. Ucapan Jun membuat Seokmin tertawa miris.
"Lalu apa yang Seungcheol hyung dapatkan? Tidak ada kan? bahkan dia tidak menghargai Hyung sama sekali." Seokmin kembali bersuara. Hansol yang duduk di antara Seokmin dan Jun hanya memilih bungkam. Tidak berniat ikut menimpali seperti yang lain. Tanpa berbicarapun suasana di ruangan itu sudah terasa panas.
Mereka semua yang berkumpul di ruang tengah, membuat Seungcheol seperti dihakimi. Ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi adik-adiknya tidak ada yang setuju dengannya. Jisoo, meski tidak mengeluarkan protesannya, Seungcheol tahu teman sekamarnya itu juga tidak menyukai keberadaan Wonwoo.
Semua yang berada di ruang tengah menghentikan ucapannya. Pandangan mereka tertuju pada Wonwoo yang menunjukkan wujudnya. Namun keheningan itu tidak bertahan lama setelah yang lain mengeluarkan sindiran pedasnya.
"Wonwoo, kau mau kemana?" Seungcheol berdiri. Mencegah Wonwoo yang akan melangkah keluar rumah. Wonwoo tidak mengatakan apapun. Tangan kanannya mencoba melepaskan pergelangan tangan kirinya yang digenggam Seungcheol. Tidak menggunakan kekerasan, hanya diam sambil berusaha melepaskannya.
"Jangan pikirkan ucapan mereka!" pinta Seungcheol. Ia takut Wonwoo tersinggung dan meninggalkan rumah itu. Meski itu hak Wonwoo untuk kemanapun, tapi Seungcheol merasa bertanggung jawab. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan pemuda yang selalu menampilkan ekspresi dinginnya.
"Yak Jeon Wonwoo! Kau harus berlaku sopan dengan Seungcheol hyung. Kau pikir kau siapa hah?" Seokmin langsung berdiri. Mendekati Wonwoo dan mencengkram baju depan Wonwoo. Melihat perbuatan Seokmin yang di luar batas, Jun dan Seungcheol langsung memisahkannya.
"Jangan berlaku kasar Seokmin-ah," teriak Seungcheol mengeluarkan amarahnya.
Mingyu yang duduk di samping Jeonghan hanya menatap lantai. Tidak mau melihat perbuatan anak-anak lainnya. Jangankan menatap, mengeluarkan suaranya pun tidak. Ia hanya diam memandangi lantai atau dinding. Kemanapun itu, asal memandang objek yang berbeda.
"Aku sudah tidak tahan lagi Hyung! Lihat saja perilakunya selama dia tinggal di sini! Apa pernah dia berbiara padamu? Berlaku sopan denganmu, Hyung?" tanya Seokmin menggebu-gebu. Amarahnya sudah mencapai puncaknya. Tangannya menunjuk-nunjuk tepat ke wajah Wonwoo.
Tangan Seokmin yang menunjuk wajah Wonwoo langsung ditepis dengan kasar. Ia menarik sebelah sudut bibirnya. Membuat kepalan tangan Seokmin semakin mengerat.
"Kau pikir aku peduli?"
Kalimat pertama yang mereka dengar. Suara pertama yang mereka dengar dari seorang Jeon Wonwoo. Namun terdengar begitu angkuh. Membuat anak-anak yang lainnya mengeraskan rahangnya. Dengan tatapan tajamnya yang ditujukan untuk Seokmin, Wonwoo melangkah keluar. Sedikit menabrak bahu Jun yang menghalangi jalannya.
"Bahkan dia pergi lagi di saat seperti ini."
Masih di tempatnya semula, Jihoon menggelengkan kepalanya. Ia sangat hafal kebiasaan pemuda itu. Akan pergi saat mereka pulang kerja.
"Malam-malam seperti ini, apa yang dia lakukan? Setiap malam dia keluar. Dan akan kembali sangat larut. Bahkan aku pernah memergokinya pulang menjelang pagi." Sebenarnya Soonyoung mencoba untuk tidak peduli. Tapi kebiasaan Wonwoo yang selalu pergi saat malam hari membuatnya penasaran.
"Mungkin dia berfoya-foya? Kebiasaanya dengan dunia malam selama di Gangnam mungkin tidak bisa dihilangkan." Kata-kata itu terlalu kasar bagi Seungcheol. Namun Seokmin mengatakannya dengan santai. Tanpa dosa dan beban.
"Dunia malam? Apa? Wanita? Balapan liar? Atau mabuk-mabukan?" Minghao bukan bermaksud menuduh. Tapi ia tidak tahu bagian mana yang dimaksud oleh Seokmin. Yang ia tahu dunia malam tidak pernah jauh dari hal-hal negatif.
"Bisa jadi semuanya," ceplos Seungkwan yang sedari tadi berdiam diri. Keyakinannya tentang Wonwoo yang memiliki sifat buruk semakin kuat. Hanya Wonwoo yang selau keluar tengah malam untuk waktu yang cukup lama.
"Aku bosan membahas dia. Aku sudah mengantuk." Jihoon berdiri dari duduknya. Meregangkan ototnya yang terasa kaku.
"Hooam… aku tidur lebih dulu," ucapnya sambil menguap. Berjalan ke kamarnya dengan tangan mengucek mata sipitnya.
Di ambang pintu, Seungcheol tidak mengeluarkan suaranya. Hanya memandangi langit tanpa bintang. Entah kenapa, ia seperti merasa banyak yang Wonwoo rahasiakan. Ia merasa ada alasan tertentu yang membuat Wonwoo bersifat sedingin itu. Seungcheol yakin, banyak hal yang dirasakan pemuda pemilik mata tajam itu.
Masih di tempat duduknya, Mingyu memandangi jarum jam yang bergulir. Matanya berkedip lemah memandangi benda yang menempel di dinding itu. Entah apa yang pemuda tampan itu pikirkan. Tapi ia tampak terlarut dengan pemikirannya sendiri.
Pagi harinya, Wonwoo berdiri di sisi ranjang. Memasukan buku dan gadget ke dalam ranselnya. Saat seseorang masuk ke kamarnya, Wonwoo menoleh. Ternyata Mingyu masuk dengan rambut yang tampak basah.
Saat tatapan mereka bertemu, Mingyu langsung mengalihkan pandangannya. Sangat tampak kalau pemuda bertubuh tinggi itu enggan menatapnya. Wonwoo sempat mengerutkan dahinya. Namun setelahnya ia mencoba mengabaikannya. Bukan hanya Mingyu, anak-anak yang lain juga tidak ada yang ingin melihatnya. Begitulah pikiran Wonwoo.
Wonwoo keluar kamar saat anak-anak lainnya sudah meninggalkan SVT house. Tatapannya kembali tertuju pada tudung saji. Meski tidak pernah sekalipun memakannya, tapi Seungcheol selalu menyisihkan untuknya. Setiap hari, selalu ada makanan untuknya.
Perlahan tangannya membuka tudung saji. Matanya langsung dihadapkan dengan nasi dan lauk pauk. Wajah Seungcheol yang selalu memintanya untuk makan langsung terbayang. Dengan ragu-ragu, Wonwoo mengulurkan tangannya. Mencoba menyentuh salah satu makanan. Namun belum sempat tangan putihnya menggapai mangkuk yang berisi itu, Wonwoo menarik tangannya.
"Tidak," monolognya. Kepalanya menggeleng sambil kembali menutup makanan yang tersaji di meja makan.
"Aku tidak bisa memakannya. Aku tidak boleh memakannya," gumam Wonwoo. Ia kembali lagi ke kamarnya. Membiarkan makanan itu tidak disentuh entah untuk yang ke berapa kalinya.
.
.
.
.
TBC
