Sasuke duduk di bangku taman favoritnya di bawah pohon maple sambil membaca draf novel yang harus ia edit. Pena bertinta merah ia mainkan di tangan kirinya. Mata hitamnya membaca baris demi baris dengan teliti dan sesekali menggoreskan penanya di tempat yang ia rasa perlu diedit. Selalu seperti ini. Sasuke selalu lebih suka melakukan proses editing di bangku ini daripada di ruang kantornya. Ia hanya menggunakan ruangannya untuk proses finishing dan negosiasi dengan kliennya.
Sasuke sedang mengecek kosakata di kamus ponselnya ketika ia merasakan tarikan pelan pada celananya. Sasuke mendongak dan melihat seorang gadis kecil, mungkin usianya tak lebih dari lima tahun, dengan mata hijau dan rambut pirang.
"Paman baca apa?" tanya gadis kecil itu sambil memanjat bangku untuk mendudukkan diri di sebelah Sasuke.
Sasuke tersenyum singkat, campuran antara gemas dengan anak itu dan geli karena ia sudah lupa kalau umurnya sekarang sudah membuatnya pantas dipanggil 'paman'.
"Aku sedang bekerja," jawab Sasuke singkat, masih mengamati gadis kecil itu yang memandang draf di tangannya dengan ekspresi ingin tahu yang luar biasa imut. Ekspresi itu sedikit mengingatkannya pada seseorang…
"Sakura!"
Panggilan itu membuat Sasuke maupun gadis kecil itu menoleh. Tapi gadis kecil itu buru-buru beringsut mendekat ke arah Sasuke, berusaha menyembunyikan dirinya di balik mantel Sasuke. Dan Sasuke sendiri mendadak merasa ingin melakukan hal yang sama begitu ia melihat sosok yang memanggil.
Sasuke tidak mungkin salah mengenali rambut pirang itu.
"Paman! Bantu aku sembunyi dari Ayah!"
Sasuke tersentak begitu mendengar ucapan gadis kecil itu, tapi sebelum ia sempat melakukan apapun, ayah gadis itu sudah berdiri cukup dekat, hanya berjarak beberapa langkah dari Sasuke.
"Te-teme?"
Sasuke mempertahankan wajah tanpa ekspresinya begitu mendengar nama panggilan yang sudah bertahun-tahun tidak didengarnya. Padahal begitu banyak emosi yang berkecamuk di dadanya.
"Kau tidak seharusnya memanggilku begitu di depan anak kecil, Naruto."
"Sudah tujuh tahun ya?"
Anak kecil berambut pirang yang tadi duduk di sebelah Sasuke sudah digantikan oleh pria berambut pirang, sedangkan anak kecil yang bernama Sakura itu sedang berlari-larian di bawah pohon maple, membuat daun-daunnya yang gugur berserakan.
Sasuke memilih untuk tidak menanggapi ucapan Naruto. "Anakmu… Sakura? Sudah berapa tahun?"
Mata biru Naruto mengikuti pergerakan Sakura yang berlarian dengan tampang senang dan sesekali berjongkok untuk mengamati daun-daun. Ia tersenyum melihat tingkah laku anaknya. "Baru empat tahun. Ia baru saja masuk TK."
"Dan Sakura sendiri? Bagaimana kabarnya?" tanya Sasuke lagi.
Ada jeda sebelum akhirnya Naruto menjawab dengan suara getir, "Ia meninggal setelah melahirkan Sakura. Empat tahun terakhir ini hanya ada aku dan Sakura kecil."
Sasuke terhenyak. "Maaf," ucapnya, membuat Naruto menggeleng, isyarat bahwa ia tak merasa ucapan Sasuke perlu.
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat, mengamati Sakura kecil yang begitu energik. Naruto dengan pikirannya sendiri, dan Sasuke. Pikirannya melayang ke memorinya tujuh tahun lalu, momen ketika ia bertemu Naruto untuk terakhir kalinya adalah saat ia dan Sakura menikah.
Naruto tampak gagah dalam balutan jas putihnya, sementara Sakura juga terlihat menawan dengan gaunnya. Mereka berdua terlihat begitu bahagia sampai Sasuke tak tega untuk merusak kebahagiaan itu dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Naruto selamanya.
Ia sudah memutuskan untuk berhenti menunggu, dan satu-satunya pilihan yang dimilikinya saat itu hanyalah melangkah pergi. Ia bahkan tak merasa perlu untuk menghubungi Naruto setelah pernikahan, langsung menghilang begitu saja. Naruto beberapa kali mencoba menghubunginya sampai akhirnya Sasuke mengganti nomor ponselnya, benar-benar memutus kontaknya dengan Naruto sama sekali.
"Kau sendiri? Bagaimana kabarmu?" tanya Naruto, memecah keheningan.
"Aku baik-baik saja."
Entah kenapa, jawaban Sasuke membuat Naruto tertawa. Seraya menepuk bahu Sasuke pelan, Naruto bangkit berdiri. "Sakura, ayo pulang. Paman Sasuke harus kembali bekerja."
Sakura menoleh ketika dipanggil, dan sedikit cemberut, tapi toh ia menurut. Ia berlari ke arah Naruto dan menggandeng Naruto dengan tangan kecilnya. Gadis kecil itu tersenyum lebar dan melambai ke arah Sasuke. "Dadah, Paman! Selamat bekerja!"
Sasuke membalas lambaian Sakura dan memandang punggung ayah dan anak itu melangkah pergi. Ia menghela napas. Naruto sama sekali tidak menanyakan alasan kenapa ia pergi.
Tiga hari berlalu dan Sasuke baru saja keluar dari kantornya untuk pulang lebih awal karena semua pekerjaannya sudah selesai. Ia memutuskan untuk mampir makan siang dulu di restoran di dekat taman ia biasa duduk bekerja. Namun kemudian ia melihat sosok gadis kecil dalam seragam TK-nya yang amat familiar. Gadis itu sedang berjongkok di tepi jalan dengan ranting di tangannya, menusuk-nusuk deretan semut yang lewat.
Tanpa pikir panjang, Sasuke mendekati anak kecil itu dan memanggil, "Sakura?"
Anak itu mendongak dan begitu ia melihat siapa yang memanggilnya, ia langsung tersenyum lebar. "Paman Ceme!"
Twitch. Sasuke benar-benar akan menempeleng Naruto kalau bertemu nanti. Alih-alih, ia tersenyum ramah pada Sakura. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Sakura bangkit berdiri dan membuang rantingnya ke jalan. "Tadi aku sekolah, tapi pulang cepat! Karena katanya Ayah mau menjemput, jadi aku menunggu di sini seperti anak baik!"
Sasuke mengerjap. "Tidak menunggu di sekolah?"
Sakura menggeleng kuat-kuat. "Teman-teman semuanya pulang. Aku juga mau pulang tapi harus menunggu Ayah."
"Tidak mau menelepon ayahmu?"
Sakura menggeleng lagi. "Ayah bekerja. Aku tidak boleh mengganggu. Nanti Ayah akan datang kalau sudah waktunya. Aku harus menunggu dengan baik."
Sasuke tersenyum geli melihat tingkah laku Sakura yang begitu imut. "Sudah makan? Ayo makan bersamaku."
"Benarkah? Asyik!" sorak Sakura dan ia langsung menggandeng tangan Sasuke.
"Tapi berjanjilah satu hal padaku, Sakura," ucap Sasuke, menggamit gadis kecil itu. "Jangan panggil aku 'Ceme' lagi. Namaku Sasuke."
Sakura mengacungkan ibu jarinya ke arah Sasuke. "Siap, Paman 'Suke!"
Sasuke dan Sakura sudah menyelesaikan makan siang mereka ketika Naruto datang tergopoh-gopoh dan langsung mendudukkan diri di samping Sakura dengan napas tersengal. Kelihatan jelas ia berlari ke sini. Sasuke langsung menanyakan nomor Naruto ke Sakura dan memberitahunya kalau Sakura sedang bersamanya begitu mereka selesai makan.
"Sakura! Lain kali hubungi Ayah kalau kau pulang cepat!" omelnya begitu ia sudah bisa bernapas normal.
Sakura hanya memberengut. "Maaf, Ayah. Aku takut menganggu Ayah."
Naruto menggeleng dan mengelus kepala Sakura lembut sementara gadis kecil itu masih memakan es krimnya. Kemudian Naruto berpaling ke arah Sasuke.
"Maaf merepotkanmu, Te—Sasuke," ucapnya.
Sasuke memandang Naruto. "Benar, memang harusnya kau memanggilku begitu," ujarnya. "Coba tebak, ketika bertemu denganku tadi, Sakura memanggilku apa? 'Paman Ceme'. Kau ajari apa dia, hn?"
Naruto terbahak. "Waktu itu kan refleks.
Sasuke hanya mendengus. "Jadi, kalian tinggal di daerah sini?" tanya Sasuke setelah menilik kalau TK Sakura tidak jauh dari kantornya, berarti secara otomatis rumah mereka mungkin berada di area sekitar sini.
Naruto mengangguk seraya memanggil pramusaji dan memesan makanan. Pemandangan yang begitu membangkitkan perasaan nostalgia Sasuke. "Aku baru pindah beberapa saat lalu ketika Sakura masuk TK. Aku sama sekali tak mengira kau kerja di daerah sini juga."
Sasuke meminum kopinya yang masih panas.
"Apa mungkin kau juga tinggal di sekitar sini?" tanya Naruto.
"Agak sedikit di luar distrik. Tapi, ya, masih di sekitar sini."
Naruto mengangguk-angguk.
"Paman 'Suke, ayo main ke rumahku. Habis ini Ayah akan pergi kerja lagi. Jadi kita bisa nonton film sama-sama! Ayah habis beli televisi baru," ajak Sakura dengan bersemangat. Sebelum Sasuke sempat menjawab, Naruto sudah mengelus kepala anaknya.
"Paman 'Suke harus kembali bekerja, Sakura."
Sakura menggeleng. "Tadi Paman 'Suke cerita kalau dia sudah selesai."
Naruto ganti menatap Sasuke, dan entah karena dorongan apa, ia berkata, "Oke. Aku akan menemanimu di rumah sampai ayahmu pulang nanti."
Sakura langsung bersorak gembira sementara Naruto menatap Sasuke dengan ekspresi yang tak bisa Sasuke pahami.
Berbulan-bulan setelah itu, pertahanan Sasuke sudah runtuh sepenuhnya. Ia dulu bilang akan meninggalkan Naruto selamanya, akan mencoba melupakan pemuda itu, tujuh tahun ia berusaha membangun benteng, namun saat ini benteng itu sudah luluh lantak. Hanya karena seorang anak kecil bernama Sakura yang mempertemukannya kembali dengan Naruto.
Selama beberapa bulan terakhir, hubungannya dengan Naruto membaik. Kadang ia dan Naruto bergantian mengantar atau menjemput Sakura dari sekolahnya jika yang lain sibuk. Sakura bahkan kadang-kadang menginap di apartemen Sasuke jika Naruto harus dinas keluar kota.
Intinya, hubungan mereka bertiga baik-baik saja sampai pada suatu malam ketika Sasuke mengantar Sakura pulang setelah menjemputnya dari les balet dan Naruto menawarinya makan malam bersama sekalian karena ia baru saja membuat sukiyaki porsi besar yang ia tak yakin bisa ia habiskan seorang diri.
"Kau sudah menyelesaikan editan artikelku?" tanya Naruto, mengambil potongan daging terbesar di dalam nabe.
"Hn. Aku akan mengirimnya besok."
"Yosh! Kau benar-benar penyelamat hidup, Sasuke!"
Sasuke mendengus mencemooh. "Aku masih tidak percaya kau yang dulu memiliki kemampuan menulis pas-pasan sekarang bisa jadi wartawan."
Naruto tertawa bangga. "Tapi kau kan sudah baca artikel-artikelku. Kemampuan menulisku sudah hebat sekarang!"
Sasuke hanya tersenyum geli, menolak untuk berkomentar karena ia tahu itu justru akan membuat Naruto makin melambung.
"Dan ngomong-ngomong tentang artikel, kau baca kan liputanku tentang kasus—"
"Jangan ada kantor waktu makan!" teriak Sakura tiba-tiba dengan suara kecilnya, membuat Naruto dan Sasuke terkejut. Gadis kecil itu menatap Naruto dan Sasuke dengan galak. "Makan itu keluarga! Jangan ada kantor!" omelnya lagi.
Sasuke tersenyum pada Sakura dan mengangguk sementara Naruto tertawa dan mengelus kepala Sakura.
"Apapun katamu, Tuan Putri," tanggap Naruto, kembali menekuni makan malamnya.
Dugaan Naruto tepat. Walaupun ia sudah mendatangkan Sasuke untuk membantunya menghabiskan sukiyaki buatannya, ia tetap saja kekenyangan. Dan Sasuke juga tampaknya merasakan hal yang sama karena biasanya ia duduk dengan kaku setelah makan, tapi kali ini ia menyandarkan punggungnya ke tembok dan memejamkan matanya. Kelihatan rileks sekaligus kekenyangan.
Tepat saat itu, Sakura memilih untuk beringsut mendekat dan mendudukkan dirinya di pangkuan Sasuke, menghiraukan ayahnya yang sudah berbaring telentang di ruangan, menghabiskan banyak tempat.
"Apa?" tanya Sasuke lembut ketika Sakura duduk dan menatapnya dengan mata hijaunya yang begitu mirip dengan mata ibunya.
"Aku mau Paman 'Suke jadi ayahku juga," ucapnya, dengan nada serius khas anak-anak.
Sasuke rasanya langsung berhenti bernapas dan ia bisa merasakan Naruto membatu di lantai.
Sakura meraih tangan besar Sasuke dengan tangan kecilnya dan menggenggamnya. "Ayah dan Paman 'Suke menikah saja jadi aku bisa punya dua ayah!"
Sasuke bahkan tak punya kata-kata untuk merespon Sakura.
Kemudian gadis kecil itu bangkit berdiri, mendaratkan ciuman di pipi Sasuke sambil berbisik, "Aku sayang Paman 'Suke seperti aku sayang Ayah. Sekarang aku mau tidur. Dadah," kemudian ia berlari kecil ke arah Naruto, membisikkan sesuatu sambil mengecup pipi Naruto juga, dan langsung masuk ke kamarnya, meninggalkan Sasuke dan Naruto berdua saja dengan keheningan yang tidak nyaman.
Tak satupun di antara mereka berdua yang mencoba untuk bicara karena terlalu shock selama beberapa menit, sampai akhirnya Naruto bangkit berdiri.
"Kau mau bir?" tawarnya. Sasuke hanya mengangguk dan Naruto menghilang ke dapur sebentar sebelum kembali sambil membawa dua kaleng bir.
Ia menyodorkan satu ke arah Sasuke dan meneguk isi kalengnya sendiri.
"Ceritakan padaku. Kau masih playboy seperti dulu?" tanya Naruto tiba-tiba. Mata birunya menatap layar televisi yang menampilkan acara komedi, tapi Sasuke tahu pikirannya tidak terfokus di situ.
"Hn," jawab Sasuke singkat, menyesap isi kaleng birnya.
Entah bagaimana Naruto memahami kalau 'hn' yang Sasuke ucapkan barusan berarti 'tidak'. Karena itu, dia menoleh memandang Sasuke dan bertanya lagi, "Lalu? Kau sudah menemukan orang yang tepat?"
Sasuke menggeleng. "Aku bahkan tidak mencoba."
Naruto mengangkat sebelas alisnya. "Sebenarnya apa yang kau lakukan selama tujuh tahun terakhir ini selain mendiamkanku?"
Sasuke mengangkat bahu. "Aku bekerja sangat keras sampai sekarang aku bisa jadi Chief Editor. Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal lain."
Naruto diam memandang Sasuke selama beberapa saat. Kemudian ia kembali menenggak birnya. "Sudah kuduga kalau alasanmu mendiamkanku selama bertahun-tahun sangat klise. Itu juga alasannya aku berhenti mencarimu," ujarnya.
Sasuke hanya tersenyum singkat, sama sekali tidak ada keinginan untuk membantahnya. Ia tahu itu percuma. Naruto sudah mengenalnya sejak SMP. Ia bahkan bisa membedakan 'hn' mana yang berarti 'ya' dan 'hn' mana yang berarti 'tidak'. Bahkan setelah tujuh tahun pun, kemampuan itu tetap tajam. Walaupun selama ini Sasuke selalu bilang kalau ia tak pernah menunggu Naruto, Naruto tahu apa yang sebenarnya Sasuke rasakan. Dan Sasuke yakin, Naruto juga sudah tahu kalau tembok pertahanannya sudah hancur.
"Kau sendiri," ujar Sasuke, "kau tidak berniat mencari sosok ibu baru bagi Sakura?"
Naruto tertawa. "Kau dengar sendiri apa kata Sakura tadi. Ia lebih memilih punya dua ayah daripada punya ibu baru."
Sasuke tertawa pelan mendengar jawaban asal Naruto. "Karena Sakura sendiri sudah merestui, mungkin aku akan melamarmu besok."
Naruto meninju pelan kaki Sasuke, masih tertawa, "Siapa bilang aku mau menerimamu? Kau harus melamarku dengan amat sangat mewah, Tuan Uchiha. Aku bukan pria gampangan."
"Tapi coba katakan padaku dengan jujur," tanggap Sasuke, "apa kau akan mempertimbangkan ucapan Sakura tadi?"
Mata biru Naruto menyipit, tanda bahwa ia sedang berpikir. Kemudian ia menjawab lambat-lambat, "Entahlah," lalu menambahkan, "Aku selalu menyukaimu, Teme. Tapi kita tidak berada di frekuensi yang sama. Jadi mungkin aku butuh sedikit dorongan."
Sasuke terdiam memandang Naruto, dan kemudian tanpa pikir panjang, Sasuke memutuskan untuk mengeliminasi jarak di antara mereka. Tidak dengan agresif. Sasuke hanya meniadakan jarak tanpa tindakan lebih lanjut. Ia hanya diam di sana dan mencoba merasakan respon Naruto. Pria itu juga sama diamnya dengan Sasuke. Tidak menolak maupun menerima.
Setelah beberapa saat, Sasuke menjauhkan dirinya. "Apa menurutmu dorongan itu cukup?"
Naruto nyengir lebar dan menengguk birnya, tapi tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Sasuke tidak memaksanya. Mereka berdua sudah sama-sama dewasa, dan Naruto cukup yakin Sasuke sudah tahu jawabannya, bahkan tanpa perlu ia mengatakannya secara langsung sekalipun.
Mereka berdua menghabiskan sisa malam mereka sambil menonton acara televisi, minum dan mengobrolkan hal-hal ringan, sampai jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Sasuke bangkit berdiri dan mengambil mantelnya, merasa ia harus segera pulang karena ia masih ada pekerjaan yang harus dilakukan besok pagi. Naruto juga bangkit berdiri, mengantar Sasuke sampai ke pintu.
"Jangan lupa artikelku, Teme," Naruto mengingatkan. Sasuke hanya mengangkat sebelah tangannya tanda mengerti.
Sasuke sudah hendak melangkah keluar dari apartemen Naruto ketika mendadak ia berbalik dan menanyakan hal yang selama ini takut ia ketahui jawabannya. "Apakah waktu aku menciummu di bawah pohon maple waktu kita SMA dulu adalah ciuman pertamamu?"
Naruto memandang mata hitam Sasuke lekat dan tersenyum, "Ya. Itu ciuman pertamaku."
Selang beberapa hari kemudian, Naruto dan Sakura menemani Sasuke yang seperti biasa sedang mengerjakan editannya di bangku taman di bawah pohon maple. Sakura yang baru saja pulang sekolah berkata ingin menginap di apartemen Sasuke, jadi Naruto mengantarnya ke sini sekalian setelah menjemputnya dari sekolah.
Sementara ayahnya dan Sasuke duduk di bangku taman, gadis kecil itu berlarian sambil meniup gelembung sabun yang baru saja dibelikan ayahnya.
"Sakura memanggilmu 'papa'," Naruto angkat bicara.
Sasuke mendongak dari drafnya. "Oh ya?"
Naruto tertawa. "Tanggapanmu harusnya lebih histeris. Atau setidaknya merona karena malu dan senang karena anak dari orang yang kau sukai selama bertahun-tahun menganggapmu ayahnya juga padahal kita tidak ada hubungan apa-apa."
Sasuke menggeleng geli. Ia menyingkirkan drafnya. "Uchiha tidak merona, Dobe."
Naruto memelototi Sasuke dan mendesis. "Jaga ucapanmu. Sakura bisa mendengarnya."
Sasuke hanya tersenyum, kemudian merogoh saku mantelnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari dalamnya dan menyodorkannya ke arah Naruto.
Naruto mengerjap memandang kotak itu. "Apa ini?" tanyanya bingung, tapi ia toh tetap mengambil kotak itu dari tangan Sasuke.
"Buka saja," jawab Sasuke singkat dengan senyum misterius.
"Hm," gumam Naruto seraya membuka kotak itu dan kembali mengerjap. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah kunci berwarna perak. Kunci yang Naruto kenali sebagai…
"Itu duplikat kunci apartemenku."
Naruto mendongak dari kunci di tangannya, memandang Sasuke.
"Dengan itu," ujar Sasuke lagi, "kau memiliki akses bebas ke apartemenku kapanpun kau mau. Jadi kau atau Sakura tidak perlu menungguku pulang kalau mau mampir."
Mata biru Naruto masih terpaku pada Sasuke. "Teme, kau tidak—"
Sasuke berdehem, memotong kata-kata Naruto dan mengalihkan pandangannya ke Sakura, menghindari tatapan Naruto. "Kurasa kita harus mencoba."
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
"Aku mau pakai gaun!" rengek Sakura. Sasuke berjongkok di hadapannya, berusaha menenangkannya.
"Tapi tidak ada ukuran yang pas untukmu, Sakura," ujar Sasuke lembut.
Sakura merengut. "Kalau begitu ayo cari di toko lain! Karena Ayah dan Papa tidak ada yang mengenakan gaun di pernikahan kalian minggu depan, aku harus pakai gaun!"
Sasuke hendak membujuk gadis kecil itu lagi ketika Naruto berlari-lari menghampiri mereka berdua dengan sebuah bungkusan di tangannya.
"Aku menemukan ukuranmu, Sakura," sengalnya, menyodorkan bungkusan itu ke arah Sakura. "Gaun yang pas kau pakai untuk minggu depan."
Sakura memeluk bungkusan berisi gaun barunya dengan tawa senang, kemudian mendaratkan kecupan di pipi Sasuke dan Naruto. "Aku sayang Ayah dan Papa!"
-end-
Sasuke tidak tahu kalau sebenarnya 'Paman 'Suke' itu kependekan dari 'Paman Sukebe' (bletak). Dan ya, menurut saya, kalau straight punya pohon sakura dan cincin untuk melamar, slash punya pohon maple dan kunci apartemen untuk melamar. I think it's kinda sweet when someone gives you key to their house. Tandanya orang itu sudah siap menerimamu sebagai bagian dari hidupnya ;)
Apa yang sebenarnya saya tulis. Kenapa jadinya panjang bener padahal niatnya cuma oneshot =w= Tapi kalo menurut Kak Ghee, pasti dia tetep bilang ini kurang panjang (sigh)
Dengan ini, saya kembali undur diri dari fandom Naruto untuk waktu tidak terbatas (plak)
Oh, ya, typo di luar tanggung jawab author (double plak)
You realize something precious after you lost it.
