Stage 1.2

Calama, Chili

Sebuah bis berdebu berhenti di terminal Calama. Tidak banyak yang turun. Penumpang yang lain masih meneruskan perjalanan ke Antofagasta.

Di antaranya seorang wanita dengan rambut legam, menarik koper kecil dari bagasi di bagian belakang bis. Dibantu oleh seorang pemuda, juga berambut hitam, menyandang sebuah ransel.

Kondektur bis nampak acuh-tak-acuh. Begitu mereka selesai mengambil bagasi, lalu ditutupnya. "Sudah semua, senorita?" tanyanya setengah-setengah.

"Sudah," si pemuda menjawabkan. Kondektur naik lagi, bis ditutup, dan berangkat lagi.

Kedua orang berambut hitam itu berjalan ke arah ruang tunggu."Sev sagte kalau kita harus menunggu eine Stunde, satu jam sampai kendaraan ke Atacama itu datang," keluh si wanita.

Pemuda itu diam saja.

"mein Sohn, Mum mau ke kamar kecil dulu. Tunggu di sini, ja?"

Pemuda itu mengangguk.

Dia duduk. Dan mengarahkan pandangan pada setiap jengkal ruangan. Seperti yang sedang menyelidik.

Tapi tidak.

Dia melihat-lihat jangan sampai ada yang datang. Yang dikenalnya. Dia was-was.

Sejak saat itu di Astronomy Tower, hatinya tidak pernah tenang. Padahal, dia sudah menurunkan tongkat. Tetapi ... Snape malah menyelesaikan tugasnya.

Lalu mereka lari. Tetapi mereka tidak lari jauh. Saat mereka tiba di suatu kelokan kecil, Snape mendorongnya ke tebing yang gelap, sambil berbisik, "Ibumu sudah menunggu. Dia sudah tahu semua, jangan lakukan sihir, apapun. Ikuti apa katanya," lalu dia menyusul para Death Eaters yang lain.

Entah apa yang Snape katakan pada para Death Eaters yang lain mengenai dia. Lebih tidak ingin dia memikirkan apa yang akan Snape katakan tentangnya pada Pangeran Kegelapan.

Tetapi, pokoknya dia langsung didorong menyentuh portkey, yang langsung membawanya entah ke mana. Di situ ada Mum. Mum sudah berkemas, koper untuknya, ransel untuk Draco. Dan, entahlah. Draco ingin tertawa getir. Wig hitam untuk menutupi rambutnya yang pirang mencolok!

Dan mereka pergi dengan cara Muggle! Mereka pergi menyusuri Inggris, menyeberang ke Prancis, terus hingga ke Gibraltar. Naik bis, naik kereta. Lalu naik kapal laut menyeberang samudera, hingga sampai ke Caracas, Venezuela. Dari Caracas naik bis lagi entah berganti berapa bis, entah berapa hari. Tanpa sihir! Sungguh menyiksa.

Jika ada yang mengajak ngobrol, Mum selalu menjawab seolah-olah mereka adalah warga Jerman. Lengkap dengan logatnya. Dan sekarang? Mereka ada di Chile, berbahasa Spanyol! Draco tertawa sinis dalam hati.

Dulu ia belajar bahasa Jerman, karena ingin sekolah ke Durmstrang. Ayahnya mendukung. Hanya Ibu saja yang tidak ingin dia bersekolah terlalu jauh, karena itu dia akhirnya masuk Hogwarts. Tapi ia selalu memandang bahasa Jerman itu bahasa tinggi. Bahasa yang antik. Sekarang? Ia harus mengerti mereka yang berbahasa Spanyol, bahasa yang selalu dikiranya sebagai bahasa jalanan!

Dan ia ada di sini sekarang.

Dan baru disadari sekarang bahwa Dumbledore memang telah mengetahui rencananya sejak dulu.

Begitu ia menyentuh portkey, Ibu telah siap dengan perlengkapan untuk mereka melarikan diri. Ibunya mengatakan Severus yang mengatur. Tapi Draco tahu, Dumbledore-lah yang mengatur. Snape hanyalah perantaranya.

Mereka melarikan diri ke Chile. Ke seorang kerabat, yang Draco-pun baru mendengar namanya. Lucretia Blanco. Seorang kerabat jauh. Dia seorang penyihir independen. Dia tidak mau bekerja sama dengan Pangeran Kegelapan. Dia punya kastil sendiri, yang terlindung. Mantra-mantra yang rumit sehingga tidak terdeteksi pihak lain.

Narcissa sendiri tidak mampu mendeteksinya. Draco yakin, Dumbledore-lah yang berhasil mendeteksinya. Melakukan komunikasi dengan Lucretia. Bahkan menyediakan jalur untuk melarikan diri, jika Draco gagal dalam tugasnya.

Dan bukan main-main, karena akan ada dua pihak yang akan mengejarnya. Pihak Kementrian Sihir Inggris, dan Pangeran Kegelapan. Untuk itulah mereka harus melakukan perjalanan ini dengan cara Muggle. Agar tidak terdeteksi secara sihir.

Dadanya terasa sesak. Ternyata Dumbledore tahu mengenai semuanya. Mengatur pelarian Draco. Dan bahkan mengatur kematiannya sendiri! Semua ini memenuhi kepalanya sejak kejadian itu.

Tapi itu sudah terlambat. Penyesalan tak dapat diulang. Yang penting sekarang, ia dan Mum selamat hingga ke tempat Lucretia, yang tinggal beberapa kilometer lagi. Di padang pasir Acatama, di sanalah kastil Lucretia. Kalau mereka berhasil tiba di sana, berhasil masuk, dan jika diterima oleh Lucretia, maka mereka bisa kembali melakukan sihir lagi dalam kastilnya.

Entahlah.