Di tepi jurang, aku melihat sosok mu yang terkulai lemah
Di tepi jurang, aku melihat sosok mu yang hancur
Dan di tepi jurang ini, aku menyorot sosokmu dengan kamera ini
Mengabadikan tiap moment dari kehancuranmu
(Puisi hati Author)
Evil Baby Snow Company featuring SM entertainment
Present
Bagian Pertama dari Bab 3
Air mata terus mengalir, suara sesegukan terus terdengar di antara ibu Kyuhyun dan Sungmin yang menatap iba pada sosok Kyuhyun yang asik bermain dengan kedua boneka di tangannya.
Sungmin menundukkan kepalanya ke bawah, berharap sosoknya yang rapuh tak tampak. Berharap mata, hidung dan pipinya yang memerah tak di perhatikan, walau semua itu sia-sia saat suara isakan kecil lolos dari bibirnya yang terkunci rapat.
"Sekarang kau puaskan?" Suara berat berkharisma menyadarkan Sungmin bahwa ia tak sendiri, "Sudah pernah ku katakan jangan pernah menemuinya lagi, jangan pernah pedulikan dirinya dan jauhi dia seperti saat kau membuangnya saat itu".
Kalimat terakhir yang di ucapkan ayah Kyuhyun bagai petir yang tiba-tiba menyambarnya. 'Membuangnya? Aku membuangnya?', Tubuh Sungmin yang bergetar karena menahan isak tangis beralih menjadi membeku di tempat. Wajahnya terkenadah menatap lurus ke depan. Menatap sosok polos tanpa beban yang ada di balik pintu transparan di depannya.
"Aku tak bermaksud melakukannya" bisiknya lirih, tak peduli walau tiap kata yang terucap jadi samar karena tangisannya, "Saat itu aku terpaksa" lanjutnya, di genggam sudut kiri dadanya yang terasa sakit bagai teriris pisau tak terlihat, "Saat itu terpaksa harus ku lakukan" tak kuat lagi menahan beban tak nampak, tubuh Sungmin merosot jatuh terduduk, tangannya senantiasa tetap setia mencengkram dada kirinya, berharap rasa sakit itu berkurang, atau minimal berharap detakan jantungnya kembali normal.
Tak kuasa menahan semua ini, Ibu Kyuhyun melepaskan pelukan suaminya. Dengan langkah gontai ia berjalan menjauh, bersandar pada dinding di seberang pintu kamar anaknya. Di tutup mulutkan dengan sebelah tangan, dan nafasnya terdengar sayup-sayup karena isakan tangis.
"Apapun yang kau katakan takkan merubah semuanya" langkah kaki pelan mendekat ke sisi Sungmin yang terduduk di lantai, spontan membuat Sungmin mendongak menatap pria setengah baya yang berdiri tegap di sampingnya, "Semua sudah terjadi" lanjutnya, "Dan semua inilah konsekuensi dari keputusan yang kau pilih, entah itu baik atau tidak" mata hitam ayah Kyuhyun menatap sosok anaknya dengan pandangan sedih, tapi tak tampak tanda-tanda ia akan menangis.
Sungmin tertunduk lemah. Mencerna tiap kata-kata itu dengan pikirannya yang tak jernih. Mencerna baik buruk apa yang terjadi. Apakah semua ini salah? Pengorbanannya? Waktunya yang terbuang sia-sia saat memakai topeng 'suami' selama 2 tahun ini? Apakah semua ini salah?. Di dalam benak Sungmin terus tercipta kata demi kata yang terjalin menjadi sebuah kalimat tanya. Kalimat tanya yang tak pernah bisa ia jawab, bahkan sampai saat ini.
BRUK
Sungmin terkejut, bola matanya langsung berputar menatap sebuah boneka kelinci berwarna merah muda yang tergeletak di depannya, di balik pintu transparan itu.
Matanya menatap sendu pada sang boneka, dan tanpa sadar garis bibirnya tertarik menciptakan sebuah senyuman tipis. Hatinya begitu rindu pada boneka itu, atau lebih tepatnya pada sejumput kenangan manis yang menjadi latar belakang adanya boneka kelinci berwarna merah muda itu.
.
"Hyung selamat ulang tahun. Maaf aku hanya bisa mendapatkan boneka dengan ukuran ini, padahal aku sudah berusaha mencarinya kemana-mana. Ini Mr. Bunny, Hyung"
"Aku sangat mencintamu hyung. Tetap terus di sampingku apapun yang terjadi, oke?"
"Hyung lihat! Aku menemukan pasangan untuk Mr. Bunny! Lihat! Ini Mr. Wolf! Ayo hyung kenalkan padanya!"
"Kenapa kau lebih perhatian dengan Mr. Bunny dari pada aku, padahal Mr. Bunny sudah punya Mr. Wolf yang menemaninya. Seharusnya yang betul itu, Mr. Bunny pasangannya Mr. Wolf, dan Bunny yang menggemaskan ini jadi pasanganku"
"Kau ingin membawanya juga? Hahahaa, aku mengerti, kau mau mereka menjadi saksi kita juga kan? Baiklah, apapun yang kau suka maka aku juga suka, jadi ayo kita bawa mereka juga"
.
Percakapan tiap percakapan, kisah tiap kisah, dan kenangan tiap kenangan terputar ulang di ingatan Sungmin saat matanya terus menatap boneka kelinci yang tergeletak di depannya. Tanpa sadar senyum simpul nan hangat terulas di wajahnya. Matanya menatap sendu pada boneka tak bergerak itu, yang terus membongkar paksa tiap kenangan yang di laluinya dengan sosok pria yang memberikan boneka itu, kekasihnya, Kyuhyun.
"Ah! Kau jangan lari seperti ini bunny!" Suara serak agak berat yang begitu di rindukan Sungmin terdengar, hingga tak berapa lama sepasang kaki berdiri tepat di depannya, namun lagi-lagi terpisah oleh pintu transparan.
Ia membungkukkan tubuhnya dan Jari-jari panjang nan lentik dengan terbalut kulit berwarna putih agak pucat terulur meraih boneka kelinci yang tergeletak, "Kan sudah ku bilang, jangan tinggalkan Wolf sendirian, lihat dia bersedih sekarang" di tepuk-tepuk dengan lembut boneka itu sambil tersenyum, "Kau jangan lari-lari seperti itu lagi, oke?" Dan dengan satu kecupan hangat dari bibir Kyuhyun kepala Bunny Doll, dirinya langsung tertawa sendiri, menganggap tindakannya begitu manis.
"Kyu―"
Sosok Kyuhyun yang masih ada di dalam kamarnya menenadah saat mendengar suara seseorang.
"Kyu―" Sungmin menangis sekali lagi, saat melihat sosok Kyuhyun yang begitu dekat dengannya menatapnya dengan mata yang ia rindukan.
"Kyu" Sungmin menjulurkan sebelah tangannya berusaha meraih sosok yang sangat ia cintai, ya benar, sampai sekarang pun Sungmin tak bisa berdusta pada dirinya sendiri bahwa ia masih mencintai Kyuhyun. Tapi uluran tangannya terhenti saat ia menatap wajah Kyuhyun yang berubah, ekspresinya terkesan bingung dengan alis berkerut menatap dirinya.
"Kyu?" Panggil Sungmin agak keras, tapi Kyuhyun malah memiringkan kepalanya seakan berpikir, tindakan Kyuhyun ini seketika membuat jantung Sungmin berdetak keras, ia begitu takut dengan apa yang ada di pikirkannya saat ini.
Lagi-lagi Kyuhyun menatap Sungmin dengan pandangan bertanya. Menatap dengan teliti sosok di depannya.
Entah merasa lelah berpikir atau memang ia tak tahu, Kyuhyun mengangkat bahunya dan tersenyum pada Sungmin. Sebuah senyuman kekanak-kanakan tanpa beban dan membawa tubuhnya berlalu meninggalkan Sungmin yang masih terduduk di depan pintu kamarnya seraya memeluk boneka kelincinya ke tempat tidur, di mana di sana di letakkan.
"Tu.. Tunggu Kyu" panggil Sungmin panik sambil menggedor pintu, berharap sosok orang yang ia cintai berhenti berjalan dan menoleh ke arahnya.
"Kyu! Kyuhyun-ah!" Di gedor-gedor terus pintu yang memisahkannya dengan Kyuhyun, tapi sekuat apapun ia mencoba, Kyuhyun tak berpaling padanya, malah asik bermain lagi dengan kedua bonekanya.
"KYU!"
"Sudah hentikan" tegur ayah Kyuhyun, "Hentikan. Seperti apapun kau berteriak dia takkan mengenali mu. Sama seperti ia tak mengenali kami lagi".
Sungmin menangis semakin keras karena perkataan ayah Kyuhyun, suara tangis yang berusaha ia tahan akhirnya tak sanggup lagi dia sembunyikan. Mendengar suara tangis Sungmin dan ucapan suaminya, hal ini menimbulkan rasa sedih lagi di hati Ibu Kyuhyun, ia menangis dan tak menyembunyikan suara tangisnya yang miris untuk di dengar.
"Bukankah ini yang kau inginkan?" Tanya ayah Kyuhyun.
"Tidak!" Teriak Sungmin, "Aku tak menginginkan ini terjadi" di senderkan dahi dan kedua telapak tangannya ke pintu, dia merasa lelah, namun bukan hanya kelelahan secara fisik, namun jiwanya benar-benar lelah, "Benar, bukan ini yang ku inginkan―" ucapnya dengan sesegukan.
"Seandainya. Ya seandainya, aku tak melakukan ini, maka dia―"
"Hentikan! Percuma kau berandai-andai, yang telah terjadi takkan bisa di ubah lagi" cetus ayah Kyuhyun.
"Tapi ini hanya seandainya!" Bela Sungmin mencoba membenarkan pendapatnya walau ia tahu, sekuat apapun ia mencoba bertahan dengan agrumen itu, Tuhan takkan tergugah dan memberinya sebuah keajaiban kecil, keajaiban bernama 'waktu yang terputar ulang'.
Sungmin tertawa miris karena imajinasinya ini, di gerakkan kepalanya sedikit memutar agar matanya bisa menangkap sosok Kyuhyun, "Seandainya saat itu aku tak melakukannya. Ya andai saat itu aku tak pengecut dan tetap memilihnya" resahnya, Di pejamkan kedua matanya tertutup dan mengambil napas panjang, "Ya seandainya aku tak meninggalkannya maka hal ini takkan terjadi" gumamnya pada dirinya, dan membiarkan otaknya kembali membuka sebuah kenangan yang ia simpan dengan rapat hingga terkuak kembali.
Sebuah kenangan manis untuk di ingat, namun juga sebuah kenangan buruk bila terus mengingatnya sampai akhir.
»
» Flashback 2 tahun sebelumnya «
»
"Kyu, Kau yakin?" Sungmin merengutkan alisnya dan mengerucutkan bibirnya ke depan, membentuk sebuah ekspresi cemberut yang manis dengan bibir pink alami yang menggoda, wajahnya terpancar keraguan akan sebuah ide gila dari Dongsaeng sekaligus kekasihnya. Hanya saja, seorang kekasih yang tak normal bila di perhatikan. Tak normal mengapa? karena mereka sama-sama seorang laki-laki, atau dengan kata lain, mereka menjalin hubungan yang sangat tabu di mata sebagian masyarakat Korea Selatan, sebuah hubungan terlarang, hubungan cinta sejenis, atau sering di sebut Gay.
"Sangat yakin Hyung" angguknya tanpa ragu, matanya memacarkan sebuah kesungguhan yang tulus dengan senyuman meyakinkan, "Tapi Kyu― ".
Kyuhyun menggeleng pelan sambil memejamkan matanya, "Kau tak yakin padaku Hyung?" sebuah pertanyaan di utarakan Kyuhyun sambil memegang kedua pundak Sungmin dengan erat, hampir meremasnya bila ia tak sadar bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah kekasih yang sangat ia cintai.
Mata mereka saling menatap, mencari-cari sebuah jawaban di antara masing-masing, "Bukan maksud ku tak yakin" ucap Sungmin memecahkan keheningan di antara mereka berdua, "Hanya saja kau tahu kalau keluargaku masih tak setuju dengan hubungan ini, terutama ayah ku― " ucapnya pelan dengan suara lirih, di turunkan tatapan matanya menjauh dari mata kehitaman Kyuhyun, ia terlalu takut untuk saat ini menatap mata yang memancarkan kekecewaan di depannya itu.
"Aku mengerti" Kyuhyun melepaskan tangannya dari pundak Sungmin, dan terduduk di bangku panjang sebuah taman yang sepi, malam ini. "Aku mengerti kalau kau tak mencintaiku" ucapnya kembali dan menggenggam kedua tangannya.
Sungmin menggeleng liar saat mendengar perkataan itu, dengan cepat ia berjongkok di hadapan Kyuhyun, menggenggam kedua tangan Kyuhyun yang terjalin, "Bukan itu maksudku" katanya dengan cemas, "Tapi buktinya kau menolakku Hyung!".
"Tidak!" teriak Sungmin frustasi, ia terlalu bingung sekarang untuk menyusun sebuah kalimat yang tepat agar Kyuhyun tak semakin salah paham, "Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu! Tapi aku pikir ini belum saatnya kita melakukan sampai sejauh itu".
"Tapi mulai minggu depan akhirnya kontrak kita dengan SM entertainment berakhir! dan itu berarti kita bisa bebas menjalin cinta ini!" ketus Kyuhyun, ia tak ingin di bantah sekarang.
Sungmin menghela napas putus asa, ia beranjak dan duduk di sebelah Kyuhyun, "Memang. Tapi untuk meresmikan hubungan kita di sebuah ikatan resmi itu sangat tidak masuk akal. Negara kita tak menerima pernikahan sejenis, Kyu".
Kyuhyun dan Sungmin terdiam, tak ada yang berbicara di antara mereka.
"Untuk masalah itu sudah ku atur" kata Kyuhyun.
Sekali lagi Sungmin mengerutkan alisnya, "Maksudmu?". Di pandang dengan heran sosok Kyuhyun yang tenang sambil menatap lurus ke depan.
"Aku sudah mengatur pernikahan kita di sebuah gereja di Holland. Begitu masa kontrak kita benar-benar selesai, kita bisa langsung berangkat ke belanda dan menikah di sana"
Sungmin terkejut, dia sangat tak menyangka Kyuhyun melakukan hal ini, di luar sepengetahuannya, "Maksudmu― ? "
Kyuhyun menolehkan wajahnya ke samping, memandang dalam ke mata kecokelatan milik Sungmin, "Would you marry me?" ucapnya jelas, lugas, dan tegas membuat mata Sungmin membulat sempurna karena Shock, "Would you marry me, Hyung?" tanya Kyuhyun lagi, di raih jari jemari Sungmin dan mengaitkan dengan jarinya sendiri, membiarkan jari mereka terjalin dalam sebuah genggaman hangat, "Hyung?" panggil Kyuhyun ragu saat ia tak merasakan reaksi Sungmin berubah dari Shock, "Hyung, Please" pintanya, di genggam erat jemari Sungmin yang terjalin dengan jemarinya.
"Sudah ku katakan, tidak untuk sekarang" hela Sungmin, di lepaskan genggamannya dari jemari lentik Kyuhyun dan memalingkan wajahnya menghindar.
Kyuhyun mendesah, ia sadar ini memang belum saatnya.
Tapi―
Di ronggoh kantung celananya dan mencari-cari sebuah barang yang ia simpan sedari tadi. "Aku tahu ini terlalu cepat" di keluarkan tangannya dari kantung celana saat ia yakin benda yang dicarinya sudah dalam genggaman, "Kalau kau terlalu takut hubungan kita tak di restui. Kau salah besar Hyung". Sungmin mendelik, menatap Kyuhyun dengan ribuan pertanyaan di benaknya, "Kau tak perlu cemas, karena orang tua ku dan Ahra-noona sudah merestui hubungan kita" dengan sebuah senyuman kecil Kyuhyun membuka genggaman tangannya tepat di depan wajah Sungmin, memperlihatkan 2 buah cincin.
Sungmin terkejut. Tak bisa ia tutupi perasaannya yang benar-benar kaget, terutama saat mendengar kata-kata Kyuhyun. Merestui mereka? Keluarga Kyuhyun merestui mereka? pikirnya tak percaya.
Dengan mata membulat sempurna, mulut yang terbuka dan wajah yang Shock, Sungmin memandang Kyuhyun yang tersenyum dengan tak percaya. Sesekali di alihkan pandangannya pada 2 buah cincin putih dengan ukiran sederhana yang ada di dalam genggaman Kyuhyun, "K Kyu?" gagapnya tak percaya. Tak bisa ia pungkiri bahwa jantungnya berdetak melebihi batas normal kali ini, seiring debaran itu, ia merasa nafasnya bagai tercekat. Tak bisa ia gambarkan seperti apa perasaannya saat ini. Sedih? Senang? Kaget? Bahagia?. Entahlah dia tak bisa mengatakan dan mendeskripsikan dalam kata-kata perasaannya sekarang. Hanya saja, karena perasaan itu dan debaran jantungnya, tanpa ia sadari matanya mengeruh dengan air mata siap tumpah di kedua mata bulatnya.
Kyuhyun tersenyum simpul, ia begitu senang dengan reaksi Sungmin karena ucapan dan hadiah kecil yang sudah ia siapkan. Entah mulai dari beberapa hari yang lalu ia selalu membayangkan bagaimana reaksi Sungmin saat ia melakukan hal ini. Apakah dia bahagia? Apakah dia Tertawa? Apakah dia menangis?. Bayangan-bayangan dari tiap reaksi Sungmin selalu menjadi hiburan di kala rasa tegang yang menggerogoti hatinya.
"Kau suka?" tanya Kyuhyun, di raih tangan kanan Sungmin dan meletakkan kedua cincin itu dalam genggamannya. "Maaf aku kurang begitu tahu tentang barang seperti ini, Jadi aku memilih cincin yang seperti ini, Maaf kalau kau tak suka karena terlalu sederhana" di remas tangan kanan Sungmin agar cincin itu tergenggam dalam kepalan tangannya.
Sungmin tak bisa berkata, air matanya akhirnya tumpah namun ia menangis tanpa suara karena mulutnya ia tutup dengan tangan kiri.
"Hei, kenapa kau menangis seperti ini?" tegur Kyuhyun lembut, di seka air mata yang membuat jejak di pipi kekasihnya itu, "Kau tak cocok dengan air mata. Yah, walau ku akui kau semakin menggemaskan kalau menangis seperti ini. Tapi tetap saja aku lebih suka kau yang tertawa".
Sungmin menggeleng dan menundukkan kepalanya, "A..Aku hanya kaget" ucapnya berusaha terdengar jelas. "Aku tak menyangka kau benar-benar serius dengan hal ini" di dongakkan wajahnya agar pandangan mata mereka bertemu, "Terutama saat kau bilang bahwa keluargamu merestui hubungan kita" tak tahan lagi, Sungmin langsung memeluk Kyuhyun, menumpahkan air mata bahagian di dalam dekapan hangat dada bidang Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum, di balas pelukan Sungmin dengan erat, dan mengelus punggung Sungmin memberikan kenyamanan.
Tak terasa 10 menit Sungmin terus menangis, membuat matanya membengkak kemerahan. "Hei Hyung, mau sampai kapan kau menangis? Bajuku sudah basah karena air matamu" tegur Kyuhyun.
"Ah! Maaf Kyu!" sadar Sungmin dan melepaskan pelukan hangat Kyuhyun, menyeka air matanya dengan cepat. Kyuhyun tertawa dengan cara Sungmin yang panik menyeka air matanya, 'Manis' pikir Kyuhyun dan menarik tangan Sungmin menyingkir dari wajah itu dan memberikan kecupan ringan di bibir tipis milik Sungmin.
"Kenapa kau seenaknya menciumku!" marah Sungmin saat Kyuhyun melepaskan kecupannya, "Salah sendiri kau terlihat manis" balas Kyuhyun acuh, di jilat bibir bawahnya merasakan jejak manis bibir Sungmin yang tertinggal.
"Uhk!" cemberut Sungmin tak terima, "Kalau kau begitu lagi ku buang cincin ini!" ancam Sungmin.
"Hyung! Kenapa kau bilang begitu! Walau itu cincin yang biasa saja tapi jangan main buang! 4 Jam aku keliling toko perhiasan hanya untuk cincin itu saja!"
"Siapa juga yang minta kau memilih selama itu! Aku tak pernah bilang kan?"
"Memang iya, tapi tetap saja Hyung hargai jerit payahku sedikitlah!"
"Kalau aku tak mau, kenapa?"
"Kau― " marah Kyuhyun dengan mata melotot, tangannya terkepal siap untuk memberikan tinjuan pada pria yang ada di depannya. "AAKHH!" geram Kyuhyun kesal. Mungkin karena terlalu kesalnya sampai ia menendang batu yang ada di bawah kakinya sebagai pelampiasan.
Sungmin tertegun, ia sadar bagaimana tempramen Kyuhyun saat marah, tapi tetap saja ia sering bergidik takut karena tahu betapa arogan-nya seorang Cho Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah" panggil Sungmin pelan, dan tentunya dengan ragu-ragu. Tapi hanya diam tak pedulilah yang di terima Sungmin, "Kyuhyun-ah" panggilnya sekali lagi, tangannya meraih mendekat lengan Kyuhyun, memberikan sentuhan kecil.
"Apa?" balas Kyuhyun geram, matanya menatap tajam pada Sungmin.
Mental Sungmin saat itu juga langsung menciut saat mata Kyuhyun menatapnya dengan tajam, tanpa ampun. "Maafkan aku" lirihnya dan di genggam ujung lengan baju Kyuhyun, "Maafkan aku Kyu".
