Sacrifice

By: Azumaya Miyuki

A Hunter x Hunter Fan Fiction.

Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.


Chapter 3: Separated

Penat. Kuroro Lucifer merasakan kepenatan yang luar biasa tatkala ia terkurung dalam sebuah bangsal tanpa cahaya. Kuroro mendesah. Pasti ia bermimpi buruk lagi.

Ketika pemuda berambut hitam itu hendak mengayunkan kaki untuk menopang tubuhnya, ia baru sadar kalau kaki dan tangannya diikat dengan rantai ke sisi dinding sedemikian kencang hingga dirinya sulit bergerak. Kuroro menghela napas panjang. Benar-benar mimpi yang menyebalkan, pikirnya.

"Sudah kuduga kau akan memakan darahnya," sosok bersayap hitam itu muncul lagi di hadapan Kuroro. "Darah Kurapika, yang kau bilang sangat kau cintai itu. Hmm… ternyata cintamu palsu, ya."

"Diam!" teriak Kuroro. "Ini semua gara-gara kau!"

"Hei, jangan salahkan aku. Apa kau sudah lupa kalau aku sudah mengabulkan permohonanmu, dengan menghidupkan kembali manusia yang bernama Kurapika itu? Kau punya otak, 'kan? Apa kau ini tak tahu terima kasih?"

Kuroro tertawa mencibir. "Aku tak butuh. Aku tak butuh semua ini kalau hanya akan membuat Kurapika menderita! Lebih baik ia meninggal dengan tenang daripada harus hidup tersiksa! Kuminta kau mencabut permohonanku, sebelum lebih banyak lagi kepedihan yang akan dirasakan oleh Kurapika hanya karena keegoisanku."

"Tidak. Kau tidak akan pernah bisa kembali. Sebab aku sudah memenuhi permohonanmu, dan kini aku tinggal menagih bayarannya. Tentunya kau paham kalau aku tak ingin sampai merugi," sosok itu menyahut. "Lagipula, aku memang membutuhkan darah manusia sebagai santapanku. Aku juga sudah merancang bahwa kau hanya bisa memakan darah Kurapika. Bagaimana? Hebat, bukan?"

Kuroro meremas tangannya, geram.

"Kau benar-benar bajingan!"

"Terserah kau mau menyebutku apa. Tapi yang pasti, kontrak kita belum selesai, dan aku masih membutuhkan tubuhmu untuk keperluan pribadiku. Jadi bersabarlah, Kuroro Lucifer…"

Saat suara tawa makhluk bersayap hitam itu terdengar melengking laksana merobek jantung, ketika itu jugalah Kuroro terjaga dari tidurnya.


"Kurapika, lehermu kenapa?"

Pertanyaan yang dilontarkan Gon barusan membuat Kurapika berhenti menyantap makanannya. Lelaki berambut emas itu terdiam seketika.

"Leherku?" ulang kurapika, pura-pura bodoh. "Memangnya ada apa dengan leherku?"

"Seperti ada bekas luka gigitan," kali ini Killua yang berbicara.

"Wah, wah, wah… apa yang sudah Kuroro lakukan terhadapmu, Kurapika?" Leorio tertawa nakal.

"Bi-bicara apa kamu!" pipi Kurapika bersemu merah. "Bekas luka ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kuroro. Tempo hari, seekor serangga menyebalkan membuat bekas luka ini di leherku. Kamu jangan berpikir macam-macam dong, Leorio."

"Iya deh, maaf…"

Kurapika melanjutkan makan siangnya dengan tidak berselera. Mana mungkin dia bercerita kepada ketiga temannya itu kalau Kuroro tiba-tiba menggigit lehernya dan menghisap darahnya? Ia sama sekali tak ingin membuat Gon dan yang lain khawatir.


Diantara keremangan malam yang bertabur cahaya bintang, seorang pemuda berambut hitam melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Ditabraknya bebatuan, ditepisnya ilalang, dilaluinya semak rerumputan, hingga ia sampai di sebuah jembatan berhiaskan lampu-lampu yang indah. Napasnya tersengal-sengal. Kain putih yang membalut keningnya betul-betul berantakan.

"Darah… darah..." gumamnya perlahan. "Kurapika… aku butuh… darahmu…"

Bagai tengah dilanda kehausan yang luar biasa, Kuroro Lucifer tak mampu menahan hasrat yang ditimbulkan oleh makhluk nista yang tengah menghuni tubuhnya itu. Ia ingin minum darah sekarang. Darah Kurapika.

Takdir tak dapat ditolak. Kurapika bersama dengan ketiga sahabat karibnya melintas di jalan yang sama. Belum hitungan detik, Kuroro sudah mendekati Kurapika dan menarik tangannya paksa, menjauhkan dia dari teman-temannya yang memandang mereka dengan heran.

"Kuroro?" Kurapika berujar kaget. "Apa yang—"

Belum sempat Kurapika menyelesaikan kata-katanya, telunjuk Kuroro sudah menempel di bibir Kurapika. Kurapika pun terdiam, mulai memasang posisi siaga, karena dia sudah bisa memperkirakan apa yang sesungguhnya akan terjadi.

"Apa yang kau inginkan?" ucap Kurapika lantang. "Darahku, ya?"

Kuroro mengangguk.

"Aku tidak mau memberikannya!" Kurapika berteriak, menggenggam rantai di jemari kanannya erat-erat. "Tidak akan!"

"Oh, jadi kau tidak mau ya, Kurapika?"

Kurapika terperangah. Suara itu… itu bukan suara Kuroro!

Samar-samar, sesosok makhluk bersayap hitam muncul di belakang Kuroro. Taringnya yang tajam terlihat ketika ia menyeringai. Seringai yang menakutkan.

Kurapika mundur beberapa langkah. Matanya nanar melihat Kuroro yang menatapnya kosong.

"Kuroro…" desah Kurapika. "Kau siapa? Apa yang kau lakukan terhadap Kuroro?"

Makhluk itu terkekeh. Dia membisikkan beberapa kata ke telinga Kuroro. Kuroro mengangguk, lalu maju mendekati Kurapika. Di tangannya, teracung sebilah pisau.

"Bunuh dia, Kuroro!" makhluk itu berseru. "BUNUH DIA!"

Darah mengalir deras dari perut Kurapika ketika Kuroro menancapkan pisaunya. Luka yang terbentuk cukup dalam. Kurapika jatuh terduduk, meringis kesakitan. Kuroro ikut duduk di depan Kurapika, menjilati darah yang menetes.

Kuroro tampah patuh kepada makhluk bersayap hitam itu. Persis seperti binatang peliharaan yang bersikap santun terhadap majikannya. Kurapika tak tahu kenapa Kuroro bisa berubah seperti itu.

"Kuroro! Apa yang sudah kau lakukan?" Leorio mendekati tubuh Kurapika yang bersimbah darah. "Apa kau sadar kalau kau hampir membuat Kurapika kehilangan nyawa, hah?"

Mendengar ucapan Leorio, Kuroro langsung tersadar. Ia menyesali perbuatan yang telah ia lakukan, yang sebetulnya terjadi bukan atas dasar keinginannya.

"Kurapika…"

"Jangan dekati temanku!" teriak Leorio. "Kau membuatnya menderita. Kau membuatnya sengsara! Sudahlah, jangan pernah kau ganggu Kurapika lagi, atau kau harus berhadapan dengan kami!"

Kuroro hanya bisa menyaksikan dari jauh ketika Leorio, Killua, dan Gon membopong Kurapika, lalu membawanya pergi. Pemuda itu merasa kutukan telah menimpa dirinya. Ia menganggap dirinya hina! Ia menganggap dirinya tak pantas untuk mendampingi Kurapika atas segala perbuatan keji yang telah dilakukannya…

Ia ingin menghapus kutukan yang sudah menjerat dirinya, tapi bagaimana caranya?


Kurapika baru membuka mata tatkala ketiga temannya sudah terlelap, kelelahan menunggunya terjaga. Ia mengerang tertahan, lalu menghela napas lega ketika mendapati perban telah membalut luka di perutnya. Pasti ini kerjaan Leorio, begitu pikirnya.

Ingatan akan perubahan sikap Kuroro yang begitu drastis kembali terkuak di pikirannya. Mengapa Kuroro bisa berbuat begitu terhadapku? Lalu, sosok bersayap hitam di belakangnya itu siapa? Berbagai anggapan buruk menghinggapi otak Kurapika, membuatnya kalut dan bingung.

"Aku yakin kalau itu sama sekali bukan Kuroro," ujar Kurapika kepada dirinya sendiri. "Sejahat apapun dia, sesadis apapun, dia tidak pernah mencoba melukaiku, sama seperti kejadian lima tahun yang lalu, saat sukuku dibantai…"

Meski begitu, Kurapika harus membuktikan terlebih dahulu apakah hipotesisnya memang benar. Namun itu menjadi bagian yang paling sulit, karena dia harus menemui Kuroro kembali dan mungkin saja dia akan benar-benar terbunuh.

Akankah kupu-kupu membiarkan dirinya terperangkap dalam sarang laba-laba lagi, untuk mengurai benang permasalahan?

"Ya, sudah pasti aku akan melakukannya," Kurapika tersenyum mantap. "Demi Kuroro."


Kuroro, siapa sebenarnya sosok bersayap hitam di belakangmu itu?


~Note:

Minna-san, konbanwa!

Apa kabar? Semoga sehat selalu.

Akhirnya chapter ketiga berhasil juga diselesaikan. Maafkan saya atas segala kesadisan yang ada dalam fanfic ini. Saya juga heran kenapa jadi penuh darah begini, mungkin karena Kuroro dirasuki oleh vampir ya?

Karena alasan itulah (juga atas saran Sato94-san yang sempat mereview fanfic ini di chapter sebelumnya) saya akhirnya mengubah genre-nya jadi Romance dan Horror. Mudah-mudahan kadar keseraman fanfic ini tidak mengganggu kenyamanan minna-san ketika membaca.

Dan, review please? *plak!*

Arigatou ne'~

-Azumaya Miyuki-