Warning: AU. OOC. Typo. ANOTHER HIGH-SCHOOL FIC FROM mysticahime. Not very keen on romance. Mostly friendship. DON'T LIKE DON'T READ. C&C is accepted. Reviews are received with open-hearted. Different POV in every chapter. NOT A CHARA BASHING FIC!

Disclaimer: I never own Naruto. All is Masashi Kishimoto's masterpiece. Just borrow the characters for my own fiction.

Enjoy.

.

.

.

.

mysticahime™

proudlypresents

another high-school fic

Inspired from dorama 'Dragonzakura'

© 2011

.

.

.

.

Don't be dubious to move forward

Don't be afraid to fight your way

'Cause you're not alone

We're all...

=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=

U N D E R T H E S A M E S K Y

=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=

.

.

.

.

Chapter 3: Ino — Preparation

Apa pendapatmu tentang sekolah?

Menyenangkan? Oh, tidak mungkin.

Sekolah itu mem-bo-san-kan. Kuulangi: Mem. Bo. San. Kan.

Kau tidak pernah bebas melakukan apa saja yang kau inginkan. Selalu ada orang yang menyuruhmu melakukan yang mereka inginkan. Selalu ada orang-orang apatis yang melakukan apa saja sesuai kehendak mereka—contoh utama: Inuzuka Kiba yang menyebalkan itu.

Kulangkahkan kakiku menyusuri pertokoan, sesekali melongok ke balik etalase yang menjual beraneka pakaian dengan potongan modis yang merupakan tren fashion terbaru. Kalau saja Ayah masih hidup, pasti Ayah akan membelikanku salah satu—mungkin semua—dari pakaian itu.

Cepat-cepat kulangkahkan kedua kakiku menjauhi area pertokoan itu. Sama sekali tidak ada waktu bagiku melihat-lihat kesenangan semu itu dari balik kaca. Ini realita. Dan di dimensi nyata ini, aku harus bekerja untuk tetap hidup.

.

.

.

Greeekkk...

Malas-malasan, aku menggeser pintu kelas satu-satunya yang menjadi jatah para siswa kelas 3 di SMA Konoha. Lingkungan sekolah masih sepi—aku melirik jam tangan pink-ku—saat ini masih pukul setengah delapan. Berhubung yang terdaftar sebagai pelajar di sini adalah makhluk-makhluk paling apatis di Tokyo, harap dimaklumi, sekolah baru akan ramai sekitar setengah jam setelah waktu belajar yang seharusnya dimulai.

Aku selalu menjadi orang pertama yang hadir di sekolah. Jangan berpikir aku terlalu rajin atau apa—aku datang lebih awal agar aku bisa melakukan ritual sehari-hariku: berdandan. Jarak rumah dengan SMA Konoha harus ditempuh dengan kereta selama dua puluh menit—berdesak-desakan dan berkeringat—yang mengakibatkan make-up yang kupakai di rumah lumer. Itu make-up pertama, dan sangat tipis. Ayah tiriku tidak suka aku ber-make-up. Ia ingin aku tampil seanggun anak-anak perempuan yang bersekolah di Perguruan Oto.

Tampil dengan rok selutut dan blazer yang terkancing rapi, rambut hitam lurus yang selalu tertata, tingkah laku yang sopan dan tidak banyak ulah, dan—tentu saja—wajah polos tanpa make-up. Sangat bukan aku.

Mungkin satu-satunya pelajar SMA Konoha yang bertingkah agak mirip dengan anak-anak di Perguruan Oto adalah Haruno Sakura. Memang sih, di sini ia juga memakai rok setengah paha—sepertinya rok pendek dan seragam sailor yang memperlihatkan perut bagian bawah adalah tipikal anak-anak perempuan yang bersekolah di sekolah menengah ke bawah—tapi bisa dibilang, Haruno Sakura adalah anak yang alim. Pendiam, tidak banyak berulah, mendengarkan ocehan guru.

Pokoknya, menyebalkan.

Terutama tatapan matanya yang selalu memandang rendah anak-anak lainnya. Aku tahu, kok, ia sering sekali melirik sinis padaku bila aku memperbaiki riasan wajahku.

"Huh!" Dengan mangkel aku mencari-cari tas mungil berwarna peach yang kugunakan untuk menampung seluruh peralatanku berdandan. Oke, pertama-tama, dasar bedak.

Jari-jemariku dengan terampil mengoleskan foundation semi cair itu ke kulit wajahku yang tidak terbakar matahari. Tentu saja, aku merawat seluruh bagian dermis-ku sehingga tampak indah dan putih mulus.

Ah, ada hal lain yang membuatku kesal pada Haruno Sakura.

Ia sama sekali tidak pernah menggunakan peralatan rias—aku bisa membedakan mana siswi yang memakai rias wajah dan yang tidak—namun kulitnya sangat putih, seolah-olah ia jarang keluar dari rumah.

Cih.

.

.

.

Pukul delapan lewat dua menit. Kini di kelas sudah ada aku dan si Haruno. Ya, si pinky itu selalu datang lebih awal daripada anak-anak lainnya. Sok rajin, sepertinya.

Tidak ada yang berbicara di antara kami. Aku enggan menegurnya duluan. Sepertinya ia juga malas memulai percakapan denganku. Ya sudahlah, lebih baik begini saja.

Tak lama kemudian, sesosok pria berambut perak masuk ke dalam kelas. Ia mengedarkan pandangan kedua matanya yang berlainan warna, menyapu seluruh isi kelas.

"Hanya kalian berdua?" Ia berusaha memastikan penglihatannya.

"Mereka belum datang," aku menjawab, sedangkan Sakura diam saja. Gadis pink itu memandang keluar jendela, sama sekali tidak mengacaukan Hatake Kakashi—nama guru itu, kalau aku tidak salah ingat.

"Oh," hanya itu yang dikatakan oleh Kakashi—perlukah aku menambahkan embel-embel sensei di belakang namanya? Kurasa, tidak perlu. "Kita akan menunggu mereka. Kalian berdua boleh melanjutkan aktivitas kalian."

Lega, aku memerhatikan kuku-kuku jari tangan kiriku dan menemukan lapisan kuteks di jari manisku agak mengelupas pada bagian ujungnya. Kudengar Sakura mendengus—entah untuk apa dan ditujukan pada siapa.

Pukul setengah sembilan, pemuda gempal—Akimichi Chouji, dan pemuda malas—Nara Shikamaru, masuk ke dalam kelas. Shikamaru berjalan di depan, membuka pintu geser dengan malas-malasan. Di belakangnya, Chouji mengekor dengan makan sebungkus roti berukuran besar, mengunyah-ngunyah dengan suara berisik. Keduanya tidak mengacuhkan Kakashi yang sudah berdiri di depan kelas.

"Ah," kata guru itu ketika Shikamaru dan Chouji duduk di kursi mereka—kursi yang disusun dengan letak tidak beraturan di dalam ruang kelas kami. "Hari ini adalah persiapan, permulaan segalanya."

Kufokuskan tatapan pada pria berambut jabrik itu, menyadari bahwa wajahnya lumayan tampan.

"Dan persiapan pertama—" Kedua matanya menyipit, pandangannya beralih dari Sakura (yang tetap memandang keluar jendela), Chouji (yang tidak berhenti makan. Kini ia makan potato chips), Shikamaru (yang menguap lebar-lebar), dan aku, "—adalah mengembalikan Inuzuka Kiba ke kelas ini, tanpa hewan peliharaannya."

Seperti tombol pause ditekan, kami semua langsung menatapnya.

"HAAAAAHHHHH?"

●●●To be Continued●●●

Author's Bacot Area

Masih... pendek? *ditendang*

Kayaknya mulai chapter selanjutnya, saya sekalian publish dua chapter sekaligus, ya? :D

Setuju semuanya?

Balesin review~

Shiori Yoshimitsu hahaha XD sengaja, ganti suasana~ hehehe~ Makasih udah review :)

Kira Desuke fluffy? Masa sih ini fluffy? Biasaaaa aja XD Errrr, gitu ya? Maklum ya, diksi gua pas-pasan, Deb. Jadinya kalo pake yang sederhana kaya gini lebih 'keliatan' aslinya XD Makasih udah review, bro!

Amakusa Natsumi iyaaa, Kakashi gurunya XD Kesan pertamanya garang, tapi di sini... *diem sendiri* Haha, bagusan deskrip Rereeee~ 'Perbaikan'nya mungkin mulai chapter depan XD Step by step~ Sabar! Makasih udah review yaaaaa~

Arion Gaviota TOS! Saya juga kurang demen sama fic multichap yang panjang, bikin pegeeeelll, apalagi kalo fic-nya standar kaya punya saya *digeplak* Ahh, ituuu, maksudnya, perkenalan Kakashi itu flashback, kaya diceritain ulang sama Nartuo gituuu XD Makasih udah review!

Alvisse Kakashi jadi tegas sejak masuk fic ini XD Selamat menikmati chap 3 yaaa~ Makasih udah mau review! XD

Berhubung saya udah masuk libur selepas ujian, mungkin update-an fic agak cepat (tapi ga terlalu cepat juga karena saya belajar buat ujian masuk kuliah). Vote 3 fic yang kalian pengen di-update duluan di profile saya XD

Masih berminat me-review?

Avec mon plaisir,

mysticahime

Bandung, 26 April 2011, 00.21 a.m