Author's note : Sebelumnya makasih banyak ya buat yang udah ninggalin review, follow dan fav :) dan buat semua yang udah baca juga, tapi tolong tinggalin review juga dong buat authornya biar authornya semangat hehe. Oke happy reading ya :)
Chapter 3
Sungjong pov
Kurasakan nafasku tercekat, dan mataku mulai cincin emas putih yang sekarang ada di genggamanku. Cincin tunanganku dan Myungsoo.
"Ke…..kenapa?" bisikku lirih. Mati-matian kutahan air mataku agar tidak menetes sekarang dan dapat kurasakan suaraku bergetar karenanya.
Kudengar Myungsoo menghela nafas panjang. "Aku akan menikah dengan Sungyeol."
Aku tersentak mendengar perkataannya. Dengan cepat kutatap wajahnya dan Sungyeol bergantian. "A….apa?"
"Aku akan menikah dengan Sungyeol." ulang Myungsoo dan kini kurasakan nada bicaranya lebih tegas.
"Ka…..kalian…..kau….kau akan menikah dengan…..Sungyeol?" kataku terputus-putus. Kugigit bibir bawahku, berusaha menahan air mata yang sebentar lagi turun.
"Ya." jawab Myungsoo mantap.
Kutatap Sungyeol, seakan ingin menanyakan kebenaran darinya. Kulihat Sungyeol mengangguk pelan, oh god….kini air mataku tak bisa kubendung lagi, langsung turun deras membasahi pipiku.
"Kenapa?" lagi-lagi kata itu meluncur dari mulutku. Kubiarkan air mataku mengalir tanpa kuseka sedikitpun.
"Aku menyukai Sungyeol. Aku….baru melamarnya tadi." kata-kata Myungsoo bagai petir yang meyambarku. Apa dia bilang…? Dia menyukai Sungyeol…? Bahkan baru melamarnya tadi….?
"Se…..sejak kapan…?" sekuat tenaga kucoba menatap Myungsoo dan Sungyeol, walaupun hatiku sudah tak sanggup lagi melihat mereka.
"Aku tak tahu. Kurasa…..aku mulai menyukai Sungyeol ketika pertama kali melihatnya…" tutur Myungsoo pelan.
Aku tak tahan lagi. Sakit…..rasanya sakit sekali. Air mataku mengalir makin deras dan nafasku sesak. Dengan cincin tunangan milik Myungsoo yang masih ada digenggamanku, kuraih dada kiriku dan kurasakan sakit yang luar biasa. Aku tak kuat lagi berada disini, maka aku pun memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Ba…baiklah…..kalau begitu maumu, Kim Myungsoo….kuharap…kalian bahagia." kuatur nafasku sebelum menyelesaikan kalimatku.
"Terima kasih Myungsoo karena sudah mampir ke hatiku, dan….terima kasih Sungyeol telah menjadi sahabatku. Kuharap kalian berdua langgeng dan bahagia. Selamat malam."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku pun buru-buru berdiri dari dudukku dan langsung berlari kearah pintu, meninggalkan café itu. Tak kuhiraukan Sungyeol yang memanggilku. Walaupun aku tak melihatnya, tapi aku tahu dari nada suaranya bahwa dia menangis juga. Sebelum aku benar-benar keluar dari café itu, dapat kulihat sekilas – Sungyeol sedang menangis di pelukan Myungsoo.
-Sabtu, 3 September – Still Sungjong POV-
Tok tok tok!
Kudengar pintu kamarku diketuk. Aku masih bergelung diatas kasurku, belum sepenuhnya bangun dari tidurku. Kulirik jam diatas meja kecil di samping tempat tidurku. Pukul 07.00 AM. Aku pun menutup mataku lagi, dan hampir saja kembali tertidur – namun kudengar pintu kamarku dibanting.
"Yaaaa! Lee Sungjong, kau baik-baik saja?"
Kudengar suara namja yang sangat familiar di telingaku. Kubuka mataku dan dapat kulihat namja itu sedang duduk di pinggir kasurku sambil menatapku dengan cemas. Lee Woohyun, kakakku.
"Hyung….." desisku pelan.
Kurasakan tenggorokanku kering dan agak sakit, dan kepalaku sedikit berat.
"Gwaenchana?" tanya Woohyun sambil meletakkan tangannya diatas dahiku, mengukur suhu tubuhku.
"Ne,hyung. Kenapa kau khawatir seperti itu?" jawabku pelan sambil menyunggingkan senyum kecil padanya.
"Kau….aissh….! Jongie, kau tidak perlu berpura-pura tegar dihadapanku."
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. "Tidak…..aku tidak sedang berpura-pura tegar." Suaraku masih parau, pelan sekali.
Woohyun langsung menarikku kedalam pelukannya. "Selamat pagi saeng. Dan…..Saengil Chukkahamnida." bisik nya tepat di telingaku.
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Apa? Saengil Chukkhae? Memangnya sekarang hari apa..?
Kulirik kalender yang tergantung di dinding kamarku, astaga. Sabtu tanggal 3 September. Ya, hari ini memang ulang tahunku. Dan…jika semuanya berjalan mulus, harusnya hari ini lah pernikahanku dengan….ehem…Myungsoo.
Semenjak kejadian di café waktu itu, aku tidak pernah sama sekali keluar apartemenku. Sepulangnya dari café, aku langsung mengurung diriku di kamar dan menangis sepuasnya. Sejak hari itu hingga sekarang, jika dihitung sudah satu minggu aku mengurung diri di apartemen. Aku tidak pergi ke kantor, kebanyakan waktuku kuhabiskan untung melamun, dan menangis. Aku juga jadi jarang makan. Yang kuingat, selama seminggu ini aku hanya makan tiga kali. Bayangkan – tiga kali makan dalam waktu satu minggu. Dan akhirnya, aku sempat beberapa kali pingsan dan akhirnya jatuh sakit, dan baru sekaranglah aku terbangun, karena semenjak kemarin, seharian aku terserang demam dan akhirnya tertidur.
"Tunggu disini sebentar, aku akan mengambilkan air dan kompres untukmu." Woohyun hyung keluar dari kamarku dan tak lama kemudian ia kembali dengan segelas air minum dan baskom berisi handuk basah dan es batu.
Woohyun hyung menyuruhku meminum air putih yang dibawanya, lalu membantuku kembali berbaring. Dirapihkannya selimutku dan diletakkannya handuk basah di atas dahiku.
"Hyung…..kenapa hyung bisa ada disini?"
Woohyun hyung menatapku lama, lalu menjawab "Memangnya tidak boleh?"
Yah, hyung ku yang satu ini memang tidak tinggal bersamaku. Ia tinggal sendiri di Jepang karena sedang melanjutkan kuliahnya, sekaligus menangani perusahaan keluarga kami yang buka cabang di Jepang.
"Ani….bukan begitu. Kapan sampai disini, hyung?"
"Semalam. Aku terbang dari Tokyo tadi malam, dan tiba di Incheon dini hari. Sampai Seoul sudah pagi, maka kuputuskan langsung kesini."
"Kok bisa masuk apartemenku? Kan kukunci."
"Kau lupa? Aku punya kunci serep seluruh tempat tinggal kita, Jongie."
"Ah ya, aku lupa. Kau bebas keluar masuk mana saja karena punya kunci serep nya, haha…" kupaksakan sedikit tawa kecil diwajahku. Woohyun hyung menatapku lekat-lekat.
"Jongie, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya nya langsung.
Aku menghentikan tawaku dan menatap hyungku itu, "Apa maksud hyung?"
"Kau tahu maksudku Jongie. Kenapa kau jadi seperti ini, dan…..apa yang terjadi dengan kau dan Myungsoo?"
Aku tercekat mendengar nama itu. Myungsoo. Ya, sakit sekali hatiku ketika mendengar namanya disebut. Aku terdiam, mengacuhkan Woohyun hyung.
"Jongie sayang…..ceritalah padaku," rayu Woohyun hyung sambil mengelus kepalaku.
Aku pun memutuskan untuk berbicara pada hyung ku itu. "Baiklah….apa yang sudah kau ketahui hyung?"
"Myungsoo meneleponku. Ia mengatakan bahwa pernikahan kalian dibatalkan. Memangnya kenapa, Jongie?"
Kurasakan mataku mulai memanas dan suaraku tertahan. "Ya….itu benar. Bagaimana dengan eomma dan appa, hyung?"
"Tenang saja. Setelah mendengar kabar itu dari Myungsoo, aku segera memberitahu mereka. Untunglah mereka tidak terlalu banyak bertanya lagi. Ketika ku bilang kau batal menikah, mereka hanya mengiyakan tanpa menanyakan alasannya."
"Mereka…..mereka dimana hyung sekarang?" tanyaku pelan, berusaha menahan air mataku.
"Masih di New York. Karena kau tidak jadi menikah hari ini, mereka membatalkan untuk pulang ke Seoul. Kau tahukan, mereka sibuk sekali."
"Syukurlah…mereka tidak disini." Bukannya aku tidak suka jika orangtuaku datang, tapi…untuk saat ini aku tidak ingin bertemu mereka dulu, aku takut mereka menanyakan kenapa pernikahanku batal.
"Tapi aku ada disini. Jadi kau harus bercerita padaku." tegas Woohyun hyung.
Aku pun mengangguk menyanggupinya.
"Myungsoo…Myungsoo akan menikah dengan Sungyeol, hyung."
Begitu kalimat itu meluncur dari mulutku, air mataku tak bisa lagi kutahan. Aku pun kembali menangis, dan Woohyun hyung langsung memelukku.
"Bagaimana bisa?" tanya Woohyun hyung sambil mengelus kepalaku. Aku pun menceritakan semuanya dari awal.
"Jadi….itu alasannya kenapa pernikahan kalian batal?"
Aku menganggukkan kepalaku dan Woohyun hyung menghapus air mataku.
"Bukan pernikahan kami hyung….pernikahanku lah yang batal, karena hari ini Myungsoo tetap menikah, namun dengan Sungyeol.." kuambil undangan pernikahan Sungyeol dan Myungsoo dari laci mejaku dan kuserahkan pada Woohyun hyung.
Woohyun hyung mengambil amplop itu dan membaca isinya. "Mereka mengirimkan ini padamu, Jongie?"
"Aku tak tahu….mungkin. karena undangan itu kutemukan di kotak pos apartemenku Hyung, beberapa hari yang lalu."
Seharusnya hari ini menjadi hari yang paling bersejarah buatku. Karena selain hari ini ulang tahunku, harusnya….hari ini pula pernikahanku dengan Myungsoo. Tapi sayangnya, pernikahan itu batal dan hari ini adalah hari yang bersejarah buat Sungyeol karena dialah yang menggantikan posisiku sebagai calon istri Myungsoo.
"Bahkan kau sampai sakit seperti ini…..Jongie, kenapa kau baru bercerita sekarang? Maaf, jika aku, eomma dan appa jarang bersama mu hingga hal sepenting ini pun kami tidak tahu. Tapi….setidaknya kan kau bisa meneleponku, aku akan langsung kesini Jongie." kata Woohyun hyung sambil memelukku erat.
Aku pun kembali menangis di pelukan Woohyun hyung. Kurasakan Woohyun hyung mengelus punggungku, nyaman sekali…..sudah lama aku tidak bertemu kakakku ini.
Setelah tangisanku reda, Woohyun hyung melonggarkan pelukannya. "Sudah lebih baik, Jongie?"
Aku mengangguk. "Ya, hyung. Terima kasih banyak."
Woohyun hyung tersenyum, "Sama-sama saeng."
"Hyung. Bolehkah aku minta satu hal?"
"Apa, Jongie?"
"Aku ingin menghadiri pernikahan Sungyeol dan Myungsoo."
"MWO?! Tidak, tidak akan kuizinkan kau melihat mereka lagi Jongie. Justru itu malah akan membuatmu semakin sakit."
"Hyung….kumohon, aku ingin kesana."
"Dengan kondisi tubuh dan hatimu yang seperti ini? ! Tidak Jongie, aku tidak mau ambil resiko kau kenapa-napa."
"Hyung…jebal…aku ingin mengucapkan selamat pada mereka berdua, tulus hyung. Kumohon…"
Woohyun hyung menatapku tajam, aku pun membalas menatap matanya. Akhirnya, ia pun menghela nafas dan berkata "Aku tak percaya aku akan mengizinkan mu menghadiri pernikahan mereka, Jongie.."
"Serius? Terima kasih hyung." Aku pun memeluk Woohyun hyung senang.
"Kau serius? Ingin bertemu mereka berdua? Itu malah semakin menyakitkanmu…"
"Tidak hyung! Aku serius, aku benar-benar tulus ingin mengucapkan selamat pada mereka berdua."
"Baiklah….kalau itu maumu….kau boleh pergi menghadiri pernikahan mereka."
Aku tersenyum mendengar perkataan Woohyun hyung.
"Nah, hyung. Nanti kau harus membantuku merapihkan diriku ya? Acaranya nanti malam, aku harus merapihkan diriku dulu – kusut sekali."
Woohyun hyung mengangguk, "Tapi aku harus ikut denganmu."
"Apa?"
"Nanti malam, aku ikut denganmu meghadiri pernikahan Myungsoo dan Sungyeol."
"Ya….baiklah Hyung."
Woohyun hyung pun tersenyum kecil lalu mengecup dahiku lembut.
'Aku tak akan membiarkan mu seperti ini lagi, Jongie. Maafkan aku. Mulai sekarang aku akan menjagamu.' bisik Woohyun dalam hati.
End of Sungjong pov
Sesuai keinginan adiknya, malam itu Woohyun membantu Sungjong bersiap-siap menghadiri pernikahan Myungsoo dan Sungyeol. Woohyun memilihkan setelan jas yang bagus untuk Sungjong, dan membantunya menata rambut Sungjong agar terlihat lebih fresh. Wajar saja, sudah seminggu Sungjong merasa tertekan dan stress, membuat mukanya kusut sekali apalagi mengingat tubuh Sungjong belum sepenuhnya vit karena suhu tubuhnya masih agak demam.
"Kau yakin akan pergi kesana Jongie? Tubuhmu masih agak demam loh." tanya Woohyun cemas.
"Tentu! Aku sudah rapi, kau juga kan hyung? Ayo kita berangkat sekarang!" Sungjong pun menarik tangan Woohyun menuju ke mobil.
Woohyun pun hanya pasrah dan mengemudikan mobil nya menuju gereja tempat pernikahan Myungsoo dan Sungyeol.
"Wah padat sekali." gumam Woohyun begitu sampai disana dan melihat banyak sekali mobil dan tempat parkir yang padat.
Sungjong mulai gelisah melihat kakaknya tak kunjung mendapatkan tempat parkir. "Hyung, masih lama kah mencari parkirnya?"
"Kau lihat sendiri kan Jongie? Penuh sekali."
"Ya, tapi kan acaranya sebentar lagi dimulai," kata Sungjong cemas sambil melirik jam tangannya.
Woohyun menghela nafas melihat tingkah adiknya. "Yasudah, kau masuk duluan saja. Nanti kususul,"
"Benar tak apa hyung?"
"Ya. Sana gih masuk duluan. Biar mobil ini aku yang urus, oke."
Sungjong pun tersenyum lalu mecium pipi Woohyun sekilas sebelum meninggalkan mobil "Thanks hyung!"
Woohyun hanya tersenyum kecil lalu menganggukan kepala pada adiknya. "Haahh…sejujurnya aku tak rela adikku datang ke pernikahan si brengsek itu." umpat Woohyun dalam hati.
Sungjong pov
Aku pun langsung melangkahkan kakiku ke dalam gereja itu. Gereja dimana seharusnya menjadi tempat pernikahanku dengan Myungsoo hari ini, tepat di hari ulang tahunku. Bahkan dulu Myungsoo lah yang mengatur pernikahan kami dilangsungkan tanggal 3 September karena katanya ia ingin memberikan kado terindah untukku. Namun…..sayangnya tanggal 3 September menjadi hari bahagia untuk Sungyeol dan Myungsoo, bukan untukku.
Aku pun mempercepat langkahku dan memasuki aula di gereja itu. Ramai sekali, sudah banyak tamu undangan yang datang. Aku memutuskan untuk berada di posisi paling belakang, lagipula bagian depan dan tengah sudah dipenuhi oleh para tamu.
Dari tempatku, dapat ku lihat Myungsoo sudah berada di depan, tak jauh dari pastur, berdiri tegap menunggu kedatangan Sungyeol. Sangat tampan. Aku baru menyadari semua atribut pernikahan ini masih lah sama seperti yang seharusnya digunakan pada pernikahanku. Yang berubah adalah calon mempelainya, dan undangannya…..Myungsoo menyetak ulang undangan yang baru, dan hanya mengganti namaku dengan Sungyeol tanpa mengganti waktu dan tempatnya. Benar-benar hanya mengganti calon istri nya.
Tiba-tiba kurasakan kepalaku mulai berat. Astaga, kenapa lagi denganku? Aku pun berusaha mengabaikan rasa sakit itu. Kulirik jam tanganku, ah seharusnya acara ini sudah dimulai dari lima belas menit yang lalu, tapi kenapa sampai sekarang Sungyeol tak kunjung datang juga?
Kuarahkan pandanganku ke depan. Myungsoo sudah mulai terlihat cemas, ia juga berkali-kali melirik jam tangannya, lalu menengok kearah pintu berharap dapat menemukan sosok Sungyeol disana. Para tamu undangan pun mulai ribut karena calon mempelai tak kunjung datang.
Aissh, kurasakan tubuhku mulai memanas. Ya, Woohyun hyung benar. Demamku belum sembuh dan sekarang kepalaku semakin berat. Aku pun memutuskan untuk keluar dari aula itu dahulu untuk mencari udara segar, siapa tahu dapat mengurangi sakit kepalaku.
Untunglah ditaman gereja cukup sepi. Aku merasa sedikit lebih baik, kurasa aku pusing karena didalam aula terlalu banyak orang. Cuaca malam mini juga cukup cerah. Sesekali angin bertiup, aku pun memutuskan duduk sebentar di kursi taman.
Aku duduk sendiri. Perlahan, aku mulai merenungi semua yang terjadi. Memflashback dari awal pertemuan ku, Myungsoo dan Sungyeol, hingga menjadi seperti sekarang. Kalau boleh jujur, sebenarnya hatiku sakit sekali. Hancur. Benar-benar hancur. Siapa yang menyangka sih, sahabatku, malah akan menikah dengan tunanganku sendiri? Ditambah lagi, tunanganku – orang yang paling kucintai itu membatalkan rencana pernikahan kami tepat seminggu sebelum pernikahan itu digelar. Dan parahnya, tunanganku dan sahabatku akan menikah dihari ulang tahunku, hari dimana seharusnya merangkap sebagai hari pernikahanku juga.
Apakah ini takdir? Kalau begitu apa rencana tuhan dibalik ini semua? Aku benar-benar sakit, baik fisik maupun psikis. Aku merelakan mereka berdua menikah karena aku terlanjur jatuh cinta pada Myungsoo. Dan kupikir, lebih baik aku melihatnya bahagia dengan orang yang dipilihnya sendiri, bukan denganku, daripada Myungsoo tetap bersamaku namun itu semua hanya karena terpaksa dan membuat Myungsoo tidak bahagia.
Aku menghadiri pernikahan ini juga, karena aku ingin melihat orang yang kucintai berbahagia. Yah walaupun di satu sisi itu sangat menyakitkan karena ia akan menikah dengan sahatku sendiri, namun…ah sudahlah. Pokoknya hari ini aku datang kesini dengan tulus, ingin memberikan mereka ucapan selamat secara langsung dan menghadiri moment terpenting dalam hidup mereka. Walaupun jujur ini sakit sekali.
Kalau ditanya bagaimana perasaanku dengan Myungsoo, jujur saja aku masih mencintainya. Aku tidak membencinya karena ia membatalkan pernikahan kami – lebih tepatnya tidak bisa. Aku sendiri tak tahu mengapa, tapi kurasa….aku terlalu mencintainya bahkan untuk membencinya pun aku tidak bisa.
Bagaimana dengan Sungyeol? Ah….aku tak tahu. Disatu sisi aku benci padanya karena berhasil merebut Myungsoo dariku tapi disatu sisi yang lain…..mungkin Sungyeol tidak sepenuhnya salah bukan? Ah aku tak tahu. Aku tak tahu bagaimana perasaanku padanya, yah walau kuakui hubunganku jadi canggung sekali dengannya, berbeda dengan dulu dimana kami berdua sangat akrab. Tapi sebisa mungkin, kubuang rasa benci itu jauh-jauh dan berusaha untuk kembali seperti biasa.
Aku pun tersadar dari pikiranku, ah duduk diam seperti ini membuatku memikirkan hal itu. Tidak boleh seperti ini Jongie! Aku pun menghela nafas panjang. Kulirik jam tanganku. Astaga….sudah hampir telat setengah jam, kemana Sungyeol?
Semenit kemudian kulihat sebuah limousine berhenti tepat diseberang gereja ini. Ah, kuyakin itu mobil yang membawa Sungyeol, karena mobil itu dihiasi bunga disekitarnya. Tuh kan, tebakanku benar. Sungyeol keluar dari mobil itu, mengenakan pakaian pengantin. Kutatap dia dari posisiku sekarang, jujur dia manis sekali. Wajar saja kalau Myungsoo menyukainya….Sungyeol terlalu manis, bahkan akupun kalah darinya.
Pakaian itu….ah harusnya akulah yang mengenakan pakaian pengantin itu sekarang….aku pun buru-buru menggelengkan kepalaku. Ah tidak, kau tidak boleh cemburu seperti itu Jongie! Kau harus kuat!
Kulihat Sungyeol hendak menyebrang jalan. Aku pun berdiri dari dudukku dan berjalan perlahan menuju pagar gereja, hendak melihat dia dari dekat. Wajah Sungyeol terlihat sangat gugup. Ia pun tak mendengarkan panggilan orang tuanya yang baru turun dari mobil dibelakang limousine itu, dan langsung saja menyebrang tanpa melihat kanan kiri dulu.
Tapi…..HEY! Ada truk besar dengan kecepatan tinggi melaju dari arah kanan dan truk itu akan menabrak Sungyeol! Aku yang melihat truk itu pun langsung lari menuju tempat Sungyeol, ditengah jalan yang tak menyadari ada truk besar yang akan menabrak dirinya. Dengan cepat kudorong tubuh Sungyeol hingga ia jatuh tersungkur dan… oo…malang bagiku karena begitu aku menoleh, truk itu hanya tinggal 1 cm dari tubuhku dan aku tak sempat menyelamatkan diri….. dan.. BRAK! truk itu pun sukses menabrak tubuhku, dan semuanya gelap….
End of Sungjong pov
Woohyun pov
Aku berjalan tergesa-gesa menuju pintu masuk gereja itu. Akhirnya, setelah memutar-mutar di tempat parkir selama setengah jam, aku berhasil memarkirkan mobilku. Aku cemas dengan Sungjong. Bagaimana tidak? Adikku itu kan sedang sakit, bahkan tadi wajahnya pucat dan tubuhnya demam, bagaimana aku tidak cemas coba? Aku pun memutuskan menelepon ke ponselnya karena disana terlalu banyak orang dan susah menemukan adikku diantara orang-orang itu.
Baru saja hendak menekan nomor ponsel Sungjong, aku melihat keramaian di jalan raya, tepat di depan gereja yang kutuju. Ada apakah itu? Karena penasaran aku pun menghampiri kerumunan manusia itu.
"Maaf, ada apa ya?" tanyaku pada seorang yeoja yang berada paling luar dari kerumuan itu.
"Ah, ada kecelakaan. Seorang namja tertabrak truk besar tadi, kasihan sekali. Menurut saksi yang melihat, namja itu hendak menyelamatkan calon pengantin yang akan menikah di gereja itu. Calon pengantin itu menyebrang tanpa melihat sekelilingnya dan namja itu melihatnya, dengan segera namja itu mendorong si calon pengantin, namun naas namja itulah yang tertabrak." jelas yeoja itu.
"Ah…begitu. Gomawo." kataku pada yeoja itu yang dibalas anggukan kecil.
Aku penasaran dengan namja yang tertabrak itu. Maka kuputuskan untuk menyeruak ke tengah-tengah kerumunan, "Permisi…saya mau lihat."
Dan apa yang kulihat…? "LEE SUNGJONG!"
End of Woohyun pov
-to be continue-
thx for reading, leave a review please? :)
balesan review chapter 2 :
1.) Mira : Nggak kokk, ini terakhir myungyeol momentnya, authornya ga tega ngebiarin myungsoo lama-lama sama sungyeol haha. iya ini udh di update kok, makanya baca terus yaa
2.) ajib4ff : udh buka puasa kok, silahkan gebukin myungsoo nya! hehehe. cheonmaneyo, makasih yaa, ketemu lagi di chapter berikutnya,oke?
3.) neshiapark : ini udah dilanjut yaa, wah kalo itu baca sendiri yaa masa authornya kasih tau skrg kan ga seru hehehe
4.) blacklemon : kayaknya sih iya tuh, hahaha. iya sungjong sabar kok yah *pukpuk sungjong*
5.) Guest : i hate myungsoo too cause his face is really perfect! -_-
6.) liah chan : ihihi maaf deh ya ngebikin sungjongnya tertindas (?) review lagi yaa
