Love Between Gryffindor Princess and Slytherin Prince

Chapter 3 "Lord Voldemort Return"

Disclaimer : All characters are belong to J.K Rowling. Tapi kalo Draco, Hermione, sama Cedric boleh buat saya juga ga papa kok :D *lah nyasar kemana coba ini - -"

AN : Mungkin ada typo juga. Tapi aku berusaha kurangin deh masih Draco POV. Nanti pas kalo udah cocok waktunya, baru Hermione POV. Ok! Enjoy my fanfic!

Draco POV

Tidak mungkin. Aku pasti salah baca. Cepat-cepat aku baca ulang surat itu.

Draco Lucius Malfoy,

Aku telah membawa kedua orangtuamu ke tempat persembuyianku. Mereka harus bertanggung jawab karena telah mengkhianati aku. Kau juga akan bernasib sama kalau kau tidak menyerahkan Harry Potter kepadaku. Raksasa dan makhluk gaib lain yang dulu mendukungku dan masih hidup akan kuperintahkan menyerang Hogwarts. Lakukan yang kuperintahkan dan kau akan kuberi imbalan. Lucius dan Narcissa juga akan bebas. Jika kau tidak menuruti perintahku, Hogwarts akan kuserang bersama para Pelahap Mautku yang setia. Sekedar kau tahu, aku tak pernah mati. Mati itu hanya tipuanku saja. Bibimu, Bellatrix, juga akan ikut menyerang Hogwarts kalau Harry Potter tidak ada di tanganku dalam 2 bulan. Kuberi kau dan teman-temanmu waktu 2 bulan. Atau orang tuamu mati dan kau beserta teman-temanmu akan kuBUNUH!

Lord Voldemort

"Ayah? Ibu? Voldemort? Tak mungkin." Gumamku.

"Draco!" seru Hermione ketika tubuhku ambruk ke lantai.

Uuugh.. Ini pasti mimpi buruk. Voldemort sudah mati. "Kenapa dia? Kok bisa pingsan?" tanya sebuah suara yang sepertinya Madam Pomfrey.

"Tadi ia pingsan setelah membaca surat ini." Terdengar suara Hermione. Pastilah aku sekarang ada di rumah sakit Hogwarts.

"Surat? Biar kubaca sini," Madam Pomfrey sepertinya meminta suratku dari tangan Hermione.

Madam Pomfrey memekik kaget di sebelahku seperti habis melihat Merlin bunuh diri.

"Kuharap Anda tidak pingsan juga membaca itu," kataku pelan.

"Kau-Tahu-Siapa kembali lagi? Demi celana dalam Merlin!" Madam Pomfrey berseru.

"Masa celana dalam Merlin sih," protes Hermione.

"Maaf. Bagaimana perasaanmu, ? Apa ada yang sakit atau apa atau pusing? Atau.." Madam Pomfrey nyerocos dengan kata-kata yang semakin kacau.

Aku berusaha duduk, "Saya baik-baik saja. Dimana persembuyian Voldemort? Bagaimana bisa? Tipuan?" sekarang aku sama kacaunya dengan Madam Pomfrey. Bahkan lebih kacau.

"Kita harus beritahu McGonagall! Aku akan panggil dia ke sini!" Hermione mengusulkan dan langsung berlari pergi

"Aku juga!" langsung saja aku turun dari tempat tidur lalu lari mengejar Hermione tanpa mengindahkan Madam Pomfrey yang berteriak-teriak kesal.

"Malfooooy! Jangan pergi dulu kauuu!" jerit Madam Pomfrey pasrah.

Sampai di depan kantor McGonagall, Hermione tampak kebingungan.

"Kata kuncinya apa ya?" tanyanya bingung.

"Hah?" aku juga bengong. "Bagus ya! Kamu mengusulkan pergi ke sini tapi lupa kata kunci masuk ke kantor kepala sekolah! Profesor! Bukaa!" aku berteriak sekeras mungkin.

"Tidak akan mempan! Kamu itu hanya bikin berisik saja tahu!" sembur Hermione.

"Kamu…" amarahku memuncak.

"Hey, hey! Ada apa ini? Mau apa kalian di sini?" tanya seseorang.

Siapa ya itu yang berbicara? Perasaan tidak ada siapa-siapa.

"Jangan-jangan itu hantu baru," gumam Hermione. Ia tidak ketakutan, tapi tampak agak sebal.

"Konyol. Kalau itu pun Peeves, sedang apa dia di sini? Pakai otakmu, Kepala Semak!" kataku sarkastis.

"Bisa tidak sih jangan meledekku, Musang?" kata Hermione tak kalah sarkastis. "Siapa sih yang bicara?"

"Aku di sini!" seru suara itu.

"Hah?" kami berdua sama-sama menoleh ke bawah. Oh, ternyata itu Profesor Flitwick!

"Maaf, Profesor! Kami tidak melihat Anda!" Hermione meminta maaf sambil membungkuk.

"Lagian Profesor Flitwick pendek sekali sih," kataku keras-keras tanpa mempedulikan Profesor Flitwick yang tersinggung karena ucapanku.

"Terima kasih banyak Draco Malfoy," katanya dengan ekspresi masam.

"Granger? Malfoy? Ada perlu apa kalian?" sapa Profesor McGonagall yang tiba-tiba muncul seperti hantu.

"Kami perlu bicara dengan Anda," kata Hermione mengambil alih seperti biasanya.

Profesor McGonagall mempersilahkan kami masuk ke kantornya. "Begini Profesor," aku memulai pembicaraan ini tanpa basa-basi, "Anda harus melihat surat ini."

Kepalaku masih dipenuhi ancaman-ancaman Voldemort. Orang tuaku ditangkapnya, jika aku tak menyerahkan Potter pada Voldemort, ia akan menghabisi orang tuaku lalu menyerang Hogwarts yang berarti Hermione dalam bahaya. Ya, apa masalahnya kalau aku mempedulikan Hermione? Kalian belum tahu ya? Aku jatuh cinta padanya! *gampang banget ngomongnya XD. Hah! Ini semua gara-gara Potter! Sejak awal memang Potter masalahnya!

"Demi celana dalam Merlin!" Profesor McGonagall tercekat.

"Oh! Kenapa sih semua orang pada bilang "demi celana dalam Merlin" terus? Apa tidak ada yang lebih bagus kata-katanya?" kata Hermione. Terlihat sekali ia tidak suka tentang "celana dalam Merlin" itu. Menjijikkan.

"Maaf, Granger. Aku terlalu kaget."

Bagaimana ini? Pasti semua anak tidak akan setuju kalau Potter diserahkan. "Profesor, kita harus bagaimana?" tanya Hermione, panik juga.

"Kita tidak bisa menyerahkan Potter." Kata McGonagall tegas.

"Tidak bisa? TIDAK bisa?! BAGAIMANA DENGAN ORANG TUAKU?! KAU AKAN MEMBIARKAN MEREKA MATI DI TANGAN VOLDEMORT?!" aku langsung meledak marah.

"MEMANGNYA KAU PUNYA CARA YANG LEBIH BAIK?!" McGonagall juga meledak marah.

"HOGWARTS JUGA AKAN DISERANG KALAU KAU TIDAK SERAHKAN POTTER! AKAN ADA BANYAK KORBAN! IA AKAN IKUT BERTEMPUR!" balasku semakin sengit.

McGonaggal semakin dekat denganku, "KITA AKAN BERTEMPUR SEPERTI SETAHUN YANG LALU!"

"Bagaimana kalau ia membunuh Ayah dan Ibuku lebih dulu?" tanyaku pelan. Tak berani membayangkan nasib Ayah dan Ibu.

"SIAPA SURUH ORANG TUAMU DULU MENGIKUTI VOLDEMORT?!" McGonagall berteriak kencang sekali. Mungkin ia memakai mantra Sonorus.

"Aku tak tahu itu. Terserah kau lah. Toh, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka." Kataku. Kini aku sudah pasrah saja pada nasib.

"Hey! Kamu kenapa menyerah begitu? Yang lain baru saja mau berjuang kenapa kamu sudah menyerah duluan? Pasti ada sesuatu yang bisa kita perbuat untuk kedua orang tuamu." Hermione memberi semangat.

Bayangan Voldemort yang menyerang Hogwarts setahun lalu terputar di benakku. Hermione benar. Aku tidak boleh menyerah dulu.

"Beri tahu para murid untuk bersiap-siap. Jika ada serangan maksudku. Waspada saja. Bukan berarti kalian harus menyerbu markas Voldemort. Aku masih waras. Tak akan kubiarkan kalian datang sendiri ke markas sialan itu," kata-kata McGonagall menunjukkan semangat perjuangan. *MERDEKA! Eh?.

"Ayo Draco!" ajak Hermione.

"Kamu panggil aku apa?" aku kebingungan. Benarkah barusan ia memanggilku Draco?

"Draco," sekarang malah Hermione yang bingung, "Tak apa, kan?"

"Tidak apa-apa Hermione. Bisa kita sekarang saling panggil nama depan saja?" tanyaku.

Pelan-pelan Hermione mengangguk. "Tumben kamu baik."

"Baik itu nama tengahku."

"Nama tengahmu bukannya Lucius ya? Namamu itu kan Draco Lucius Malfoy. Perasaan ga ada kata 'baik' deh di namamu. "

"Tahu ah." Rupanya Hermione punya rasa humor juga. "Aku datangi asrama Slytherin dan Revenclaw sementara kau datangi asrama Gryffindor dan Hufflepuff ya?"

"Baiklah. Beri tahu mereka untuk selalu waspada jika ada di luar kastil. Dan oh ya, Draco," panggil Hermione ketika aku sudah akan beranjak pergi. Kirain instruksinya udah selesai. "Peringatkan mereka ya, jangan keluar dari kastil mulai dari matahari terbenam."

"Iya, iya." Gumamku lalu berjalan pergi. "Kita ketemu di asrama Ketua Murid lagi nanti ya. AKu ingin mengatakan sesuatu padamu." Kataku ketika kami sama-sama berjalan menuju arah asrama-asrama yang sudah kami bagi sebelumnya. "Sampai ketemu, Her..Hermione."

Ia mengangguk gugup dan kami berpisah jalan.

Hermione POV

Kesambet apa itu anak ya? Biasanya dia cuek, nyebelin, angkuh, kok bisa sih dia jadi baik banget sama aku? Dan kenapa ya kok waktu dia bilang selamat tinggal, rasanya aku senang sekali? Jangan-jangan sebenarnya aku yang kesambet. Oh, Bathsheba, apakah engkau merasuki diriku? *abaikan ini sangat gaje.

"Kebetulan kalian lewat! Ron! Hannah! Sini sebentar dong!" seruku ketika melihat Ron dan Hannah lewat.

"Eh kau, Hermione! Ada perlu apa?" tanya Hannah santai.

"Beri tahu anak-anak Hufflepuff dong jangan pergi kemana-mana sehabis matahari terbenam dan mereka harus waspada setiap berada di luar kastil. Ada kejadian aneh belakangan ini. Lakukan hal yang sama untuk anak-anak Gryffindor ya Ron!" pesanku.

"Memangnya kenapa?" tanya Hannah, sementara Ron hanya menatapku bingung saja.

"Biar McGonagall saja yang menjelaskan. Panjang ceritanya! Tanya saja tuh sama si Draco! Dia yang bisa menceritakannya dengan detail!" ujarku.

"Ok. Aku mau ke ruang rekreasi dulu ya? Ada janji bikin PR Ramuan dengan Ernie," kata Hannah berpamitan.

Aku mengangguk, "Sip! Jangan lupa ya!" beres. Saatnya ke ruang rekreasi. Apa ya yang mau dibicarakan Draco?

"Hermione, tunggu. Si Malfoy itu kemana? Tumben kalian tidak bersama." Kata Ron sinis.

"Memangnya.." kata-kataku terpotong oleh teriakan seseorang.

"Aaargh!" itu bukannya suara Draco? "Lepaskan tangan kotormu itu dari bajuku!"

"Berisik! STUPEFY!" penyihir yang memakai tutup kepala dan jubah panjang itu menyihir Draco sampai pingsan lalu ia membawa Draco keluar dari kastil.

"DRACO!" seruku berusaha mengejar si orang asing yang langsung berlari cepat ketika kukejar.

Gimana? Aku pengen bikin chapter ini agak menegangkan gitu tapi tauk deh berhasil apa enggak ._. by the way, thanks for reading my fanfiction! Please leave a review