DISCLAIMER : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 3

Sometimes the heart sees what is invisible to the eye

.

.

.

.

Sakura mengambil napas panjang. Beberapa jam terakhir hidupnya seakan berada diujung jurang tak berdasar. Jemari lentik gadis berparas menawan itu meraih gagang lemari perak dengan hiasan bunga sakura diatas kiri, meraihnya hingga tampak sederetan seragam kedokterannya.

Sakura meraih sepasang pakaian berwarna biru tua hingga emeraldnya menangkap kotak coklat nan menawan dengan pita emas terurai cantik diatasnya. Alis sakura mengerut, ia raih kotak berbentuk hati tersebut. Irisnya menelusuri tiap sudut kotak, mencari tanda-tanda pengirim kotak misterius itu. Nihil. Sakura putuskan untuk membukanya.

Cantik.

Kata pertama yg hinggap di otak sakura ketika maniknya menangkap sederetan coklat beragam bentuk dan warna yg tersusun dengan rapihnya. Namun apa yg dicari gadis itu belum juga ia temukan. Tak ada kertas atau tanda-tanda apapun mengenai pengirim coklat rupawan tersebut, hanya sebutir kelopak bunga sakura segar yg sengaja ditaruh diantara deretan coklat.

"HEI! Astaga. Sedona? Dari mana kau dapatkan coklat ini? Jangan bilang kau tidak berniat membaginya denganku. Teganya kau. Kalau begitu kuambil bagianku sekarang." Belum sempat Sakura mencegah, ino sudah memasukan sebutir coklat berwarna putih kemulutnya. Sakura terbelalak. Sial! Ia bahkan belum tahu coklat ini beracun atau tidak.

"INO!"

"Apa? Astaga coklat ini memang luar biasa enak skali." Ino dengan santainya menjilati jemari-jemarinya sambil memuji sepotong coklat yg baru saja ia curi. Bahkan hendak mengambil sebutir coklat lagi sebelum dihentikan sakura.

"Bisakah kau bertanya dulu Yamanaka Ino sebelum memutuskan sesuatu?" Sakura marah. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ino? Dan itu semua karna kelalaiannya.

"Jadi kau tidak berniat membaginya? Teganya kau pig." Wajah Ino tampak kecewa.

Sakura mendengus. "Bukan begitu maksudku. Coklat ini baru saja kutemukan diloker, aku bahkan tidak tahu siapa pengirim dan dari mana asalnya. Bagaimana jika ada seseorang mencampurkan sesuatu di coklat ini? Dan bagaimana jika itu racun?"

Bola mata Ino ia putar. "Kau berlebihan Sakura. Mungkin itu hanya dari penggemarmu. Ayolah, ini bukan pertama kalinya kau dikirimi hadiah tanpa nama. Lagipula, lihat, tidak ada yg terjadi padaku. Santai saja. Ok?" Dengan lihai Ino mencuri sebutir coklat lagi dari pegangan Sakura yg sedikit kaget kemudian berlarian kecil meninggalkan ruangan namun berhenti sejenak sebelum menghilang sempurna dari balik pintu. "Tidak usah dipikirkan. Tapi jika kau masih khawatir, tunggu saja sampai besok. Jika terjadi sesuatu padaku kau boleh membuangnya. Tapi jika tidak. Berikan aku ."

Sakura memijit dahinya yg sebenarnya tidak sakit. "Ino pig bodoh. Bagaimana jika benar-benar terjadi sesuatu? Ck. Kau hanya menambah pusing kepalaku."

.

.

.

Malam begitu banyak suara yang terdengar, hanya sedikit bunyi ambulans yg beberapa kali mengadu di sekitaran lorong Rumah Sakit Konoha. Hawa dingin terasa menembus kulit. Ditemani lampu kecil redup Sakura dan Tenten duduk berjaga di depan pintu dengan papan kecil bertuliskan kamar mayat diatasnya. Sakura terus menerus menyentak-nyentak kecil kakinya. Tiap kali terdengar suara kecil tanpa sadar ia meremas lengan atas wanita disampingnya, sementara wanita itu hanya sibuk menbaca buku kecil ditangannya.

"Sakura, Kau meremas lengan bajuku terlalu kuat."

Sakura mengendorkan peganganya. Malu. "Oh. Maaf."

"Tidak apa-apa."

"Ngomong-ngomong apa yang sedang kau baca?"

Jemari Tenten membalikkan halaman buku. "Buku yang selalu dibaca Kakashi sensei."

"Oh. Apa isinya?"

Sontak Tenten memalingkan wajahnya. Menatap lekat iris emerald didepannya. Matanya menyipit. Membuat tenggorokan Sakura terasa tercekat. Tenten mendekat, hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Sakura. Berbisik dengan nada yg dibuat-buat "Sampah." Tawa wanita bersurai hitam itu pecah diikuti dengan ekspresi sakura yg mendadak datar.

"Sialan kau Tenten."

Grrrr grrrr

Tenten meraih ponsel di saku kiri jas labnya. Berusaha mengontrol tawa begitu mendapati nama salah seorang residen pemimbing yg ia segani. Neji.

"Halo. Oh iya. Maaf. Baiklah saya akan segera kesana."

"Kenapa?"

"Ada masalah. Salah satu pasienku yang lalu mendadak kritis. Aku harus kesana untuk melihat keadaan." Tenten berdiri sementara Sakura hanya melongo tak percaya.

"Jadi, kau mau meninggalkanku? Sendiri? Disini? Bisakah kau menunggu hidan-san kembali sebelum pergi?"

Tenten menatap iba wanita bersurai pinkish itu. Tak tega harus meninggalkan seorang wanita yang bahkan ditemanipun tubuhnya masih bergetar ketakutan. "Maaf Sakura-chan. Tapi kau harus bisa menghadapi ini. Aku janji akan segera kemari secepatnya jika urusanku disana sudah selesai." Tilah tenten seraya mulai berlari meninggalkan Sakura yg tengah memasang ekspresi ketakutan.

Sakura menatap sekeliling. Irisnya menangkap peti-peti mati yg berjejeran tak jauh darinya. Hawa sudah tidak terasa begitu dingin -trimakasih untuk sweeter tebalnya- hanya saja tubuh gadis itu tetap saja merinding. Bulu-bulu romanya berdiri. Suatu sensasi tidak menyenangkan menjalar keseantero tubuh sakura.

Ini bukan pertama kalinya Sakura berjaga ditempat yg berhubungan dengan mayat. Hanya saja kali ini berbeda. Ia sendiri. Tanpa seorangpun yg menemani. Beberapa saat yang lalu ia bersama hidan -pria yg bekerja menjaga kamar mayat- dan Tenten -teman seprofesi yg ditugaskan berjaga bersama Sakura-, tapi keduanya pergi karna urusan masing-masing. Meninggalkan seorang wanita penakut. Dan wanita penakut itu harus bertahan dengan situasi seperti ini sampai salah satu dari mereka kembali.

Grrr grrr

Sakura meronggoh smartphone dari saku jas labnya. Pesan masuk.

From : Pig

forehead, kau disuruh mengecek identitas jenazah terakhir. Secepatnya.

Apa?

Mungkin salah lihat. Sakura mengucak matanya. Oh sial! Entah kemana perginya dewi fortuna Sakura, yg jelas sejak kemarin keberuntungan gadis beriris emerald itu bagai hilang ditelan bumi. Sakura menarik napas panjang kemudian dihembuskan perlahan. Secepatnya. Sial!

Sakura berdiri. Menggapai gagang pintu perak kemudian memutarnya. Sedikit berdoa dalam hati sebelum memutuskan untuk memasuki ruangan terkutuk yang tak pernah ia harapkan memasukinya sendiri.

"Permisi." Sapa Sakura entah pada siapa.

Hawa dingin keluar dari dalam ruangan. Sakura menelan ludah. Sedikit kaku ia berjalan memasuki ruangan. Kain-kain putih yg menutupi tubuh jenazah berjejeran sepanjang ruangan. Sakura langsung menuju kain putih terakhir di ujung ruangan, kembali berdoa dalam hati kemudian menyingkapkan helaian kain dengan mudah.

Seorang wanita tua, sekitaran 70 atau 80-an. Wajah berkeriputnya pucat pasih. Rambut putih tergerai indah di samping kepalanya. Dibibirnya terlukis segaris senyum tipis. Dalam hati Sakura sedikit lega, ia tahu wanita tua ini berpulang dengan perasaan bahagia. Puas. Tak ada kekhawatiran atau penyesalan. Sakura berharap jika suatu saat ia harus mengghadap yg kuasa, ekpresi seperti wanita tua ini yg kelak bisa ia pancarkan.

Cyio, 87 tahun

Sakura membaca kertas kecil dibagian kaki wanita tua yg ternyata bernama Ciyo. Nenek Ciyo. Kemudian dituliskan ke smartphone pinknya.

To: Pig

Ciyo, 87 tahun

Send

Sakura memandang tubuh mungil nenek ciyo sesaat sebelum kembali menutupinya dengan kain putih tipis. "Slamat jalan nenek Ciyo." Senyum tipis tergaris di bibir merah Sakura. Senyuman penuh kasih sayang. Baru kali ini ia bertemu seseorang apalagi dalam bentuk tak bernyawa yg rasanya seperti sudah lama bertemu.

Wajah manis nenek Ciyo membuat gadis bersurai pink itu sedikit lupa akan segala ketakutannya. Untuk sesaat. Tubuh Sakura merinding, ia ingin keluar secepatnya dari tempat ia berada dan tanpa banyak pikir segera melangkahkan kaki menuju pintu keluar tempat ia masuk sebelumnya.

Klek

Sakura memutar gagang pintu. Tapi tak ada yg terjadi.

Klek.

Sekali lagi ia mencoba hal yang sama. Lagi dan lagi Sakura memutar gagang pintu dengan kasar. Memaksa. Ia menggedor-gedorkan pintu bahkan menendang-nedangnya. Namun tetap saja.. nihil. Sakura mengambil handphonenya. Mencari sebuah nama yg bisa menolongnya. Yamanaka Ino. Namun sebelum ia dapat menghubungi wanita pirang diseberang sana, cahaya handpone pink yang baru saja ia genggam redup. Kehabisan daya.

Wajah cantik Sakura memucat. Otak jeniusnya seakan buntu tak bisa berpikir apapun. "TOLONG! siapapun, Tolong!" Gadis bersurai pink itu beralih mengedor-gedorkan pintu dengan brutal. Tak peduli lagi dengan apapun disekilingnnya.

Namun tetap saja. Tak ada yang pada satu titik usaha gadis manis itu berhenti, tangan mungilnya tak kuat lagi. Sakura tertunduk. Kali ini kakinya sudah tak mampu menahan tubuh rapuhnya. Ia terjatuh.

Cairan bening mengalir keluar dari pelupuk mata sakura. Membasahi pipi porseline gadis itu. Cairan bening yg sedari tadi ia pendam, kini mengalir deras. Seorang Haruno Sakura, wanita kuat yg sangat jarang menangis kini kalah oleh serentetan kesialan yg terus ia alami sepanjang hari.

Isak tangis Sakura memenuhi seantero ruangan. "Gadis bodoh. Hiks. Kenapa kau menangis hanya karna hal sepele seperti ini? Hiks." Monolog sakura pada diri sendiri.

"Tenang Sakura. Hiks. Kau akan baik-baik saja. Tidak ada yg akan terjadi. Kau kuat." Hibur sakura pada diri sendiri sembari menyingkirkan sisa-sisa air mata dari pipinya. Karna ia tahu saat ini tidak ada yg bisa ia andalkan. Tak ada yg bisa menyeka air matanya selain dirinya sendiri. Jangan cengeng gadis bodoh. Kau bukan anak kecil lagi. Kau kuat, dan kau akan baik-baik saja.

"Benar. Kau akan baik-baik saja. Jangan menangis."

Deg

Sakura mematung. Terbelalak. Tubuhnya menegang. Sebuah suara lembut berbisik tepat di depan telinga Sakura berbarengan dengan kulit wajah gadis itu yg disentuh seakan menghapus butir-butir air dari pipinya.

Apa itu? Siapa yg bicara? Apa... keringat dingin bercucuran dari pori-pori sakura ketika dirinya sempat menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri.

Hantu.

Dan sedetik kemudian semuanya menjadi gelap. Sakura merasakan dirinya terjatuh, namun bukan ke lantai melaikan ke pelukan seseorang yang rasanya tidak asing. Aroma tubuh yang pernah ia hirup sebelumnya. Aroma yg mengingatkan Sakura pada musim semi.

.

.

.

Naruto duduk bersandar pintu. Dipangkuannya tertidur pulas seorang gadis berambut pink. Wajah tegangnya sudah jauh lebih rileks, bahkan bisa di katakan damai. Manis. Kulitnya putih halus, pipi sedikit merona, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibirnya.. ugh. Naruto menggeleng. Bibir merah merah Sakura nyaris membuat lelaki blonde itu melakukan hal yg tidak senonoh, dan Naruto mengutuk otak bodohnya.

Sehelai rambut jatuh ke pipi Sakura, membuat Naruto tidak tahan untuk merapikannya. Telapak tangan Naruto dengan lembut menyingkirkan helaian rambut dari pipi Sakura. Membelainya. Membuat Gadis itu mengerang kecil dalam tidurnya.

Deg.

Semburat merah merekah dipipi rubah Naruto. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Ia tak pernah menyangka efek seorang Sakura yg tengah tidur dapat begitu berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

Tak ada suara yg terdengar. Hanya aroma manis yg hinggap di indra penciuman Sakura. Nyaman. Membuat sakura tenang hingga menolak untuk membuka mata. Walau ada sedikit sekali aroma tidak menyenangkan bercampur diudara. Aroma formalin?. Ini dimana? Apa yang terjadi? Beberapa pertanyaan sekilas terlintas diotak jenius Sakura namun tidak ia hiraukan karna masih ingin terlelap dalam aroma memabukkan itu. Sakura merasakan sesuatu menyentuh pipinya dgn lembut. Membelainya. Sensasi memabukkan hinggap dlm dada sakura, membuat wanita bersurai pink itu sedikit mengerang.

Tangan hangat siapa membelainya? Ibu? Ayah? Rasa tidak ada seorangpun yang pernah menyentuh Sakura dengan cara semanis ini. Siapa?

Tunggu.

Serpihan ingatan kembali ke otak Sakura. Ingatan beberapa saat sebelum ia pingsan. Benar, sebelumnya ia pingsan. Pingsan karna...

Mata sakura sontak terbuka. Terbuka lebar menampakkan seantero emeraldnya. Membelalak. Sakura merasakan bantalan kepalanya sedikit bergerak. Kaget?. Lucu. Tidak ada bantalan yg bisa kaget. Kecuali.. Sakura melirik sekitarnya. Ia masih berada dikamar mayat. Sendirian. Tidak. Tenggerokan Sakura tercekat. Menemukan kata-kata yang tidak ingin ia percaya. Ia tidak sendirian. Dan itu menjelaskan aroma lain yg berada bersamanya dan bantalan aneh yg lucunya tidak terlihat. Oh Sh*t.

"AAAAHH!"

Sakura histeris, menjerit ketakutan. Adrenalin gadis itu berpacu membuat sakura bergerak lebih cepat. Berdiri dan secepat mungkin menjauh dari sosok asing yg sepertinya telah lama menemani Gadis bersurai pink itu.

"Tenang Sakura. Oh kumohon tenanglah. Aku bukanlah sesuatu yg perlu kau takuti." Kata naruto lembut selembut yg ia bisa berharap bisa menenangkan gadis dengan wajah shock didepannya.

Sakura mundur perlahan. Suara asing itu memanggil namanya. Terlalu pelan hingga.. menakutkan. Tubuh Sakura semakin bergetar. Ia menggangkat tangan dan membuat simpul salib dengan kedua jarinya. "Jangan mendekat! Kumohon jangan mendekat! Maaf jika aku mengganggumu tapi aku bersumpah tidak bermaksud melakukannya. Kumohon tinggalkan aku sendiri, aku janji akan menghindari hal apapun yg dapat mengganggumu. Jadi kumohon..." Tangis Sakura pecah diakhir kalimatnya. Air mata menetes keluar dari manik emeraldnya.

"Maaf jika aku menakutimu. Tapi aku bersumpah aku bukan sosok menakutkan seperti yang ada dipikiranmu. Aku sama sepertimu dan tidak ada yg perlu kau takutkan." Naruto mendekat perlahan.

"Maaf tuan hantu tapi jika kau tidak ingin menakutiku, kumohon. Kumohon dengan sangat. tinggalkan aku. Dan aku janji tidak akan sekalipun mengganggumu."

"Dengar. Aku memang tidak terlihat, tapi percayalah, aku bukan hantu." Naruto memperpanjang langkahnya.

"JANGAN MENDEKAT!" Tangan Sakura yg membentuk simpul salib bergetar hebat menyadari suara asing didepannya semakin mendekat. "Kumohon tuan hantu yg baik. Jangan mendekat." Sakura mundur dengan cepat. Tanpa sadar kakinya membentur kaki meja dan menyingsingkan kain putih dari tubuh hancur dengan wajah habis terpanggang. Jatuh kearah kedua mata tanpa kelopak yg melotot tajam. Refleks Sakura menutup mata. Ia tahu apa yang akan segera terjadi. Ia akan mengalami hal termenakutkan yang dapat membuat gadis itu terauma hingga bersedia menyerah pada mimpi terbesarnya. Menjadi seorang dokter.

Namun sebuah tangan menarik Sakura. Tangan besar nan hangat menarik tubuh mungil Sakura hingga jatuh kedadanya. Menenggelamkam gadis itu kedalam pelukannya. Dan dari sana Sakura menemukan sesuatu.

Deg

Berdetak. Ada detakan jantung dalam dada kokoh ini. Bahkan lebih cepat dari yg seharusnya. Dan... hangat. Tubuh ini hangat. Sesuatu yg seharusnya disadari Sakura sebelumnya. Namun entah kenapa tak terlintas dalam otak jeniusnya.

Sekali lagi. Kehangatan dan aroma musim semi yg disuguhkan sosok itu mampu menenangkan Sakura. Tidak peduli seberapa kalut dan gelisah dirinya, tubuh itu selalu bisa menentramkan semua keresahan Sakura. Sesuatu yg tak pernah bisa Sakura mengerti.

Sesuatu yg sangat aneh.

.

.

.

.

.

A/N

Setelah sekian lama akhirnya saya update. Dan 2 chapter dalam sehari. Maaf untuk keterlambatan yg sangat keterlaluan ini sebenarnya chap 2 dan 3 sudah saya selesaikan beberapa bulan yang lalu tinggal diedit, namun karna banyak faktor, tidak saya post, dan faktor terbesar dan tersering adalah kesibukan dan kemalasan saya. Walaupun yang terbesar adalah faktor kesibukan karna saya sudah berada pada masa-masa sibuk dalam perkuliahan saya yg beberapa bulan lagi akan selesai. Trimakasih untuk yg setia menunggu kelajutan fic tidak terlalu menarik ini juga saran dan tanggapannya. trimasih untuk review, follow, atau favoritenya. I really appreciate that. ;)

Thanks to

Ark9, Ohhunnyeka, Narusakulovers, ginsu, guest, akatsuki24, alexaart, meika narusaku, ae hatake, dragon warior, naruto cool style,leontujuhempat, cherryfoxy13, nanoshinonome, himarura kiiromaru, hoshikirari, kamikaze yugito, aditya otsutsuki namikaze, ai-lea narura

Untuk AGL, jika tidak ada halangan saya post minggu ini.