Gadis berambut blonde itu membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ia segera menyadari bahwa dirinya sedang berbaring di atas sebuah kasur. Dengan perlahan, ia mengubah posisi-nya yang semula berbaring menjadi duduk, lalu menyingkirkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Wajahnya tampak bingung, ia memandangi ruangan sekelilingnya yang dihiasi dengan tembok-tembok berwarna putih. Gadis itu—Claire, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hn?" gumamnya.
Pluk!
Sesuatu tiba-tiba terjatuh dari atas dahi-nya, lembab dan basah. Claire melonjak kaget, lalu dia memandangi benda yang terjatuh dari dahinya itu. "Apa ini? Handuk… basah—kompresan?" tanya Claire pada dirinya sendiri.
Krrr…
Pandangannya segera beralih ke arah suara dengkuran yang ia dengar. Claire menoleh ke samping lalu terdiam. Pupil matanya melebar, mulutnya terbuka dengan sendirinya. Ia mendapati sosok laki-laki yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Claire memiringkan kepalanya sedikit agar bisa melihat wajah laki-laki tersebut.
"Huh? Gray?" batin Claire bingung ketika mendapati wajah Gray pada sosok laki-laki tersebut.
Salah satu tangannya dia jadikan bantal untuk kepalanya. Topinya tergeletak di lantai begitu saja, sepertinya topi itu terjatuh tidak disengaja. Claire masih terdiam, kaget akan apa yang barusan ia lihat. Lalu dia menggaruk sebelah pipinya sambil beberapa kali berkedip, "hey Gray… ngapain kamu di sini?" tanya Claire setengah berbisik. Yang ditanya hanya bisa diam dan merubah posisi kepalanya menghadap ke arah jendela. Sebuah senyuman kecil terukir di mukanya, melihat itu Claire ikut tersenyum dengan sendirinya.
"Claire…" tanpa disadari tubuh yang masih tertidur itu memanggil nama Claire, gadis berambut pirang itu segera memandangi laki-laki di sampingnya dengan kaget. Claire menunggu untuk sesuatu yang akan laki-laki itu ucapkan.
"Jangan… jangan paksakan dirimu…" ucapnya mengigau sambil menggenggam erat lengan Claire.
Hyuu…
Muka Claire sepenuhnya memerah, dia menelan ludah sambil memandangi lengannya. Lalu pandangannya kembali beralih menuju laki-laki bernama Gray itu.
.
.
.
"T-tentu saja!"
Gray's POV
Srek
Srek
Suara berisik apa itu?
Srek
"—Gray."
Huh? Siapa yang memanggil namaku?
"Gray."
"Gray! Bangun!"
Dengan perasaan kaget kubuka mataku, pandanganku yang semula diisi dengan warna serba hitam langsung tergantikan oleh pemandangan ruangan serba putih.
"Mau sampai kapan kau tertidur di sana, hah?" tanya seseorang di belakangku. Aku refleks menoleh ke belakang dan mendapati sosok laki-laki berjas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya, Dokter Trent.
"O-oh… ya. Benar," jawabku sambil buru-buru berdiri. Setelah itu aku menarik ujung topi—tunggu, rambut?! Aku meraba-raba kepalaku, "loh?" batinku pelan.
"Topiku—di mana?!" tanyaku panik. Aku melihat sekeliling dan mendapati topi bertulis UMA yang berada di atas meja. Kenapa topiku bisa ada di sana… pikirku sambil kembali memakai topiku.
"Oh ya Gray, sekarang sudah jam 12. Tidak baik berlama-lama di sini, kau bisa tertular virus. Pulanglah," terang Dokter Trent dengan nada datar, namun bagiku dia mengusir.
"Ya, aku memang mau pulang," jawabku. Aku pergi berjalan menuju pintu untuk keluar dari klinik.
Tapi… rasanya…
Rasanya ada yang sesuatu kulupakan…
Aku menghentikan langkahku, lalu menoleh ke belakang.
…
Mungkin hanya perasaanku saja.
.
.
.
Aku berjalan menyusuri jalanan sambil sesekali menguap, Kenapa aku tertidur di klinik? Membuang-buang waktu saja… pikirku. Aku berhenti di pertigaan, lalu mengambil jalan ke kiri untuk sampai ke Inn. Tiba-tiba aku mendengar suara dari arah Inn.
"Hee… Gray beneran belum pulang?" tanya seseorang dengan nada kecewa. Suaranya terdengar sangat familiar.
"Iya, maaf ya Claire. Harusnya jam segini dia sudah pulang," jawab suara lain, yang juga terdengar familiar. Itu jelas-jelas suara Ann.
... Dan yang menjadi lawan bicara Ann pasti Claire.
Tunggu… kenapa Claire mencariku?
Hm…
—AH! Tadi...
Claire pingsan, kan?
Kenapa aku bisa sampai lupa?! Dasar bodoh!
"Baiklah kalau begitu… aku akan mencarinya lagi," ucap Claire, aku bisa mendengar dirinya menghela nafas.
"Haha, maaf merepotkanmu ya! Jika kuda itu sudah menampakkan diri, pasti aku akan menjitaknya sampai pingsan!" Ann berkata dengan nada antusias juga tanpa rasa bersalah.
Huh?! 'Kuda'? Maksudnya topi UMA-ku?! Memangnya dia pikir aku ini apa?! Gerutuku dalam hati.
"Haha, baiklah Ann. Terimakasih ya~ Sori udah ganggu!" balas Claire lalu (sepertinya) dia pergi.
Aku mendengar suara langkah kaki yang makin lama makin mendekat, aku segera bersembunyi di balik semak-semak agar Claire tidak melihatku. Setelah dia menghilang, aku keluar dari tempat persembunyianku sambil membersihkan bajuku yang terkotori tanah.
Kenapa aku malah sembunyi…
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju Inn. Tapi, kakiku berhenti dengan sendirinya dan otakku mulai berpikir. Kata-kata Ann menggema di pikiranku—'Menjitaknya sampai pingsan'—Ha, sebaiknya aku tidak ke Inn dulu. Aku berbalik, dan dengan cepat berjalan menjauhi Inn.
Aku harus ke mana, ya…
...
Mungkin… aku akan pergi diam-diam mengikuti Claire.
Aku hanya sedikit… penasaran
Kira-kira ke mana dia akan mencariku?
Tadi Claire pergi ke arah utara melewati Toko Wine milik Manna, yang berarti tujuannya adalah; perpustakaan, supermarket, klinik dan Gereja. Aku segera melangkahkan kakiku menuju arah yang sama dengan Claire, lalu mencari sosok perempuan berambut pirang itu.
...Skip Time...
Aku menghentikan kegiatan berjalan ketika mendengar suara Claire dari arah perpustakaan. Setelah itu aku segera bersembunyi di balik semak-semak.
"Hey Mary! Apa kau melihat Gray?" tanya Claire riang.
Mary menggeleng pelan, "tidak, aku belum melihatnya hari ini. Memangnya ada apa?" tanya gadis berkacamata itu.
"Mmh," Claire menggelengkan kepalanya. "Bilang kalau kau melihatnya ya! Tengkyu Mary~" lanjutnya lalu berlari sambil melambaikan tangannya. Mary membalas lambaiannya sambil tersenyum, ya ampun. Dia manis.
.
Huh.
.
Hah?
Aku rasa ada sesuatu yang bergerak di tanganku. A-apa ini… geli?Aku memandangi seekor ulat yang sedang menggeliat di sela-sela jari tanganku.
...
—ULAT?!
"U-UAAGH!" aku berteriak dan segera keluar dari semak-semak, lalu tidak sengaja terguling ke jalanan.
"Eh? Gray?" seseorang menyebut namaku. Uargh, itu pasti suara Mary.. "O-oh… hey," sapaku.
"Apa yang kau lakukan di sana, Gray?" tanya Mary sambil tertawa pelan.
"T-tidak melakukan apa-apa," jawabku cepat.
Jawaban macam apa itu, Gray! Bagus, dia pasti bakal menganggapku orang aneh, rutukku dalam hati.
Mary kembali tertawa, "oh ya, barusan Claire mencari-mu. Dia bertanya padaku apakah aku melihatmu atau tidak," jelas Mary.
"Sepertinya Claire belum pergi terlalu jauh dari sini..." lanjut gadis berkacamata itu sambil memandang ke segala arah.
"S-soal itu, sih—" sebelum kulanjutkan kata-kataku, Mary menemukan sosok Claire yang sedang berdiri di depan Supermarket.
"Claire!" panggil Mary kencang, namun suaranya tetap saja kecil. Sebelum ia memanggilnya lagi, dengan cepat aku menutup mulutnya.
"Clai—"
Aku panik, tidak sadar sedang menutup mulut gadis berambut hitam itu. Pandanganku hanya tertuju pada satu orang, yaitu Claire. Dengan keringat dingin yang mengalir, aku perhatikan sosoknya yang sedang bertanya pada Sasha di depan supermarket. Kemudian setelah beberapa lama, akhirnya sosoknya menghilang dari pandanganku.
"G-gray…" panggil Mary dengan suara pelan. Aku memandangnya dan segera menyadari bahwa aku masih menutup mulutnya, "o-oh, ya… m-maaf!" ucapku dengan cepat. Refleks, aku menarik ujung topiku ke bawah dan segera memalingkan muka. Mary mengambil nafas berat. "Sori, kau gak apa-apa?" tanyaku.
"Aku tidak apa-apa, kok. Oh ya, memang ada apa antara kau dengan Claire? Kalian sedang marahan?" tanya Mary dengan wajah khawatir.
Ugh. Tolong jangan pandang aku dengan wajah seperti itu, batinku sambil menutup sebagian mukaku dengan sebelah tangan.
"Bukan, aku hanya…"
"hanya… sedang bermain petak umpet dengannya," jawabku asal, tidak tahan dengan pandangan Mary yang mirip Puppy eyes itu.
"Oh... Kalau begitu aku akan kembali ke dalam, aku harus mengerjakan sesuatu. Semoga beruntung Gray~" ucapnya sambil melemparkan senyuman manisnya ke arahku, lalu masuk ke dalam perpustakaan. Aku membalasnya dengan anggukan kecil.
Fuuh… akhirnya Mary menghilang, pikirku sambil mengelap keringat yang berada di sekitar dahi.
…
Tadi…
Claire pergi ke arah mana?
Aku mendesah pelan sambil menundukkan kepala, sial… aku kehilangan jejak, pikirku kesal.
"Hahaha! Kau bisa saja, Popuri!" tiba-tiba sebuah suara terdengar di telingaku. Suara yang terdengar seperti… suara Ann! ITU ANN!
Menjitaknya sampai pingsan.
Otakku langsung menayangkan memori-memori ketika Ann hampir membunuhku. Seperti saat aku terlambat untuk makan malam dia hampir mematahkan tulang leherku… dan kejadian musim panas tahun lalu, ukh… memikirkannya saja sudah membuatku mandi keringat dingin. Aku bergedik ngeri, dan tanpa sadar langsung berlari masuk ke dalam Klinik. Dari aura-nya… sudah pasti tadi itu Ann si barongsai! Batinku panik.
"Gray?" seseorang memanggil namaku. Aku langsung menoleh dan mendapati seorang laki-laki berstetoskop menatapku. Dan dibelakangnya…
Seorang gadis dengan wajah persis seperti Claire—bukan, itu CLAIRE!
"Oi Gray, ngapain kamu balik ke sini," tanya Dokter Trent sambil mengangkat sebelah alisnya, aku yakin dia tidak bertanya tapi mengusir-ku.
Aku hanya terdiam. Claire memandangku dengan mata berbinar-binar. "Gray!" panggilnya. Dia berlari ke arahku, "kau ke mana saja, sih?! Dari tadi aku cari, tahu!" lanjutnya kesal.
"Ya, aku tahu." Jawabku pendek.
"Hoi Gray, jawab pertanyaanku. Harusnya sekarang Claire sedang beristirahat di rumahnya, kenapa kau membuatnya berkeliaran seperti ini, huh?" tanya Dokter Trent disudahi dengan kemunculan aura tidak enak berwarna biru keungu-unguan di belakangnya.
"Hei hei, itu bukan salahku. Dia ke sini karna kemauannya sendiri, jangan salahkan aku dong," balasku sambil mengangkat bahu.
Aku terdiam, "oh ya, ngomong-ngomong Claire pingsan karena apa?" tanyaku.
"Dia kecapekan," jawab Trent disertai dengan helaan nafas.
"Ooh."
"Sekarang, cepat antar dia pulang, Gray. Besok pasti dia akan sibuk dengan pekerjaannya. Keadaannya masih lemah, sekarang dia butuh istirahat yang cukup, kau dengar?"
"D-dokter Trent! Aku tidak apa-apa kok, sungguh!" ucap Claire.
"Tidak Claire, kau tidak 'tidak apa-apa', kau lemah, kau masih butuh istirahat," sangkal Dokter Trent dengan cepat.
Claire terdiam, pupil matanya membesar. Lalu beberapa detik kemudian ia menghela nafas, "baiklah dok…"
SIING….
"Kau tidak dengar apa yang dikatakan Dokter Trent tadi? Cepat antar aku pulang, Gray!" tiba-tiba Claire menarikku lalu keluar dari klinik.
Ha…
Sekaraang… aku berada di depan klinik, bersama Claire yang tiba-tiba menghentikan kegiatan berjalannya. Ada apa ini… Dia menundukkan kepalanya, wajahnya tertutupi oleh rambut pirangnya yang panjang.
Serius, ada apa—
"Hiks."
Hah? Dia nangis?!
Claire berjongkok, lalu menenggelamkan kepalanya disela kedua lututnya. "Hiks…" isaknya.
"O-oi Claire! Kau kenapa?!" tanyaku panik.
"H-h-h..hiks, G-gray!" ucapnya disertai dengan isakan.
"Ya, aku di sini! Ada apa?!" balasku panik dan dengan reflek ikut berjongkok disebelahnya.
"Aku… h-hiks, a-aku… aku lemah ya?" tanya Claire dengan suara gemetar.
"K-kenapa kau… kenapa tanya begitu?" tanyaku balik.
"Ti-dak… aku, a-aku… hanya…" dia mengangkat wajahnya.
"Aku lemah, Gray. Aku lemah. Dokter Trent bilang aku… aku lemah..."
Aku bisa melihat tetesan air mata mengalir deras dari kedua sudut matanya, wajahnya benar-benar terlihat sedih. Padahal hanya karna Dokter Trent bilang dia 'lemah', memangnya ada apa dengan lima huruf itu? Apakah masa lalunya seburuk itu?!
"Cup cup…" karena tidak tahu harus apa, aku memeluknya. Aku bisa merasakan dia menarik bajuku dan menangis di bahuku.
Haa… bajuku jadi basah deh, pikirku pasrah.
"Tsch… kau tidak lemah kok, untuk seorang gadis dimataku kau cukup kuat," timpalku pada akhirnya, setelah itu tangisannya mereda.
"B-benarkah Gray…" tanya Claire dengan suara yang pastinya sangat gemetaran.
Aku mengangguk pelan, yah… mungkin bahkan kau lebih kuat daripada aku, batinku.
Dia menghapus air mata dengan lengannya lalu berdiri, "hehe… maaf Gray, kau jadi basah," ucap Claire sambil ber-tehee ria.
Aku ikut berdiri, lalu menepuk-nepuk baju-ku yang terkotori tanah, "yah, gak apa-apa, sih," jawabku. Setelah itu aku kembali melanjutkan berjalan, "ayo," ajakku.
Claire terdiam, "Mmh!" balasnya sambil mengangguk.
Serius, tadi aku hampir sakit jantung.
"Oh ya, Claire... tadi kau pingsan... apa sekarang kau gak apa-apa?" tanyaku.
"Tentu saja~ aku sudah pulih kok," jawab Claire yang entah kenapa terlihat sangat gembira.
"Jangan lupa aku yang memenangkan pertarungan kita tadi pagi," tambahku.
Claire menghentikan langkahnya, "apa?! Bukannya aku yang menang?!" teriaknya kecewa.
"Kau kan pingsaan, jangan lupa taruhan kitaa, yang kalah mengabulkan permohonan yang menaang~" ucapku ngeledek.
"Aaah! Graay! Kau tidak bisa lakukan ini padaakuuu! Aku belum pulih!"
"Hahaha, tadi kau baru saja bilang kau pulih, dasar bawel."
"Aaaaahh, Graay!" rengeknya.
...Skip Time...
Kami sampai di depan rumah Claire.
"Um, kalau begitu, sebaiknya aku pulang," ucapku sambil berbalik.
"Oh tunggu, Gray!"
"Hn?" sautku pendek.
"Tadi aku mencarimu, aku ingin memberikanmu ini," jelasnya sambil memberikanku sebuah coklat.
"Woh..."
"Aku buat sendiri loh, cepat dicoba~!"
Aku membuka bungkus coklat itu, lalu memoteknya separuh dan kumasukkan ke dalam mulutku.
"Bagaimana...?"
Aku terbatuk-batuk, "apaan nih?! Gak enak banget." Aku mengelus-elus leherku.
Kulihat ekspresi sedih Claire, lalu segera kupukul kepalanya, "Ber-can-da, kok. Makasih, aku pergi dulu ya," ucapku lalu pergi meninggalkan peternakan Claire.
. . .
Haa...
.
Tapi... aku agak penasaran
Tadi...
Kenapa Claire, bisa sampai nangis gitu
Ya?
Normal POV
Gadis bermata biru sapphire itu terdiam di depan rumahnya, wajahnya merah layaknya kepiting rebus.
"Perasaan apa... ini?" bisik gadis itu pelan sambil meraba dadanya.
Tu bi Continyu
Author Note:
Pertama, APA INIII APA INIII. HANCUR SEKALIII. KENAPA CERITANYA JADI SEPERTI INI, UAAAAHH.
Kedua, Maaf ya banyak Typo. Ao nulisnya buru-buru sih. Karakternya OOC ya? ITU SI GRAY DAN TRENT SANGAT OOC SEKALIII
Ketiga, Ao sudah tidak niat lagi mengerjakan fic ini. Apa yang harus Ao lakukan?!
Keempat, terimakasih bagi yang sudah nyempetin baca. Hontou ni arigatou.
Kelima, kalau mau flame silahkan. Ao sangat butuh kritik nih. Bagi yang mau review, monggo~
Keenam, Makasih banyak ya!
Balasan review:
1. Ryuku S.A.J : Halo Ryuku-saan~ Eh, emang ceritanya bagus ya? Tidaak, nanti Ao jadi ge'er dan sok shy shy gitu ;A;) tapi arigatoou. Ao sangat terpukau(?) dan makasih karna telah di fave story abal ini. Makasih sudah baca dan review, Arigatou Ryuku-saan. :D
2. everdistant utopia : Halohalo utopia-saan ~ HE?! masa sih, masa sih masaa. Gray-nya IC? syukurlah deh, Ao kira Gray-nya OOC! Tapi yang di chapter ini super duper sangat OOC sekali, maaf ya ._.) Terimakasih koreksi-nya! Makasih sudah baca dan review, Arigatou utopia-saaan~
3. Chang Kagamine: Halo Chang-saan~ Kok tahu Claire-nya pingsaan, ceritanya sangat super gampang ditebak yaa. Tapi makasih loh udah baca fic ini, Makasih sudah baca dan review, Arigatoou Chang-saan~
4. .587 : Halo ulfa-saan~ Ini sudah dilanjuut. Syukurlah ulfa-san suka ceritanyaa, iyaa makasih. Arigatoou, Ao pasti akan lanjutin (walau mungkin sudah hilang sinar harapan) (?)Makasih sudah baca dan review, Poko'nya Arigatou Ulfa-saan.
5. Foxxel : Hai haii foxxel-san, IYA BENAAR, Claire pingsan karna kecapeaan! Cerita ini kayaknya gampang ditebak sekali -_-" hehe, makasih(?). Makasih sudah baca dan review, Arigatou Foxxel-saan~
6. Guest: Halo halo guest~ (apakah ini RainbowLyoko? #kalaubukanmaafya) Makasih suda revieew. Hehe, Clairenya pingsan karna capek kok. Gray-nya gajelas seperti biasa kok. Hehe, maaf ya Gray nya jadi OOC gini. Arigatou arigatoo, iya... tapi nanti balik lagi kok. Makasih sudah baca dan review, mungkin fic ini akan tidak di hapus... atau di hapus? entahla. hehe. Arigatoou Guest-san.
7. Fieln-Chan: Haloo Fieln-san, YEY PERMEEN. Iya, Ao juga sukaa, suka banget. Oke, silahkan lewat Fieln-saan. Makasih sudah baca dan review, Arigatooo~
(Maaf balas reviewnya agak gaje, Ao ngantuk banget ini)
See you in The next Chappie~
