Chapter 3

Manusia memang naif. Seenaknya saja memutuskan. Kau bisa bilang mereka egois. Tentu saja karena mereka lebih mementingkan hawa nafsu mereka dari pada sebuah kehormatan yang disebut dengan kepintaran.

Mereka bertingkah layaknya hewan. Tidak mau berfikir secara rasional bagaikan makhluk yang lebih terhormat.

Bahkan hewan pun bisa lebih pintar dari mereka...

.

"Itu lah sebabnya aku ada di sini..

.

.

Untuk membunuh mereka."

.

.

.

Case of Roses

Disclaimer : Kurobasu pastinya punya Fujimaki Tadatoshi-sensei lah

Rate : M

Genre : Mistery, Crime(maybe), Romance, Hurt/comfort(maybe), little bit Humor

Pair : AkaFem!Kuro, KiFem!Kuro cuman sebagai sampingan (?)

Summary : Mawar itu merah. Darah itu merah. Kamu itu merah. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku pasti akan menemukan warna merah. Karena dirimu, identik dengan merah. / Berita tentang pembunuhan berantai sedang menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Secara tidak langsung Kuroko Tetsuna terlibat dalam pembunuhan tersebut. Tak disangka, pembunuh dengan surai scarlet dan iris heterochrome telah jatuh cinta padanya.

Warning : mungki gore, AU, gajelas, TYPO, aneh, GENDERBEND, disarankan untuk tidak ngemil saat membacanya, OOC, humor garing yang makin gajelas, ada beberapa OC dan warning bisa berubah tergantung chapter.

.

.

.

.

.

.

Enjoy aja ya... tanggung sendiri akibatnya (?)


Fajar yang dingin. Tentu saja karena saat ini menjelang musim gugur. Angin yang berhawa dingin menggigilkan tubuh sama sekali tak membuat pria bersurai scarlet merasa kedinginan. Hal ini sudah biasa baginya.

Sesuatu yang lebih dingin dari pada angin di pagi hari adalah lelehan cairan merah berbau amis yang kau sebut sebagai darah, saat benda tersebut menyentuh langsung pada kulitmu.

Ya, pria tersebut adalah seorang pembunuh.

Setiap hari, bau darah selalu tercium di indra penciumannya.

Setiap hari, jeritan dan lolongan kesakitan selalu terdengar di indra pendengarannya.

Setiap hari, percikan darah selalu menempel pada yangan dinginnya.

Hal-hal tersebut tak pernah lepas dari dirinya barang seharipun. Karena ia adalah sorang pembunuh. Segala sesuatu yang berhubungan dengan bunuh-membunuh sudah sangat biasa untuknya. Hampir seperti engkau yang menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida setiap saat.

Pria bermanik hetero menawan yang tengah berjalan-jalan di tengah kota menatap sekelilingnya yang masih sepi. Wajar saja, karena subuh pun belum datang.

Syal hitam bergaris merah yang ia kenakan diangkatnya sedikit hingga menutupi mulutnya. Sekaligus menghilangkan nafas putih yang keluar dari bibirnya berkat suhu udara yang sangat rendah.

Ia membisikkan sesuatu dengan sangat pelan, hingga nyaris tak terdengar.

.

"New mission... Roger."

.

.

.

.

–Pembatas–

Mata dua warnanya terus menatap pada gedung mewah di hadapannya sambil menyembunyikan diri. Target berikutnya sudah di tentukan, ia tinggal tunggu beraksi saja.

Seorang milioner penjual saham kaya menjadi targetnya kali ini. Menurut informasi yang ia kumpulkan, sang target tengah melakukan pesta di dalam gedung mewah yang diidentifikasikan adalah sebuah gedung hottel bintang lima terebut.

Sang pembunuh bersurai semerah darah dengan setia menunggu saat yang tepat agar ia bisa masuk.

Saat dirasa ada celah, pria tersebut segera melangkahkan kakinya menuju pintu staff yang ada di belakang. Sambil memegang gagang pintu dia menegok ke kanan-kiri untuk memastikan. Setelah merasa aman ia segera melenggang memasuki gedung dari pintu tersebut.

Di dalam ia mengedarkan pandangannya hingga menemukan pintu ruang ganti para pegawai hotel. Dengan cepat ia memasuki ruangan tersebut dan berganti pakaian untuk penyamaran.

Setelah dia merasa seragamnya sudah cukup bagus, ia mulai memakai name tag yang ia temukan sebagai nama palsu atau samaran agar identitasnya tidak segera ketahuan.

Merasa penampilannya sudah cukup bagus, pria bermanik heterochrome tersebut mulai melangkah keluar dari ruang ganti menuju ke meja resepsionis yang ada di lobby.

.

"Maaf permisi." Pria bersurai scarlet yang ditutupi oleh topi seragam staff tersebut menarik perhatian salah seorang wanita yang ada di meja resepsionis. "Ada apa?" wanita tersebut bertanya kembali. Agak terheran dengan pegawai tersebut karena baru pertama melihatnya.

"Maaf, bisakah saya mengecek daftar tamunya? Saya baru di sini, jadi belum terlalu terbiasa." Ujar pria itu dengan senyuman palsu yang mengembang di bibirnya. Wanita resepsionis tersebut terpana akan senyuman sang surai merah meng-iya-kan permintaannya.

"Terima kasih." Pria tersebut kembali tersenyum, dan wanita tadi langsung meleleh. Dalam sepersekian detik posisi pria bermanik hetero langsung berpindah berada tepat di depan komputer meja resepsionis.

Dengan cekatan matanya membaca setiap nama tamu-tamu yang menginap di hotel tersebut. Dan pada akhirnya berhenti pada sebuah nama dengan nomor kamar yang tertera di sampingnya.

'Kotsuki Shouichirou, kamar 308.' Batin sang pria yang telah menemukan nama dan kamar targetnya. Setelah merasa puas, ia berterima kasih kepada wanita resepsionis yang tadi. Kemudian melangkah pergi menuju bagian dapur hotel.

.

Saat ia telah sampai di dapur hotel, ia bertanya kepada salah satu koki atau pelayan yang ada di sana. "Permisi, apakah kamar nomor 308 memesan sesuatu?" tanya sang pria beriris heterochrome.

"308? Oh, tadi mereka memesan spagetti, cocktail, dan black coffe." jawab salah seorang koki sambil mengernyit heran saat menatap pria bersurai merah darah tersebut. Buat apa dia menanyakan pesanan kamar? Pikir koki tersebut.

"Biar saya yang mengantarkannya." Pria berhelaian merah itu menawarkan dirinya untuk mengantarkan pesanan. Awalnya sang koki merasa agak heran, tapi kemudian ia mengabaikannya dan kembali memasak. "Oke, tunggu sebentar."

Selama beberapa menit pria tersebut menunggu. Kemudian akhirnya pesanan-pesanan kamar 308 tersebut siap untuk di antarkan. Setelah memindahkan makan-makan tadi ke trolli, pria bersurai merah mulai membawanya menuju kamar pemesannya.

.

Ia telah menaiki lift dan sampai pada lantai empat. Pria itu terus menelusuri ruang demi ruang yang terdapat pada lorong lantai tersebut yang begitu panjang.

Setelah sekian lama, akhirnya pintu kamar targetnya telah ditemukan. Dia memasang senyuman ramah sebelum mengetuk pintu layaknya pegawai hotel yang lain. "Permisi..." ketukan pintu dilancarkan. Butuh waktu beberapa detik hingga sang pemilik kamar meresponnya.

"Ya apa?" suara berat kasar khas lelaki tua terdengar dari dalam. Di luar, pria bersurai scarlet tersebut tanpa sengaja mengubah senyuman ramahnya menjadi seringaian.

"Ini pesanan yang anda minta, sepiring spagetti, segelas cocktail, dan black coffe." Sang pria bermanik hetero menyebutkan pesanan sang pemilik kamar. Seringaian mengerikan yang tak dapat dilihat oleh si penghuni kamar masih terpasang pada paras tampannya.

"Langsung bawa masuk." Titah sang penghuni kamar. Ketika pintu kamarnya terbuka, trolli yang dibawa pria beriris heterochrome dibawanya masuk. Saat ia melewati pintu, ia dapat melihat seorang wanita bertubuh bohai mengenakan pakaian minim bergantian keluar dari kamar tersebut.

Ia tak perlu bertanya atau tak perlu tahu tentang apa yang mereka lakukan sebelumnya di ruangan ini.

Karena itu sudah tidak berguna lagi...

.

.

"Huft, pesananku sudah tiba. Kau bisa pergi sekarang." Kotsuki Shouichirou menyuruh sang surai scarlet untuk pergi. Tetapi pria tersebut sama sekali tak beranjak dari tempatnya. "Apa yang kau lakukan? Aku bilang kau bisa pergi! Apa yang kau inginkan? Kau ingin uang tip?" tanya pria tua gendut jelek di hadapannya. Sang surai merah masih tak meresponnya.

Kotsuki Shouichirou mulai geram, saat ia hendak menaikkan volume bicaranya, pria bermanik hetero terlebih dahulu bersuara. "Saya tak menginginkan uang tuan. Saya hanya ingin–" tiba-tiba sang pria bersurai merah darah menebaskan sesuatu dari tangannya, membuat kepala Kotsuki Shouichirou terlepas dari tubuhnya.

"–Nyawa anda..." pria beriris heterochrome menyelesaikan kalimatnya. Kemudian menatap nanar pada tubuh tanpa kepala yang tergolek tak berdaya di tanah. Seringaian mengerikan terpasang pada wajahnya.

Ia berjongkok di antara tubuh dan kepala yang terpisah tidak terlalu jauh. Pandang mata sang pria bersurai merah berubah menggelap. Dia meraih kepala Kotsuki Shouichirou dan menatap wajah mayat tersebut lekat-lekat.

"Aku selalu muak melihatmu dengan semua kesombongan dan kebohongan yang kau curahkan di depan sorotan kamera.." kemudian denga tanpa ampun ia mencongkel kedua mata yang terdapat pada kepala yang berada pada genggaman tangnnya tersebut.

"Para kaum pria maupun wanita telah tertipu oleh semua kata dustamu..." tangannya beralih pada tubuh Kotsuki Shouichirou dan memotong tangan kanan tubuh yang sudah tak bernyawa.

"Kau terus saja menikah dan bercerai, seakan-akan wanita adalah mainan yang dapat kau mainkan seenaknya." Sedangkan tangan kiri Kotsuki ia gores bagian jalur pembuluh darah dan nadinya hingga memuntahkan banyak cairan merah, membuat wajah serta baju pria berhelaian merah penuh akan cipratan darah. "Bahkan tadi saja aku baru saja melihat seorang wanita yang keluar dari kamarmu? Hmph, aku tak perlu tau apa yang sudah kau lakukan padanya sebelum aku datang."

Sang pria kemudian melihat ke bagian dada targetnya, lalu memposisikan tangannya di depan dada pria tua tersebut. "Seharusnya kau memperlakukan wanita dengan penuh hormat–" dengan pisau lipat di tangan sebelahnya, ia merobek kulit dan daging si target yang bahkan sudah tak bisa melawan. Dan dengan kejamnya, ia menarik jantung Kotsuki keluar dari tubuhnya. "–Dan penuh akan cinta."

.

.

Setelah merasa puas. Pria berhelaian merah tersebut meminjam kamar mandi dan pakaian targetnya. Ia melepaskan seluruh seragamnya dan meletakkan pakaian-pakaian tersebut di dekat Kotsuki agar tak menyebabkan kecurigaan.

Selesai membersihkan tubuhnya dari darah sang target, sang pria bermanik ruby-gold mengenakan kemeja serta celana panjang hitam milik targetnya yang masih bersih.

Sebelum ia sempat keluar dari kamar tersebut, tak lupa ia meletakkan setangkai mawar merah di atas tubuh Kotsuki Shouichirou, kemudian ia bergumam dengan suara pelan. "Mission complete..."

.

.

.

Ia keluar dari kamar 308 dengan santai. Tak lupa ia mengunci pintu kamar dan membuang kuncinya secara asal. Untung saja lorong yang ia lewati saat ini begitu sepi karena hari yang sudah sangat larut.

Pria berhelaian merah darah tersebut lebih sering beraksi pada malam hari. Karena pada saat itu para saksi mata tidak terlalu banyak.

Dia keluar melewati lobby dengan tenang seakan ia adalah tamu yang telah cek out dari hotel. Sekarang ia hanya tinggal menunggu media menuliskan kejadian ini pada berita-berita.

Berjalan menelusuri trotoar dengan santai. Ia harus segera meninggalkan tempat perkara dia berulah dan menunggu target selanjutnya diputuskan.

.

.

.

.

.

–Pembatas skip atau skip pembatas? /sama aja_-"/–

.

Beberapa hari kemudian..

Pisau lipat yang ia gunakan saat ini ia bersihkan kembali. Targetnya kali ini benar-benar merepotkan, tapi untung saja ia tetap bisa menangani dan menyelesaikannya. Kali ini targetnya adalah dua orang pria pengangguran yang putus sekolah.

Sejenak setelah membersihkan pisaunya, ia menatap kedua tubuh yang sudah tak bernyawa. Kedua tubuh tersebut tak memiliki kepala–karena ia memotongnya–, hanya saja salah satunya tak memiliki kedua tangannya, dan yang satuya lagi tak memiliki kaki kiri.

Sepertinya kali ini pria bermanik hetero tersebut sedang tidak mood untuk memotong dan menyiksa tubuh tak bernyawa mereka.

Masih seperti biasa, sebelum pergi ia meninggalkan setangkai mawar merah...

.

.

.

.

–Pembatas–

Setiap hari pria tersebut pasti bertemu dengan yang namanya pembunuhan. Bertemu dengan cairan merah amis yang namanya darah. Selalu beraksi dengan pisau lipatnya yang selalu ia bawa kemana-mana.

Ia hidup dengan membunuh, bunuh, dan membunuh. Pria bersurai scarlet tersebut tak pernah lepas dari dosa besarnya itu.

Setiap hari ia akan selalu melihat merah.

.

Merah darah.

.

Merah mawar.

.

Merah dirinya.

.

.

Seakan-akan hidupnya dipenuhi dengan warna merah. Ia tak pernah bosan dengan hal tersebut. Dia menganggapnya sebagai hal biasa. Jadi ia tidak akan merasa jenuh saat melakukan aksinya.

Entah apa keuntungan dengan ia melakukan hal ini, dan entah apakah ia merugi akan hal ini.

.

Pria bersurai scarlet hanya menjalaninya.

.

Dan ia menikmatinya...

.

.

.

.

.

–Pembatas–

Hari-hari berikutnya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Tangannya akan selalu ternodai oleh darah. Begitu pula sore ini, ia baru saja menyelesaikan tugasnya seperti biasa. Untung saja tempatnya beraksi kali ini adalah gedung tua yang sudah tidak di pakai.

Korbannya pun juga lumayan banyak, dan keadaan mereka mengenaskan seperti biasa. Sebelum ia pergi, pria tersebut sempat membersihkan dirinya. Melepaskan pakaian atas yang ia pakai dan menggantikannya dengan hodie hitam yang masih bersih.

Saat kau meninggalkan TKP, pastikan untuk tidak terlihat mencurigakan. Sebuah ingatan meluncur begitu saja di kepalanya. Tetapi pria bermanik ruby-gold tersebut tidak menghiraukannya dan kembali melanjutkan kegiatannya.

Setelah dia mengenakan hodie hitam, sang surai scarlet menarik tudungnya hingga menutupi kepala merahnya. Sebelum ia melenggang pergi, ia meletakkan setangkai mawar di dekat salah satu mayat tersebut.

.

Hari sudah mulai gelap.

Untuk sesaat dia menghentikan langkah kakinya untuk menatap langit malam berbintang yang penuh dengan awan. 'mungkin sebentar lagi hujan.' Batinnya sambil mamapir ke sebuah toko roti kecil.

KLING KLING

"Selamat datang." Seorang nenek tua menyambutnya dari mesin kasir. Pria bermanik hetero hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Kemudian mengambil nampan yang tersususn rapi di samping pintu dan mulai memilih roti-roti.

Tidak butuh waktu lama pria tersebut untuk membeli roti, ia segera membayarnya di meja kasir. "Terima kasih, ya.." ujar nenek tersebut seraya menyerahkan bungkusan roti-roti yang telah dibeli oleh sang pria bersurai merah.

Pria beriris merah-emas membalasnya dengan tersenyum lembut kepada sang nenek. "Semoga roti-roti hari ini laris terjual." Kata sang pria masih disertai senyuman. Nenek tadi balas tersenyum sambil berujar. "Terima kashi banyak ya nak. Mampir lagi kapan-kapan."

Sebelum berjalan keluar, ia terhenti di depan pintu sambil tersenyum dan berujar. "Tentu saja." Kemudian mulai membuka pintu toko roti kecil tersebut.

.

Ia berjalan kembali. Selama perjalanan ia memakan satu roti yang ia beli tadi. Sambil memutar haluan menuju daerah yang kumuh di dekat kota.

Pria bersurai merah darah melihat seorang gadis kecil dan seorang kakek tua meringguk di bawah kardus yang nyaris rusak. Para gelandangan dan orang yang tidak mampu sebagian besar tinggal di daerah ini.

Pria tersebut berlutut di depan kardus, melihat kedua manusia yang terlihat sangat kotor dan kurus. 'Mereka pasti kelaparan...' batinnya meringis merasa iba, sambil menatap manik redup milik si gadis kecil pria tersebut tersenyum lembut.

"Nona silahkan ambillah." Ujar sang merah darah sambil menyerahkan bungkusan rotinya. Gadis itu menatap sang pria cukup lama, tangannya meraih bungkusan roti tersebut dengan ragu-ragu.

"Tidak apa ambil saja.." ujar sang pria beriris heterochrome. Tak lama kemudian, sang gadis dan kakek tadi sudah menerima bungkusan roti yang di serahkan oleh pria tersebut. "T-Terima kasih, tuan." Ujar si gadis kecil.

Bibir sang pria bersurai scarlet kembali tersnyum ramah. "Sama-sama." Ucapnya seraya melenggang pergi dari tempatnya.

.

.

.

.

"...Karena dunia ini sungguh tidak adil."

.

.

.

.

.

–Ini pembatas jeng(?) (/^0^)/–

.

Seminggu kembali berlalu.

Misinya untuk malam ini sudah beres. Saat berjalan di trotoar ia berhenti sejenak di depan kaca etalase toko alat elektronik. TV yang dipajang di sana menampilkan berita tentang pembunuhan yang ia lakukan sore tadi.

Ia bersandar pada pohon yang tak jauh dari sana sambil menonton berita tersebut. Cukup lama ia berada di sana, dan jalanan juga semakin sepi karena hari yang semakin larut. Tidak ada hal yang aneh selama ia menonton, hingga sang pria beriris heterochrome mencium aroma manis nan sangat menenangkan yang berasal dari depan etalase toko tadi.

Dia tidak melihat apapun saat matanya berpindah dari layar TV menuju kaca etalase. Tetapi saat ia menajamkan indra penglihatannya, sang pria dapat melihat seorang seorang gadis dengan surai baby-blue tengah menonton berita yang disiarkan TV toko elektronik.

Sang pria berkepala merah tak dapat melihat wajah sang gadis, karena gadis tersebut tengah memunggunginya. Akan tetapi aroma manis yang keluar dari tubuh gadis berhelaian biru muda tersebut membuatya ingin mencicipi rasanya.

Beberapa menit kemudian gadis yang terus diperhatikannya memutar tubuh mungilnya. Untuk sesaat pandangan sepasang manik mereka bertemu, dan dengan itu gadis tersebut memperlihatkan dengan jelas sepasang iris aquamarine miliknya yang begitu menenggelamkan.

Pria bersurai scarlet tenggelam dalam kedua manik sang gadis yang begitu indah. Tiba-tiba jantungnya terpacu dengan cepat membuatnya merasa aneh.

.

Segera ia melenggang pergi dari tempatnya. Melihat gadis tersebut membuatnya semakin ingin mencicipinya.

Dan dengan tanpa sadar, ia mulai menyeringai sambil menjilat bibirnya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ini akan sangat menarik.."

.

.

.

.

.

TBC

.

A/N : HUAHA AKHIRNYA INI KELAR! (T0T) maap bagi para reader yang sedang menunggu lama fic Mari yang satu ini (_ _) HONTOUNI GOMENASAI! /*sujud2*/

Fic ini ngebut dalam dua hari /nyengir bangga/ Mari berterima kasih kepada Vey yang setia menemani Mari setiap malam(?) /ga

Hisk... mungkin ada juga yang lagi nunggu apa yang akan dilakukan si pembunuh kece ini pada Kuroko? Hayoo apa hayo!~ kalo bisa jawab di kasih hadiah peluk cium dari Mari deh~ (=3=) /Reader : *muntah/

Okay Mari kebanyakan omong nih (_ _||). Bales review :

Synstropezia : Paragraf yg padat itu emang gimana? Gak bikin males baca? Waaai makasi!~ (?) koma udah aku maksimalin... maap kalo kurang (_ _) senpai-nya? oke oke roger!(?) gapapa kok :D untuk humu2an tunggu waktunya aja :D nanti insyaAllah boleh req pair humu2an :D mungkin lho ya! Penasaran sama ucapannya Mayuzumi ya~ tunggu aja deh. Dan chap ini adalah seri khusus pandangan dari si pembunuh :D nikmati aja, okay? Pertemuan AkaKuro akan sangat 'surprise' :v pokoknya tunggu aja ;D makasih reviewnya Vey!

Tanpa nama : Ini gak berguna -_-" gue tau kalo ini lu SIA! Gak usah spam. Kalo gak mau baca fic gue ya gak usah spam dodol! Dan aku bilangin lagi untuk tidak menyebut namaku di muka umum(?) /apanya?_-"/ dan gue juga sudah tau kalo besok masuk sekolah_-"

Reviewnya makin sedikit (||_ _) apdetan chap selanjutnya akan Mari usahain! (O.O)9 Pokoknya kalo kesibukan dunia nyata udah beres, Mari akan apdet secepatnya. (^ ^)

RnR please senpai~~