Jeon Wonwoo.

Nama tersebut begitu terkenal di desa kecil yang bernama Changwon. Putra sulung dari pemilik perkebunan teh Jeon Hansung itu memang tidak seperti anak lelaki seusianya. Kulit putih bersih, sepasang mata tajam yang menyerupai seekor rubah, hidung yang tinggi serta bibir kemerahan alami. Tidak bisa dipungkiri wajahnya memang sangat memikat dan tidak biasa. Ia mungkin agak sedikit lebih kurus dibandingkan dengan lelaki pada umumnya, tapi justru tubuh kurus itulah yang membuat tubuh tingginya itu semakin menonjol. Rambut hitam dan halus itu pun selalu tertiup angin dengan mudah.

Terlalu indah. Jeon Wonwoo itu tidak terlihat seperti manusia biasa.

Perawakannya yang sempurna itu sudah cukup menjadi buah bibir di desa kecil itu, namun ternyata bukan hanya itu saja. Jeon Wonwoo juga terkenal dengan otaknya yang cerdas serta sifatnya yang menyenangkan. Ia mungkin bukan tipe yang banyak bicara, namun ia selalu sopan dan berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang di desa itu.

"Wonwoo! Buah-buah hari ini segar sekali loh, aku baru memetiknya tadi pagi" Kata seorang pedagang buah kepada Wonwoo yang sedang berjalan-jalan di pasar.

"Selamat pagi, bibi Oh" Sapa Wonwoo ramah sebelum matanya menuju kepada buah-buah yang berada di atas meja jualannya, "Hmm.. kalau begitu aku beli jeruknya 5 nyang"

"Kau memang memiliki mata yang baik, nak!" Bibi Oh tersenyum sebelum memilihkan jeruk-jeruk terbaik untuknya, "Spesial untuk calon menantuku, 2 buah persik"

Calon menantu. Ya. Wonwoo itu juga bisa dibilang adalah calon menantu ideal di desa itu. Siapa yang tidak mau anaknya menikah dengan anak sulung dari keluarga Jeon itu?

"Terima kasih, Bi. Kalau begitu aku pergi dulu, ya" Wonwoo membungkukkan tubuhnya sambil berpamitan.

Selain populer di kalangan ibu-ibu, Wonwoo juga populer di kalangan perempuan remaja seumurannya. Ia sering sekali disapa ketika sedang berjalan, atau ditanyakan pendapat ikat rambut mana yang cocok untuk digunakan dan lain sebagainya. Mereka akan terlihat begitu senang ketika berbincang dengan Wonwoo.

Namun ternyata, pesona Jeon Wonwoo itu bukan hanya bekerja untuk para wanita saja tetapi pria juga. Beberapa lelaki di desanya juga cukup berani untuk menunjukkan ketertarikan mereka. Wonwoo cukup sering dihadiahi bunga yang katanya tidak bisa mengalahkan kecantikannya. Wonwoo sendiri sebetulnya tidak suka dikatakan cantik karena ia itu laki-laki.

"Hey sayang mau kemana?"

Wonwoo memutar bola matanya malas ketika mendengar suara itu. Kang Dongho. Lelaki seusia Wonwoo ini adalah salah satu dari mereka yang berani menggoda Wonwoo di depan umum.

"Mau aku temani?" Lanjut Dongho walaupun Wonwoo tidak menggubrisnya sama sekali.

"Kalau butuh apa-apa jangan segan-segan untuk memanggilku, ya" Dongho itu sebetulnya baik. Cuma Wonwoo benar-benar risih dengan perlakuannya.

Oke, jadi orang-orang yang mengagumi Wonwoo itu terbagi menjadi ibu-ibu yang menganggapnya sebagai calon menantu, remaja wanita yang terlihat lucu, lelaki seusianya yang sangat menyebalkan dan yang terakhir ada juga tipe yang mengerikan.

Sebetulnya tipe mengerikan ini baru mulai berdatangan setelah orang tua Wonwoo meninggal. Berbeda dengan tipe-tipe sebelumnya yang justru mulai dingin dan menganggap Wonwoo tidak ada setelah masalah menimpa keluarganya itu.

Ya, lelaki dewasa mesum. Mengerikan.

Tidak sekali dua kali Wonwoo sering dicegat ditengah jalan saat malam hari. Lelaki yang umurnya bisa dua kali lipat darinya itu akan menggodanya, mengatakan hal-hal tidak senonoh dan juga menyentuhnya. Apalagi kalau mereka sedang mabuk, Wonwoo harus cepat-cepat lari kalau tidak bisa bahaya.

Tentu saja semua itu memang diakibatkan oleh wajah serta tubuhnya yang memikat itu. Banyak yang bilang kecantikan adalah berkat, kan? Tapi sebetulnya hal itu juga bisa saja adalah sebuah bencana.

Namun intinya, Wonwoo memang sudah sering menaklukan hati orang-orang karena penampilannya itu.

Tapi, siapa yang tahu kalau ternyata seorang Jeon Wonwoo juga bisa memikat hati dari orang tertinggi di Goryeo?

.

.

.

"Aku menginginkanmu"

Wonwoo hanya terdiam. Ia masih tidak bisa memahami apa yang baru saja ia dengar. Wonwoo ini biasanya cepat tanggap dan sangat cerdas tapi kenapa hari ini ia merasa begitu bodoh? Semua yang ia dengar seakan begitu sulit untuk dimengerti. Apa karena ia baru saja sembuh?

Wonwoo masih tenggelam dalam pikirannya sendiri sehingga ia tidak sadar kalau wajah Mingyu sudah mulai mendekat. Bibir mereka pun saling bersentuhan.

Mata Wonwoo membesar, saluran pernafasannya seakan tersumbat, jantungnya berdetak begitu kencang, tubuhnya terasa begitu kaku.

Sang Kaisar… orang paling berkuasa di Goryeo ini sedang menciumnya? Apa Wonwoo sedang bermimpi?

Wonwoo tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Ia merasakan kalau bibir dari Sang Kaisar sudah mulai bergerak, tangannya pun sudah mulai turun ke leher lalu menyelinap masuk ke bajunya. Wonwoo tidak bisa berpikir jernih lagi, ia pun melakukan sesuatu yang muncul pertama kali di benaknya.

Ia sendiri cukup terkejut dengan apa yang ia lakukan. Detakan jantungnya semakin cepat dan tubuhnya gemetaran hebat.

Ia baru saja mendorong Mingyu.

Ia baru saja mendorong Yang Mulai Kaisar.

Jeon Wonwoo, rakyat jelata yang tidak mempunyai jabatan atau keluarga kelas atas yang bisa mendukungnya dan menyelamatkannya dari amarah Kaisar berani-beraninya mendorong tubuh suci keturunan langit?!

Wonwoo segera menundukkan kepalanya lebih rendah lagi, hidungnya sudah menempel ke lantai.

"Y-yang Mulia, maafkan hamba. Hamba pantas dihukum mati" Suara Wonwoo bergetar. Ia benar-benar takut.

"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" Suara Mingyu terdengar begitu dingin. Untuk pertama kalinya Mingyu ditolak. Tidak ada yang pernah berani menolak permintaan Kaisar sebelumnya.

"Yang Mulia, hamba pantas dihukum mati" Wonwoo hanya dapat mengulang perkataannya.

"Berikan alasan yang tepat sehingga aku tidak perlu repot-repot mengotori tanganku untuk membunuh rakyat biasa sepertimu"

Wonwoo menelan ludahnya sendiri. Lagi-lagi suara Mingyu terdengar begitu dingin. Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau Kaisar Mingyu ini terkenal tidak memiliki rasa kasian? Kau sudah pasti mati Jeon Wonwoo.

"Hamba.. tidak bisa melakukannya dengan orang yang hamba tidak cintai"

Wonwoo menyesali alasan yang ia katakan. Sebetulnya apa yang ia katakan memang adalah kenyataan. Wonwoo tidak bisa tidur dengan sembarang orang seperti itu, apalagi hanya untuk kekuasaan, jabatan atau sejenisnya. Kalau memang ia membutuhkan hal-hal tersebut, mungkin ia sudah tidur dengan perdana mentri yang selalu membuntutinya itu.

Tapi kali ini berbeda, sekarang orang yang menginginkannya bukanlah orang biasa, melainkan Kaisar Goryeo. Bagaimana mungkin Wonwoo masih berani menolaknya?

Tapi ya memang seperti itulah Wonwoo. Ia cukup keras kepala. Seharusnya Wonwoo tidak usah memberikan alasan. Alasan apapun yang ia berikan akan membuatnya berakhir kehilangan kepalanya, kan?

Benak Wonwoo sudah dipenuhi dengan berbagai macam hal-hal buruk yang ia pastikan akan menimpa dirinya, tapi ternyata nasib berkata lain.

"Baiklah"

Huh?

"Seokmin" Panggil Mingyu sebelum sebuah suara dari luar ruangannya itu menjawab panggilannya.

"Hamba disini Yang Mulia" Jawab Kasim yang bernama Seokmin itu.

"Bawa tamuku kembali ke kamarnya untuk istirahat" Lanjut Mingyu.

Pintu ruangan Mingyu terbuka. Wonwoo kemudian dapat mendengar langkah kaki berjalan ke arahnya. Hidung Wonwoo sendiri masih menempel di lantai, tidak bergerak maupun bergeser sejak tadi.

"Bangunlah dan kembali ke kamarmu, Wonwoo"

"B-baik, Yang Mulia"

Wonwoo segera bangun dan membungkukkan tubuhnya lagi sebelum ia mengikuti Seokmin untuk kembali ke kamarnya di Istana Tulip.

Sepanjang jalan, Wonwoo tidak bisa berhenti berpikir. Seokmin dan dayang yang sudah melayani Wonwoo dari pagi itu hanya dapat berjalan di depannya, suasana canggung memenuhi udara. Wonwoo tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, kedua orang pekerja istana di depannya pun heran.

Bagaimana mungkin ada orang yang berani melawan perintah Kaisar tapi masih bisa hidup seperti ini?

Mustahil.

"Saya permisi dulu" Seokmin berkata setelah mereka sampai di depan istana Tulip. Wonwoo kemudian membukukkan tubuhnya. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa membuatnya kembali berdiri tegak.

Wonwoo masih tidak bisa berkata-kata. Tangannya pun menyentuh bibirnya yang baru saja melakukan kontak langsung dengan bibir Kaisar. Lagi-lagi matanya membesar. Ia tidak sedang bermimpi, kan?

"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Suara lembut si dayang membangunkan Wonwoo dari lamunannya.

"Huh?" Wonwoo melihat ke arah sekitarnya untuk melihat kalau ia sudah berada di depan istana tulip, tempat ia akan tinggal untuk kedepannya.

"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?" Tanyanya lagi.

"Siapa namamu?" Tanya Wonwoo tanpa menjawab pertanyaan dari dayang di depannya ini.

"Sejeong, Tuan"

"Sejeong?" Ulang Wonwoo. Sejeong kemudian menganggukkan kepalanya.

"Tuan harus segera istirahat karena besok adalah hari yang penting" Kata Sejeong.

Wonwoo menaikkan alisnya, "Memangnya besok ada apa?"

"Besok adalah hari ulang tahun Yang Mulia Kaisar, Tuan. Istana akan melakukan pesta besar-besaran karena ini adalah ulang tahunnya yang ke 20. Maka dari itu, Tuan harus segera istirahat karena besok pasti akan sangat melelahkan"

Wonwoo mundur satu langkah ketika mendengar itu, sebuah pikiran aneh muncul di kepalanya. Jantungnya pun berdetak begitu kencang karena pikiran anehnya itu sendiri ini.

Kenapa akan sangat melelahkan?! Memangnya apa yang akan ia lakukan besok?!

Seperti dapat membaca apa yang Wonwoo sedang pikirkan, Sejeong tertawa. Ia pun segera menutup mulutnya ketika ia sadar kalau ia sedang menertawakan tamu dari Sang Kaisar. Walaupun ia sendiri tahu kalau tamu Kaisar ini bukanlah orang penting di Goryeo tapi tentu saja Sejeong bisa melihat bagaimana Kaisar memandangi lelaki di depannya ini ketika ia tertidur. Belum lagi pembicaraan mereka barusan juga cukup terdengar hingga luar. Tidak heran, Jeon Wonwoo ini memang memiliki wajah yang begitu menarik dan memikat, siapa yang tidak akan suka? Sejeong tahu betul hal apa yang Sang Kaisar inginkan dari lelaki kurus di depannya ini.

"Tuan tidak perlu khawatir" Kata Sejeong, berusaha untuk menenangkan Wonwoo.

"Jujur saja ya, bagaimana aku tidak akan khawatir?! Kaisar bilang dia menginginkanku! Apa maksudnya menginginkanku?!" Wonwoo tidak bisa menutupi kekhawatirannya. Suaranya sudah agak menaik.

"Apa yang kau dengar ya apa yang Yang Mulia Kaisar maksud" Sejeong mengucapkan hal yang baru saja Kaisar katakan sebelumnya.

"Jadi dia benar-benar ingin menghabiskan malam denganku?" Wonwoo bahkan tidak memanggil jabatan besar Kaisar lagi tapi 'dia', Wonwoo mungkin sudah gila dan sudah siap mati.

Sejeong cukup terkejut ketika mendengar itu, Ia segera menutup mulut Wonwoo dan mendorongnya untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Mata Sejeong melihat ke seluruh arah untuk meyakinkan kalau tidak ada orang di sana.

"Apa kau sudah gila? Lagipula seharusnya kau tadi tidak menolak Yang Mulia Kaisar seperti itu" Kali ini, Sejeong juga sudah tidak menggunakan panggilan 'Tuan' lagi.

Lebih baik, kan?

Wonwoo mengambil satu langkah mendekati Sejeong untuk berbisik, "Jadi… Kaisar suka laki-laki?"

Sejeong terlihat ketakutan. Apa ia baru saja membuat sebuah rumor buruk tentang Kaisar? Kalau sampai hal ini terdengar keluar sudah dipastikan ia bisa mati.

"Ya ampun, betapa lancangnya saya. Mohon lupakan semua yang sudah saya katakan, Tuan" Sejeong terjatuh kelantai, berlutut dan membungkuk.

"Hei, kau tidak perlu sampai seperti ini. Bangun" Kata Wonwoo sambil menarik Sejeong agar kembali berdiri. Wonwoo tidak terbiasa diperlakukan seperti ini.

"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Tuan berpikiran aneh tentang Yang Mulia Kaisar"

"Tapi bukankah itu kenyataan?"

Sejeong pun terdiam. Memang kenyataan, kan? Buktinya adalah hal yang baru saja terjadi itu. Mingyu menginginkan Wonwoo.

"Memangnya ia kekurangan selir atau bagaimana?" Tanya Wonwoo, cukup frustrasi.

"Tidak. Ia memiliki banyak sekali selir. Mungkin ada sekitar 17?"

Wonwoo terkejut. Banyak sekali?! Di umurnya yang belum genap 20 tahun ia sudah memiliki selir sebanyak itu?! Mengerikan.

"Selir-selir tersebut adalah anak-anak dari para menteri, juga ada beberapa yang berasal dari negeri tetangga. Pada awalnya para menteri memngirimkan anak-anak mereka dengan harapan kalau Yang Mulia Kaisar akan tertarik dengan salah satu dari mereka. Namun ternyata tidak ada satupun yang berhasil menarik hatinya. Kian hari kian banyak selir-selir Kaisar yang tinggal di Istana, tapi masih saja tidak ada satupun yang berhasil menaklukkan Yang Mulia Kaisar. Aku dengar beberapa lagi akan datang sebagi hadian ulang tahunnya besok"

"Tapi kenapa mereka semua tinggal di istana kalau memang Yang Mulia Kaisar tidak tertarik?"

"Para menteri yang memintanya. Mereka sebetulnya mendesak Yang Mulia agar segera menemukan Permaisuri, namun Yang Mulia tidak mau. Maka dari itu para menteri mengatakan kalau setidaknya Kaisar harus bersedia untuk memiliki selir yang kemungkinan bisa dijadikan Permaisuri nantinya"

"Mungkin sejak awal ia memang tidak menyukai wanita" Wonwoo mendengus.

"Jangan mengambil kesimpulan berbahaya seperti itu dulu. Kau kan belum tahu apa yang dia inginkan denganmu" Sejeong benar-benar takut kalau lelaki di depannya ini akan kena masalah karena mengatakan hal-hal yang tidak-tidak, walapun apa yang ia katakan memang sudah terbukti adalah sebuah kenyataan.

"Ya, mungkin ia butuh teman untuk minum teh. Berpikiran positif saja, ya?" Kata Wonwoo dengan nada sarkastik.

"Oh, Yang Mulia Kaisar tidak suka minum teh"

Ketika mendengar itu, Wonwoo jadi teringat. Kaisar yang terdahulu, Permaisuri dan Ibu Suri meninggal karena teh, kan? Teh yang katanya berasal dari perkebunan milik orang tua Wonwoo.

Wonwoo tersenyum pahit. Setelah mengingat tentang itu, entah kenapa hati Wonwoo tiba-tiba terasa melembek. Kaisar Mingyu ini adalah seseorang yang memiliki masa lalu yang juga menyedihkan, sama seperti Wonwoo sendiri. Mungkin saja Mingyu melihat adanya kesamaan dalam diri mereka jadi ia tertarik dengan Wonwoo?

"Istirahatlah, Tuan" Kata Sejeong.

Wonwoo menghela nafas. Ia juga merasa sangat lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Semuanya seakan terjadi begitu cepat, ia tidak bisa berpikir dengan otak jernih. Ia butuh istirahat.

"Oh ya" Kata Wonwoo, "Kau bisa menggunakan nada yang informal denganku. Tidak perlu menggunakan kata Tuan atau saya. Aku merasa tidak nyaman"

"Baiklah" Sejeong mengangguk, "Aku juga merasa tidak begitu nyaman. Aku tahu betul kita ini sama-sama rakyat jelata"

Sejeong ini begitu berbeda dengan dayang-dayang seharusnya. Ia terlihat lebih santai dan pemberani. Kalau dayang lainnya mungkin akan segan ketika Wonwoo mengatakan itu, tapi Sejeong berbeda.

"Kita juga berasal dari desa yang sama asal kau tahu" Kata Sejeong.

"Mustahil, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Maksudku, kalau aku melihatmu aku tidak akan pernah lupa. Jarang ada gadis secantik dirimu di desaku"

Tunggu dulu, apa Wonwoo sedang dalam mode genit?

Sejeong mengernyit sebelum ia tersenyum, "Dulu ayahku bekerja di kebun teh Tuan Jeon. Tapi setelah kebun itu ditutup kami sekeluarga juga jadi kesulitan. Maka dari itu aku pergi ke istana untuk dilatih sebagai seorang dayang"

Entah kenapa Wonwoo merasa bersalah setelah mendengar itu. Karena usaha keluarganya hancur, banyak orang yang juga ikut kena imbasnya, "Maafkan aku"

"Kenapa kau minta maaf?" Sejeong menepuk pundak Wonwoo, "Jalan hidup setiap orang itu sudah diatur oleh langit. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, kan?"

"Bagaimana? Apa kau butuh pertanggung jawaban dariku?" Tanya Wonwoo dengan nada bercanda.

"Urusi saja dirimu sendiri yang akan segera menghabiskan malam dengan Kaisar" Jawab Sejeong dengan nada bercanda juga.

"Yah!"

"Kalau kau butuh apa-apa, jangan segan untuk memanggilku. Aku akan membangunkanmu esok pagi. Kau harus siap-siap" Kata Sejeong sebelum ia meninggalkan Wonwoo di kamarnya sendirian.

Sebetulnya apa yang ia akan lakukan besok?!

.

.

.

Suasana istana terlihat begitu ramai. Hiasan-hiasan cantik di setiap sudut istana, berbagai macam makanan di atas meja serta musik yang dari pagi sudah meramaikan suasana. Semuanya terlihat sangat menarik bagi Wonwoo, ia tidak pernah merasakan suasana meriah seperti ini sebelumnya.

Pagi itu Wonwoo dibangunkan oleh Sejeong. Ia kemudian mengenakan pakaian lain yang sudah disiapkan untuknya dengan bahan sutra terbaik yang sama seperti kemarin, namun kali ini, baju yang ia gunakan berwana pink dan biru muda. Warna yang sangat cocok dengan suasana musim semi ini.

Hal pertama yang ia lihat ketika keluar dari kamarnya adalah sebuah kolam. Kolam yang ia lihat tadi malam itu memang benar jauh terlihat lebih indah di pagi hari. Sebuah pohon bunga sakura juga menghiasi pemandangan di depan kamarnya ini. Ruangan yang khusus disediakan untuk tamu raja tentu saja akan sangat indah.

Acara hari itu benar-benar padat. Dimulai dari upacara kedatangan Kaisar, pertunjukan tari dan komedi, pertemuan rapat dengan orang-orang berkuasa di Goryeo, upacara persembahan hadiah dan lainnya.

Wonwoo yang dari pagi hanya sendirian ditinggal oleh Sejeong yang sibuk mengurusi urusan di dapur hanya dapat menonton acara-acara tersebut sendirian. Benar-benar meriah dan mengagumkan. Ia tidak tahu kalau ia bisa melihat langsung perayaan ulang tahun Kaisar seperti ini. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam istana, jadi tentu saja ini adalah hal yang sangat besar bagi rakyat jelata seperti Wonwoo. Ia sendiri berusaha sebisa mungkin untuk tidak menonjol, kalau ada orang yang menanyakan ia berasal dari keluarga mana, matilah dia.

"Jeon Wonwoo"

Wonwoo terkejut ketika ia mendengar suara seseorang tepat di belakangnya. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat seorang dengan pakaian serba hitam dan pedang di tangan kanannya itu berdiri di hadapannya.

Wonwoo agak sedikit takut. Apa mau orang ini?

"Yang Mulia Kaisar memanggilmu" Kata orang itu dengan nada datar.

Wonwoo merasa takut dan gelisah ketika ia mengikuti lelaki itu menuju ruangan Kaisar. Wonwoo cukup senang ketika sebelumnya ia tidak harus bertemu dengan Kaisar dan ia harap akan seperti itu terus hingga malam, tapi ternyata tidak, Kaisar memanggilnya.

"Yang Mulia, Jeon Wonwoo sudah datang" Seokmin mengumumkan kedatangan Wonwoo kepada Mingyu.

"Masuk"

Dua orang dayang yang sedari tadi ada di depan ruangan Kaisar bersama dengan Seokmin membukakan pintu untuk Wonwoo. Dengan langkah kaki kecil, Wonwoo berjalan masuk ke ruangan tersebut dan menundukkan kepalanya.

"Wonwoo" Panggil Mingyu, "Kemarilah"

Wonwoo menaikkan kepalanya sedikit untuk melihat keadaan ruangan Mingyu. Ruangan yang biasa digunakan untuk belajar dan bekerja itu itu dipenuhi dengan barang-barang yang merupakan hadiah dari para menteri juga kerabat di luar negeri.

Wonwoo sendiri sudah berdiri dengan jarak sekitar 2 meter dari Mingyu. Jadi Kaisar ini mau Wonwoo berdiri dimana?

Melihat Wonwoo yang sedikit kebingungan membuat Mingyu tersenyum. Kaisar Goryeo itu kemudian menepuk-nepuk kursinya yang sedang ia duduki.

Wonwoo membatu.

Apa Mingyu mau Wonwoo duduk disana juga?! Tidak mungkin.

"Jangan buat aku mengulang perkataanku, Jeon Wonwoo" Kata Mingyu dengan nada yang tegas. Ia kemudian kembali menepuk tempat yang sama sambil melihat ke arah Wonwoo.

Dengan jantung yang berdetak begitu kencang karena perasaan tidak nyaman dan takut, ia pun berjalan menuju kursi dimana Kaisar itu duduk. Ia menggigit bibir bawahnya, masih tidak yakin apakah ia bisa melakukan ini. Namun, pergelangan tangannya kemudian ditarik oleh Mingyu, membuat bokongnya jatuh di tempat Kaisar menginginkannya untuk duduk. Tubuh Wonwoo terasa begitu kaku, ia masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Beberapa hari yang lalu ia hanyalah rakyat jelata biasa yang pergi meninggalkan desanya untuk mengirimkan bahan pangan ke Istana, namun sekarang, ia bisa duduk di samping Kaisar?!

"Lihatlah" Kata Mingyu sambil menunjuk ke beberapa barang yang ada di atas meja di hadapan mereka, "Apa ada yang kau sukai?"

Wonwoo memperhatikan barang-barang yang ada di atas meja tersebut. Perhiasan batu giok, guci dengan ornamen kerajaan, kotak perhiasan, dan benda-benda lainnya yang Wonwoo yakini harganya sangat mahal. Wonwoo harus menjawab apa?

"Barang-barang ini sangat indah, Yang Mulia"

"Jadi kau suka yang mana?" Tanya Mingyu, "Atau kau meginginkan semuanya?"

Mata Wonwoo membulat besar karena terkejut, ia kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak, Yang Mulia. Barang-barang ini adalah hadiah ulang tahun untuk Yang Mulia, bagaimana mungkin hamba menginginkannya? Lagipula, barang-barang seperti ini tidak akan pantas untuk hamba"

"Bagaimana dengan perhiasan batu giok ini?" Kata Mingyu sambil memperlihatkan kalung giok dengan bandul besar berbentuk bunga tanpa memperdulikan apa yang baru saja Wonwoo katakan. Kata-kata Wonwoo barusan bak angin lalu.

Mingyu membawa kalung giok itu untuk disejajarkan dengan leher Wonwoo. Ia menggelengkan kepalanya, "Bandulnya terlalu besar, lehermu bisa sakit kalau mengenakan ini"

Mingyu menaruh kembali kalung itu ke meja sebelum sebuah gelang berhasil menarik pandangannya. Ia segera mengambil gelang tersebut dan memperhatikan desainnya. Gelang dari batu giok itu kemudian dimasukkan ke pergelangan tangan Wonwoo.

Mingyu berdengung, "Kau kurus sekali. Gelang ini terlihat begitu besar untukmu"

Wajah Wonwoo memerah. Ia memang tahu kalau dirinya itu sangat kurus. Bukankah ia juga dikatakan kurang gizi oleh tabib kerajaan?

"Sepertinya kau harus makan banyak daging mulai sekarang. Aku akan meminta juru masak kerajaan untuk menyiapkan banyak makanan untukmu"

"T-terima kasih atas kebaikan hati Yang Mulia" Wonwoo masih sangat tidak mengerti. Kenapa Kaisar memperlakukannya seperti ini? Bukankah seharusnya Mingyu menghukum Wonwoo karena berani menolaknya? Lalu, apa Wonwoo akan benar-benar tinggal di Istana? Tapi untuk apa? Untuk menjadi selir?

"Apa ada makanan yang kau tidak sukai? Atau alergi?"

"Hamba tidak begitu suka makanan laut, Yang Mulia"

Mingyu mengangguk setelah mendengar informasi tersebut.

"Kau tidak perlu menggunakan kata 'hamba' mulai sekarang. Kau bisa menggunakan 'aku'"

Lagi-lagi Wonwoo dibuat kaget, "B-bagaimana mungkin ham-"

"Ini adalah perintah" Mingyu memotong perkataan Wonwoo.

"Baik Yang Mulia" Wonwoo hanya bisa menurut. Kalau Wonwoo menolak Kaisar lagi, mungkin ia benar-benar akan dipenggal kali ini.

Lelaki dengan mata rubah itu hanya bisa duduk diam sambil memikirkan nasibnya yang tiba-tiba pergi ke arah yang ia tidak ketahui ini. Ia hanya berniat untuk melihat-lihat istana, bukan untuk tinggal disini.

Juga, Wonwoo kan masih ada Jiwoo. Anak tertua dari keluarga Jeon ini tidak bisa membiarkan Jiwoo untuk tinggal sendirian. Ia pasti akan membuat masalah dengan Namjoon dan teman-temannya. Mungkin Jiwoo bisa dijadikan sebagai alasan agar Kaisar mau membiarkan Wonwoo pulang?

"Yang Mulia" Panggil Wonwoo dengan suara yang sangat kecil, seperti sebuah bisikan. Ia kemudian langsung mengurungkan niatnya ketika melihat sepasang mata dengan lipatan yang dalam itu sedang memandanginya.

"Ada apa? Kau bosan? Tunggu sebentar aku harus membaca beberapa surat lagi. Setelah ini kita akan pergi makan di taman sebelah utara, ya"

Makan? Di taman Utara? Apa mereka akan makan bersama?!

Tidak. Wonwoo harus mengatakan soal Jiwoo kepada Mingyu sekarang juga. Lebih cepat ia bisa keluar dari istana ini maka lebih baik.

"Tidak, Yang Mulia. Ada sesuatu yang ham-" Wonwoo segera menghentikan perkataannya, "Maksudku, ada yang ingin aku katakan"

Mingyu menaruh surat yang baru saja ia baca di meja sebelum memberikan perhatian kepada lelaki di sampingnya lagi, "Katakanlah"

"Aku memiliki seorang adik di desa. Ia hanya sendirian, jadi-"

Seakan tahu kemana pembicaraan itu mengarah, Mingyu bertanya, "Orang tuamu?"

"Sudah meninggal, Yang Mulia. Maka dari itu aku harus kembali karena ia masih belum bisa hidup sendiri"

Mingyu berpikir sejenak. Ia tidak akan bisa membiarkan Wonwoo pergi dari istana begitu saja. Tapi tentu saja ia juga tidak bisa membawa adiknya ke dalam istana.

"Jangan khawatir, aku akan mengirim orang untuk menjaga adikmu"

"Tapi-"

"Aku juga akan mengirimkan uang untuknya setiap bulan. Apa adikmu ingin tinggal di kota? Aku bisa memberikan sebuah rumah di kota"

Wonwoo ingin menolak. Wonwoo ingin protes. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Kaisar mau melakukan itu semua hanya untuknya? Semua ini sangat tidak masuk di akal.

"Bagaimana dengan cita-cita atau semacamnya? Apa ada hal yang ingin dia lakukan?"

Semakin parah.

"Tidak, Yang Mulia tidak perlu memberikan apapun kepada keluarga kami" Wonwoo memilih untuk menolak. Ia juga masih punya simpanan uang yang cukup banyak di rumah. Setidaknya bisa untuk memenuhi kebutuhan Jiwoo sampai Wonwoo menemukan cara agar bisa keluar dari istana ini. Ia juga yakin orang-orang akan membantu adiknya itu termasuk paman Yoon.

Oh iya, Paman Yoon.

"Yang Mulia, aku juga harus mengabari Pamanku"

"Pamanmu?" Mingyu menaikkan alisnya sebelum ia mengerti siapa yang Wonwoo maksud dengan Paman. Mingyu mendengus, "Ia sudah tahu kalau kau akan tinggal disini. Ia juga sudah pulang ke desanya"

Tidak mungkin.

Bagaimana mungkin Paman Yoon membiarkan Wonwoo tinggal di istana seperti ini? Tapi kalau Wonwoo pikir-pikir lagi, hal itu tidak mengherankan. Walaupun Paman Yoon sudah menganggap Wonwoo seperti anaknya sendiri, kalau Kaisar yang sudah angkat bicara, maka ia tidak akan bisa melakukan apa-apa, kan?

Setidaknya Paman Yoon bisa memberitahu keadaan Wonwoo kepada Jiwoo. Itu juga kalau Jiwoo peduli.

Jadi untuk saat ini, Wonwoo hanya dapat menerima nasibnya begitu saja. Ia akan mencari cara lain agar bisa keluar dari istana. Dengan nyawa, tentu saja.

"Baiklah, ayo kita makan" Kaisar berdiri dari kursi yang baru saja mereka duduki. Wonwoo pun segera bangkit dari kursi itu dan mengikuti Mingyu yang sudah berjalan ke arah pintu.

"Seungcheol, ayo kita makan"

Wonwoo bingung Mingyu sedang berbicara kepada siapa karena yang pasti tidak ada orang lain selain mereka berdua di ruangan itu. Tapi tiba-tiba, seorang lelaki dengan baju serba hitam muncul dari balik lemari. Wonwoo terkejut bukan main. Jadi dari tadi lelaki yang membawanya ke ruangan Kaisar ini berada di situ? Bukankah artinya ia juga mendengar semua pembicaraan mereka?

Seungcheol menunduk dan menunggu Mingyu untuk kembali melanjutkan langkahnya. Ketika Mingyu sudah berjalan, Wonwoo dan Seungcheol saling melirik satu sama lain. Keduanya masih tidak nyaman dengan keberadaan orang baru.

Ketika Mingyu sudah berada di luar ruangan, beberapa dayang serta pengawal muncul untuk mengikutinya. Hal itu membuat Wonwoo harus berjalan di paling belakang. Ia tidak terlalu memperdulikan itu dan hanya berjalan mengikuti kemana para dayang ini berjalan sebelum tiba-tiba suara Kaisar membuatnya menaikkan kepalanya yang sedari tadi hanya memandangi tanah.

Wonwoo baru tersadar kalau sekarang Mingyu sudah berhenti berjalan dan sedang berdiri menghadap ke arahnya. Para dayang dan prajurit terbagi menjadi dua, seakan memberikan jalan untuk Wonwoo.

"Kemarilah"

Mendengar perintah dari Mingyu, Wonwoo pun segera berlari kecil dan berhenti tepat di depannya.

"Jalan di sampingku"

Wonwoo ingin sekali menolak perintahnya itu. Bagaimana mungkin Mingyu mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang? Wonwoo yakin besok pasti akan banyak gosip tentangnya di istana. Tapi kalau ia menolak perintah Mingyu barusan, bahan gosipnya akan semakin bertambah. Jadi, Wonwoo hanya menurut dan berjalan di samping Mingyu menuju taman utara.

Ketika mereka sampai di sana, makanan sudah memenuhi meja bundar tersebut.

"Apa kau ingin menanyakan sesuatu?" Tanya Kaisar ketika menyadari wajah Wonwoo yang memperlihatkan kalau ia memiliki banyak sekali pertanyaan di benaknya.

Wonwoo tersenyum malu. Apa wajahnya sebegitu mudah untuk dibaca? Tapi karena Mingyu sudah tahu, maka Wonwoo memutuskan untuk bertanya.

"Kenapa pesta ulang tahun Yang Mulia hanya sampai sore hari?"

"Karena malam harinya akan digunakan untuk makan malam dengan orang-orang yang berharga seperti keluarga" Jawab Mingyu, "Tradisi ini baru dibuat oleh Kaisar yang sebelumnya

Wonwoo terdiam ketika mendengar jawaban yang sama sekali tidak ia duga itu. Tapi kalau begitu kenapa ia sekarang berada disini? Matanya kemudian juga melirik laki-laki lain yang sedang berbagi meja dengannya. Pengawal pribadi Kaisar raja yang sedari tadi hanya melahap makan malamnya tanpa banyak bicara. Keberadaan Seungcheol disini membuat Wonwoo berpikir kalau ia tidak perlu menganggap dirinya terlalu tinggi. Toh Seungcheol yang merupakan seorang pengawal bisa makan bersama Kaisar. Lagipula Mingyu memang sudah tidak punya keluarga lagi, jadi mungkin ia mengundang siapa saja yang ia mau agar tidak kesepian.

Mungkin hanya karena itu, Jeon Wonwoo.

"Makan yang banyak" Kata Mingyu sambil mendekatkan beberapa piring kepada Wonwoo.

"Terima kasih, Yang Mulia" Wonwoo menundukkan kepalanya sedikit sebelum ia mulai memakan makan malamnya.

Setelah selesai makan malam, Kaisar mempersilakan Wonwoo untuk kembali ke kamarnya. Ketika Wonwoo mendengar ini, ia senang bukan main. Wonwoo pikir Kaisar akan kembali memintanya untuk melakukan hal itu, tapi ternyata tidak. Dan tentu Wonwoo sangat senang karena kalau sampai kejadian itu terulang, Wonwoo mungkin tidak tahu bagaimana harus menolaknya lagi kali ini.

Setelah Sejeong datang untuk menjemput Wonwoo, ia pun segera membungkuk kepada Mingyu dan kembali ke kamarnya.

"Apa yang kau lakukan seharian?" Tanya Sejeong untuk membuka topik.

"Hanya menonton pertunjukan"

"Taun ini acaranya cukup meriah. Biasanya Kaisar tidak mau merayakan ulang tahunnya. Hari ini sangat melelahkan" Kata Sejong.

"Oh, tapi kenapa Yang Mulia mau merayakannya tahun ini?" Wonwoo penasaran.

"Kaisar yang sebelumnya selalu mengatakan soal perayaan ulang tahun Kaisar Mingyu yang ke-20. Sepertinya keluarga kerajaan memang selalu ingin perayaannya yang ke-20 ini menjadi spesial dan meriah. Entahlah"

"Hmmm"

"Ah!"

Wonwoo terkejut ketika Sejeong tiba-tiba teriak.

Sejeong kemudian memukul-mukuli kepalanya sendiri, "Aku lupa melapor kepada kepala dayang. Mati aku. Aku harus kembali ke dapur, kau bisa pergi ke kamarmu sendiri, kah?"

Wonwoo mengangguk.

"Maafkan aku dan tolong jangan laporkan aku kepada Kaisar"

"Jangan khawatir" Wonwoo tersenyum, "Cepat pergi"

"Terima kasih. Aku berhutang banyak padamu" Sejeong menggenggam tangan Wonwoo erat sebelum ia kembali ke dapur.

Setelah Sejeong pergi, Wonwoo pun melanjutkan perjalanannya menuju istana Tulip. Ia sudah cukup hafal dengan jalannya.

Wonwoo berjalan sambil menikmati udara malam yang menyapa pipinya. Biasanya, kalau udara sedang dingin maka seluruh tubuhnya akan merasakannya juga. Tapi karena ia sedang mengenakan pakaian khusus, maka hanya kepalanya yang terasa dingin dan menurut Wonwoo ini sangat menyegarkan.

Wonwoo sudah dapat melihat istana Tulip, namun tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan yang besar dan kasar mendekap mulutnya. Ia ditarik ke belakang dengan paksa sebelum punggungnya bertemu dengan pohon. Karena hari sudah malam, Wonwoo sendiri tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang berada di hadapannya ini.

"Aku pikir aku salah lihat tapi ternyata memang kau"

Suara itu. Wonwoo kenal betul suara itu.

"Apa yang kau lakukan disini, Jeon Wonwoo?"

Menteri Han?

.

.

.

.

.

Menteri Han bakal ngapain hayoooo?

Yuk yang suka tebak-tebakan boleh mulai tebak cerita ini bakal gimana nantinya. Hahaha

Btw, sesuai request udah aku coba panjangin yah. Semoga ngga ngedrag hehe

Oh ya, Kalian punya OST drama Korea yang cocok dengan suasana fanfic ini? Rekomen yah kalo ada ;)

Next, apa kalian siap melihat sisi lain dari Kim Mingyu? LOLS.