The World Before her Eyes by Himawari96
I do not own of Naruto or Shingeki no Kyojin, nor the story
Saya telah meminta dan telah menerima ijin untuk mempublikasikan serta menterjemahkan cerita ini dengan beberapa pengeditan didalamnya.
.
Aku terbangun dalam sebuah ruang gelap dan diikat diatas ranjang. Kedua tanganku dirantai. Aku hanya bisa memandangi langit-langit dalam diam.
"H-hey... kau sudah bangun?" Aku hampir melompat saat mendengar sebuah suara. Membuat kesalahan dengan menolehkan kepala terlalu cepat.
"Ow! Siapa disana?" Aku bisa melihat sebuah sosok disudut lain ruangan.
"Maaf mengejutkanmu." Seorang pemuda langsing sedikit maju jadi aku bisa mendapat penglihatan yang lebih baik. Pemuda dengan rambut coklat gelap dan mata hijau yang besar itu duduk didekat ranjang, hanya saja dia tidak dirantai.
"Tidak masalah. Dimana kita?" Aku bertanya. Dia melihat sekeliling dengan tidak pasti.
"Bawah tanah, kupikir." Dia berpindah disebelah ranjang. "Jadi, untuk apa kau disini?"
Aku menutup mata. Aku masih ingat dengan jelas tentang pertarungan dengan seorang pria blonde. Lalu... tidak ada. Aku mungkin dipukul dan diseret kesini.
"Orang-orang mengatakan kau diserang Komandan Erwin." Aku mulai terpancing emosi. "Jadi itu namanya, tahan dulu. Dia orang yang menyerangku lebih dulu. Aku hanya membela diriku sendiri saat itu!"
"Bukan itu masalahnya. Kau bukan orang yang berasal dari dalam dinding. Kalau kau orang luar kau bisa saja akan ditahan disini atau bahkan mungkin akan dibunuh." Dia berkata pelan. Aku gemetar.
"Tapi aku tersesat. Dan untuk apa kau disini?" Dia menggelengkan kepala putus asa.
"Mereka mengatakan aku berubah menjadi titan. Tapi aku tidak ingat apapun." Dia memandang tangannya beberapa saat. Titan... mengingatkanku pada seorang pria tua. Tapi dia tidak pernah menjawab pertanyaanku.
"Titan itu... apa?" Aku bertanya selama beberapa detik. Mata pemuda itu melebar. "Kau tidak tahu titan?" Aku memejamkan mata."Tidak. Ditempat asalku aku tidak pernah mendengarnya. Memangnya apa itu?"
"Tidak ada yang tau pasti. Kami hanya mengetahui sedikit informasi tentang mereka. Tapi mereka raksasa yang tidak muncul dimanapun. Lebih dari setengah populasinya di dunia dimusnahkan." Aku melihatnya sepintas. Dia tidak bisa serius. Raksasa? Oh ayolah yang benar saja.
"Jika kau belum pernah mendengarnya. Dari pelosok daerah mana kau berasal?" Dia bertanya curiga. Aku mendelik. "Konoha. Tapi... aku benar-benar tidak mengerti tentang populasinya didunia yang telah dimusnahkan. Desaku terlalu sibuk dan kami belum pernah menjumpai titan."
Dia berkedip dalam kebingungan. "Tapi kau berasal dari luar dinding 'kan? Kau yang terakhir dilihat disana." Aku memutar ulang ingatanku pada kejadian pada malam saat aku kesini. Gunung. Apa itu salah satu dari titan? Hutan merayap dengan banyak kehidupan liar.
"Oh tidak... sebenarnya aku ada dimana?" Aku berkata pelan.
Tidak ada satu orang pun yang kukenal disini, dan hanya ada satu penjelasan. Aku tidak berada didesa lain. Ini jauh dari Konoha. Aku ada didunia lain! Tobi pasti menggunakan jurus yang mengirimku ke dunia lain. Tobi bisa memindahkan bagian-bagian tubuhnya ke dimensi lain dan itu kenapa serangan kami melewatinya.
"Kau di Dinding Sina. Jadi kau ditendang dari desamu? Aku tidak pernah mendengar tentang Konoha. Kupikir kita orang terakhir yang tersisa."
"Tidak... maksudku aku tidak setuju. Aku tidak termasuk disini, ini dunia lain. Aku perlu mencari jalan untuk kembali." Aku berkata sedikit panik. Aku tidak menduga berada disini.
"Kedesamu? Tidak ada jalan untuk kembali. Kita orang terakhir yang hidup dibalik dinding-dinding ini. Desamu mungkin telah duhancurkan oleh para titan dan kau berhasil lolos."
Dia memberikan tatapan sedih, "Maaf."
Tidak. Dia tidak mengerti. Bagaimana bisa aku membuatnya mengerti tanpa terdengar gila. Tapi dunia ini memang benar-benar gila. Ini seperti film horror. Seorang gadis yang jatuh dari langit menuju dunia lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para kanibal raksasa. Aku baru saja akan menjelaskan ketika pintu terbuka dari luar. Suara langkah kaki memenuhi aula. Aku menegakkan leherku untuk melihat, tapi hanya berusaha untuk memandang kepala tiga orang itu. Aku bertanya pada pemuda itu untuk mendapat petunjuk tentang apa yang terjadi. Tapi dia terlihat tidak mengetahui apapun sama sepertiku. Gestur tubuhnya menegang berantisipasi.
"Jadi kau sudah sadar. Tidakkah saat ini kau ingin bertanya letak kamar mandi?" Suara wanita terdengar. Aku menggeliat.
"Oh kelihatannya gadis ini juga sudah bangun." Dia tertawa.
"Berapa lama aku akan ditahan disini?" Pemuda itu bertanya.
"Tidak lama. Aku datang untuk mengumpulkan kalian untuk beberapa jam. Jangan khawatir." Suara wanita itu terdengar sangat positif dan senang. Hampir melewatiku.
"Jangan membuatnya berharap lebih. Aku ingin bicara pada gadis itu." Sebuah suara pria yang sangat halus menimpali si wanita.
"Eh? Aku juga ingin bertanya padanya, Levi.
"kau akan mendapatkan kesempatan. Hey, kau siapa namamu?" Dia berkata padaku. Aku berputar pada pemuda itu yang melihatku sepintas. "Uh, aku Sakura. Sakura Haruno."
Hening...
"Apa kau tahu alasanmu berada disini?" Pria itu, Levi bertanya. Aku menggelengkan kepala. Tentu saja aku tahu tapi aku pura-pura bodoh.
"Kau menyerang komandan pasukan penyelidik menyusup dinding sina." Suaranya sangat monoton.
"Aku tidak melakukannya! Aku tersesat dan tiba disini. Seorang pria mengatakan tentang tempat ini. Jadi aku kesini dan seorang pria lain menyerangku." Aku berusaha keras untuk mengendalikan diri, tapi perlahan aku menyadari situasi saat ini buruk sekali. Ini masalah hidup dan mati. Ini masalh serius. Aku adalah musuh bagi orang-orang disini.
"Kalau memang seperti itu, darimana kau berasal?"
Pemuda disampingku menjawab."Tinggalkan dia sendiri. Dia mengatakan berasal dari Konoha, desanya diserang para titan dan dia melarikan diri."
Aku memandangi pemuda itu tak percaya.
"Hey! Kami tidak bertanya padamu Jaeger!" Respon sebuah suara yang berbeda. Aku terkejut, Jaeger... pria tua dihutan kayu. Dokter Jaeger, apa mereka memiliki hubungan? "
Dia kehilangan rumahnya karena titan!" Pemuda itu berteriak marah. "Memangnya kalian semua peduli tentang menjaga kami yang dikunci disini." Dia menggeleng pasrah.
"Tch, benarkah?" Tanya Levi dingin.
Pemuda Jaeger itu menoleh kesamping mengisyaratkan agar aku setuju.
"Ya. Aku hanya SURVIVOR." Suaraku terdengar sedih. Bukan karena ini benar, tapi karena aku tidak bisa mempercayai ini semua terjadi padaku. Hidupku berubah dalam sehari.
"Aku mengerti. Aku akan melihatmu di istana, takdirmu akan ditentukan oleh hukum, pun denganmu." Pemuda itu gemetar tapi mengernyit.
"Kau mengatakan kau ingin berada di pasukan pengintai, itu akan ditentukan di istana. Apakah kau musuh atau sekutu bagi manusia. Aku akan melihatnya bahwa kau masuk."
Pria itu pergi. Wanita di depan kami bersiul. "Jangan cemas, Eren. Aku yakin kau akan baik-baik saja."
Eren. Kata-kata pria itu terngiang di telingaku. 'Kau mengingatkanku pada Eren.' Ini anaknya. Aku mendengar dasar sepatunya menghantam lantai.
"Tunggu!" Dia berhenti.
"Hm... ada apa?" Aku menelan ludah.
"Apa yang akan terjadi padaku di istana nanti?" Dia menghela napas. "Aku tidak yakin, karena Erwin yang memutuskan. Dia adalah orang yang kau serang. Jadi dia punya hak apakah kami membunuhmu atau tidak."
Dia pergi setelah mengatakannya. Aku menunggu sampai pintu tertutup untuk mulai berbicara. "Terimakasih. Kau berdiri untukku." Ucapku. Eren mendengus.
"Aku tidak yakin bagaimana jika yang kukatakan benar. Tapi kau tidak terlihat seperti orang yang buruk seperti diriku." Aku memberinya senyum kebohongan.
"Separuhnya benar. Jadi namamu Eren?" Dia mengangguk. Mungkin seharusnya aku tidak mengatakan padanya tentang pria tua di hutan itu. Aku memiliki firasat akan terjadi drama jika aku mengatakannya.
"Aku hanya berharap tentang hal-hal bekerja baik dan bisa mendukung kita." Dia merosot diranjangnya.
"Kau sungguh berani melawan Erwin, kau tahu." Aku tersenyum lebar.
"Dia pasti orang penting. Tapi aku tidak harus mengetahuinya. Tenang saja. Lagipula masalahmu lebih besar dariku 'kan?"
Dia menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak tahu bagaimana aku berubah membunuh para titan, kutebak aku akan mendapatkan detailnya di istana."
"Apa yang terjadi?" Aku bertanya penasaran. "Kau berubah menjadi titan?"
Dia mengangguk. "Itu yang telah kukatakan, aku membunuh para titan lain yang muncul di Dinding Rose dan..." airmata meluncur dipipinya. "Semua orang dimangsa. Aku tidak bisa melakukan apapun."
Bahunya bergetar dan aku mengkhawatirkannya. Pemuda malang. Ini seperti melihat diriku saat remaja, menangis menjadi orang yang tak berguna setelah Sasuke dan Naruto. Selalu dilindungi, selalu menjadi orang lemah.
"Kau tidak ingat apapun setelah itu?" Aku bertanya empati.
"Tidak."
Aku menghela napas. "Jangan khawatir, Eren. Semuanya akan lebih baik..." Mataku terasa berat, sebelum aku sempat mengetahuinya, Eren telah terisak dibawah saat aku jatuh tertidur.
Bang!
Suara keras membawaku dalam kesadaran. Tubuhku yang menyedihkan diikat dibawah. Aku merasakan tangan-tangan membebaskan ikatanku dan dan aku mengaduh sakit.
"Tenanglah, ini waktunya untuk pemeriksaanmu." Seorang perempuan berambut coklat diikat ponytail dan berkacamata berkata menenangkan.
"Aku Hanji." Dia membantuku berdiri dan memimpinku keluar sel.
Eren berdiri setelah seorang pria dengan rambut hitam dan mata almond. Dia sangat cantik sebagai seorang laki-laki. "Cepatlah, mereka sedang menunggu." Katanya dengan nada malas. Dia tidak senang oleh fakta bahwa dia harus menjemput kami dan aku seketika mengingat suaranya sebagai Levi.
Eren dan aku diantar melampaui sebuah pintu dan tiba-tiba kami diterangi sebuah cahaya. Seseorang muncul dibelakang kami dan memerintah kami untuk meletakkan tangan dibelakang punggung.
"Maju." Perintah Levi ketika kami bimbang.
Kami diborgol dan duduk dibelakang sebuah tiang putih panjang di tengah ruangan dimana kami dirantai. Aku melihat sekitar. Ada bermacam-macam orang duduk di sekeliling kami dan seorang pria tua berjenggot di depan sebuah meja besar yang tinggi. Beberapa orang dari sisi kiri Eren memakai seragam coklat sama seperti Levi dan Hanji. Aku menggigit bibir dengan gugup dan seketika bergetar ketakutan saat aku melihat pria pirang yang pernah kuserang sedang berdiri jauh di sudut ruangan. Bola mata birunya mengeborku dan aku mengepalkan tanganku. Aku berbalik pada Eren yang berada di sampingku. Dia sedang melihat dua orang dengan mata terkejut. Perempuan dengan rambut hitam gelap , serta seorang pemuda dengan rambut pirang sebahu. Sepertinya teman-temannya.
"Eren Jaeger, Sakura Haruno. Kalian berdiri dibalik Istana Suci Sina, akankah kalian bersumpah untuk menceritakan kebenaran dan hanya kebenaran."
Kami berdua mendadak gugup dan melirik orang-orang di sekitar yang saling berbisik diantara diri mereka.
"Ya." Suara Eren meluncur goyah dan tak pasti.
"Y-ya!" Kami-sama, suaraku bahkan keluar lebih buruk!
"Eren, kejahatan dengan melawan kemanusiaan adalah hal yang besar. Menjadi bagian dari para titan dan muncul di muka di dinding rose. Letak kesetiaanmulah yang sekarang dipertanyakan." Eren berpindah sehingga lutut kami bersentuhan. Sebuah tindakan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak sendiri.
"Armin Arlert, akankah kau berdiri sebagai saksi di dinding rose atas nama Eren?" Pria berjenggot bertanya dengan suara membahana.
"Y-ya. Aku disana saat Eren mengoyak leher titan. Tapi dia tidak tertarik untuk memangsa manusia, dia menyerang dan membunuh titan-titan terdekat, sampai mereka memakannya." Eren melihat sekilas kearah pemuda itu terkejut.
"Itu keterlaluan! Titan menyerang titan?! Jangan katakan kau mempercayai kebohongan besar itu!" Pria di sebelah kananku berteriak dramatis.
"Tenang! Terimakasih Armin." Pemuda itu a.k.a. Armin menunduk.
"Mikasa Ackerman, benar bahwa sementara Eren dalam keadaan menjadi titan, dia menyerangmu." Perempuan berambut hitam berbalik dengan tajam kearah wanita di sampingnya dengan berkilat mengancam. Setelah mereka bertukar kata Mikasa menuju hakim.
"Ya, Eren menyerangku. Tapi ini hanya luka kecil. Armin mendapatkannya dan Eren berhasil menggerakkan batu besar untuk memblokir pintu masuk ke dinding rose. Dia menyelamatkan kami!" Eren terkejut.
"Mikasa..." Bisiknya. Aku merasa seperti sedang menonton drama opera sabun.
"Tidak! Ini jelas gadis ini merasa diselimuti kedekatannya pada titan! Mikasa Ackerman, kau kehilangan keluargamu dan Jaeger mengangkatmu, benar 'kan? Ini hanya sudah kodratnya dia ingin mencoba untuk membelanya!" Chaos menginterupsi. Mikasa menatap tajam orang yang mengaibkan kata-kata padanya. sungguh ini benar-benar drama opera sabun. Dan aku -sedikit- beruntung menjadi penontonnya disini.
"Cukup! Ini perkara yang sangat unik, Eren memilikikemampuan titan dan kelihatannya dia tidak bisa mengendalikan mereka."
"Sudahlah. Bunuh saja dia." Aku mengernyit sama seperti pria yang melontarkan kata-kata yang Mikasa lemparkan pada Eren.
"Eren Jaeger, katakan pada kami sekarang juga. Apakah kau manusia atau titan?" Eren sulit bernapas, matanya liar dan melebar.
"Eren." Aku berbisik.
"Manusia!" Teriaknya. Keheningan menyebar di ruangan sampai perdebatan kembali dimulai.
"Bunuh dia, dia tidak bisa dipercaya. Hanya Tuhan yang punya kekuatan untuk menjaga kita dari para titan!" Pria menyebalkan itu lagi. Biar kutebak... dia adalah pendeta. Aku berbalik pada Erwin ditengah-tengah suara-suara ledakan kegilaan. Dia tidak pernah mengalihkan matanya dari kehadiranku. Apakah dia... diam-diam telah memikirkan tentang apa seharusnya aku hidup atau tidak?
"Aku memvonis Eren Jaeger untuk mati."
Pikiranku lenyap secepat aku mendengar frasa itu. Pria berseragam di samping yang mengatakannya. Beberapa orang lainnya menyetujui satu demi satu. Oh tidak... wajah Eren memucat, termasuk Mikasa dan Armin. Hentikan ini... aku memejamkan mata.
Tolong... hentikan!
"Tidak! Apa yang kau takutkan?! Kita selalu kehilangan titan dan aku bisa menjadi penyelamat! Aku bisa membantu merebut kembali dinding maria! Aku bisa melindungi kalian dari mereka! Berhentilah menjadi pengecut! Berhenti bersembunyi dibalik dinding-dinding ini seperti cacing menyedihkan! Berhenti untuk takut dan mempertaruhkan semua yang kalian miliki untukku!"
Ruangan senyap. Aku terkejut dengan Eren yang meledak-ledak. Dia terengah-engah sekarang. Bahkan ketika sebuah kaki terhubung di wajahnya, dia berusaha untuk berpengangan bahwa kekuatan akan ada didalam matanya. Levi berdiri diatas kami, menekan kebawah kakinya pada wajah Eren.
"Idiot, berteriak saat bukan pada kesempatanmu untuk berbicara. Kau perlu diatur seperti seekor anjing." Dia menendang wajah Eren dengan sedikit kencang. Aku menatapnya horror, dan merasakan tubuh ramping Eren menekanku.
"Hentikan!" Aku berteriak.
Mikasa ditahan oleh Armin saat dia mencoba untuk melompat kesini. Eren menggertakkan gigi.
"Hey, Levi! Berhenti memukulnya. D-dia akan marah dan berubah menjadi titan." Pendeta berkata dengan gugup. Levi merengut. Menggenggam rambut Eren, dia menariknya keatas dan menekan tangannya di wajah Eren yang berdarah. "Dia? Jika dia melakukannya aku akan membunuhnya, ini akan sangat mudah, dia tidak istimewa."
Pendeta menggerutu marah. "Kau polisi dan para pengikut suci lemah. Kekuasaan lemah, kau tidak bisa menjaga anjing ini untuk diperiksa. Hanya kesatuan penyedilikan yang bisa memegangnya."
Hakim mengangguk. "Sudah diputuskan, aku akan meninggalkan Eren Jaeger dalam pengawasanmu. Aku percaya kau akan membuatnya berguna untuk kemanusiaan."
Levi menjatuhkan Eren dan menendangnya kesamping tapi aku menahannya dengan tubuhku. Pukulannya menyakitkan dan aku melengking. Dia akan membayarnya... aku menatapnya tajam. Levi bahkan tidak mundur, ekspresi bosannya itu seperti Sasuke.
"Ah, benar, Sakura Haruno. Perkaramu baru saja akan didiskusikan." Dia menggenggam rambutku dan mengangkatku. Aku benar-benar Ingin melemparkannya pada para titan kalau aku telah bebas dan bertemu dengan mereka nanti. Sungguh!
"Kau menyusup dinding sina dan mencoba membunuh Erwin, benar?" Napasnya mencumbu wajahku tapi aku terus memelotorinya. Wajahnya terlihat seperti alat pelubang kertas yang sempurna sekarang.
"Levi." Suara Erwin menggema di seberang ruangan. Levi menjatuhkanku dan berdiri di samping. Demi apapun dia makhluk laknat yang harus kukuliti!
"Bagaimana ceritanya?" hakim bertanya pada Erwin.
"Saya bersaksi atas nama Sakura. Dia bukan orang asli yang berasal dari dalam dinding. Aku menemukannya diatas dinding sina dan aku mencoba untuk mengumpulkan informasi darinya, aku terlalu kejam, dia tidak punya pilihan selain membela diri dan melawanku." Jantungku berhenti berdetak. Aku tidak percaya. Erwin... membuatku terlihat seperti seorang korban.
"Dia kehilangan rumahnya karena titan! Dia datang kesini untuk mencari perlindungan!" Eren berteriak diantara kesakitan.
"Jangan membuatku tertawa..." Dan mulailah pendeta itu, tapi bergetar ketakutan saat tatapan tajam dari Levi ditujukan padanya.
"Sebuah desa di luar dinding, aku tidak tahu ada hal seperti itu..." hakim bermonolog. Inilah. Aku harus berbohong.
"Keluargaku dibunuh! Aku kabur dan aku hanyalah seorang SURVIVOR. Aku datang kesini untuk mencari bantuan!" Aku hampir terisak. Bagus Kami-sama. Ino pasti akan bangga padaku.
"Dia orang luar! Bagaimana kita tahu dia bukan titan yang menjijikkan?" Seseorang berteriak. Suara yang dipenuhi kemarahan lebih. Aku dipanggil dengan bermacam-macam sebutan. Mata-mata, titan, pembunuh. Bahkan aku mendengar seseorang berteriak bahwa aku menyerang Erwin atas perintah seseorang untuk melakukannya. Dan kini akulah yang sedang menjadi salah satu pemain drama opera sabun! Konyol !
Levi menekan kakinya diatas kepalaku. "Jika benar, aku akan membunuhnya tanpa belas kasihan. Dia juga akan diatur seperti seekor anjing."
Alisku berkedut. Hakim terbatuk. "Sangat bagus, Erwin kau tidak ingin mendakwanya?"
Aku melihat pria blonde dengan memohon. Dia memandangku tapi tanpa emosi. Dia tidak bisa dibaca.
"Tidak. Kesatuan penyelidikan akan mengambilnya. Dia akan berada dibawah pengawasan Levi."
Aku menjerit dalam hati. Aku akan dibimbing oleh si brengsek yang menginjak kepalaku ini?! Aku ingin berteriak pada mereka untuk membunuhku saja. Eren menyelipkan tangannya dengan milikku. Matanya mengatakan padaku untuk tidak mengatakan apapun.
"Jika dia seorang mata-mata, aku akan memegangnya. Sampah selemah mereka berdua adalah ancaman." Ucap Levi, memandang Erwin. Sesuatu terjadi diantara mereka.
"Perkara dihentikan..."
Eren dan aku dibebaskan dan dipimpin Hanji untuk keluar di pintu bawah. Walaupun aku diperlakukan secara kasar, istana mengakhiri dengan mendukungku setelah semuanya. Erwin dipukuli. aku membuat catatan mental untuk mengobatinya saat kami sendiri lagi. Melihat kebelakang ke ruangan yang penuh oleh orang-orang. Aku menangkap sekilas Levi dan Erwin sedang berbicara. Levi mengerutkan dahi sementara Erwin melamun, mereka sedang mendebatkan sesuatu tapi berakhir ketika Erwin terlihat sangat lelah. Dia memiliki pangkat lebih tinggi. Aku melihat kebawah kearah kakiku. Hanji mengantarkan kami di ruang yang berbeda jauh dari sel. Hasil perkaraku direncanakan. Aku akan dijatuhi hukuman mati dan Erwin dan Levi mengetahuinya. Erwin sudah merencanakannya. Jadi kenapa dia berubah pikiran? Aku benar-benar beruntung saat persidangan tadi, tapi hanya karena pria pirang itu. Bahkan setelah aku aku disergapnya diatas dinding malam itu dia memilih untuk menyelamatkanku. Aku menutup rapat mataku saat kami bertiga meninggalkan sel asrama. Tidak masalah kenapa. Aku masih hidup.
TBC
Thanks for all readers, especially
Rizka scorpiogirl, hani yuya, nakamura1miu, kyuaiioe, Sakura Leonhardt, AkinaJung, sukez no uchiha, Kaelin The Black Swan, khr. , who gave me reviews, favorite, and follow this story :3
Dan maaf bagi beberapa reader –yang mungkin di fandom naruto- yang kebetulan membaca ff ini- yang masih menunggu beberapa ff yang masih ongoing. Selepas pengumuman nilai mental langsung down pas tau IP semester ini bener-bener… ah sudahlah terlalu menyedihkan untuk diingat L ada yang senasib? Hoho forget it.
See you on next chapter A.A
Mind to review?
