House of Lake

by Loonatic Aqueous

Disclaimer : Bleach © Kubo Tite

Genre : Horor, Drama

Rate : M (mungkin) atau T sih (?) ==a

Pairing : IchiRuki, ByaRuki

Warning : OOC, sedikit Bloody, Typos, etc

.

.

.

Summary: Kuchiki Rukia, seorang patissier dari salah satu restaurant di New York sedang berlibur di sebuah rumah danau di sebelah timur desa Rokungai. Rumah danau yang indah namun angker tersebut sedang meminta korban kembali. Akankah Rukia mengetahui cerita di balik rumah misterius itu? Sadarkah dia akan bahaya yang mengancam nyawanya?

.

.

Meskipun hari masih sore, tetapi hari ini matahari tertutup oleh awan mendung besar yang seolah mengumumkan akan ada hujan lebat malam ini. Dengan meraba-raba dinding atau apapun yang ada di dekatnya, Rukia berjalan menuju dapur untuk mencari lilin sebagai penerangan.

Dengan tertatih dan perlahan Rukia berjalan menuju dapur. Namun…

"Argh!"

Rukia terpeleset, kepalanya terbentur lantai dan kemudian dia tidak sadarkan diri.

.

.

Rukia P.O.V

Aku terbangun dengan kompresan di dahiku. 'Siapa yang menolongku?' Aku menggerakkan tubuhku bangun, mencoba untuk duduk.

"Ugh!"

Kepalaku terasa begitu sakit. Aku meraba bagian belakang kepalaku, ada perban di sana. Apa lagi yang terjadi padaku?

"Kau sudah bangun, Rukia?" Aku melihat Ichigo sudah berdiri di depan kamarku dengan membawa kotak P3K-ku.

"Ichigo?" Diakah yang menolongku tadi? Dan menggendongku ke kamar ini? Aku ingin turun dari tempat tidur.

"Rukia, berhenti!" cegah Ichigo. "Kau harus istirahat sekarang. Besok aku akan membawamu ke Rumah Sakit!" putusnya.

"Sudahlah, Ichigo. Aku tak apa-apa. Hanya sedikit benturan di kepalaku… Dan bukankan kau sudah mengobatinya?" jawabku santai.

"Kau! Bagaimana mungkin kau tidak apa-apa? Bagaimana kalau aku tadi tidak kembali? Aku menemukanmu tergeletak di lantai dapur dengan darah yang merembes dari kepalamu. Kau tak tahu, seberapa takutnya aku saat melihatmu seperti itu," kata Ichigo dengan nada tinggi. Dia seperti marah padaku.

Aku hanya bisa tertunduk, 'Kenapa Ichigo begitu baik padaku?'

"Dan Rukia? Kimono siapa itu yang ada di ruang tamu itu?" tanyanya lagi.

Aku mendongak. Kimono berwarna putih itu adalah benda yang ada dalam bungkusan yang diberikan oleh penjaga danau gadungan sore tadi.

Hening.

Aku diam saja, tidak menjawab pertanyaan Ichigo. Kemudian kudengar dia menghela napas, lalu berjalan menghampiriku dan duduk di pinggir ranjangku.

"Bicaralah Rukia," pinta Ichigo. Suaranya sudah melembut sekarang.

"I-itu dari orang yang tadi kemari," jawabku akhirnya.

"Siapa?"

"Pe-penjaga danau," kataku terbata-bata.

"Siapa? Paman Urahara?"

Aku hanya menggeleng. Kulirik Ichigo dengan sudut mataku, dia mengernyit—menambah kerutan permanen di dahinya.

"Aku melihat tulisan G.I.N di punggung bajunya."

Kulihat Ichigo mendelik, dia terlihat seperti takut.

"Kau harus segera pergi dari sini Rukia!" perintahnya kemudian.

Aku mengernyit bingung. "Apa maksudmu Ichigo? Aku benar-benar tak mengerti apa maumu. Toh, besok aku juga sudah akan pergi kok," ucapku dengan nada sedikit agak tersinggung. Dia ingin aku segera pergi, ya?

"Bu-bukan maksudku mengusirmu. Kau bisa tinggal semalam lagi di rumah nenekku, Rukia."

"Kau ini apa-apaan, Ichigo Kurosaki? Besok toh aku akan beres-beres dan langsung pulang ke New York."

Ichigo langsung terdiam.

"Ka-kau akan langsung ke New York?"

Aku mengangguk yakin. Entah hanya perasaanku atau memang Ichigo terdengar kecewa?

Aku tak mengindahkan larangannya. Kupaksakan tubuhku turun dari ranjang dan berjalan menuju dapur dengan langkah perlahan. Badanku terasa begitu berat untuk kugerakkan.

"Rukia…" panggil Ichigo dengan nada memohon, memintaku untuk tetap beristirahat di kamar. Dia mengekorku di belakang.

"Aku hanya ingin membu— Aww!" pekikku. Lagi-lagi jariku tergores pisau. Saat aku mau mengambil gelas, jariku malah tergores pisau yang aku taruh di dekat tempat aku menggantung gelas.

"Rukia?" Ichigo langsung meraih tanganku dan mencuci darah yang mulai keluar dari jariku yang tergores dengan air kran di tempat aku biasa mencuci piring.

"Malam ini aku menginap!" ucapnya tiba-tiba dengan nada final.

"Ichigo!" seruku. Apa maksudnya?

"Aku akan menjagamu Rukia."

Apa? Dia ingin menjagaku? Apa tidak salah? Bagaimana dengan keadaan kakeknya?

"Tapi bagaimana dengan kakekmu?"

Dia terdiam.

"Kakekku tidak apa-apa," ucapnya kemudian.

Aku menggeleng saat dia memasangkan plester di jariku. "Pulanglah Ichigo," pintaku.

"Rukia…" panggil Ichigo dengan nada memohon lagi.

End of Rukia P.O.V

.

.

Akhirnya Ichigo pulang dengan paksaan dari Rukia—dengan sedikit percekcokan tentu saja. Di jalan Ichigo benar-benar tidak fokus, sudah beberapa kali dia melamun di lampu merah dan akhirnya mendapat beberapa teguran dari pengemudi lain karena mobilnya tidak segera jalan padalah lampu sudah hijau. Ichigo tidak ingin meninggalkan Rukia sendirian di rumah danau itu. Tetapi dia tidak bisa tinggal di sana walaupun hanya semalam. Akhirnya Ichigo pulang ke rumah kakeknya dengan perasaan gelisah.

Sementara di rumah danau.

Rukia sedang bersiap-siap pulang. Dia membereskan barang-barang yang dia bawa. Saat berada di dapur, dia menoleh ke arah nakasnya. Di sana ada ponsel Ichigo yang lupa ia kembalikan.

Hari ini Rukia belum menelepon kakaknya, Byakuya. Biasanya Rukia menelepon saat jam makan siang. Tapi siang ini kan dia tidak pergi kemana-mana, jadi Rukia tidak bisa mengabari kakaknya tersebut.

"Lebih baik aku pinjam ponsel Ichigo sebentar untuk menelepon Nii-sama. Aku yakin pasti Nii-sama mengkhawatirkanku karena seharian ini aku belum meneleponnya," ucap Rukia.

Saat Rukia berjalan menuju nakas untuk mengambil ponsel Ichigo, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu.

TOK TOK TOK

Rukia menoleh sesaat, kemudian berjalan ke pintu depan untuk membukakan pintu.

"Ichigo?"

Rukia mengira Ichigo kembali lagi ke rumahnya. Tapi saat pintu telah terbuka, ternyata tak ada siapapun di depan pintu. Rukia mengernyit bingung. Kerutan kecil menghiasi dahinya.

"Eh? Tidak ada siapa-siapa."

"Ah, mungkin aku sudah lelah dan mulai mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada," katanya setelah beberapa kali mencoba memicingkan mata untuk melihat kalau-kalau ada seseorang yang bersembunyi di belakang pohon setelah mengetuk pintu rumahnya—mencoba mengerjainya.

Rukia segera menutup pintu rumahnya kembali dan menguncinya. Tiba-tiba sesuatu berkelebat di ruang tamu dan Rukia melihatnya. Seseorang dengan kimono berwarna putih bermotif butiran-butiran salju yang tadi dibawa si penjaga danau gadungan berdiri berseberangan dengan Rukia. Rukia begitu terkejut, kemudian dia mengerjapkan matanya—seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Saat mencoba mengamati lagi dengan seksama apa yang dilihatnya tadi, seseorang berkimono itu telah menghilang. Tak ada apa-apa. Tapi tiba-tiba…

BRUUKK

Sebuah lampu gantung di ruang tamu itu tiba-tiba jatu, tepat lima senti di depan Rukia. Pipinya tergores, sedikit darah keluar dari lukanya.

"Siapa itu?" teriak Rukia. Dia merasakan ada orang lain di rumah danau tersebut.

Hening. Tak ada jawaban.

Lalu…

PRAANGG

Piring-piring yang ada di dapur berjatuhan. Dan kekacauan pun terjadi. Seluruh barang pecah belah di rumah itu jatuh dan pecah. Suaranya membuat pusing Rukia. Dengan kedua tangan menutup telinganya, Rukia mencoba kembali ke pintu depan untu keluar. Dia memutar knopnya, tapi pintu itu tidak terbuka. Padahal dia sudah membuka kuncinya.

Lalu, ada sesuatu yang seperti berdiri di belakangnya dan berbisik, "Ajari aku."

.

.

Rukia P.O.V

Aku mengernyit ngeri, tidak berani menolehkan kepalaku walau hanya sedikit saja. Aku terus saja berusaha membuka knop pintu. Sial! Kenapa sulit sekali sih?

CEKLEK

Akhirnya pintu ini terbuka. Kudorong pintu di depanku ini dan aku langsung berlari keluar begitu pintunya terbuka lebar. Aku berlari sekuat tenaga. Kakiku terasa begitu perih, karena aku tidak memakai alas kaki. Tapi, aku harus pergi dari rumah itu. Harus!

End of Rukia P.O.V

.

.

"Hah. Hah. Hah."

Desah napas Rukia mulai terdengar berat. Tapi dia terus saja berlari. Sesuatu masih saja berkelebat di belakang Rukia—mengejarnya.

Rukia terus saja berlari tanpa memperdulikan kakinya yang berdarah karena terus berlari di tengah hutan tanpa alas kaki. Tangan dan wajahnya pun mulai mengalirkan darah dari luka-luka goresan ranting-ranting pohon.

BUGHH.

Rukia menabrak seseorang. Dia mendongak.

"Tolong, tolong aku!" serunya, tanpa tahu siapa yang ditabraknya tadi. Sementara itu, orang yang Rukia tabrak tersenyum licik.

Awan mendung sore tadi tidak membuktikan bahwa hujan akan turun. Malah, sekarang awan-awan itu menyingkir dan memperlihatkan terangnya bulan purnama dan dua wajah tak serupa tapi tak sama dihadapan Rukia yang terjerembab di tanah.

"AAAAAAARRGGHH!"

.

.

"Rukia? Rukia?"

Ichigo kembali lagi ke rumah danau setelah melihat asap yang membumbung dari arah rumah yang disewa Rukia. Dia mendapati pintu depan rumah terbuka, dan sepertinya asap yang membumbung itu berasal dari gudang yang terbakar yang terletak di belakang rumah danau.

Saat berada di dalam rumah danau, Ichigo benar-benar terkejut melihat keadaan rumah yang sudah sangat berantakan. Ichigo yakin Rukia sudah tidak ada lagi di dalam rumah danau karena ada jejak darah—darah Rukia—menuju keluar rumah. Rumah danau itu telah dipenuhi pecahan kaca dari barang pecah belah, dan Ichigo yakin Rukia tidak memakai alas kaki, terus saja melewati pecahan-pecahan kaca itu dan pergi keluar. Artinya, sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi. Ada seseorang—atau sesuatu –sedang mengejar Rukia.

Ichigo berlari ke dalam hutan sambil terus memanggil nama Rukia. Lalu saat di berada di pinggir jurang yang di bawahnya mengalir sebuah sungai yang beraliran cukup deras, dia mendengar sebuah teriakan—suara teriakan Rukia. Dengan napas terengah-engah Ichigo berlari menuju sumber suara. Di sana, dia melihat seseorang dengan perawakan tinggi dan berambut putih keperakan di bawah sinar bulan purnama sedang menyeret Rukia ke dekat jurang.

"Berhenti!" seru Ichigo.

.

Fajar telah menyingsing. Sinar matahari pagi mulai masuk ke dalam rumah danau dari sela-sela jendela dan pintu yang terbuka. Dari luar rumah itu terlihat seperti baik-baik saja. Tapi, saat siapapun yang memasuki rumah itu, akan langsung mengurungkan niatnya untuk masuk labih dalam dan segera berlari keluar ketakutan menjauhi rumah danau itu.

.

.

Ichigo P.O.V

"Mana Rukia?" tanya seorang pria tinggi berambut hitam menatapku tajam walaupun ada sorot kecemasan terpancar di matanya dari kejauhan. Dengan tergesa-gesa dia berlari menghampiriku yang masih berantakan berdiri di depan ruang ICU.

"Kau?" tanya pria itu tajam.

"Perkenalkan, aku Ichigo Kurosaki."

"Oh, jadi kau yang menolong adikku? Mana dia sekarang?"

Aku diam, tidak menjawab pertanyaannya. Tangan kananku menunjuk pintu ruang ICU yang masih tertutup rapat, dan lampu di atas pintu itu masih menyala—menandakan seseorang dalam keadaan kritis ada di dalamnya.

Pria yang berdiri dihadapanku ini adalah Byakuya Kuchiki, kakak Rukia. Aku menghubunginya sekitar dua jam yang lalu. Kebetulan dia juga sedang dalam perjalanan menuju Seiretei untuk menjemput Rukia saat aku meneleponnya. Karena hari ini seharusnya Rukia sudah akan pulang ke New York.

Semalam adalah malam yang sangat mengerikan. Dengan jelas aku melihat dua—bukan satu—sosok yang mencoba melempar Rukia ke jurang. Aku langsung berlari ke arah mereka. Tepat sesaat sebelum Rukia dilempar, aku berhasil menubruk si pria yang kemudian terjerembab di tanah. Tubuh Rukia tergeletak setengah meter dari tepi jurang, dia tidak sadarkan diri.

Selintas, aku melihat sebuah bayangan seorang gadis berambut perak panjang dan memakai kimono yang pernah kulihat di ruang tamu Rukia mengawang di tengah jurang. Tapi beberapa saat kemudian dia kemudian menghilang.

Begitu tersadar, aku langsung meraih tubuh Rukia dan memeluknya. Dari seluruh tubuhnya—mulai dari kepala hingga kaki—mengeluarkan darah. Aku mengalihkan pandanganku sesaat pada pria yang aku tubruk tadi. Namun dia juga menghilang. Aku tak peduli padanya. Yang terpenting sekarang adalah segera membawa Rukia ke rumah sakit.

Aku meraih ponsel di saku celanaku dan menelepon rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans untuk Rukia. Dan hingga pagi ini, aku masih menunggui Rukia yang dirawat di ruang ICU.

End of Ichigo P.O.V

.

.

Rukia P.O.V

Setahun telah berlalu sejak kejadian mengerikan di rumah danau di desa kecil Rukongai itu. Kejadian mengerikan yang hampir merenggut nyawaku itu masih tergambar jelas di benakku, dan terkadang aku masih memimpikannya—terutama seseorang yang bernama Gin itu, aku tidak bisa melupakan bagaimana cara dia tersenyum padaku. Benar-benar menakutkan. Dan itu bisa membuatku terjaga sepanjang malam setelah memimpikannya. Nii-sama sampai khawatir padaku dan harus menemaniku tidur terkadang. Itu sebagai pembayaran atas rasa bersalahnya karena telah menempatkanku di tempat yang berbahaya dan hampir membuatku mati.

Aku beruntung saat itu lukaku tidak terlalu parah—tidak ada yang patah paling tidak, walaupun selama seminggu penuh aku tidak bisa berjalan dengan kakiku sendiri dan harus menggunakan kursi roda untuk kemana-mana karena luka yang ada di telapak kakiku. Dan Ichigo, dia selalu mengunjungiku selama aku berada di rumah sakit, membawakanku banyak buah-buahan dan bunga Lavender—bunga favoritku. Dia selalu menemaniku saat Nii-sama harus pulang sebentar ke hotel atau untuk mengurusi administrasi rumah sakit. Dia begitu perhatian padaku. Dan aku sangat berterima kasih padanya karena telah menyelamatkanku. Aku juga berterima kasih kepada nona Yourichi, yang menambah jatah liburku menjadi tiga minggu (aku bersyukur dia tidak memecatku) karena kejadian yang menimpaku.

Kini, aku sudah berada di New York lagi, menjadi patissier di restaurant tempatku dulu bekerja.

Malam ini aku libur bekerja, dan Ichigo mengajakku untuk makan malam. Dia sedang ada urusan pekerjaan di New York, makanya dia ada di sini sekarang.

Sejak malam itu aku semakin dekat dengan Ichigo. Bahkan sekarang dia sudah menjadi kekasihku. Walaupun pada awalnya Nii-sama tidak menyetujui hubungan kami, tapi pada akhirnya dia bisa menerimanya juga. Terlebih jika mengingat hutang budinya karena telah menyelamatkan adik satu-satunya ini.

TING TONG

"Ah, sepertinya itu Ichigo."

Aku segera meraih mantel buluku yang sudah aku siapkan di atas tempat tidur dan berlari keluar kamar. Saat berada di depan cermin besar di ruang tamu, aku berhenti sebentar—memastikan penampilanku sempurna. Kulihat seorang gadis mungil memakai dress merah mini sedang memutar tubuhnya di depan cermin. Rambut hitam sebahunya di biarkan tergerai begitu saja.

TING TONG

Bel pintu apartemenku berbunyi lagi.

"Aih… Tidak sabaran sekali sih?" gerutuku.

Segera kulangkahkan kakiku menuju pintu depan. Saat membuka pintu, kulihat dada bidang Ichigo berdiri dihadapanku—dia memang jauh lebih tinggi dariku. Dia memakai kemeja, jas dan celana yang serba putih.

CUP

Dia mengecup bibirku sekilas. Pipiku sedikit merona saat mengaggumi ketampanannya, juga saat kecupan yang tiba-tiba dia berikan padaku tadi.

"Kau sudah siap?" tanyanya kemudian.

Aku hanya mengangguk.

"Kalau begitu, pakailah mantelmu. Di luar sangat dingin. Ini sudah hampir memasuki musim dingin."

"Iya… Iya… Cerewet sekali sih!" jawabku kemudian.

Aku segera memakai mantel buluku dan keluar kamar apartemen. Setelah menutup dan mengunci pintu, kami berdua berjalan bersama menuju lift yang akan membawa kami ke lantai bawah.

.

.

Rukongai, November 2011

"Yeay! Akhirnya aku bisa juga berlibur di tempat yang bagus dan indah!"

Seorang gadis berambut orange-kecoklatan dan beriris abu-abu sedang sibuk mengocok adonan kue dengan bersemangat.

"Ishida-kun baik sekali mau memberitahuku tempat berlibur yang murah tapi sangat nyaman dan begitu tenang ini. Aku akan membuatkan brownish untuknya sebagai rasa terima kasihku," ucapnya kemudian.

Sebuah bayangan samar terlihat memperhatikan gadis yang sedang sibuk membuat kue itu. Seringaian licik muncul dari bibir pucatnya. Sesaat kemudian, bayangan itu menghilang bersamaan dengan berhembusnya angin sore yang berhembus dari jendela dapur yang terbuka.

.

.

FIN

Akhirnya selesai juga.

Aneh?

Gaje?

Silakan Review.

.

~(^.^~) ~(^.^)~ (~^.^)~

=R E V I E W=