Gummysmiled's 38th fanfiction

MY SASSY BOY

.

.

.

.

My Sassy Boy

Kotak sampah kecil di antara lemari penyimpanan dan kulkas disesaki sobekan kalender harian. 120 kertas terbuang di sana, bermakna 120 hari telah dilepas pergi semenjak kencan gagal di bioskop. Musim semi memasuki pekan terakhirnya, bersiap menyambut musim panas yang terik.

Jimin bergelung di atas sofa, mengunyah keripik kentang kesukaannya dengan ganas. Ia tidak ingin teritori untuk bersantai miliknya dirampas, jadi ia memaksa Jungkook untuk duduk di bawah, di atas karpet.

Jungkook sendiri tidak masalah karena telah terbiasa. Ia masih terkunci dalam mode konsentrasi penuh. Bermain perang-entah-apa di TV lengkap dengan joystick yang mantap digenggam.

"Kau tidak tidur sampai pagi hanya karena bermain. Mau mati, ya?"

Jungkook mempunyai daya resistensi yang tinggi terhadap cemoohan Jimin, jadi ia sudah tidak terlalu terkejut dengan mulut kasarnya. Ia hanya membalas singkat, bahkan tidak repot-repot menatap Jimin, "Terserah padaku."

Yang lebih tua mendecih. Ia beranjak bangkit dari sofa, masih membawa bungkusan keripik kentang.

"Mau ke mana?"

"Masak."

Jungkook bahkan baru ingat kalau ia belum sarapan. Salahkan game keluaran terbaru ini yang membuatnya hilang fokus, bahkan melupakan kebutuhan primernya sejenak.

Jimin berjalan mendekati kulkas. Di pintu kulkas, ada sekumpulan sticky note yang sengaja Jimin tempel di sana. Tulisan yang tertera pada tiap-tiap kertas adalah nama-nama mantan pacar Jungkook selama di Eropa. Karena kebijakan bebas visa berlaku, orang-orang boleh keluar masuk negara mana saja di Uni Eropa. Jika disimpulkan secara semena-mena, Jungkook punya pacar dari berbagai penjuru Eropa. Kebenarannya adalah, hal itu bukan hanya kesimpulan semata, melainkan sebuah realita.

Hubungan Jungkook dan Jimin dari awal memang aneh. Aturan dalam rumah tangga mereka tidak kalah absurd. Jimin membebaskan Jungkook untuk mengencani siapapun, begitu pula sebaliknya. Pantangannya cuma satu; jangan sampai ketahuan keluarga mereka di Korea. Mereka juga menyetujui agar tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain, demi menghindari gosip dan intaian virus HIV.

Meski Jungkook kerap berkelana bersama wanita, bukan berarti Jimin sama adanya. Ia tetap di rumah, dalam artian tetap melaksanakan kewajibannya mengurus rumah tangga. Introvert adalah nama tengahnya, jadi ia tidak terbuka dalam relasi tanpa kejelasan seperti itu.

Jimin terkekeh tanpa sebab, kemudian melanjutkan kegiatannya; meletakkan bungkusan keripik kentang dan mengambil sayur-sayuran dari kulkas. Ia bergerak menuju wastafel untuk mencuci bahan makanan, kemudian memotong-motongnya menggunakan pisau dengan lincah.

"Hyung."

"Apa?"

"Aku punya pacar baru, namanya Lisa."

Jimin refleks mengangguk samar, meski Jungkook tidak dapat melihatnya, "Dari mana?"

"Asia, Thailand."

Detik itu juga, Jimin dengan dramatis tanpa sengaja mengiris jari kelingkingnya yang mungil dan menggemaskan. Goresan itu memanjang dan mengucurkan darah. Bagaimana bisa yang terluka jari kelingking? Entah bagaimana cara Jimin menciptakannya.

Dengan desis perih, ia mencuci bersih luka itu, "Sudah bekerja?"

"Dia seorang model. Benar-benar tipeku."

Jimin mengangguk lagi, sedang menempelkan plester dari kotak P3K di dapur ke jari kelingkingnya, "Bagaimana rencanamu?"

Jimin dapat mendengar suara pedang dan ledakan dari arah TV berhenti, sengaja di-pause. Justru suara derap kaki terdengar, dan tiba-tiba saja Jungkook sudah berada di sampingnya.

"Aku akan pergi ke rumahnya hari ini. Bagaimana? Boleh, 'kan?"

Jimin menoleh. Menatap jijik wajah memelas Jungkook yang dapat melelehkan ribuan kaum hawa. Sayangnya, Jimin bukan kaum hawa.

"Kau tidak bertanya pun pasti tetap pergi."

Jungkook mengganti ekspresinya menjadi pura-pura marah, "Aku ini baik, Hyung. Aku meminta izinmu sebagai pasangan resmiku, berarti aku menghargaimu."

Jimin melempar senyum sinis, masih menaruh perhatian penuh pada kegiatan meracik bumbunya, "Apapun alasanmu, tidak mengubah kenyataan bahwa kau berselingkuh."

Wajah Jungkook mengeruh. Boleh dikata dirinya hidung belang, tapi ia dididik dalam keluarga yang penuh tata krama. Walaupun ia pernah mengerjai Jimin, perkataan istrinya bagaimanapun juga membuatnya sedikit tidak enak hati. "Hyung, kau marah?"

Jimin menoleh lagi. Disuguhi wajah dengan raut bingung yang lucu. Ia hanya memutar bola mata, tidak berminat. "Kau seperti tidak mengenalku saja."

"Jawab pertanyaanku."

"Ck, tentu saja tidak. Demi Tuhan. Kita sudah punya kesepakatan, 'kan?"

Pembelaan Jimin tidak mengubah muka temboknya, jadi Jungkook bisa bernapas lega. Jimin sungguhan tidak marah.

"Danke. Aku akan mandi dulu baru sarapan." ujar Jungkook santai, kemudian berbalik. Hendak menuju kamar.

"Hati-hati."

Langkah Jungkook terputus. Ia cepat-cepat menoleh ke arah Jimin, dan mendapati istrinya sedang menatap dinding dapur di hadapannya dengan kosong; tidak melakukan apapun. Salah satu tangannya yang memegang pisau mengambang di udara, sedangkan yang lainnya menggenggam satu siung bawang. Membuat Jungkook benar-benar khawatir anak itu dirasuki setan semenjak menangis di bioskop.

"Hati-hati apa?"

"Lihat kakinya."

Jungkook menaikkan sebelah alis. Firasat buruk dengan cepat menyerang pusat otak; memacu rasa ingin tahu yang menggelegak, "Memangnya kenapa?"

"Kalau berbulu, berarti dia banci."

.

.

My Sassy Boy

.

.

Hari itu, Jungkook tidak pulang. Sebelumnya, Jungkook selalu pulang ke rumah walaupun ia kencan di Jerman*. Jimin juga bukan tidak pernah ditinggal sendiri karena Jungkook menginap di rumah Mingyu, tapi kealpaan bocah itu malam ini tidak wajar, sebab biasanya ia selalu mengirim kabar.

Jimin mendengus di balik selimut. Ia tidak masalah jika Jungkook menghilang, namun merupakan sebuah masalah jika makan malamnya basi. Ia paling benci membuang-buang makanan, mengingat di belahan bumi lainnya, orang-orang mengemis hanya untuk sebutir nasi.

"Ah, biarkan saja si bodoh itu. Jika besok tidak muncul juga, akan kulaporkan ke polisi sebagai anak hilang."

Dengan enteng, Jimin tertidur lelap setelah mengutarakan hal itu. Ia tidak peduli dengan kemungkinan Jungkook kembali dengan perut kelaparan. Salah sendiri tidak memberi kabar.

.

.

.

Hingga langit menyongsong matahari dan bintang fajar meredup malu, lelaki seperempat abad itu tidak memperoleh jejak kepulangan suaminya. Padahal Jimin bangun lebih lambat, dan Jungkook masih belum pulang juga.

"Masa bodoh."

Jika Jungkook diculik, disandera, atau dibunuh sekalipun, Jimin akan meraih untung besar. Ia akan mendapat asuransi dan uang santunan dari berbagai pihak, lalu ia bisa pulang ke Korea. Sungguh pemikiran Jimin tidak dapat ditoleransi akal sehat.

Tubuh 173 senti itu bergerak meregangkan badan. Ia menguap ringan, kemudian menapak menuju dapur. Berencana menyantap sereal sebagai menu sarapan.

Sayang sekali, pengganggu selalu datang setiap seseorang memiliki rencana yang sempurna.

Bel apartemen berbunyi. Jimin mendengus. Tidak banyak yang tahu alamat rumah mereka, hanya segelintir teman-teman Jungkook. Ia sungguh malas menerima tamu berisik yang hidupnya hanya bisa menggosip.

Ting tong. Ting tong. Ting tong.

Dua, tiga, empat kali. Jimin mulai merengut. Dengan gontai ia melangkah menuju pintu depan, tidak repot-repot mencuci muka dulu. Jorok, tapi ia terlampau kalas.

"JUNGKOOK CEPAT BUKA!"

Jimin tersentak mendengarnya. 'Suara itu...'

Ia bergegas membuka pintu, dan sosok yang muncul di baliknya sungguh mengundang kaget yang tidak terkira.

"E-Eomeoni?"

Wanita berpostur sedang berparas ayu menyambutnya dengan seulas senyum sumringah.

"Jiminie!"

Wanita itu menyerang Jimin dengan pelukan brutal dan ciuman gemas. "Astaga, Jiminku!"

Jimin yang notabenenya seorang laki-laki nyaris terjungkal menahan bobot ibu mertuanya. Memang tidak terlalu berat, tenaganya itu lho.

"Ah, sayangku paling manis! Aku lebih merindukanmu dibanding anakku sendiri!" pekik ibu Jungkook seperti anak kecil.

Jimin kewalahan menahan cubitan di seluruh wajahnya. Seketika harga diri dan gelar manusia batunya terjun bebas.

"E-Eomeoni, kita masuk dulu, ya?" ujar Jimin hati-hati, melepaskan pelukan wanita itu dengan lembut, padahal ia malu setengah mati.

'Jangan sampai ada tetangga yang lihat.' ringis Jimin dalam benaknya.

"Aaa, baiklah, baiklah."

Jimin menutup pintu sebelum dengan sopan membawakan barang-barang ibu mertuanya ke dalam.

"Ya Tuhan, akhirnya setelah menempuh perjalanan nyaris sebelas jam~" ujar ibu Jungkook, menghempaskan diri ke sofa.

Jimin mengulas senyum. Ia tidak akan pernah bisa berkeras hati pada wanita yang sudah seperti ibunya sendiri. "Eomeoni bersantai sebentar, ya. Aku buatkan teh dulu."

"Ah, Jiminku pengertian sekali. Terima kasih." balas wanita itu.

Matanya mengobservasi apartemen tempat anak dan menantunya tinggal. Perabotan ditata apik sehingga memberi kesan simpel namun tetap memiliki estetika. Warnanya pun didominasi merah, putih, dan hitam. Warna favorit Jungkook.

"Rumah kalian bagus."

"Ah, maaf, Eomeoni. Aku baru saja bangun tidur, belum sempat beres-beres." Jimin membawa nampan dan segelas teh melati, kemudian beranjak duduk di sebelah wanita paruh abad itu.

"Tidak apa-apa, Jiminie tidak usah khawatir."

Jimin tersenyum simpul, namun tiba-tiba ia teringat akan setumpuk rasa penasarannya. "Eomeoni kenapa tidak memberi tahu dulu? Aku benar-benar tidak tahu Eomeoni akan datang, jadi aku tidak mempersiapkan apapun."

Ibu Jungkook tertawa, mengibaskan tangan santai. "Aku hanya ingin memberi kejutan saja. Aku rindu dan khawatir sekali dengan kalian."

Jimin meringis, "Astaga, kami selalu baik-baik saja. Perjalanan sebelas jam pasti membuat Eomeoni tidak enak badan." ujarnya, berinisiatif memijat pelan tengkuk wanita itu.

"Tidak apa-apa, sayangku. Ah, aku baru sadar. Di mana Jungkook? Anak nakal itu tidak mau menyambut ibunya yang datang dari jauh ini?"

Jimin menegang kaku. Sial, siluman kelinci bongsor itu belum pulang ke rumah sejak semalam. Bisa tamat riwayat mereka jika tabiat suami jadi-jadiannya itu terbongkar.

"A-ah, itu... J-Jungkook menginap di rumah temannya. Iya, namanya Mingyu."

Ibu Jungkook langsung menoleh dengan gaya komikal. Sepasang mata yang identik dengan milik putranya berkilat tajam, dan romannya mengutarakan rasa tidak percaya. Seperti bos mafia yang curiga anak buahnya berkhianat. "Menginap?"

"Ya, menginap. Kata Jungkook ada tugas kuliah yang harus dikerjakan. Tugasnya banyak sekali, jadi ia tidak bisa pulang." Jimin berkilah dengan gesit seperti ular.

Sayangnya, firasat seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ia yang membesarkan Jungkook, tidak mungkin ia tidak mengenal anaknya sendiri.

Sang ibu mertua langsung berdiri, "Yang benar saja, dia itu sudah punya istri. Bisa-bisanya meninggalkan istrinya di rumah sendirian?"

"Eomeoni, tidak apa-apa-"

"Apanya yang tidak apa-apa? Dia itu keterlaluan. Lelaki macam apa yang bermalam seenaknya di rumah orang saat dia telah mempunyai seseorang yang menungguinya? Aku akan memotong habis anak itu!"

Jimin menjambak rambut sendiri. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat mertuanya meraih ponsel dan menelepon Jungkook. Selesai sudah. Ia tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi lima menit ke depan.

Ibu Jungkook menekan tombol pengeras suara saat panggilan sudah diangkat. Terdengar suara Jungkook di seberang sana.

"Yeoboseyo, Jungkookah."

"Hoaaahmm~ Selamat pagi, Eomma." Jungkook menyapa dengan suara serak. "Bukankah di Korea masih malam? Eomma belum tidur?"

Jimin menggigiti kuku jempol. Jika sampai ibu Jungkook tahu keadaan yang sesungguhnya, bisa-bisa mereka langsung dicincang. Ia bahkan bisa melihat raut wajah haus darah ibu mertuanya.

"Tidak apa-apa, Eomma hanya ingin menanyakan kabarmu. Kau di mana sekarang?"

"Aku sehat, Eomma. Tentu saja aku di rumah. Ini hari Minggu, jadi tidak ada kegiatan."

'Tolol, tolol, tolol, tolol!' umpat Jimin dalam otaknya. Ia membeku saat wanita itu mengirim tatapan menyeramkan padanya.

"DASAR BOCAH NAKAL! Pulang ke rumah sekarang! Dalam lima menit kau harus sampai atau aku akan mencoret namamu dari kartu keluarga!"

.

.

My Sassy Boy

.

.

Jungkook akhirnya pulang dengan keadaan acak-acakan. Ia dan Jimin langsung disidang; diberi omelan panjang lebar yang membuat kepala mendidih. Spesial untuk Jungkook, sang ibu mengirim hadiah yang istimewa; sebuah tarikan pada telinga dengan kekuatan seorang ibu yang mengamuk.

"Teganya kalian membohongiku!" sentak ibu Jungkook. Ia duduk di sofa, kedua tangan bersedekap, dan wajahnya memerah hebat.

Jungkook dan Jimin duduk berlutut di lantai, tidak berani mengangkat kepala mereka, "Maafkan kami."

Wanita itu mengerut keningnya, pusing dengan kelakuan pasutri tidak jelas ini.

"Katakan, dari mana saja kau?"

Jungkook menunduk dalam. Telinganya berdenyut sakit, tapi belum mampu mengalahkan rasa takut yang menjajah seisi hati.

Jimin melirik penuh simpati pada suaminya yang tidak menjawab. Ia ingin membantu, tapi ia tidak memiliki pembelaan apapun. Sekarang semua akan terasa salah.

Ibu Jungkook menghela napas. Di hatinya terselip rasa khawatir, "Jungkook, kuharap kau serius dengan perkataanmu saat kau menikahi Jimin."

Dua jantung berdegup dalam pacuan gelisah. Mereka sudah dewasa, tapi hubungan ini kekanakan dan tidak bertanggung jawab. Keduanya tahu. Yang mereka tidak tahu adalah harus apa dan bagaimana untuk bersikap.

"Aku mengerti hubungan ini sangat mendadak bagi kalian."

Jungkook dan Jimin mendongak. Mendapati ekspresi tidak terbaca di pahatan cantik wanita paruh abad itu.

"Tapi, bisakah kalian buktikan ada kemistri di antara kalian?"

Keduanya hampir menggeleng tidak tahu malu.

Namun ekspresi ibu Jungkook yang terlihat lesu menahan mereka. Beliau memandang keduanya dengan tatapan lelah. Seketika segenap rasa bersalah meluap.

"Maafkan aku, Eomma." ujar Jungkook penuh sesal. "Aku akan melakukan apapun agar Eomma tidak sedih lagi."

Jimin asal mengangguk saja, meskipun di sudut hatinya muncul firasat jelek. Sialnya, mereka sama sekali tidak menyadari seringai sarat akan pertanda buruk yang terpatri di bibir wanita itu tepat setelah Jungkook melontar kalimat.

"Benarkah?!"

Mereka mendongak, mendapati wajah tidak bersemangat ibu Jungkook berganti menjadi berseri hanya dalam sedetik.

Sepertinya firasat buruk Jimin langsung terwujud sempurna.

"Aku minta kalian kencan berdua, ya!"

To be continued

.

.

.

.

.

*Austria dan Jerman letaknya bersebelahan, akses keluar masuk antarnegara sangat mudah.

.

.

.

.

.

Author note

Terima kasih sudah membaca sampai bawah~ mohon tinggalkanlah jejak sesudah membaca cerita ;)