Ramen

Park Woojin X Park Jihoon

Genre: Romance, Campus AU.

Warn: !!BL, !!Some words in English Language

By. Senlgi

Happy Reading!

Jihoon merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam erat ponselnya seperti menunggu pesan dari Woojin. Jihoon merasa ponselnya bergetar dua kali, menandakan dua pesan linenya yang masuk ke dalam notifikasi ponselnya. Ia tersenyum ketika melihat pelaku pengirim pesan tersebut.

Park Woojin: Jihoon?.

Park Woojin: Not sleeping yet?.

Jihoon: Aku tidak bisa tidur..

Park Woojin: Sama.

Jihoon: Kenapa kau tidak bisa tidur?

Park Woojin: Aku ingin menepati janjiku.

Jihoon: Janji apa?

Park Woojin: Aku akan menelfonmu sebelum tidur.

Jihoon: If you dare

Park Woojin is calling..

Jihoon gegelapan melihat layar ponselnya, betapa beraninya Woojin langsung menelfonnya, tangannya mulai dingin dan basah karena gugup. Namun begitu ia menjawab telefon darinya.

"Hey"

Suaranya terasa lebih berat dan seksi di telefon, pikir Jihoon ketika mendengarnya. Dengan bodohnya Jihoon berdehem untuk membersihkan tenggorokannya sebelum berbicara.

"Yeah?"

"Kenapa kau belum tidur?"

"..Aku menunggumu untuk menelfonku.., sepertinya?"

Mereka berdua terkekeh.

"Aku sebenarnya tidak tahu harus berbicara apa untuk selanjutnya tapi aku hanya ingin mendengarkan suaramu sebelum tidur saja"

Jihoon menggeliat kecil saat Woojin melontarkan perkataan manis itu.

"Dont be ridiculous"

"Seperti yang aku bilang, I cant stop and I wont stop"

"Aku sebenarnya ingin bilang sesuatu" Ucap Jihoon.

"Dan apa itu?"

"Well, aku punya waktu luang saat tahun baru"

"Aku akan menjemputmu hari minggu jam tujuh malam dan membawamu ke suatu tempat"

"Sepertinya kau sudah merencanakan segalanya, hmm"

"Of course dan aku harap kau menyukainya"

"Kau tidak perlu mengatakannya, aku sudah menyukainya"

"Apa kau sedang menggodaku lagi?"

"Jangan konyol! You know.. I dont mean to.."

"Okay..okay princess"

Jihoon sangat-sangat memuji bagaimana suara Woojin terdengar sangat berat dan halus seakan bisa menjadi pengantar tidur untuknya.

"Aku sudah mulai mengantuk.." Ujar Jihoon.

"Kalau begitu, sleep well and dont forget to dream of me, princess"

"Oh please, Berhentilah memanggilku princess.. aku ini lelaki" Jihoon lalu terkekeh kecil.

"Aku bilang aku tidak bisa"

"Okay then, good night prince"

Kesekian kalinya Jihoon menjambak rambutnya karena kata-kata konyol yang lolos dari mulutnya.

"Sleep tight, princess" Ucap Woojin membuat Jihoon tersenyum lebar.

Dan sambungan telefon itu terputus. Jihoon yang niatnya ingin tertidur tapi malah melompat-lompat kegirangan di kasurnya dan berhenti ketika melihat wajah Daehwi yang menunjukkan ekspresi jijik.

"Aku tidak tahu kalau kau sangat menjijikkan seperti ini" Kata Daehwi. Jihoon melompat ke kasur Daehwi dan memeluknya, "Aku sangat menyayangimu"

"Is he that handsome? Kau sampai tergila-gila seperti ini"

"I dont know, katanya ia sudah menyukaiku dari dulu"

"..Pfft! Bagaimana bisa ada orang yang menyukaimu terlebih dahulu, Stupid" Daehwi tertawa terbahak-bahak.

Jihoon berdecak malas dan memukul lengan Daehwi dengan halus.

"Apa mungkin kau pergi ke kampus hanya untuk bertemu dengannya?"

Jihoon hanya menganguk semangat, "Dia bahkan mengajakku berkencan hari ini padahal kami barusan berkenalan kemarin, aneh kan?"

"Siapakah orang ini sebenarnya?"

"Park Woojin"

Daehwi memberikannya ekspresi aneh lalu tertawa, "Ey, jangan berbohong"

"You know that I never lied"

"Dia bahkan tidak pernah berbicara pada orang lain selain dosen, kau pasti mengarangnya.."

Jihoon mengangkat ponselnya untuk memperlihatkan foto mereka saat berkencan. Daehwi membulatkan matanya ketika melihat foto itu lalu melihat Jihoon dengan penuh teliti.

"Apa yang kau lakukan kepada anak itu?! Apa kau memberinya potion?!" Tanya Daehwi.

"What the fuck, Jihoon" Sambungnya.

Jihoon tersenyum pahit dan mencoba menjelaskan kepada Daehwi tentang kejadiannya dengan Woojin kemarin. Sepertinya Daehwi sedikit memercayainya walupun tidak sepenuhnya. Kata Daehwi, ia harus memberikannya bukti yang lebih kuat seperti menelfon karena Daehwi mencurigai bahwa foto itu hanyalah photoshop.

Jihoon kembali ke kasurnya lalu tertidur. Esok hari ia akan memberikan Daehwi banyak bukti. Nampaknya ketika keesokan harinya Woojin tidak memberikannya pesan apapun, Daehwi pun mulai menertawakan Jihoon. Jihoon memberinya banyak pesan tapi sepertinya Woojin tidak membalasnya bahkan tidak membacanya.

Jihoon: Morning Woojin

Jihoon: Kau sudah makan siang?

Jihoon: Apa kau sibuk?

Jihoon: Aku harap kau membalasnya

Jihoon: Sleep well, Woojin

Bahkan Jihoon mencarinya ke kampus dan tidak mendapatkan mobil sport putih Woojin terparkir di depan kampus. Sudah tiga hari Woojin tidak memberinya kabar apapun dan hal itu membuat Jihoon sedih dan sedikit down.

Apa Woojin hanya mempermaininya? Apa Woojin bosan dengannya? Apa Woojin tidak ingin berkencan lagi? Banyak pertanyaan yang sudah tertancap di kepala Jihoon.

Biasa Daehwi mengejeknya dan sesekali menenangkan Jihoon karena ia sedang down. Walaupun Daehwi adalah teman kamar yang sarkas dan jahat tapi sebenarnya ia melakukan hal itu karena ia menyayangi Jihoon yang bodoh itu.

"Dont be sad, Stupid, hari ini adalah hari minggu!" Seru Daehwi mencoba menenangkan Jihoon yang masih terdiam.

"Kalau dia tidak datang menjemputmu.. kita bisa menghabiskan tahun baru kita dengan Jinyoung dan temannya, kau tahu.. siapa tahu ada salah satu teman Jinyoung yang bisa membuatmu senang.." Lanjut Daehwi.

"Aku akan ikut, sepertinya ia hanya berbohong belaka"

"Good boy"

Daehwi sebenarnya tidak percaya kalau seorang Woojin ingin berkencan dengan Jihoon, atau bahkan berkenalan dengan Jihoon, atau bahkan berbicara dengan Jihoon. Biarkanlah Jihoon larut dengan imajinasi gilanya, pikir Daehwi.

Jinyoung dan temannya menunggu Daehwi di Starbucks. Sebenarnya Jinyoung hanya ingin berduaan saja dengan Daehwi pada hari ini tapi Daehwi mengatakan ia harus membawa temannya yang lain karena teman sekamarnya, Jihoon akan ikut dengannya. Dan disinlah sekarang mereka berempat duduk di salah satu meja starbucks, Daehwi dan Jihoon duduk bersebelahan sedangkan dihadapannya adalah Jinyoung dan temannya.

"Jadi perkenalkan temanku, namanya Guanlin"

"Halo, Kau pasti Jihoon, kan?" Tanya teman Jinyoung dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Mhm"

Jihoon membalas salaman tangan Guanlin dengan cepat.

Daehwi dan Jinyoung meninggalkan Jihoon dan Guanlin sementara untuk memesan minuman mereka. Jihoon tidak banyak berbicara, ia hanya memberikan senyum kecil ketika Guanlin mengatakan sesuatu.

"So, kau sekamar dengan Daehwi? Apa itu menyenangkan?"

"Lumayan" Ucapnya singkat.

"Kenapa aku barusan melihatmu? By the way, Kau jurusan apa?"

"Seni, akting"

"Kau sedikit dingin" Gumam Guanlin.

"Pardon?"

"Aku bilang, kau itu dingin"

Jihoon hanya tersenyum kecil lagi mendengarkan Guanlin. Bisa dikatakan sebenarnya ia hanya ingin berdiam diri, tidak sama sekali memiliki ketertarikan untuk merespon Guanlin. Jihoon melirik ponselnya yang bergetar dan melihat notifikasi linenya. Bibirnya melengkung ke atas dengan tulus.

Park Woojin: Where you at?

Ia refleks berdiri dan kembali terduduk membuat Guanlin bertanya ada apa tapi Jihoon menghiraukannya saja, dengan cepatnya Jihoon membalas line dari Woojin.

Jihoon: Location, Starbucks, Seongbuk-Gu, Anamdong 3(sam)-ga, Seoul, South Korea.

Setelah itu Woojin hanya membaca line dari Jihoon saja. Pada saat itu Daehwi dan Jinyoung kembali membawa empat minuman berbeda rasa. Daehwi membelikan Jihoon kopi americano hitam pekat karena Daehwi tahu Jihoon tidak menyukai minuman yang manis kecuali susu.

"Sepertinya kau terlihat makin senang, ada apa?" Tanya Daehwi.

"Nothing"

Jihoon tidak ikut berbicara saat ketiga orang itu membahas sesuatu, ia lebih memilih diam menunggu Woojin atau mungkin menunggu Daehwi pulang. Sesekali ia melirik jam tangannya untuk memastikan sekarang adalah jam tujuh. Pintu starbucks terbuka menampilkan sosok lelaki yang berpenampilan seperti bangsawan, mencuri perhatian banyak orang. Jihoon juga ikut melihatnya.

Woojin melihat sekitar seperti mencari sesuatu dan ketika ia mendapatkan apa yang ia cari, ia tersenyum menampakkan gigi gingsulnya lalu berjalan ke arah Jihoon.

"Hi"

Ketiga temannya itu sepertinya terlalu larut dalam pembahasaannya dan syok saat melihat Park Woojin berdiri di hadapan mereka. Ketiga orang itu berdiri membungkuk untuk menyapa Woojin dan hal itu membuat Woojin tidak merasa nyaman, jadi Woojin juga ikut membungkuk.

"Apa yang dia lakukan disini?" Bisik Daehwi kepada Jihoon.

"Aku akan mengajak Jihoon untuk berkencan, izinkan aku untuk mencurinya sekarang" Ujar Woojin.

Mereka sedikit terkejut dan tidak dapat berkata-kata mendengarkannya sedangkan Jihoon hanya dapat tersipu malu.

"Diam artinya setuju, Lets go princess"

Katanya sambil menjulurkan tangannya kepada Jihoon. Jihoon mengambil tangan Woojin dan menggenggamnya dan meninggalkan ketiga orang itu. Jihoon sempat menoleh kebelakang untuk melihat Daehwi bergumam tidak jelas.

They said

'You fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time'

TBC OR NOT

Lanjut lagi nih? Ehe

Mohon berikan kritik kalau menurut kalian penulisannya kurang bagus, makasih banyak kepada yang sudah notice kelemahan saya ada pada narasi.

By. Senlgi