Authors/notes : Persembahan dari tim panitia #AkaFuriDomestic untuk merayakan AkaFuri Day.

Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materil apapun dari membuat fanfiksi ini.

Setting : AU/AR, tempat di negara sebuah negara di Amerika Serikat, California, Distrik Ojai.

Warning: MalexMale,fluffy, angsty, OC , OOC , established relationship, mention of mental disorder.


We proudly present our relay project Fanfiction

.

.

.

Hujan Halau Mentua

.

.

.


Cuaca pagi ini tampak cerah. Embun pagi menghiasi dedaunan, genangan air berangsur surut, aroma tanah yang khas serta matahari yang tidak terlalu terik dengan pelangi mengitarinya

Angin sejuk berhembus menerpa gorden putih semi transparan, cahaya matahari mengintip di baliknya, membangunkan sosok pemuda manis yang tengah tertidur lelap, Akashi Kouki.

"Sei..." melebarkan tangannya ke samping seolah ingin menangkap sesuatu tapi hanya udara kosong yang menyapanya. Menepukkan kasurnya pelan sambil menggumamkan 'Sei' dengan mata terpejam.

Mengerjap pelan, pemuda itu memperhatikan sisi sampingnya. Seolah mengerti, Kouki segera bangun dari tempat tidurnya untuk mandi. Namun, sebelum berdiri sempurna...

BRUK!

Kouki jatuh cukup keras. Posisi mencium lantai, memperlihatkan lekuk tubuh bagian belakang yang sempurna itu.

Kouki mencoba untuk bangun...

BRAK!

Keberuntungan Kouki hari ini sepertinya tidak baik. Badan lelahnya yang sakit itu terjatuh kembali karena kaget dengan gebrakan pintu barusan.

"Kau tak apa, Kouki?"

Seijuurou, berlari ke arahnya dengan panik dan … menggunakan apron.

Dengan badan yang sakit semua terutama pada bagian pinggang ke bawah, ia tak kuat untuk berdiri. Kouki mendudukan dirinya dengan kedua kaki di sampingnya, selimut yang terseret jatuh hanya menutupi bagian tengah selangkangnya. Lalu melebarkan tangannya ke arah Seijuurou dengan raut muka manja. "Pick me up."

Sementara yang dimintai, Seijuurou, berusaha menahan hasratnya untuk tidak melanjutkan yang semalam. Dengan langkah pasti, Seijuurou mengangkat Kouki dan menggendongnya bak putri kerajaan.

Kouki bergelayut manja, membenamkan wajahnya ke dada Seijuurou. Menikmati ritme cepat degupan jantung yang tak pernah hilang walau mereka sudah menikah. Tersenyum senang. Kouki menoleh ke arah wajah Seijuurou. Menatapnya lembut.

Dan kecupan pagi pun terasa indah.


"Sei!" Kouki berkacak pinggang melihat dapurnya yang seperti ... entahlah. Lihat bahan makanan yang berceceran di mana-mana.

Seijuurou hanya tertawa ringan—pura-pura tidak bersalah. Menghampiri Kouki dan mencium pipinya sekilas.

Kouki menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum manis seakan mengerti.

"Sepuluh menit."

Seijuurou menepuk kepala coklat Kouki seakan mengerti maksudnya.

"Di taman." Tambah Seijuurou sambil mengambil kopi hangat dari tangan Kouki.


Kouki membawakan sarapan mereka di gazebo belakang rumah mereka. Gazebo yang menghadap ke arah kolam renang kering yang dikeringkan karena menjelang musim dingin—juga alasan lain yang sebenarnya memalukan—ia belum bisa berenang. Namun bagaimana pohon di sekitar kolam pun dengan tumbuh-tumbuhan yang dititiki air hujan membawa kesan suasana damai dan tenang.

Kouki melihat Sei berkutat dengan dokumen di tangannya kanannya sedang tangan kirinya sibuk memegang ponsel yang ada di telinganya. Sesekali membolak-balikan kertasnya. Sorot mata yang serius dibalut dengan kacamata kerjanya, sungguh menawan.

Lelaki berambut coklat itu kemudian tersenyum sembari meletakkan sarapan mereka berdua, setelahnya duduk di depannya.

Seijuurou segera menyudahi percakapannya.

"Dari klien?" tanya Kouki sambil menuangkan sirup melon di gelas Seijuurou.

" progress projeknya."Sei meminun sirupnya.

Seijuurou terlihat sibuk dan Kouki tau seharusnya ia tidak boleh egois. Merasa bersalah, Kouki menundukkan keapalanya. "Seharusnya Sei tidak perlu cuti hari ini." Gumamnya tak enak.

Seijuurou tersenyum. "Sudah kubilang bukan, apapun untukmu My love." Ucapnya sambil menyentuh tangan Kouki.

Dan Kouki merasa sangat beruntung dengan kehadiran suaminya, Akashi Seijuurou yang mengerti keadaannya begitupun sebaliknya.

Mereka melanjutkan sarapannya dengan canda, tawa, berbagi kasih serta senyum yang tak pernah lelah menghiasi wajah mereka.


"Kouki ... kita harus pakai ini?"

Kouki memandang aneh Seijuurou."Iya. Mobil kita kan baru selesai diperbaiki besok. Sei sendiri yang bilang." Jawabnya keluar dari garasi rumah.

Raut muka Seijuurou sulit di tebak. Saat ini dia berada di depan garasi rumahnya dengan Kouki di hadapannya. Ada sepeda merah dengan boncengan di belakangnya dan keranjang pada bagian depan.

"Sei, kamu tidak akan mengajakku jalan kaki kan?" telisik Kouki.

"Err, alangkah baiknya jalan kaki," ucap Seijuurou berhati-hati.

"Sei, kamu tega, ya? Badan dan pinggangku sakit, kakiku pegal. Tidak kuat jalan jauh. Dan ini gara-gara kamu juga." Kouki menggembungkan pipinya sebal dan menolehkan pandangannya ke samping.

Sikapnya yang seperti itu justru menggemaskan di mata Seijuurou. " tidak bisa naik sepeda, Kouki." Kali ini Seijuurou yang berucap malu.

Kouki tertegun beberapa saat lalu tertawa lepas.

"Tertawa sesukamu, Kouki." Seijuurou pasrah.

"Hahahaha, maaf, Sei." Kouki menarik nafas pelan, meredakan ketawanya. "Oke. Aku yang bawa." ucapnya mantap.

Dahi Seijuurou berkedut. Melihat Kouki yang sudah siap di balik kemudi sepeda.

"Ayo, Sei. Cuaca hari ini sangat cerah." panggil Kouki dengan senyum lebar di wajahnya. Gestur rentangan kedua tangan menunjukkan ia sangat menikmatinya.

Sementara Seijuurou terdiam sebentar, lelaki itu nampak enggan untuk naik pada kendaraan roda dua tersebut. Kemudian terlintas sesuatu, ia menyeringai jahil.

"Kalau sebegitunya ingin dipeluk tidak usah modus pakai segela."

"Eh?" Sebentar Kouki bingung sebelum rona merah menguasai wajahnya. "I-itu tidak—

Elakan Kouki dipotong oleh Seijuurou. " Katanya sakit tapi malah bisa bawa sepeda." Ia menikmati benar momen di mana Kouki menjadi butiran benda terbata yang salah tingkah. Merasa kurang ia melanjutkan." Tapi aku dengan senang hati memeluk kamu, kok, My love."

Ia mengecup bibir Kouki sekilas lalu melanjutkan." Lain kali cukup bilang langsung kuturuti kok, Hug bear."

Kouki menggerang sementara ia dapat julukan baru untuk suaminya hari ini.

"Ah, panggilan baru." Kouki mendelik padanya tapi mukanya merah merona. Ah, manisnya." Oke, aku naik."

Seijuurou duduk di kursi penumpang. Melingkarkan tangannya pada pinggang Kouki yang selalu terasa pas dalam tangkupannya, juga menciumi punggung Koukinya. Memejamkan matanya merasakan angin yang berhembus pelan membelai wajahnya. Tangannya kemudian menyentuh tengkuk Kouki, membuatnya menoleh.

"Tunggu sebentar."

Kouki memiringkan kepalanya, Seijuurou tersenyum dan membelai sisi dagu Kouki dan menarik tengkuk kekasihnya hingga menunduk. Lalu mencium bibir ranumnya lama. Wajah Kouki memerah, sampai ke telinga. Seijuurou yang melihatnya, merasakan kebahagiaan yang tiada akhir. Tangan Seijuurou mengusap kepala suaminya penuh sayang. Seijuurou tertawa kecil melihat rambut Kouki mencuat kesana-kemari.

Kouki merapihkan rambutnya dengan malu-malu. Walaupun mereka sudah menikah, terkadang hal-hal kecil ini membuatnya salah tingkah.

Seijuurou menyamankan sandaran duduknya.

"Se-sei, aku jalan, ya." ucapnya. Setelah mendengar 'ya' dari Seijuurou, Kouki mengendarainya dengan pelan.

Angin berhembus pelan melewati wajah Seijuurou, menggoyangkan rambut coklat suaminya. "Seperti ini tidak buruk juga." Ujarnya.

Dibalik kemudi, Kouki tersenyum riang. "Ya kaaan?" jeda, "Sangat menyenangkan."


Percakapan kecil terus berlanjut, hingga tanpa meraka bagian depan Bart's Book sudah menguasai pandang mereka. Setelah memakirkan sepedanya, Kouki dan Seijuurou berjalan beriringan memasuki Bart's Book.

Bagi Kouki ini adalah surganya.

Tanpa mengindahkan Seijuurou, Kouki berjalan antusias menghampiri setiap seksi buku yang ada di sana. Satu persatu didatangi, lihat-lihat dan jika merasa tertarik akan langsung di ambil.

Sementara Seijuurou memilih menunggu di luar, mencari tempat teduh. Sebelumnya, ia sudah membeli jus untuk di minumnya bersama

Ketika Kouki keluar, belanjaan di tangannya sudah ada 4. Kalau sudah menyangkut buku, apalagi buku mengenai hobinya, railroad, lelah tidak ada di kamus Kouki.

Setelah membawa 6 kantung belanjaan, Kouki menuju tempat Seijuurou duduk santai. Dengan cengiran lebar bahagianya, Kouki menyapa menanggapinya dengan senyum teduh.

"Apa yang di dapat?"

"Banyak, Sei!" seru Kouki. Dengan semangat, Kouki mengeluarkan buku-bukunya dan menjelaskannya pada Seijuurou.

Seijuurou pun menanggapi. Seakan wawasan yang dimiliki sangat luas, dan yah Kouki mengetahuinya. Makanya Kouki berusaha untuk membuktikan kalau dia bisa.

Seijuurou tertawa, lucu melihat Kouki di depannya sedang membaca buku dengan mata berbinar—sedikit membuat Seijuurou cemburu. Makanya, dengan sekali tarik pada lengan Kouki, Seijuurou mendapatkan bibirnya menempel di bibir Kouki.

Sesudahnya, Kouki berbisik. "Sei, ini tempat umum." sambil menutup mukanya dengan bukunya.

"Makanya kita ke sini." Seijuurou pura-pura mengaduh sakit saat kakinya ditendang pelan sama Kouki. Sampai kapanpun, Seijuurou tidak pernah bosan melihat tingkah Kouki yang seperti ini. Malah semakin cinta.

Seijuurou bangkit dari kursinya. Menghampiri Kouki, mengelus kepalanya singkat dan berbicara ditelinganya. "Jangan kemana-mana. Aku cari makanan buat kita." sambil meniupnya lalu mencium pipinya sekilas.

Kouki yang sudah malu setengah mati hanya menundukkan kepalanya dan mendorong suaminya. Ia mendengar senandung tawa pelan dan mem-pout-kan dirinya sebal.


Sembari merona merah, Kouki melanjutkan baca buku tentang hobinya. Membaca dengan seksama sampai terlarut tidak menyadari sekelilingnya.

"Furihata ..."

Kouki masih lanjut membaca.

"Halo. Kau Furihata Kouki-kun?"

Kouki menoleh, menghadap seseorang di depannya.

Pria tinggi maskulin berkulit putih, berambut hitam sebahu. Wajahnya yang androgini. Gaya pakaian yang kekinian, orang yang melihatnyapun pasti mengira pria ini adalah model.

Kouki memiringkan kepalanya. Siapa dia?

Pria berambut hitam itu memperhatikan Kouki dengan seksama. "AH! Benar, kau adalah Furihata Kouki." Serunya sambil menunjuk Kouki.

"E... eh...?" Kouki menengok sekelilingnya, siapa tau bukan dia yang di maksud. Sekiranya tak ada siapapun, Kouki menunjukkan dirinya sendiri."Ya... ya... saya Furihata Kouki..." Balasnya ragu.

Pria berambut hitam itu langsung memeluk Kouki dengan erat."Akhirnya aku menemukannmu, Furihata Kouki." Ia kemudian menggenggam tangannya kedua tangannya, erat.

Kouki berkeringat, takut, bingung. Ia merasa tidak kenal siapa pria yang di hadapannya saat ini.

"Kau sepertinya lupa aku, ya?"

Ia makin bingung.

"Dengar... aku—

"Kouki." suara tegas nan keras dan tidak bersahabat menghampiri mereka berdua.

Ia segera sadar, langsung melepaskan tangannya dari pria berambut hitam tersebut.

"Siapa anda?" tanya Seijuurou dingin.

Kouki bergidik takut saat mata pria tersebut menatapnya dengan intens. Seakan siap menerjangnya kapanpun. Kouki dengan langkah lambat dan mata waspada terhadap pria tersebut, berjalan ke arah Seijuurou. Menggenggam tangannya erat dan menyembunyikan dirinya di balik punggung Seijuurou.

Pria berambut hitam itu menatap dingin dengan penuh intimidasi kepada mereka berdua. Setelahnya tersenyum sinis. Aura dingin mampir di sekitarnya.

"Kutanya, siapa anda?" ulang Seijuurou.

"Ah..." senyuman miring menghiasai wajahnya.

Senyuman tersebut di mata Kouki sangat menyeramkan. Makin menggenggam erat tangan Seijuurou, menempelkan dahinya di lekukkan lehernya. "Sei, aku takut." gumamnya sangat pelan.

Menyadari ketakutan suaminya, Seijuurou mencium pucuk kepalanya. Dan mengusap pelan tangannya. Mencoba menenangkannya.

Dan bagi pria itu, pemandangan di depannya sangat menggangu. Dengan gerakan cepat, menarik kasar lengan Kouki di balik punggung Seijuurou. Dengan sigap menangkap Kouki yang hampir jatuh.

Jantung Kouki berdegup kencang. Takut. Dia takut apa yang terjadi bila dia jatuh dari hentakan yang cukup kencang tadi. Peluh menghiasi wajahnya takut. "Sei…."

Seijuurou mengumpat kasar. Ia lengah. Ia melihat Kouki berusaha melepaskan genggamannya. Hendak menarik lengan Kouki untuk merebutnya kembali. Pria tersebut menarik dagu Kouki dengan kasar ke arah wajahnya. Kouki mengaduh. Seijuurou mencoba untuk tenang saat Kouki di dalam pelukan erat pria berambut hitam tersebut.

"Akashi Seijuurou. Kau seharusnya tahu kalau Furihata Kouki bukanlah milikmu."

Kouki menghentakkan kakinya, menendang kaki pria berambut hitam itu berkali-kali. Tangannya memukul, mendorong tubuh pria tersebut.

"Aku, Mibuchi Reo, adalah tunangan Furihata Kouki sebelum kau merebutnya, Akashi Seijuurou."

Kedua mata Kouki terbelalak kaget. "Tunggu, maksudmu apa? Hei... lepaskankan aku."

Pandangan mata Seijuurou sangat tenang. Dan mengintimidasi.

Pria berambut hitam – Mibuchi Reo, merasa tertantang, ia menekan tenguk Kouki dan menciumnya dalam, kasar.

Kouki makin memberontak. Air matanya mengalir keluar, ketakutan. Kakinya terus digerakkan, tangannya mencoba mendorong sekuat tenaga tubuh Mibuchi. Kouki menutup kuat bibirnya. Berusaha untuk tidak diterobos.

Sebelum mereka selesai, Seijuurou menarik kasar lengan Kouki yang mengakibatkan bibir Kouki sedikit terluka, berdarah.

"Hm... tidak buruk." ungkap Mibuchi, sambil menjilat bibirnya dengan gaya sensual. "Aku tidak menye-"

Kepalan tangan mendarat panas di pipi Mibuchi, memar memaparkan bekas. Seijuurou sudah sampai batasnya. Kouki hanya berlindung di belakangnya, sambil menggenggam kuat tangannya. Terisak.

"Dengar ya, Kouki. Pria yang bersamamu sekarang bukanlah pasanganmu. Dia hanya memanfaatkanmu." Mibuchi berucap dengan sinis dan berlalu sambil memegang pipinya yang sepertinya luar biasa sakit.

Kouki menatap Seijuurou, masih terngiang kata-kata Mibuchi. "Sei..."

Seijuurou hanya menatapnya dingin.


Bab 3

.

Mistery

..

Suatu Hari di Toko Buku, Ada Orang Asing

...

Written by : Nenami Megumi

To be continue


.

.

Thank you so much. Please read review our fanfiction. :')