BaekKisseu

.

by. SHY Fukuru

.

.

.

ChanBaek

.

HunHan

.

.

.

Part #3

Oh, Oh My GOD! He…

.

.

.

'hiks'

'hiks'

Baek Hyun masih terisak dalam dekapan Se Hun, memeluk erat tubuh tegap namja berkulit putih pucat itu.

"Nonna, mianhae…"

'hiks'

'hiks'

"Euh..Baek Hyun, ini aku bawakan-kau minuman dan makanan untuk-mu. Kau pasti lapar karena menangis terus.", tiba-tiba Kyung Soo datang sambil menyodorkan barang-barang ditangannya..

"Gomawo, Soo-ah!", Baek Hyun melepaskan pelukannya dan mengambil botol air mineral dan kantong plastic berisi 2 roti gandum dari Kyung Soo. Se Hun hanya diam dan melihat kearah Kyung Soo.

"Sunbae, boleh aku bicara sebentar…berdua?", tanya Se Hun kepada gadis bermata tupai itu.

"Tentu saja."

"Baek-noona, aku pergi dulu dengan Kyung Soo-sunbae, ne.", Baek Hyun mengangguk dengan mulut penuh makanan, dan setelahnya Se Hun dan Kyung Soo keluar ruang kesehatan.

.

.

.

.

.

"Ah, Se Hun…ada apa ya?", saat ini Se Hun dan Kyung Soo berada agak jauh dari ruang kesehatan.

"Sunbae…sebenarnya apa yang terjadi pada Baek Hyun-noona? Siapa yang berani melakukannya?!"

"Dia…Park Chan Yeol dan—"

"APA?! PARK CHAN YEOL?!"

"Se Hun, kau kenal dia?!"

"Sebenarnya sih tidak."

"….."

"Memangnya siapa dia?", Kyung Soo mendengus.

"Dia Songsaenim baru disini…"

.

. FLASHBACK

.

"Annyeong, yeorobeun~"

"Annyeong~", seorang namja yang dikenali sebagai Kepala Sekolah disana—Jung Yun Ho—memasuki salah satu kelas, dan tak lupa menyapa para murid.

Yun Ho melihat ke meja guru dan menghela nafas. " Amber-saenim belum datang?", tanya Yun Ho dan dibalas gelengan kepala sebagian murid, ya sebagiannya lagi acuh dan sibuk dengan dirinya sendiri.

"Eum, Baiklah. Hari ini Saenim memabawa seseorang kemari dan dia-"

"Apa dia murid baru, Saenim?"

"Yeoja?"

" Atau namja?!"

Dan kelas mendadak gaduh, dan lagi Yun Ho hanya menghela nafas-nya. Ya Tuhan… "Dia Saenim baru!", dan detik berikutnya wajah siswa-siswi kelas itu berubah.

Berubah masam.

" Park-saenim, masuk-lah.", Yun Ho melihat ke depan pintu kelas dan seorang namja tinggi dengan baju formal masuk.

"Annyeong, yoreobun!"

"…."

'krik'

'krik'

'krik'

PAK

Yun Ho menepuk dahi-nya. Murid-murid itu hanya melihat namja tinggi yang baru saja memasuki kelas mereka itu dengan tatapan aneh, mulut yang terbuka, dan hidung yang kembang-kempis.

"Ya Tuhan, bisakah kalian menjawabnya?!", detik-detik berikutnya dengan serempak para murid-

"ANNYEONG!", sebenarnya hanya murid yeoja saja, dan para namja hanya bisa mendengus pasrah.

"Park Chan Yeol imnida, aku akan menjadi guru-sejarah kalian untuk 4 bulan kedepan. Bangapta." Chan Yeol membungkuk kecil, dan tersenyum membuat para murid yeoja hanya bisa menekan dadanya yang menyesak. Apalagi dengan suara berat itu.

Ya Tuhan.

" Baiklah, karena kelas kalian satu-satunya yang tidak ada penjagaan pengajar, aku akan meninggalkan Park-saenim disini. Bolehkan?" Yun Ho melihat ke Chan Yeol.

" Tentu, Sangjangnim."

" Kuharap kalian bisa menjaga sikap kalian, Annyeong." Namja tampan itu pun keluar kelas dengan perasaan tidak tenang.

" Err…mungkin aku akan memulainya dari nama kalian. Dari kau…" Chan Yeol menunjuk namja yang duduk di kursi depan, baris pertama.

" Chen Kim." Lalu…

" Lee Eun Kwang."

" Kim Min Seok."—dan bla-bla-bla-bla~

" Shim Chang Min."

" Do Kyung—"

TOK

TOK

TOK

Semua murid bisa mendengar suara ketukan jendela di-samping Kyung Soo yang saat ini menampakan raut wajah aneh.

'O—ow…' batin Kyung Soo.

Chan Yeol berjalan ke-arah tempat Kyung Soo, dan melihat kerah jendela.

"Soo, buka…"

Chan Yeol menyuruh Kyung Soo menyingkir dari sana dengan bahasa tubuh, lalu mendekat memegang kedua kenop jendela dua pintu yang masih tertutup itu.

"Kyung Soo…"—dengan cepat Chan Yeol membuka jendela dan dengan cepat juga sesosok melompat dan hinggap di jendela. Seperti Spider-Unknow Gender…

DEG

hening

Wajah Chan Yeol dan sosok itu begitu dekat, bahkan hidung mereka bersentuhan. Ia membulatkan matanya sebagai bentuk pengekspresian keterkejutannya.

Bukan hanya Chan Yeol, tapi sosok itu juga terkejut, dan karena terlalu terkejut sosok itu limbung dan hampir terjengkang kebelakang sebelum Chan Yeol menahan pinggang sosok itu dengan kuat membuat tubuh sosok itu tertarik kedepan…

Dan, Chan Yeol hanya tahu sesuatu menekan bibirnya…

1

2

3

4…

Sosok itu melebarkan matanya, dan…"KYAAA!" mendorong tubuh Chan Yeol yang tidak ber-efek sama sekali dan malah membuatnya terjengkang kebelakang.

DUK

" YA! APPO!", pekik sosok itu yang ternyata…

" YA! Adik kecil, kenapa kau ada disini?!"

.

. FLASHBACK OFF

.

" Aku terlalu shock untuk mendengarkan apa yang mereka perdebatkan tentang 'adik kecil' atau apalah. Yang aku tahu Baek langsung memanjat jendela dan berteriak kalau dia akan ada di ruang kesehatan.", kata Kyung Soo sedikit bergumam. Se Hun?

DUK

Menepuk dahinya.

"Ya Tuhan! Ternyata…", Se Hun benar-benar tidak menyangka sebegitu berlebihannya Baek Hyun. Padahal dia saat ia datang ke kelas Baek Hyun dan tahu kalau ternyata yeoja itu di ruang kesehatan, ia sangat panic. Dipikirannya yeoja nakal, usil dan Llalala itu mungkin jatuh dari lantai satu atau apalah yang sepertinya juga terlalu berlebihan walau sedikit benar adanya.

Dan saat bertemu Baek Hyun di ruang kesehatan, mendengarkan kata-kata yang diucapkan dari yeoja itu, Se Hun benar-benar frustasi. Dia benar sangat takut kalau ternyata yeoja yang sangat ia sayang, mungkin saat dalam perjalanan kekelasnya bertemu namja yang punya dendam dengan Baek Hyun, lalu membawanya ke-atap sekolah dan memperko-SHIT.

Oh dia SANGAT frustasi dan ternyata hanya—ARGH!

"Tidak usah sefrustasi itu, Hun.", Kyung Soo menepuk-nepuk bahu Se Hun keras membuat namja termuda itu melirik kesal kearahnya.

"Ya sudahlah, ayo kita kembali. Pasti Baek hyun mencari kita.", lanjut Kyung Soo bergumam lagi.

"Ya."

.

.

.

.

.

"Se Hun, Kyung Soo! Kemana saja kalian?!", sungut Baek Hyun.

"Membicarakan sesuatu yang ternyata tidak terlalu penting-penting sekali.", gumam Se Hun malas. Dan Kyung Soo terkekeh kecil melihat raut wajah kusam namja berkulit putih pucat itu.

"YA! Bicara yang jelas. Kau bergumam seperti Kyung Soo!"

"EH? Hei, Baek. Aku tidak bergumam."

"Sudahlah, bahkan tadi kau bergumam."

"YA! Aku tidak bergumam!"

"Kyung Soo penggumam, penggumam, penggumam…"

"BYUN BAEK—"

"OH TUHAN, KUMOHON DIAMLAH!", pekik Se Hun, dan dua yeoja itu hanya membuang muka satu sama lain.

Se Hun menghela nafas. Dia tidak menyangka kalau Kyung Soo yang pendiam bisa berubah agresif karena sulutan dari Baek Hyun. Se Hun menatap Baek Hyun yang masih berkomat-kamit dan mengalihkan ke Kyung Soo yang sama juga berkomat-kamit tak jelas.

"Huft, sudahlah. Aku kembali kekelas.", Kyung Soo berjalan menjauh, pergi dari ruangan kesehatan.

"Baguslah!", ketus Baek Hyun.

"Tsk! Baek-noona kenapa kau bersikap seperti itu pada Kyung Soo-sunbae? Dia sudah baik padamu."

"Terserah aku kesal padanya."

"Eh? Bukannya kau yang pertama mengejeknya?"

"Tapi, tapi-kan dia—Kyung Soo, eh…Huft, iya aku salah!", Baek Hyun menunduk. Se Hun mendekat dan mendudukan dirinya di atas brangkar, disamping Baek Hyun.

Namja tampan itu tersenyum simpul memandangi yeoja bermarga 'Byun' ini, dan mengelus kepala Baek Hyun. Yeoja itu mendongak kesamping, menatap segan kearah namja yang sudah ia anggap sebagai keluarganya ini.

"Uhm, Se Hun. Aku ingin minta maaf tentang surat cintamu itu.", Se Hun terdiam.

"Kemarin aku menggoda Lu Han-sunbae dengan cara membacakan surat darimu.", Se Hun menjentikan lidahnya.

" Tak apa."

"Tapi, Sepertinya dia tidak tahu siapa pengirim dan apa isi surat itu. Ya…karena aku sudah merebut nya lebih dulu.", Baek Hyun menunduk.

"Maafkan ak—"

"Terima kasih.", Baek Hyun memandang bingung Se Hun.

"Eoh?"

"Terima kasih. Kalau kau tidak mengambil surat itu, mungkin saat ini aku sudah jadian dengan Lu Han-sunbae. Terima kasih."

"Se Hun, kau membuat-ku takut. Kau marah padaku?" Se Hun tersenyum simpul pada Baek Hyun.

"Tidak, aku tidak marah."

"Tapi…bukankah jadian dengan yeoja itu impian-mu?"

"Mungkin tidak lagi." Baek Hyun membulatkan mata sipitnya, menatap tak percaya Se Hun.

"Sekarang aku tahu, apa yang dibalik topeng-nya."

Di tempat yang sama, seorang yeoja menguping pembicaraan Baek Hyun dan Se Hun di pintu ruangan. "Jadi, namja itu pengirim suratnya."

Lu Han

.

.

.

.

.

"Baiklah, sepertinya cukup untuk perkenalan kita. Sampai jumpa untuk pertemuan selanjutnya."Chan Yeol tersenyum ramah keseluruh penjuru kelas, membuat suara gemuruh di dada kiri para siswi.

"Khamsahamnida, Saenim." Semua penghuni kelas itu berhamburan keluar dengan tertib. Chan Yeol pun keluar kelas, ia terus berjalan sampai ia berhenti di depan sebuah ruangan.

"Kemana dia?" gumamnya. Chan Yeol memasuki ruang itu dengan pandangan menelaah setiap kasur yang sudah disiapkan.

"Hei, kenapa kau ada disini, eoh?!", Chan Yeol membalikan badannya dan mendapati yeoja (manis, sebenarnya) yang tadi pagi jatuh dari jendela kelasnya berdiri dengan angkuhnya.

"Mengunjungimu, kau jatuh dari jendela bukanlah masalah kecil."

"Itu tidak parah." Baek Hyun berjalan mendekati brangkar paling ujung, tempat tadi ia dirawat lalu duduk disana.

"Kau tidak akan pulang?"

"Tidak, sebelum Se Hun menjemputku."

DRRRT

DRRRT

Baek Hyun merogoh benda persegi di kantung tersembunyi di roknya. Lalu menekan beberapa tombol. Wajahnya berubah masam saat melihat beberapa deretan kata-kata yang terpampang di benda itu.

"Hun, bodoh!" Gumamnya dan berjalan kearah Chan Yeol, lebih tepatnya melewati namja jangkung itu.

"H-hei! Mau kemana?"

"Pulang."

.

.

.

.

.

"YA! TUNGGUUUU", Baek Hyun berteriak pada Bus yang sudah sangat jauh darinya.

Yeoja itu menghela nafas pasrah. Ia tidak tahu kalau jam bus pulangnya itu 5 menit lebih awal dari jam tangan-nya.

Huft…

Baek Hyun berjalan lemas ke Halte, mendudukan dirinya di bangku paling ujung. Ia mengambil ponselnya dari kantung rok tersembunyinya dan membaca pesan dari Se Hun kembali.

Noona, ada sesuatu yang harus aku lakukan.
Pulanglah lebih dulu…

Mendesah berat. Biasanya pada jam ini ia sedang memukul punggung Se Hun karena namja itu mengantarnya pulang dengan motor sport namja itu dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang cepat. Tapi lambat—pelan.

Pergi sekolah dengan Bus, pulang dengan motor kura-kura Se Hun. Ah tidak, motor yang sebenarnya cepat hanya saja dikendarai kura-kura albino yang sangat mematuhi aturan.

Baek Hyun memijit pangkal hidungnya, saat seorang namja duduk tidak jauh darinya. Baek Hyun menyadarinya, hanya saja…begitu malas untuk mengetahui siapa itu.

" Pusing? Apa karena kejadian tadi?", suara berat yang sedikit familiar mengusik gendang telinga Baek Hyun. Baek Hyun menoleh malas, memberikan tatapan kesal kepada namja itu.

Seorang namja yang ternyata seorang lulusan S3 universitas sejarah di Amerika yang hanya membutuhkan waktu 3 tahun. Dan sekarang sedang mencoba mengisi waktu luangnya sebagai guru di sekolahnya dalam waktu 4 bulan sebelum bekerja menjadi dosen di universitasnya itu.

Park Chanyeol.

" Kenapa menatap ku seperti itu?" Baekhyun benar-benar akan mencekik namja ini, bagaimana bisa ia tidak mengerti tatapannya. Ugh, andai saja. Namun sialnya namja ini adalah gurunya.

Walau Baek Hyun yeoja nakal, tapi ia tahu Guru adalah salah satu pahlawan. Dan bila tak ada guru bagaimana bisa Korea menjadi negara maju.

Ya, ya seperti itulah.

"Ayo, pulang bersama.", Baek Hyun terdiam.

"Tidak perlu."

"Teman yang menjemput-mu itu tidak ada, bukan? Dan…yang kutahu Bus akan ada 3 jam lagi."

Yeoja itu melirik Chan Yeol. "Dengan apa?"

"Mobilku.", namja itu menunjuk mobil Audi hitam yang terpakir tak jauh dari mereka berada.

"Mau tidak?", Baek Hyun masih terdiam tapi juga berpikir.

Menunggu Bus 3 jam lagi…

Atau...

ikut namja menyebalkan ini?

Sedikit ragu, tapi mau bagaimana lagi? Ia sangat lelah. Dan benar kata namja tadi, kepalanya sedikit berdenyut akibat kecelakaan tadi pagi.

"Baiklah..", Baek Hyun tahu namja itu tersenyum lebar padanya, tapi ia hanya membalasnya dengan senyum tipis.

Tipis sekali.

" Kalau begitu, Kajja!"

.

.

.

.

.

Baek Hyun memandang keluar jendela dengan mata yang terasa berat, ia mengantuk. Yeoja itu melirik namja yang duduk disampinya, duduk di kursi pengemudi. Terlihat begitu focus dengan jalanan, apalagi setelah Baek Hyun memberikan alamat rumahnya.

"Oh ya, Park Chan Yeol imnida. Bangapta, eumhhh…Namamu Baek Hyeon, bukan? Byun Baek Hyeon?"

"Ne, tapi panggil saja Baek Hyun, Saem. Baek Hyeon terdengar seperti Bacon!", jawab Baek Hyun sedikit terkekeh dan dengan suara sedikit serak.

Ya Tuhan…

'Namaku..' batinnya.

"Aku guru magang baru disekolah-mu. Kau tahu?"

"Ne, temanku sudah menceritakannya. Kita berselisih 4 tahun."

"Hm, dan aku tidak mengira kau sudah Senior High School. Wajahmu…"

"Baby Face?", Baek Hyun melirik Chan Yeol yang tersenyum kikuk, membuatnya tanpa sadar tersenyum kecil.

"Huft, Saem adalah orang ke-tak terhitung yang berpikir seperti itu padaku." Baek Hyun memandang wajah Chan Yeol.

Matanya yang besar

Hidung mancungnya

Pipi berisinya…

dan

DEG

Ya Tuhan

BIBIR ITU!

Bibir yang mengambil ciuman pertamanya.

Ciuman yang seharusnya untuk cinta pertama Baek Hyun.

Baek Hyun benar ingin menangis lagi.

Chan Yeol menyadari bahwa ia sedang diperhatikan, dan ikut melirik Baek Hyun. Dalam pandangan seorang Park Chan Yeol, sorot mata Baek Hyun yang terlihat kelelahan apalagi suara seraknya tadi itu.

" Kau mengantuk? Tidur saja. Aku akan membangunkanku bila sudah sampai.", tanpa basa-basi Baek Hyun langsung mengangguk dan memejamkan matanya.

Antara malu karena tertangkap basah memandangi wajah yang Baek Hyun akui tampan da juga memang ia benar-benar mengantuk karena kegiatan di ruang kesehatan tadi.

Menangis.

.

.

.

.

.

Baek Hyun merasa mobil yang mengantarnya berhenti. Sebenarnya Baek Hyun tidak benar-benar tidur, hanya memejamkan mata dan mengatur pikirannya agar tenang.

Senakal-nakalnya Byun Baek Hyun, tapi ia tidak ceroboh. Berduaan dengan seorang namja belum tentu pilihan yang baik. Apalagi dengan namja yang baru Baek Hyun kenal—walau Baek Hyun tidak pernah dan tidak mau mengenalnya—dan lebih lagi dengan namja yang lebih tua darinya.

Kalian tahu kalau,

Lebih TUA,

Lebih Berani.

Dengan prinsip Tidak Ceroboh-nya Baek Hyun selalu lolos dari balas dendam orang-orang yang pernah ia jahili.

Tapi, ayolah Baek Hyun, kau hanya belum benar mengenal Chan Yeol.

"Saem?" sahut Baek Hyun pelan yang pasti tak terdengar Chan Yeol yang lebih dulu menutup pintu mobil.

Dari kaca mobil, Baek Hyun dapat melihat Chan Yeol membuka kap mobil depan dan Baek Hyun tidak tahu apa-apa lagi karena kap nya menutupi kaca.

Baek Hyun memutuskan keluar mobil dan melihat apa yang dilakukan Chan Yeol.

"Saem, Waeyo?" tanya Baek Hyun sesopan mungkin.

"Ah tenang saja, hanya masalah kecil. Tidurlah lagi." Baek Hyun mengulum bibirnya.

"Tidak, aku akan kebelakang mobil. Di dalam sesak walau kacanya sudah dibuka.",

"Baiklah." Baek Hyun berjalan kearah belakang mobil. Sesekali menghirup udara yang sebenarnya tidak segar. Hanya alih-alih untuk menghilangkan sisa kantuk.

Baek Hyun bersandar pada belakang mobil. Dan tiba-tiba dua motor yang dikendarai 1 orang namja masing-masing berhenti didekatnya. Mereka tidak memakai helm dan salah satu namja itu membuatnya terkejut bukan main.

Namja yang di pujanya…

Namja yang ditunggunya…

Namja yang ia cintai…

" Kai Sunbae?"

" Agasshi, apa kau butuh pertolongan?".

"AHH!", Baek Hyun tersentak kaget karena namja yang datang bersama Kain-Sunbae nya berteriak.

"Kau BYUN BAEK HYUN, kan? Teman sebangku dari DO KYUNG SOO yang berciuman dengan Saem baru nan tampan itu?" Baek Hyun membeku.

Tunggu dulu…

Bagaimana namja ini tahu?!

Oh YA! Namja ini memakai seragam yang sama dengan namja sekolahnya.

"Eungh…" Baek Hyun melirik Kai dan mendapati wajah malas yang berbeda jauh saat tadi awal bertemu.

"Baek Hyun, mobilnya sudah baik. Ayo.", tiba-tiba Chan Yeol datang, dan…

"OMO KALIAN?!"

.

.

.

TO BE CONTINUED

A/N : NYAHAHAHA, sudah update lamaaa, ceritanya membosankan lagi.#merasa-gak?

Huhuhu jweongsong, gara-gara banyak tugas sekolah, lalu libur, lalu-lalu jadi lupa jalan ceritanya gimana. Alasan lain SHY terkena Writer Block.

Oh dan juga karena kepikiran banyak ide cerita baru, BANYAAAK banget. So, ya begitulah#ApahnyaSHY?!

Chap ini panjaaang banget. Tentu aja karena gak pake embel-embel di atas.

oKai, walau gitu minta banget reviewnya apalagi saran, mmhmmm.

SHY Fukuuu~ru