Beastly
Pair:
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rate: T
Status: Undetermined
Genre: Fantasy, Romance.
Summary:
It's all started with a single spell and everything in Kim Taehyung life is changed. And the only one person that can bring Taehyung's life back is Jeon Jungkook. / VKook, BL, AU. Inspired by 'Beauty and The Beast' and 'Beastly'.
Warning:
BL, AU, Fiction. Inspired by Beauty and The Beast and Beastly.
.
.
.
.
.
.
.
Part 2: Days With Kim
Setelah selesai makan siang, Kim mengajak Jungkook untuk belajar di ruang belajarnya yang berada di lantai satu dan bersebelahan dengan ruang kerja milik Kim Namjoon, pemilik rumah ini. Seokjin terlihat begitu gembira saat mengantar Jungkook ke ruang belajar milik Kim sedangkan Kim mengatakan kalau dia akan mengambil puisi sastra yang sudah dia cari di kamarnya.
Beberapa menit kemudian Kim masuk ke dalam ruang belajar dimana Jungkook sudah duduk menunggunya di sebuah kursi berlengan yang terbuat dari kulit berwarna coklat gelap yang terasa lembut dan sangat empuk hingga menenggelamkan tubuh Jungkook.
Kim berjalan masuk dan duduk di hadapan Jungkook, "Aku tidak tahu kau memintaku untuk mencari yang seperti apa. Tapi kuharap kau suka dengan pilihanku."
Jungkook berdehem pelan, suara Kim terdengar begitu berat dan dalam hingga dia agak gemetar, apalagi dengan kondisi wajahnya yang diperban dan membuat Jungkook agak ketakutan.
Kim meletakkan kertas yang dibawanya ke meja, "Ini 'The Abandoned' milik Mathilde Blind."
Jungkook agak tersentak saat mendengarnya, "Itu.. agak sedih, kan? Kenapa memilih itu?"
Kim mendongak menatap Jungkook, "Karena aku memang sedang diasingkan."
Jungkook menatap Kim dengan pandangan sedih, "Kakakmu bilang kau kecelakaan, sebenarnya kecelakaan apa itu?"
Kim mengangkat kepalanya dan menatap Jungkook, "Seokjin Noona bilang begitu?"
Jungkook mau tidak mau mengangguk.
Kim mendengus pelan, "Kalau begitu biarkan saja seperti itu."
Jungkook mengerutkan dahinya, "Jadi maksudmu kau tidak mengalami kecelakaan?"
Kim menggeleng, "Tidak, aku hanya sedang sial."
"Lalu apa yang terjadi pada wajahmu?"
Kim menatap Jungkook yang masih menatapnya dengan pandangan penasaran. "Kau mau melihatnya?"
Jungkook tersentak, dia menarik napas dengan keras atas tawaran tiba-tiba itu. "Kurasa.. tidak."
Kim mendengus dan meraih kembali kertas itu, "Kalau begitu sebaiknya tidak perlu bertanya soal wajahku."
Jungkook menunduk, mendadak merasa malu atas ucapannya yang pastinya menyinggung Kim. "Maaf,"
"And behold, like balm on her soul, while she sat by the wayside and wept. There came a forgetting of sorrow, a lulling of grief, and she slept. Yea, like the wings of a dove when cooing it broods on the nest. So the wings of slumber about her assuaged and filled her with rest."
Jungkook terdiam, mendengar Kim membacakan satu bait dari sajak itu membuatnya terdiam karena dia merasa Kim benar-benar menjadi 'dia', dia yang diabaikan dan duduk dalam kesendirian.
"Kau.. baik-baik saja?" tanya Jungkook pelan.
Kim menatapnya, "Aku hanya sedang menikmati hukum karma dalam hidupku."
Jungkook tersenyum kecil, "Aku akan membuatnya terasa lebih baik."
Kim mendengus walaupun sebentuk senyum hadir di wajahnya, "Aku tidak yakin."
Jungkook tersenyum lebar, "Aku akan menjadi tutor terbaik yang pernah ada."
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan baik untuk Jungkook dan Kim dan juga hubungan pertemanan mereka. Kim memang masih menutup diri, dia tidak banyak bicara sekalipun Jungkook sudah sangat berusaha untuk menghidupkan suasana. Biasanya Kim hanya akan menanggapinya dengan senyum tipis dan kadang dia akan tertawa kecil jika dia sedang dalam mood yang baik.
"Bagaimana perkembangan tutornya?" tanya Seokjin saat Jungkook turun untuk sarapan di pagi hari kedelapan sejak dia tinggal di rumah besar milik Namjoon.
Jungkook mengangguk kecil, "Baik, Kim sudah semakin mengikuti materi yang aku berikan. Hanya saja, aku butuh beberapa hal baru seperti bidang apa yang disukai Kim untuk membuat sesi tutor kami lebih menyenangkan. Sejauh ini aku hanya menjadi tutor dalam bidang sastra karena kelihatannya Kim lebih setuju dengan bidang itu daripada bidang yang sulit seperti kalkulus."
Seokjin mendengarkan penjelasan panjang Jungkook dalam diam kemudian dia melirik ke arah koridor yang mengarah ke lantai dua, "Kim suka musik."
Jungkook mendongak dari piring berisi sarapannya, "Musik?"
Seokjin mengangguk, "Dia suka musik, dia suka bernyanyi waktu dia kecil dulu." Seokjin menghela napas pelan, "Aku, Namjoon, dan Kim adalah teman baik sejak kecil. Kami selalu bersama sampai kemudian sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di keluarga ini."
"Apa.. itu?"
"Noona, aku mau sarapan bacon."
Jungkook terlonjak bahkan dia sampai menjatuhkan garpu yang dipegangnya sejak tadi ketika mendengar suara Kim dan langkah pria itu saat memasuki ruang makan.
Seokjin berdehem dengan suara agak keras, kemudian menatap Kim yang baru saja memasuki ruang makan dengan senyum lebar di wajahnya, "Kau mau bacon? Duduklah, akan aku minta koki membuatkannya untukmu."
Kim menarik kursi dan duduk di hadapan Jungkook yang sedang memainkan sarapan di piringnya dengan gugup.
"Hari ini kita belajar apa?" tanya Kim membuat Jungkook yang masih tegang menjadi terlonjak lagi.
"Uhm.. bagaimana kalau musik?" tanya Jungkook ragu.
"Musik?"
Jungkook mengangguk, "Alat musik apa yang bisa kau mainkan?"
Kim melirik Seokjin yang baru saja kembali dan bergabung bersama mereka di meja makan. "Aku suka piano."
"Kalau begitu kau akan bermain piano dan aku akan bernyanyi."
Kim memandang Jungkook kemudian mendengus pelan, "Memangnya kau bisa bernyanyi?"
Jungkook mendelik tidak terima, "Aku bisa! Lihat saja, kau pasti akan terpesona setelah mendengar suaraku."
Kim terkekeh, "Jangan terlalu percaya diri, Mr. Tutor."
"Aku bisa!"
"Ya, ya.."
"Kim! Aku benar-benar bisa bernyanyi!"
Seokjin tertawa saat Jungkook dan Kim berdebat dengan begitu seru dan melupakan dirinya yang masih duduk di meja makan bersama mereka.
Jungkook menunduk malu saat mendengar tawa halus Seokjin sementara Kim memutuskan untuk memakan makanannya dalam diam.
"Kalau ada Namjoon, dia pasti akan merengut tidak suka." Seokjin menatap Kim, "Kakakmu itu paling tidak suka jika ada yang ribut di meja makan, kan?"
Kim mendengus, "Dasar pria tua penuh aturan."
Seokjin terkikik manis, "Hati-hati, nanti kuadukan padanya."
Kim melirik Seokjin, "Kukira kau memihakku, Noona."
Seokjin tertawa lagi, dia menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Aku memihakmu. Aku selalu memihakmu."
Kim mengangguk acuh, "Baguslah."
Seokjin melirik Jungkook saat Kim sudah kembali sibuk dengan sarapannya. Seokjin mengedipkan sebelah matanya pada Jungkook seraya mengacungkan ibu jarinya. Seokjin jelas sangat gembira melihat perkembangan Kim yang semakin santai dan terbuka.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook sudah melewati sesi tutor musik selama dua jam dengan Kim. Kim sudah memainkan berbagai macam lagu dan Jungkook juga sudah beberapa kali bernyanyi. Dan harus Jungkook akui, bakat Kim dalam bermusik memang benar-benar nyata. Dia benar-benar hebat saat menarikan jemarinya di atas piano.
"Kim, mau coba bernyanyi?" tawar Jungkook.
Kim menggeleng, "Kau saja yang bernyanyi."
Jungkook menggembungkan pipinya, "Tidak seru. Aku bosan bernyanyi terus."
"Aku tidak bosan menjadi pengiringmu saat bernyanyi. Jadi bernyanyilah."
Jungkook mendesis kesal dan memukul bahu Kim, "Kau itu muridku! Menurutlah sedikit."
Kim melirik Jungkook, "Tidak mau."
Jungkook mendengus kemudian dia memalingkan pandangannya ke luar, "Sekarang sudah pertengahan musim panas, kan?"
"Ya, lalu?"
"Bagaimana kalau kita keluar dan membeli es krim dan semangka? Mereka enak sekali dimakan di tengah musim panas seperti ini!" ujar Jungkook semangat.
Kim menggerakkan dagunya pada pelayan yang sedang membersihkan meja di ruangan tempat mereka berada, "Kau bisa meminta mereka pergi membelinya."
Jungkook menggeleng, "Aku tidak mau, ayo kita pergi dan membelinya."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?" rengek Jungkook.
Kim memandang Jungkook dengan tajam, "Kau tidak melihat bagaimana penampilanku? Semua orang di kota akan berlarian saat melihatku."
Jungkook mengerucutkan bibirnya, "Kau cuma pakai perban di wajahmu. Apa salahnya dengan perban di wajah? Itu bukan dosa."
Kim menghela napas pelan, "Aku tetap tidak mau keluar."
Jungkook meraih lengan Kim dan mengguncangnya pelan, "Ayolaah~"
"Tidak,"
"Kim, kau baik sekali jika kau mau menemaniku keluar dan membeli es krim."
"Aku memang tidak baik. Aku jahat."
Jungkook mendesis, "Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang dengan terang-terangan mengaku kalau dia jahat."
Kim melirik Jungkook yang sekarang duduk di sebelahnya di depan piano, "Nah, itu aku."
Jungkook menghela napas pelan, "Ayolah, sekali saja. Nanti musim panasnya habis."
Kim tertegun, kalau musim panasnya habis, maka musim gugur akan segera muncul dan setelah musim gugur adalah waktunya musim dingin dan itu berarti..
"Kim? Kau melamun?"
Kim tersentak dan menggeleng pelan, "Tidak, aku tidak melamun."
"Kalau begitu ayo kita pergi membeli es krim."
Kim menghela napas, "Tidak mau."
"Kim, ayolaaahh~" rengek Jungkook lagi.
Kim menggeleng, "Tidak, di luar panas. Aku bisa terpanggang nanti."
Jungkook mengerutkan dahinya, "Bicara soal itu, kenapa kau mengenakan turtle neck di musim panas?"
Kim terdiam, gerakannya yang sedang menekan tuts piano terhenti.
"Apa kau tidak merasa panas?" tanya Jungkook lagi.
Kim mengangkat jemarinya dari tuts dan menyentuh kerah kausnya.
"Kim?"
Kim berdehem, "Tidak ada, aku memakainya karena ini membantuku menyembunyikan wajahku. Perban hanya menutupi sampai bawah daguku."
Jungkook bergerak mendekati leher Kim untuk memperhatikannya, "Memangnya lehermu juga terluka?"
Kim bergeser menjauh, "Menjauhlah."
"Apa? Aku kan penasaran." Jungkook berusaha mengintip di balik kerah pakaian Kim.
"Jungkook, sudahlah."
Jungkook tidak menyerah dan dia berhasil menarik kerah pakaian Kim dan dia melihat garis merah terbentuk di sepanjang leher Kim, seperti bekas cekikan.
"Kim.. ini.."
Kim menyentakkan kembali kerahnya untuk menutupi lehernya. "Aku depresi, kau tahu? Aku tidak bisa bertahan dengan wajah seperti ini dan kemudian suatu hari aku.. mencoba membunuh diriku sendiri."
Jungkook terkesiap, dia tidak bisa berkata apa-apa saat seseorang benar-benar mengatakan kalau dia bermaksud untuk membunuh dirinya sendiri.
"Kim.."
"Untungnya Namjoon Hyung berhasil mendobrak masuk ke kamarku saat aku baru kehilangan kesadaran. Dia mengundang dokter terbaik ke rumah dan merawatku di sini, dia tahu kalau aku tidak pernah mau bertemu dengan orang asing lagi sejak wajahku berubah. Aku ingat Seokjin Noona menangis hebat karena dia takut aku akan mati sehingga akhirnya dia menyarankan untuk menutupi wajahku dengan perban jika aku memang tidak ingin melihat wajahku lagi."
Jungkook mengelus bahu Kim dengan lembut, dia tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan untuk menenangkan Kim. Dia tidak tahu kalau Kim pernah merasa seperti itu dan bahkan berniat untuk membunuh dirinya sendiri.
"Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu merasakan itu lagi." Jungkook berbisik pelan.
Kim tertawa sinis, "Kau tidak akan bisa menjamin itu."
Jungkook memeluk bahu Kim dengan hati-hati dan untungnya Kim tidak menolak sentuhan ringan itu. "Aku bisa. Aku pernah melihat yang lebih buruk darimu yang hanya seorang pria dengan wajah yang diperban. Aku akan baik-baik saja." Jungkook melepaskan pelukannya dan meraih wajah Kim agar menatapnya, "Lagipula kau orang baik, Kim. Dan bagiku itu sudah cukup." Jungkook tersenyum manis pada Kim hingga gigi kelincinya yang imut itu terpampang dengan jelas.
Kim terdiam dengan pandangan yang terpaku pada wajah imut Jungkook saat tersenyum lebar padanya. "Ya, benar. Kau tidak takut padaku, bahkan kau tidak bergidik sedikitpun walaupun kau berada sangat dekat denganku."
Jungkook menatapnya dengan binar jenaka di matanya, "Itu benar!" ujarnya gembira. "Nah, sekarang ayo beli es krim."
Kim mengerang, "Aku tidak mau."
"Ayolah, percaya padaku."
.
.
.
.
.
.
.
Kim tidak yakin apa yang salah dengan otakknya atau apa memang Jungkook memiliki kemampuan membujuk luar biasa karena saat ini dirinya berakhir dengan berjalan bersama Jungkook di trotoar. Kepalanya tertutup hoodie sementara Jungkook di sampingnya berjalan dengan riang dan sama sekali tidak mempedulikan beberapa pejalan kaki yang menatap mereka.
"Oh, itu kedai es krimnya!" pekik Jungkook senang kemudian dia menarik Kim masuk ke dalam.
Ketika mereka melewati pintu, 90% atensi dari pengunjung kedai langsung terarah pada mereka. Tapi Jungkook tidak peduli, dia justru memperhatikan sekitar dan segera menarik lengan Kim saat melihat sebuah meja kosong di dekat jendela.
Kim merutuk dalam hati saat mereka duduk di sana karena dia akan semakin terekspos, terlebih lagi saat ini pejalan kaki sedang ramai.
"Tidak bisakah kita membelinya kemudian memakannya di rumah?" tanya Kim seraya menarik turun hoodienya agar semakin menutupi kepala dan wajahnya.
Jungkook menggeleng, "Es krim yang enak adalah es krim yang dinikmati secepatnya."
"Aku tidak tahan dengan pandangan yang diberikan padaku."
Jungkook menatap sekeliling dan sebenarnya dia sadar kalau sejak tadi semua orang memperhatikan Kim.
"Kalau begitu, biarkan saja."
"Hah?" ujar Kim saat mendengar nada bicara Jungkook yang santai.
Jungkook mengulurkan tangannya untuk menangkup wajah Kim, tekstur perban sangat terasa di jemari Jungkook tapi dia juga bisa merasakan kehangatan dari suhu tubuh alami Kim.
"Kau tidak perlu mempedulikan mereka, lihat aku saja. Aku yang mengajakmu keluar dan kau hanya harus memusatkan perhatianmu padaku."
Kim terdiam, kemudian dia melepaskan tangan Jungkook dari wajahnya. "Kita akan terlihat seperti sepasang kekasih kalau kau bersikap seperti itu."
Jungkook mengerjap kemudian wajahnya perlahan-lahan merona parah. "Uuhm.. aku akan memesan es krim. Kau mau rasa apa?"
"Cokelat." Kim menyahut datar dan Jungkook segera berlari untuk memesan es krim.
Kim tersenyum kecil melihat Jungkook yang berlari kecil. Dia harus mengakui kalau tadi Jungkook memang sangat dekat dengannya. Itu sudah jauh lebih intim dari sekedar hubungan antara tutor dan muridnya.
"Kulihat kau sudah mendapatkan seseorang."
Kim tersentak saat suara seseorang masuk ke ruang pendengarannya, dia berbalik dan melihat seorang gadis dengan rambut pirang dan aksen ungu sedang berdiri di belakangnya.
"Kau.."
Gadis itu tertawa, "Aku punya nama, kau tahu? Namaku Kendra."
"Aku tidak peduli siapa namamu. Kau sudah menghancurkan hidupku, ambil kembali mantra sialanmu itu dan kembalikan wajahku."
Kendra tertawa, "Tidak, aku tidak bisa melakukan itu."
Kim menggeram marah sementara Kendra hanya menatapnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Aku yakin kau bisa, Kim." Kendra menekankan nada suaranya saat mengucapkan 'Kim'. "Mantra yang sudah diucapkan tidak bisa diambil kembali dan kutukanmu akan terpatahkan kalau kau bisa membuat seseorang mengatakan 'aku mencintaimu' dengan tulus padamu."
Kim menatap Kendra dengan tajam, "Sebenarnya apa salahku hingga kau melakukan ini padaku?"
Kendra tersenyum miring, bibirnya yang dihiasi dengan lipstick berwarna hitam itu membentuk sebuah lengkungan tipis. "Aku hanya menghukummu, karena kadang yang terbaik adalah yang terburuk. Dan aku.. aku hanya mengubah wajahmu menjadi sama seperti hatimu."
"Apa kau memiliki dendam padaku?"
Kendra menggeleng, "Aku tidak, tapi banyak gadis yang memilikinya. Aku hanya membantu mereka karena mereka tidak memiliki kemampuan sepertiku untuk membalasmu." Kendra melirik Jungkook yang kelihatannya sudah selesai memesan es krim, "Tutormu akan segera kembali, aku harus pergi."
Kendra berjalan bersamaan dengan Jungkook yang tiba di meja mereka.
"Kendra?" ujar Jungkook kaget.
Kendra tersenyum pada Jungkook, "Hallo, Jungkook."
Jungkook menatap Kendra dan Kim bergantian, "Kalian saling mengenal?"
"Tidak," ujar Kim tegas.
Kendra tersenyum pada Jungkook, "Aku hanya menghampirinya karena dia.. unik."
Kim mendengus keras saat mendengar itu.
Jungkook mengangguk paham, "Oh, oke."
Kendra mengelus pipi Jungkook lembut, "See you when I see you.."
Jungkook mengangguk, "Uh, tentu."
Kendra berlalu meninggalkan Jungkook dan Jungkook segera duduk di hadapan Kim.
"Kau mengenal gadis aneh tadi?" tanya Kim.
Jungkook mengangguk, "Dia salah satu mahasiswi di universitasku. Dia aneh, tapi menurutku dia tidak seaneh itu. Dia lumayan baik kalau kau sudah berbicara dengannya."
"Kau dekat dengannya?" desis Kim dingin.
Jungkook menggeleng, "Kami pernah satu kelompok dalam tugas dan sejak itu aku hanya akan menegurnya tiap bertemu dengannya seperti tadi." Jungkook menyodorkan es krim yang dipesannya, "Ayo makan, nanti meleleh."
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook sedang tertidur dengan nyaman ketika tiba-tiba saja dia terbangun karena rasa haus yang menderanya. Jungkook menggerung kesal karena tidurnya terganggu, dia menyibak selimutnya dan melirik meja nakasnya yang kosong.
Erangan kesal keluar dari bibir Jungkook saat dia menyadari kalau dia lupa mengambil segelas air sebelum tidur. Dia bergerak bangun dengan mata setengah terpejam kemudian menggaruk kepalanya.
Jungkook duduk diam di posisinya selama beberapa menit sampai akhirnya dia bangun dan berjalan keluar dari kamarnya untuk mengambil air di dapur. Sebenarnya dia malas, tapi rasa hausnya tidak bisa menunggu sampai sarapan nanti.
Jungkook berjalan menuruni tangga tanpa alas kaki dan karena nyaris seluruh lantai di rumah ini tertutup permadani, langkah Jungkook sama sekali tidak terdengar.
Jungkook berjalan semakin cepat saat dia sudah mendekati dapur namun dia tertegun saat melihat cahaya dari pintu ruang kerja Namjoon yang sedikit terbuka.
"Bagaimana keadaan Taehyung?"
Jungkook bisa mendengar suara berat Namjoon saat dia sudah semakin dekat dengan ruang kerja itu.
Tapi, tunggu dulu..
Taehyung?
"Taehyung baik, dia dan Jungkook semakin dekat. Bahkan empat hari lalu mereka pergi bersama untuk membeli es krim di luar."
"Taehyung pergi keluar?"
"Ya, aku senang sekali. Akhirnya dia bisa bangkit kembali sejak wajahnya berubah."
Jungkook bisa mengenali kalau yang sedang berbicara di dalam ruang kerja itu adalah Namjoon dan Seokjin. Tapi.. Taehyung?
Apakah nama Kim yang sebenarnya adalah Taehyung?
Dan jika itu benar maka Kim adalah Kim Taehyung?
Kim Taehyung yang itu?
Benarkah?
"Apa Jungkook menyadari kalau muridnya adalah Taehyung?"
"Kau tahu kalau Taehyung menyembunyikan identitasnya dari Jungkook. Mungkin Taehyung takut Jungkook mengenalinya, biar bagaimanapun juga mereka satu kampus dan dulu Taehyung lumayan terkenal."
Jungkook tersentak, dia nyaris saja jatuh terduduk karena terkejut saat mendengar informasi itu.
Jungkook terhuyung ke belakang dan tanpa sengaja dia menyenggol sebuah vas bunga dan membuatnya terjatuh. Suara gaduh itu membuat Seokjin dan Namjoon bergegas keluar dari ruang kerja mereka.
"Jungkook?" ujar Seokjin kaget.
To Be Continued
.
.
.
.
.
Part berikutnya adalah part terakhir dari Beastly! ^^v
See ya next part!
Do not forget to review and please do not be a silent reader.
.
.
.
.
Thanks
