Sebelum semua barang tersebut berjatuhan kelantai dengan sigap Edward mengambilnya. Terlalu cepat untuk standart manusia normal.
Aku menyambuti buku-buku, pena dan resume copy yang di berikan Edward padaku. Tanpa sengaja tanganku bersentuhan dengan tangan Edward yang suhu tubuhnya dingin. Terlalu dingin untuk suhu tubuh manusia normal.
Aku menengadahkan kepalaku melihat Edward yang tiba-tiba dengan cepat beranjak melewatiku dan pergi keluar kelas. Aku memandang pintu kelas tempat Edward keluar.
"Hinata kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Bella menghampiriku.
"Apa disini juga ada legenda tentang vampire?"tanyaku spontan.
Dan aku lihat wajah Bella memucat. Impossible.
.
.
Disclaimer:
Naruto by Masashi Kisimoto and Twilight saga by Stephanie Meyer
Moonlight created by Tsubasa XasllitaDioz
Warning: AU,OOC-maybe- and etc.
Pair: Edward Cullen and Hinata Hyuuga, slight Jacob-Bella
.
.
Summary: Apa yang terjadi kalau seandainya Bella lebih memilih Jacob saat 'New Moon'? Sanggupkah Edward bertahan dalam keterpurukannya? Dan disaat keterpurukan Edward datang murid pindahan dari Jepang yang aromanya lebih menarik Edward dari pada saat dia bersama Bella. Bagaimanakah kisah cinta terlarang ini terulang lagi? Apakah akan berakhir sama?
.
.
Chapter 3: Try To Find The Truth.
.
.
Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan notebook berwarna unguku yang sebelumnya dibelikan Tou-san di Jepang, untuk mencari satu kata. Vampire. Berkat teknologi sekarang segala informasi yang paling rumit pun dapat ditemukan. Salah satunya vampire. Makhluk legenda yang menghisap darah manusia sebagai makanannya, rentan terhadap sinar matahari, immortal, kuat, cepat, dan bersuhu tubuh dingin. Apa Edward benar salah satu makhluk legenda ini?
Baiklah mungkin aku yang terlalu banyak berfantasi tidak jelas seperti ini. Aku bahkan baru mengenal Edward selama 2 hari ini itu pun hanya 2 jam pada hari tersebut. Memutuskan kalau dia itu vampire mungkin hanya akan mengundang tawa konyol dai orang yang kutanyai soal itu. Tetapi, melihat reaksi Bella hari ini. Dia langsung pergi begitu saja dengan wajah pucat tanpa memberitahuku. Paling tidak dia bisa tertawa keras-keras dan bilang kalau. "Hinata itu konyol. Jangan terlalu banyak nonton film berbau horor hingga kau berfantasi yang tidak-tidak."
Dari ekspersinya itu aku bisa tahu kalau Bella mengetahui sesuatu tetapi dia tidak bisa mengatakannya. Darimana aku bisa tau? Itu karena ekspresi Bella begitu terlihat, dia seorang yang selalu spontan dalam bereaksi hampir sama denganku yang menurut Neji-nii yang bagaikan buku yang terbuka. Tetapi terkadang tindakanku terkadang tidak terduga berbanding terbalik dengan ekpresiku. Hingga hal itu-ekpresi Bella- lebih membuatku lebih penasaran seperti ini. Aku menengadahkan kepalaku keatas lalu bersandar pada sandaran kursi malas dibelakangku. Mencari informasi secara acak seperti ini sungguh melelahkan. Tidak setiap informasi yang aku dapatkan merupakan informasi yang dapat di percaya dan valid walaupun berbagai sumber menyatakan legenda tersebut dari Etymology ataupun dari Folk beliefs mythology yang tetap saja semua berhubungan dengan novel hasil karya dari Lord Byron yang menciptakan karakter Dracula yang katanya memiliki silsilah kekerabatan- entah dari mana- dengan vampire. Yang dengan jelas sang penulis menuliskan menekankan bahwa kisahnya hanya fiktif semata. Benarkah seperti itu?
"Kringg... Kringg.. Kringg.."
Suara nyaring telepon rumah dari lantai satu membuatku nyaris jatuh terjelembab dari kursiku. Segera saja aku meloncat menuju tangga dan mengambil telepon rumah tersebut dari gagangnya di ruang makan. Kalian pasti bertanya mengapa di jaman modern seperti ini tidak menggunakan handphone. Salahkan saja Forks yang tempatnya dekat dengan pegunungan hingga sinyal operator tidak sampai disini atau juga salahkan operator tersebut karena terlalu malas membuat tower sinyal di Forks.
"H-halo," jawabku dengan pelan.
"Halo bisa bicara dengan Hinata?" tanya seorang wanita dari seberang telepon.
"Y-yes, I am. Who's speaking?"
"Ini Bella, Hinata. Sorry mengganggumu malam-malam begini. Apa kau sudah tidur?"
"No problem Bells. Aku belum tidur."
"Apa kau besok kau punya waktu Hinata?" tanya Bella terdengar ragu.
"Tentu ada. Aku selalu punya banyak waktu di Forks ini," jawabku dengan tawa kecil untuk meringankan suasana.
Dari telepon aku dapat mendengar suara tawa Bella yang terdengar ringan. "Kalau begitu apa besok kau mau ikut denganku kesuatu tempat?"
"T-tentu aku mau. Tapi kalau boleh tahu sebelumnya, kita mau kemana?"
"Aku ingin menjawab pertanyaanmu di kelas tadi siang. Juga aku ingin memperkenalkanmu kepada seseorang."
"B-baiklah aku akan ikut."
"Oke. Besok pagi aku akan menjemputmu jadi kau tidak perlu bawa mobil. See you."
"See you."
Aku meletakan gagang telepon dengan sangat perlahan seolah takut kalau itu akan hancur ketika aku meletakannya. Dengan langkah perlahan aku menuju kamar tidurku yang bernuansa purple white dan menjatuhkan diriku diatas tempat tidurku. Aku merasakan pikiranku berkabut tidak jelas hingga tidak dapat berpikir lagi. Fine, mari aku telaah keadaanku saat ini.
Aku, Hinata Hyuuga. Murid pindahan baru yang tiba-tiba pindah dari tempat jauh bernama Tokyo ke Forks. Tidak terlalu aneh kalau aku menyeberang benua kan?
Selanjutnya, aku mendapatkan teman-teman yang baik disini. Seperti Bella, Jessica, Eric , Angelina dan lainnya. I am lucky for that.
Then, dikelas biologi aku mendapatkan teman sebangku yang kata Jessica sangat tampan. Memang aku akui Edward sangat tampan walau wajahnya pucat. Tetapi, bahkan sebelum aku duduk disebelahnya dia sudah pergi keluar kelas seolah tidak ingin melihatku.
After that, Edward tidak pernah masuk selama 2 minggu. Hingga aku mendapatkan pandangan tajam dari keluarga Cullen. Apa salahku? Apa aku yang menyebabkan Edward tidak masuk? Setahuku aku tidak pernah berbuat salah dengannya selain aku ingin duduk di bangku yang tersisa disebelahnya.
Finally, hari ini Edward masuk dengan segala keramahan tetapi langsung kabur begitu saja saat tanpa sengaja kulit kami bersentuhan. Hingga pikiranku berkabut hingga berspekulasi bahwa Edward seorang vampire.
Itu normal kan? Tentu saja tidak.
Aku tidak tahu berapa lama aku berpikir yang akhirnya tidak menghasilkan apa-apa hingga akhirnya aku jatuh tertidur dengan udara malam yang yang menghantarkan hembusan angin sejuk berwangi mint menerpa wajahku. Apa aku lupa menutup jendela?
.
.
.
Pagi tadi aku hampir kesiangan karena tidur terlalu lelap, membuat Bella harus menunggu 5 menit. Untungnya kami tiba di sekolah tepat waktu. Hari ini cuaca di Forks sangat cerah, matahari bersinar penuh tanpa terhalang awan gelap seperti biasanya. Aku cukup rindu dengan sinar matahari. Walau sebenarnya aku paling suka cuaca mendung ataupun hujan di sertai dengan kilatan petir. Menurutku pemandangan saat hujan tersebut sangat indah karena saat itu Tuhan menurunkan hujannya untuk meneruskan kelangsungan hidup makhluk hidup di daratannya. Walau tidak ku pungkirin aku terkadang rindu dengan sinar matahari yang bersinar.
"Hinata kita sudah sampai." Perkataan Bella membuatku tersadar dari lamunanku.
"Ah, ya." Aku keluar dari mobil truk Bella yang menurutku sangat antik. Kenapa di Jepang tidak pernah kulihat mobil seperti ini?
Aku mengedarkan pandanganku kesegala sisi tempat parkir sampai pandanganku terhenti ditempat keluarga Cullen biasa memarkirkan mobilnya. Ya, mobil yang terlalu mencolok di sekolah ini seperti kalau aku mengeluarkan mobil yang masih tersimpan rapi di garasi mobilku. Tetapi aku tidak menemukan Volvo ataupun BMW di parkiran ini.
"Keluarga Cullen tidak akan datang pada hari cerah seperti ini Hinata," kata Bella yang menjawab pertanyaanku.
Aku menundukkan kepalaku malu. Apa aku memang begitu mudah di baca."K-kalau boleh tau mereka kemana?"
"Izin untuk berburu."
"Apa?"
"Maksudku izin untuk kemping dan mungkin pergi berburu hewan. Keluarga Cullen memang biasa melakukannya saat cuaca cerah karena Forks jarang sekali mendapat cuaca bagus seperti sekarang." Bella buru-buru meralat perkataannya.
Aku mengangguk mengiyakan perkataan Bella. Kemudian berjalan masuk ke gedung sekolah.
"Oke Hinata nanti kita bertemu lagi disini seusai jam sekolah," kata Bella ketika kami hendak berpisah menuju kelas kami masing-masing.
"B-baiklah Bella. Sampai bertemu nanti."
.
.
.
"Aku belum pernah jalan-jalan sampai kedalam hutan Forks seperti ini Bella. Forks sungguh indah." Aku menatap pemandangan hutan-hutan hijau dari jendela yang terbuka. Sungguh disini pemandangannya sangat indah dengan cuaca yang juga indah bagiku. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Tou-san memilih Forks untukku.
"Yeah, tapi aku tidak terlalu suka dengan warna hijau. Di Forks semuanya berwarna hijau," sahut Bella. Aku hanya tersenyum kecil membalasnya.
Mobil truk Bella mulai memasuki jalan setapak yang sempit dan masuk kedalam hutan. Hingga akhirnya Bella memberhentikan mobilnya di depan rumah kayu yang begitu elegant dan terletak di dekat pantai Forks. Bella membuka pintu mobilnya kemudian turun, aku pun mengikutinya memasuki rumah tersebut.
"Hello," sapa Bella pada semua orang yang disana yang kebanyakan pria. Kecuali 2 orang wanita yang satu sedang duduk diatas pagar beranda rumah dan satu lagi sedang memasak di temani seorang pria.
"Hello Bells. Jacob sedang menyelesaikan urusannya dibelakang. Kau tahulah dia sering memakan makanan higienis dengan tidak menjadi satu diperutmya,"jawab seorang pria berkulit Tan dengan tatoo dilengan kanan. Tapi ketika aku perhatikan lagi semua memiliki tatoo di tangan kanannya dan bentuknya aktristik yang sama persis.
"Yeah, I know. Perkenalkan dia murid baru disekolahku, namanya Hinata Hyuuga." Bella memperkenalkanku hingga semua mata di ruang itu menatapku. Aku tidak terlalu nyaman ketika menjadi pusat perhatian seperti ini.
"H-halo a-aku Hinata Hyuuga. Nice to meet you."
Wanita yang tadi berada didapur berjalan mendekatiku, ketika dia berbailik aku dapat melihat bekas luka cakaran terbentuk di wajah mulusnya.
"Hay Hinata, aku Emily." Kemudian Emily menunjuk satu wanita lain yang sedang duduk dan hanya menatapku datar."Dia Leah Clearwater. Bella jarang sekali membawa teman wanitanya datang kemari, malah tidak pernah sama sekali."
"S-senang bertemu denganmu Emily." Emily tersenyum membalasnya.
"Bella," panggil seorang pria berkulit kecoklatan eksotis dengan mata yang tajam datang merangkul Bella.
"Hai Jake, apa kau sudah mencuci bersih tanganmu setelah urusan kebelakangmu selesai?" tanya Bella yang langsung mengundang tawa dari yang lainnya.
"Tentu Dear," jawabnya dengan mata penuh perhatian. Bella sungguh beruntung di cintai oleh pria seperti itu.
"Jake perkenalkan dia Hinata Hyuuga yang aku ceritakan padamu kemarin. Dan Hinata perkenalkan dia Jacob Black, hmm.."
"Kekasih Bella," sambungnya dengan penuh percaya diri membuatku tertawa kecil dibuatnya. Kuakui aku sedikit terpesona pada Jacob yang mempunyai garis wajah yang tegas, badan yang berotot dan pandangan mata yang tajam tetapi memiliki senyum yang cemerlang.
"Kau memliki kekasih yang sangat tampan Bella, kau beruntung."
"Wow, ini pertama kalinya kudengar Jake dikatakan tampan oleh seorang wanita. Kita harus merayakannya," teriak pria yang mengudang tawa dari semua dan sedikit senyum kecil dari Leah.
"Shut up Paul. Kau hanya iri karena hanya kakakku yang pernah mengatakan kau tampan, itu pun karena Rachel terlau banyak membaca buku hingga matanya sedikit kabur," balas Jacob.
"Oh Come on, jangan mulai seperti anak kecil kalian berdua. Hinata pastikan kalau kau jangan mengucapkan kata tampan pada semua pria yang disini karena mereka tidak pernah dipuji seprti itu," kata Bella dengan nada bergurau."Aku belum memperkenalkanmu pada Sam Uley dia pemimpin rombongan disini."
"Hello Hinata, aku Sam." Sam menjabat tanganku. Dari suaranya aku dapat mendengar sesuatu yang disebut wibawa pemimpin. Suaranya terdengar tegas. Tidak berbeda jauh dengan suara Jacob hanya saja suara Jacob belum terlalu tegas.
"Nice to meet you Sam."
"Me too."
Aku memandang sekeliling sekali lagi dan ketika pandangan mataku bertabrakan dengan Leah aku tersenyum kecil padanya yang dibalasnya dengan sebuah anggukan kecil. Mungkin Leah tidak seseram seperti yang terlihat. Aku melangkah keluar kondonium menuju beranda rumah kayu yang begitu cantik ini dan melihat pemadangan hutan Forks yang hijau bagaikan batu zamrud dan bentangan pantai dengna ombak cukup tinggi yang berwarna shapirre pudar dikarenakan cuaca yang mendung. Dari hutan aku melihat pohon-pohon berguncang puncaknya seperti sesuatu yang besar menerobos pohon-pohon tersebut. Aku nyaris tersungkur kalau saja tidak berpegangan dengan meja kayu terdekat dan seketika saja wajahku memucat melihatnya. Serigala putih hitam yang sangat besar menerobos keluar dari hutan dan langsung melompat mendekati rumah.
"Hinata." Bella langsung datang menyanggaku yang berdiri lemas dan membimbingku menuju kursi terdekat.
"Seth! Kembali kewujud manusiamu, kita kedatangan tamu baru hari ini dan kau menakutinya," kata Sam tegas. Serigala yang dipanggil Seth itu seperti mengerti hanya menundukkan kepala dan menuju pepohonan terdekat. Ketika aku melihat serigala itu menghilang dari balik pepohonan itu aku melihat seorang pria yang hanya menggunakan celana jeans selutut keluar dari sana. Oh my Gosh, apa yang sebenarnya ada di Forks ini?
"Hinata, apa kau baik-baik saja?" tanya Bella cemas.
"Y-ya kurasa aku baik-baik saja. T-tapi apa itu tadi? Serigala berubah menjadi manusia? Jangan bilang kalau..."
"Yang kau pikirkan benar Hinata. Kami semua-pria disini kecuali Leah- adalah werewolf." Sam menjawab pertanyaanku dengan tegas.
"Kau wanita kedua setelah Bella yang tidak pingsan setelah melihat werewolf didepanmu," sambung Jacob dengan nada jenaka. Aku mau tak mau hanya tersenyum terpaksa.
Seth datang mendekatiku yang terduduk di kursi kayu lalu kemudian berlutut menyamakan tingginya denganku. Dari dekat aku dapat melihat matanya yang coklat gelap menatapku penuh rasa bersalah. Seth memiliki tubuh yang lebih kecil dibanding yang lainnya mungkin dia yang termuda disini. Dia memiliki kulit yang lebih terang dibanding Jacob ataupun Sam tetapi tetap bernuansa coklat. Tetapi kalau di perhatikan ada beberapa kemiripan antara Leah dan Seth, mungkin mereka bersaudara.
"Maafkan aku. Aku tidak tau kalau ada tamu yang datang karena jarang sekali orang mau datang kesini. Maaf kalau aku menakutimu." Seth menunduk terlihat sangat bersalah.
"T-tidak apa-apa umm.. Seth. Aku tidak ketakutan hanya saja aku sedikit kaget," jawabku dengan tersenyum kecil.
"Terima kasih humm.."
"H-Hinata Hyuuga. Kau bisa memanggilku Hinata."
"Aku Seth Clearwater, senang bertemu denganmu. Dan wanita garang itu Leah Clearwater, saudara perempuanku. Dia pasti tidak berkenalan denganmu dengan cara yang sopan. Jadi sebagai adik yang baik aku memperkenalkanya padamu," ucap Seth yang mendapatkan lemparan batu mengenai kepalanya dari Leah.
"Auch.."
Aku tertawa melihatnya. Ketika aku menunduk aku lihat Seth sedang menatapku."A-ada apa Seth? Apa ada yang salah denganku?"
"Tidak, hanya saja baru kali ini aku mendengar suara tawa yang begitu merdu. Bahkan tawa Alice saja tidak semerdu sepertimu," jawab Seth terus terang. Dapatku rasakan wajahku memerah dan memanas.
Sebuah pukulan mendarat dikepala Seth dari tangan Quill."Hei anak kecil jangan membuat tamu kita menjadi malu seperti itu. Dia akan jadi milik seseorang."
"Uh, kau tidak perlu memukul kepalaku Quill. Aku tidak ingin bertambah bodoh sepertimu, kau tau!"
"Sudah hentikan kalian berdua. Kalau kalian samapi bertengkar seperti anak kucing akan kupastikan tidak akan ada makanan untuk kalian sampai besok malam," ujar Emily menengahi. Keduanya hanya saling melemparkan tatapan tajam dan berpaling.
Seth kembali duduk berlutut didekatku atau lebih tepatnya sekarang berjongkok."Umm.. Seth boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya, tanyakan apa saja Hinata."
"Apa kalian para werewolf bisa berubah semau kalian? Karena yang aku tahu werewolf hanya dapat berubah di malam bulan purnama."
Seth tertawa."Tidak Hinata, kami bisa berubah semau kami hanya saja saat emosi kami sedang tidak terkendali kami sering lepas kontrol saat berubah menjadi werewolf. Karena itu kami harus bisa mengatur mengatasi emosi kami yang biasanya memang selalu meledak-ledak."
"Umm... Apakah.. apakah boleh aku melihat sosok serigalamu sekali lagi?"
"APA?" teriak tidak hanya Seth tetapi juga yang lainnya termasuk Leah.
"Ah, maaf kalau permintaanku tidak mungkin. Maafkan aku." Aku langsung menunduk minta maaf.
Sam maju menghampiriku."Bukan mengatakan permintaanmu tidak mungkin Hinata, hanya saja tidak banyak orang yang menyukai atau malah takut dengan kami saat menjadi werewolf. Tetapi kau yang baru datang dapat dengan mudah menerima sebuah fakta yang mungkin mengejutkan orang lain. Itu terlalu mengejutkan kami semua."
Aku menunduk mengigit bibirku pelan. Apa aku harus mengatakan rahasia ini."S-sebenarnya kalian bukan rombongan pertama manusia yang bisa berubah menjadi hewan. D-dulu di Tokyo aku memiliki teman yang keluarganya merupakan keturunan shape-shifter. Dan mereka dapat berubah menjadi anjing besar seukuran Seth."
Semua menatapku tidak percaya."Hell, kau sungguh membawa teman yang luar biasa kesini Bells,"kata Jacob dengan nada jenaka.
"Aku pun tidak pernah menyangka Jace."
Sam menatapku dengan senyum kecil di bibirnya."Kalau begitu selamat datang di suku Quillete Hinata. Kau akan selalu diterima disini."
Aku menatap Sam tidak percaya."T-terima kasih Sam. Tapi apa maksudnya dengan suku Quillete?"
"Keturunan kami dinamakan suku Quillete Hinata. Pastinya temanmu juga memiliki garis keturunan seperti kami."
"Ya. Tapi mereka keluarga Inuzuka. Inu yang berarti anjing dalam bahasa Jepang. Lalu apakah..."
"Pertanyaanmu akan dijawab oleh Seth. Apa kau ingin melihat sosok serigalanya sekali lagi?"
"A-apakah boleh?" tanyaku ragu.
"Tentu saja. Diantara kami Seth lah yang paling bisa mengendalikan emosinya walau dia yang paling muda. Seth kau mendengar apa kataku?"
"Yes captain." Seth tersenyum kepadaku lalu mulai berjalan menuruni tangga beranda dan ketika dia meloncat Seth langsung berubah menjadi serigala berbulu putih hitam yang kulihat sebelumnya.
Aku mendengar Quill dan Paul mendengus."Dasar tukang pamer."
Aku tertawa kecil melihatnya. Perlahan aku menuruni tangga beranda saat serigala Seth tengah menatapku. Saat berada didepannya perlahan aku mengulurkan tanganku dan kepala Seth maju menyentuh tanganku. Dapat aku rasakan bulu-bulu serigala yang kukira kasar ternyata begitu lembut serta suhu tubuhnya yang hangat seperti matahari musim semi. Kepala Seth memberi tanda agar aku mengikutinya masuk kedalam hutan. aku berjalan didekatnya sambil menyisir bulu di perutnya seperti yang biasa aku lakukan pada Kiba saat dia dalam sosok anjingnya ataupun Akamaru yang ikut datang bersama. Aku rasakan tubuh Seth sedikit gemetar karena kegelian. Beberapa saat setelah kami menelusuri jalan setapak yang ada dihutan kami sampai pada perbatasan sebuah sungai jernih dengan batu-batu yang menonjol. Dengan aliran air yang mengalir menimbulkan bunyi air yang begitu merdu. Air yang masih jernih serta sejuk ketika kumasukan tanganku kedalam merasakan aliran yang ada. Dengan perlahan tanganku berayun didalam sungai berwarna biru kelabu efek pembiasaan dari langit Forks yang selalu mendung.
.
.
.
Seorang wanita sedang berjalan menaiki tangga menuju ruang keluarga saat dia menemukan sosok Edward sedang bermain piano di tengan ruangan. Mengantarkan suara yang indah di sekeliling rumah. Dengan langkah perlahan dia mendekati Edward.
"Edward apa kau tidak ikut Emmet dan Jasper berburu hari ini?" tanya seorang wanita yang begitu cantik seperti ibu dari para malaikat dari surga.
"Tidak Esme. Aku sedang tidak lapar." Edward menjawab datar kemudian melanjutkan bermain dengan piano tunggal di ruang keluarga.
"Bagaimana dia bisa lapar Esme sedangkan baru kemarin dia menghabisi 5 ekor singa seorang diri." Alice tiba-tiba datang dari tangga lantai 2.
"Sepertinya efek anak baru itu lebih kuat dari Bella, Esme." Sambung Rosalie yang bersandar pada salah satu pilar.
"Aku jadi penasaran bagaimana murid baru itu," kata Esme dengan senyumnya."Apa kalian bersedia memberikan informasi lebih tentang anak itu padaku?"
"Tentu Esme," jawab Alice dengan tawa kecilnya.
Edward tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan langsung melesat keluar tidak menghiraukan pikiran-pikiran yang lain tentangnya.
"Mau kemana dia Alice?" tanya Rosalie yang sekarang duduk di depan televisi layar datar.
"Dia hanya ingin menenangkan diri di dekat sungai. Semoga dia tidak ketemu dengan rombongan Jacob, aku takutnya akan ada pertengkaran anak kecil disana."
Esme mengangguk memaklumi."Ya, aku harap kehadiran... siapa namanya Alice?"
"Hinata Ezz."
"Ya Hinata. Kuharap dia bersedia berada disamping Edward walau dia tahu kenyataan yang sebenarnya."
"Menurutku yang menjadi masalah bukan Hinata," sambung Rosalie."Tetapi ketersediaan Edward, apakah dia menerima someone new yang kedatangannya sama persis dengan Bella. Menurutku masalah Edward sekarang lebih complicated dari pada yang dia dapat sebelumnya. Hebatnya lagi anak baru itu sama sekali tidak bisa di tembus oleh Alice bahkan Jasper. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh keluarga Volturi ketika dia mendapati kalau Edward lagi-lagi mendapatkan calon bakat yang pontesial."
"Kau benar Rose. Aku hanya bisa berharap yang terbaik..." Tiba-tiba pandangan mata Alice kosong menerawang."Aku tidak bisa melihat Edward. Apa mungkin dia akan bertemu dengan Hinata?"
"Apa kau yakin Alice?"
"Ya. Aku sangat yakin. Aku tidak dapat melihat Edward dimana pun. Kuharap dia bisa menyelesaikannya dengan baik."
"Percayalah pada Edward. Dialah yang paling bijak disini setelah Carlisle,"jawab Esme dengan menepuk pelan punggung Alice.
"Sejujurnya aku tidak suka dengan Edward yang sekarang," sahut Rosalie."Dia bagaikan boneka porselen yang kalau di sentuh sedikit saja maka dia akan pecah. Paling tidak kehadiran murid baru itu sedikit memberikan emosi Edward hingga dia tidak terlihat seperti boneka yang hanya bisa dipermainkan."
"Kau benar Rose. Aku hanya ingin Edward bisa mendapatkan lagi cinta yang baru walau mungkin nanti akan sulit." Alice menambahi.
"Kalian benar. Edward lah yang selalu sendirian di sepanjang eksistensinya di dunia ini. Tapi saat dia telah menemukan Bella disaat itu pula dia harus melepaskannya."
"Ya Ezz. Maka dari itu aku bersyukur karena Jasper sekarang telah dapat mengendalikan nafsu berburunya. Hingga kejadian Bella dulu tidak terulang lagi dan Edward bisa mendapatkan seseorang disisinya."
"Ya aku pun berharap demikian." Esme dan Alice berdiri bersebelahan menatap langit selatan dimana tempat perbatasan antara keluarga Cullen dan suku Quillete berada.
.
.
.
Aku bermain-main air dengan tanganku sesekali mencoba menangkap ikan-ikan kecil disana. Tanpa sadar aku sudah tertawa kecil
"Indah bukan?" tanya Seth yang telah menjadi sosok manusianya.
"Y-ya sangat indah."
"Sungai ini merupakan tempat perbatasan wilayah antara suku Quillete dan keluarga Cullen."
Aku menatap Seth dengan seksama, mungkin dengan penjelasan Seth semua pertanyaan ynag bertumpuk dikepalaku aku terjawab."Apa maksudnya Seth?"
"Kau pasti tau apa yang diperangi kami para werewolf?"
"Vampire?"
"Ya kau benar. Kami suku Quillete dari jaman ke jaman selalu memerangi dan membunuh vampire. Tetapi keluarga Cullen berbeda dia tidak meminum darah manusia seperti vampire kebanyakan. Hingga leluhur kami membuat perjanjian selama keluarga Cullen tidak melewati batas-batas yang ditentukan, tidak meminum darah manusia dan juga mengubah salah satu manusia menjadi rasnya. Perjanjian itu akan tetap berlaku sampai keturunan-keturunan kami selanjutnya."
"T-tunggu jadi yang kau maksud bahwa kalau keluarga Cullen, vampire?"
"Kau tanyakan saja pada Edward sendiri. Dia ada diseberang sana." Seth menunjuk bayangan dibalik pepohonan di seberang sungai.
"Tidak apa-apakan Edward? Ayolah jangan sinis seperti itu padaku kau tahu kalau aku bermaksud baik." Seth seperti berbicara kepada seseorang dengan senyum penuh. Kalau aku melihanya dari jauh mungkin aku akan mengira Seth sedang sedikit mengalami masalah pada otaknya hingga berbicara sendiri seperti ini.
"Hinata kau seberangi saja sungai ini sendiri. Aku dan Edward tidak bisa saling mendekat karena ini perbatasan wilayah yang tidak boleh dilanggar."
Aku menatap Seth tidak percaya. Menyeberangi sungai ini sama sekali mustahil untukku. Walau perairannya jernih seperti ini tetap aku tidak dapat melihat dasar dari sungai yang lebar ini serta ditambah batu-batu sungai yang tajam, bagaimana aku menyeberanginya?
Saat aku masih sibuk berpikir bagaimana cara menyeberangi sungai, Seth tiba-tiba saja mengangkat tubuhku."S-Seth?"
"Kau tidak perlu bingung Hinata. Aku akan melemparmu dari sini dan dapat kupastikan kalau Edward akan menangkapmu diseberangi sungai," kata Seth dengan tersenyum lebar.
"A-apa Seth? Apa aku... Ahhh...!" belum sempat aku berkata-kata lagi Seth telah melempar tubuhku. Aku dapat merasakan isi perutku naik keatas. Adrenalinku terpacu hingga jantungku berdetak dengan cepat lebih cepat dari saat aku naik roller coster. Sesaat tubuhku melayang dengan ketinggian yang hanya Kami-sama lah yang tau karena yang aku lihat hanya sekelebat bayangan hijau dari hutan-hutan disekitarku. Aku hanya memejamkam mata menahan rasa mual yang akan keluar hingga akhirnya kurasakan semua sensasi mual yang ada telah hilang. Dengan perlahan aku membuka mataku dan pemnadangan pertama yang kulihat adalah mata Topaz yang indah milik Edward.
"E-Edward?" panggilku memastikan.
Edward tersenyum miring. Aku harus bersumpah kalau itu senyum terindah yang pernah kulihat seumur hidupku.
"Apa kau baik-baik saja Hinata?" tanya Edward dengan suara merdunya.
"Y-ya, a-aku baik-baik saja." Aku menjawab dengan rona merah di pipiku. Ketika aku melihat dengan lebih jelas lagi bahwa aku sedang berada didalam gendongan Edward. Tangannya mengangkat tubuhku seolah aku hanya seringan bulu. Dari dekat dapat kurasakan suhu tubuh Edward yang begitu dingin seperti salju saat winter serta aroma tubuhnya yang begitu maskulin campuran antara mint serta daun ekk.
"Hinata!" panggil Seth dari seberangan sungai. Aku melihatnya melambaikan tangan padaku."Kutinggalkan kau dengan Edward ya. Akan kubilang pada Bella bahwa Edward yang akan mengantarmu pulang. Dan Edward jaga Hinata baik-baik."
"Tunggu Seth.." panggilku. Tetapi terlambat dia telah berlari dengan cepat kedalam hutan.
Aku melihat Edward yang masih tetap menatapku."M-maaf kalau aku merepotkan.."
Aku mendengar suara tawa Edward."Dari banyak kata kau mengatakan minta maaf atas apa yang bahkan tidak kau perbuat. Kau sungguh lucu Hinata."
"M-maaf."
"Tidak perlu minta maaf." Edward menatapku lembut.
"K-kalau begitu terima kasih karena telah menangkapku dari lemparan Seth."
"Your welcome."
"B-bisakah k-kau menurunkanku Edward? Kurasa tubuhku pasti berat kalau kau tetap menggendongku."
Ada sorot jenaka dari matanya lalu kemudian Edward menurunkanku dengan perlahan."Bagiku kau seringan bulu Hinata."
Aku merona mendengarnya.
"Jadi apa kau telah tau siapa aku?" aku dapat melihat wajah Edward mengeras.
"Ya aku tahu. Kau vampire," ucapku yakin tanpa keraguan ataupun ketakutan sedikit pun.
.
.
.
Disebuah ruangan atau lebih tepatnya gedunga tua yang tidak terpakai lagi. Begitu gelap. Begitu kumuh. Seorang wanita berambut merah keriting berdiri didepan sosok seorang pria yang terbaring dengan terus menggeliat di bawah kakinya. Sesekali terdengar jeritan dari pria tersebut hingga beberapa menit pulih menit kemudian sang pria yang terbaring tersebut telah bangkit dengan perlahan.
"Selamat datang di kehidupan yang baru Xavier. Dan bantu aku untuk menghancurkan eksistensi keluarga Cullen dari muka bumi ini." Sang wanita mengulurkan tangannya.
"Apa pun untukmu," jawab sang pria yang menyambut tangan wanita tersebut.
Dalam kegelapan terlihat wanita tersebut tersenyum."Baiklah pelajaran pertama untukmu adalah makan dan ubah mereka yang menjadi makananmu. Ajarkan itu pada semua makananmu dan tanamkan pada mereka kalau kelahiran mereka hanya untuk menghancurkan keluarga Cullen."
"Aku mengerti..."
"Victorie. Panggil aku Victorie."
.
.
To Be Continue..
.
.
Pojokan Review:
Q: Ceritanya mirip banget dengan novelnya nih?
A: Memang sengaja aku buat mirip ceritanya. Aku sampai harus buka-buka ulang untuk lihat bagaimana scene asli Hinata sama Edward di novel buat ketemu sama feelnya. Menurut aku kemungkinan Edward pastinya tidak akan mengubris kedatangan seabrek anak baru kalau kehadirannya nggak seperti Bella meniliki sifat Edward yang cuek seperti itu. Jadi aku memang terinspirasi dari salah satu fic inggris yang cara perkenalannya seperti itu. Tetapi aku buat sedikit perbedaan signifikan antara Hinata dengan Bella. Coba aja cari sedikit perbedaan itu. Apa yang sekarang masih mirip?
Q: Kenapa sifat Hinata dengan Bella mirip author?
A: Memang pada dasarnya sifat Hinata dan Bella mirip kok, hanya saja Kristen memerankan Bella yang membuat Bella menjadi lebih coklat gelap bukan coklat terang. Dan disini aku menuliskan dalam PoV Hinata tidak terlalu memuja Edward seperti Bella dalam novel. Apa perlu aku ubah PoVnya?-Balik nanya*gamparred*-
Q: Apa hubungan Hinata dengan vampire?
A: Pertanyaan itu akan dijawab pada chap selanjutnya. Hwehehe. Lengkap dengan sejarah ngaco buatan author. Jadi spoiler.
Q: Apa Victorie bakal muncul?
A: Seperti yang kalian bisa lihat di akhir cerita. Victorie bakal tetap muncul walaupun Hinata datang ke Forks karena tetap aja ada efek domino yang terjadi diantara keduanya. Kedatangan Hinata juga sedikit menggeser efek domino yang ada menjadi sedikit berbeda.
.
.
Thanks For:
Botol Pasir, Khanakura Haito, Mizuki Kana, AA Jebug Ueureu Bulbabs, Ai HinataLawliet, Aiwha, Uzumaki Nami-chan, suka snsd, uchihyuu nagisa, Crimson Fruit, the rain, blue polkadot, Nyasararu, n, dan kamu yang telah membaca fic ini.
Sign.
16 Februari 2012.
