Bayang-bayang gadis yang membuatnya tersenyum itu selalu menghantuinya. Seakan gadis itulah yang selama ini ia pikirkan sepanjang waktu. Dengan lambaian tangan yang luwes sementara senyumnya yang lebar selalu dapat menarik perhatiannya.

Ah, apa ada sesuatu di dalam diri gadis itu yang membuatnya spesial? Sesuatu yang tidak ada di dalam diri gadis lain hingga membuatnya merasa tertarik pada gadis pirang bersemangat itu?

Entahlah, ia tak tahu.

Yang pasti hanya satu yang ia inginkan. Kalau bisa, ia ingin suatu hari nanti, bisa hidup bahagia dengan gadis itu. Menginginkan gadis itu memberikan seluruh senyum dan tawanya hanya untuknya seorang.


Hanakotoba

.

.

Disclaimer:

Vocaloid © Yamaha Crypton Corporation

Hanakotoba © Ayano Suzune

Rating: T

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort.

Warning: Typos, misstypos, normal POV, OOT.

Summary:
Mereka bertemu secara takdir. Tidak ada pertemuan dalam agenda mereka. / "Mawar, anggrek, anyelir, tulip, chrysanthemum, lily, mawar, daisy, dan akasia. Kusampaikan perasaan cintaku melalui mereka."


Hal pertama yang dilakukan Lenka setelah mendengar dentingan bunyi bel adalah mengangkat tasnya. Ia seakan sudah lupa pada Rinto dan meninggalkannya begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Teman yang ditinggalkannya tentu saja menatap gadis itu dengan pandangan bingung. Ada apa dengannya?

.

.

Semilir angin yang lembut menerpa wajah Lenka sementara sepasang mata di wajah itu dilindungi oleh kelopak matanya. Berlari menuju atap sekolah sepulang sekolah mungkin adalah ide yang baik. Dari sini ia dapat melihat banyaknya anak-anak yang tengah berlari, bercanda, dan tertawa-tawa. Oh, tentu saja mereka anak-anak kelas rendah yang masih polos, bukan teman-temannya yang kejam itu.

Lenka menghela napas lagi. Ia merasa ada yang salah dengannya dan Rinto. Ia merasa hatinya berdegup lebih cepat saat temannya itu berada di dekatnya. Ia merasa ada yang tidak beres.

Hal ini jadi terasa makin sulit dari hari ke hari. Pertemuan mereka beberapa hari yang lalu terasa sangatlah mudah, jika dibandingkan dengan situasi sekarang.

Dengan pelan, kedua tangan gadis itu mengacak-acak rambutnya yang pirang sementara ia mengerang, mungkin karena kesal. Apa yang ia pikirkan saat ini?

Rasa damai itu terus berlangsung, dan hal itu berakhir ketika ia mendengar suara decitan antara pintu yang sudah tua dengan lantai keramik yang kini diinjaknya. Spontan gadis itu memutar kepalanya.

"R-Rinto?" gumam Lenka pelan ketika melihat sosok temannya yang berada di dekat pintu itu.

Rinto menutup pintu yang telah dibukanya dengan pelan, sebelum ia berjalan mendekati gadis yang tengah berdiri menikmati angin sejuk di sore hari itu.

"Rupanya kau di sini," jawabnya sambil berdiri di samping Lenka, sementara sepasang mata birunya menerawang, menikmati pemandangan indah yang berada di hadapannya.

"Kau mencariku?" Lenka menatap pemuda di sampingnya itu. Rinto hanya terdiam tanpa menengok ke arah Lenka, sementara semilir angin yang lembut meniup helai-helaian rambutnya yang pirang.

Dan saat itu pula Lenka menyadari sesuatu.

'Ternyata ia lumayan tampan.' Dan hal itu sukses membuat pipi Lenka bersemu merah, semerah buah tomat.

"Apa? Pipimu memerah, kau sakit, ya?" tanya Rinto, tangannya mendarat di atas kening Lenka yang agak tertutupi oleh poni rambutnya.

"E-eh, a-aku t-tidak kenapa-napa, k-kok." Dengan tergagap kata-kata itu keluar dari mulut mungilnya, sementara tangannya berusaha menjauhkan tangan Rinto dari keningnya itu.

Oh, hal itu membuat wajahnya semakin memerah.

"Hei, kau yakin?" Rinto terus menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan sepele, yang namun dapat membuat Lenka semakin gugup.

Dengan cepat gadis itu menganggukkan kepalanya, berharap bahwa Rinto tidak mengkhawatirkannya lebih jauh, sebab ia juga tidak tahan jika tangan Rinto mengenai keningnya itu.

"A-aku tidak apa-apa. Tak usah khawatirkan aku," jawab Lenka pelan sambil menatap ke arah Rinto dengan wajah yang bersemu merah.

Ketika mata azure mereka bertemu, secara tiba-tiba Rinto mengalihkan pandang dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Oh, begitu."

Keheningan melanda. Tak ada yang bersedia memecah keheningan dan membuka percakapan. Lenka hanya menatap ke bawah, bersikap seolah tak ada apa-apa yang terjadi walaupun hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya. Sedangkan Rinto melihat ke arah lain, berusaha untuk tidak melihat gadis yang berada di sampingnya.

"Jadi, apa kau merasa aneh ketika pertama kali aku memiliki ketertarikan pada bunga?" Akhirnya Rinto-lah yang memulai percakapan di antara mereka berdua, sambil menghindari tatapan mata Lenka, tentu saja.

"Eh?" Lenka menoleh, menatap temannya bingung.

Rinto mendecih pelan, kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Jawab saja pertanyaanku."

"Kenapa harus merasa aneh?" Lenka memiringkan kepalanya, setengah bertanya. "Semua orang, kan, boleh saja suka dengan bunga." Ia melanjutkan.

"B-bukan begitu! E-eh, maksudku-" Si pemuda hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan hal itu berakhir dengan kedua tangannya mengacak rambut blonde-nya.

"Oh? Jadi?" tanya Lenka dengan tatapan polos.

Rinto melirik sedikit ke arah gadis itu. Mata itu. Rambut itu. Wajah yang imut nan polos itu. Ia mendecih pelan untuk yang kedua kalinya sebelum membuang pandang lagi dari tatapan gadis itu.

"Yah ... apa tidak aneh bagi seorang laki-laki untuk menyukai bunga dan tanaman seperti itu?" Rinto memperjelas ucapannya. Lenka berpikir-pikir sejenak. Ia menaruh telunjuknya di bagian samping keningnya, sedangkan matanya menatap ke arah langit.

"Ah, tidak. Kenapa aneh? Normal saja, bagiku." Itulah jawaban yang keluar dari mulut kecil si gadis, namun cukup bagi Rinto yang kini menghela napas lega.

"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Lenka semakin bingung melihat Rinto yang kini bersender di pagar dengan santainya.

Rinto menggelengkan kepalanya singkat. "Tak apa. Aku pikir kau mengiranya aneh."

"Doushite?"

Rinto menggeleng lagi, sukses membungkamkan mulut gadis itu untuk tidak bertanya lebih jauh.

"Jadi pokoknya kau tidak akan menganggapku aneh, ya?"

Lenka menggembungkan pipinya, menatap ke arah pemuda yang berada di sampingnya dengan tatapan mata sebal.

"Bhuu- aku sudah bilang bahwa aku tidak pernah menganggap laki-laki yang menyukai bunga itu aneh! Kenapa kau terlalu menganggapnya serius, sih?" tanyanya sambil melipat tangannya di depan dada.

Rinto hanya tertawa melihat gadis yang berada di hadapannya itu begitu serius. Namun tawa itu lekas digantinya dengan seulas senyuman. Oh, sukses untuk membuat pipi Lenka bersemu merah lagi.

"Aku takut kau meninggalkanku, karena menganggapku aneh," jawab Rinto pelan. Ia menutup matanya. Namun ketika ia membuka kedua kelopak matanya, ia mengerutkan keningnya.

"Kenapa wajahmu itu? Merah sekali."

"M-meninggalkanmu? M-me-memangnya a-ada apa, sih?" tanya Lenka yang menunduk, sementara kedua tangannya yang berada di depan dada terkepal. Dapat dilihat bahwa wajahnya memerah dan tubuhnya bergetar.

"B-bukan begitu maksudku! A-aku hanya takut kau tidak mau lagi berteman denganku! J-jangan anggap begitu serius, Lenka!" seru Rinto dengan agak tergagap-gagap. Dan untuk yang keberapa kalinya, ia membuang muka.

Lenka mengangkat wajahnya, menampakkan wajah mungilnya yang polos. "Oh, begitu?" Dan pertanyaan itu hanya mendapat respon anggukan.

"Dan, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok?" ujar Rinto sambil mengangkat tangannya, masih membuang muka dari gadis itu kemudian melangkah pergi.

Senyum terulas di bibir Lenka. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melambaikannya kuat-kuat. Sementara bibirnya membentuk sebuah kalimat pendek.

"Sampai jumpa besok!"

Saat itu pula Rinto menutup matanya dengan sebelah tangan. Panas.

Sedangkan tangannya yang lain merogoh saku celananya. Ia agak meringis ketika tangannya berhasil masuk ke dalam saku itu. Sebab di dalam saku itu terdapat setangkai mawar merah yang masih agak berduri.


"Hah? Liburan ke vila?" tanya Rinto sambil mengerutkan keningnya ketika salah satu temannya, Len, memberikannya selembar kertas putih yang kini berada di genggamannya.

Len hanya memamerkan gigi-gigi putihnya sambil mengacungkan jempol kirinya. "Keren, kan? Kau mau ikut?" tanya Len.

Rinto berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban. "Siapa saja yang ikut?"

"Aku, Rin, dan Mizki. Kau mau mengajak teman lain?" jawab Len. Rinto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

'Kalau aku tak ikut, berarti mereka hanya bertiga, dong? Apa yang Len pikirkan? Eh? Aku boleh mengajak teman lain-'

"Aku boleh mengajak teman lain?" ulang Rinto sekali lagi. Len hanya menganggukan kepalanya. Sesaat pemuda berambut pirang itu masih ragu dengan pikirannya.

"Apa aku boleh mengajak Len- maksudku, Hanami untuk liburan ini? Aku dan dia kurang lebih ... berteman baik," jawab Rinto setelah berpikir beberapa saat.

Len melebarkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rinto.

"Apa?! Ternyata kau dekat dengannya?! Sugoi desu! Tidak ada yang bisa mendekatinya dengan sifatnya yang begitu pendiam!" seru Len dengan semangat membara.

"Ch-chotto matte ne!" seru Rinto, berusaha mendiamkan temannya yang terlalu berisik itu, mengingat mereka sedang berada di dalam kelas yang penuh dengan anak-anak yang lainnya.

"Dia baik, menurutku. Bagaimana?" tanya Rinto lagi. Len menganggukan kepalanya.

Setelah mengucapkan terima kasih, Rinto segera mengambil jarak terjauh dari Len. Oh, mungkin karena ia harus memberi tahu Lenka tentang acara ini, tapi bukan itu yang ia pikirkan.

Yang ada di dalam pikirannya adalah Len sangatlah ANEH.

.

.

"Etto... Lenka?" panggil Rinto ketika ia menyadari bahwa tinggal mereka berdualah yang berada di kelas ini.

"Ya?" jawab Lenka tanpa memalingkan perhatiannya dari buku tebal yang ia baca. Sepertinya novel atau... entahlah, tak ada yang bisa menebaknya kecuali ia memberi tahu tentang buku itu.

Rinto mendecih pelan, mengacak rambut pirangnya dengan sebelah tangan ketika ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Lenka mengenai rencana menginap ini.

Menyadari gerakan temannya yang tidak biasa, Lenka menoleh. Dan saat itu ia mendapati Rinto dengan keadaan yang lumayan kacau, kebingungan tepatnya.

"Kau kenapa?" tanya gadis itu sambil menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya yang imut ditambah dengan pandangan polosnya membuat Rinto mengalihkan pandangnya ke arah tas besar yang ada di sampingnya.

"Etto, itu, aku mau bilang-" Rinto merogoh sesuatu dalam tasnya. Lenka hanya diam, menunggu temannya melanjutkan lagi ucapannya.

"Ini," ujar Rinto sambil memberikan selembar kertas putih. Tangan kanan Lenka terulur untuk mengambil benda itu, namun bersamaan dengan hal itu, tangan mereka bersentuhan pelan. Sampai pada akhirnya kertas itu kini berada di tangan gadis kecil berkuncir kuda.

Lenka membaca isi dari kertas itu sebentar. Sedangkan Rinto melihat ke dinding-dinding langit. Sebenarnya hal itu untuk membiarkan Lenka membaca dan memperhatikan tawaran itu sebentar, namun yang dipikirkannya saat ini adalah untuk menghilangkan rasa gugupnya.

Rinto membalikkan tubuhnya ketika ia merasa ada sebuah tangan yang tidak terlalu besar menyentuh lengannya secara pelan yang ditutupi seragamnya itu. Ia mendapati mata Lenka yang masih terarah pada kertas itu, sedangkan tangannya menyenggolnya, seakan memanggilnya.

"Jadi maksudnya?" tanya Lenka, meminta penjelasan lebih jelas.

Rinto tampak bingung untuk menjelaskan tentang hal itu kepada gadis yang berada di sampingnya. Karena kesal, ia mendecih dan mendorong dahi Lenka dengan jari telunjuknya.

"Ittai!" pekik Lenka kaget, dengan kedua kelopak matanya menyembunyikan mata birunya. Rinto hanya nyengir, mendapati Lenka dengan wajah cemberut. Sementara itu tampak bekas merah di dahinya.

"Apa yang kau lakukan, sih?" Gadis itu menggembungkan kedua pipinya. Rinto mengangkat bahunya, berpura-pura tidak tahu.

"Bukankah sudah jelas?" balas Rinto lagi.

"M-maksudmu kau mengajakku ke... tempat ini?" tanya Lenka hati-hati, takut ia membuat kesalahan dan berakhir digoda Rinto. Yah, seperti tadi.

Si pemuda hanya menganggukkan kepalanya. "Mau, tidak?"

Lenka berpikir sejenak. "Siapa saja yang ikut?"

"Aku, Len, Rin, dan Mizki. Kalau kau ikut, kita jadi berlima."

"... Tak ada Miku dan lainnya, kan?"

"Apa maksudmu?"

"Kau tak mengajak mereka, kan?"

"Yah, hanya yang kusebutkan tadi saja yang akan ikut."

Lenka hanya menganggukkan kepalanya, kemudian menghela napas sejenak. "Baiklah, aku ikut." Ia menganggukkan kepalanya, membuat kuncirannya bergoyang-goyang.

Seketika wajah Rinto berseri. Kemudian ia mengangguk kuat-kuat.

"Hari kedua liburan musim panas. Tak lama, kok. Mungkin hanya tiga malam. Oke?" balas Rinto sambil tersenyum ke arah Lenka.

Deg.

"I-iya," jawab Lenka sambil menyembunyikan wajahnya, menunduk seperti biasa.

Dan mereka tak tahu. Sesuatu yang luar biasa akan mengubah kehidupan mereka. Baik Lenka, maupun Rinto. Namun, salah satu di antara mereka haruslah memiliki keberanian, untuk menggapai satu sama lain.

.

.

To be continued


A/N

Gomen, minnaaaa. Update-nya kelamaan ;A; *headwall*

Still...

Boleh minta review-nya? 8'D /slap