Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, iKON, Seventeen, etc.
Pairing: MarkBam
Rate: T
Genre: School-life, mystery/horror, romance
Disclaimer: Casts aren't mine, storyline/plot is mine
Warning: typo(s), boyxboy, indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, story, and author :)
.
.
.
.
.
Bambam POV -
Rasanya masih seperti mimpi, aku masih tidak dapat mempercayai apa yang Mark hyung katakan tentang hantu itu. Tadinya aku berpikir bahwa hantu yang katanya bernama Jackson itu menerorku karena ia mengikutiku kemana pun aku pergi, bahkan hingga ke rumahku, ternyata hantu itu membutuhkan pertolongan. Logikanya sulit dimengerti karena sesosok hantu meminta bantuan kepada manusia, aku sendiri tidak dapat mencernanya dengan mudah, tapi itulah nyatanya.
Sebelum pesta ulang tahun Jiyeon nuna, aku sedikit berbagi cerita dengan teman-temanku tentang hantu Jackson yang bersarang sekolah, tepatnya di toilet pria lantai tiga. Mereka nyaris menyebutku gila lagi, beberapa kali mereka menggelengkan kepala mereka sambil tertawa, sementara aku sudah tidak perduli lagi bahwa mereka akan peduli dengan ceritaku atau tidak, namun setidaknya aku jujur terhadap mereka.
Entah apakah mereka mengatakan itu karena mereka adalah sahabatku, atau mereka memang percaya dengan ceritanya, tapi mereka bilang bahwa mereka akan terus berada di sampingku untuk sekedar menemani dan tidak akan membiarkanku ketakutan lagi. Dan mereka memang membuktikannya.
Satu-satunya orang yang paling mengerti tentang ini selain Mark hyung adalah Youngjae hyung, bahkan dia adalah orang yang pertama kali memberitahuku tentang hantu itu. Setidaknya, aku bukanlah orang gila satu-satunya, walaupun Youngjae hyung tidak dapat melihat hantu itu.
"Mark hyung!? Dia juga melihatnya!?"
"Ne." kataku. "Bahkan dia mengaku bahwa mereka adalah teman."
"Woah, jinjja..." Youngjae hyung terlihat tidak percaya, namun rasa antusiasnya tetap sama setiap kali kami berbicara tentang hal ini. "Ternyata orang terkeren di sekolah ini berteman dengan hantu."
"Mungkin apa yang hyung katakan itu benar..." aku menggantung kata-kataku dan mencoba untuk mengingat apa yang Youngjae hyung katakan saat pertama kali kami berbicara tentang hantu Jackson, "...hyung bilang kan siswa yang dapat melihatnya akan menjadi siswa yang terhebat, kurasa itulah sebabnya mengapa Mark hyung sangat populer dan disegani di sekolah ini."
"Masuk akal." ia mengangguk dengan yakin. "Tapi... tadi kau bilang hantu itu membutuhkan bantuan, makanya dia muncul di hadapanmu?" tanya Youngjae hyung.
"Ne, aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan, tapi Mark hyung bilang dia akan membawaku kepada hantu itu."
"Daebak!" serunya, aku bingung di mana sisi daebaknya, hal yang kurasakan tentang ini hanyalah ketakutan dan bingung, aku bahkan belum menemukan sisi hikmahnya ada di mana. "Jangan khawatir Bam, Mark hyung pasti akan menjagamu."
"Bagaimana bisa dia menjamin keselamatanku?"
"Dia pasti bisa. Mark hyung itu orang yang berani dan sangat bertanggung jawab, buktinya dia berhasil memiliki hubungan yang baik dengan hantu."
Kalau kupikir-pikir lagi, apa yang Youngjae hyung katakan itu tidak lah salah, bahkan dia benar. Mungkin di samping mentalnya Mark hyung yang berani, ia juga terbiasa dengan keberadaan hantu di sekitarnya, bisa jadi si Jackson itu muncul dengan cara yang sama pada saat pertama kali ia menampakkan dirinya di hadapan Mark hyung, aku juga berani bertaruh bahwa saat itu Mark hyung pasti ketakutan, setidaknya dia terkejut.
Tetap saja, aku masih tidak yakin.
"Bambam!" seseorang mengagetkanku karena memanggil namaku dengan tiba-tiba. Di belakangku, Mark hyung berdiri seraya tersenyum dan mengaitkan tangannya ke belakangang. Alis matanya yang terangkat-angkat seakan memberiku sebuah kata kunci.
Memang benar.
"Ehmm, hyung, aku pergi dulu ya? Besok kita mengobrol lagi." aku berpamitan dengan Youngjae hyung.
"Youngjae-ah, aku pinjam sebentar Bambamnya, ya?" kata Mark hyung.
"Ne, hyung! Tentu saja." jawab Youngjae, ia terlihat senang hati.
Aku tidak tahu pasti ke mana Mark hyung akan membawaku saat ini, tapi kami berjalan menaiki tangga, tepatnya ke arah toilet yang berada di jajaran kelas sepuluh. Oh, sekarang aku mengerti, mungkin Mark hyung juga mengalami hal yang sama, di tempat yang sama.
Kami berdua memasuki toilet pria di lantai tiga, toiletnya kosong dan suasananya membuatku trauma untuk mendatangi tempat ini. Lagipula, jarang ada orang yang masuk ke toilet ini, paling hanya anak kelas sepuluh yang kelasnya berada di lantai tiga, sementara yang lainnya memilih untuk pergi ke toilet yang berada di lantai bawah karena mereka malas naik tangga.
"Tidak usah takut, kali ini tidak akan menyeramkan seperti sebelum-sebelumnya."
Tidak usah takut, katanya. Aku di sini nyaris mati ketakutan karena Jackson muncul dengan cara yang sangat tidak wajar, juga penampilannya saat itu benar-benar hancur parah. Bagaimana pun juga dia itu hantu, hantu itu di mana rupanya menyeramkan, bahkan saat aku melihat Jackson di perpustakaan tanpa darah atau sayatan di wajahnya pun aku tetap ketakutan.
Author POV -
Mau tidak mau, Bambam harus mempersiapkan dirinya untuk melihat sosok hantu lagi, kali ini dengan sengaja dan memiliki tujuan. Bambam masih tidak bisa mengerti bagaimana caranya melihat hantu (yang mana bukanlah keinginannya) dengan sengaja, karena yang Bambam tahu, ia tidak memiliki indera keenam kecuali ketika ia melihat sosok Jackson beberapa kali, tanpa diminta.
Mark menyentuh kedua lengan Bambam dan membuatnya berputar menghadap ke kaca cermin yang besar. "Sekarang menghadap ke cermin!" perintah Mark, Bambam hanya mengikuti. "Hyung akan menutup matamu, jangan kau buka sebelum hyung menyuruhmu untuk membukanya!"
"Hyung..." suara purau Bambam membuat Mark goyah dengan niatannya untuk membuka indera keenam Bambam, "apakah... dia ada di sini?"
Bukan hanya karena Mark bingung, tapi Mark juga tidak ingin menakut-nakuti Bambam dengan cara mengatakan segalanya dengan spontan. Ia tahu bahwa Bambam belum terbiasa dengan situasi seperti itu, maka sambil berpikir mengenai jawaban yang harus ia lontarkan, Mark menutup mata Bambam dengan kedua telapak tangannya.
Mark juga turut menghadap ke arah kaca cermin, namun matanya tertuju ke satu titik, di mana ia melihat si orang ketiga berdiri di dekat mereka.
"Ada." jawab Mark dengan singkat, namun cukup untuk membuat bulu roma Bambam semakin berdiri.
Mark membiarkan Bambam mengeluarkan rasa takutnya, dari tadi kaki dan tangan Bambam bergetar, bahkan wajahnya pun terasa dingin di kulit Mark, mungkin karena semua darahnya turun ke kaki. Sebisa mungkin Bambam mencoba untuk tidak meringis dan menyerah, sekuat tenaga pula ia mencoba untuk meneguhkan hatinya bahwa apa yang sedang ia lakukan ini pasti ada arti tersendiri di baliknya.
Tanpa memberikan kode apapun, Mark melepas tangannya perlahan dari mata Bambam setelah sekian lama ia menutupnya. Bambam masih belum membuka matanya karena Mark belum mengucapkan apapun.
"Hyung..." rengek Bambam ketakutan.
Sret. Mark otomatis meraih tangan Bambam demi membuktikan bahwa ia masih tetap berada di sana, "hyung disini."
Mark sendiri merasa takut dengan apa yang ia lakukan, padahal dialah orang yang terbiasa dengan hal ini-melihat banyak hantu di sekitarnya.
"Buka matamu!" kata Mark.
Dengan keberanian yang belum seratus persen, Bambam membuka matanya perlahan-lahan dan berjanji bahwa ia tidak akan berteriak begitu ada sesuatu yang muncul di hadapannya.
Fyuh~ Bambam nyaris saja jatuh diterpa angin, kakinya benar-benar lemas. Apa yang ia lihat ternyata bukanlah ilusi, melainkan kenyataan. Ada sosok yang sama di kaca cermin itu, hantu berambut blonde, kulitnya pucat pasi seperti albino, wajah yang tak bernyawa, figurnya agak tembus pandang seperti hologram, tapi dia benar-benar berbentuk layaknya manusia normal. Namun kali ini lebih baik tanpa darah yang berlumuran di tubuhnya.
"Hyung..." Bambam mencengkram tangan Mark semakin erat.
"It's okay, dia tidak akan menyakitimu." Mark bereaksi dengan tenang. "Mau kau coba lihat ke belakang?"
Ragu-ragu, tapi di sisi lain pula Bambam harus meyakinkan bahwa makhluk itu tidak menyakiti.
"Yak! Minggir! Kau terlalu dekat dengannya."
Bambam terkejut dengan gaya bicara Mark yang seketika menjadi berbeda, dan Bambam baru saja sadar bahwa ia berbicara dengan Jackson.
Kini Bambam memutar balikkan tubuhnya, sementara Mark berpindah tumpuan menjadi berada di depan Bambam demi melindunginya jika Jackson sewaktu-waktu bertingkah di luar kendali.
Pertama kali Bambam melihat sosok Jackson lewat kaca cermin di toilet, Jackson langsung menghilang saat Bambam menengok dan mencoba untuk memastikan. Namum kali ini, Jackson tidak menghilang, bahkan ia bergerak sesuai dengan apa yang Mark perintahkan.
Lebih mengerikan dari apa yang Bambam bayangkan, tapi ternyata disitulah terletak sisi daebak yang Youngjae katakan.
"Nah, Jackson, ini Bambam. Bambam, ini Jackson. Jackson, kuharap kau tidak macam-macam lagi dengan Bambam. Dan Bambam, kuharap kau tidak ketakutan lagi dengan Jackson."
"HAI."
"Hhhhhhhh..."
"Jack! Pelan-pelan!"
"Hehe, mianhae."
"Kau tidak apa-apa?" tanya Mark dengan pelan.
"Sepertinya..." kepala Bambam tiba-tiba terasa pusing karena ia menahan teriakan alami yang seharusnya ia keluarkan sepuas mungkin. Menahan rasa takut di dalam diri Bambam juga berdampak bagi mental dan kekebalan tubuhnya.
"Sepertinya apa?"
"Aku... tidak, tidak apa-apa." Bambam menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mencoba untuk bersikap normal.
"Jackson, kita tidak akan berbicara di sini, kan?" tanya Mark.
"Aniyoo, jelas tidak di sini. Hyung, kita pergi ke tempat biasanya!"
Kalimat itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Bambam dengar dari seorang hantu, walaupun dengan suara yang agak berdengung di telinga, namun Bambam dapat mendengar dan mengerti kalimat Jackson dengan jelas.
Setelah Jackson menghilang dari kamar mandi, dengan lembut Mark menarik pergelangan tangan Bambam dan menuntunnya ke luar. Mark tahu bahwa keadaan Bambam saat ini berubah menjadi tidak baik, apalagi ini adalah sesuatu yang baru untuk Bambam, yang belum pernah ia alami seumur hidupnya. Seperti apa yang Mark katakan, ia akan menjaga Bambam dan menjamin dirinya agar selamat.
Tempat biasanya yang Jackson sebut tadi, tenyata adalah lapangan besar, di mana Mark sering bermain ke sana hanya untuk melihat hantu-hantu dan berbicara dengan Jackson. Bambam tidak menyangka bahwa lapangan itu ternyata jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan; seperti lahan hutan yang semua pohonnya di tebang habis atau lahan pembangunan yang ditinggalkan begitu saja.
Tanahnya ditumbuhi oleh rumput liar dan ilalang yang rusak, dan mungkin juga karena hujan beberapa hari yang lalu, tanahnya menjadi becek. Lapangan berbentuk oval itu dipagari oleh seng, genteng aluminium setinggi dua setengah meter dan juga kawat berlistrik, di mana hanya orang tertentu saja yang dapat memasuki wilayah kumuh itu.
"Hyung, ini... tempat apa?" tanya Bambam seraya menyembunyikan rasa takutnya di belakang Mark.
"Ini? Ini lahan tidak terpakai." jawab Mark santai.
"Iya... tapi... kenapa di Seoul ada tempat yang seperti ini? Lapangan ini luas sekali."
Mark tersenyum diam-diam, perasaannya masih tidak nyaman tentang rasa ketakutan Bambam, tapi secara bersamaan juga Mark berpendapat bahwa Bambam menjadi sangat imut dengan rasa takutnya.
"Kenapa? Takut ya?" goda Mark.
Bambam tidak menjawab dan terus mengikuti langkah kemana Mark pergi.
"Tadinya tempat ini adalah sebuah taman karnaval, tapi waktu itu ada kebakaran yang sangat besar hingga melahap seluruh wahana dan yang lainnya. Butuh berhari-hari untuk memadamkan apinya, dan setelah berhasil di padamkan, tempat ini ditinggalkan begitu saja karena terlalu sulit untuk di bangun kembali." jelas Mark dan semakin membuat Bambam merinding. "Banyak juga yang mati."
"Hft~~" percaya diri Bambam turun hingga mencapai titik minus.
"Kau lihat itu?" tangan Mark menunjuk ke arah ayunan dan seluncuran yang berkarat dan nyaris rubuh, "aku pernah tertidur di sana selama beberapa jam dan bangun dengan begitu banyak hantu di sekitarku."
"..."
"Apa yang kau lihat sekarang?" Mark bertanya lebih lanjut.
"Tidak ada, hanya ada hyung, dan hantu gila itu." mata Bambam melirik Jackson dengan sudut yang kesal.
"Haha, Jackson, benar, dia memang gila." Mark tertawa. "Sebenarnya ada ratusan hantu lainnya di sini, tapi yang kau lihat hanyalah Jackson."
"Hyung tidak merasa terganggu dengan adanya hantu-hantu itu di sekitar hyung?" tanya Bambam penasaran.
"Tadinya, tapi selama kita tidak mengganggu mereka, mereka juga tidak akan mengganggu kita. Walaupun secara tidak langsung, indera keenam yang kita miliki ini mengganggu mereka."
"Apa Jiyeon nuna tahu kalau hyung bisa melihat hantu?"
"Tidak, dia tidak tahu. Aku bisa disebut gila olehnya jika dia sampai tahu."
"Yak! Manusia!" Jackson muncul tiba-tiba di antara mereka. "Sedang mengobrol apa? Asyik sekali, aku juga mau ikut!"
"Mwoya!? Ini obrolan manusia, bukan hantu." tukas Mark.
"Dulu kan aku juga manusia!"
"Sudahlah! Kau katanya mau bicara? Ayo bicara sekarang!"
"Okey." mereka menemukan gentong aluminium tua yang tergeletak tak beraturan dan kedua manusia duduk di atasnya. "Aku sudah bilang kan bahwa aku ingin kalian mencari arwah untukku?"
"Ne."
"Sebenarnya, arwahnya tidak hanya satu, ada dua arwah lagi yang harus kalian temukan sebelum kalian menemukan arwah yang utama." kata Jackson. "Arwah yang pertama bernama Do Kyungsoo, dia meninggal di Seoul di tahun yang sama denganku. Rumahnya ada di sekitar Myeongdong, kurasa kalian dapat menemukannya dengan mudah dengan bertanya kepada warga setempat."
"Lalu yang kedua?"
"Nah, yang ini agak jauh." Jackson mengusap rambut blondenya seraya tertawa polos. "Namanya Kim Jiwon, dia meninggal beberapa tahun setelah kematianku. Wilayahnya ada di Daegu, kuharap kalian tidak keberatan dengan pergi ke tempat yang jauh."
"Dan yang terakhir?"
"Ini yang paling utama. Namanya... aku tidak tahu namanya."
"Aduh, Jackson," Mark terlihat kecewa, "bagaimana bisa kami mencari orang yang tidak diketahui namanya?"
"Ya... maka dari itu kau harus menemukan dua orang yang lainnya." Jackson menjadi hantu yang kikuk. "Pokonya begini deh..." Jackson terlihat kebingungan, tapi sebisa mungkin ia menjadi hantu yang tidak menyulitkan dan berguna, "...temukan dulu Do Kyungsoo dan Kim Jiwon, minta petunjuk dan bantuan kepada mereka agar kalian bisa menemukan arwah yang ketiga."
"Jadi maksudmu, kami harus berkelana?" Bambam memastikan.
"Kurang lebih begitu." jawab Jackson.
"Hft, ini sulit..." keluh Mark, tapi tetap berusaha untuk menyanggupkan dirinya, "oke, kita akan memulai pencarian kami akhir pekan ini. Bambam kau siap, kan?"
"Uhh... hyung..." wajah Bambam terlihat tidak yakin, tentu saja, itu adalah sebuah perjalanan yang tidak masuk di akal Bambam; pergi ke sana kemari hanya untuk mencari sesosok arwah, sesosok hantu. Bambam bisa celaka kapanpun dan di manapun, bagaimana nantinya jika Bambam tidak kembali?
"Hey," Mark tersenyum dengan hangat, "kita tetap berada di Korea, tidak jauh kok."
"Tapi-"
"Hyung mohon, jangan khawatir. Hyung berjanji akan selalu ada di sampingmu dan menjamin bahwa kita akan selamat."
"..."
"Oke?"
Masih ragu-ragu, namun kepala Bambam bagaikan mengangguk sendiri seakan ia mengiyakan segala yang dikatakan oleh Mark. Melihat anggukan dari kepala Bambam, Jackson merasa bahagia karena akhirnya ia tidak perlu mengejar Bambam susah payah dengan cara yang tidak wajah lagi, karena Jackson sendiri benci menampakan diri dengan tubuhnya yang hancur.
"Good, kita akan berangkat akhir pekan ini, oke? Kita bertemu di sekolah.
"Hmm." gumam Bambam. Belum sepenuhnya berhasil meyakinkan Bambam, ponsel Mark mengganggu rapat mereka karena berdering terlalu lantang.
"Maaf," Mark segera mengambil ponselnya dari saku celana, dan melihat nama Jiyeon di layar poselnya, "sebentar ya, aku angkat telfon dulu!" lalu Mark pergi meninggalkan suasana canggung di antara Bambam dan Jackson.
Bambam yang ketakutan hanya dapat menunduk pasrah dan berusaha untuk menghindari kontak mata dari Jackson, baginya itu masih terasa aneh.
"Hey, jangan khawatir, Mark akan menjagamu." kata Jackson berusaha untuk menghibur Bambam, tapi Bambam tidak terlihat begitu puas dengan ucapannya. "Kau... masih takut ya denganku?"
"Entahlah, mungkin karena aku belum terbiasa." jawab Bambam sambil tersenyum masam.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu karena kau mau membantuku dalam hal ini, aku tahu ini tidak mudah bagimu."
"Ah.. haha, jangan dulu bilang terima kasih, kan kami belum melakukannya. Mungkin juga kalau tidak ada orang lain di sampingku, aku tidak akan melakukan hal ini." Bambam melipat tangannya di dada dan menjepitnya dengan paha. Ia masih terlihat tidak nyaman dengan hal ini dan itu membuat Jackson khawatir.
"Aku yakin kok, Mark hyung akan menjagamu dengan baik."
"Ne."
Sementara di kepala Bambam, terbayang banyak hal tentang janji Mark yang katanya akan menjamin keselamatan Bambam. Jelas Bambam tidak akan dengan mudahnya percaya, Mark sudah pasti akan sibuk menyelamatkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi kepada mereka, karena jelas Mark tidak mau mati di umurnya yang masih muda, sama seperti Bambam. Kedua, Mark punya pacar, itu juga akan membagi dua kesibukannya selain mengurusi diri sendiri selama perjalanan, Jiyeon pasti akan menghubunginya terus-menerus.
"Tidak apa-apa kok, seandainya tidak berhasil. Ini juga bukan sebuah tuntutan, tapi aku senang jika kalian menyanggupinya."
"Sebenarnya..." rasa keingintahuan Bambam muncul kembali, "apa urusanmu dengan arwah-arwah itu? Bukannya kalian hantu dapat saling berkomunikasi dan pergi kesana-kemari sesuai keinginan kalian?"
"Aniyo!" Jackson tertawa. "Justru hantu sulit berkomunikasi dengan hantu yang lainnya karena kami memiliki keterbatasan. Ketika kami mati, semua panca indera kami ditutup hingga kami tidak dapat berkomunikasi dengan siapa dan apapun di dunia kami, tapi berhubung hantu semacamku ini adalah hantu yang belum sepenuhnya meninggalkan dunia fana, kami diberi kelebihan, yaitu untuk berkomunikasi dengan makhluk yang masih hidup."
Ternyata, itu mengesankan.
"Aku ingin berkomunikasi dengan arwah yang kubilang penting ini, mari kita sebut saja namanya Choco."
Bambam mulai tersenyum karena terkesan.
"Manusia adalah media terbaik bagi para hantu sepertiku untuk menyampaikan kehendak kami, makanya aku membutuhkan kalian untuk berbicara dengan arwah yang lain." Jackson bercerita sesuai dengan apa kata hatinya (jika hantu memang punya hati), tapi bagaimana pun juga, Jackson berhasil membuat Bambam lebih percaya lagi bahwa apa yang ia lakukannya ini benar-benar bernilaikan sesuatu. "Soal urusanku dengan si Choco ini... karena aku belum sempat mengatakan sesuatu kepadanya saat aku masih hidup. Jadi selama aku masih ada kesempatan untuk berkomunikasi dan meminta bantuan manusia, aku akan melakukannya."
"Hanya itu? Hanya karena kau ingin mengatakan sesuatu?" Bambam terkejut.
"Ne." Jackson menjawab malu-malu. "Jika aku berhasil menyampaikan hal ini kepada Choco, mungkin aku akan menjadi arwah yang tenang dan tidak bergentayangan di alam manusia lagi."
"Jadi selama ini... kau adalah arwah yang tidak tenang?"
"Ne, semua arwah yang tidak tenang sudah pasti bergentayangan di alam fana dan memanfaatkan apapun untuk memuaskan keinginan yang belum sempat mereka lakukan ketika mereka masih hidup. Dan aku... aku masih belum puas sebelum aku berhasil berbicara dengan Choco."
"Tapi..." Bambam menjungkirkan otaknya, "bukannya kau bisa menampakkan diri di hadapan Choco dan mengatakan segalanya secara langsung? Seperti menampakkan dirimu di hadapanku dan berbicara kepadaku."
Jackson menghela, entah apakah itu napas sungguhan atau hanya dibuat-buat agar seakan dia terlihat masih menjadi manusia. "Sayangnya... Choco ini bukan manusia yang berdarah campuran, dia seratus persen orang Korea."
Oh iya, bagai orang yang baru sadar dari amnesia. Bambam seketika mengingat apa yang Youngjae hyung pernah katakan kepadanya: hanya orang berdarah campuran yang beruntung, yang dapat melihat arwah Jackson. Mungkin Mark dan dirinya adalah manusia berdarah campuran yang beruntung itu.
"Benar, aku mengerti." Bambam mengangguk.
"Berhubung aku tidak tahu nama aslinya Choco, Do Kyungsoo dan Kim Jiwon mungkin akan membantu kalian karena mereka juga mengenal Choco, dan tentunya mereka mengenalku." Jackson mengeluarkan gaya yang imut dengan kedua jari telunjuk yang ditempelkan di pipinya.
Lagi-lagi Bambam teringat apa yang Youngjae katakan tentang Jackson: ia dibully dengan sangat keras sehingga memutuskan untuk merenggang nyawa dan menjadi seperti ini. Padahal, Bambam sendiri berpendapat bahwa Jackson bukanlah orang yang buruk, bahkan ketika sudah menjadi hantu seperti ini, Jackson tetap membawa aura yang ceria meskipun pada awalnya menakutkan.
Itu membuat Bambam menyayangkan kenyataan yang ada.
"Selain Mark hyung dan aku, apakah ada manusia berdarah campuran yang lain? Maksudku... yang beruntung?" tanya Bambam lagi.
"Ada, banyak. Tapi mereka memilih untuk menghindar dan melaporkanku kepada paranormal. Kau tahu betapa menyakitkannya ketika paranormal itu menebar bawang putih dan juga air suci mereka? Dan juga, menampakkan diri agar terlihat oleh manusia tanpa indera keenam itu melelahkan, itu menghabiskan energi kami. Bayangkan saja! Kami harus menguras energi dan berhadapan dengan bawang putih."
Bambam mulai terkekeh kecil dan merasa flexibel saat ini. Memang belum sepenuhnya terbiasa, apalagi nyaman, tapi setidaknya Bambam sudah mengerti dengan kondisi dan situasi yang terjadi padanya saat ini.
"Dan Mark hyung, dia adalah manusia terkalem, tenang, dan sabar yang pernah kutemui. Awalnya dia juga berteriak ketika melihatku muncul dengan wajah yang mengerikan itu, tapi seiring waktu, dia mulai terbiasa dengan keberadaanku dan kami mulai berbicara. Akhirnya, kami menjadi teman." ada raut yang bahagia di wajah pucat Jackson, dan tanpa Bambam sadari, itu membawa kebahagiaan pula bagi diri Bambam sendiri.
Dengan tatapan yang hangat, Bambam menatap wajah pucat Jackson dan tersenyum ringan. "Kami akan berusaha untuk membantumu."
.
.
.
.
"Appa harus keluar lagi?"
"Ini penting, nak. Terjadi pembunuhan di pinggir kota."
"Apa tidak ada orang lain yang bertugas?"
"Appa tidak bisa membiarkan ini, mereka membutuhkan perintah dari appa."
"Tapi-"
"Sudah dulu ya, Bambam, appa janji akan pulang pagi ini."
Janji lagi, iya. Begitu kata hati Bambam. Entah untuk keberapa kalinya, tapi Bambam masih tetap melakukan hal yang sama, yaitu meyakini dirinya bahwa sang ayah akan segera pulang di pagi hari walaupun pada kenyataannya tetap berbeda.
Lagi-lagi, Bambam harus bermalam di rumahnya tanpa kehadiran sang ayah, sendiri. Bambam memang sudah cukup dewasa untuk melakukan segala sesuatunya sendirian, tapi yang ia inginkan hanyalah keberadaan seseorang di sampingnya, terutama ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini.
"Hati-hati, ya." kata Bambam seraya berdiri dengan lemas di ambang pintu.
"Ne, kau istirahat, ya? Appa akan segera pulang."
"Hmm."
Dengan setengah hati, Bambam membiarkan ayahnya pergi bersama dengan para pengawal dan juga anak buahnya. Memang sebuah kebanggaan, memiliki seorang ayah yang memiliki pangkat yang tinggi di dalam pekerjaannya, karirnya bagus, segalanya terjamin, namun segala kesibukannya perlahan membuat Bambam ingin mengambil bintang-bintang yang ada di pundak ayahnya.
"Hft, sendiri la-OMO!"
"HAI BAM. BAAAAM!"
"Yak! Mwoya?! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Mark sedang kencan dengan pacarnya, aku kesepian, jadi lebih baik main ke rumahmu saja, hehe. Kau juga kesepian, kan?"
"..."
Gila, itu yang ada di kepala Bambam. Ternyata hantu Jackson memang bukan sekedar hantu biasa, bahkan Bambam meragukan bahwa Jackson sebenarnya belum mati karena sifatnya benar-benar mengejutkan seperti manusia. Sudah mati saja seperti ini, apalagi kalau masih hidup.
"Ya ampun," Bambam berkeringat dingin, "kau menakutkanku saja."
"Hehe, maaf ya, aku masuk lewat jendela tadi."
"Lain kali masuk lewat pintu depan!"
"Iya, aku akan menjadi hantu yang sopan lain kali." Jackson menyeringai.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Menunggu hingga Mark hyung pulang. Dia sedang kencan dengan pacarnya dan aku tidak boleh mengganggunya, Mark hyung selalu mengancamku jika aku muncul ketika mereka sedang berduaan, Mark hyung tidak akan bicara lagi padaku."
Bambam tertawa sekaligus mencoba untuk mendekatkan diri dengan Jackson, "namanya juga orang sedang kasmaran. Jangan diganggu!"
"Bam," Jackson duduk di sofa, sedikit membuat Bambam tidak nyaman dengan pantat Jackson yang agak melayang-layang itu, "Mark hyung belakangan sibuk terus dengan pacarnya, nih. Kalau dia lupa dengan permintaanku bagaimana?"
"Aku yang akan mengingatkannya nanti."
"Balakangan pacarnya selalu datang ke rumahnya, hampir setiap hari. Mereka berciuman, makan bersama, saling berpelukan di atas ranjang tidur, mereka mesra sekali. Aku sampai harus keluar dari kamarnya."
Tidak ada yang dapat Bambam katakan selain tersenyum dan menjadi pendengar yang baik. Untuk seseorang yang tidak pernah punya pacar, Bambam bingung harus mengatakan apa selain meyakinkan Jackson bahwa siapapun jika orang itu sedang jatuh cinta, ia pasti akan melupakan segalanya jika sudah bersama sang pujaan hati.
"Kalau kalian pacaran kan lebih enak, hehe."
"HAH?!"
"Hehe, bercanda." Jackson menggaruk kepalanya. "Tapi walaupun kalian sesama jenis, aku setuju saja jika kalian bersama."
"Kau ini bicara apa, sih?!" Bambam memajukan bibirnya sesenti.
"Memangnya kau tidak menyukai Mark hyung?"
"Ya jelas aku menyukainya, sebagai kakak kelas. Dia baik." Bambam menjawab dengan tegas.
"Hanya karena itu?"
"Ya."
"Aku lebih senang lagi kalau kalian lebih banyak menghabiskan waktu bersama, bahkan jika tidak sedang bersamaku."
"Hft," Bambam terlihat menyerah untuk berbicara dengan sosok hantu, "pantas saja Mark hyung tidak ingin kau berada di dekatnya ketika Jiyeon nuna berada di sana, kau cerewet!" lalu Bambam meninggalkan Jackson sendirian di ruang tamu, ia memilih untuk belajar daripada mendengarkan celotehan tidak jelas dari arwah yang penasaran.
"Eh! Bam! Tunggu!" Jackson mengejar Bambam ke kamarnya. Karena dia hantu, tubuhnya dapat menembus benda apapun, meski pintu kamar Bambam sudah tertutup rapat. "Bam?"
"Hm?"
"Aku rindu Choco."
"..."
"Aku ingin menemuinya, tapi sampai sekarang aku tidak tahu dia ada di mana."
Terlihat ekspresi yang sangat menyedihkan di wajah Jackson. Bambam tidak pernah tahu bahwa hantu juga memiliki emosi. Mungkin si Choco itu benar-benar berarti bagi Jackson hingga ia merindukannya, bahkan setelah Jackson mati sekalipun, ia tetap merindukannya.
"Kumohon, temui Choco."
Ada sedikit sentuhan di hati Bambam, sentuhan yang sangat halus.
"Aku berjanji, jika Choco ditemukan, aku tidak akan mengganggu kalian lagi."
"Aniyo, Jackson, kau tidak mengganggu kami."
"Mungkin bukan kau," dengungan suara Jackson kini terdengar lebih jelas lagi.
...ternyata hantu itu menangis.
"Jackson?" Bambam segera bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri di hadapan Jackson. Apa yang Bambam lihat benar-benar nyata, ada air mata yang keluar dari mata Jackson, namun tidak jatuh ke lantai, melainkan hilang ketika air mata itu jatuh dari rahang Jackson. "Kau bisa menangis?"
"Maaf kalau aku menakutkan."
"Aniyo, ini... tidak semenakutkan yang kukira. Jangan khawatir, kau bisa tinggal selama yang kau mau, bahkan ketika Choco sudah ditemukan."
"Iya, tapi Mark hyung jelas terganggu dengan kehadiranku di hidupnya. Dia membenciku."
.
.
.
.
.
- To be continued -
Huhuu Jackie nangis :( gimana atuh setan kok bisa nangis :( Eeeeee author mau curhat dolooo xD IKON KAMBEK YEESSSS yawlooo tau nggakk author manteng dua jam di depan PC cuma buat nungguin kambeknya iKon biar nggak ketinggalan huhu watir :') HANBIN GANTENGNYA KAYAK MINTA DIPELET DUH ADE GAK KUAT BANG BANG /nangis kejer/. Gimanaaa? Suka nggak chapter tiga nyah?! Si babi *eh bobby* author jadiin arwah gak apa apa yak xD terimakasiii untuk review di chapter sebelumnya, semoga chapter yang ini menarik untuk kalian semuaa yaa:* kalo garame mah woles weee da aku mah apa atuh/? *hashtag basi* *hashtag author peler*, okeee sudah saatnya author bobo sekarang mueheheh smoga ketemu di chapter selanjutnyaaa *aminnn* :*
