jimin meraih jam tangannya yang ada di atas meja—jam setengah delapan. ia lantas segera bangkit dari ranjangnya dan mengambil tas untuk bersiap berangkat sekolah.

baiklah, mari jalani hari seperti biasanya.

hal pertama yang jimin dapati ketika membuka pintu kamar adalah bahwa pagi ini mendung, tidak seperti biasanya. suasana suram macam ini jadi membawa jimin kepada ingatan tentang kejadian semalam, padahal ia sudah berusaha sekeras mungkin untuk tidak terlalu memikirkan perkara keinginan anak-anak itu untuk bunuh diri. lagi pula taehyung juga bilang ia tidak perlu tahu soal alasan di balik itu, 'kan?

"banyak pikiran, jim?"

jimin menengok ke kanan, ada kak jinhwan yang sedang duduk di depan pintu kamarnya sambil mengikat tali sepatu. asrama mereka ini bentuknya bukan seperti rumah, cuma deretan kamar yang dihuni satu orang per ruangan. jimin jadi berpikir betapa anehnya sekolah ini—bangunannya tua dan tidak bagus-bagus amat, pengamanannya tidak ketat, dan kelakuan murid-muridnya badung—merokok dan semacamnya sudah bukan hal yang tabu di antara mereka. tapi mereka punya guru-guru dengan kualitas bagus dan nyaris semua murid di sini pintar dan berprestasi, makanya sekolah ini jadi yang terbaik di kota dengan seleksi masuk yang sulit. jimin sendiri bukan anak pintar apalagi berprestasi, ia rasa ia beruntung saja pernah rajin belajar sewaktu smp, dan—

—ah, ya. kayaknya dia memang terlalu banyak berpikir pagi ini.

jadi jimin cuma menggeleng pelan, lalu tersenyum dan melambaikan tangannya. jinhwan membalasnya dengan anggukan kecil sebelum jimin berbalik dan berjalan duluan ke gedung sekolah. oke, dia cuma harus memikirkan cara untuk mencegah mereka, tidak perlu terlibat lebih lanjut mengenai masalah yang ada karena itu memang di luar kepentingannya.

lagi pula kenapa kim taehyung memilihnya, sih?

"jam enam sore nanti," jimin nyaris serangan jantung saat ia melirik ke samping dan mendapati seseorang tiba-tiba menyamai langkahnya dan berbisik di telinganya. kim taehyung. ia lalu menyelipkan sesuatu di genggaman tangan jimin.

"apa—"

"ini kuncinya. kau datang duluan, nanti kami semua menyusul. jangan lupa." setelahnya ia langsung berjalan cepat mendahului jimin yang terdiam di tempat dengan sebuah kunci dalam genggaman.

astaga, rasanya jimin mau menangis saja.

bel makan siang sudah berdering sedari tadi dan kelas sudah nyaris kosong. semuanya langsung menuju kantin sementara di sini cuma tersisa beberapa anak yang lebih memilih buat mengerjakan tugas serta seorang park jimin yang sedang menatap kosong ke arah papan tulis. tentu saja yang dipikirkannya tidak jauh dari kata kunci kelanjutan hidupnya: motivasi. entah apa yang akan taehyung lakukan padanya jika jimin gagal memotivasi sekumpulan temannya yang mau bunuh diri itu.

omong-omong soal itu, jimin jadi teringat ucapan taehyung semalam. jadi mereka semua memang benar-benar berteman, ya?

jimin menghela napas berat. wow, seorang kawan sungguhan pun dia tidak punya, sementara taehyung si berandalan dapat lima murid hebat untuk jadi teman karib. bukannya jimin iri karena teman-temannya itu hebat, dia cuma iri pada fakta bahwa kim taehyung benar-benar punya teman. sejauh yang jimin ingat, dia sendiri cuma pernah punya teman sewaktu kecil di panti asuhan. itu pun cuma satu, habis itu si teman pertama dan mungkin terakhirnya pindah dan jimin tidak pernah dapat satu lagi setelahnya. lagi pula itu sudah lama, namanya saja jimin sudah lupa.

"sst," seseorang di belakang mendorong pelan bangku jimin. im nayeon yang sedang mengerjakan tugas bahasa untuk besok menunjuk ke arah pintu dengan dagunya saat jimin menengok. "dia mencarimu bukan?"

jimin beralih ke pintu dan mengerutkan kening saat mendapati min yoongi tengah berdiri di sana. tangannya membuat getsur yang menyuruh jimin untuk datang mendekat.

jimin menunjuk dirinya sendiri, "aku?" dan dibalas dengan anggukan pelan yoongi. ragu-ragu, jimin bangkit dari bangkunya dan menuruti perintah cowok itu. diliriknya sekilas beberapa teman sekelasnya di belakang yang ternyata juga sedang meliriknya dengan tatapan yang ia terjemahkan sebagai: "oh, jadi si park jimin ini sudah jadi orang penting?"

jimin tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak.

"apa tae sudah menemuimu lagi?" yoongi bertanya seraya mereka berjalan menjauhi kelas, entah ke mana tujuannya.

jimin mengangguk, "tadi pagi, dan dia memberiku kunci. memangnya kenapa, kak?"

"jaga-jaga kalau kau kebingungan." yoongi menjawab tanpa mengalihkan pandangan ke arah jimin. "dia tidak menjelaskan apapun lagi soal kami 'kan?"

jimin mengangguk lagi, lalu kali ini yoongi menatapnya. "makanya aku datang untuk menjawab pertanyaanmu. tanyakan saja apapun."

jimin terdiam sejenak untuk berpikir. ada terlalu banyak pertanyaan bersarang di kepalanya.

"bagaimana caranya memotivasi kalian?" jimin akhirnya memilih pertanyaan itu. tapi sepertinya itu pilhan yang bodoh karena setelahnya yoongi mengerutkan kening bingung.

"itu 'kan tugasmu. kalau aku tahu juga akan kulakukan sendiri. ganti pertanyaan, yang kira-kira aku tahu jawabannya."

"oke," dan jimin berpikir lagi. walaupun agak ragu apakah ia bisa dapat jawaban yang sesungguhnya, tapi sebenarnya memang ini lah yang paling membuatnya penasaran: "kenapa kalian mau bunuh diri? maksudku aneh saja, kalian 'kan—"

yoongi menginterupsi dengan satu decakan, dan jimin langsung diam.

"park, dengar. kami melakukan ini memang dengan alasan, tapi bukan berarti kau bisa begitu saja dapat hak untuk mendengarnya. kenapa? karena kau bukan siapa-siapa. siapa yang bisa jamin kau tidak akan membocorkan itu pada orang lain? dan soal kami adalah anak bepengaruh," yoongi mengambil napas, "aku tidak tahu apa yang kaumaksud dengan itu. semua orang punya masalah, jimin. kau juga punya masalah. hanya saja masalah kami lebih besar—atau sebenarnya bisa saja lebih kecil, tapi nyali kami tidak lebih besar dari kalian yang memilih untuk tetap hidup."

jimin tidak menjawab. ia kelihatan super menyesal dan yoongi jadi merasa seperti ia baru saja memarahi anak kecil penasaran yang salah pertanyaan. ditepuknya punggung jimin supaya ia tidak menunduk terus-terusan, "maaf, tidak bermaksud memarahimu. hanya saja kurasa kau memang harus mengerti soal itu." ia tersenyum saat jimin akhirnya mengangkat kepala, dan kemudian memimpin langkah mereka untuk berbelok ke kantin.

yoongi menengok ke arah jimin yang diam saja di belakang sementara ia mengambil nampan makan dan mulai mengantri bersama beberapa anak lain. "tidak makan?"

"a-aku?"

yoongi mengangguk pelan, lalu kembali fokus pada antreannya, seolah mengajak adik kelas untuk makan bersama adalah hal yang sering dilakukannya—yang mana sebenarnya tidak sering, bahkan sepertinya tidak pernah sama sekali. jimin tidak lapar, ia memang sudah terbiasa melewatkan makan siang. tapi entah mengapa alih-alih menolak dengan sopan, jimin malah buru-buru mengambil nampan dan masuk antrean. mungkin ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa dirinya, park jimin, bisa bergaul. atau mungkin karena yoongi memberinya perasaan hangat yang nyaman dengan berada di dekatnya? jimin tidak tahu pasti, dan memilih untuk tidak terlalu peduli karena toh belum tentu perlakuan ini bakal bertahan selamanya.

makan siang mereka tidak bisa dibilang menarik. mereka duduk berhadapan dengan yoongi yang fokus pada makanannya, dan jimin yang juga makan sambil sesekali melirik yoongi untuk membaca ekspresinya. beberapa menit yang lalu ia banyak bicara, entah mengapa tiba-tiba malah jadi diam begini. jimin sedang di tengah lamunannya tentang apakah kira-kira yang sedang ada dalam pikiran yoongi ketika tiba-tiba ia merasakan colekan pelan di lengannya. ia mengangkat kepala dan mendapati yoongi tengah menunjuk kim seokjin yang baru selesai mengantre dengan dagunya. jimin memperhatikan seokjin menaruh nampannya di meja dan duduk sendirian, lalu ia buru-buru membuang muka ketika cowok itu menangkap basah dirinya. tapi selang beberapa detik kemudian, diam-diam diliriknya yoongi yang sedang melihat seokjin, lalu seokjin yang juga melihat yoongi, lalu yoongi yang kembali fokus pada nampannya sendiri. tanpa bertukar senyum, tanpa bertukar sapa.

jadi taehyung benar-benar serius soal tidak ada yang boleh tahu kalau mereka semua saling mengenal satu sama lain.

"masalah kami adalah bahwa kami tidak benar-benar punya teman." yoongi langsung melanjutkan ketika dilihatnya jimin sudah membuka mulut untuk memotong, "oke, kecuali hoseok. tapi asal tahu saja, dia tidak pernah menganggap teman-temannya itu." ia mengecilkan suaranya di kata 'hoseok', berhati-hati takut sekelompok anak yang duduk sekitar 50 sentimeter di samping mereka mendengar—meski rasanya tidak mungkin mengingat ia bicara dengan suara berbisik sementara mereka sibuk mengobrol.

"kalau kau sendiri kenapa, kak?" jimin ikut berbisik.

"entah, mereka membuatku tidak nyaman. tapi aku oke berteman dengan namjoon dan yang lain—yah, kau tahu siapa saja yang kumaksud."

jimin mengangguk, lalu menolak dalam hati untuk bertanya soal alasan anak-anak yang lain. yakin 100% yoongi bakal menolak untuk menjawab.

"aku juga oke berteman denganmu, jim," yoongi tersenyum kecil, dan jimin merasakan jantungnya nyaris berhenti berdetak gara-garanya. "maksudku, kau tidak tampak palsu seperti yang lainnya. mungkin itu juga alasan taehyung memilihmu?"

jimin berusaha keras untuk tidak terbang ke langit ketujuh gara-gara ucapan tadi dengan buru-buru menimpali. "ah, ya, tapi bisa saja karena aku bukan siapa-siapa? tidak akan ada yang percaya padaku kalau tiba-tiba aku membocorkan rahasia kalian, iya 'kan?"

"bisa jadi sih," yoongi memasukan suapan terakhir sup rumput lautnya ke dalam mulut, "tapi dengan menjadi sekadar 'bukan siapa-siapa' bukan berarti langsung bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah kami."

jimin mengangguk paham, dan setelahnya yoongi melanjutkan. "kurasa karena kau orang yang baik, jim. tebakanku, sih. apapun itu, yang pasti taehyung memilihmu karena kau berbeda dari yang lain."

jimin tidak menjawab. rasanya semakin berat karena yoongi kelihatan benar-benar percaya padanya. tapi tatapan yang yoongi berikan padanya sama persis seperti yang taehyung berikan padanya kemarin malam—ada harapan serta permohonan. dan sialnya, jimin bukan seseorang yang bisa melupakan permohonan jenis itu.

chapter 3: fin