[SEBELUMNYA]

"Kim Jongin… Kau tidak menjawab lagi." Kata Om Sehun.

"Ada apa? Bibirmu kaku, huh?"

"Perlu dilemaskan? Atau bagaimana?" Om Sehun menarik daguku, sehingga pandanganku kini tertuju pada wajah tampannya.

Apa yang akan dia lakukan dengan posisi seperti ini? Bukankah ini posisi lelaki yang akan mencium wanitanya? Tunggu… Tunggu… Secepat inikah tindakan Om Sehun padaku? Ah sial, aku sudah membayangkan yang tidak-tidak. Bibirnya, lidahnya, tangan kokohnya, tubuh kekarnya, dan… dan… permainannya di ranjang? Uh kotor sekali otakku.

"Perlu saya telepon dokter langganan keluarga ini?" Tanya Om Sehun mengagetkanku.

"Saya khawatir denganmu yang kaku tak mampu bicara itu." Lanjutnya, kini melepas tangannya dari tengkuk dan tubuhku.

Dasar Kim Jongin mesum! Mesum! Memang mesum! Begitu saja sudah berpikir bahwa Om Sehun akan macam-macam denganku. Gila! Ternyata dia hanya khawatir dengan kesehatanku. Aku memang bodoh.

"Tidak Om, begini, tadi tadi… Saya mau mengajak om makan." Aku mencari alasan tiba-tiba.

"Hm, makan? Ini sudah masuk jam 8, kamu masih ingin makan? Saya tidak biasa makan jam segini. Kalau kamu mau makan, makan saja dengan Kyungsoo, tidak perlu mengajak saya." Kata Om Sehun.

Sudah kuduga, lelaki ini pasti sangat peduli dengan dirinya sendiri. Bahkan ia tidak makan lewat dari jam enam sore. Pantas saja tubuhnya masih kencang dan seksi. Ah, persetan dengan peringatan Kyungsoo soal aku tak boleh menggoda Om nya ini. Toh aku benar-benar tertarik pada Om Sehun.

"Oh begitu ya Om… Maaf kalau begitu. Saya permisi dulu." Ucapku, ingin cepat berlalu darinya.

"Memangnya Kyungsoo tidak bilang soal kebiasaan saya? Saya tidak suka makan malam." Kata Om Sehun.

"Ya, Kyungsoo tidak bilang soal itu, Om. Maaf ya, saya juga tidak tahu." Jawabku.

"Sekali lagi, saya permisi dulu, Om…" Tambahku sambil berjalan beberapa langkah menjauhi Om Sehun.

"Oh iya, Kim Jongin!" Om Sehun tiba-tiba memanggil.

"Jangan begitu lagi lain kali, jika kamu penasaran dengan saya, masuk saja ke kamar. Jangan jadi penguntit ya." Kata Om Sehun sambil terkekeh kecil padaku.

Astaga, apa yang Om Sehun katakan? Jadi sebenarnya dia mengerti soal aku yang menguntit dan berbohong soal alasan tadi? Kim Jongin bodoh!

"Iya, maaf Om. Permisi." Aku akhirnya kehabisan kata-kata dan berlalu saja dari Om Sehun.

Besok harus pergi lebih awal agar tidak bertemu Om Sehun lagi. Aku kelewat malu meski aku mau sekali dengan Om Sehun. Sial, sial, sial! Bagaimana ini? Akhirnya aku berlari menuju dapur dimana Kyungsoo sedang memasak.

"Soo… Kyungsoo…" Aku memanggilnya, tapi tak ada jawaban.

Ketika aku melihat ke dapur, hanya ada pasta yang baru matang dan sausnya belum disiram keatas pastanya. Apakah Kyungsoo sedang pergi ke toko untuk membeli sesuatu? Atau menghilang kemana manusia itu? Lalu aku memutuskan mencari Kyungsoo, siapa tahu dia benar sedang ke toko untuk membeli sesuatu.

Saat sampai diruang tamu, aku dikagetkan dengan posisi Kyungsoo yang kini sedang asik bercumbu dengan seorang laki-laki. Ini pasti Chanyeol, pikirku. Dia gila, bisa-bisanya langsung menyerang Kyungsoo begitu saja. Pagutan mereka sangat intens, bibir tebal Kyungsoo terlihat dihisap lembut oleh Chanyeol, Kyungsoo pun tidak tinggal diam, dia memang sangat nakal, tangannya meraba abs Chanyeol yang jelas terlihat sempurna itu. Mereka bodoh atau bagaimana aku tidak tahu, yang jelas bercumbu di ruang tamu adalah perbuatan yang tidak baik. Selain tak sopan, Om Sehun bisa saja memergoki kelakuan bejat mereka. Untung saja aku yang menemukan mereka seperti ini. Jika Om Sehun bagaimana? Mungkin mereka sudah dilaporkan ke orangtua Kyungsoo.

"Yaaakkkkk…. Do Kyungsoo!" Aku berteriak. Sontak Kyungsoo langsung melepaskan pagutannya pada lelaki itu.

"Kyungsoo tolol! Jangan lakukan disini, bodoh!" Lanjutku berteriak lagi.

"Cih, galak sekali temanmu ini, Soo." Ucap laki-laki itu.

"Heh kau! Kau juga tidak sopan melakukan hal seperti itu disini. Kalau ketahuan Om nya Kyungsoo bagaimana?" Kataku.

"Maaf Jong, maaf…. Aku kelepasan tadi, tidak ingat tempat." Kyungsoo bersuara.

"Aku mau gila rasanya melihat kalian seperti itu." Ungkapku.

"Iri ya? Mau bergabung? Kurasa Kyungsoo tidak keberatan kalau malam ini…. kita…"

"Jangan bermimpi ketinggian, laki-laki kuping lebar!" Aku memotong ucapan laki-laki itu.

"Jong, ini Chanyeol…" Kata Kyungsoo.

"Ah, sudah kuduga." Aku malas.

"Yap, bukankah lebih baik pindah ke kamar?" Kata Chanyeol tiba-tiba.

"Soo, bukannya kau akan membunuhnya? Kenapa malah diajak yang tidak-tidak, sih?" Kataku pada Kyungsoo.

"Aku berubah pikiran, Jong. Aku sepertinya butuh sedikit hiburan." Begitu kata Kyungsoo.

"Lalu bagaimana jika Om Sehun tahu?" Aku mulai bingung.

"Bilang saja dia teman kita, mau mengerjakan tugas dikamarku." Ujar Kyungsoo terdengar enteng.

"Soo, yang benar saja? Kalau Om Sehun mengecek bagaimana?" Tanyaku.

"Tidak akan mengecek, paling dia sekarang sedang sibuk. Kau pintar-pintar alasan saja."

"Dan satu lagi, jaga diluar kamar ya!" Ucap Kyungsoo.

"Berengsek kau Soo! Kau enak-enak main dengan Chanyeol, aku malah harus berjaga didepan kamar? Gila!" Aku kesal.

"Terus mau bagaimana? Kau mau bergabung?" Ucap Kyungsoo.

"Dasar gila!" Aku mengumpat.

"Hahahaha…" Kyungsoo dan Chanyeol tertawa bersama melihatku yang kesal. Uh, ini sangat menyebalkan ketika harus menutupi kejahatan teman sendiri dan kita harus mengorbankan diri demi menjaganya. Aku sebenarnya masih takut jika ada Om Sehun yang bertanya soal Kyungsoo.

"Sudahlah Jong, lebih baik kau lakukan apa yang aku mau tadi. Sudah yaa…" Kyungsoo kemudian beranjak dari ruang tamu bersama Chanyeol.

"Kyungsoo…" Aku memanggilnya lagi.

"Apa lagi sih, Jong? Kau mau makan? Di dapur sudah ada pasta, makan saja yang ada. Jangan berisik." Kata Kyungsoo padaku, jahat.

"Jahat sekali, Soo…" Aku sedih.

"Kalau kau mau, kau bisa bergabung. Masuk saja ya Jong! Ahahaha…" Chanyeol terdengar menyebalkan.

"Diam kau Chanyeol!" Aku geram.

"Ya, apa yang dikatakan Chanyeol benar, Jong. Kalau kau mau bergabung, masuk saja. Nanti tidak akan ku kunci pintunya." Kata Kyungsoo.

"Ah terserah kalian lah! Kepalaku jadi sakit gara-gara melihat kalian ini. Sudah cepat sana pergi dari hadapanku!" Ucapku, kesal.

Akhirnya aku memilih mengalah dari dua orang yang hormonnya sedang meletup-letup itu. Lebih baik sekarang makan dan tidur di sofa ruang tamu. Ini akan lebih aman daripada melihat Chanyeol dan Kyungsoo bercinta didepanku.

Tak perlu waktu lama, aku langsung menghabiskan pasta buatan Kyungsoo. Tidak lupa mencuci semua peralatan dapur yang kotor. Kyungsoo bisa memarahiku jika semua ini masih kotor dan aku tak mau dia marah padaku. Ah, kira-kira dia sedang apa ya? Apa mereka benar-benar langsung bercinta? Atau jangan-jangan masih pemanasan? Sial, membayangkannya saja membuatku jadi merinding.

"Sshh… Ahhh… Yeol… More…" Desah Kyungsoo kini, aku bahkan bisa mendengarnya dari balik pintu. Dia memang berisik jika sedang bercinta. Bodoh! Bagaimana jika Om Sehun tahu tentang ini? bisa mati dia.

"Nghhh… Seperti ini, sayang? Huh..? Ahhh… Kau terlalu nikmat." Chanyeol bersuara. Mereka berdua sama-sama berisik juga.

"Uhhhh Yeol… Chanyeol… Ahhh lagiiiii…"

Muak! Aku benar-benar akan tidur saja di sofa ruang tamu. Persetan dengan mereka berdua yang nanti akan ketahuan Om Sehun. Aku segera melangkahkan kakiku ke ruang tamu kemudian membanting tubuhku ke sofa.

"Ahhh, nyaman. Daripada mendengarkan orang itu bercinta, lebih baik aku tidur." Ucapku.

"Lelah juga seharian ini mengerjakan tugas. Aku benar-benar mengantuk."

Akupun memejamkan mata, merasa nyaman dengan posisiku sekarang. Leher yang sedari tadi pegal terasa relax kembali, pinggang yang terasa sakit kini terasa lebih membaik. Aku mengosongkan pikiran, merasakan kantuk mulai mengusaiku, pasrah dalam tidur yang cukup nyaman malam ini.

"Kau sangat cantik Jongin…" Suara laki-laki itu terdengar ditelingaku.

"Kyungsoo tak pernah bercerita tentangmu." Suara itu, lagi.

"Kau sangat cantik…" Lagi, semakin dekat, semakin dalam.

Pahaku serasa dibelai lembut, rok yang kukenakan rasanya tersingkap tinggi. Siapa yang melakukan ini? Chanyeol? Ah tidak, dia sekarang pasti sedang bergumul dengan Kyungsoo. Lalu siapa? Om Sehun? Lelaki itu semesum ini? Kurang ajar! Ah, tapi aku menyukainya. Libidoku membuncah. Om Sehun… Lelaki seksi itu.

"Kau cantik sayang…" Ucapnya lagi.

Dan ketika aku membuka mata, didepanku ada Om Sehun yang tengah mengusap paha dalamku. Sial, ini geli! Sial, ini nikmat.

"Om… Apa yang Om lakukan?" Aku gemetar tiba-tiba.

"Apa yang saya lakukan? Menurutmu?" ia balik bertanya.

"Om… Jangan…" Kata Jongin.

"Jangan lama-lama maksudmu ya?"

"Om… Jangan…" Aku menyingkirkan tangan Om Sehun. Aku ingin sekali sesuatu yang lebih. Tapi ini tidak boleh mudah, setidaknya aku harus menolak Om Sehun dahulu.

"Jangan mengelak, sayang…. Aku tahu kau menyukainya. Ini bukan pertama kalinya, kan?" Om Sehun menyeringai sambil terus meraba pahaku.

"Om… Nghhh…." Sial, aku terpancing.

"Ingin lebih, huh?" Tanya Om Sehun, membuatku gila.

CUP… CUP…

Sialan! Dia mencium dan menindihku. Bibir seksinya itu melumatku, menghisapku, mengesap tiap salivaku. Hangat, manis, nikmat, sungguh luar biasa. Dia mengusaiku dengan baik sampai tanganku hanya mampu meremas dan mengacak rambutnya. Sedang tangan Om Sehun kini masuk ke kaosku, menerobos bra milikku dan mulai memainkan payudaraku. Gila, luar biasa, tiada henti aku mengagumi lelaki dewasa ini, permainannya membuatku tak mampu berpikir. Aku hanya pasrah dibawah kendalinya, membalas hisapan bibirnya, sapuan lidahnya, dan gigitan lembutnya.

"Ngghh,… Om… Hhhhhh…" Napasku tersengal ketika ciuman kami terputus. Om Sehun tetap menatapku tajam, aku tahu dia akan merkamku saat ini juga. Sudah sangat terlambat untuk menolaknya, ah lupakan soal aku yang tadi akan berpura-pura menolaknya. Saat ini juga aku tak mau menolak Om Sehun, aku menginginkannya! Aku hanya mau dia.

"Milikmu sudah basah, huh?" Katanya lirih, sambil terus menatapku.

Aku menggeleng, bohong.

"Benarkah tidak basah? Harus dipastikan terlebih dahulu. Jangan suka berbohong begitu, sayang…" ucapnya membuatku gugup.

Tangannya kini turun lagi menuju paha kemudian merambat keselangkanganku. Om Sehun menyentuh vagina basahku, mengusapnya lembut, dan aku, basah."

"Ah…. Om… Nggghhhh…" Desahku.

"Ini namanya basah, sayang. Kau berbohong." Kata Om Sehun.

"Akuu,.. Aku…. Ahhhh, tidak… nggghh…. Tidak basaaahhh ahhhh …. Om…" Aku berbohong lagi.

Om Sehun masih bermain dengan vaginaku. Lagi, lagi, lagi. Aku ingin lebih.

"Jongin sayang, anak baik tidak akan berbohong, bukan?" Ucap Om Sehun.

"I…. I..yaaa…. Om… Ngghhh,.. ahhh…" Jari Om Sehun begitu nakal menggoda vaginaku.

"kalau begitu yang bohong pasti anak yang tidak baik." Kata Om Sehun.

"Kau tahu kan, Jong? Anak yang nakal dan tidak baik itu harusnya dihukum." Lanjutnya.

"Jadi, Jongin yang manis ini harusnya dihukum. Benar, bukan?"

"Arhhhh…. Om…. Ahhh…. Enakkk…." Desahku, merasakan satu jari Om Sehun memasuki vagina becekku.

"Hey, kau ini harus dihukum sayang. Tidak ada hukuman yang enak." Kata Om Sehun.

"Sekarang menungging!" titahnya.

Berengsek, apa ini pertanda bahwa ia akan mengajakku bercinta sambil bermain peran? Shit, aku tidak peduli harus roleplay atau tidak. Yang aku butuh sekarang adalah bercinta sungguhan dengannya. Dan kini yang harus kulakukan adalah menuruti apa yang dia inginkan. Menungging.

PLAK…

"Ahh… Om… Sakit…" Aku meringis.

"Panggil saya DADDY!" Titahnya.

PLAK… PLAK…

Pantatku ditampar lagi.

"Ngghh… Iya, Daddy… Nghhhh…"

PLAK…

Ditampar lagi.

"Kau suka, huh?" tanya Om Sehun.

Aku hanya diam saja, masih merasa pantatku sakit karena tamparan kerasnya. Meski begitu aku malah semakin bergairah.

"Jongin sayang… Bagaimana dengan jariku? Kau menyukainya, kan?" Om Sehun bertanya lagi.

Aku diam lagi.

PLAK…. PLAK…

"Jawab, sayangku! Kau nakal sekali, huh? Mau dihukum lebih berat dari ini?"

Aku merinding mendengarnya, tak kusangka Om Sehun sadis dalam hal seperti ini.

"Tidak Daddy, Jongin tidak mau dihukum…" Jawabku.

"Jawab Daddy, kalau begitu!" Om Sehun membentakku.

"Kau suka jari Daddy, huh?" Tanya Om Sehun.

"Su…S…Suka, Dadd…" Jawabku, gemetar.

"Bagus, jadi kau suka berapa jari yang akan masuk kesini?" Om Sehun mulai memasukkan satu jarinya ke vaginaku yang basah.

"Uggghhh… Om… Shhhh…" Aku mendesah.

"Berapa jari, sayang?" Tanya Om Sehun.

"Ngghhh… Satu, aggghhh…. Satu saja, cukup, Daddy… Ahhh…" Aku kalangkabut ketika Om Sehun menanyaiku sambil terus menggerakkan jarinya didalam vaginaku.

Aku benar-benar basah dan bergairah, walau hanya dengan jari Om Sehun. Kocokan jarinya di vaginaku benar-benar nikmat. Aku rasanya belum pernah fingering senikmat ini.

"Nggghhh… Daddy… Nikmmaaat… Ahhhh…" Desahku lagi.

"Nikmat, huh? Kau suka?"

"Sshhhhh…. Suka, Dadd… ahh…." Desahku tak henti.

"Seperti ini, sayang? Seperti ini?" Om Sehun malah mempercepat kocokan jarinya di vaginaku.

"Ughhhh,.. Daddy…. Ah… Iya, ngghh… Come on Daddy…. Fuck me with your finger! Ahhhh… Fuck! Fuck!" Desahku kini jadi jeritan karena rasa nikmat yang kini melanda.

"Akan kubuat kau cum hanya dengan jariku, sayang. Atau mungkin, kau ingin squirt?" Kata Om Sehun membuatku semakin gila.

Cum? Tentu saja aku ingin sekali cum, jarinya sudah membuatku nikmat sampai begininya. Squirt? Ini lebih gila, aku sudah lama tidak squirt. Aku ingin , ah sialan! Aku benar-benar ingin.

"Biar aku tunjukkan padamu, kenikmatan seperti apa yang bisa kau dapat dariku." Kata Om Sehun padaku.


Mohon maaf dari kemarin gak update :D hahaha, terlalu bahagia dengan SMTown dan juga Teaser Comeback KOKOBOP. Ulalaaaa dari kemarin SMTown bertebaran HunKai Moment, ada yang sadar? BTW Part kali ini pendek-pendek dulu yak, penasaran? penasaran? Saya juga penasaran *loh padahal saya yang nulis sendiri*. Teman-teman semua yang sabar aja ya, doakan saya saya bisa terus fast update sampai ini fiction selesai. Kritik dan saran sangat dibutuhkan, jadi mohon sempatkan type review dan react kalian ya. Saya cinta kalian :*

salam hunkai shiper :*