.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.
Pairing : SasuNaru, ShikaNaru.
Genre : Romence, Hurt/Comfort.
Rate : T.
Warning : OOC, semi-Canon, typo(s), No Yaoi.
DON'T LIKE DON'T READ!
One Heart © Yanz Namiyukimi-chan.
Chapter 3
.
.
"Err … A-ano … I-itu …"
Naruto bingung harus memberikan jawaban seperti apa pada Sasuke.
Berbohong atau berkata jujur?
"Se-sebenarnya aku dan Kakashi-sensei melakukan taruhan. Jika aku menang aku akan ditraktir ramen selama sebulan. Dan jika aku kalah aku harus menuruti kemauannya. Hahaha … Begitulah. Selanjutnya kau tahu sendiri 'kan?" seru Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ternyata Naruto memilih untuk berbohong.
Lagipula ia belum siap menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada Sasuke. Atau ia belum siap melihat reaksi Sasuke saat mengatakan semuanya. Jika sebenarnya ia adalah seorang perempuan bukan seorang lelaki yang selama ini Sasuke kenal. Sebenarnya ia tidak begitu peduli dengan reaksi yang akan diperhatikan oleh lelaki bermata onyx itu nanti. Hanya saja ia sedikit takut jika Sasuke akan pergi lagi meninggalkan Konoha setelah mengetahui yang sebenarnya.
Lelaki yang selama ini ingin melampauinya dan kini berhasil mengalahkannya untuk membawa kembali pria berambut raven itu ke Konoha, ternyata adalah seorang perempuan?
Naruto yakin Sasuke tidak akan pernah menerima jika ia dikalahkan oleh seorang wanita. Harga diri seorang Uchiha begitu tinggi.
Untuk kesekian kalinya alis Sasuke tertaut mendengar jawaban Naruto.
Naruto dan Kakashi saling bertaruh, kemudian Naruto kalah?
Sudah jelas bukan?
Tapi apa mungkin mantan sensei-nya itu sangat iseng hingga menyuruh Naruto mengubah wujud menjadi seorang wanita?
Ia tahu betapa jailnya seorang Hatake Kakashi pada murid-muridnya, tapi sekali lagi apa mungkin Kakashi melakukan itu pada Naruto? Apa itu tidak keterlaluan?
"Jadi kau kalah, Dobe?"
"Grr … Bukankah itu sudah jelas?" geram Naruto.
"Hn."
Rasanya Naruto ingin sekali menerjang pria berambut pantat ayam itu saat ini juga. Kemudian mencakar wajahnya agar tidak terlihat tampan lagi.
"Yo, Naru-chan! Kenapa kau memasang wajah seperti itu?"
Tiba-tiba suara Kakashi masuk ke gendang telinga Naruto. Dilihatnya Kakashi sedang tersenyum di balik masker yang digunakannya sambil melambaikan tangan kanannya pada Naruto. Berjongkok di atas kusen jendela yang dibiarkan terbuka lebar.
"KYAAAAA KAKASHI-SENSEI!" teriak Naruto kaget sekaligus panik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Kakashi.
"Yo, Sakura, Shikamaru," sapa Kakashi tak begitu mempedulikan teriakkan Naruto. Ya, walaupun sejujurnya teriakkan itu membuat gendang telinganya sedikit mendenging.
"Kakashi-sensei? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura sambil berjalan mendekati Kakashi.
"Hanya datang menjenguk," serunya.
"Bagaimana keadaanmu, Sasuke?"
"…"
"Sepertinya aku tidak dipedulikan," Kakashi menekuk kepalanya dan aura suram mulai menguar keluar dari tubuhnya.
Melihat itu, Sakura, Naruto dan Shikamaru mengeluarkan bulir-bulir sweatdrop dari kepala mereka. Sedangkan Sasuke tampak tak peduli dan memilih melihat keluar jendela.
"SASUKEE-KUUN!"
Suara melengking kembali mengisi ruangan Sasuke. Muncul seorang gadis berambut pirang dengan poni menutupi sebagian wajah cantiknya.
"Ino-chan?"
"Ino?"
Tak peduli suara yang memanggilnya penuh keheranan, Ino dengan cepat mendekati Sasuke. Rasanya ia ingin memeluk pemuda itu yang sudah lama tak dijumpainya. Sasuke mengeluarkan deathglare andalannya membaca apa keinginan gadis pirang itu. Sukses mengurungkan niat Ino untuk memeluknya.
"Hehe … Sasuke-kun ini untukmu," seru Ino meringis tidak enak. Ia menyerahkan bunga yang ia bawakan khusus untuk Sasuke.
"…"
Yang lain hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat itu semua.
"Wah, ternyata kalian juga datang kemari Neji, Lee, Kiba, Hinata-chan, Tenten-chan, Shino, Chouji," Naruto sumringah melihat teman-temannya datang menjenguk Sasuke.
"Yo, Naru-chan," sapa Lee.
Neji hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.
Chouji yang asyik dengan snacknya dan yang lainnya hanya melempar senyum.
"Yo, Naru-chan," sapa Kiba.
Sasuke mengernyit saat mendengar 'Naru-chan'
Layaknya seorang gadis manis Naruto mendapat panggilan seperti itu. Tentu saja Sasuke semakin bingung melihat ekspresi Naruto yang biasa saja. Tak ada rengutan kesal atau marah. Membuat Sasuke berpikir bahwa Naruto sudah tidak normal. Mana ada laki-laki dewasa sepertinya senang dipanggil dengan embel-embel 'chan'.
"Yare, yare. Kalian semua datang kemari?" seru Kakashi.
"I-iya. Ka-kami kemari untuk menjenguk Sa-Sasuke-kun," seru Hinata sambil memainkan ujung-ujung jari telunjuknya kebiasaan Hinata saat sedang gugup.
"Tentu saja. Bagaimanapun Sasuke adalah teman kami!" seru Lee dengan semangat yang berkobar.
Sasuke tersenyum sinis mendengarnya, 'Teman, heh?'
"Naruto."
Hup!
"Apa ini?" tanya Naruto saat menangkap sebuah kantung bingkisan yang dilempar Kakashi.
"Baju?" Naruto langsung mengernyit saat melihat isi bingkisan itu.
Sakura dan Ino yang mendengar itu saling melempar pandangan heran. Mau tak mau mereka penasaran. Kemudian mereka mendekat pada Naruto. Direbutnya kantung bingkisan itu. Melihat isinya dengan mata mereka sendiri.
"Benar ini baju. Tapi untuk apa kau memberi ini pada Naru-chan?" seru Ino.
"Sebagai perempuan harus mengenakan pakaian perempuan juga bukan?" seru Kakashi menyeringai dan mengedipkan matanya genit.
Ino memandang tak mengerti.
"APA?" seru Naruto seakan mengerti tujuan Kakashi.
"Kenapa Naru-chan? Kau keberatan?" Kakashi memberikan senyuman ala setan ke arah Naruto.
"Ke-kenapa aku harus mengenakan baju itu? Aku tidak mau!" ucap Naruto jelas menolak sangat keras.
"Ingat dengan perjanjiannya, Naruto."
Naruto bergidik melihat senyum Kakashi seakan semakin lebar.
Perjanjian?
Perjanjian apa?
Ini sungguh konyol. Tidak ada perjanjian apapun antara mereka. Sudah jelas ia sedang berbohong tentang perjanjian itu.
Tapi tunggu! Kenapa sensei-nya itu tahu akan hal ini? Jangan-jangan pria itu mendengar semua yang ia katakan pada Sasuke. Dan pria bermasker itu sudah merencanakan sesuatu.
Entah kenapa sekarang Naruto punya firasat buruk akan baju itu.
Naruto membayangkan bagaimana jika baju yang dibawa Kakashi adalah baju yang super feminim?
Sungguh ia tidak mau mengenakannya. Walaupun sekarang ia adalah seorang wanita, Naruto tak pernah membayangkan jika ia memakai pakaian Girly semacam itu.
Membayangkannya saja ia sudah bergidik sendiri.
"Ada apa? Ke-kenapa kalian melihatku seperti itu?" seru Naruto mendapati Ino dan Sakura tersenyum menyeringai padanya.
Tidak! Tidak! Bahkan lebih dari itu. Mereka tersenyum mengerikan. Ia merasakan hal yang buruk akan segera datang.
"Naru-chan…" ucap keduanya.
Sungguh Naruto mendengar suara musik neraka yang mengerikan yang sedang bernyanyi. Ia mundur selangkah mewaspadai apa selanjutnya yang akan terjadi.
"Sa-Sakura-chan. I-Ino-chan. Ka-kalian tidak berni —KYAAA…"
Tiba-tiba saja Ino dan Sakura sudah mengapit kedua tangannya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Naruto memberontak mencoba melepaskan diri.
"Ayo, Naru-chan pakai bajunya," seru Ino.
"Iya. Kasihan 'kan Kakashi-sensei sudah repot-repot membawakan baju ini untukmu," seru Sakura.
"Lagipula sayang jika tidak dipakai," sambung Ino.
Naruto langsung pucat pasi.
"Tenang saja, Naru-chan. Kami akan membantumu berpakaian," seru Sakura diiringi anggukkan antusias dari Ino.
"Tidak mau! Tidak mau!" seru Naruto saat dirinya diseret menuju kamar mandi.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau memakai pakaian itu. Shikamaru tolong aku ~"
Tapi apa daya Naruto. Semua teriakkan memilukannya itu tidak didengar oleh siapapun dan bahkan nampaknya tidak ada yang berniat untuk menolongnya.
Shikamaru yang melihat kekasihnya yang diseret seperti itu hanya bisa menghela napas.
"Dasar merepotkan!"
"Sebaiknya kita kembali saja ke kantor Hokage, Shizune," seru Tsunade yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar rawat Sasuke sejak tadi. Mendengar semua yang terjadi di dalam sana.
"Apa Tsunade-sama tidak mau masuk ke dalam melihat keadaan Naruto atau pun Sasuke?" tanya Shizune, asistennya.
"Sepertinya tidak perlu. Kelihatanya mereka baik-baik saja," ucap Tsunade sambil meninggalkan kamar Sasuke berniat kembali ke tempatnya.
Shizune tidak bisa berkata-kata lagi. Jika memang itu keinginan sang Hokage. Ya, mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa menurut saja.
.
.
"Hei, sudah aku katakana! Aku tidak mau memakainya!"
"Sudahlah kau diam saja, Naruto!"
"Itu benar! Kau pasti manis sekali mengenakan baju ini."
"Aku bilang tidak mau! Lepaskan AKU!"
"KYAAA… TIDAK! APA YANG KALIAN LAKUKAN?"
"TIDAK MENJAUH DARIKU!"
"KYAAAA JANGAN SENTUH ITU!"
"SUDAH KUBILANG JANGAN SENTUH YANG ITU!"
Teriakan-teriakkan memilukan dari Naruto terdengar. Entah apa yang dilakukan oleh Ino dan Sakura di dalam sana. Naruto menjerit seperti sedang diperkosa. Mengundang tanda tanya sekaligus penasaran. Dan juga meratapi nasib Naruto yang begitu malang.
Cklek!
Keluarlah Ino dengan wajah yang berseri. Ia tampak puas dengan apa yang baru saja ia lakukan di dalam kamar mandi tadi.
"Bawa dia keluar, Sakura!" suruh Ino pada sahabat kecilnya.
Tak lama kemudian terdengar perseteruan Naruto dan Sakura di dalam kamar mandi.
"Aku tidak mau keluar dari sini!" suara Naruto terdengar sedang menolak keinginan Sakura.
"Ayolah, Naruto. Kau tampak manis kok dengan baju itu," terdengar Sakura sedang membujuk Naruto.
"Apa? Ini terlihat menjijikan. Aku tidak mau keluar menggunakan pakaian seperti ini."
"Oh… Kau tidak mau keluar? Atau kau ingin sesuatu dariku?"
Mendengar dari nada bicara Sakura, sudah jelas bahwa ia sedang memberikan ancaman pada Naruto.
"I-itu…"
"Oh… Kau ingin sesuatu dariku?"
"Ti-tidak!"
"Kalau begitu cepat keluar!"
"Ta-tapi…"
"Akh, kau lama sekali, Naruto!"
Sakura mendorong keluar Naruto dari kamar mandi.
"…"
"…"
"…"
"…"
"…"
"Ka-kau benar-benar Naruto?" seru Kiba terbata-bata melihat penampilan baru Naruto.
"Te-tentu saja aku ini Naruto. Me-memang kau kira si-siapa?" seru Naruto ikut terbata-bata.
Melihat ekspresi Kiba yang menatapnya horor membuatnya mengira bahwa penampilannya saat ini sangat memalukan.
"Na… Na… Na…" sedangkan Lee tidak bisa menuntaskan apa yang ingin ia ucapkan.
Perlahan tapi pasti wajah Kiba dan Lee berubah menjadi merah padam. Kemudian…
BRUK!
Mereka pingsan dengan darah mengucur dari hidung mereka. Dan jangan lupa wajah mereka yang sudah seperti kepiting rebus.
"KYAAA… Kenapa mereka?" seru Naruto panik melihat Kiba dan Lee tiba-tiba pingsan.
'Apa begitu menjijikan ya? Sehingga mereka pingsan seperti ini,' batin Naruto merana.
"Hei, Kiba. Lee. Bangun!" Naruto berusaha menyadarkan keduanya.
"Sudahlah jangan hiraukan mereka!" ucap Sakura dengan entengnya.
"Hihihihi," Ino hanya bisa terkikik geli.
"Yare, yare. Sepertinya bajunya memang pantas untukmu, Naru-chan. Ternyata aku memilih baju yang tepat," seru Kakashi sambil memasang senyum di balik maskernya.
"Ini gara-gara kau!" ucap Naruto menyalahkan Kakashi.
Sebenarnya Naruto salah jika menganggap penampilannya saat ini terlihat menjijikan, aneh atau sebagainya. Malah sebaliknya.
Naruto tampil cantik dan manis dengan pakaian pemberian Kakashi.
Baju yang berwarna kuning pucat serasi dengan rambut pirangnya yang cerah. Baju itu begitu pas di tubuhnya, sehingga menampakan lekuk tubuhnya yang mungil dan ramping. Kali ini rambut pirangnya dibiarkan digerai dan beberapa helai rambutnya diikat ke belakang menggunakan pita berwarna orange.
Sebenarnya model baju yang dikenakan oleh Naruto sekarang ini hampir mirip dengan model baju Sakura yang sering dikenakan ketika genin dulu. Hanya saja bagian lehernya tidak memiliki kerah.
Sungguh penampilan Naruto saat ini mampu memancing semburat pink di wajah para lelaki saat ini.
Neji yang dikenal tenang dan paling pintar mengontrol emosinya, kini semburat pink menghiasi pipinya. Shikamaru yang dikenal cuek pun tak kalah sama ekspresinya dengan Neji.
Ia tahu jika kekasihnya itu memiliki wajah yang manis, tapi penampilan Naruto kali ini benar-benar membuatnya tak bisa menyembunyikan ekspresinya.
Tenten dan Hinata juga tampak terpana dengan penampilan baru Naruto. Sedangkan Shino tidak ada yang tahu seperti apa ekspresinya saat ini. Karena memang tudung jaketnya benar-benar menyembunyikan wajahnya. Hanya kacamata hitam miliknya saja yang terlihat. Dan Chouji entah pergi ke mana dia.
Sasuke tampak membeku di tempat melihat perubahan Naruto. Sasuke yang dicap tak pernah tergoda oleh kecantikan seorang wanita seperti apapun, kini terlihat samar-samar wajah putihnya itu tampak merona.
"Cih!"
Sasuke memalingkan wajahnya dari Naruto untuk menetralisir perasaannya. Tanpa disadarinya ada yang melihat perubahan pada ekspresinya itu.
"Kakashi-sensei, kau harus bertanggung jawab!" seru Naruto dengan nada mengancam.
"Yare, yare. Sepertinya aku harus pergi. Aku masih ada urusan lain. Ja ne minna!"
PLOP!
Hilanglah sosok Kakashi dari hadapan Naruto. Ternyata sosok tadi itu hanyalah Kagebunshin milik Kakashi.
"AWAS KAU KAKASHI-SENSEI! JANGAN KIRA KAU BISA LARI DARIKU!"
Wusshh…
Angin berhembus kencang masuk ke dalam kamar Sasuke melewati jendela yang terbuka lebar itu. Naruto yang berada tepat di hadapan jendela, sukses membuat rambut pirangnya melambai tertiup angin.
"Naru-chan, kenapa ada bercak merah di lehermu?" tanya Tenten heran. Ia sempat melihat bercak-bercak merah di leher Naruto saat rambutnya tadi terbang terbawa angin.
Deg!
Naruto yang tadi sedang asyik mengeluarkan kata-kata serapah untuk Kakashi langsung membeku di tempat. Detak jantungnya berlaju kencang. Ia yakin sekarang ia menjadi pusat perhatian teman-temannya. Posisinya saat ini sedang membelakangi teman-temannya jadi ia tidak tahu bagaimana ekspresi mereka satu per satu.
"Apa yang kau katakan itu benar, Tenten?" tanya Ino.
"Ah, masa? Tadi aku tidak melihatnya kok. Iya 'kan, Sakura?"
"Hm," seru Sakura mengangguk mengiyakan ucapan Ino.
Ya, tentu saja mereka tidak melihatnya karena mereka sibuk memakaikan baju pada Naruto. Naruto yang terus saja memberontak tidak mau memakai baju pemberian Kakashi, tak sempat membuat mereka memperhatikan sesuatu.
Sedangkan Shikamaru tak kalah sama seperti Naruto. Dia terlonjak kaget mendengar pertanyaan gadis berambut cepol itu. Jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya menegang dan mengeluarkan keringat dingin.
Tentu saja dialah tersangka yang membuat tanda-tanda merah itu muncul di leher Naruto. Dan ia tahu jelas kapan ia memberi cap-cap itu.
Tadi pagi. Ya, wajar saja jika kissmark yang ia buat masih bertengger di sana. Tanda itu tidak akan menghilang dalam hitungan menit bukan?
"Coba aku lihat," seru Sakura sambil mendekati Naruto. Ia ingin memastikan apa yang dikatakan Tenten itu benar. Mungkin saja itu luka yang perlu diobati.
Mendengar pernyataan Sakura membuat Naruto benar-benar was-was. Ia tidak berani membalikkan tubuhnya.
Di sisi lain, Sasuke membulatkan matanya saat pertama kali mendengar penuturan Tenten. Entah kenapa jantungnya menjadi berdebar-debar. Hatinya bertanya-tanya, 'Ada bercak merah di leher Naruto?'
'Mungkinkah itu kissmark?'
'Jika benar siapa yang memberikan itu?'
Terbesit ada perasaan tidak rela dalam hati Sasuke. Tapi kenapa? Kenapa ia merasakan perasaan aneh seperti ini?
Naruto merasakan jika Sakura sudah berada tepat di belakangnya. Jika mereka tahu dan melihat sendiri bercak merah di lehernya itu. Pasti mereka akan memberikan sederet pertanyaan dan ia yakin tidak bisa menjawab satu per satu pertanyaan itu. Ia juga tidak bisa menahan malu.
Sakura berdiri di belakang Naruto. Ia mulai mengangkat tangannya siap menyibakkan rambut pirang panjang milik Naruto yang menutupi lehernya. Sedangkan Naruto memejamkan matanya erat-erat.
Sret!
Seketika kedua mata sapphire itu kembali terbuka saat merasakan tarikkan di pergelangan tangannya.
"Maaf kami harus pergi sekarang juga," seru Shikamaru sambil menarik Naruto keluar dari tempat itu.
Keluar lewat jendela yang memang satu-satunya jalan yang pas untuk membawa mereka melarikan diri.
"Hei, kenapa dibawa lari?" seru Ino tak rela.
"Ck, dasar Shikamaru!" gumam Sakura menyunggingkan senyum di bibirnya. Sakura nampaknya tahu alasannya.
.
.
"Hah… Hampir saja," seru Naruto lega.
Untung saja Shikamaru kekasihnya itu segera mengambil tindakkan. Kalau tidak, ia tidak tahu nasibnya nanti.
"Dasar merepotkan."
"Kau yang membuatnya merepotkan. Coba saja kau berhenti dan tidak melakukan 'itu' padaku. Kejadiannya tidak akan seperti ini," ucap Naruto.
Rasanya ingin sekali memarahi Shikamaru, tapi mengingat kejadian tadi pagi antara dirinya dan Shikamaru membuatnya malu sendiri.
Shikamaru hanya diam menatap kekasihnya dengan kedua mata kelamnya. Perlahan ia berjalan mendekati gadis pirang itu dan memojokkannya pada pohon yang berdiri kokoh di belakang kekasihnya itu.
Naruto berjalan mundur saat Shikamaru berjalan maju mendekatinya. Ia bukan takut, tapi tatapan intens yang diberikan seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Kau ma-mau apa, Shikamaru?" tanya Naruto saat tubuhnya menabrak pohon yang ada di belakangnya.
Oh, kenapa tidak menyadari adanya pohon tersebut? Sialnya itu membuat dirinya terpojok.
Shikamaru tetap diam dan memberikan tatapan yang masih sama. Shikamaru meletakan tangan kanannya di pipi Naruto dan tubuhnya dibiarkan semakin rapat pada gadis bermata menawan itu.
Karena terpaut tinggi yang cukup jauh membuat Naruto harus mendongak menatap Shikamaru. Tanpa banyak bicara, Shikamaru langsung mencium bibir tipis Naruto, membuat gadis itu membelalakkan kedua matanya.
Tapi tak lama kemudian ia memejamkan matanya menikmati ciuman yang diberikan oleh kekasihnya. Naruto mengalungkan kedua lengannya di leher Shikamaru. Tubuh mereka semakin rapat seakan tidak boleh ada jarak yang tercipta di antara mereka.
Naruto berjinjit agar kekasihnya itu tidak terlalu merunduk saat menciumnya. Terus mereka saling membalas ciuman.
Shikamaru tidak membiarkan matanya tertutup rapat. Dibiarkannya mata itu setengah terpejam. Menikmati setiap ekspresi kekasihnya yang keluar. Si ninja jenius itu menyunggingkan senyumannya di antara ciuman mereka. Dia bisa melihat rona pink di wajah kekasihnya itu. Entah karena ia mulai kekurangan oksigen atau malu. Pemuda berkuncir itu tidak tahu. Yang jelas ia suka ekspresi itu dan ia begitu menikmati melihat gadis pirang miliknya menikmati setiap sentuhan yang ia berikan.
Akhirnya mereka memisahkan diri. Kedua saling berburu meminta pasokan udara. Shikamaru menyunggingkan kembali bibirnya—tersenyum—melihat Naruto menundukan kepalanya menghindari tatapannya.
Dia tersipu malu.
"Lihat! Bagaimana aku tidak melakukannya. Kau bahkan tidak menolaknya sama sekali. Ck, dasar merepotkan," ucap Shikamaru.
"Ka-kau…"
Naruto terkejut mendengar penuturan kekasihnya. Wajahnya semakin merah padam saja.
'Te-ternyata dia mencoba mengujiku. Sialan,' batin Naruto malu besar.
Naruto benar-benar tak habis pikir. Kenapa ia mau begitu saja diperlakukan seperti itu. Tapi sentuhan yang diberikan Shikamaru selalu membuat akal sehatnya menguap begitu saja. Selalu saja ia larut dalam sentuhan tersebut.
Mulai detik ini juga ia harus pandai-pandai menghindari sentuhan dari Shikamaru nanti. Karena Naruto sudah mengecap dia makhluk yang berbahaya sekarang.
"Wah, wah, wah… Ternyata ada yang sedang berpacaran di sini. Pantas saja suasananya berbeda, ya?"
"SAI?"
"Yo, Naru-chan!"
.
TBC
.
Akhirnya selesai juga chapter tiga ini. Maaf yang sudah menunggu lama. Yan gak bisa update cepet. Arigatou bagi kalian yang sudi mereview fic ini. Dan juga para silent Readers yang sudah mau diam-diam baca fic ini *jiah… silent Readers kaya Author tuh*
Thanks special's for : Hatake-sama, zaivenee, ayushina, CcloveRuki, Yugana Ran, Ren-Mi3 NoVantA, Misyel, Superol,
risachanamarfi : Masama. Ya, Yan juga sama suka Naru yang jadi cewek. Tapi Yan juga suka SasuNaru (YAOI) ya, mau bagaimana lagi Yan udh suka sama pairing ini. Sankyuu …
baka nesia chan : Makasih. Ini SasuNaru, hanya saja belum muncul. Untuk beberapa chap ke depan masih kemungkinan ShikaNaru. Moga aja kamu gak kecewa bacanya. Sankyuu
Ruika : Haha … Maaf ya, Yan gak bisa update kilat karena Yan masih punya fic lain yang belum selesai. Dan terkadang author ini kena WB.
Sankyuu …
Dallet no Hebi : Haha … Yan gak nyangka bikin ShikaNaru pacaran. Iya Sasu belum tahu sebenernya kalo Naru itu cewek. Yang lainnya tebak aja deh #plak
Maaf tak bisa update kilat. Karena otak saya ini terbatas hehe... Sankyuu …
femnaru : Saya sudah update. Sankyuu …
Mei chan : Iya ceritanya Naru cewek dari kecil karena ayahnya —Minato— pasang jutsu. Naru jadi cowok deh untuk menyembunyikan identitas Naru sementara (begitu menurut cerita) kenapa Shika ma Naru bisa pacaran? Emm … Author pengen aja #plak hehe … Sankyuu …
naru3 : Maaf bikin kesel karena udah bikin ShikaNaru. Beberapa chap ke depan ShikaNaru masih akan menghantui jadi siapkan hati kamu *jiah* Sankyuu …
Arigatou minna. Minta Review lagi ya?
Review Please …
