Sebentar lagi Hallyu High School akan mengadakan festival budaya. Kegiatan itu selalu rutin dilakukan setiap tahunnya. Banyak yang antusias dalam menyambut acara itu. termasuk kelas 11 C. Saat ini mereka sedang rapat di dalam kelas, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk festival budaya nanti. Banyak hal yang mereka bahas. Saat ini, mereka sedang mencari siapa yang mau bertugas mengurus kostum. Bisik-bisik pun terdengar. Banyak alasan yang membuat mereka enggan untuk mengurus hal yang menurut mereka itu sangat susah dan merepotkan. Ketua kelas yang berdiri di depan pun sebenarnya tak yakin bahwa ada yang bisa dan mau mengurus kostum. Sampai akhirnya ada seseorang yang mengusulkan sebuah nama.

"Hoy hoy!" Semuanya menoleh ke arah Bobby yang sudah menunjuk tangannya. Sambil berpangku tangan, ia berkata "Bagaimana kalau Jinhwan saja yang bertugas mengurus kostum?" usul Bobby.

"Hey, Jinhwan kan sudah mendapat tugas untuk menyiapkan konsumsi. Masa dia lagi sih yang mengurus kostum lagi?" Itu adalah Yunhyung. Dia adalah salah satu teman terdekat Jinhwan yang sangat baik dan tidak tegaan seperti Jinhwan. Wajahnya benar-benar memancarkan bahwa ia adalah anak yang baik-baik.

"Tapi, dia hidup sendiri 'kan? Pasti ia bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan sempurna," ujar Bobby yang dihadiahi tatapan datar dari Hanbin. Percayalah, sosok bernama Hanbin itu memang terlihat jutek dan dingin. Tapi sebenarnya tidak. Ia menatap Bobby antara setuju dan tidak setuju atas usul Bobby yang lagi-lagi menyebut nama Jinhwan dalam segala hal urusan. Ia merasa tidak tega dengan Jinhwan yang hampir selalu menangani hal-hal yang tak ingin dilakukan oleh teman-teman sekelasnya.

"Benar sih. Tapi..."

BRAK

Ucapan Hanbin terputus oleh sebuah pintu yang sengaja ditendang oleh seseorang yang sudah menghilang duluan ketika rapat baru berjalan beberapa menit setelah keputusan pertama. Ia adalah Kim Jinhwan, laki-laki bertubuh pendek dengan kulit seputih susu yang masih mengenakan apron putih. Terlihat di tangan kanan dan tangan kirinya memegang sepiring besar berisi roti tawar panggang yang berjumlah sebanyak jumlah siswa di kelasnya.

"Eoh, keep calm, bro!"

"Slow down, baby." Sahut Bobby dan Hanbin bergantian.

"Sudah kuduga kalau rapat ini akan berjalan sangat lama. Jadi, aku membuatkan kalian roti panggang agar kalian tidak kelaparan." Siapapun pasti memuji Jinhwan karena kebaikan hatinya.

"WOAH! AKU MAU!" Mereka semua merasa sangat antusias. Apalagi ketika aroma roti panggang itu tercium. Membuat mereka semua merasa tidak sabar untuk segera mencicipinya. Mereka pun langsung beranjak dari kursinya dan segera mengerubungi Jinhwan yang berada 5 langkah dari pintu masuk.

"Ya ya ya! Semuanya kebagian kok!" Jinhwan berteriak seperti tidak berteriak. Bagaimana tidak, badannya yang bantet itu tenggelam oleh kerumunan teman-temannya yang memiliki tinggi badan menjulang. Jadilah suara ia juga tenggelam.

"Hey kalian! Jangan membuat Jinhwan yang bantet semakin kelelep. Lebih baik kalian baris!" titah sang ketua kelas dengan sadisnya (?). Sebelum kena amukan dari ketua kelas, mereka pun langsung berbaris, menunggu giliran untuk mengambil roti panggang. Satu orang hanya boleh dapat satu.

"Ah, ini enak!" puji mereka semua dengan wajah yang menunjukkan bahwa mereka lega karena perutnya telah terisi oleh makanan. Jinhwan yang melihatnya merasa senang.

Tok Tok Tok

Doojoon mengetuk papan tulis kapur itu dengan penghapus. Ia melakukannya agar semuanya fokus kembali ke depan.

"Jadi siapa yang mengurus kostum? Kalau bisa sih yang tahu cara menjahit dan punya banyak waktu luang." Bisik-bisik pun kembali terdengar. Jinhwan tahu bahwa ini adalah waktunya untuk membantu.

"Apa kalian setuju jika aku saja yang mengambil tugas ini? Lagipula aku bisa menjahit dan punya banyak waktu luang kok," ucap Jinhwan. Semuanya saling melempar pandangan lalu mengangguk bersamaan. Doojoon sempat menghela nafas. Ia cukup merasa tidak enak karena Jinhwan mengemban dua tugas yang sangat penting dan cukup berat untuk dijalani sendirian. Tapi karena Jinhwan yang mengusulkan diri serta sifat keras kepalanya, mau tidak mau ia pun menyetujui keinginan Jinhwan yang disetujui oleh seisi kelas.

"Baiklah. Dengan demikian, yang bertugas mengurus kostum adalah Jinhwan."

"AH! AKHIRNYA SELESAI! YEY!" sorak mereka bahagia. Bahagia karena pada akhirnya menemukan jalan keluarnya serta bahagia karena rapat telah selesai. Setelah itu, mereka pun bersiap-siap untuk pulang.

Seperti biasa, Jinhwan, Hanbin, Yunhyung, dan Bobby selalu pulang bersama. Walaupun nanti mereka akan bertemu di jalan yang memisahkan perjalanan pulang mereka, tetapi Jinhwan cukup merasa senang.

"Eum, Jinhwan?"

"Ya?"

"Apa kau yakin bisa menangani semua tugas yang kau emban itu sendirian? Kau terlalu banyak mengusulkan diri. Seperti untuk classmeeting kemarin. Bahkan untuk cosplay perempuan pun kau mau," ucap Yunhyung khawatir. Masih ingat betul ketika kelas tidak memiliki stok laki-laki untuk mengikuti lomba lari. Dengan percaya dirinya Jinhwan mengusulkan dirinya. Walaupun ia kalah, tapi seisi kelas berterimakasih kepada Jinhwan. Yang tak lama dari ini adalah ketika ada acara pensi. Kelas yang kekurangan gadis berbakat di bidang dance dan menyanyi hanya lima orang. Itu artinya mereka butuh satu orang lagi untuk mengcover lagu dan dance dari girlband Korea Selatan, Gfriend. Lagi dan lagi, Jinhwan mengusulkan dirinya sendiri. Yunhyung tak habis pikir dengannya. Apa tidak malu ya? Lebih dari itu, Yunhyung berpikir apakah teman sekelas mereka tak memikirkan apakah Jinhwan akan kesusahan mengerjakan tugasnya sendirian. Setidaknya ada sedikit rasa tidak enak karena sahabatnya itu terlalu sering membantu.

"Yah...daripada gak ada satupun, lebih baik aku saja. Kau tahu kan bahwa aku ini tidak suka kalau ada keributan. Itu sangat menyebalkan," jawabnya seperti biasa. Seperti biasa bagi Jinhwan, tapi sebagai sahabatnya, mereka bertiga merasa tidak biasa dengan pemikiran Jinhwan.

"Tapi terkadang kau pasti merasa kesulitan 'kan, Tuan Jinhwan? Sebagai teman masa kecil, apa aku harus membantumu?" tawar Bobby.

"Alah, gayamu Bob! Memasukkan benang ke jarum saja kau tak bisa. Pakai sok-sok mau ngebantu segala," sahut Hanbin yang dibalas cengiran kuda oleh Bobby.

"Ck, justru semakin ribet. Lebih baik aku sendiri saja. Toh, sendiri pun aku bisa," ucapnya. Setelah itu, suasana pun menjadi hening seketika. Sampai akhirnya Hanbin memecah keheningan dengan bertanya kepada Jinhwan.

"Hm, Jinhwan. Dari dulu aku selalu ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau selalu seperti itu? merepotkan dirimu sendiri dengan mengambil tugas yang tak ingi dikerjakan oleh orang lain."

"Pokoknya itu terlalu menyusahkan," jawab Jinhwan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Bukannya kebalik ya?"

"Yah, entah gimana bilangnya. Mungkin dari sudut pandang kita memandangnya." Jinhwan sendiri bingung bagaimana mau menjelaskannya. Karena ia tahu bahwa persepsi setiap orang pasti berbeda-beda.

"Dasar aneh," gumam Yunhyung yang diangguki oleh Hanbin dan Bobby.

"Well, pada akhirnya anak-anak lain menganggap enteng dan menyerahkan semuanya padamu." Hanbin mengungkapkan apa yang cukup mengganggu hati dan pikirannya.

"Soal itu...aku minta maaf," ucapnya pelan. Mendengar ucapan Jinhwan membuat ketiganya merasa tidak enak.

"Kalau kau butuh bantuan, bilang saja kepada aku. Aku pasti akan membantumu," tawar Yunhyung yang kemudian juga diikuti oleh Hanbin dan Bobby.

"Kalian...apa kalian bakal bisa membantuku?"

"Omonganmu seakan mengejek kami," ujar Bobby. Semuanya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Bobby. Setelah itu, hening pun kembali dirasa. Sampai pada akhirnya mereka tiba di ujung jalan dengan 2 cabang jalan yang berbeda.

"YAK!" Suara Bobby mengagetkan mereka semua.

"Kenapa, Bob?" tanya Jinhwan.

"Kau mau belanja di depan stasiun 'kan?"

"Iya. Memangnya kenapa?"

"Hati-hatilah. Belakangan ini, vampir banyak muncul di area itu!" ucap Bobby disertai mimik muka yang dibuat seram. Tetapi ketiga temannya memasang wajah yang biasa saja.

"Itulah rumor yang beredar," lanjutnya. Ketiganya yang mendengar penjelasan Bobby memasang ekspresi tidak percaya. Apalagi di perkataannya terselip kata rumor.

"Woy, aku serius! Siapa tahu dia itu jagal jalanan. Korban memiliki tanda gigitan di leher atau lengan mereka dan seluruh darah disedot habis.dengar-dengar sudah ada 10 korban." Tak ada kata percaya bagi Jinhwan dan Hanbin. Sedangkan Yunhyung sudah mulai termakan oleh cerita Bobby.

"Ngeri..." Tidak seperti keduanya, Yunhyung sudah mulai menciut mendengar penjelasan Bobby.

"Tapi..." Bobby menggantungkan kalimatnya dengan nada yang serius.

"Aku tidak tahu sejauh mana kebohongan cerita itu," lanjutnya sambil dihiasi sebuah cengiran tidak berdosa.

PLAK

Jinhwan memukul kepala Bobby. Bobby mengaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya yang dihadiahi pukulan sayang oleh Jinhwan.

"Sudah kuduga. Ceritamu itu selalu bohong kalau bersangkutan dengan rumor," kesalnya.

"Ternyata cuma bohong, ya?" Ada nada lega yang keluar dari mulut Yunhyung secara tidak langsung.

"Kalau begitu, aku mau pulang dan mampir ambil cucian di binatu," ucap Jinhwan. Tanpa mengucapkan salam sama sekali, ia langsung berlari ke jalan sebelah kiri yang sedikit menurun.

"Hoy! Dengarkan aku! Kalau diserang, jangan salahkan aku, ya!" teriak Bobby.

"Iya. Iya!"

Sebenarnya Jinhwan telah mengetahui rumor soal vampir itu sebelum Boby memberitahunya. Tapi, karena belum pernah melihat secara langsung wujud vampir itu, ia pun tak ingin mempercayai rumor itu begitu saja.

TBC