"… ta .."
"… nata …"
"Hinata!"
Hinata tersentak ketika namanya diucapkan dengan intonasi yang menanjak. Tubuhnya sontak berhenti seketika di tengah-tengah perjalanannya keluar dari gedung sekolah; tepat di ambang pintu masuk lobi sekolah.
Ia menolehkan kepalanya, mencari-cari sumber suara yang memanggilnya itu. Rautnya seketika kembali datar ketika mendapati Naruto—teman sekelasnya—yang sedang berlari menuju tempat ia berdiri sekarang.
"Hinata!" ulangnya lagi dengan engahan yang menyela pernapasannya, "cepat sekali jalanmu …" ia terengah lagi, "aku bahkan harus berlari untuk menyusulmu!"
Kedua netra Hinata agak menyipit, memandang sosok Naruto yang terpaut kurang dari semeter dengan dirinya. Tubuh atletisnya itu membungkuk; Rongga dadanya naik-turun tak beraturan. Napasnya terdengar rendah dan terengah. Kemeja putih polos yang ia kenakan itu basah di bagian dada, punggung, juga lengannya. Terlihat jelas jika ia baru saja berlari.
Berlari mengejarnya—mungkin?
"Haaahh … panas sekali! Padahal musim panas belum juga mulai," gerutu Naruto. Ia mengibas-kibaskan kerah kemejanya, membuat semilir angin yang sia-sia dari pakaiannya. Rambut kuning jabriknya terlihat lepek dan anakannya menempel di keningnya, menandakan bahwa keringatnya itu bukan main banyaknya.
"Kau tidak merasa panas, Hinata? Aku saja yang mengejarmu sudah sepanas ini."
Tidak. Untuk apa merasa panas? Hinata hanya membatin dan menatap polos pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sayangnya, Hinata tidak memiliki keinginan untuk mengutarakan jawaban ketusnya itu. Dibandingkan menjawab pertanyaan retorisnya, Hinata lebih memilih bungkam sambil memikirkan keberadaan Naruto yang kelewat aneh baginya.
Untuk apa orang seperti dia menemuiku? Apa salahku sampai harus terlibat dengan orang "penting" seperti dirinya?
"Hinata? Kau melamun?"
Hinata masih pada status quo-nya; ia terdiam sambil memandang Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan, memikirkan alasan kenapa manusia yang satu ini datang menemuinya.
Tapi, semakin dalam ia memikirkan pemuda yang ada di hadapannya ini, semakin pula ia merasa pusing sendiri karena terjebak dalam kubikel-kubikel brankas otaknya. Terpenjara dalam dunianya sendiri. Serasa terperosok ke lubang hitam yang entah juntrungannya bakal kemana.
Entahlah … Hinata ingin menyerah saja.
"Tidak panas …" gumam Naruto dengan menempelkan keningnya tepat di dahi Hinata yang rata tertutup oleh poni, "kau yakin baik-baik saja?"
Suara desah rendah napas Naruto terdengar sangat jelas di telinga Hinata. Wangi sabun mint yang ia gunakan itu semerbak sampai memukul telak perut Hinata. Hinata merasakan dirinya jatuh perlahan. Dadanya serasa diremas karena degup jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari pada biasanya. Terlebih ketika kedua bola mata biru laut itu menatapnya intens, seakan menelanjangi dirinya sampai ke dalam-dalamnya …
dan itu membuat Hinata muak ….
"A—aku tidak apa-apa … Naruto-kun …" Hinata menjauhkan kepala Naruto darinya. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong bahu lebar Naruto untuk menjauh. "Kau tidak perlu sampai seperti itu …" ucap Hinata lalu tertawa garing, merasa canggung dengan situasi seperti ini, "kau … terlalu berlebihan, Naruto-kun."
Rahang Naruto sedikit mengeras kaku. Ada perasaan tidak suka ketika Hinata mengutarakan penolakan halusnya itu. Naruto merasa diperlakukan seperti orang yang bodoh; memberikan perhatian pada prang yang jelas sama sekali tidak bakal melihatmu dalam pikirannya.
Naruto mungkin kurang pantas menyandang predikat cassanova sekolah. Tapi ia masih cukup puas karena tidak pernah ada satupun siswi di sekolah ini yang berani menolak perlakuan hangatnya secara frontal dan terang-terangan. Menolaknya, seakan perhatian—afeksi yang ia berikan—ini terlalu berlebihan dan hanya membuat orang merasa tidak nyaman.
Setidaknya begitulah keadaannya, sampai Hinata datang lalu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menolaknya secara frontal dan terang-terangan. Haha.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu, Naruto-kun. Tapi sungguh, aku benar tidak apa-apa … kau tidak perlu repot-repot menghawatirkanku," Hinata tersenyum tipis mengakhiri kalimatnya dengan pilihan kata yang jelas sangat menohok dada Naruto.
Dia memang ini … esper atau apa?
Naruto hanya diam sejenak menyusun kembali ekspresinya yang sempat hancur karena emosi. Mau ditaruh di mana mukanya jika tertangkap basah terpancing amarah hanya karena penolakan halus dari seorang perempuan yang bahkan tidak memiliki predikat kelas seperti halnya Sakura?
Yang benar saja. Bagi Naruto, perempuan itu—Hinata—tidak ada apa-apanya dibandingkan seorang Sakura yang mirip super model itu. Dia tidak begitu menonjol, cenderung pasif baik di luar kelas maupun di dalam kelas. Wajahnya mungkin di atas rata-rata—apalagi tubuhnya—tapi yang jelas, Hinata bukan tipenya Naruto. Tapi … untuk saat ini, Naruto harus mengesampingkan egonya, kalau ia ingin masalahnya cepat selesai.
Ia harus secepat mungkin mendekati perempuan ini—Hinata—apapun konsekuensinya.
"A—apa aku menyakiti hatimu, Naruto-kun?"
Naruto terhenyak menndengar suara lembut Hinata lagi. Tak ingin terus-terusan merasa canggung dan terus berspekulasi, Naruto memilih untuk tertawa walaupun garing sebagai senjatanya.
"Haha … tidak. Tidak sama sekali. Daripada memikirkanku, sebaiknya kau memikirkan dirimu sendiri, Hinata. Kau begitu pucat saat ujian berakhir."
"Be—benarkah?" Hinata tidak yakin.
Pemuda itu hanya mangut-mangut sok tahu sambil menjepit janggutnya dengan telunjuk dan ibu jarinya. "Kau bahkan berteriak keras ketika bangun. Kau benar-benar tidak apa-apa 'kan?"
"Te—tentu s—saja."
Naruto menggelengkan kepalanya, menolak dengan tegas pernyataan Hinata barusan. "Kau tidak dalam keadaan baik, Hinata. Kau gugup." Netra biru laut itu melirik Hinata sekilas, "memangnya apa sih mimpimu tadi, sampai kau menjerit seperti orang gila begitu?"
"Mimpiku?" Hinata bisa merasakan degup jantungnya mulai melambat.
"Iya, mimpimu. Tidak mungkin kan kamu tidak bermimpi apa-apa sampai menjerit gila seperti itu?"
Kau tidak perlu jawabannya kan, Naruto? Kau hanya butuh penjelasan.
"Tidak ada," sahut Hinata cepat. Bola mata keperakannya mulai bergerak cepat ke kanan dan ke kiri gelisah, "s—semua orang bisa saja melakukan itu bukan?"
Naruto mendecih pelan. Melihat srberapa keras Hinata menghindarinya, semakin terasa kalau usahanya untuk mendekati perempuan ini akan lebih sulit daripada biasanya. "Kau hanya mengada-ada, Hinata," ada jeda, "kau menghindari pertanyaanku, bukan begitu?"
"Tidak …" Hinata menelan ludah keringnya yang sudah sangat menggumpal dan menyumbat kerongkongannya, "aku hanya stres ujian semester saja …."
Alasan yang bagus, Hinata—sayang—tidak semua orang bisa menerima alasan klasik seperti itu.
"Terima kasih telah menghawatirkanku, Naruto-kun. Aku dalam keadaan baik."
Kedua alis Naruto saling bertautan. Ia mengernyit ketika mencermati pengakuan Hinata yang jelas-jelas adalah kebohongan. Walaupun setengahnya mungkin bisa dibilang benar, tapi yang jelas, kebenaran kecil itu ia gunakan sebagai alibi untuk menghindari pertanyaannya.
Yang jelas, perempuan ini—Hinata—tidak ingin membahas topik itu dulu.
Naruto seharusnya sudah bisa menduga kalau Hinata tidak akan menjawab pertanyaannya mengenai hal privat semacam itu. Secara, mereka ini sama sekali tidak dalam hubungan yang layak untuk bertukar masalah pribadi dan Naruto sendiri bukanlah orang yang terkenal memiliki kecenderungan untuk selalu ingin tahu masalah orang.
Sudah pasti perempuan ini merasa aneh dan tidak nyaman dengan perubahan sikap Naruto yang terasa sangat mendadak.
Persetan! Naruto tida peduli kalau Hinata bakal memandangnya aneh dan semakin kaku dengan dirinya. Naruto lebih memilih memaksakan keadaan walaupun hasilnya akan jauh lebih fatal. Jika ia tidak segera mendekati perempuan itu, nyawanya sendiri yang jadi taruhannya.
Ya. Nyawanya sendiri.
Naruto tanpa sengaja memijit pangkal hidungnya. Napas berat kemudian terdesahkan dari rongga pernapasannya "baiklah … kalau kau tidak mau cerita. Aku bisa terima itu."
Hinata mungkin bisa sedikit sumringah ketika mendengar Naruto tidak akan mengorek dirinya lebih dalam lagi. Sejak awal keberadaan Naruto sudah membuatnya canggung dan khawatir berlebihan tanpa sebab yang jelas. Terlebih sikapnya tadi yang seakan terlalu ingin tahu akan masalahnya menambah perasaan tidak nyaman terhadap pemuda jabrik itu.
Tapi sayangnya, ia harus lebih waspada ketika cengiran lebar itu masih terpasang di bibir Naruto.
"Sebagai gantinya, kau harus menemaniku ke café saat ini juga."
"A—aku—"
"—Maaf, aku tidak menerima penolakan lagi," potongnya cepat sambil menyunggingkan cengiran lebar yang khas.
Sedangkan Hinata, hanya bisa merutuk dambil berdoa agar kesialan ini cepat berakhir.
.
.
.
Tersembunyi
|Rated M|Romance, horor|
Kana2016 MasashiKishimoto
—SASUHINA FICTION—
.
.
[Warning. Rated M because of violent, profanity, and sexual content.]
[Please, take your own risk.]
.
.
I have already warned you. Please, be considered!
(Saya telah memperingati Anda, tolong dipertimbangkan!)
.
.
.
[2]
Who?
Hinata mendesah keras ketika kakinya sudah menapakai lantai kamarnya. Tubuhnya merosot seketika punggungnya menyentuh pintu kayu kamar. Ia agak merintih; dengan perlahan ia membuka kemeja putih polos yang ia kenakan itu.
Ia menyeret malas kaki jenjang berkaus kaki pendek semata kakinya untuk mendekati cermin seukuran tubuh yang tertanam di lemari pakaian. Benar sesuai dugaannya tadi: tubuhnya itu dipenuhi oleh banyak sekali goresan-goresan tipis mirip cakaran hewan. Mulai dari pepotongan lehernya, gumpalan dadanya, perut ratanya, bahkan sampai ke pahanya dipenuhi oleh goresan itu.
Pantas saja ia merasa perih di sekujur tubuhnya ketika sedang jalan dengan Naruto tadi.
Hinata meringis saat jemarinya mencoba menyentuh goresan-goresan itu. Goresan itu memang tipis, tapi tidak memungkiri kalau akan terasa perih jika disentuh. Terlebih, jika dilihat secara mata telanjang, jelas sekali goresan itu masih baru dan bahkan tidak sedikit yang terlihat memerah bahkan sampai meneteskan darah walaupun dalam jumlah yang sedikit.
Hinata jelas tidak tahu sejak kapan ia mendapat semua luka gores ini. Semingguan ini ia sedang ujian semester, jelas sekali bahwa ia tidak mendapat luka ini akibat aktivitas olah raga.
Toh seingatnya, Hinata tidak menemukan satu luka gores pun di tubuhnya tadi pagi, saat ia akan mandi. Baru malam ini, sepulangnya ia dari sekolah—kencan paksa dengan Narutot—tiba-tiba saja tubuhnya terasa perih dan sakit untuk digerakkan, dan ketika ia membuka baju, goresan-goresan itu sudah memenuhi tubuhnya.
Apa ini karena mimpi tadi?
Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia menolak mentah-mentah fakta itu. Mana mungkin mimpi yang sangat tidak realistis itu mampu melukainya. Yang benar saja!
Dia ini orang yang realistis dan analitis. Tidak pernah sekalipun Hinata mendatangi dukun ataupun meminta jimat keberuntungan. Apalagi percaya akan keberadaan mahluk astral dan cerita-cerita mistis penuh magis itu.
Baginya, penyihir, vampir, werewolf, alien, goblin, bahkan monster-monster aneh yang sempat muncul di mimpinya itu hanyalah karangan orang—manusia—saja. Bersifaat fiktof dan rekaan; semua mahluk itu tidak ada dan tidak mungkin ada di dunia ini.
Semua yang terjadi di dunia ini pastinya ada sebab dan akibat yang logis, dapat dinalar. Bukan sesuatu hal yang terkesan mengada-ada dan seakan-akan seperti di dunia fantasi.
Oh, ayolah! Tidak mungkin 'kan, jika tubuhnya ini terluka hanya karena serombongan monster aneh datang ke mimpinya lalu mencabik-cabik kulit bahkan darahnya? Ini bukan cerita fantasi seperti Harry Potter ataupun drama Goblin yang sangat kalian sukai itu, kawan.
Kau yakin, Hinata?
Hinata mencoba menjernihkan kepalanya, menelaah kembali kemungkinan-kemungkinan yang jelas lebih meyakinkan dan masuk di akal. Kulitnya akhir-akhir ini sensitif karena pengaruh musim panas sudah semakin dekat. Kulitnya pun menjadi kering dan mudah sekali tergores atau tersayat benda. Seperti baju misalnya? Jadilah ia mendapatkan semua luka gores ini.
Lucu sekali! Sejak kapan baju bisa menyayat kulit? Kau terlalu naïf, Hinata. Alasanmu itu terlalu mengada-ada dan sangat berlawanan dengan pikiran rasionalmu.
Kau tidak tahu itu? Menyerahlah dan akui kalau hal yang selalu kau anggap tidak ada itu ada.
Hinata menggigit bibir bawahnya ketika melihat luka-lukanya lagi di cermin. Dari kejauhan memang hanya terlihat seperti goresan-goresan kasar yang sepele, tapi jika lebih diperhatikan, luka-lukanya ini lebih parah dari apa yang kelihatannya. Kulit luarnya sobek, memberlihatkan lapisan bawahnya yang kemerahan. Darahnya agak mengalir dari sobekan itu; rasanya perih jika Hinata menggerakkan tubuhnya barang sedikit saja.
"Bagus, lengkap sudah penderitaku!" gerutu Hinata kesal.
Pasalnya, Hinata tinggal sendirian. Kedua orang tuanya bercerai beberapa bulan yang lalu. Ibunya kembali ke kampung halaman bersama adiknya. Sedangkan ayahnya yang workaholic itu jelas memilih meninggalkannya sendiri karena sudah dianggap mampu untuk hidup mandiri, lalu tenggelam bersama pekerjaannya di prefektur yang berbeda dengan tempat Hinata tinggal sekarang.
Kalau begini caranya, jelas tidak ada yang bisa membantunya mengobati semua luka-lukanya ini, keuali dirinya sendiri mau repot-repot menjadi seorang masokis, menahan rasa sakit demi menghindari infeksi lukanya kelak.
Haha. Kenapa kondisinya terlihat semakin mengenaskan? Hinata ingin menangis rasanya.
Bzzzz … bzzzz ….
Hinata agak terkejut ketika mendengar getaran ponselnya. Layar seluas lima inch itu menyala redup menampilkan nama kontak yang berusaha memanggilnya, Naruto berusaha menelponnya kali ini.
Jujur, Hinata merasa agak kesal ketika melihat nama pria itu yang tertera di ponselnya. Setelah mengganggu sorenya, pria itu mau menjarah malamnya yang hening dan syahdu ini?! Astaga, berikanlah waktu untuknya bernapas!
Tapi sekesal-kesalnya dirinya sekarang, Hinata tidak memiliki pilihan lain selain menjawab panggilan pria itu. Bukan apa-apa sebenarnya, Hinata hanya ingin urusannya dengan pria kuning itu cepat selesai. Oh ayolah, tidak ada yang ingin diganggu di saat kau sedang kesusahan, bukan?
Kecuali kalau pengganggu mau benar saja!
"Kau sudah sampai rumah?" tanya Naruto dari seberang sana.
Hinata merasa kehilangan kata-katanya sejenak. Bukan karena dirinya merasa terbawa arus aneh yang pria itu ciptakan, tapi merasa bodoh dengan pertanyaan pria itu yang kesannya what the heck this.
Ada apa dengan pria ini? Dari sekian ratus pertanyaan yang bisa ia gunakan sebagai basa-basi kenapa harus pertanyaan retorik dan tidak berguna seperti itu? Hei, bukannya kau mengantarnya pulang tadi? benar-benar sulit dinalar dengan otakmu itu, ya? Hinata jelas merasa kesal untuk hal yang satu ini.
"Kau sudah tahu jawabannya, Naruto-kun," sabar … sabar … sabar pangkal kaya. Hinata harus ingat itu.
"Ahhahha! Kau lucu sekali, Hinata-chan! Oh ayolah apa basa-basi tidaklah penting untukmu?" Naruto menjedah, berdeham sedikit, "Untuk kita maksudku?"
Tidak. Sama sekali tidak penting.
"Kau tidak menanyakanku apa aku sudah sampai di rumah?"
Apa-apaan pria ini? Berlagak seakan dirinya tampan dan sedang dicintai? Apa dirinya gila?!
"Tidak, untuk apa?" jawaban yang benar. Haha.
Sayangnya, pria itu tidak peka; ia malah terbahak keras seakan-akan ucapan Hinata ini adalah sebuah lelucon yang konyol. "Hinata … Hinata … kau lucu sekali …" katanya di seberang sana, "jadi pacarku, oke?"
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Naruto-kun?" Hinata sudah mulai muak dengan basa-basi yang pria itu ciptakan, "aku tidak mengerti sama sekali maksudmu, Naruto-kun."
Hening. Pria itu tak langsung menjawab seperti halnya pembicaraan sebelumnya. Sepertinya perkataan Hinata tadi sudah cukup menohoknya.
"Ah … itu, sepertinya aku terlalu mudah di tebak olehmu, Hinata-chan, maaf!"
Apa-apaan ini sekarang? Hinata merasa waktunya telah terbuang sia-sian untuk hal yang tidak berguna. "Baiklah," Hinata menjedah menghela napas beratnya lalu sedikit melirik jam dinding kamarnya: sudah pukul delapan lewat, ia harus segera mandi karena ia tidak suka mandi terlalu larut malam, "aku harus per—"
"—aku ingin mengajakmu ke vilaku saat liburan musim panas ini," dan kalimat itu sukses menghentikan ucapan Hinata seketika.
Apa katanya? Mengajak ke vilanya? Apa dirinya sudah gila?!
Hinata pun tertawa keras, "apa ini salah satu basa-basimu yang lain, Naruto-kun? Ini tidak lucu lagi."
"Tidak, Hinata! Tidak! Aku benar-benar mengajakmu, Hinata! Minggu depan, hari pertama liburan musim panas, bagaimana? Tenang saja, masalah transportasi akan kujemput."
"Tidak, terima kasih, aku harus pergi."
"Tunggu, Hinata!—" dan panggilan itu terputus seketika.
Hinata memijit tengkuknya pelan. Kepalanya pusing, badannya sakit, sedangkan dirinya sendiri sangat lelah dan ingin segera tidur saja.
Memikirkan tubuhnya yang penuh luka saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling, apalagi harus menghadapi sikap Naruto yang sangat-sangat aneh, tidak jelas, dan mencolok itu?! Tidak … tidak … Hinata ingin lari saja walaupun rasanya seperti pengecut.
Mata kelabunya kembali menatap cermin yang merefleksikan seluruh tubuhnya. Luka-lukanya terlihat semakin parah, apalagi rasanya sekarang sudah sangat perih walaupun ia tidak menyentuh luka itu sama sekali.
Hinata bingung, tidak tahu harus bagaimana. Tidak ada yang bisa dimintai tolong, hanya dirinyalah yang bisa menolongnya saat ini. Karena tidak punya pilihan lain, Hinata pun berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan semua kotoran yang menempel di tubuhnya.
Persetan dengan luka! Persetan dengan rasa perih yang bakal ia rasakan nanti! Hinata ingin bisa cepat-cepat tidur dan melupakan semuanya.
Ya. Semuanya.
.
.
.
Aneh. Rasanya sangat aneh. Tubuh Hinata memanas tanpa suatu alasan yang jelas. Deru napasnya memberat, tanpa sengaja mengeluarkan eraman-eraman kecil. Degup jantungnya terdengar keras bertalu-talu, bahkan sampai mampu untuk memukul keras perut bagian bawah Hinata.
Hinata merasakan tubuhnya sedang ditahan oleh seseorang. Kedua lengan atasnya terkunci rapat, seakan-akan terikat pada suatu cengkraman kuat sebuah tangan. Tubuhnya merasa sesak karena bergesekan dengan sesuatu yang keras. Seseorang telah mengurungnya dengan posesif.
"Nggghh—" Hinata mendesah tertahan, sebuah lidah yang terasa panas menjilati belakang telinganya. Sesekali mengulum indera pendengarannya itu dengan tempo pelan, namun progresif.
Kedua mata kelabu Hinata yang setengah terpejam itu menangkap siluet seorang pria dewasa sedang berada di atasnya, mengurung tubuh kecilnya, serta mengunci semua anggota geraknya. Cahaya gelap ruang kamarnya membuat bayang-bayang gelap yang mengaburkan indentitas pria itu. Tapi, satuhal yang dapat Hinata yakini: ia sangat mengenali pria itu.
Terutama mata merah darahnya.
Hinata mencoba membuka suaranya, namun gagal. Suaranya mendadak hilang ketika ia memaksakan diri untuk bicara. Pria itu membalasnya dengan menyeringai perlahan; Hinata tau itu walaupun matanya sendiri tidak menangkap seringaian apapun dari bibirnya.
Hinata merasakan kehilangan kendali tubuhnya sendiri ketika pria itu memperluas area cumbuannya. Tulang hidungnya mancung bergerak pelan menyusuri garis rahangnya, turun ke bawah sedikit menuju garis jenjang leher serta lekuk tulang selangkanya. Bibir itu sesekali mencecap kulit Hinata yang halus, meninggalkan tanda kemerahan yang tebal dan dalam.
Hinata tidak mengerti apa yang pria itu lakukan dan apa yang harus ia lakukan sekarang. Tubuhnya lumpuh, seakan-akan semua sistem syarafnya memutuskan hubungan dengan otaknya.
Tangan kekar pria itu menyusup piama longgar yang Hinata kenakan, melepaskan ikatan perban yang melilit tubuhnya. Seluruh tubuh Hinata mengejang kaku seketika tangan itu tidak sengaja bergesekan dengan kulitnya yang telanjang.
"Kau takut?" pria itu bertanya. Wangi musk menguar memenuhi indera penciuman Hinata, benar-benar maskulin sekali dan membuat Hinata semakin pusing.
"Ber—hen … ti—" ucap Hinata agar tersendat. Kerongkongannya terasa kering, jantungnya berdetum keras seakan mau meledah, tubuh bagian bawahnya berkedut setiap kali benda keras yang Hinata tidak tahu apa itu menggeseknya. Hinata merasakan dirinya meleleh dan siap untuk dihabisi saat itu juga.
Pria itu menggesekkan tubuhnya lagi dan Hinata lagi-lagi hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya. "Tenang … Hinata … tenanglah …" tangan pria itu keluar dari balik piamanya lalu mengusap pelan anak rambutnya seakan menenangkan hati Hinata yang ketakutan itu, "aku tidak akan menyakitimu …"
Pria itu tersenyum. Hinata tau itu! senyumannya terasa sangat sadis namun memikatnya, membuat jantungnya menggila, dan membangkitkan gairahnya yang sama sekali tak pernah ia rasakan.
"Aku … hanya ingin menyembuhkanmu," ungkap pria itu lirih, tepat di daun telinganya.
Hinata bergidik pelan. Napas hangat pria itu membelai telinganya yang saat ini sedang sensitif-sensitifnya. Bibir pria itu bergerak pelan menuju bibir Hinata yang merah dan bengkak karena terus menerus digigit. Gumpalan daging milik pria itu menyentuhnya perlahan, kepalanya agak miring ke kanan sambil terus menekannya ke kasur, memperdalam ciuman pelan nan agresif itu.
Pusing. Otaknya serasa kosong ketika lidah itu menyusup masuk ke dalam mulutnya, mengeksplorasi rongga mulutnya yang tak seberapa, serta memaksa lidahnya untuk ikut bermain dalam permainan panas yang pria itu ciptakan sendiri.
Hinata tidak bisa mengikuti gerak pria itu, Hinata sudah kehilangan napasnya sejak awal permainan. Kedua kaki jenjangnya bergerak gelisah, perlahan menekuk dengan posisi terbuka karena salah satu kaki pria itu berada di tengah kakinya.
Satu per satu kancing piama Hinata dilepaskan oleh pria itu. Hinata baru sadar ketika pria itu menyibak piamanya untuk mengekspos tubuhnya yang masih terbalut oleh lilitan longgar perban.
Hinata memekik pelan. Ia ingin memberontak, tapi kurungan pria itu lebih kuat dan lebih memaksanya untuk penjadi pemain pasif di arena ini, arenanya. Pria itu menarik pelan perban itu agar lepas mengekspos bagian tubuh Hinata yang belum terilihat olehnya.
"Hhhhh …." Napas Hinata memberat. Dadanya polos tanpa apapun, puncaknya menegang karena berkali-kali terangsang oleh napas pria itu; Hinata merasakan gejolak aneh yang mengocok perutnya.
Tangan pria itu menangkup rahangnya, mengusap pelan pipi Hinata dengan ibu jarinya. "Aku tahu ini sakit, tapi kau harus menahannya Hinata."
Hinata terlonjak ketika mendengar peringatan itu. Tubuhnya bangkit seketika, berusaha melarikan diri. Tapi pria itu lebih cepat menahannya, dengan menjilat pusar Hinata.
"Ahhhkkk—" suara Hinata pun keluar dengan sendirinya. Ia terbakar. Lidah pria itu terasa panas dan liar ketika menjilati perut serta pusarnya, membuatnya semakin gila akan sensasi yang menurutnya tidak masuk akal.
Lidah pria itu bergerak naik ke atas, ke ulu hatinya. Sontak Hinata melengkungkan tubuhnya sejauh yang ia bisa untuk menghindar. Jantungnya semakin menggila, tubuhnya terasa perih dan terbakar dalam waktu yang bersamaan. Hinata tidak bisa menahannya lagi.
"H—hhentikann …" erang Hinata. Pria itu hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya, menjilati tubuh Hinata sampai ke bagian puncak dadanya, mengulum puncak yang sudah mengeras itu dan memeras pelan sebelahnya yang menganggur.
"Aaahhh … kumohon … aku sudah tidak bisa lagi—" Hinata meronta, meminta untuk dilepaskan oleh pria itu. Hinata merasa kesakitan setiap kali pria itu menyentuhnya, menyentuh tubuhnya yang dipenuhi luka-luka itu.
Pria itu sangatlah bebal dan terus saja menikmati tubuh Hinata. Ia menjepit puncak dadanya, memilinnya sebentar, lalu meremasnya lagi dengan tempo progresif. Lidahnya mulai berpindah ke pundak Hinata yang jenjang. Garis leher samar Hinata mulai disesapi sampai meninggalkan bercak-bercak kemerahan yang lain.
Ia melepaskan cengkramannya pada tangan Hinata, namun beralih menurunkan celana piamanya beserta dalamannya. Jemarinya membelai pelan panggul lembut itu, merangsang Hinata untuk merasakan yang lebih jauh.
Napas hangat bisa Hinata rasakan di bawah sana. Jantungnya berdetum meledak-ledak, scenario aneh mulai tercipta di otaknya. "Hentikan …."
Pria itu menyeringai, lidahnya terjulur keluar dan—
"TIDAAAAAKKKKKK!"
Hinata terbangun dari tidurnya. Seluruh tubuhnya banjir keringat sampai membasahi piama dan sprei kasurnya. Napasnya tersenggal-sengal, bak orang yang habis lari marathon belasan kilo. Kedua bola mata kelabu Hinata bergerak cepat, menyusuri kamarnya yang sudah sangat terang karena disinari cahaya matahari.
Tadi itu … mimpi?
Hinata memeluk dirinya sendiri, ribuan pertanyaan bertebaran di otaknya membuat pikirannya kalut dan semakin runyam. Mimpi itu terasa nyata. Sangat nyata. Sampai sensasinya masih terasa sampai sekarang.
Kemeja piamanya jatuh perlahan menuruni bahunya. Hinata menyadari bahwa dirinya setengah telanjang. Seluruh kancing piamanya itu terbuka, perbannya sudah tak lagi terlilit dengan rapi seperti sebelum ia tidur tadi.
Hinata menyibak rambut panjangnya kebelakang, lalu merapikan pakaiannya yang berantakan. Sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela kamarnya, memberikan hawa hangat pada tubuhnya yang dingin.
Benar-benar menyadarkannya bahwa hari ini sudah pagi dan waktunya ia untuk bangun dan beranjak dari kasur.
Ponselnya bergetar lagi, nama Naruto lagi-lagi muncul di layarnya. Hinata mendesah berat, merasa kesal. Ia yang sudah sangat stress dan tidak ingin diganggu, tapi pria itu malah terus-terusan mendatanginya seakan tidak memiliki pekerjaan lain. Hinata tidak punya pilihan lain, ia langsung mengangkat panggilan itu dengan cepat, berharap pria itu tidak lagi membuang-buang waktunya untuk hal yang sama sekali tidaklah penting.
"Kau baru bangun?" pertanyaan pertama pria itu dan Hinata hanya bisa membalas pertanyaan itu dengan gumaman pelan.
"A …" pria itu agak ragu, Hinata hanya diam menunggu kata selanjutnya. Ia masih terlalu lelah untuk berdebat dengan pikirannya.
"Kau masih ingat dengan tawaranku semalam?"
Hinata ingat, tapi ia memilih bungkam.
"Aku masih mengharapkan kehadiranmu, Hinata," ungkap pria itu dengan nada memohon.
"Kau boleh mengajak teman dekatmu jika kau merasa tidak nyaman, aku bahkan mengajak Gaara, Shikamaru, dan Sai, untuk ikut serta."
Hinata tetap pada diamnya. Napasnya yang tadi tersengal-sengal sudah mulai mendapatkan ritmenya lagi.
"Ayolah, aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang, lagipula kau bilang kau sedang stress, kan?"
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Hinata hanya bisa memejamkan matanya sejenak lalu kembali mengatur napasnya.
"Baiklah kalau kau tidak—"
"—aku akan datang, Naruto-kun."
Jantung Hinata mulai berpacu dua kali lipat dari pada biasanya. Tangannya gemetar meremas sprei kasurnya sampai kusut. Hinata menggigit bibir bawahnya, sambil berharap pilihannya kali ini tidak salah lagi. Ia harus mengenyahkan pikiran-pikiran aneh itu secepatnya.
Ya. Secepat yang ia bisa.
.
.
.
.
.
A/N:
Hai. Bersama daku, Author kentang. Kali ini aku ingin curhat masalah sesuatu ... kuharap kalian mau membaca author notes yang agak panjang ini.
Maaf atas keterlambatan dan hilangnya daku beberapa bulan ini. Entah ada yang nyari atau kaga, tapi aku nggak peduli. Iya. Nggak.
Berbulan-bulan ini daku masih mengetik draf, memikirkan plot, merancang plot sebisa mungkin sampai ending jadi daku nggak kehilangan alur ditengah cerita, dan juga memikirkan satu-dua hal tentang kelangsungan akun ini.
Ini mungkin berita buruk bagi kalian, tapi kumohon, jangan buat aku berpikir demikian. Aku berencana untuk menutup akun ini seterusnya; dan beralih ke lapak sebelah—wattpad—yang lebih private, terpercaya, dan lebih memberikan proteksi tentang rating karya yang ditetapkan.
Alasannya? Simpel, aku nggak mau ada seseorang yang menyalahgunakan fiksi yang kubuat.
adalah situs yang ramai. Sangat. Aku nggak mau munafik dengan bilang filter rating di Ffn nggak berguna sama sekali. Banyak anak di bawah umur bisa mengakses rating M dengan mudah. Contoh nyatanya? Aku—haha—aku salah satu orang yang terjerumus ke rating M waktu masih kecil dan setelah aku dewasa, aku menyesal; aku nggak pengen ada korban-korban lain sepertiku.
Jujur, aku merasa miris dan sedih ketika ada anak yang pola pikirnya nggak seperti anak pada umumnya.
Di sisi lain aku sendiri mencintai pembacaku yang ada di sini—iya sih nggak seberapa—dan kalaupun aku pindah lapak nggak menjamin aku bakal kognisi yang sama seperti di sini, tapi aku—sebagai penulis—punya beban moral untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku ketik, aku ciptakan.
Aku mencintai karyaku, sama seperti aku mencintai pembacaku, aku juga punya beban utang sama kalian yang mungkin terlanjur suka dengan karyaku—oh ayolah, aku tahu rasanya di-PHP-in sama author fanfik yang aku suka.
Itu curhatanku yang pengen aku ceritain ke kalian. Maaf kalau terlalu panjang dan sangat belibet. Aku sudah berusaha meringkas ini seringkas mungkin sehingga kalian nggak males bacanya.
So, bagaimana tanggapan kalian tentang rencanaku ini? Aku pengen denger bagaimana tanggapan kalian walaupun sedikit, jujur, itu membuatku merasa dihargai sebagai manusia. :)
Salam
Kana
