You Can Change Me
Naruto Masashi Kishimoto
Rated : T+
...o...o...o...
.
Sudah 4 hari berlalu, mungkin secara kasat mata tidak terjadi apa-apa dalam hubungan pertemanan mereka, namun Haruno Sakura merasa bahwa Hinata yang selalu tak banyak bicara malah terlihat semakin pendiam, bukan Sakura saja tetapi Ino juga merasakan keganjilan itu, mereka sama-sama tak berani membahas tentang kejadian di tempo hari yang diyakini adalah penyebab sang gadis Hyuga itu terlihat lesu.
Disaat semua terlarut ke dalam dimensi pemahaman dalam karakter nada, suasana hati putri sulung Haruno Kizashi ini malah terus menerus mengambang, didera goncangan ombak kegelisahan dia kini tak dapat lagi merespon mata pelajaran sejarah musik yang biasanya sangat digilainya, sebab saat ini ada hal lain yang berada di luar jalur pelajaran sedang difikirnya serius.
Ya aku harus melakukan ini.
"Baiklah anak-anak pelajaran kita akhiri disini." Tayuya-sensei menutup buku paket yang ada di tangannya.
"Jangan lupa mengulangi lagi di rumah masing-masing karena minggu depan aku akan mengadakan ulangan, paham?"
"Baik.." jawab para siswa dan siswi serentak. Tayuya segera meninggalkan ruangan kelas.
"Hinata temani aku makan pancake ya? Tiba-tiba aku merasa ingin." Entah sejak kapan Ino sudah berada di sebelah meja Hinata.
Hinata menoleh. Namun tatapannya begitu sayu.
Sebenarnya bukan pancake lah yang membuat Ino ingin mengajak Hinata keluar tetapi karena dia melihat Hinata yang menjadi murung beberapa hari belakangan ini.
"Aku membawa bento.." jawab Hinata pelan, "dan.. ingin makan di kelas saja.." tambahnya jauh lebih pelan dari yang sebelumnya.
Jika saja Ino tak berada di samping kiri dan Sakura yang tengah duduk di depan mejanya mungkin mereka tak akan dengar.
"Kau membawa bento? Kalau begitu sebaiknya kita makan di taman saja tapi sebelumnya temani aku beli pancake dulu di kantin ya."
Ino berpura-pura tidak mendengar perkataan Hinata, dia harus bisa membujuknya. Mungkin saja berada di luar bisa membuat Hinata merasa lebih baik.
"Sakura bagaimana pendapatmu?"
"Tentu saja aku setuju lagipula aku juga membawa bekal, kita ke taman saja."
Mereka berjalan keluar kelas dengan bento yang berada ditangan, namun sebelum menuju taman Ino ingin menyinggahi kantin dulu membeli pancake guna mempelancar aktingnya.
.
...o...o...o...
.
"Hey!" seru seorang gadis tiba-tiba, kedua gadis itu segera menoleh.
"Sudah lama tak bertemu." Kekeh gadis itu. "ah Tenten aku disini!" serunya lagi kepada seorang temannya yang berada di kejauhan. Gadis itu sepertinya kebingungan karena tiba-tiba dia menghilang.
"Matsuri kau kebiasaan, aku kira kau sudah duluan pergi." Setelah sampai Tenten segera melipat kedua tangannya kesal, lalu dia menoleh kearah 2 gadis yang sedang disapa oleh temannya tadi.
"Hey. Tumben sekali hanya berdua, dimana Ino?" dia kini tersenyum ramah kepada 2 gadis itu.
"Dia sedang memesan pancake." Sakura menunjuk ke antrian makanan.
"Ngomong-ngomong terima kasih ya. Sangat manis sekali, aku sangat menyukainya Sakura." Gadis itu masih tersenyum ramah sambil menunjuk poni cokelat bagian kanan miliknya.
"terima kasih telah menggunakannya." Sakura tersenyum senang.
"Hey Shikamaru!" Matsuri berteriak kecil memanggil nama seseorang. Dan sukses membuat 3 pasang mata gadis lainnya menoleh ke arah pemuda berambut nanas itu.
"Nanti ada latihan basket tidak?" tanya Matsuri yang entah kapan suda berada di samping pria nanas itu.
"Ada kenapa?"
"Dia ikut tidak?" tanyanya malu-malu.
"Gaara? Hari ini sepertinya dia tak ikut. Dia tadi juga tidak masuk katanya sedang terserang flu." Shikamaru menguap dan mengakibatkan terlihat bercak air di kedua belah matanya.
"A-apa? Dia tak bilang padaku.." terlihat jelas wajah Matsuri yang tadinya menggebu-gebu kini menjadi lesu.
"Kau seperti tak mengenalnya saja, sudahlah maklumi saja. kau harus siap menerima kebiasaannya.."
"Shikamaru sialan, kenapa lama sekali hanya memesan cola-cola saja. Huh." Terdengar suara pemuda lain di belakang Matsuri.
"Oh Naruto ternyata, pantas berisik." Komentar Matsuri setelah menoleh kebelakang, "eh? Ada Sasuke-kun juga?"
Pemuda raven itu hanya mengangguk pelan.
"Cerewet." Naruto menyipitkan matanya.
"Kau juga sama." Matsuri menjulurkan lidahnya.
"Gaara hari ini tak ada bersama kami, jadi jangan sok dekat-dekat." Naruto menunjuk-nunjuk Matsuri.
"Dih siapa juga yang mau dekat-dekat, itu temanku ada disana." Matsuri menunjuk ke arah 4 orang gadis cantik yang ada di seberangnya, ternyata Ino sudah kembali dengan pancake ditangannya.
Sekilas Sakura bertemu pandang dengan pemuda raven yang berada tepat di samping Naruto, hatinya tiba-tiba merasa panas. Mata itu masih terlihat sama dengan sebelumnya, begitu dingin dan kelam.
Sakura tahu itu hanya perasaannya namun hal itu benar-benar membuatnya tak berani menoleh ke sana lagi. Sekarang dia hanya memperhatikan Hinata, dan sekarang dia semakin sadar bahwa sangat jelas Hinata terlihat murung. Biasanya dia pasti akan antusias jika menyangkut lelaki berkulit tan dengan kumis kucing itu, namun kali ini gadis itu tak merespon malah menunduk saja sambil meremas kotak bento yang berada di pegangannya.
"Baik-baik aku kesana dulu, bye!" Matsuri melambaikan tangannya singkat kepada ketiga pemuda itu.
"Oh Ino sudah dapat pancakenya ya." Matsuri tersenyum lebar ketika sudah berada di sisi ke empat orang gadis itu.
"Begitulah, oh ya kami ingin ke taman apa kalian ingin ikut?" tawar Ino.
"Aduh sepertinya tak bisa, kesini hanya untuk membeli makanan ringan, setelah itu akan kembali ke kelas. Mau membahas kembali tugas kimia minggu lalu." Tenten menjelaskan.
"Setelah jam istirahat Asuma-sensei akan mengadakan ulangan." Sambung Matsuri.
"Oh begitukah, baiklah sampai jumpa." Setelah melambaikan tangan mereka segera berpisah.
Saat mereka sudah berada di sekitar taman sekolah, Sakura menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
"Ah aku ke toilet sebentar ya." Sakura menggaruk pipinya gugup.
"Baik kami menunggu disitu ya." Ino menunjuk kesebuah bangku panjang putih yang dipayungi beberapa buah pohon.
Sakura langsung berbalik arah meninggalkan kedua gadis itu.
.
...o...o...o...
.
Kelas 2 C
"Ah kenapa sulit sekali, kimia benar-benar membuat otak ku pusing." Begitu frustasi Matsuri menempelkan jidatnya ke atas meja.
"Matsuri?" Sakura sudah berada di pintu kelasnya, lalu berjalan masuk ke tengah-tengah diantara meja Matsuri dan Tenten yang memang bersebelahan.
"Sakura kau mencariku eh? ada apa?" Matsuri langsung mengalihkan perhatiannya pada Sakura.
"Begini.. bagaimana menjelaskannya ya?" Sakura meremas jarinya ragu.
"Ada apa Sakura?" sambung Tenten heran.
Sakura masih dengan diamnya dan tanpa sadarnya dia masih meremas jarinya, terlalu sangat kelihatan kalau saat ini dia sedang dilanda gugup.
Matsuri segera berdiri dan menggenggam kedua tangan Sakura.
"Kau kenapa Sakura, katakan saja pada kami. Mungkin saja kami bisa membantumu?"
"T-tidak begini kalian kenal dengan Naruto kan?" Sakura bertanya ragu.
.
...o...o...o...
.
"S-sakura kenapa kau berlarian?" Hinata merasa khawatir melihat Sakura yang baru saja kembali.
"Tidak-tidak." Sakura mengibas-ngibasan tangannya.
"Haha kau pasti laparkan, nih.." Ino segera menyodorkan kotak bento Sakura ketika melihat sang pemilik telah duduk manis di sebelah kanan Hinata.
"Terimakasih."
.
...o...o...o...
.
Uchiha Sasuke terus menopang kedua dagunya sambil sesekali menukar lantunan musik yang sedang mengalun di balik ipodnya.
"Teme, nanti sepulang sekolah kau ada kegiatan tidak?" entah sejak kapan putra tunggal pemilik Namikaze's Hotel itu sudah duduk manis di sisi kiri meja Sasuke.
"Kenapa?" Sasuke balas bertanya.
"Aku ingin main basket, Gaara kan sedang terkena flu, sedangkan Shikamaru katanya mau pergi kencan. Kau dan Sai temani aku ya." Cengir Naruto lebar.
"Tidak janji."
"Lho, kenapa?"
"Aku ada latihan karate." Sasuke mengalihkan perhatiannya kepada jendela, tanpa sengaja pandangannya menangkap basah ketiga orang gadis itu yang sedang menikmati bekal makanannya di taman hijau.
"Jangan dilihat terus nanti kau naksir." Si jabrik kuning langsung cekikikan tak jelas.
Sasuke langsung menatapnya kesal, omong kosong apa ini? Sungguh kalau saja si jabrik kuning ini bukanlah sahabatnya pasti dia sudah mendapatan 3 buah benjolan di atas kulit kepalanya sejak tadi.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Jadi aku benar? Kau tertarik pada salah satunya eh?" goda Naruto pada Uchiha bungsu itu lagi.
"Urusai" satu kata yang Sasuke ucapkan sukses membuat Naruto semain cekikikan.
Sasuke kembali menoleh ke ipod yang sedang dipegangnya, kembali mengganti alunan lagu yang sedang berputar.
Lagi-lagi Naruto mengerucutkan bibirnya sebal, "ah yaya terserah kau saja deh." Lalu dia kembali asik dengan komik yang berada di tangannya.
Di balik lantunan musik keras yang sedang mengalun di telinganya, Sasuke begitu kesal dengan perkataan Naruto, suka? Jangan harap pernah.
Ketika melihat si gadis kurus dengan rambut mencolok itu hanya membuat dia teringat kembali dengan kejadian 5 hari yang lalu, bukankah gadis beriris aquamarine itu yang telah menangkap basah aksinya?
"Sebaiknya dia bersyukur karena terlahir sebagai wanita." Sasuke mendengus kesal. Dia tidak suka bila ada orang yang memergoki aksinya ketika menghajar para bajingan.
.
...o...o...o...
.
Kediaman Uchiha.
"Mau kemana kau." Suara berat itu menghentikan langkah pemuda raven yang baru saja beberapa langkah melewati dirinya.
Si raven terlihat cuek dan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan pria setengah baya yang kini sudah menutup koran yang tadi sedang dibacanya.
"Tidak usah datang ketempat latihan, kau tidak kuizinkan mengikuti kelas beladiri selama sebulan penuh."
Ucapan itu sukses membuat langkah kakinya terhenti.
"Kau selalu bertindak semaumu." Lontarnya pelan tanpa menoleh sedikitpun kepada pria setengah baya yang berada di belakangnya.
"Ini semua karena ulah siapa? Kau tahu siapa yang kau pukuli beberapa hari yang lalu itu? Ayahnya adalah teman bisnis ku."
"Penting kali sepertinya sampai kau melupakanku. Kenapa tidak sekalian saja anaknya kau angat menjadi anakmu juga."
Fugaku memicit pelipis matanya.
"Berhentilah kau benar-benar membuat ku stres.. berhentilah bersikap kekanak-kanakan."
"Aku belum genap 17 tahun, tentu saja aku masih belum dewasa, apa lagi jika itu di matamu."
Dia kembali melangkahkan kakinya. Hal itu membuat Fugaku kehilangan kesabaran.
"Kubilang kau tidak boleh pergi!"
"Tidak usah cemas, sudah pasti aku tak akan diizinkan masuk, Ayah pasti sudah menelepon kesana lebih dulu bukan. Ayah pasti sangat puas sekarang."
Fugaku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk berbicara secara baik-baik dengan putra bungsunya itu.
Sasuke segera meninggalkan mansion mewah keluarga Uchiha.
.
...o...o...o...
.
Tut.. tut.. tut..
Gadis itu menjadi kuatir, dia segera bersiap-siap dan menuju ke apartemen milik kekasihnya.
Gaara membuka pintunya, penampilannya berantakan. Hidungnya sangat merah dan kedua matanya begitu berair. Namun seperti biasa masih tak dapat mengurangi kadar ketampanan yang tercipta jelas di wajahnya pucatnya.
"Kenapa kau kemari." Ujarnya pelan, begitu datar nyaris tanpa ekspresi.
"Gaara-kun kenapa kau tak mengangkat panggilanku di telfon, dan kenapa tidak bilang kalau kau terserang flu." Cemasnya.
"Tidak usah terlalu berlebihan ini cuma flu."
"Bagaimana mungkin aku tidak cemas, bahkan aku tidak dikabari."
Gadis itu menghela nafasnya.
"Baiklah sekarang izinan aku memasak sup untukmu." Gadis itu menunjukkan barang belanjaan yang berada di tangannya.
"Sebelum kesini tadi melewati supermarket, sekalian saja aku belanja."
"Ini hanya flu biasa. Jangan terlalu berlebihan.."
"Mana bisa dipercaya bahkan kau menyembunyikannya dariku." gadis itu merajuk kesal.
Kini gantian pemuda itu yang menghela nafasnya.
"Baiklah, terserah kau." Gaara meninggalkannya di pintu, Matsuri tahu bahwa berarti dia sudah diizinkan masuk.
Setelah merasakan sup buatanku kau pasti akan segera sembuh.
Gadis itu jadi senyum-senyum sendiri dan segera mengunci kembali pintu apartemen milik kekasihnya.
.
...o...o...o...
.
Maaf panggilan yang anda tuju sedang sibuk, silahkan mencoba beberapa saat lagi.
Sekali lagi gadis itu menghela nafasnya.
"Apakah Ibu benar-benar sibuk?"
Dia Cuma ingin mengetahui bagaimana kabar Ayah, Ibu dan adiknya. Tidak terlalu berlebihan bukan? Tapi sepertinya Tsunami terlalu sibuk untuk mengangkat panggilan darinya. Dimasukkannya kembali ponsel bernuansa pink itu kedalam tas yang sedang dikenakannya saat ini.
"Baiklah kurasa harus berangkat sekarang." Gumamnya setelah menoleh ke jam tangannya.
Gadis itu sudah siap dengan kaos pink di padu dengan rok selutut berwarna putih juga tidak lupa tas slempang beludru putihnya. Segera menuju ke halte bus terdekat.
Perjalanan dengan bus tidak memakan waktu yang cukup lama, menuju lapangan basket yang dimaksud oleh Matsuri hanyalah memakan waktu sekitar 15 menit saja. Setelah sampai gadis itu segera menuju ke dalam lapangan.
Dia melihat dari pinggirang lapangan, terlihat seorang pemuda dengan rambut gelap kebiruannya, sedang berkeringat habis-habisan. Saat ini sedang mendribble bola basketnya bersiap melemparkannya ke dalam ring. Sakura mencari-cari sosok pemuda berambut kuning, namun dia masih belum menemukannya. Tak ada seorangpun hanya pemuda pemilik bola mata hitam pekat itu yang sedang bermain baket sendirian di dalam lapangan.
"Apa sebaiknya menunggu saja? Mungkin yang bernama Naruto sedang keluar sebentar." Sakura membesarkan hatinya yang sebenarnya sudah mulai ciut, karena seseorang yang sedang berada di dalam lapangan adalah pemuda dengan tatapan mengerikan itu.
Sasuke terus mendribble bola namun karena merasa lelah sekaligus risih diperhatikan terus, Sasuke menghentikan permainannya sebentar. Berjalan pelan menuju ke bangku panjang yang kebetulan sedang diduduki oleh Sakura, bermaksud untuk mengambil air mineral yang berada di dalam tasnya.
Sakura melhat ke jam tangannya, tanpa sadar 1 setengah jam sudah berlalu sejak tadi. Sebenarnya Sakura tak berani berbicara pada pemuda itu namun dia juga tak mungkin menunggu disini, karena hari sudah mulai sore. Akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk bertanya.
"M-maaf.." Sakura memulai pembicaraan.
Sasuke yang sedang merogoh ke dalam isi tasnya menoleh kearah gadis itu sebentar. Lalu kembali sibuk membongkar isi ranselnya. Setelah menemukan air mineral yang dicarinya, tanpa buang waktu segera diteguknya.
Sakura pun bangun dari bangku panjang itu.
"A-ano aku sedang ada perluh dengan namikaze-san namun dari tadi aku tidak melihatnya apa dia tidak datang hari ini?" Sakura bertanya sambil meremas tangannya yang sudah mulai basah oleh keringat.
Namun Sasuke sama sekali tak menjawab pertanyaannya.
"A-ah maksudku.. begini, eto.. apa k-kau mengetahui dia dimana saat ini?" Sakura bertanya takut-takut. Gadis itu masih saja menunduk.
Sasuke terus meneguk air mineral itu hingga tersisa seperempat saja.
"Mana ku tahu, aku bukan baby sisternya." Suara baritone itu terdengar singkat saat dia menutup botol air mineral yang sedang digenggamnya.
"Huh?" gadis itu kebingungan dan mengangkat kembali wajahnya.
Sasuke kembali meraih bola basket yang tadi diletakkannya di samping tas ransel biru miliknya.
"Dia baru saja kembali sebelum kau datang.." Pemuda itu ternyata menjawab pelan pertanyaannya dan segera berjalan kembali ke lapangan basket.
"Benarkah.. ? t-tapi?"
Kini Sasuke sudah kembali bermain basket di dalam lapangan.
"Pria itu.." Sakura tidak habis pikir, gadis itu jadi bingung sendiri apa dia harus menunggu pemuda itu menyelesaikan latihannya atau segera pulang saja sekarang, toh katanya Naruto sudah pulang sebelum Sakura datangkan?
Sakura berjalan pelan bermaksud meninggalkan lapangan namun dia teringat akan sesuatu lalu dia berhenti dan berbalik menghadap ke dalam lapangan lagi.
*Flashback*
"Jadi kau akan bilang langsung padanya?"
"Ya.. mungkin begitulah.. aku akan bicara baik-baik padanya, Hinata begitu menyukainya dia harus tahu itu.."
Matsuri kini menopang dagunya.
"Baiklah aku mengerti Sakura, tapi bila rencana untuk bicara langsung dengan Naruto gagal, aku punya ide kedua."
"Apa rencana berikutnya?"
"Kita kencan dengan salah satu dari mereka."
"A-apa?!" Sakura dan Tenten menjawab bersamaan.
"Aku akan mencoba bicara pada Gaara-kun, namun terkadang dia sangat sulit untuk diajak. Karena itu kalian harus bisa mengajak salah satu dari mereka juga."
"Maksudmu kencan bersama, begitu?!"
Gadis itu mengangguk.
"Tentu saja pada akhirnya Hinata yang akan kita pasangkan dengan Naruto. bagaimana?"
*Flashback off*
"Apa bisa melalui dia..? tapi.." gadis itu sangat ragu dia harus memutuskannya sekarang.
Lebih baik dia bersama si pria berambut nanas, namun di mana dia sekarang? Yang ada di sini hanyalah Sasuke seorang. Dia tak punya banyak pilihan.
"Ini demi Hinata." Walaupun masih ragu dia harus memantapkan hatinya.
Sakura kembali menuju ke pinggir lapangan basket dan kemudian dia kembali duduk di bangku panjang merah tadi.
Melihat pemandangan ini seakan dadanya disesaki oleh ribuan jenis kupu-kupu yang ingin menyeruak keluar. Ini begitu aneh, bukankah sebelumnya dia merasa sangat takut jika bertemu dengan pemuda itu? Hatinya memang masih terasa panas, jari-jari dan telapak tangannya juga masih mengeluarkan keringat dingin, namun entah mengapa kali ini dia merasa lebih nyaman dari sebelumnya. Mungkin karena saat ini dia tidak secara langsung bertatapan dengan mata hitamnya.
Sasuke kembali men-shot bola ke dalam ring, dan lagi-lagi berhasil. Setelah bola jatuh dan bergelinding pemuda itu segera meraihnya, dan berjalan menuju keluar lapangan.
Setelah sadar bahwa Sasuke berjalan menuju ke tas ransel yang memang diletakkannya di sudut kiri kursi, gadis itu segera menghampirinya.
"Hm m-maaf, ada yang ini ku bicarakan."
"Lain kali saja aku tidak punya waktu."
Dia sudah siap dengan tas ransel dan bola basket di tangan kanannya. Kini dia menatap Sakura.
Ditatap seperti itu seketika saja membuat perasaan Sakura menjadi takut kembali. Tanpa sadar gadis itu kembali meremas tangannya yang masih berkeringat dingin.
"H-hanya sebentar tolong dengarkan aku. Ini penting sekali." Katanya sambil menunduk.
Tapi pemuda itu malah berjalan meninggalkannya, Sakura segera menyadarinya.
Sakura tak punya banyak pilihan.
"Berkencanlah denganku!"
Sadar atau tidak kini Sakura telah mengucapkannya.
Cowok itu segera berhenti, Sakura menyusulnya tapi tak berani berhadapan, dia hanya berdiri di belakang punggung pemuda itu.
"Kau.."
Pemuda itu berujar pelan.
"Bahkan tidak kenal siapa aku.."
"E-eh?" hanya itu yang keluar dari mulut Sakura.
Pemuda itu kembali melangkahkan kakinya. Kini tinggal Sakura sendiri di lapangan itu.
Tiba-tiba kakinya menjadi begitu lemas, lalu jatuh terduduk di atas lantai.
A-apa yang telah kulakukan?! Apakah ini benar? Bisa-bisa dia salah paham nantinya!
.
...o...o...o...
Bersambung
...o...o...o...
.
Hallo semuanya! :D
Maaf ya jika menurut sebagian orang bahwa saya sering telat update, ini dikarenakan tugas kuliah yang semakin menumpuk, sekali lagi saya minta maaf ._.v
Untuk beberapa chapter kedepan masih menceritakan tentang perjalanan hubungan Sasuke dan Sakura dulu ya, jadi untuk permasalah di dalam keluarga kedua belah pihak nanti akan dibahas seiring dengan berjalannya cerita, karena untuk beberapa chapter ini saya mau fokusin ceritanya Sasuke dan Sakura dulu. tolong harap maklumi ya :D
Dan buat yang sempatin buat meriview, follow atau favt makasih banyak ya.
Hanazono Yuri : ini sudah update maaf menunggu :D
Cherry : iya Sakuranya seorang Putri tapi bukan di Konoha
Myra : hihi tapi latar belakangnya di Konoha :D makasih ya buat semangatnya.
Chikenbutt: benarkah penuh dengan intrik? Tapi masih belum dibahas masalah perpecahan di dalam keluarganya itu baru di sinopsisnya saja :D tapi akan segera di bahas kok, jadi tunggu tanggal mainnya ya ;)
Polkaadot: haha menurut olka ini lebih ke hurt? Hehe tp kaka mmng lagi pengen ngebikin drama nih :D hurtnya selingan ada juga kok
Kai anbu : hai salam kenal kembali, makasih senpai atas sarannya :D saya akan berusaha memperbaiki lagi kekurangan saya hehe. Sekali lagi makasih banyak atas sarannya
Hatake Ridafi Kun: haha ga di kritik juga gapapa kok dan makasih banyak ya udah mau nungguin cerita saya :D ;)
Ndhl971026 : iya dil ini udah updet kok, sori ya agak lama hehe
Aguma : aku langsung search ketika kamu bilang mengingatkan pada koizora, tapi cerita ini bukan terinspirasi dari koizora, setelah di search langsung di dwnload. Jadi aku udah nonton filmnya setelah aku perhatikan dibagian akhirnya ya agak sedkit mirip ._. beneran deh tanpa kesengajaan ._.v dan ini sudah update hihi makasih udah semangatin yah :3
Lovers : haha maaf kan kekurangan saya, kalau alurnya menurut kamu lambat tapi tenang aja GaaMatsu juga ada disini karena saya juga termasuk penggemarnya hehe. Dan makasih ya atas semangatnya :D
Momo Kuro : iya ini sudah lanjut kok maaf ya menunggu :D
Guest : iya ini sudah update kok maaf ya menunggu :D
sekali lagi terimakasih buat semuanya, sampai jumpa di chapter berikutnya :D
