(2) True Phenex
Mataku mengerjab beberapa kali, sambil mengorek telingaku, mungkin telingaku kemasukan debu hasil ledakan tadi, "Maaf, bisakah kau menyebut syaratmu kembali?"
"Kau harus rekam dewi Hera yang sedang colmek,"
Aku tak menjawab lagi, entah kenapa aku menyesal memintanya menjadi guruku, cukup Jiraya yang menodai kepolosanku ini, aku tidak ingin ada lagi orang seperti dia dekat-dekat denganku.
Hiiii~
"Aku tahu permintaanku memang bodoh, tapi kau tahukan keadaanku sekarang ini. Istriku telah membuangku, tidak ada lagi tempat untuk membuang hasrat yang telah membludak ini, jadi aku butuh sebuah hiburan. Pelampiasan nafsu terpendamku ini,"
Ia mulai menjelaskan semuanya dengan tatapan sayu, bahkan ular kobra yang mengalung di lehernya ikut mengelus-eluskan kepala berupaya menenangkan dewa yang satu ini.
"Hera, ia adalah dewi yang kesepian sama sepertiku seorang dewa yang kesepian. Kami sama-sama dicampakan, jadi aku ingin sekali melihat ia dalam keadaan hilang kendali, bermain sendiri sambil mendesahkan nama seseorang. Kau tahukan apa yang kumaksud? Jadi ku mohon padamu, bawakan aku rekaman dewi janda itu ya, please!"
"Ti..."
Baru saja aku membalas permohonan gila darinya, seorang anak kecil tiba-tiba muncul dan berdiri tenang tepat di tengah-tengah kami, ia terlihat berumur sepuluh tahun, menurutku sih dia cukup imut tapi dia sama sekali tampak tidak berekspresi, dan ia menatap ke arahku dengan ekspresi kosong tersebut.
"Ophis!"
Shiva langsung melompat mundur dari tempatnya, ekspresi sayu tadi langsung digantikan ekspresi serius, dan memasang stance bertarung miliknya. Jadi anak ini Ophis, bocah ini bahkan bisa membuat dewa sekelas Shiva begitu waspada, sebenarnya seberapa kuat bocah ini?
Memang aura yang dipancarkannya seakan aku tengah berhadapan dengan Kurama, tapi aku sungguh tidak menyangka wujud Ophis ini sebenarnya seorang bocah loli. Dunia ini memang dipenuhi oleh makhluk-makhluk aneh, pertama seorang dewa yang sifat mesumnya tak lagi dapat ditolong, lalu seorang makhluk ketidakbatasan yang berekspresi kosong, lalu setelah ini aku bertemu makhluk yang seperti apa lagi.
"Jadi kau yang disebut Ophis, apa maumu?"
Tanyaku, semoga saja ia kemari untuk bertemu Shiva. Jadi aku bisa cabut dari sini, perutku dari tadi terus bergetar menahan lapar nih!
Dia hanya diam, menatapku kosong. Hah–sebaiknya aku pergi!
"Kalau kau tidak ada urusan denganku, aku akan pergi."
Saat aku telah mengambil langkah keempat, tiba-tiba tekanan udara meningkat membuatku tidak bisa bernapas seketika, tak hanya itu tubuhku terasa ditekan detik itu juga, memaksaku untuk menunduk dengan napas tersenggal.
"Urusanku denganmu Iblis!"
Ia bersuara, tenang dan dingin, mengingatkanku pada sosok Sasuke yang selalu berbicara seperti layaknya dia yang terkuat.
"Jangan kau sakiti calon muridku, loli antik!"
Buagh
Angin kencang berhembus dari arah punggungku, bahkan saking kuatnya angin tersebut mampu membutku terhempas dan berguling-guling di tanah. Tekanan yang menekan tubuhku tak lagi terasa, aku pun bisa menyeimbang kembali tubuhku setelah itu, menatap ke depan dan aku hanya bisa tersenyum saat melihatnya.
Di depanku, dengan jarak dua puluh meter terdapat dua sosok yang digadang-gadangkan sebagai makhluk terkuat sedang mengadu kekuatan. Shiva sang dewa pehancur baru saja ingin memukul Ophis, tapi si-chibi itu dapat menahannya dan menggenggam pukulan Shiva dengan santai, namun aku lebih takjub pada kawah yang tercipta di belakang Ophis, sebenarnya seberapa kuat pukulan itu hingga membuat hempasan angin yang mampu mengoyak tanah hingga seperti itu.
"Aku tidak punya urusan denganmu, penjahat kelamin!"
"Penjahat kelamin?!"
Aura Ungu menyeruak dari tubuh Shiva, tekanan kekuatannya makin berat hingga membuat tanah yang dipijakinya beterbangan kian kemari, mungkin dewa itu mengamuk setelah dikatai penjahat kelamin oleh sang chibi. Tak mau kalah, Ophis pun menambah tekanan kekuatannya, aura hitam menyeruak membuat cekungan tanah di tempat mereka berdiri semakin luas, tanah terus terkoyak ketika dua pancaran kekuatan tersebut terus beradu.
Lebih baik aku menjauh dari tempat ini.
"Kau yakin, Shiva?"
"Tentu saja, sudah lama tubuhku ini tidak berolahraga."
"Hm, kalau begitu matilah."
Boom
Ledakan hebat terjadi ketika tinju mereka saling bertemu. Debu beterbangan menutupi jarak pandangku, tapi sesaat kemudian angin liar kembali berhembus menyibakan semua debu, di detik itu juga dua buah seluet tertangkap oleh mataku, mereka bergerak sangat cepat dan ketika dua seluet itu bertemu tanah kembali hancur.
Jika ini terus berlanjut bisa-bisa tempat ini akan hancur. Oh aku lupa, kan tempat ini juga sudah hangus terbakar.
Tekanan kekuatan mereka juga terasa semakin menyesakan, aku harus menghentikan mereka sebelum terlambat.
–Tapi, apa aku bisa? Tch, terserah apa yang terjadi, aku harus menghentikan mereka dulu.
Whus–kembali jubah api emasku muncul, dalam mode ini aku terasa lebih kuat dan cepat, meski awalnya ini hanya untuk fasion tapi lama-lama aku merasa api ini juga meningkatkan kemampuanku. Kekuatan, kecepatan, bahkan kepekaanku meningkat ketika aku menggunakan mode ini.
Dalam penglihatanku, tinju Shiva dan Ophis akan kembali bertemu, aku yakin pukulan mereka kali ini dipenuhi keinginan membunuh yang kuat, apa aku bisa menahan pukulan tersebut.
Tch, tidak ada pilihan lain, aku harus melakukannya! Aku melesat ke arah mereka, kecepatanku terasa sama cepatnya ketika Nidaime membawaku dengan hiraishin miliknya, aku tersenyum singkat, bahkan kecepatanku setara dengan hiraishin dalam bentuk ini.
Whus–tepat sebelum pukulan kuat itu saling berbenturan, aku muncul diantara mereka dan langsung menangkap pukulan mereka tanpa memperdulikan apapun.
Booom
Saat itu seorang pria tampan nampak bersantai di singgasana miliknya. Ia menikmati kipasan dari dua pelayannya, terasa amat menyenangkan baginya, hingga ia mampu memejamkan mata karena saking nikmatnya.
Di saat matanya terpejam, dan akan memasuki alam mimpi, tiba-tiba sebuah pancaran energi menyeruak dan menganggu hari tenangnya. Pancaran kekuatan ini berasal dari tempat yang sama seperti sebelumnya, cuman kali ini ia mengenal pemilik pancaran energi ini, senyumannya terkembang di saat itu juga.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Pertama kemunculan energi yang kuatnya setara dengan para Mou, lalu selanjutnya Shiva dan Ophis mengamuk di tempat yang sama dengan kemunculan energi asing tersebut. Hm, aku harus pergi melihat hal ini, yang lain pasti juga telah bergerak saat ini."
Ia berdiri, sedetik kemudian lingkaran sihir putih menelan tubuhnya hingga lenyap.
Booom
"Ledakan yang luar biasa! Sayang sekali, anak itu pasti mati!"
"Ya, padahal ia iblis yang luar biasa!"
Ajuka–seorang mou berjulukan Beelzebub ikut berkomentar setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. Baru saja para yondai-mou akan melakukan rapat bulanan tiba-tiba sebuah pancaran energi yang amat luar biasa muncul, kebetulan ia tahu bahwa pancaran energi tersebut berasal dari seorang iblis, lalu mengajak tiga lainnya menyelidiki hal ini, tapi ia amat terkejut akan fakta yang ia lihat setelah itu.
Siapa yang tidak terkejut saat melihat Ophis dan Shiva bertarung? Bahkan ketika hal itu terjadi tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghentikannya, tapi seorang iblis pemilik pancaran energi tersebut nekat masuk ke dalam arena dan sebuah ledakan pun terjadi meluluh lantakan tempat ini.
"Menurutmu apa anak itu mati, Ajuka-tan?"
"Entahlah? Coba kau tanyakan Falbium!"
Satu-satunya wanita di kelompok mereka langsung menoleh pada sosok pria yang berdiri di sisi kanannya, saat melihat ekspresi antusias dari pria tersebut entah kenapa rasa penasarannya makin bertambah.
"Sirzech, mari bertaruh!"
'Tch, ia mengabaikanku.'
Sirzech yang disebut oleh Falbium hanya diam menatap tempat ledakan yang masih di penuhi api, "Jika anak itu masih hidup kau harus mengerjakan semua dokumen milikku,"
Mendengar lanjutannya Sirzech tiba-tiba jadi antusias, ia tahu maksud dari iblis pemalas ini, kebetulan kertas-kertas menjengkelkan itu telah memenuhi ruangannya, jadi ikut taruhan ini bisa membuat kertas itu mengering. "Ya, aku yakin dia sudah is dead. Dan jika anak itu mati kau harus mengerjakan dokumen milikku, semuanya!"
"Deal!"
"Iblis yang nekat,"
Seorang gadis pirang bergelombang yang memiliki paras dan tubuh indah itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Padahal aku menemukan seorang pengguna sihir api yang bisa dijadikan rival, tapi sayang riwayatnya sudah berakhir."
Sedangkan pria yang di sisi kanan hanya mengangguk-angguk, entah apa yang ia anggukan.
"Tapi asal kalian tahu, aku Azriel sang Archangel yang bertugas mencabut nyawa sepertinya melupakan tugasku. Saking kagumnya aku lupa untuk mencabut nyawa anak itu, jadi aku yakin ia masih hidup."
Semua mata yang hadir menatap pria itu, benar juga pikir mereka serentak.
Booom
Tepat sebelum pukulan seri mengamuk Shiva beradu dengan pukulan tenang milik Ophis, Naruto muncul menengahi mereka, ledakan api radius seratus meter pun terjadi di saat itu juga menelan The God Destruction dan The Infinity Dragon di dalamnya.
Lima menit tenang di tempat kejadian sebelum semua debu dan asap bekas ledakan itu akhirnya hilang. Semua makhluk yang hadir di tempat kejadian diam menatap ke arah Shiva dan Ophis yang masih berdiri tegap di sana, dengan jarak lima meter dua makhluk terkuat itu sama-sama melempar hawa membunuh yang amat menyesakan mereka.
Di sana hanya ada mereka berdua, tidak ada lagi sosok iblis telanjang berdarah Phenex yang nekat menghentikan pukulan makhluk terkuat tersebut, dapat mereka pastikan bahwa iblis itu telah lenyap tak bersisa. Namun sebelum pikiran itu terucapkan, sisa api yang berada diantara dua makhluk superior itu bergejolak, menjadi partikel-partikel lalu melayang dan berkumpul di satu titik–tepat di antara Shiva dan Ophis.
Ophis sang ketidakbatasan hanya meyeringai saat fenomena itu terjadi, "Jadi kau benar-benar seorang True Phenex, kah?"
Note's : Yo minna-san! Saya kembali di cerita abal-abal ini, memang pendek karena hanya inilah kesanggupanku, sekitar 1k+ perchapter. Hayo, yang merasa ini belum cukup, semangati terus penulisnya jangan jadi silent-reader doang donk.
Hehehe,
Oh iya, ini tentang Azriel. Ia adalah seorang OC di sini, termasuk ke dalam lima Archangel yang memerintah di surga. Penjelasan lainnya kalian tunggu saja, saya juga bingung mau ngejelasin yang mana.
Sebagai penulis baru, saya memang masih banyak kekurangannya, jadi jangan ragu untuk memberikan masukan dan flame yang membangun, Oke. Terimakasih untuk kalian semua, karena sudah sudi membaca ceritaku ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
~Happy, Oke~
