#02 (Misi Hokage)

Pagi-pagi sekali, Sai, Ino dan Inojin berkumpul di depan batu besar yang terukir lambang dari klan Akimichi, Nara dan Yamanaka. Sepertinya Ino ingin mengajarkan sesuatu pada anaknya.

"Ada apa ini? Kenapa kita datang kesini?" Tanya Inojin.

"Kita akan latihan." Jawab Ino.

"Ha?! Kenapa pagi sekali?"

"Sekalian olahraga."

"Huft, baiklah, latihan apa ini?"

"Aku akan mengajarimu Shindenshin No Jutsu."

"Kalau latihan ini hanya melibatkan kita, kenapa ayah juga ikut?"

"Kau akan mengerti nanti."

"Klan kita, klan Yamanaka memiliki jutsu rahasia. Setiap jutsu rahasia klan kita selalu melibatkan pikiran. Dan ini pertama kalinya aku mengajari mu jutsu rahasia klan Yamanaka. Untuk permulaan, aku akan menunjukkan padamu apa itu Shindenshin No Jutsu." Sambung Ino.

'Shindenshin No Jutsu adalah teknik yang memungkinkan pengguna nya untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui pikiran. Biasanya klan kita menggunakan Shindenshin No Jutsu untuk menghubungkan dua orang atau lebih. Ketika menggunakan teknik ini, kita bisa disamakan dengan sebuah telepon.' Ino menjelaskan pada Inojin lewat Shindenshin No Jutsu.

'Bagaimana bisa? Suara ibu ada di kepala ku.'

'Inilah yang namanya Shindenshin No Jutsu.'

'Ayah juga bisa mendengar percakapan kalian karena ibu mu juga mengirimkan suara nya ke kepala ayah.' Sai juga berbicara.

'Hebat.'

Boruto, Shikadai dan Denki berkumpul di restoran untuk makan sambil main game (yang bermain hanya Shikadai dan Boruto).

"Hei Boruto, biasanya kau lebih memilih makan Burger daripada makan disini." Ujar Shikadai.

"Memang nya kenapa? Aku lagi mau kesini."

"Tidak biasanya saja."

"Aku jaranh melihat Inojin-kun akhir-akhir ini, padahal dia selalu bersama kita." Kata Denki.

"Benarkah? Aku baru saja ketemu dengan Inojin kemarin." Ucap Boruto.

"Dimana?"

"Di makam, dia sedang mengunjungi makam kakeknya. Merepotkan saja."

"Ha? Bo-Boruto, kenapa kau jadi ikut-ikut aku, ngomong 'merepotkan saja'?" Tanya Shikadai.

"Aku tidak tau, kata-kata itu spontan keluar dari mulut ku."

"Ahhh, sial! Aku kalah terus." Boruto terlihat kesal.

"Membosankan sekali jika hanya kita bertiga yang ada disini." Shikadai kemudian bersandar.

"Kuharap ada permainan yang lebih seru." Ujar Denki.

"Hmmm. Kenapa kita tidak berperang? Bukankah itu lebih seru?!" Boruto langsung berdiri.

"Hei Boruto, apa kau sudah gila? Kita akan berperang?" Shikadai terkejut.

"Yosh! Cari lapangan yang luas!" Boruto sangat bersemangat.

Lagi, Sasuke menemukan sebuah perkampungan yang diisi oleh mayat. Pria dingin itu menjadi semakin penasaran sekaligus bingung dengan 2 kampung yang diisi oleh mayat. Mayat nya pun tidak memiliki luka dan dalam kondisi kurus kering. Tiba-tiba ada seorang pria yang keluar dari sebuah rumah.

"Siapapun itu, tolong aku." Pria itu terlihat sangat kurus. Sasuke kemudian menghampiri nya.

"Apa yang terjadi? Apa kampung ini terserang penyakit?" Tanya Sasuke.

"Bukan, dia, dia menyerap seluruh chakra kami. Dia lari kearah hutan. Beri dia hukuman yang pan-tas." Pria itu memejamkan mata nya, Sasuke langsung memeriksa denyut nadi nya.

"Sepertinya dia yang terakhir."

"Aku harus mengejar orang itu." Sasuke meninggal kan perkampungan itu dan pergi menuju hutan.

Secepat kilat, Sasuke bisa menyusul pria misterius dengan rambut panjang itu yang berdiri membelakangi nya.

"Berhenti!" Seru Sasuke.

"Apa urusan mu?" Tanya pria itu.

"Apa yang kau lakukan pada perkampungan itu?"

"Kenapa kau tidak tau? Kau kan Uchiha Sasuke."

"Siapa kau?"

"Uzumaki yang tidak dianggap."

"Apa?"

"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada pekampungan itu? Apa tujuan mu?"

"Kita tidak saling kenal, kenapa kau terlalu ingin tau tentang ku? Ada hal yang lebih menarik yang ingin kulakukan."

Sasuke hanya terdiam, kemudian pria itu melanjutkan omongan nya.

"Membunuh Hokage Ketujuh!"

"Di dunia ini, tidak akan ada yang bisa mengalahkan Naruto! Kau hanya kerikil baginya."

"Oh ya? Hahahahaha, kau bahkan belum tau kekuatan ku, jadi bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?"

'Dia tidak berani menghadapkan badan nya kearah ku, sepertinya dia tau tentang diriku, dia mencoba menghindar dari Sharingan ku.' Gumam Sasuke.

"Kau benar, aku menghindari Sharingan mu."

"Bagaimana bisa kau tau?"

"Aku ini spesial, aku berasal dari klan Yamanaka."

"Kau tidak waras."

"Ha?! Oh iya, pasti kau berpikir bahwa aku ini gila, karena tadi aku mengatakan bahwa aku ini Uzumaki yang tidak dianggap. Tapi tenang saja, kau akan tau nanti."

"Aku tidak mengerti."

"Sayang sekali, Uchiha Itachi yang jenius memiliki adik yang bodoh."

'Apa dia? Shinobi Konoha?' Sasuke bertanya-tanya dalam hati nya.

"Aku suka membuat orang bingung, silakan kau pikir, apa aku ini memang Shinobi Konoha."

'Klan Yamanaka ya? Itu artinya dia menggunakan Shindenshin No Jutsu untuk mengetahui apa yang ada dipikiran ku, aku harus lebih berhati-hati.' Batin Sasuke.

"Tapi sepertinya kau tidak terlalu bodoh. Dan aku harus berhati-hati dengan mu, karena sepertinya kau tau banyak tentang klan Yamanaka."

"Tidak juga, aku hanya tau sedikit karena aku memiliki teman yang berasal dari klan Yamanaka."

"Yamanaka Ino ya? Dia anak nya Yamanaka Inoichi. Seorang Kunoichi yang lumayan hebat dan tangguh. Dia

juga cantik. Kenapa kau tidak menikahi nya? Bukan kah dia menyukaimu?"

"Bagaimana kau bisa tau?"

"Aku tau banyak tentang kau dan teman-teman mu, terlebih lagi tentang Konoha. Tapi jika membicarakan Konoha, sepertinya aku berbicara dengan orang yang salah, kau tidak tau banyak tentang Konoha kan?"

"Dari semua yang kau katakan, sepertinya kau sedang mengulur waktu."

"Jadi kau menyadarinya ya. Hm, karena Jutsu khas klan Yamanaka ini sepertinya kau harus mengatakan hasil analisa mu ya?"

Tanpa basa-basi, Sasuke langsung mengaktifkan Sharingan nya dan mengucap kan sebuah Jutsu yang diarahkan nya pada pria misterius itu.

"Amaterasu!" Pria itu tidak menghindar, dia membiarkan tubuh nya dibakar oleh Amaterasu.

"Sepertinya butuh banyak chakra untuk mengeluarkan Amaterasu ya? Kau bodoh Sasuke, aku yang asli sudah sampai di Konoha, untuk membunuh nya, tidak, aku akan menculik nya terlebih dahulu." Pria itu kemudian hilang dalam kepulan asap. Dan ternyata ia hanya lah sebuah Bunshin!.

"Aku mengerti sekarang, dia menyerap chakra dari seluruh orang di perkampungan itu. Oh tidak, jika dia juga melakukan hal yang sama pada perkampungan yang sebelum nya, mungkin dia bisa menculik Naruto, Naruto pasti akan menyerah karena dia tidak mau Konoha hancur akibat pertarungan yang mungkin akan terjadi antara pria itu dan Naruto." Ujar Sasuke.

"Tapi aku harus apa? Aku tidak punya burung pengantar pesan, jika aku kembali ke Konoha, itu akan memakan waktu yang lama. Tidak, aku tidak boleh mengeluh, meskipun terlambat, tapi aku harus tetap kembali ke Konoha."

Sasuke kemudian pergi menuju Konoha. Ia tau meskipun sudah terlambat untuk menyadari semua nya, tapi ia tidak akan putus asa, apa pun akan dilakukan Sasuke, demi menyelamatkan Naruto, dan tentu nya Konoha.

"Nah, sekarang, giliran mu untuk mencoba." Ucap Ino pada Inojin.

"Baik." Jawab Inojin

Inojin mentransfer apa yang ia pikirkan ke ayah dan ibu nya, tapi ia sangat lama untuk melakukan nya, padahal sudah 2 menit tapi ayah dan ibu nya belum menerima pesan dari Inojin.

"Apa menurut mu dia akan berhasil?" Tanya Sai.

"Tentu." Jawab Ino.

"Tapi ini sudah terlalu lama."

"Bersabarlah sedikit, Sai. Aku dulu juga seperti itu, untuk menguasai Jutsu ini aku bahkan membutuhkan waktu tiga tahun. Pertama kali aku mencoba nya saat ujian Chunin kedua, aku menggunakan nya sebagai alat komunikasi bagi Sakura dan Choji. Saat itu mungkin aku memang lebih cepat daripada Inojin, tapi, mungkin setahun lagi dia sudah bisa menguasainya."

'Ini sangat lama.' Pikir Inojin yang mengernyitkan dahi nya.

'Berhasil!' Gumam Inojin.

Sai dan Ino sudah menerima pesan Inojin.

"Yang kau katakan 'percobaan' bukan?" Tanya Ino.

"Iya."

"Ino, apa benar kau membutuhkan waktu tiga tahun untuk menguasai Jutsu ini?" Tanya Sai. Ino hanya mengangguk.

"Tapi, Inojin hanya membutuhkan waktu 3 menit." Kata Sai.

"Dalam waktu tiga tahun itu aku sudah lancar menggunakan nya. Inojin kan masih terlalu lama." Ino membela dirinya.

"Rentang waktu nya sangat jauh."

"Itu karena aku tidak fokus. Dari awal ayah ingin mengajariku Shindenshin No Jutsu ini, tapi, aku lebih memilih belajar dengan Tsunade-sama. Kalau saja waktu itu aku lebih fokus latihan dengan ayah, mungkin aku bisa menguasainya lebih cepat daripada Inojin."

"Begitu ya."

"Terkadang aku suka menganggu orang dengan Shindenshin No jutsu, aku mentransfer suara ku ke kepala mereka. Sebut saja ketika Naruto sedang istirahat dengan tenang, saat itu dia sedang kelelahan, namun tiba-tiba ada suara teriakan di kepala nya, itu membuat nya sangat terkejut, sampai-sampai dia terus memarahiku dua hari dua malam." Ujar Ino.

"Jadi maksud ibu apa? Aku harus menggunakan Shindenshin No Jutsu ini untuk mengganggu orang?" Pertanyaan Inojin ini membuat Ino berekspresi konyol.

"Tolong jangan berkata seperti itu, ibu hanya ingin membalas dendam kepada Hokage Ketujuh. Karena waktu kecil, dia sangat sering menjahili ibu, bukan hanya ibu, anak perempuan lain pun sering menjadi korban nya. Dan ibu rasa itu cukup adil dengan apa yang dilakukan nya pada ibu dulu."

"Hmmmm, siapa ya yang ingin ibu ganggu?"

"Kenapa tidak Hokage Ketujuh?" Tanya Inojin.

"Biasanya dia sedang bekerja saat ini, untuk menganggu nya ibu juga tau harus kapan."

"Mungkin kalau suara ku muncul tiba-tiba di kepala Sasuke-kun akan menarik, dia pasti akan terkejut hihihihi. Lagi pula aku sudah lama tidak mengobrol dengan nya." Ucap Ino.

"Ino, disini ada suami mu." Ujar Sai.

"Aku tau itu, kau ingin menyapa Sasuke-kun juga?"

"Maksudku, apa kau tidak merasa tidak enak hati, mengobrol dengan suami orang sedangkan suami mu sendiri ada disamping mu."

"Kau itu kenapa sih? Biasanya kau selalu tersenyum kalau disaat seperti ini."

"Tapi saat seperti ini baru terjadi saat ini."

"Hmm, kau cemburu ya."

"Untuk apa aku cemburu? Kalau begitu lebih baik aku pergi." Sai kemudian pergi dengan senyuman terbaik nya.

"Aku juga pergi ya, ibu. Teman-teman ku pasti bingung karena aku jarang bertemu dengan mereka akhir-akhir ini." Kata Inojin.

"Ya, silakan pergi."

Setelah suasana tenang dan sepi/ya iyalah orang si Ino cuma sendiri, kena tabok ni si Syihan (btw, panggil Han aja, biar lebih keren )/ Ino mulai memejamkan matanya/bukan mau tidur loh /.

'Sasuke-kun!' Teriakan Ino itu tidak membuat Sasuke terkejut.

'Ha?! Kau tidak terkejut? Naruto saja terkejut. Yasudahlah lupakan saja. Sasuke-kun apa kabar?'

'Ya, Ino, kau adalah jawaban nya!' Ucap Sasuke.

'He?! Apa maksudmu?'

'Hubungkan aku dengan Naruto.'

'Ada apa?'

'Jangan banyak bertanya, lakukan saja.'

'Tapi, dia sedang bekerja kalau di jam segini.'

'Ini mengenai nyawanya, sekarang cepat hubungkan aku dengan dia.'

'Baik!'

'Naruto!' Ino sudah terhubung dengan Naruto.

'Ha?! Suara itu? Ino?!' Kata Naruto.

'Naruto, cepat keluar lah dari desa, seseorang sedang mengincarmu. Jika kau tidak pergi sekarang, maka Konoha berada dalam masalah!' Ujar Sasuke.

'Eh?! Kenapa malah jadi Sasuke?' Naruto terlihat heran.

'Naruto! Kau dengar aku kan?!'

'Maaf Sasuke, tapi aku tidak bisa meninggalkan Konoha, jika itu memang sangat penting, beri aku alasan nya.'

'Aku tidak bisa menjelaskan nya lewat pikiran. Kita harus bertemu. Cepat lah, Naruto! Misi Hokage mu ini, dapat menyelamatkan ribuan nyawa di Konoha.'

'Memang nya siapa orang yang mengincar Naruto?' Tanya Ino.

'Jangan menyela!' Ucap Sasuke.

'Setidaknya bilang baik-baik dong, Sasuke-kun.' Ino tampak lemas.

'Naruto! Cepat pergi dari desa! Sekarang!'

'Baiklah! Kelihatan nya ini sangat berbahaya.'

'Lebih dari berbahaya! Sekarang, Naruto!'

'Iya iya, tidak perlu emosi juga, Sasuke.'

'Apa sudah cukup? Apa sekarang aku bisa berbicara dengan Sasuke-kun?' Tanya Ino.

'Tidak ada waktu! Keluar dari pikiran ku!' Ujar Sasuke.

'Baik.'

Ino menghentikan Shindenshin No Jutsu. Sesuai keinginan Sasuke.

"Huft, padahal aku ingin berbicara panjang lebar dengan Sasuke-kun. Ini semua karena Naruto!" Kata Ino

"Yosh, segini sudah cukup." Boruto bersama Shikadai, Sarada, Denki, Metal, Cho-Cho, Iwabe, Sumire berkumpul di halaman Akademi yang luas.

"Dimana Mitsuki?" Ujar Shikadai.

"Benar, Denki, apa kau lupa memanggil Mitsuki?" Tanya Boruto.

"Aku sudah memanggil nya, tapi dia bilang dia ingin memanggil Inojin-kun, agar jumlah kita semakin banyak." Jawab Denki.

"Hei, sebenarnya apa sih yang kau rencakan, Boruto?" Tanya Sarada.

"Kita akan main perang-perangan, buat semua nya seperti nyata!" Kata Boruto.

"Ha?! Main perang-perangan? Sadarlah Boruto, kita sudah bukan murid di Akademi lagi, kita sudah jadi Genin. Aku benci main yang dimainkan oleh anak-anak."

"Tapi ini akan seru."

"Shikadai, kenapa kau tidak bilang jika kita akan main? Aku sangat tidak suka main-main. Daripada bermain, lebih baik aku makan sepuluh bungkus keripik kentang dengan rasa balado terbaru." Ucap Cho-Cho.

"Minna!" Teriak Inojin yang berlari bersama Mitsuki.

"Akhirnya kalian datang." Kata Boruto.

"Hei ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di halaman Akademi?" Tanya Iruka yang baru saja datang.

"Pak kepala sekolah, Boruto memaksa kami untuk ikut dengan nya bermain perang-perangan, kami tidak mau, karena kami tau jika kami ikut dengan Boruto, pasti akan terjadi kerusakan di Akademi." Ujar Sarada.

"Itu tidak benar -dattebasa. Aku tidak memaksa kalian, jangan lebay dong, Sarada." Dengus Boruto.

"Jangan mengelak, Boru.to. Kau ini, apa kau mau bertanggung jawab jika terjadi kerusakan di Akademi, ha?!" Tanya Iruka.

"Mengertilah, ini bukan hanya sekedar main-main. Ini semacam latihan, perang-perangan bisa menambah chakra." Boruto masih membela dirinya.

"Kepala sekolah Iruka!" Konohamaru datang sambil berlari dengan cepat. Ia kemudian membisikkan sesuatu pada Iruka.

"Baiklah, ayo." Ujar Iruka.

"He?! Kau mau kemana?" Tanya Boruto.

"Mau ke gerbang, ayah mu akan pergi dari desa untuk beberapa hari. Kau mau ikut mengantar nya tidak?"

"Huh, untuk apa aku ikut jika cuma melakukan hal membosankan seperti itu." Boruto melipat kedua tangan nya pada dada nya.

"Terserahmu saja. Kepala sekolah, aku ikut." Ucap Sarada

"Aku juga!" Cho-Cho, Mitsuki, Inojin, Iwabe, Metal, Denki dan Sumire kompak berseru secara bersamaan. Kini hanya tinggal Shikadai dan Boruto yang berada di halaman Akademi.

"Apa yang akan kau lakukan, Boruto?" Tanya Shikadai.

"Jangan pikirkan aku, urus saja urusan mu sendiri."

"Kalau gitu aku pergi dulu."

"Eh? Kau mau kemana?"

"Aku mau menyusul mereka, kau mau ikut tidak?"

"Aku tidak mau."

"Heuh, merepotkan saja."

Naruto akhirnya sampai di gerbang, bersama Iruka dan rombongan nya/eak, tau lah kan, Sarada dkk, kepanjangan kalau mau disebutin /. Disana juga ada Sakura, Ino dan Kakashi juga Shikamaru.

"Kakashi-sensei, aku mempercayaimu untuk menggantikan ku selama aku pergi. Aku tau kau bisa, karena kau juga seorang Hokage." Kata Naruto.

"Aa, kau tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya." Jawab Kakashi.

"Naruto, ketika kau bertemu dengan Sasuke-kun nanti, tolong sampaikan salam rinduku pada dia." Ujar Sakura.

"Pasti akan kusampaikan."

"Aku akan menghubungi Sasuke-kun kembali satu jam lagi." Ucap Ino.

"Kenapa?" Tanya Naruto.

"Aku sebenarnya tadi ingin berbicara padanya, tiba-tiba dia menyuruhku untuk menghubungkan nya dengan mu. Saat kau sudah selesai bicara padanya, dia menyuruhku untuk menghentikan Shindenshin No Jutsu ku."

"Kau menghubungi Sasuke-kun tanpa sepengetahuan ku?" Tanya Sakura.

"Memang nya kenapa? Dia kan teman ku."

"Tapi dia itu suamiku, kau harus izin dulu jika ingin menghubungi nya."

"Ha?! Untuk apa aku izin, memang nya dia anggota kerajaan?"

"Bukan begitu, kau itu sudah memiliki suami.." belum sempat Sakura menyelasaikan omongan nya, tiba-tiba Ino menimpal nya.

"Hei, jangan menuduhku dengan tuduhan yang tidak-tidak. Aku juga tau batasan nya, aku sudah punya suami dan anak, jika kau pikir aku menyukai nya, itu sangat menjijikkan. Aku mana mau sama pria yang sok tampan seperti itu."

"Sok tampan katamu? Sasuke-kun itu memang tampan! Lagipula, meskipun kau menjelek-jelekkan nya, kau juga pernah menggilai nya."

"Itu dulu! Sekarang sudah tidak lagi. Seleraku bukan pria seperti Sasuke-kun. Dia sangat tidak level denganku."

"Ha?! Memang nya kau pikir Sai itu tampan? Pria kasar dengan senyuman yang kaku. Heuh, hanya kau yang mau dengan nya."

"Senyuman Sai tidak kaku! Senyuman nya yang terbaik di Konoha!"

"Itu kan menurutmu, dan hanya menurutmu, menurut seluruh penduduk Konoha, senyuman Sai adalah yang terjelek di Konoha!"

"Ya ampun, merepotkan saja." Ujar Shikadai.

"Diamlah! Dasar Shikamaru kecil!" Ucap Ino dan Sakura secara bersamaan.

"Hei, aku ini mau berangkat, kenapa kalian jadi bertengkar?" Naruto malah terlihat heran.

"Ini soal kehormatan suamiku!" Naruto di bentak oleh dua wanita sekaligus. Hal itu cukup membuat nya takut, karena ia bisa saja mati ditempat akibat dihajar oleh Sakura dan Ino. Pukulan Sakura seorang saja sudah bisa meremukkan semua tulang nya, apalagi dengan bantuan Ino.

"Baiklah." Naruto mulai berkeringat dan meneguk ludah nya, tanda ia mulai takut.

"Dimana Boruto?" Lanjutnya.

"Dia tidak mau ikut. Aku heran padanya, padahal ayah nya akan pergi untuk beberapa hari dari desa ini, tapi kenapa dia tidak mau mengantar mu ke gerbang, hanya ke gerbang." Jawab Iruka.

"Hahahaha, begitulah Boruto." Ujar Naruto.

"Kalau begitu, aku berangkat dulu ya." Sambung nya.

"Aku akan menyuruh Ino untuk menghubungkan ku dengan mu setiap dua jam sekali." Ujar Kakashi

"Aa, aku tidak masalah dengan hal itu, asal Ino tidak tidak mengejutkan ku."

"Baiklah, aku tidak akan mengejutkan mu." Kata Ino.

"Sampai jumpa." Naruto kemudian berlari menjauhi desa. Ia hanya membawa tas ransel yang berisi bekal. Tas ransel itu menutupi sebagian kecil tulisan 'Hokage Ketujuh' yang berada di belakang jubah Naruto.

"Jangan lupa sampaikan salamku pada Sasuke-kun! Kalau perlu kau menyampaikan ciuman ku untuk nya! Kau tidak keberatankan?! Karena kau sudah pernah melakukan nya!' Teriak Sakura. Kata-kata Sakura itu membuat Iruka, Ino dan Shikamaru tertawa geli.

"Itu menjijikkan, Sakura-chan!" Naruto membalas teriakan Sakura. Sakura kemudian terkekeh kecil.

Syihan SiregarCerita ini juga saya publish di akun Wattpad saya : @syihan_asiregar