Konbanwa Minna….
Dah lama kita tak berjumpa,
*padahal baru beberapa minggu*
Buat nii-sanku yang lagi ultah, chap 3 ini buat kamu. Dan tak lupa untuk readers tentunya.
Semoga Ota tidak dicincang karena kecepetan updatenya.
Harusnya Ota updatenya bulan depan
*dihajar massa*
Cukup basa-basinya,
HAPPY READING….!
White Flag
Chap 3
Yo, Minna-san!
Ota kembali membuat fic aneh, ancur, gaje, bla bla bla.
Yah, semoga saja readers tidak mencaci maki saia karena membuat fic yang baca bisa bikin muntah.
*lebaiiiiiii*
Dari judul udah ketahuan kan, kalo ini saia ambil dari judul lagu milik kakak saia DIDO 'White Flag'
Sai a lagi jatuh cinta ma lagu ini soalnya. Jadi, saia bikin ajah jadi judul fic gaje saia.
Jadi, jika cerita ma judulnya gak cocok, maaph-maaph saja.
Author's Note: selain judul yang saya adaptasi dari Dido,. Fic ini juga terinspirasi dari novel buatan Shoko Tendo, 'Yakuza Moon'. Ada yang udah pernah baca? Tapi, disini gak ada Yakuza, narkoba, geisha, dll. Cuma sekedar inspirasi buat saia.
Don't like. Don't Read
BLEACH belong to Tite Kubo
White Flag belong to Dido
Yakuza Moon belong to Shoko Tendo
This Fic belong to me (Mitsuki Ota)
Rate
T
.
.
.
Pairing
Ichiruki
.
.
.
Genre
Hurt/ comfort
.
.
.
Author
Mitsuki Ota
.
.
.
Ulquiorra bangun dari tidurnya. Diliriknya sebentar kekasihnya yang sedang tidur pulas dibawah selimutnya. Dia mengecup sebentar kening Rukia, dan ia turun dari ranjang untuk mengambil pakaiannya yang berserakan dibawah. Pelan-pelan ia mulai mengancingkan kemejanya, kemudian memakai celananya.
Rukia bangun dari tidurnya. Ia merasakan sakit yang menjalar di kepalanya. Samar-samar ia bisa melihat kekasihnya yang sedang mengenakan pakaiannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Rukia setengah sadar. Ulquiorra melirik ke atas ranjang. Kekasihnya sudah bangun ternyata. Ia lalu berjalan mendekat kearah Rukia. Ia duduk di tepian ranjang. Wajah datarnya itu mengecup kening Rukia dan mengacak rambutnya pelan.
"Aku harus pulang,"
Rukia mencermati kata-kata Ulquiorra
Pulang?
Kemana?
Ke apartemennya?
Sedetik kemudian Rukia baru sadar apa yang dimaksud dengan kata 'pulang'.
"Kau mau jadi suami yang baik?" Rukia menyilangkan ke dua tangannya di dadanya.
"Aku cuma tak ingin membuatnya khawatir, Rukia." Pemuda itu mengambil tangan kekasihnya. Diletakkannya da dada kirinya.
"Disini! Kau ada disini, Rukia. Disini kau tinggal, di hatiku. Apa kau tak percaya padaku?" Rukia memandangi tangannya yang seang dipegang oleh Ulqui. Di hatinya hanya ada Rukia, bukan gadis itu ataupun gadis-gadis lain. Mungkin raganya milik Inoue, tapi, hatinya hanya milik Kuchiki Rukia seorang. Aku tekankan lagi, Kuchiki Rukia.
"Aku percaya padamu," untuk kesekian kalinya Ulqui mengecup kening Rukia. Ciuman itu semakin turun dan turun. Sampailah di bibir Rukia. Tapi, Ulqui hanya mengecup singkat bibir sang kekasih.
Rukia kecewa saat kekasihnya hanya mengecup singkat bibir miliknya. Biasanya kalau sudah sampai di bibir, akan sangat lama bagi Ulqui untuk melepaskan bibirnya dari bibir Rukia.
"Aku pergi dulu. Aku mencintaimu." Sosok Ulquiorra sudah menghilang dari balik pintu kamarnya. Si gadis hanya bisa mendesah pelan.
"Ulqui,"
###
Sementara itu, dirumahnya, lebih tepatnya dikamarnya. Inoue resah menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tapi, yang dindnti belum pulang juga. Belum genap ia mendapat gelar sebagai istri, ia sudah ditinggal pergi oleh suaminya sendiri.
Kemana perginya suaminya?
Mengapa sampai sekarang ia belum pulang?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran Inoue. Tiba-tiba kejadian 1 bulan yang lalu , melintas dibenaknya.
Flas Back
Inoue mendesah pelan. Ia bosan berada dirumah terus. Jadilah ia disini, di klub malam. Dentuman musik DJ tak membuatnya tertarik untuk turun ke lantai dansa. Disana para pasangan sudah pewe dengan pasangannya masing-masing, dengan meliuk-meliukkan badan mereka. Sebenarnya ia juga ingin ikut turun. Tapi, ia tak punya pasangan untuk diajak menari bersama. Jadilah ia disini, duduk didepan bar dengan ditemani segelas vodka.
Ia menopang dagunya. Kepalanya pusing, dan ia juga sudah bosan berada disini. Ia melirik kea rah sampingnya. Ia menemukan sosok laki-laki berwajah datar sedang meneguk vodca, sama seperti dirinya. Ia kenal laki-laki ini, tapi siapa? Otaknya tak mengingat sosok yang ada dihadapannya ini. Laki-laki itu sudah selesai meneguk minimannya. Raut wajahnya terlihat lelah dan stres. Pemuda itu sadar kalau ia sedang dipandangi oleh seorang gadis cantik yang ada disampingnya. Ia menengok kearah gadis itu.
Inoue Orihime
Ulquiorra memandang gadis ada disampingnya. Ia sepertinya kenal dengan orang yang ada disampingnya. Gadis berambut panjang yang bewarna orange kecoklatan.
"Ulquiorra-san?" celetuk Inoue. Tiba-tiba saja ia mengingat siapa orang yang ada dihadapannya. Orang yang ia sukai 1 bulan yang lalu. Tapi, sampai sekarang ia juga masih menyukai laki-laki ini. Orang yang bernama Ulquiorra itu mencoba sadar dari pengaruh alkoholnya. Laki-laki itu mencoba berdiri. Dan menghampiri Inoue.
Tapi, naas. Ia limbung. Ia jatuh dipelukan Inoue. Jantung Inoue berdetak lebih cepat. Ia belum pernah berada sebegitu dekat dengan seorang Ulquiorra Schiffer sebelumnya. Tiap kali Inoue bertemu dangan Ulquiorra, ia hanya melemparkan senyumnya. Entah pria itu sadar atau tidak. Dan sekarang, disini ia sedang menopang tubuh Ulquiorra agar benar-benar tak jatuh menimpanya. Inoue senang, akhirnya ia punya kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi dengan orang yang ia sukai. Meskipun orangnya sedang mabuk, alias tak sadarkan diri. Tapi, itu bukan masalah baginya. Yang terpenting sekarang ialah ia harus membawa Ulquiorra pergi dari klub malam ini.
Dengan kepala yang agak terasa berat akibat pengaruh alcohol. Inoue membopong Ulqui untuk keluar dari tempat ini. Diluar ia mencari taksi untuk membawa mereka pulang.
Tunggu dulu,
Pulang?
Kemana?
Inoue tak tahu dimana Ulquiorra tinggal. Jadi, ia memutuskan untuk membawa Ulquiorra pulang ke rumahnya. Rumah yang ia tempati sendiri, karena kakaknya tinggal di apartemen sang pacar.
###
Inoue membawa Ulquiorra menuju kamarnya. Ia membaringkan pemuda itu di ranjang miliknya. Saat ia hendak melangkah pergi, karena kepalanya yang sudah terasa amat berat. Tangannya ditarik oleh seseorang, yang tak lain adalah Ulquiorra. Ia mendorong tubuh Inoue agar lebih dekat dengannya. Dan jatuhlah Inoue dan Ulquiorra diatas ranjang berdua. Dengan posisi Inoue berada di atas, dan Ulqui berada dibawah. Inou sadar dengan posisinya yang berbahaya ini. Ia mencoba mendorang tubuh Ulquiorra agar menjauhi dirinya. Namun, usahanya sia-sia karena tubuhnya yang terlalu lemah akibat pengaruh alcohol. Ditambah lagi, kekuatan Ulquiorra yang lebih kuat dari dirinya. Inoue tak bisa lepas.
Ulquiorra mengunci kedua tangannya, dan ia mulai menciumi Inoue. Ia dibuat meleleh oleh ciman Ulquiorra. Ia menikmatinya. Sangat malah. Ia tak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ia inginkan adalah lebih dan lebih. Nafsu sudah menutup mata, hati dan telinganya. Ia tak peduli.
(Author; udah segini aja yak? Ota kagak bisa buat yang lebih dari ini. Segini aja udah bikin Ota panas dingin. Walaupun gak ada apa-apanya. Ini rate T, bukan rate M, okeh?)
End Of Flash Back
###
Tiap kali Inoue mengingat kejadian 1 bulan yang lalu, ia merasa bersalah sekaligus senang. Ia senang karena telah disentuh oleh Ulquiorra. Ia masih ingat sentuhan yang Ulquorra berikan kepadanya. Sungguh memabukkan. Bahkan sampai sekarang ia masih bisa merasakan sentuhan Ulquiorra. Membuat dada Inoue bergetar hebat.
Ia juga merasa bersalah tiap kali mengingat semua itu. Ia tak seharusnya melakukan hal seperti itu. Mungkin jika Ulquorra adalah kekasihnya, ia tak merasa bersalah pada siapapun. Toh Ulquiorra adalah kekasihnya sendiri, bukan kekasih orang lain. Tapi, Ulquiorra bukanlah kekasihnya. Ia kekasih orang lain. Kekasih dari Kuchiki Rukia.
Ia yang bersalah disini
Andai ia tak mabuk
Andai ia tak membawa Ulquiorra kerumahnya
Andai ia bisa menahan nafsunya
Andai ia bisa menahan setiap sentuhan Ulquiorra
Ini semua pasti tak akan pernah terjadi
Ia hamil
Merusak hubungan orang lain
Menyesalpun sudah tak ada gunanya lagi
Nasi sudah menjadi bubur
###
Ia mengelus-elus perunya yang didalamnya ada anaknya bersama Ulquiorra. Ia mendesah pelan."Maafkan ibu, ini semua salah ibu jika kau sampai menderita." Bulir-bulir kristal itu mulai turun membasahi pipinya. Ia menangis. Memgapa ia begitu bodoh sampai nafsu bisa menjeranya kelubang penuh dosa itu? Ia sungguh menyesal. Tapi, mengingat janin yang ada diperutnya, menyesal atau tidak semua sudah terlanjur.
Tak berselang beberapa menit kemudian ia mendengar suara mobil didepan rumahnya. Dengan cepat ia menghapus air matanya dan berlari menghambur kea rah jendela kamarnya. "Itu mobil Ulquiorra-san" batin Inoue. Inoue hanya bisa melihat Ulquiorra mulai memasuki gerbang rumahnya. Ia tak mau menyambut kedatangan suaminya. Karena ia rahu, suaminya tak mengharapkan kehadirannya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk diam saja dan memandangi suaminya yang semakin dalam memasuki rumahnya.
###
Ulquiorra sudah sampai ditempat. Eh, bukan, lebih tepatnya didepan kamarnya Inoue. Ia ragu untuk masuk ke dalam kamarnya. Semua kejadian 1 bulan yang lalu membuatnya agak takut untuk memasuki kamar Inoue. Ia takut kejadian 1 bulan yang lalu terulang kembali. Meskipun ia kini dalam keadaan sadar 100%. tapi, tetap saja rasa takut itu menyerangnya.
Masuk
Tidak
Masuk
Tidak
Masuk
Tidak
Ulquiorra menjambak rambutnya sendiri. Ia bingung, keputusan mana yang mesti ia ambil? Masuk, membuat Inoue terbangun dan mengingat kejadian 1 bulan yang lalu, ang membuat kekasihnya menangis dihadapannya. Atau memilih untuk tidak masuk dan membuat Inoue khawatir?
Setelah 5 menit beradu argumen dalam otaknya. Akhirnya Ulquiorra memutuskan untuk tidak memasuki kamar Inoue. Ia berjalan lagi kearah ruang tamu dan tidur disana. Setidaknya inilah yang bisa ia lakukan untuk Inoue. Ia pulang kerumahnya. Meskipun sebenarnya ia ingin tidur dibawah selimut bersama Rukia, kekasihnya. Ngomong-ngomong tentang tidur dibawah selimut bersam Rukia. Ulquiorra jadi teringat akan sentuhan yang kekasihnya ia berikan kepadanya. (Author udah keliatan mesumnya). Ulquiorra lalu melanjutkan acara tidurnya kali ini sambil membayangkan wajah kekasihnya.
###
Inoue bangun dari tidunya, ia melirik kerah sampingnya. Tak ada Ulquiorra yang tidur disampingnya. Ia berpikir kalau suaminya itu tak mau tidur bersamanya. Itu wajar saja bukan, ia tak mencintai istrinya, mengapa ia mesti tidur satu ranjang dengannya? Inoue hanya bisa mengharapkan keajaiban. Semoga saja suaminya nanti bisa mencintainya dan anak mereka \tentunya.
###
Inoue sudah bangun, kini ia mulai turun dari kamarnya untuk memasak. Meskipun ia tak pandai untuk membuat makanan yang enak. Ia terkejut saat mendapati Ulquiorra sedang asyik tidur diatas sofa ruang tamu. Ia ingin membangunkan suaminya, tapi ia juga tak tega saat melihat wajah damai Ulquiorra saat tidur. Jadi, ia memutuskan untuk membangunkan Ulqui nanti saja setelah ia selesai memasak.
Di tempat lain
Rukia membuka sedikit semi sedikit matanya. Ia melongo mendapati dirinya yang masih telanjang. Ah ya, kemarin kekasihnya dating dan ia bersenang-senang dengan kekasihnya. Ia tak peduli dengan ststus kekasihnya yang sekarang menjadi suami Inoue. Yang ia pikirkan hanyalah ia bisa terus bersama orang yang ia cintai, tak peduli dengan orang yang mersa tersakiti oleh sikapnya.
Rukia senang Ulquiorra bisa menemaninya saat ia merasa sedih dengan ststusnya. Ia kekasih orang yang sudah bersuami. Tapi, bukankah ia tak salah. Gadis itu yang merebut kekasihnya, bukan dirinya yang merebut suami orang. Rukia tak peduli apa tanggapan orang kepadanya. Ia yakin kalau ia sama sekali tak bersalah. Aku ulangi lagi tak bersalah. Dan yang ia lakukan itu tak salah.
.
.
.
+TBC+
.
.
.
*sujud-sujud ama readers*
Maaph, Ota belum bisa munculin Ichi di chap ini. Sebenarnya Peran Ichigo itu masih lama. Karena Ota mau focus dulu ke UlquiRuki.
Tapi, Ota juga tak bisa mengabaikan permintaan Readers sekalian. Untuk itulah Ota minta para readers sudi memberikan review pada fic gaje Ota ini agar kemunculan Ichi bisa Ota percepat.
Review yak?
Sedikit cerita mengenai chap kali ini benar-benar ancur. Maklum Ota lagi terserang penyaKit buntet ide. JadilAh segini aja yang bisa Ota kasih buat readers sekalian.
Bales ripyu yang gak log in dulu
Pyon : Ichi belum muncul. Pindah rate? Itu juga lagi Ota pikirin. Arti White Flag? Ota malah tidak kepikiran mengenai artinya. Hehehe… maaf
*dicincang Pyon*
Tapi, bagi Ota sendiri artinya 'White flag' itu gak akan menyerah
*pakai ilmu pengawuran*
Meskipun artinya menyerah, hehe
Ripyu lagi yak?
Hyouma Schiffer : jangan nangis donk, Ota jadi merasa bersalah kaya gini.
Kita liat aja, okeh?
Ripyu lagi yak?
Demi kelancaran fic gaje Ota ini, seperti biasa
REVIEW PLEASE…..!
