Title : Mirrored Love
Author : Cho Leelee
Main Cast :
Lee Hyukjae
Lee Donghae
Choi Siwon
Genre : Angst, Romance. Twincest. Character-death , tanpa di-edit dan dengan keanehan lainnya.
Rating :Semi M
Judul terinspirasi dari fanvid Rosenana
00000000000000000
Mirrored Love: Chapter 2
…
"Hyukkie, kau meninggalkanku." suara Donghae tersedak ketika tangisan tidak mampu lagi dibendung.
Dia melempar apa saja yang ada di dalam kamar. Dia sudah tidak bisa lagi menahannya.
Lelah...
Lelah harus kehilangan semua yang dimiliki. Kedua orangtuanya dan sekarang Hyukjae.
Hyukjae, satu satunya miliknya pergi.
Saudaranya, tidak. Donghae tidak menganggap dia sebagai saudara. kembarannya, Tidak ingin.
Biarlah orang lain menganggapnya gila karena menyukai kembarannya sendiri. Salahkan benang benang takdir yang membuatnya harus kehilangan orang tua dan hidup tergantung pada sosok pirang itu. Mereka sudah terbiasa bersama. Bahkan setelah kedua orangtuanya pergi, mereka tetap bersama.
Hubungan mereka terjalin begitu rumit. Saling membutuhkan dan tidak mungkin terpisahkan. Donghae bisa mati jika Hyukjae tidak ada. Berlebihan memang, tapi itulah yang terjadi. menuntutnya addict akan sosok pirang itu.
"Hae, Donghae!"
Suara Hyukjae terdengar memasuki kamar mereka. Donghae menunduk tidak ingin menatap saudaranya. Sementara Hyukjae yang baru saja menutup pintu masuk, terperangah melihat kamar yang sudah tidak terbentuk lagi. Selimut dan bantal berserakan di lantai dan dia bisa melihat Lee Donghae terduduk di atas ranjang dalam keadaan berantakan.
"Kau akan meninggalkanku Hyukkie."suara Donghae parau. Hyukjae bergetar, tidak pernah dalam bayangannya sedikitpun bahwa dirinya akan meninggalkan Donghae.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu Hae."Hyukjae merasa takut sekarang.
"Kau akan meninggalkanku dan menikahi Siwon, aku lebih baik mati jika kau meninggalkanku."
"Donghae," Hyukjae duduk di samping Donghae. Memegang lengannya seraya menggelengkan kepala menolak ucapan yang terlontar dari mulut Donghae. Dia menggigit bibir bawah. Melepaskan rasa sakit di hati walaupun menjatuhkan air mata dari pelupuknya."Donghae, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau harus percaya padaku!"
Donghae memandang tepat ke mata hyukjae. Dia tahu hyukjae juga merasakan perasaan yang sama. Dia juga bisa melihat kesedihan dengan derai air mata yang jelas tertera di matanya. anak ini sama seperti dia. Ia menyelipkan tangannya ke pinggul Hyukjae dan menunduk, menatap mata kecoklatan di depannya.
"Pergillah dari tempat ini bersamaku."Donghae menuntut menarik tubuh Hyukjae untuk mendekat.
Tubuh Hyukjae menegang, dia menarik tubuhnya menjauhi Donghae. Hyukjae menggenggam tangan Donghae takut jika Donghae akan salah paham dengan gesture tubuhnya. Hyukjae mencoba tersenyum, tapi gagal total. Dia tidak akan menangis, tapi bagaimana ia bisa menahan ketika pemuda yang dikasihinya mengatakan apa yang selama ini ia harapkan? Tapi tidak semudah itu, dia tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak tahu balas budi. Orang yang mengecewakan keluarganya dan orang yang tidak mampu memberikan apapun pada keluarga yang telah berbaik hati merawat mereka. Hyukjae membelai pipi Donghae sambil berkata lembut, sangat lembut. "Tapi Hae, bukan dengan cara yang seperti itu. Kita berhutang banyak pada mereka."
"Dan kau ingin membalas mereka dengan menyerahkan dirimu pada Siwon."
"Apa yang kau katakan, kenapa kau mengatakan itu. Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi apa yang bisa aku perbuat. Bahkan aku tidak bisa memberikan sepeser uang pada mereka untuk membalas semuanya. Aku tidak punya apa-apa Hae? Seandainya aku kamu, mungkin aku bisa menghasilkan uang dengan kecerdasanmu. Tapi aku tidak bisa membalasnya, aku juga tidak ingin seperti ini." Hyukjae menggelengkan kepala gusar. Dia merasakan sakit yang luar biasa ketika Donghae mengatakan hal itu. Belum pernah Donghae begitu padanya. Hyukjae menutup mata sambil menelungkupkan tangan pada wajahnya.
"Mianhe," Perlahan-lahan Hyukjae membuka mata ketika sebuah tangan menarik tubuhnya. Tangan Donghae terasa hangat dan kuat.
Donghae meraih tubuh Hyukjae ke dalam dekapannya. Dia merasa bersalah mengatakan hal yang tidak tidak pada seseorang yang dicintainya. Tidak seharusnya kata kasar itu muncul dari mulutnya, seharusnya dia mampu menahan emosi.
"Berjanjilah kau akan menungguku." Donghae berbisik di telinga Hyukjae, membuat sensasi yang membuat debaran jantung si pirang semakin menggila.
"Donghae."
"Aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini setelah aku berhasil. Jangan menikahi Siwon. Tunggulah aku!" Hyukjae berkedip mendengar ucapan Donghae. Kemudian dia mengangguk sekali.
Memang benar, inilah yang diinginkan. Bagaimana sosok Donghae paham dengan keadaan yang ada. Mencari jawaban atas masalah yang terjadi, setidaknya Eunhyuk merasa tenang ketika Donghae paham dengan jalan pikirannya. Tidak gegabah, bertindak layaknya seorang dewasa.
"Donghae, aku akan menunggumu. Aku tidak mungkin menikahi Siwon."
"Benarkah. Buktikan padaku jika kau tidak mencintai Siwon."Donghae mencengkeram bahu Hyukjae.
"Maksudmu?"tanya Hyukjae.
Donghae menatap pria di depannya, dan ia bergerak perlahan, dan mencium dahi Hyukjae. Perlahan-lahan dia bergeser menyesapi lekukan leher milik Hyukjae . Aroma dari si pirang sangat memabukkan, membuatnya terengah-engah, dan dia ingin lebih.
"Jadillah milikku."
Donghae tidak peduli. Yang dia inginkan adalah Hyukjae menjadi miliknya. Mata Hyukjae bertemu pria yang lebih muda. Dia mengangguk perlahan dan entah bagaimana semuanya terjadi, tidak peduli bahwa mereka berdua adalah saudara. Tirai kamar tidur ditarik tertutup, Donghae lembut mendorong hyukjae. Dan semuanya terjadi. Dalam remang remang cahaya bulan yang masuk dari celah celah. Dalam detakan jam dinding yang terus berputar. Semuanya menjadi saksi, dimana cinta terlarang terjalin dan bercinta dalam keadaan yang salah. Mereka tidak pernah peduli, karena bagi mereka cinta cukup untuk menjawab semuanya.
000XXX000
Tubuh mereka menggeliat di bawah selimut, deru nafas lembut menggelitik keduanya. Mereka meringkuk ke dalam bantal hangat nan lembut. Senyum puas hangat merinding di bibirnya. Bantal ini sangat lembut, dan keadaan ini membuatnya meringkuk lebih dekat ke kain beludru.
Keduanya berpelukan tanpa takut jika salah satu dari keluarga Choi menemukan mereka dengan keadaan seperti ini.
Erat, Donghae memeluk possesive si pirang yang berbaring nyaman bersandar pada lengannya. Dia memandang seseorang yang tidur di sampingnya.
Cantik, sangat cantik.
Tidak ada yang bisa mengalahkan sosok itu, sosok yang telah menjadi miliknya.
...
"Tok,Tok!"
Suara ketukan pintu terdengar.
"Donghae!"
Suara milik Siwon membuat kedua pemuda itu beranjak. Panic. Wajah kusut dengan sisa menjijikan masih jelas tertera pada keduanya. Hanya saling menatap dengan ketakutan yang tertera pada mata mereka.
"Siwon, bagaimana ini hae."Hyukjae bergetar, dia mencengkeram selimut putih menyalurkan perasaan gelisah yang melanda.
Donghae beranjak dari tempat tidur, mengusap lembut rambut pirang Hyukjae.
"Aish, biar aku menemuinya. Kau tidur saja ne!"
Hyukjaee mengangguk lemah. Dia percaya akan Donghae, sangat percaya.
Hanya bisa melihat punggung Donghae, menyerahkan seutuhnya akan setiap jalan yang mereka ambil.
Sementara Donghae,dia berjalan pelan menggapai gagang pintu dan membuka kunci yang mengunci kamar mereka. Pelan, pintu terbuka sebagian menampakkan Siwon yang bersandar pada tembok sebelah sambil membawa sesuatu di tanganmu.
"Kau lama sekali,"gerutu Siwon.
"Aku baru saja bangun tidur,"ucap Donghae pelan. Tidak ada yang terucap setelah itu, merasakan betapa ketakutan menjalar di sekujur tubuh Donghae. Bahkan pintu kamarnya dia tutup rapat, tidak sudi dirinya terseret akan masalah yang sebenarnya sudah dia lakukan.
Tajam. Donghae menatap sebuah kertas entah apa di tangan Siwon. Enggan bertanya meski jiwanya seakan terpancing untuk menguak kertas yang dibawa.
Dan sebelum pemuda itu berucap,Siwon menyerahkan sebuah surat untuknya.
"Ada surat untukmu Hae!"
"Surat untukku. Surat dari siapa?"Tanya Donghae.
"Baca saja sendiri."kata Siwon.
Donghae mendesah dipandangnya sosok kekar itu dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Kalian pasti paham bagaimana keadaan Donghae ketika melihat Siwon menatap pintu kamar milik-nya dan milik Hyukjae.
Merasa diperhatikan, Siwon mengalihkan pandangan.
"Apa Hyukkie sudah bangun?"
Ragu-ragu Siwon bertanya.
"Belum, dia masih tidur."ucapnya dengan nada sarkastik.
"Aku akan membangunkannya."Siwon tersenyum lembut.
"Andwee."
"Kenapa?"Tanya Siwon.
"Dia sangat lelah, biarkan satu jam lagi dia tertidur."ucap Donghae tanpa memandang sosok di depannya. Dia sangat tahu jika keduanya melakukan kesalahan besar, tapi apakah salah jika memang mereka saling mencintai, saling memiliki bahkan tidak akan mungkin ada yang sanggup mengartikan hubungan keduanya.
"Baiklah, kalau Hyukkie sudah bangun katakan aku mencintai-nya."
Siwon berlalu menyisakan senyum getir yang terpusat dari bibir Donghae. Donghae beranjak, memutar tubuhnya berjalan menuju sang terkasih. Digenggam erat sebuah surat berwarna coklat di tangannya. Perasaan bersalah kembali masuk mengintimidasi, membuat dirinya merasa bersalah, berdosa bahkan hina.
Namun…, semuanya lenyap ketika dia melihat sosok cantik di depannya. Keegoisan memuncak menyingkirkan akal sehat, seakan-akan hatinya menuntut memonopoli sang jewel. Entahlah…., dia sudah tidak mampu lagi membedakan perasaan menuntut yang membuatnya menjadi iblis berwajah malaikat.
Dia berjalan pelan, berdiri menatap sang malaikat di sebelahnya.
"Surat dari siapa?"Hyukjae berucap.
"Entahlah, aku belum membacanya."
Pelan….,Donghae membuka lambaran surat yang diterima. Dibaca lembaran putih penentu masa depannya. Mata-nya membulat sempurna, senyuman tersungging dari bibir merah. Dia tidak mampu lagi menyembunyikan perasaan bahagia yang membuncah. Tanpa aba-aba Donghae mendekap erat tubuh Hyukjae.
"Hyukkie…, aku diterima Hyukkie. Aku diterima!"bisiknya.
"Ada apa Hae!"Hyukjae tertegun, tidak tau lagi harus mengatakan apa. Terlalu membingungkan dan memang dia tidak tahu mengapa Donghae sebahagia ini.
Merasa bingung, ia mendongakkan wajah ke atas, memandang setitik kilatan kebahagiaan di mata saudaranya. Mata mereka bertemu. Hanya goresan senyuman yang tercetak di bibir mungil Donghae.
"Aku diterima bekerja di sana Hyukkie, aku akan mengeluarkanmu dari sini setelah aku sukses."
Ucapan Donghae membuat pemuda di pelukannya tertegun.
Perasaan bahagia menyeruak membawa setitik harapan yang muncul di benak pemuda pirang itu. Tersenyum lepas tanpa beban.
"Sungguh Hae, selamat!"
"Ne Hyukkie."
Dua minggu roda seakan kembali berpihak pada kehidupan mereka. Bersama mereka menjalani hubungan yang tidak seharusnya, hubungan terlarang yang terjalin semakin dalam. Biarlah…, mereka biarkan waktu yang berbicara. Mengikuti mata hati walau segala konsekuensi mereka tanggung sendiri. Terhimpit ketakutan yang meneror, membawa mereka dalam kubangan yang semakin membuat mereka tidak pantas disebut sebagai saudara.
000XXX00
Derap langkah memijak perlahan pada lantai marmer, setelah bekerja seharian Siwon merasa tubuhnya hampir tidak bisa dikompromi lagi. Berjalan lunglai merasa bosan menghadapi hawa kantor yang terlalu mencekiknya. Dia butuh hiburan, dia butuh seseorang yang sanggup berperan sebagai tempat bersandar.
Dia tersenyum tatkala suara seseorang terdengar dari arah dapur. Seseorang yang telah mengisi hatinya, seseorang yang telah melukiskan bias cinta di pikirannya. Perlahan dia pijakan kaki mengurangi suara yang ditimbulakan dari sepatu yang dia pakai. Dia biarkan sang pirang bergelut sunyi dengan pekerjaannya.
Merasa pemuda pirang itu tidak menyadari keberadaannya, Siwon tersenyum. Pemuda kekar itu perlahan memeluk pinggang sang pirang, membenamkan kepalanya pada ceruk leher Hyukjae.
"Hyukkie, kau memasak apa hari ini?"
Terkejut.
Hyukjae membelalakkan mata, perasaan canggung merayap menghantuinya dengan posisi seperti ini. Ini bukan pelukan Donghae, berbeda.
Merasa tidak nyaman, Hyukjae melepaskan pelukan Siwon. Terlihat gurat kekecewaan dari kedua bola mata Siwon.
"Maaf, aku sedang memasak."ucap Hyukjae.
"Ya, aku paham. Kau sedang memasak apa?"Siwon tersenyum sambil menatap Hyukjae Lembut.
Hyukjae tersenyum, memandang masakan yang sudah dia tata dengan tatapan lembut seakan-akan dia memasak makanan untuk orang yang special untuknya.
Atau memang seperti itu?
"Aku memasak makanan kesukaan Donghae dan kesukaanmu, hari ini Donghae pasti lelah setelah bekerja."jawab Hyukjae.
Siwon bersandar pada tembok, dia melirik Hyukjae sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku cemburu Hyukkie, aku juga lelah setelah bekerja, kenapa kau selalu memperhatikan Donghae!"
Hyukjae yang sedang membersihkan dapur tertegun dengan ucapan Siwon, hatinya terenyuh seketika. Tidak dipungkiri perasaan bersalah menjalar memenuhi tiap nadinya. Hanya dengan ucapan seperti itu dia merasa tersudukan.
Bahkan untuk membela diri saja dia tidak sanggup.
Bibir terkunci rapat dengan pikiran tidak enak yang bersarang di otaknya.
"Bu-kan seperti itu, A-ku hanya…."
Gugup, hanya suara tersendat yang keluar dari mulut Hyukjae. Alam pikirannya melayang pada ketakutan yang berujung ketidakberdayaan.
"A-ku..,"hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya. Namun, jari telunjuk Siwon membungkam bibir Hyukjae untuk berbicara.
"Ne,aku paham. Aku hanya bercanda, manamungkin aku cemburu pada adik iparku sendiri."Jemarinya membelai lembut pipi Hyukjae, menyalurkan perasaan cinta yang tanpa dia sadari membuat Hyukjae merasa bersalah, sangat.
Siwon menatap lembut Hyukjae, pandangannya tertuju pada sosok imut itu. Kulit halus yang dia sentuh bagai candu yang membuatnya ingin melakukan lebih dari ini. Bibir alabaster itu. Dia tidak mungkin lagi menahannya, perasaan ingin menyentuh dan memiliki membuat Siwon memajukan wajahnya. Mengeliminasi jarak diantara keduanya.
Hyukjae menutup mata, tidak ingin melihat mata pemuda itu.
Gelap…
Hanya hembusan pemuda di depannya yang dia rasakan.
Menangis dalam diam, merasa seperti jalang yang tidak berharga. Tidak bisa melakukan apapun, tersudut dalam hubungan terlarang yang menyakitkan.
Bolehkah Hyukjae berharap jika Donghae yang melakukannya? Bolehkah dia berharap semuanya tidak pernah terjadi? Mungkin lebih baik dia mati saja kala itu, itu lebih baik daripada hidup dalam persimpangan seperti ini. Berpura-pura menjadi sosok yang putih tanpa dosa. Tapi nyatanya dia hanyalah jalang yang menjadi parasit di rumah ini.
…..
"Aku pulang!"
Suara Donghae membuat Hyukjae mendorong tubuh Siwon tepat ketika bibir keduanya hampir bersentuhan. Hyukjae menatap siwon seakan-akan kata maaf terlontar dari mulutnya, paham pemuda itu akhirnya hanya bisa pasrah memandang sang pirang yang berlalu membawa makanan.
Donghae muncul dengan kemeja putih dan dasi yang sangat berantakan, di belakangnya Hyukjae mengekor membawa tas kerja milik saudaranya itu. Siwon sudah duduk di meja makan menunggu keduanya, begitu juga keluarga Choi yang entah sejak kapan sudah berada di meja makan.
Donghae menggandeng tangan Hyukjae, perasaan rindu yang membuncah dia salurkan dengan remasan tangan pada saudaranya. Tidak mungkin dia melakukan lebih, walaupun ingin tidak mungkin melakukan hal itu di depan keluarga Choi.
"Aku sudah memasakan makanan untukmu, bagaimana kerjamu hari ini."Hyukjae berucap sambil mencopot dasi yang dikenakan Donghae.
"Aku sangat lelah."gumam Donghae. Ada yang beda dengan Donghae, parasnya berbingkai muram. Keadaannya yang berantakan seakan-akan menanggung beban yang berat.
"Duduklah Hae, kau pasti sangat lelah"Nyoya Choi berseru dari meja makan.
Donghae mengangguk, dia melirik ke arah saudaranya. Ada sesuatu yang tidak biasa dari pemuda itu.
"Kau makanlah dulu, aku akan menyiapkan air hangat untukmu?"Hyukjae berbisik.
Menggeleng, Donghae menarik Hyukjae menuju meja makan. Hyukjae hanya bisa mengerutkan dahi ketika saudaranya memandangnya dengan tatapan yang serius. Mereka semua berkumpul di meja makan seperti biasanya. Mereka memulai makan malam dengan obrolan obrolan ringan, tertawa dan kadang tersenyum atas candaan dan godaan yang terlontar dari nyonya Choi.
Donghae menatap Hyukjae sejenak, dia pandangi sosok terkasih yang sedang meminum susu strawberry kesukaannya dengan lahap. Bahkan buah merah dengan rasa asam yang ada di piring si pirang sudah habis dari setengah jam yang lalu.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian."ucapan Donghae membuat semuanya terfokus pada Donghae.
Hyukjae menatap Donghae langung. Mencari sesuatu di dalam matanya.
"Ada apa Hae?"Siwon bertanya.
Donghae terdiam dan Hyukjae tahu betul jika Donghae mnyembunyikan sesuatu. Perasaan tidak enak tiba-tiba saja hinggap di hati pemuda itu. Rasa cemas mengutuk meneror hati-nya sebagai seorang yang sangat dicintainya. Ada apa dengan Donghae? Dalam benaknya dia menerka apa yang terjadi dengannya. Rasa cemas menjerat seakan mencekik lehernya, membuatnya susah hanya untuk sekedar menghembuskan nafas. Pikiran buruk yang berkembang kembali menyebar membuat kalut sang Pirang.
"Aku mendapatkan proyek kantor."Donghae memulai pembicaraan.
"Wah, selamat Hae!"Keluarga Choi tersenyum bangga pada sosok di depannya, senyum merekah pada wajah mereka.
Lantas Hyukjae…
Tidak dia tidak tersenyum, dia merasa sesuatu akan terjadi. Entah apa itu, yang pasti sesuatu itu bukan sesuatu yang baik.
"Dan aku harus pergi ke paris selama dua bulan."
"Hae….," Air mata nyaris menetes ketika ucapan itu keluar dari mulut saudaranya. Ucapan yang membuatnya membelalakkan mata, terkejut.
Firasatnya benar…
Donghae akan pergi meninggalkannya.
Walaupun dua bulan, tetap saja Hyukjae tidak mungkin bisa jauh dari sosok itu. Bahkan dia tidak pernah membayangkan sedikitpun akan berpisah dengan sosok itu.
Hanya menggigit bibir, menahan isakan yang hampir saja keluar dari mulutnya. Menunduk berharap poni pirangnya mampu menutupi matanya yang mulai menggenang. Hyukjae sangat sakit! Perasaan ini bahkan belum pernah dia alami sebelumnya. Perasaan gelisah, takut dan sedih bercampur membuat sang pirang kacau.
Donghae akan meninggalkannya, Donghae akan meninggalkannya.
Hanya kalimat itu yang muncul di kepalanya, seakan-akan terkunci rapat meneror ketenangan yang sudah lama dia rasakan. Kembali masuk dalam dunia gelisah yang mengguncang psikologisnya.
Dia tidak pernah berpisah dengan Donghae dan sekarang Donghae akan meninggalkannya?
Menangis…, Ya Hyukjae hanya mampu menangis dalam diam. Membiarkan isakan kecil yang keluar tanpa diketahui seluruh keluarga Choi.
"Kau sangat hebat Hae! Aku bangga padamu nak."Tuan Choi memeluk erat Donghae.
Donghae tersenyum, namun pikirannya melayang akan sosok yang sejak dari tadi menunduk. Ya Hyukjae. Donghae mngkhawatirkannya. Hanya dengan isyarat mata dia mampu membaca sang kembarannya. Donghae tahu perasaan Hyukjae. Karena mereka berdua mempunyai perasaan yang sama.
Gurat kepedihan tidak mungkin tertutupi, perasaan sedih tereksplor hanya dengan memandang sosok itu. Jiwanya meredup tertelan perasaan sedih yang mendalam, seperti jewel yang kehilangan binaran cahaya. Hyukjae sangat mudah terbaca.
Tepukan di pundaknya membuat Donghae berhenti mengamati sang Jewel, matanya beralih kepada sosok tinggi di sampingnya, Choi Siwon.
"Sebelum kau pergi ke paris aku ingin meminta izin padamu?"Siwon berkata pelan. Donghae memandang nanar Siwon, merasa sesuatu yang akan dikatakan pemuda itu akan menambah malapetaka yang semakin rumit.
"Ada apa?"Tanya Donghae khawatir.
Siwon berpikir sejenak, wajahnya berubah merah ketika tanpa sengaja matanya melirik Hyukjae. Ada sesuatu yang Siwon rencanakan bersama Hyukjae dan Donghae sangat yakin akan hal itu.
Hening…
Mereka semua menanti ucapan yang keluar dari mlut Siwon, entah itu akan menjadi kabar yang baik atau malah sebaliknya. Kabar yang membuat mereka terpojokkan atau tidak.
"Aku sudah membeli apartemen kecil,"Siwon menghela nafas grogi, dia bahkan meneguk segelas air putih di depannya, sangat jelas dia sangat gugup, "dan aku ingin membawa Hyukkie bersamaku. Bagaimana Hae!"
Lemas…..
Tubuh kedua pemuda itu merasa tidak bisa digerakkan lagi. Terkunci. Lengkap sudah malapetaka yang terjadi, semuanya seakan-akan menjadi karma hubungan mereka yang tidak wajar.
"Tapi…,"Donghae mencoba menolak.
"Tenang saja, aku tidak akan menyentuh Hyukkie sebelum menikah. Aku akan menjaganya selama kau pergi?"Siwon memotong ucapan Donghae.
"Kau sudah dewasa Siwon, kami bangga kepada kalian."Nyonya Choi berucap, sepertinya dia sangat mendukung tindakan Siwon.
Terdiam….
Donghae menunduk meratapi semua yang terjadi. Dia pergi dan Hyukjae bersama Siwon. Memikirkannya saja membuatnya ingin mati saat ini juga. Tapi apa yang bisa dia lakukan saat ini? mungkin membiarkan Hyukjae tinggal bersama Siwon selama dua bulan tidak terlalu buruk, lagipula Siwon berjanji tidak akan menyentuh Hyukjae-nya. Dan selama itu, dia akan memulai dari awal. Mengumpulkan kekuatan dan materi untuk mengeluarkan Hyukjae dari sini.
"Jaga Hyukkie untukku."ucap Donghae.
"Ne, aku akan menjaga Hyukkie untukmu."jawab Siwon.
Runtuh sudah pertahanan Hyukjae, air mata pemuda itu meluncur dari kedua bola matanya. Perasaan sakit menjalar memenuhi relung hatinya. Merasa hina, membiarkan pemuda sebaik Choi Siwon masuk ke dalam permainan mereka.
Entahlah, Hyukjae sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Membiarkan dirinya mengikuti apa yang takdir goreskan untuknya.
Dia sudah tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang dia butuhkan dan yang tidak.
Sudah sejak dulu memang Hyukjae sudah menutup matanya, tekanan psikis yang terlalu besar membuatnya tidak bisa menjadi dirinya. Hanya mengikuti apapun yang dia gariskan. Salah dan yang benar tidak ia pedulikan.
Karena Hyukjae tahu, apapun yang dia lakukan, salah atau benar akan selalu berujung pada sosok Lee Donghae.
00000tbc00000000
Cho Leelee balik lagi. Mian banget hiatus hampir setengah tahun. Cho Leelee dah selesai KKN jadi sudah ada waktu untuk melanjutkan fic ini.
Maaf saya tidak bisa membalas review masing masing.
Saya sangat menyukai menulis, bagi saya menulis adalah sebuah seni yang menggabungkan perasaan, keindahan dan sebuah cerita.
Terimakasih sudah membaca fic saya.
Salam hangat Cho Leelee
