Author's Edit!
Chapter yang kemaren ada kesalahan! Scusami, nih chapter yg benernyaaa~~~ T^T
Sekali lagi author minta maaf atas kesalahan yang tidak diharapkan inii~~~ m(_ _)m
Based on 'Katekyo Hitman Reborn!' by Amano Akira
Cavallone the 11th
by Karin Risette Cavallone
Chapter : 3 of ~
author alert! : gaje, abal, ga sengaja buatnya, aneh, ga nyambung, pendek, chapter 1 kaya biografi, minim deskrip, dsb.. tapi kalo mau ya baca aja lah ! XD
"Ya, Nona muda, kita sudah sampai di bandara. Kita masih harus melanjutkan perjalanan dengan mobil," balas Romario. Aku masih agak linglung. Aku tidak menyangka, secepat ini aku akan tiba di kampung halamanku. Huft.
"Mari, Nona," ajak Romario seraya mengulurkan tangannya padaku. Kuraih tangan yang sudah agak berkeriput itu. Aku pun berjalan beriringan dengan Romario menuruni tangga pesawat.
Ternyata jemputan sudah menunggu di bawah. Sebuah mobil merah yang sepertinya keluaran Lamborghini beserta seorang pria berpakaian hitam. Hm, pria itu bukan salah satu dari teman Romario yang juga ikut datang ke rumahku. Oh iya, lalu mereka ke mana? Aku baru ingat kalau tadi penumpang pesawat itu hanyalah aku dan Romario. Masa' mereka benar-benar memaketkan barang-barangku ke Italia?
Fuh.
Positive thinking sajalah.
Sepanjang perjalanan Romario bercerita padaku. Bercerita tentang para mafia, tentang keluarga Cavallone, tentang keluarga Vongola, dan tentang Arcobaleno. Romario bilang 10th Cavallone dan 10th Vongola sangat dekat seperti kakak-adik. Hm, aku jadi ingin melihat Vongola Decimo yang katanya hanya 1 tahun lebih tua dariku itu.
Oh ya, lalu, siapa sih sebenarnya 10th Cavallone itu?
Lamborghini merah yang kunaiki berhenti di depan sebuah mansion besar. Mansion Cavallone Family.
Perlahan kulangkahkan kakiku turun dari Lamborghini merah itu. Tubuhku mulai gemetar. Kugenggam erat-erat cincin Cavallone yang tergantung di leherku.
Inikah.. Rumahku?
"Romario!" teriak seseorang. Seorang mafioso berpakaian hitam dan membawa senjata berlari menghampiri Romario.
"Gadis itukah, Romario?" tanya mafioso itu. Romario hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Mafioso itu pun terlihat seperti tersentak, lalu ia buru-buru pergi.
Tak lama kemudian sekelompok mafioso bersenjata datang entah dari mana dan dipimpin oleh mafioso yang tadi. Mereka berbaris di depan pintu masuk mansion.
Para Mafioso bersenjata itu berbaris di depan pintu masuk mansion. Apa maksudnya, mereka menyambutku?
Romario mempersilakan aku untuk masuk lebih dulu. Tubuhku masih gemetar. Perlahan kulangkahkan kakiku menaiki tangga menuju pintu masuk mansion.
"Benvenote, Cavallone Undicesimo!"(1) ucap para Mafioso itu tegas. Tunggu, aku kan belum menjadi Cavallone Undicesimo! Lebih tepatnya aku tidak akan pernah mau menjadi Cavallone Undicesimo.. = =
Baiklah. Kutegakkan punggungku, dan aku mulai membuka pintu mansion itu.
Ruang tamu mansion Cavallone [?], aku sudah menungu selama 30 menit di sini. Ruang tamu dengan desain abad 18 dilengkapi dengan perapian. Ada monitor LCD juga, tapi sepertinya bukan untuk TV. Karena bosan, aku hanya bermain dengan Macbook-ku. Entah siapa yang sedang kutunggu, tapi kalau bisa, aku ingin segera bertemu keluargaku.
"Nona, kamar anda sudah siap, anda ingin melihatnya?" tiba-tiba Romario muncul dari pintu.
"Ah? Kamarku?" tanyaku heran. Kukira yang sedang kutunggu adalah seseorang, ternyata kamarku. Lagi-lagi Romario tersenyum lembut.
"Mari ikuti saya, Nona Karin."
Aku pun mengemasi Macbook-ku. Kuikuti setiap langkah Romario menelusuri mansion. Mansion ini sangat besar, tentu saja. Mungkin butuh waktu seminggu lebih untuk menghafal seluruh ruangan di mansion ini. Nahkan kupikir, itu belum termasuk ruangan-ruangan dan jalan-jalan rahasia. Biasanya mafia selalu begitu kan?
Sudah lebih dari 5 menit kami menyusuri lorong demi lorong mansion ini. Dan sepanjang jalan aku sama sekali tidak melihat apa-apa. Hanya lorong yang sepi ―sepi hiasan. Yang kulihat hanya beberapa lampu hias di dinding, tak ada lukisan atau apapun.
"Kita sudah hampir sampai, Nona," ucap Romario. Tapi entah kenapa untuk kali ini aku sangsi akan kata-kata Romario.
Kami kembali menyusuri beberapa lorong sampai akhirnya aku melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong. Itukah kamarku?
Aku yang berjalan di samping Romario bisa melihat alis Romario yang sedikit mengerut. Apa ada yang aneh dengan kamarku itu?
Kami terus berjalan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Kurasa Romario sedikit memendekkan langkahnya. Samar-samar mulai terdengar suara dari dalam ruangan di depan kami.
"Jadi itu benar dia?"
Kudengar suara orang yang sedikit membentak dari ruangan itu. Romario menghentikan langkahnya dan membentangkan tangan kanannya agar aku berhenti. Aku yang masih bingung pun segera menghentikan langkahku. Kami berhenti hanya beberapa meter dari pintu ruangan itu. Kulihat Romario mengepalkan tangannya. Ia menoleh padaku dan tersenyum.
"Maaf Nona, saya permisi sebentar, Nona tunggu di sini saja," ucap Romario lembut. Aku yang masih linglung hanya mengangguk. Kutatap punggung Romario yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap saat Romario memasuki ruangan itu.
"Romario! Di mana dia?" Kudengar sebuah bentakan lagi. Aku penasaran akan apa yang terjadi di dalam sana. Tapi entah kenapa kakiku gemetar, mendekat selangkahpun aku tak bisa.
"Tenanglah Tuan, beliau ada di luar sekarang." Kali ini suara Romario yang terdengar. Romario memanggil orang yang sejak tadi membentak-bentak itu dengan sebutan 'Tuan'. Apa jangan-jangan dia itu Cavallone Decimo?
"Lepas! Aku ingin bertemu dengannya!"
Peluh menetes perlahan dari pelipisku. Tubuhku tak bisa berhenti bergetar. Entah kenapa aura yang terpancar dari setiap bentakan itu membuatku takut. Kh.. Kucoba untuk bernapas dengan tenang. Kugenggam erat-erat cincin Cavallone yang tergantung di leherku. Ah, semoga saja Tuan Cavallone Decimo itu memperlakukan aku seperti keluarga, kumohon..
BRAAKK
Pintu ruangan di depanku seperti didobrak dengan paksa. Aku masih berdiri gemetaran. Mataku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi aku melihat seseorang dengan rambut pirang yang kedua tangannya ditahan oleh salah seorang mafioso. Aku juga melihat Romario berusaha bicara dengan pria berambut pirang itu.
Entah kenapa aura yang kurang mengenakkan itu kembali menerpa tubuhku. Aku melangkah mundur, selangkah demi selangkah, perlahan tapi pasti. Entah kenapa aku ingin pergi dari sini!
DEEGG
Aura itu semakin kuat. Saat aku mencoba mempertajam pengelihatanku, kulihat pria berambut pirang itu yang kini berjalan ke arahku, dengan tatapan sedingin es. Oh Tuhan, apa yang akan dia lakukan padaku?
Peluh demi peluh kembali menetes dari pelipisku, melewati pipiku, dan jatuh di daguku. Mau mundur selangkahpun rasanya sudah tak bisa lagi, apalagi kabur. Pasrah. Aku mencoba untuk tidak menatapnya. Semakin erat kugenggam cincinku, semakin dekat pria itu denganku. Aku memejamkan mata, entah apa yang akan dilakukan pria itu padaku.
"Hhh…"
Kurasakan hembusan napas yang hangat di dekat wajahku. Bersamaan dengan itu aku sudah tidak merasakan lagi aura yang menakutkan tadi. Yang kurasakan sekarang hanya napas yang begitu lembut dan hangat. Kucoba membuka mataku perlahan.
KAATS
Aah, aku yakin wajahku pasti memerah semerah kepiting rebus sekarang! ,
Begitu aku membuka mata, wajah pria itu hanya beberapa inchi dari wajahku. Ia menatapku lekat-lekat walau tidak tersenyum, aku pun balas menatapnya malu-malu. Rambut pirang yang sedikit berantakan, dan tato di sekujur lengannya yang sepertinya masih sambungan dari tato di lehernya. Tadinya kupikir aku akan dibunuh atau apa, tapi…
GREP
Pria itu berdiri dan mencengkeram kedua bahuku. Matanya sedikit berkaca-kaca.
"Kau…"
"Ah..."
Pria itu memelukku, sangat erat. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini. Kenapa ia memelukku, dan… Pelukannya begitu hangat.. Bagai bentangan samudera tropis yang luas. Aku dapat merasakan luasnya dari tangan besarnya yang menyentuh punggungku, bahuku, sampai akhirnya membelai kepalaku. Kubenamkan kepalaku di dadanya. Aku tidak mengenal pria ini, aku tidak tahu alasan mengapa ia memelukku, namun entah kenapa aku merasa sangat nyaman berada dalam dekapannya.
"Ehm..."
PATS
Romario! Aku tak tahu alasan mengapa ia berdehem begitu namun itu sungguh merusak suasana! Gara-gara deheman itu pria berambut pirang itu jadi melepas pelukannya, padahal aku sudah merasa sangat nyaman.
"Ah, ahaha, maaf, aku jadi terbawa suasana. Oh iya, aku belum memperkenalkan diri," ucap pria berambut pirang itu dengan senyum yang cukup ramah. Dengan wajah seperti itu kurasa ia termasuk tipe orang yang periang dan sedikit bodoh. Pria itu pun menepuk kepalaku pelan.
"Benvenote, piacere conoscerla, Cavallone Undicisemo. Il mio nome Dino Cavallone, Cavallone Decimo.(2) Emm, kalau boleh ditambahkan, aku ini kakakmu dan kau ini adikku lho," ucap pria itu santai.
Tunggu.
Jadi dia ini kakakku?
Italian Note ^^ :
(1) "Selamat datang, 11th Cavallone!"
(2) "Selamat datang, salam kenal, 11th Cavallone. Namaku Dino Cavallone, 10th Cavallone..."
Author's cuap-cuap :D
nahaaa! akhirnya ff pertama saia di fandom KHR jadinya yg ini. .
ff gaje yg ga sengaja dibuat, diaplod di fb pake hp lagi ! XD
ceilaa, jadi kaya ff setengah hati nih. . . XP
tak banyak bacot, yg baca mesti review, kalo ga review, KAMI KOROSU! XDD
maap telaat bgt apdetnyaaaaa~~~ T.T
maklum, sibuk dengan uruan ujian, tes, dan kawan-kawannya~~~ T.T
apdet berikutnya, Insya Allah ngaretnya gaa lama-lama ^ ^
Super Thanks for my fuckin' sista Lady Yuu Phantomhive, Ilyusha 1013, YoshiKitty29, and Asuka Nakamura yg udah review chapt 2, terimakasiih banyaak ^^
yg mau kenal lebih jauh bisa lewat :
-fb : Adelheid Suzuki
-twitter : riiadlheid
sekian saja, maaf cerewet! XD
Ciao!
