Special for SIVE 2013-

"ShikaIno Splash the Rainbow to Color Your Day"

If you love ShikaIno, please join;

ShikaIno FB Group: Purple Haze

Twitter: phazesanctuary

Fansite: www. phaze - ina. co. nr (*tanpa spasi)

-Guardians-


Disclaimer: bukahkah seluruh karakter dalam Naruto milik Masashi Kishimoto?

Genra:Romance, Drama, Hurt/Comfort

Main Chara: Ino Yamanaka and Shikamaru Nara

Warning: author amatiran, abal tak terkira, banyak kesalahan dalam penulisan, payah EYD, bergelimpungan typo(s), hanya berharap maklum dari para readers.


Saat kesal, ada warna Merah.

Saat tersipu, ada warna Jingga.

Saat aku menunggu dan mencarinya, ada warna Kuning.

Saat aku merindukannya, ada warna Hijau.

Saat aku memikirkanya, ada warna Biru.

Saat aku sedih karenanya, ada warna Nila.

Dan saat aku sadar membutuhkannya, ada warna kesukaanku. Ungu.

Rainbow Classic

Aku celingukan, mencari sosok kekasihku. Aku jadi seperti ini karena mendapatkan pesannya beberapa menit yang lalu, memintaku untuk menemuinya. Lagi pula ada yang ingin ku sampaikan langsung padanya, bahwa hari ini aku akan datang terlambat lagi. Dari pada ia merasa kesal seperti kemarin, lebih baik secepatnya aku katakan bahwa aku akan membuatnya menunggu lama. Kumasuki sebuah ruangan di ujung koridor, tepat ruangan OSIS, tapi aku masih juga tidak menemukan orang yang kucari. Didalam ruangan itu, ada sebuah pintu yang di depannya bertuliskan kata 'ketua OSIS', maka aku yakin di situlah Shikamaru berada.

Dreet..! Bunyi deritan pintu karena terbuka olehku. Benar saja, kudapati Shikamaru seperti sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Mungkin, laporan kimia yang seharusnya hari ini ia serahkan kepada Kakashi-sensei.

"Honey?"kutegur ia dengan hanya kepala yang tersimpul ke arahnya. Ia merespon dengan memberikan atensinya padaku, tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. Setelah mendapatkan tangapannya, tanpa membuang banyak waktu aku melangkah mendekatinya. Duduk di kursi yang langsung berhadapan dengannya.

"Babe..!" panggilku sekali lagi, ketika ia malah kembali memberikan perhatiannya pada kertas-kertas di atas mejanya. Ia mendongkak-kan kepalanya, netra dark onyx-nya menatap padaku, dan bukan Shikamaru namanya bila tidak memberikan tatapan tanpa antusiasme. Kuturunkan sedikit kepalaku, dengan mata yang sengaja kusipitkan, seolah mewakili pertanyaan mengenai penyebab ia memintaku kemari.

Jujur saja, ini untuk pertama kalinya Shikamaru melakukan hal ini, biasanya ia akan memintaku mendatanginya di kantin atau laboratorium MIPA sepulang sekolah. Rasanya, mungkin ada hal sangat penting yang akan ia sampaikan. Aku masih menunggu ia mengucapkan sesuatu, yang saat ini tetap saja kulihat tangannya sibuk merapikan kertas-kertasnya, dengan tatapan tak mengarah kemana pun selain padaku. Tak lama, ia tersenyum. Manis sekali, membuatku warna jingga mendominasi. Yups..! Aku tersipu.

Aku paling tidak bisa menahan rona di wajahku saat ia memberikan senyum semanis ini untuk-ku, "Ada apa?" aku tidak akan membiarkannya membuatku tersipu lebih lama, kutegur ia dan membuatnya menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

"Tidak, memangnya kenapa?" ia balik bertanya, dengan senyuman yang masih bertengger di bibirnya. Aku menggeleng pelan, menunggu untuknya kembali bersuara. Ia beranjak dari sandarannya, bertumpu pada dua lengannya yang menyilang di atas meja, ia semakin mendekatkan wajahnya denganku.

"Apa hari ini kau sibuk?" akhirnya, Shikamaru membuka sesi pembicaraan yang kutunggu-tunggu. Seketika aku mengangguk, " Hari ini aku akan berlatih lebih giat lagi. Kau tahukan audisi akan diselanggarakan tiga hari lagi?" entah kenapa, tiba-tiba Shikamaru memasang raut wajah yang berbeda dengan yang sebelumnya. Ia seperti menahan kekecewaan.

"Kau kenapa?" tanyaku, aku harus mendapatkan alasan mengapa ia berexpresi seperti ini.

"Padahal kau ingin mengajakmu untuk jalan denganku."

"Jalan?" ia mengangguk, lalu kembali menyandarkan punggungnya pada tempat yang sama.

"Aku mau bertemu dengan seseorang, aku janji hari ini dengannya akan membawamu juga." Shikamaru menerangkan. Membuatku tersenyum getir, rasanya tidak rela menolak permintaan kekasih sendiri. Apalagi, bisa dihitung jari banyaknya Shikamaru yang mengajak-ku seperti ini.

"Tapi babe, ini benar-benar tidak bisa ditunda. Kau tahukan sebentar lagi..."

"Baiklah, tak masalah." ia menyela kalimatku, dan membuatku untuk kesekian kalinya memberikan senyuman sebagai respon awalku, "Jangan marah yaa, sayang?" ujarku pelan sembari memasang raut menyesal. Aku tak mau ia merasa kecewa atas penolakanku. Shikamaru menempatkan netranya pada objek lain, lebih tepatnya pada sebuah lemari kecil guna menaruh berbagai dokumen organisasi intra sekolah ini. Menghela napas pendek, sambil kembali menatap padaku.

"Babe..." aku berujar, perwakilan dari kata permohonan yang tidak aku tahu adakah yang lebih baik dari pada itu. Ia sendiri mengangguk-kan kepalanya, membuatku kembali dapat tersenyum.

"Kau bisa kembali melanjutkan kegiatanmu." mendengarnya, aku bangkit dari tempat duduk-ku untuk mendekatinya. Berdiri di sampingnya, agak merunduk, dan akan memberikannya sebuah ciuman di bibirnya bila ia tidak berpaling.

"Pliss..."bisikku, sembari menciumi pipi kenyal miliknya. Ia menoleh ke arahku, langsung saja kugunakan kesempatan itu untuk mencium bibirnya.

"Kau ingin merusak citraku sebagai siswa teladan, Ino?" tanyanya begitu kulepas tautan bibirku. Aku menanggapinya hanya dengan seulas bentuk bibir yang meruncing disetiap ujungnya. Aku beranjak dari posisiku tadi, bersiap untuk meninggalkanya sendiri. Aku sudah memegang knop pintu, dan kusempatkan diriku untuk berbalik untuk menanyakan sesuatu.

"Apa ibumu tidak menanyakan calon menantunya ini?" aku berkata, ia malah memberikanku sebuah senyuman kecil. Bukan-nya memberikan jawaban, ia malah mengendikan kedua bahunya secara bersamaan dan memajukan bibir bawahnya. Kuterima respon cueknya itu, kuputar knop pintu yang sedari tadi kugenggam. Masih saja kusempatkan diriku untuk mengatakan 'love you, sweet!' Sebelum aku benar-benar menginggalkannya, yang ia balas dengan sebuah sebuah senyuman tipis andalannya.

Aku pergi kembali ke ruang seni tariku, mengganti pakaian dengan konstum selayaknya balerina dengan rok tutu berbahan tulle di pinggangku. Berlatih bersama beberapa rekanku dan mengobrol mengenai beberapa hal, dari tentang hal yang berhubungan dengan pentas seni hingga sampai melenceng kesana-sini. Bukankah memang begitu sifat anak gadis, suka membicarakan berbagai hal yang mungkin bagi banyak pemuda tidak menarik?!

Tak terasa sudah hampir mendekati jam dua siang, dan itu waktunya aku menepati janjiku untuk berlatih bersama Sai. Besar harapanku untuknya kali ini bisa mengingat aransemen yang ia mainkan setahun yang lalu. Aku berjalan, bukan ke ruang musik tapi aula tempat yang nantinya berbagai pertunjukan seperti drama, band, modern dance, dan tentunya classic dance seperti balet untuk tampil di atas panggungnya. Lagipula, seluruh alat musik juga sudah dipindahkan ke aula ini.

Sai akhirnya datang juga, ia nampak tetap saja rapi dengan blazer sekolah terpasang di tubuhnya. Berbeda sekali dengan ketua OSIS sekolah ini, nampaknya Sai jauh lebih menghormati keberadaannya sebagai anggota dari Konoha International High School dari pada Shikamaru. Seperti biasa, ia memberikan sebentuk senyum padaku, yang kubalas dengan cara yang sama.

Tanpa basa-basi ia langsung saja mendudukan dirinya di depan piano yang saat ini diletakkan di sudut ujung pentas ini. Aku sendiri, tidak perlu perintah dari orang lain memposisikan diriku di tengah pentas yang lumayan besar ini. Luar biasa, benar-benar hebat renovasi yang dilakukan para anggota OSIS terhadap ruangan ini. Jangan lupakan ketuanya yaaa, dan ingat juga siapa pacar ketua OSIS sekolah ini!

"Kau sudah ingat, Sai..?" tanyaku, berharap ia mengatakan 'iya', atau hanya memberikan anggukan pelan. Orang yang kutanya malah tersenyum, "Kalau boleh aku tanya, kapan tepatnya kau mendengarkan aku memainkan piano?" Ia membuatku mencoba memanggil seperangkat informasi yang tersimpan dalan otak-ku, terdiam sesaat sambil menunduk-kan kepala. Berpikir dan mengingat.

"Kalau tidak salah, sekitar jam tiga atau empat, yang pastinya itu sudah pulang sekolah." aku menjawab dengan penuh ambiguitas, karena saat ini aku juga tidak begitu mengingatnya. Sai belum merespon apa-apa, yang aku yakin tak lama ia pasti tersenyum.

"Oh..!" hanya itu suara yang ia keluarkan, sembari memberikan senyuman-nya padaku. Tuh kan, benar tebakanku sebelumnya bahwa tanggapan yang ia berikan pasti sebuah senyuman. Aku menundukan kepalaku, rasanya aku sudah tahu bahwa akan kecewa untuk yang kesekian kalinya. Sai pasti masih lupa.

"Kau berlatih terlalu giat, Ino." Sai kembali bersuara, membuatku mengangkat wajahku yang sedari tadi tertunduk.

"Bagaimana bila kita jalan-jalan sebentar? Lagi pula ada sesuatu yang ingin kucari, sambil kau menceritakan tentang musik yang kau dengar dulu. Siapa tahu aku akan ingat." tambahnya, aku terdiam beberapa saat, tak lama aku mengangguk saja dengan senyum tipis mengembang di bibirku.

Aku berjalan dengan menyampirkan tas selempangku di pundak, bermaksud mengganti pakaian yang kenakan dengan seragam biasa. Tentunya akan menarik banyak perhatian, bila aku pergi kemana-mana dengan menggunakan kostum ini. Aku senang dijadikan pusat perhatian, tapi tidak untuk dengan cara yang seperti ini.

Aku kembali lagi ke ruangan yang tadi, tepat di ambang pintu Sai berjalan mendekatiku, "Kita ke mall saja kok." tuturnya, sebelum aku bertanya kemana arah tujuan kami. Aku hanya bisa membalas dengan anggukan pelan, detik kemudian aku melangkahkan kakiku, berjalan bersama dengan Sai.


o

O

o

Konoha Square, itulah tujuan kami dan saat ini di tempat itulah kamu berada. Seingatku tadi, sebelum kami berangkat Sai mengatakan untuk membuatnya teringat alunan yang kumaksud dengan cerita berbagai hal yang tentunya bisa membuatnya ingat. Bukan-nya banyak bercerita, aku malah lebih memilih untuk berdiam saja.

Tidak tahu kenapa, tiba-tiba mood cerewetku hilang tak tahu kemana. Kecewa, tentu saja! Seharusnya tidak kutolak ajakan kekasihku tadi. Pasti akan lebih menyenangkan jalan dengan Shikamaru sambil memeluk lengan-nya atau bahkan mencuri ciuman-nya. Aaah..! Aku kembali memikirkan kekasihku.

Biru, ketika aku memikirkannya ada warna biru yang mendominasi. Blue, meaning for when i thinking of him.

Sai mengajak-ku berkeliling mall, ia tidak berbohong dengan mengatakan ingin mencari sesuatu sebagai alasanya membawaku pergi. Di tangannya sekarang, ada sebuah plastic bag yang di dalamnya berisikan kuas dan cat-cat minyak.

Terus saja mengitari mall, tiba-tiba aku teringat mengenai keperluan dalam kulkas rumahku yang sepertinya sudah minim. Dari pada harus pergi lagi hanya untuk membeli bahan-bahan itu, sebaiknya aku beli sekarang saja.

"Sai, bisa kita ke food market?" ajak-ku, yang kontan dijawab Sai dengan anggukan. Kulangkahkan kaki ku memasuki sebuah ruangan khusus menyediakan berbagai macam barang, dari sembako, buah-buahan dan lain sebagainya. Membawa sebuah keranjang belanja yang kusampirkan di lenganku. Aku terus saja berjalan dengan Sai di sampingku, melewati koridor rak-rak tinggi yang berisikan berbagai macam barang sesuai kategori barangnya.

Langkahku seketika terhenti, saat netraku menangkap sosok yang amat kukenali, kekasihku. Shikamaru Nara. Ia berjalan sambil mendorong trolley, dan di sampingnya ada wanita paruh baya berambut cokelat. Itu bibi Yoshino, ibu Shikamaru. Jangan katakan bahwa tadi orang yang ingin ia pertemukan denganku adalah ibunya! Aku stagnan di tempatku, Sai yang sepertinya menyadari gelagat anehku pun hanya terdiam melihatiku.

Aku semakin membatu, saat Shikamaru mengarahkan netranya tepat ke arahku. Mau bersembunyi, tidak mungkin! Napasku serasa terhenti, Shikamaru menatapku dengan mata yang benar-benar tidak dapat dikategorikan senang mendapatiku disini. Bagaimana bisa senang, bila kau bertemu dengan kekasihmu berjalan dengan orang lain setelah menolak ajakannya? Syukurlah, bibi Yoshino tidak melihatku. Ia lebih dahulu melangkah, meninggalkan koridor ini, membiarkan Shikamaru yang terus saja memberikan tatapan aneh padaku.

Ia tersenyum hambar, sangat berbeda dengan senyuman saat ia membuatku tersipu di ruang OSIS. Ia menganggukan kepalanya beberapa kali. Masih mempertahankan senyuman yang menurutku menyakitkan itu. Tak lama, ia membalik-kan tubuh dan mengikuti arah pergi ibunya tadi. Aku ingin menangis saat itu, mau mengejarnya tapi serasa tubuhku membeku. Kututup mulutku dengan punggung tangan kananku, berusaha menahan isak tangis sambil menggumamkan namanya, 'Shikamaru..!'

Astaga..! Ia pasti salah paham, benar-benar salah paham. Apa sudah yang harus kulakukan?!

Secepatnya kuambil ponselku, menghubunginya berulang-ulang, tapi yang kudapati ia mengacuhkan semua pangilanku. Tak kehabisan akal, aku langsung mengiriminya pesan. Mengatakan bahwa ia salah paham dan tentunya meminta maaf, tapi masih saja ia acuhkan.

"Kau kenapa, Ino?" Sai bertanya, pandanganku teralih padanya. Aku yakin ia melihat apa yang kudapati.

"Maaf Sai, aku harus pergi." kataku, pergi begitu saja dengan meningalkan barang bawaanku di lantai. Aku tak peduli, sama sekali tidak memperdulikan apapun. Saat ini prioritasku hanya untuk membuat Shikamaru mengerti. Ini salahku, ini benar-benar salahku! Harusnya aku tidak sebodoh ini. Kucari ia disetiap sudut tempat ini, tapi tetap saja tidak kutemukan. Kenapa baru sekarang aku punya kekuatan untuk berlari ke arahnya?! Menyesal, sepertinya terlambat.

'Kumohon, temui aku di sekolah! Aku menunggumu. Aku akan jelaskan semuanya. Kumohon, Shikamaru. Aku tidak akan pulang sebelum kau mendatangiku. Aku serius!'

Itulah pesan terakhir yang kukirim padanya, berulang-ulang , hingga tidak tahu seberapa banyak. Aku sendiri langsung pergi ke tempat dimana kukatakan akan menunggunya. Di bis, aku hanya mencoba menahan tangisku yang hampir pecah. Aku berusaha agar tidak menjadi sorotan dan dikasihani oleh orang yang tidak kukenal.

Aku berlari, menuju sekolahku. Lebih dari dua tahun bersekolah di tempat ini membuat aku yakin bahwa gerbang sekolah akan ditutup sekitar jam lima sore oleh Kotetsu, sang penjaga sekolah. Ini masih jam setengah empat, aku masih punya waktu sekitar satu jam lebih untuk menunggunya. Awan terlihat sangat mendung, mungkin dalam hitungan jam bahkan menit akan menumpahkan isinya yang berupa partikel-partikel air.

'Aku menunggu di depan ruang OSIS kumohon Shikamaru, datanglah.' Isi pesan selanjutnya yang kukirimkan padanya.

Cemas. Saat ini aku berada dalam kecemasaan. Aku menunggunya sambil mendudukan diri di depan pintu OSIS dengan detak jantung yang terasa tidak nyaman. Sakit dan ngilu di dada, napasku sesak rasanya. Kupukul-pukul dadaku agar dapat menenangkan sedikit frekuensi detakan perihnya. Ini sudah hampir sejam aku menunggunya! Saat aku mencari dan menunggunya ada warna kuning, lalu memang warna itu yang kurasakan saat ini.

Tap..tap..tap..! Kudengar langkah seseorang mendekat, saat aku mendongkak-kan wajahku, kudapati Shikamaru dengan wajah dingin menatapku. Tidak tersenyum, tidak berkata apa-apa, juga sepertinya tidak berniat mengatakan apapun. Aku sontak berdiri, kontan memeluknya. Ia sama sekali tidak membalas pelukan yang kuberikan, malah mendorong tubuhku untuk jauhinya. Ia berjalan melewatiku, membuka pintu ruang OSIS dan memasukinya terlebih dahulu. Aku tanpa perintah, langsung saja mengikuti arahnya. Kutuutp pintu ruangan itu, dan ia kulihat memasuki ruang khususnya sebagai ketua OSIS sekolah elite ini.

Braaakk..! Suara ransel yang sedari tadi bertengger manis di punggungnya terlempar ke atas mejanya. Aku sendiri hanya bisa terkaget sambil menutup pintu kedua di dalam ruangan OSIS. Ia masih memunggungiku. Kutahu ia menghela napas, mencoba menstabilkan emosinya, dan aku sama sekali tidak berani untuk mengeliminasi jarak diantara kami. Detik kemudian, ia berbalik ke arahku, tersenyum hambar.

"Apa yang ingin kau katakan?" ia berkata dengan nada yang tidak biasa, dan sukses membuat air mataku mengalir dari dasarnya. Aku terisak, sambil terus menatapnya. Beberapa jam yang lalu, di ruangan ini aku menciumnya, sekarang di tempat yang sama aku menangisinya.

"Kau salah paham..!" hanya itu yang bisa kuucapkan.

"Salah paham? Astaga..!" ujarnya sambil mengalihkan netranya pada objek lain, lalu kembali menatapku.

"Ini sudah yang ketiga kalinya, Ino. Semenjak kau mengenal Sai, kau jadi melupakanku." ia berkata sambil memasukan kedua tangan-nya dimasing-masing saku celananya, " Untuk yang pertama dan kedua, aku masih bisa menganggap itu wajar. Tapi untuk kali ini, akan sangat idiot bila aku memakluminya."

Semakin deras saja tangisanku, tapi tubuhku sama sekali tidak dapat kugerak-kan untuk mendekatinya. Ia kesal, oh bukan hanya kesal, tapi ia benar-benar marah!

"Maaf..!"kataku seperti orang bodoh saja.

"Maaf? Sekarang begini, bagaimana bila seandainya kau dalam posisiku? Kau bertemu denganku bersama gadis lain setelah aku menolak ajakanmu, apa kau masih mau memaafkanku?" sakitnya mendengar apa yang baru saja ia katakan, tapi disatu sisi apa yang ia katakan itu benar, bahwa aku tidak akan mudah memaafkannya bila ia saat ini dalam posisiku. Aku tertunduk, ditemani bulir-bulir air mataku yang berjatuhan, lalu kembali menatapnya.

Ia memberikan senyum tanpa rasa, menggelengkan kepalanya "Aku rasa, kau sudah menemukan orang yang sebenarnya kau mau, Ino." ia berujar seperti itu, semakin sukses menambah rasa sakit yang terkoleksi di dadaku. Aku spontan menggelengkan kepalaku, terus saja aku menangis tanpa mampu mengatakan apapun.

Aku semakin kalang kabut saat kulihatinya mengambil tasnya yang tadi menjadi korban amukan-nya, "Terserah, mau bagaimana dengan hubungan kita ini." Shikamaru menambahkan sembari menyampirkan ransel di punggung tegapnya.

"Kau salah paham..!" kataku, sambil melangkah mendekatinya. Hampis saja kurengkuh ia bila tidak ia hentikan dengan satu jari mengacung kepadaku. Tanda memintaku mengurungkan niat untuk memeluknya.

"Sssttt..! Cukup sampai disini." ia berdesis lalu berujar dengan diikuti keempat jari sisanya yang tadi tergenggam mengacung ke atas. Benar-benar memintaku untuk tidak mendekatinya. Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud perkataanya terakhirnya tadi.

"Lebih baik, kita pikirkan lagi baik-baik tentang hubungan kita." demi mendengar apa yang ia ucapkan tadi, airmataku semakin laju mengalir. Aku tahu ia merasa tersakiti oleh kelakuanku, tapi tidak bisakah ia memberikan toleransi padaku? Aku tidak seperti apa yang ia tuduhkan, ia benar-benar salah paham.

Ia beranjak dari tempatnya semula di hadapanku, berjalan mendekati pintu dan tentu akan sukses memutar knop-nya bila tidak kuhentikan dengan pelukanku dari belakang tubuhnya.

Saaaaa...! Terdengar hujan di luar sana, deras. Amat sangat deras! Seolah membantu tangisanku.

Shikamaru terdiam dalam pelukanku, dari belakangnya kurasakan detak jantungnya sama berdetak cepat layaknya milik-ku. Airmataku membasahi bajunya, dan kuharap ia bisa mengerti betapa sakitnya aku kali ini. Shikamaru menghela napas pelan, ia membalik-kan tubuhnya padaku. Membalas rengkuhan yang kuberikan padanya. Semakin erat saja pelukanku terhadap tubuhnya, ia bergerak pelan untuk melepaskan pelukanku. Mencium keningku, "Maaf, tapi sepertinya hubungan ini sebaiknya kita pikir-pikir lagi."

Aku spontan menggeleng, " Apalagi yang harus dipikirkan? Apa kau tidak menyayangiku?"

"Aku tidak hanya menyayangimu, tapi aku mencintaimu." suara Shikamaru kini kembali pada tataran yang biasanya kukenal.

"Akan tetapi, aku tidak tahu pasti perasaanmu. Maka, sebaiknya kau pikir-pikir lagi siapa yang kau cinta."

Kenapa masih menyarankan untuk berpikir, aku tahu diriku dan aku sangat mengenali jalan pikiranku. Aku sangat yakin, yang ada hanya Shikamaru. Seandainya aku seorang ninja dengan kemampuan switching body and mine, tentu akan kupinjamkan ia tubuh serta otak-ku, agar ia tahu apa yang sebenarnya.

Ia meletak-kan kedua tangannya dimasing-masing pipiku, sedikit bergerak untuk menautkan keningku dengannya, mencium singkat bibirku.

"Kalau kau sudah menemukan jawabannya, kau tahu harus menemukanku dimana." itu kata-kata terakhirnya, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di ruang OSIS. Hujan di luar sana, aku mengkhawatirkan Shikamaru. Kukejar ia sampai di depan gerbang sekolah, tapi sayangnya aku tidak menemukan sosoknya lagi, mungkin ia menerobos hujan.

"Ino-chan?" tegur penjaga sekolah, Kotetsu. Ini sudah jam lima, saatnya ia untuk mengunci gerbang sekolah. Aku terdiam, tidak menjawab apa-apa. Kurasakan tetes hujan tidak lagi mengenai tubuhku, Kotetsu memayungiku dari belakang. Aku berdiri, "Kotetsu-san, tolong kuncikan ruang OSIS dan esok berikan pada anggota OSIS yang lain." itu kalimat terakhirku sebelum berkata terimakasih, dan berjalan meninggalkan orang yang tadi berbaik hati untuk-ku.

Sekarang hujan deras, tapi badainya ada dalam hatiku. Perih, sakit, dan sesak rasanya.

Air hujan menutupi airmataku yang mengalir deras dari dasarnya, kugumamkan berulang-ulang nama yang sama. Shikamaru.


o

O

o

Sudah dua hari aku tidak pergi ke sekolah, aku sedari kemarin hanya mengurung diri di kamar. Masih saja terngiang kata-kata Shikamaru, yang memintaku untuk memikirkan hubungan ini. Kenapa ia tidak mengerti juga, aku tidak bisa memikirkan opsi perasaan selain padanya. Aku terus saja menangisinya, aku benar-benar merasa patah hati.

Tok..!Tok..! Suara pintu kamarku diketuk oleh seseorang, "Inooo..!" suara kakak semata wayangku terdengar dari balik pintu. Aku tidak memberikan tanggapan apa-apa, terus saja membaringkan tubuh di atas kasurku.

"Buka pintunya! Aku, ibu dan ayah mengkhawatirkanmu. Kalau kau mau, kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Aku berjanji akan membantumu." bujuk Deidara-nii. Aku tak peduli, sama sekali tidak akan memperdulikan apapun. Satu hal lagi yang kutahu, bahwa tidak ada satu pun orang yang bisa membantuku, tidak ada yang bisa membuat Shikamaru-ku kembali padaku. Mulai dari dua hari yang lalu juga aku berusaha menghubunginya, namun tentu aku tidak akan seperti ini bila ia memberikan respon yang baik. Jangankan sebuah respon yang tidak sesuai harapanku, memberikan tanggapan saja tidak. Kudengar langkah Deidara-nii menjauh dari pintu kamarku.

Biru. Aku selalu saja memikirkan Shikamaru, tidak sedikit pun aku mampu mengalihkan pikiranku padanya.

Hijau. Aku saat ini benar-benar merindukan kekasihku, ingin memeluk tubuhnya dan membuatnya yakin aku hanya punya perasaan untuknya.

Nila. Moment ini tidak ada yang mampu memungkiri, bahwa aku sedih karenanya.

Airmataku mewakili segalanya, dengan ketiga warna yang bercampur aduk mendominasi dan mewakili perasaanku.

Bip..bip..! Bunyi ponselku, yang segera kuraih untuk memerikasa pesan dari siapa yang baru masuk. Sakura, dari kemarin ia menanyakanku. Ia bahkan memaksa untuk mengunjungi rumahku, yang kukatakan bahwa aku sedang sakit dan tidak ingin diganggu siapa pun. Kali ini pesan yang ia sampaikan berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.

Dalam pesannya ia mengingatkanku bahwa esok adalah hari audisi, dan Sai saat ini menungguku di aula untuk berlatih denganku. Aku akhirnya bangkit dari pembaringanku, teringat salah satu hal yang aku anggap penting. Segera mungkin kuseka air mataku, bergegas ke kamar mandi lalu mempersiapkan diri untuk ke sekolah serta membawa peralatan yang kubutuhkan. Ini tidak dalam jam belajar dan mengajar, keterlambatan bagaimana pun tetap akan dapat diberikan toleransi.

Aku keluar dari kamarku, dan mencari-cari kakak semata wayangku untuk memintanya mengantarkanku ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku langsung saja menuju ke aula, tempat dimana Sakura mengatakan Sai menungguku. Kuharap, hari ini aku tidak semakin kecewa karena ia masih saja tidak mengingat aransemen-nya. Sekolah sudah sepi. Maklum saja, ini sudah hampir jam setengah tiga sore.

Benar saja, kutemukan Sai tepat di depan pianonya, "Maaf..!" Itulah kata yang pertama kali keluar dari mulutku. Ia tersenyum seperti biasanya dan mengeleng.

"Tidak Ino, aku lah yang harus minta maaf." Sai berkata seperti itu, membuatku jadi bingung sendiri. Ia melanjutkan kata-katanya, membuatku membatu dan agak terkejut mendengar apa yang ia katakan. Aku sesekali menggeleng tidak percaya, dan itu seketika membuatku kembali teringat pada Shikamaru. Aku tersenyum kecut, "Tak apa Sai, sungguh tidak apa-apa." itu kata-kataku, sebelum aku bergegas pergi meninggalkannya. Bermaksud mencari Shikamaru.

Aku berkeliling sekolah untuk menemukan kekasihku, semua orang yang kutemui selalu mendapatkan pertanyaan yang sama mengenai keberadaan ketua OSIS.

"Naruto..!" aku berteriak, orang yang kupanggil pun menoleh ke arahku. Ia pun bergegas berjalan mendekatiku.

"Ino..!" tegur kekasih dari sahabat merah mudaku, "Kau kemana saja?"

"Apa kau tahu dimana Shikamaru?" tidak menjawab pertanyaan yang diberikan padaku, aku malah memberikan pertanyaan lain pada pemuda di hadapanku saat ini. Ia mengangguk, " Dia ada di ruang UKS, tadi ia demam dam aku mengantarnya kesana." jawab Naruto, dan tanpa mengucapkan apapun aku langsung berlari ke arah ruang unit kesehatan sekolah.

Shikamaru sakit pasti karena saat itu ia pulang dengan hujan-hujanan, ditambah lagi ia sebagai ketua OSIS yang sibuk menyiapkan pentas seni ini. Kekasih macam apa aku ini? Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada kekasihku? Bahkan, aku mengetahui keadaan Shikamaru dari orang lain. Miris!

Aku sekarang tepat di hadapan pintu ruang UKS, kubuka pintu secara perlahan, memasuki ruangan itu, dan tidak kudapati Shizune-sensei yang biasa yang berada di ruangan ini sebagai guru kesehatan. Kucari setiap bilik tempat tidur yang terpisah oleh tirai berwarna putih, dan tepat di ujung aku menemukan Shikamaru. Ia terbaring dan tertidur dengan damainya sambil membelakangiku, kuelus pelan rambutnya yang terikat menyerupai buah nanas.

Kucoba membalikan tubuhnya ke arahku, kutarik lenganya hingga merentang bebas. Aku naik ke atas ranjang, membaringkan diriku di sebelah Shikamaru, dengan kepalaku tertumpu pada lengannya. Kusibak selimut yang menutupi tubuhnya, dan ikut menenggelamkan badanku. Satu lengan Shikamaru yang bebas kutarik agar merengkuh perutku.

Mataku menatap dinding bercat putih tulang di hadapanku, kuhela napas pelan, memejamkan kedua mataku, mencoba tertidur dalam pelukan Shikamaru.

To Be Continued...


A/N:

Adududuududcch..! apa ini yang saya buat untuk chapter tiga?! Semoga tidak seburuk yang saya pikirkan. Saya mohon maaf, bila hasilnya tidak memuaskan. #Alleth mewek di pojokan kamar.

Maaf atas keterlambatan update fic ini, saya kehilangan kacamata beberapa hari dan membuat saya kelimpungan sendiri. inilah saya yang sebenarnya, ceroboh akut dan pelupa parah.#sumpah, gapenting sama sekali.

Tidak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang sudah memberikan review buat chap dua Rainbow Classic: Hee-RinA, Alisha Blooms, nitanitFA, Sachiko Akane, Saqee-chan, Zi Kriany, Chika, Yola-Shikaino, nianara, Minori Hikaru, NaMIKAze Nara, Flo Deveraux, yusagie. Terimakasih juga untuk yang bersedia nge-fave dan nge-follow fic ini. Love you, all..!

Untuk scene terakhir, saya mendapatkan inspirasi dari video klip-nya Cristina Perri yang berjudul Arms dan hampir sama endingnya dengan milik Paramore yang berjudul The Only Exception. Pada kedua klip itu, gadisnya pergi kesana-kemari lalu kembali pulang sambil berbaring dan memejamkan mata di samping kekasihnya. Oocchh..so sweet..!

Bagaimana chap tiga ini, apa marahnya shikamaru dan hurt-nya ino benar-benar kena?! Saya benar-benar kesulitan mencari inspirasi untuk scene itu. Mati akal!

Oke, chapter depan adalah eksekusi. Ga tahu bagaimana otak author satu ini merealisasikan agar ending-nya benar-benar valentine nan so sweet. Tentunya saya berharap semua readers tetap mau membaca dan mengikuti fict saya ini serta...

Review, pleaseeee..!