Staats Ritter
Disclaimer : Naruto dan Highschool DxD bukan punya saya!
Rating : M
Genre : Adventure, Fantasy, Friendship.
Warning! : AU, AR, AT, AH, OC, OOC, Typo, Miss Typo, DLDR!, dan yang paling penting… Isekai!
Semua teori tentang dimensi di fic ini murni karangan author. Jika ada kesamaan teori, itu semua hanya ketidak sengajaan.
.
Mohon untuk membaca dengan lebih teliti karena istilah asing dan saat berpikir(membatin) akan saya tulis menggunakan Italic.
Chapter 3 : Sebuah pertaruhan
.
.
.
Siang ini, Naruto, Michael, dan Vali sekarang sudah kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sebelumnya sempat tertunda karena serangan kelompok misterius yang sudah mereka berantas sampai tuntas. Meskipun tidak sampai ke akar karena mereka sedang buru-buru. Mereka berniat untuk menghadiri pameran senjata eksklusif yang saat ini sedang di gelar di Kota Terodus.
Saat ini Naruto dan kawan-kawannya sudah keluar dari hutan dan hanya berjarak sekitar 300 meter dari gerbang utama Kota Terodus yang mereka tuju. Mereka juga melihat banyak orang yang sedang menuju ke Kota Terodus. Sepertinya mereka juga ingin melihat pameran senjata eksklusif yang ada di Kota ini.
Mereka berjalan terus menuju gerbang masuk Kota. Saat sampai di gerbang, mereka dihentikan oleh beberapa orang penjaga. Mereka bertanya tentang apa yang membuat mereka datang kemari dan Michael yang mewakili mereka (Naruto dan Vali) mengatakan bahwa mereka hanya ingin menghadiri pameran senjata. Penjaga itu kemudian memberikan sebuah gelang lebar untuk dipasang di lengan kanan mereka agar penjaga tahu jika ada sesuatu yang terjadi dan mereka melihat gelang itu maka mereka akan menghentikan semua yang menggunakan gelang dan menginterogasinya.
Michael memberikan masing-masing satu gelang untuk Naruto dan Vali. Mereka langsung memakainya tanpa memperdulikan apapun dan berjalan di belakang Michael yang sudah mulai berjalan masuk ke dalam Kota Terodus.
Di dalam kota, mereka bertiga juga berbincang-bincang ringan tentang kota ini selagi mereka berjalan menuju square di pusat kota.
"Michael-nii. Jadi kau mengajak kami kemari hanya karena ingin melihat pameran senjata?" tanya Naruto dengan wajah sedikit jengkel. Michael hanya tersenyum menenangkan.
"Mungkin ada senjata unik yang bisa ku beli nanti. Yah, hitung-hitung saja sebagai koleksiku."
Naruto menatap tajam ke arah Michael. Dia harus bertarung keras bahkan tadi punggungnya terkena tebasan pedang panjang oleh seseorang tidak dikenal karena dia ikut dengan Michael. Sedangkan Vali tetap acuh tak acuh dengan perbincangan Naruto dan Michael. Vali malah menikmati pemandangan kota yang cukup indah ini.
"Tenanglah Naruto. Salah satu alasanku mengajak kalian kemari adalah aku akan membelikan kau dan Vali masing-masing sebuah senjata yang sesuai dengan preferensi kalian masing-masing. Karena kalian bersedia ikut, kalian bisa memilih senjata yang kalian sukai. Dengan harga yang tidak terlalu mahal tapi."
Naruto dan Vali yang mendengar ucapan Michael tersenyum senang. Tidak mereka sangka bahwa Michael mengajak mereka kemari adalah untuk membelikannya senjata. Setelah mendengarkan alasan Michael, rasanya pertarungan mereka sebelumnya di hutan sama sekali bukanlah masalah.
"Baiklah kalau begitu!"
"Michael-nii…"
Michael menoleh kepada Vali dengan ekspresi penasaran.
"Ya? Ada apa Vali?"
"Kenapa kau membelikan pedang kami? Maksudku kenapa kau tidak memberikan saja salah satu senjatamu yang berada di dimensi lainmu? Itu kan jauh lebih baik dan efektif."
"Hohoho… Vali. Berbanding terbalik dengan Naruto yang tadi malah protes, kau sepertinya memikirkan sesuatu yang lebih positif. Bagus sekali…"
"Hey!" seru Naruto yang tidak terima saat di ejek oleh Michael.
"Maa… Ada sebuah alasan kenapa aku harus membelikan kalian sebuah senjata. Senjata yang berada di dimensiku itu bukanlah senjata asli dari dunia ini yang kumasukkan ke dimensi lainku. Semua senjata yang ada di sana adalah senjata yang kubuat dengan pikiran dan Mana. Yah, kalian tau kan konsep di dimensi buatanmu, kau adalah dewa disana? Aku menciptakan berbagai senjata disana lalu mengambilnya dengan lingkaran sihir sebagai perantara."
"Selain itu, senjata buatanku juga akan menghilang jika manaku mencapai titik minimum alias terkuras habis. Hal yang sama juga akan terjadi jika aku mati. Tentu saja jika aku mati maka tidak ada mana yang terkirim untuk senjataku yang 95% diciptakan dengan mana dan terus di suplai dengan mana agar tidak menghilang."
Naruto dan Vali menganggukkan kepalanya dengan kagum.
"Tapi tunggu dulu Michael-nii. Apa kau bisa menciptakan senjata dengan pikiran dan mana di dunia nyata?" tanya Vali. Michael tertawa saat mendengar pertanyaan Vali yang ini.
"Tentu saja tidak bisa jika tidak ada bahannya. Kau ingatkan jika aku memiliki dimensi buatanku sendiri. Aku sudah menciptakan bahan-bahannya di sana lalu menciptakan senjata dan menyiapkannya. Jadi sewaktu-waktu aku membutuhkannya, aku hanya tinggal menariknya melewati lingkaran sihirku. Simpel bukan?"
Vali kemudian menoleh ke Michael.
"Kalau begitu kau bisa mengambil bahanmu dan menciptakannya di sini kan?"
"Ya. Itu memang bisa. Tapi kembali lagi ke alasanku tadi. Senjata itu akan menghilang jika aku kehabisan mana atau mati. Aku adalah tipe pembuat senjata yang harus terus mensuplai mana ke senjataku."
"Wah… Sayang sekali jika begitu."
"Uhm, jadi dari perkataanmu tadi kau adalah tipe orang yang memiliki jumlah mana yang banyak bukan, Michael-nii."
Kini Naruto yang berbicara. Sepertinya dia juga ikut tertarik dengan pembicaraan ini.
'Shimatta….'
"Ah, ya. Itu memang benar sih."
"Kalau begitu kau hanya perlu meminjamkan senjatamu kepada kami dan kami akan memberantas semua musuh yang ada di depan kita. Kau tidak perlu turun tangan. Lagipula aku juga menyukai desain dari setiap senjatamu."
"Yah, sebenarnya itu memang bisa dilakukan. Aku hanya akan mensupport kalian dengan sihirku di belakang. Tapi tidak mungkinkan aku ada bersama kalian setiap saat? Apa yang akan terjadi jika aku tidak bersama kalian dan kalian selalu menjagakan senjata dariku? Kalian hanya akan menjadi tumpukan mayat yang teronggok sembarangan."
Mereka terus berbincang-bincang dengan tenang dan juga memperhatikan jalan yang sudah mereka lalui dan juga menghafalkan gang-gang yang berada di antara beberapa bangunan supaya jika ada sebuah serangan mendadak mereka bisa segera melarikan diri melewati gang-gang itu.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, mereka akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju. Square. Mereka melihat sudah ada sangat banyak orang yang memadati square tersebut. Mereka juga melihat ada banyak stand yang memajang banyak senjata yang bagus. Semua stand yang ada di sini memiliki dinding besi yang diperuntukkan memajang senjata yang dibawa oleh para Blacksmith. Terlihat juga ada sebuah panggung besar di pinggir square mungkin tempat untuk mempromosikan senjata terbaik yang para Blacksmith buat.
"Ingatlah. Jika ingin senjata, ambillah yang bagus dan sedikit murah," ucap Michael kepada Naruto dan Vali. Naruto dan Vali menganggukan kepalanya mengerti.
"Baiklah. Ayo kita berburu!"
Mereka kemudian berjalan bersama ke sebuah stand yang menurut mereka menarik. Mereka melihat ada banyak senjata dengan berbagai ukuran terpajang di dinding stand dan juga tertata rapi di sebuah meja kayu di depan mereka.
"Ayo! Silahkan dilihat! Senjata buatan kami adalah yang terbaik!" seru penjual senjata itu.
Naruto mengambil sebuah pedang pendek di sana dan mengecheck seberapa nyaman pedang itu di genggaman tangannya. Dia juga menebas-nebaskan pedang itu di udara. Mencoba untuk merasakan apakah pedang itu terlalu ringan atau terlalu berat. Dan ternyata pedang itu terlalu berat untuk dirinya. Dia meletakkannya kembali dan menoleh ke arah belakang. Dia tidak mendapati Michael ataupun Vali di belakangnya.
"Eh?" gumamnya saat melihat Michael dan Vali sudah melihat lihat senjata di stand lainnya.
Naruto berjalan sedikit cepat meninggalkan stand yang baru saja dia kunjungi menuju stand yang dikunjungi oleh Michael dan Vali saat ini. Dia melihat Vali menggenggam sebuah pedang panjang 2 tangan. Michael juga sedang bertanya berapa harga pedang itu.
"Permisi, berapa harga pedang itu?" tanya Michael dengan menunjuk ke arah pedang yang dibawa oleh Vali. Mereka sepertinya ingin membeli pedang itu.
Blacksmith yang sebelumnya masih berteriak teriak menarik pembeli langsung terdiam dan menoleh ke arah Michael. Dia tersenyum senang karena mendapat calon pembeli.
"Ah, maaf. Yang dibawa anak itu?" tanya Blacksmith itu kepada Michael dengan menunjuk Vali.
"Ya."
Penjual itu tampak mengingat-ingat. Dia memegang dagunya. Tak lama kemudian dia menjetikkan tangannya.
"Aha! Pedang itu cukup murah. Harganya hanya 3 koin emas 8 koin perak. Bagaimana? Lagipula pedang itu juga cukup bagus!"
Michael tampak berpikir sejenak lalu menyambar pedang di tangan Vali yang kemudian di hadiahi tatapan tajam oleh Vali. Dia melihat pedang itu lekat-lekat. Berusaha mengidentifikasi dari bahan apakah pedang itu? Apa hanya besi biasa atau baja yang cukup bagus. Lalu Michael memegang pedang itu dan mengalirkan mana tipisnya yang hanya dia yang bisa melihatnya. Dia merasakan bahwa pedang itu hanya sebuah pedang biasa dari baja yang sedikit lebih bagus.
"Maaf. Harganya terlalu mahal. Kau bisa menurunkannya ke harga 1 koin emas 5 koin perak?" tawar Michael.
Sang penjual menampakkan ekspresi terkejut dan tampak kesal. Dia menatap tajam Michael.
"Terlalu mahal?! Itu harga yang pas! Kau hanya tidak tahu betapa bagusnya pedang itu!"
Michael kemudian menatap tajam penjual itu. Dia meletakkan pedang itu di meja kayu yang ada di depannya. Kemudian dia menundukkan sedikit sekali kepalanya kepada penjual itu.
"Kalau begitu maaf. Kami tidak jadi mengambilnya."
Michael langsung menarik Vali menjauh dari sana diikuti oleh Naruto yang menatap Michael dengan bingung. Vali sedikit memberontak karena ditarik-tarik oleh Michael. Setelah mereka sedikit jauh dari stand itu, Michael melepaskan Vali dan menghadap ke arah Vali dan Naruto.
"Michael-nii! Pedang yang tadi sesuai sekali denganku. Pedang itu memiliki berat yang pas dan juga mudah untuk digunakan. Pedangnya juga bagus!" protes Vali.
"Maafkan aku Vali. Aku tau kau menyukai pedang itu. Tapi pedang itu hanya terbuat dari baja biasa. Setelah ku identifikasi, pedang itu juga tidak akan bertahan lama untukmu mengingat gaya bertarungmu yang selalu mengadu pedangmu dengan pedang musuhmu seperti yang kulihat saat kau berlatih dengan Naruto. Kau harus bersabar sedikit lagi. Kau pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik."
"Tapi yang tadi harganya cukup murah kan? Kau mengatakan bahwa kami hanya boleh memilih senjata yang harganya tidak terlalu mahal. Aku bahkan bisa membelinya sendiri." Vali masih terus menerus protes. Michael tampak sedikit jengkel dengan protesan Vali.
"Persetan dengan perkataanku tadi, Vali! Aku tidak mau memberikan barang jelek untuk saudaraku karena barang tadi mungkin bisa mempengaruhi masa depannya! Kalian bisa memilih pedang yang bagus. Berapapun harganya jika setelah kulihat memang bagus aku akan membelinya untuk kalian," ucap Michael dengan suara sedikit keras.
Vali terkejut mendengar ucapan Michael tadi. Dia kemudian terdiam dan menundukkan kepalanya. Naruto yang berada di sampingnya menepuk bahunya pelan. Berusaha untuk membuat Vali sedikit tenang.
"Ya. Maafkan aku Michael-nii…"
"Ya. Maafkan aku juga."
Michael melunakkan kembali wajahnya yang sebelumnya sedikit mengeras. Dia kemudian tersenyum dan membalikkan badannya lalu berjalan. Naruto dan Vali mengikutinya dari belakang.
Baru sebentar berjalan, ujung mata Michael ada sebuah stand yang terlihat bagus di pojok square. Dia memutuskan untuk menuju ke sana dan melihat barang-barang yang dijual di sana. Saat Michael, Naruto, dan Vali sampai di sana, mereka disuguhi oleh senjata-senjata yang sangat bagus. Ada yang terlihat mewah, ada juga yang terlihat biasa tapi tampak kuat.
Dari semua senjata yang ada di sana, mereka bertiga sangat tertarik dengan sepasang pedang satu tangan dan pedang 2 tangan yang dipajang di tengah dinding belakang stand itu. Kedua pedang itu sedang disilangkan menghadap ke atas.
"Uhm, permisi. Apakah anda bisa memperlihatkanku sepasang pedang berwarna ungu yang ada di tengah dinding belakang anda?" ucap Michael kepada Blacksmith yang sedang menjaga standnya.
"Ah tentu saja!"
Blacksmith itu berjalan ke belakangnya untuk mengambil sepasang pedang itu lalu memberikannya kepada Michael. Michael melihat bahwa Blacksmith itu berjalan terseok-seok. Dia akhirnya menyadari bahwa Blacksmith itu pincang.
Michael melihatnya dengan teliti. Dia juga kembali mengeluarkan mana tipisnya untuk merasakan bahan dasar kedua pedang ini. Sampai saat dimana dia tersadar akan sesuatu tentang sepasang pedang ini.
"I-Ini…" ucap Michael dengan pupil yang sedikit melebar. Sepertinya mengingat sesuatu tentang sepasang pedang yang di genggamnnya saat ini. Sang Blacksmith tampak tersenyum senang melihat reaksi Michael.
"Ada apa Michael-nii?" tanya Naruto.
"Naruto, Vali. Coba ini!" ucap Michael sembari memberikan pedang satu tangan kepada Naruto dan pedang 2 tangan kepada Vali.
Naruto dan Vali menerima dengan bingung. Setelah menggenggamnya selama beberapa detik, Naruto sangat terkejut. Dia bisa merasakan kekuatan besar yang mengalir di dalam pedang itu. Vali juga memperlihatkan ekspresi yang sama. Mereka langsung mencoba menebas-nebaskan pedang itu di udara secara bergantian. Mereka kemudian menoleh ke Michael dengan senyuman.
"Berapa harganya? Kedua saudaraku di belakangku sepertinya menyukainya."
"Hmm… Harganya sebenarnya cukup mahal karena itu adalah pedang perang seorang jendral dari suatu negara pada masa perang akbar 1 abad yang lalu. Bisa dikatakan bahwa kedua pedang itu sebenarnya adalah artifak. Kupikir 13 koin emas putih dan 8 koin emas untuk yang pendek dan 14 koin emas putih untuk yang panjang adalah harga yang pas."
Michael membulatkan pupil matanya mendengar harga yang dilontarkan oleh sang Blacksmith. Dia melihat ke arah Blacksmith itu dengan tatapan tidak percaya. Begitu pula dengan Naruto dan Vali yang kebetulan mendengarnya.
'Harganya mahal sekali!'
"Kupikir aku sanggup untuk membelinya."
Sebuah suara terdengar dari belakang Michael, Naruto, dan Vali. Mereka sontak menolehkan kepala mereka dengan cepat ke belakang untuk melihat siapa yang melontarkan pernyataan yang cukup epik itu tadi. Mereka melihat seorang pria muda berambut pirang yang mungkin seumuran dengan Michael memakai jubah mewah dengan sebuah pedang panjang yang gagangnya terbalut dengan emas yang disarungkan di pinggangnya. Di lengan kanan pria itu juga terpasang sebuah gelang yang menandakan bahwa dia bukanlah seseorang yang berasal dari Terodus. Mereka juga melihat senyum arogan orang itu.
"Aku sanggup membeli kedua pedang itu dengan harga yang kau sebutkan tadi. Ah tidak, 2 kali lipatnya. Aku adalah seorang kolektor senjata perang. Maka dari itu aku akan mengeluarkan seberapapun uang yang harus ku keluarkan untuk sebuah senjata perang pada masa lalu."
Sang Blacksmith terlihat senang mendengar ucapan pria tidak dikenal itu tadi. Dia langsung meminta pedangnya yang sekarang sedang dibawa oleh Naruto dan Vali. Naruto dan Vali mau tidak mau mengembalikan pedang yang sedang mereka bawa kepada Blacksmith yang sedang mereka kunjungi sekarang.
"Hohoho…, kupikir tidak secepat itu."
Michael menginterupsi Blacksmith yang sekarang sedang membungkus pedang kembar tadi. Naruto dan Vali menatap Michael dengan tatapan bingung tapi Michael hanya mengabaikan itu. Michael maju melangkah ke depan pria yang mengaku seorang kolektor itu.
"Bagaimana jika kita mengadakan pertarungan pedang untuk mempertaruhkan kedua pedang itu tadi?"
Michael melontarkan sebuah kalimat tantangan kepada pria muda tadi. Sedangkan yang ditantang malah tersenyum meremehkan. Dia menyibakkan jubahnya dan maju selangkah mendekati Michael.
"Tidak masalah. Dengan pedangku saat ini aku sangat yakin jika aku menang melawanmu nanti."
"Hahaha…, sayang sekali tapi yang bertarung bukanlah aku. Salah satu adikkulah yang akan bertarung melawanmu nanti. Bagaimana? Aku akan memerintahkan adikku yang kupikir paling kuat ilmu pedangnya diantara kami bertiga."
Pria muda itu kemudian tertawa arogan sembari memegangi perutnya yang sepertinya terlihat sakit karena tertawa terlalu keras. Dia kemudian menepuk pundak Michael sok akrab. Michael hanya melirik tangan pria muda itu yang sedang berada di pundak kanannya. Pria itu berhenti tertawa dan menyeka pelupuk kedua matanya.
"Uhm…, Maafkan aku. Baiklah, aku menerima tantanganmu! Namaku adalah Raiser Phenex. Senang menerima sebuah tantangan di sini."
Orang yang mengaku bernama Raiser itu mengangkat tangan kanannya. Menyodorkannya kepada Michael.
"Michael. Baiklah, karena waktu pameran ini tidak terlalu banyak, bisakah kita segera melakukannya? Kau tau, kami juga masih ingin melihat-lihat yang lainnya."
Michael berucap sembari menjabat tangan Raiser. Dia kemudian menoleh kepada Naruto dan Vali. Mengeluarkan sebuah kode bahwa mereka harus segera bersiap-siap tapi mereka tidak paham dengan tatapan Michael. Michael hanya menghela nafas melihat Naruto dan Vali yang bingung.
"Ah ya, siapakah yang akan dijadikan wasitnya? Tidak mungkin kau kan? Bisa saja kau memihak kepada adikmu itu. Kita harus mencari orang lain untuk menjadikannya seorang wasit," ucap Raiser kepada Michael. Bagaimanapun juga alasan yang dilontarkan oleh Raiser sama sekali bukanlah sesuatu yang salah.
Michael tampak berpikir. Dia juga setuju dengan ucapan Raiser tadi. Lagipula dia tidak memiliki niatan untuk menjadi seorang wasit pertarungan yang akan diadakan sebentar lagi. Dia juga tidak tahu siapa yang bisa menjadi seorang wasit pertarungan disini.
Raiser yang dari tadi juga tampak berpikir menampakkan ekspresi senang. Dia sepertinya memiliki sebuah ide yang bagus.
"Ekhem…, Aku punya ide bagus."
Michael menatap Raiser dengan tatapan penasaran.
"Wahai pengunjung pameran senjata yang sekarang sedang digelar. Kami akan melakukan sebuah pertarungan di lapangan besar kota ini sebentar lagi. Bisakah salah satu dari kalian menjadi wasit pertarungan kami?!" seru Raiser kepada seluruh pengunjung dengan suara keras.
Seluruh kegiatan yang sedang berlangsung di square itu langsung berhenti sejenak. Mereka menolehkan kepalanya kepada Raiser yang baru saja berseru dan sekarang menaikkan kedua tangannya diagonal ke depan. Michael, Naruto, dan Vali juga menoleh kepada Raiser dengan tatapan tidak percaya. Dia baru saja mengundang semua orang yang ada di sini untuk menonton pertarungan mereka secara tidak langsung.
Terlihat ada sebuah tangan yang diangkat di tengah-tengah keramaian. Raiser tersenyum senang melihat ada seseorang yang mau bersuka rela menjadi wasit mereka. Tangan itu tampak berjalan menuju Raiser dan kawan-kawan. Membelah lautan manusia di depannya.
Setelah pemilik tangannya melewati barisan orang terakhir di depan Raiser, terlihat seorang gadis muda. Mungkin usianya baru 16 tahun. Dia terlihat cantik. Gadis itu memiliki rambut putih panjang yang tergerai mencapai punggungnya. Iris matanya berwarna seputih salju. Dia juga memakai gelang khusus tamu.
"Aku bersedia untuk menjadi wasit pertarungan kalian."
Naruto yang melihat gadis itu melebarkan pupil matanya. Gadis yang merasa diperhatikan secara intens itu menolehkan kepalanya ke arah yang diyakini sebagai arah datangnya perasaan diperhatikan yang kental. Gadis itu tersenyum lebar melihat Naruto.
'Tidak tidak tidak… Dari seluruh orang di Elemental Nations yang kupikirkan berada di sini bersamaku, kenapa malah dia?! Dia adalah orang pertama yang tidak ingin ku temui lagi!'
Naruto dengan cepat mengepalkan dan mengangkat kedua telapak tangannya ke depan. Seperti berjaga akan sesuatu yang sepertinya berbahaya. Vali yang melihat Naruto mengangkat tangannya yang terkepal langsung menepuk pundaknya pelan.
"Naruto? Kau tidak apa-apa? Turunkan sikap siagamu itu! Kau membuatku malu saja!" ucap Vali dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh Naruto.
Naruto mengabaikan Vali dan tetap menatap tajam ke arah gadis itu. Gadis yang ditatap tajam itu merubah senyumannya yang sebelumnya terlihat senang menjadi terlihat sedih. Entah kenapa.
"Naruto! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Turunkan kuda-kudamu itu!" ucap Vali cepat tapi dengan kalimat terakhir yang ditekankan.
Naruto menurunkan sedikit demi sedikit aba-abanya dengan ragu. Setelah menurunkan kuda-kuda bertarungnya, Naruto menundukkan kepalanya. Ingatannya tentang Elemental Nations yang akhir-akhir ini jarang dipikirkan karena terlalu serius berlatih dengan sihirentah kenapa mengalir deras seperti sungai yang baru saja mendapat lahar dingin dari erupsi sebuah gunung.
Ingatan-ingatan tentang teman-temannya, guru-gurunya, dan semua peristiwa besar yang pernah dilaluinya kembali terputar secara cepat. Setitik air mata keluar dari sudut matanya. Hanya saja dia langsung mengusapnya kasar seperti matanya sekarang sedang dimasuki oleh debu.
Vali yang sebenarnya tahu kalau Naruto berpikir keras tentang hal yang tidak diketahuinya tetapi dia hanya acuh tak acuh dan lebih memilih untuk memperhatikan Michael dan Raiser yang masih berbincang-bincang tentang kesepakatan taruhan pertarungannya. Juga peraturan yang harus dipatuhi di dalam pertarungan kali ini.
"Blacksmith-san, tolong simpan sepasang pedang itu. Salah satu dari kami pasti membelinya. Tolong jangan sampai memberikannya kepada orang lain."
"Tenang saja. Aku akan menjaganya."
Setelah sepakat, mereka kemudian pergi menuju ke lapangan besar yang terletak sedikit jauh dari square. Tentu saja diikuti oleh sebagian orang yang memilih untuk menyaksikan pertarungan mendadak ini.
"Naruto. Kau yang akan bertarung," ucap Vali kepada Naruto. Naruto yang merasa dipanggil menolehkan kepalanya kepada Vali.
"Kenapa tidak kau saja? Kau kan suka bertarung."
"Oh ayolah. Ilmu pedangmu itu yang paling bagus diantara kita bertiga. Seharusnya kau sadar akan hal itu."
"Ya. Kau yang akan bertarung, Naruto!"
Kini Michael juga ikut menambahi ucapan Vali dengan sebuah perintah. Naruto hanya bisa pasrah dan melakukan stretching ringan selagi berjalan. Dia juga merasa bahwa ada kemungkinan dia memenangkan pertarungan ini.
Mereka sudah sampai di tempat yang disepakati sebagai tempat diadakannya pertarungan. Pihak petarung dan wasit menuju ke dalam lapangan sedangkan para penonton membanjiri pinggiran lapangan. Membentuk barisan rapi yang mengelilingi lapangan persegi panjang dengan panjang 80 meter dan lebar 50 meter.
Gadis yang berambut putih tadi menggambar sebuah persegi panjang di tengah lapangan menggunakan salju yang lembut. Setelah selesai, dia bergabung ke tengah lapangan dengan 2 orang yang akan bertarung satu sama lain.
Naruto sudah berada di tengah lapangan bersama dengan gadis yang menjadi wasit juga Raiser yang menjadi musuhnya kali ini.
"Baiklah. Akan kujelaskan tentang peraturan singkat pertarungan ini. Kalian tidak diperbolehkan menggunakan mana. Bahkan hanya sekedar melapisi senjata kalian. Jika kalian melanggar peraturan ini kalian akan didiskualifikasi. Sampai saat ini kalian masih paham?"
Naruto dan Raiser menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Kalian juga tidak boleh keluar dari garis yang sudah kugambar tadi. Panjangnya hanya 10 meter dan lebarnya hanya 8 meter. Kalian keluar kalian didiskualifikasi. Satu lagi yang paling penting…,"
"Pertarungan berakhir jika salah satu dari kalian pingsan atau menyerah. Kalian bisa bertarung secara all-out sekarang karena nii-san pirang dipinggir lapangan itu punya sihir penyembuh. Silahkan bersiap-siap!"
Setelah gadis itu selesai berucap, di depan Naruto tercipta sebuah lingkaran sihir kuning pucat yang bisa di indentifikasikan sebagai lingkaran sihir milik Michael yang sekarang sedang berada di pinggir lapangan. Naruto memasukkan tangannya dan menarik sebuah pedang satu tangan dari sana. Pedang yang dipakai oleh Naruto kali ini mengeluarkan aura hitam kelam yang mencekam. Dia segera membuat kuda-kuda bertarungnya yaitu sedikit menekuk kedua kakinya dan sedikit memajukan badannya. Dia juga mengangkat pedangnya ke belakang kanan tubuhnya.
Naruto kemudian menatap tajam Raiser yang baru saja menghunuskan pedangnya. Berkebalikan dengan pedang Naruto, pedang Raiser mengeluarkan aura merah pucat yang sangat banyak. Raiser memegang pedang panjang itu hanya dengan satu tangan. Berbeda dengan Naruto tadi yang kuda-kudanya cukup kompleks, kuda-kuda Raiser terlalu simpel dan membuka banyak titik serang untuk Naruto. Dari kuda-kudanya saja sangat terlihat bahwa Raiser sangat meremehkan Naruto yang tampak bersungguh-sungguh.
Gadis yang bertugas sebagai wasit yang baru saja menjelaskan peraturan pertarungan tadi melangkahkan kakinya keluar dari arena persegi panjang buatannya. Dia berhenti melangkahkan kakinya setelah dia berjarak 1 meter dari arena buatannya.
Gadis itu menoleh ke arah Raiser.
"Raiser Phenex siap bertarung!"
Gadis itu kemudian berganti menoleh ke Naruto.
"Naruto Uzumaki siap bertarung!"
"Baiklah. Hajime!"
Setelah gadis tadi memberi lampu hijau kepada Naruto dan Raiser, segeralah Naruto melesat ke arah Raiser dengan kecepatan tinggi. Dia langsung mengayunkan pedangnya cepat ke kaki Raiser yang pertahanannya cukup terbuka.
Raiser yang dari tadi menampakkan seringai arogannya semakin memperlebarnya karena ternyata selain memprovokasi Naruto dengan seringainya, dia juga memikirkan kemungkinan datangnya arah serangan Naruto. Dan dia berhasil memperkirakan kemana Naruto akan menyerangnya.
TRAANNGG…
Pedang Naruto ditahan oleh pedang Raiser dengan mudah.
Meskipun serangan pertamanya gagal, Naruto tidak berhenti begitu saja. Dia sekarang melakukan tendangan memutar ke arah kepala Raiser. Raiser juga terlihat mengabaikan serangan mendadak Naruto. Akan tetapi, meskipun terlihat mengabaikannya, Raiser memundurkan kepalanya dengan cepat dan memukul dada Naruto dengan tangan kirinya yang bebas.
BUUGGHHH…
Pukulan Raiser mengenai dada Naruto dengan keras yang berakibat Naruto sekarang terdorong beberapa langkah ke belakang. Berbeda dengan serangan pertama Naruto yang gagal, serangan pertama Raiser berhasil bersarang di tubuh Naruto.
Setelah mengenai Naruto, Raiser kembali melesat ke Naruto dengan kecepatan tinggi. Dia menebaskan pedangnya secara diagonal ke tubuh Naruto menggunakan 2 tangan yang membuat kekuatan serangannya meningkat. Raiser kembali menyeringai melihat respon Naruto yang terlihat terlambat. Dia menambahkan lagi kekuatan tebasan pedangnya.
Naruto terlihat masih sedikit kesakitan karena tinjuan Raiser tadi terkejut melihat Raiser yang sudah berada di depannya dengan pedang yang hampir mengenai tubuhnya yang terlambat merespon situasi. Naruto dengan sekuat tenaga melompat ke samping dengan cepat.
BUUMMM…
Pedang Raiser tidak berhasil mengenai sasarannya. Pedang Raiser malah menancap ke tanah karena kekuatannya yang terlalu banyak tadi. Raiser terlihat sedikit kesulitan mencabut pedang kebanggaannya tadi.
Naruto memanfaatkan lengahnya Raiser karena sekarang sedang terfokus dengan mencabut pedangnya. Naruto melesat dengan kecepatan yang sama dengan Raiser tadi. Dia mengayunkan pedangnya ke arah leher Raiser. Berusaha untuk memotong kepalanya meskipun dia tahu bahwa itu tidak akan mudah. Naruto juga melihat Raiser meliriknya dengan cepat.
WUUSSHH…
Pedang Naruto hanya mengenai udara di tempat Raiser sebelumnya. Raiser berhasil menghindar dari serangan cepat dan mematikan Naruto. Raiser kemudian tertawa kecil melihat Naruto begitu bernafsu mengalahkannya.
Raiser yang terpisah dari senjatanya mau tidak mau harus menggunakan tangan kosong karena ada peraturan bahwa tidak diperbolehkan menggunakan sihir di pertarungan ini. Jika melanggar didiskualifikasi dan dia tidak mau itu terjadi.
'Bagaimanapun juga aku tidak akan melepaskan sepasang pedang yang kata Blacksmithnya adalah senjata dari perang masa lalu.'
Raiser melesat menuju Naruto yang sekarang juga melesat ke arah Raiser dengan kecepatan tinggi. Raiser memiringkan tubuhnya sedikit ke samping kiri dan menghantam kepala Naruto dengan keras. Naruto yang merasakan ada sebuah ancaman di daerah kepalanya menebaskan pedangnya ke arah sana dengan cepat.
CRAASSHHH…
Darah keluar dari tangan Raiser yang baru saja ditebas oleh Naruto. Sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam ataupun fatal. Tapi tetap saja tebasan Naruto tadi membuat tangan Raiser tergores cukup panjang.
Raiser menendang Naruto sesaat setelah dia mendapatkan luka di tangan kanannya. Naruto memblok tendangan Raiser tadi dan kembali menyerangnya secara brutal. Tapi Raiser terus menerus melompat ke belakang hingga dia hampir saja melewati batas arena yang telah ditentukan.
Naruto terus menerus menyerang Raiser meskipun serangannya tidak ada yang mengenai tubuh Raiser. Dia mendesak Raiser sampai ke tepian arena dan akan mengakhiri pertarungan dengan serangan pamungkasnya.
"Uzumaki Style : Heaven's blow!"
Naruto mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan akan menghujamkannya ke tubuh Raiser dengan kecepatan tinggi.
Raiser yang menyadari bahwa serangan Naruto kali ini bisa berakibat fatal untuk dirinya langsung bergerak cepat. Dia memiringkan tubuhnya ke bawah kiri dan menendang samping lutut kaki kanan Naruto dengan keras dan cepat sesaat sebelum pedang Naruto berhasil menghujam tubuhnya. Naruto yang ditendang sama sekali tidak bisa menjaga tubuhnya untuk tetap berdiri sehingga serangannya ke Raiser tidak berhasil mengenai sasaran. Raiser langsung melompat ke arah pedangnya dan kembali berusaha mencabutnya.
SRREETT…
Pedang Raiser berhasil dicabut dan kini kembali bisa digunakan untuk bertarung. Baru saja 3 detik dia membawa pedangnya, dia sudah mendapat serangan dari Naruto berupa tebasan keras yang mengarah ke dadanya. Raiser yang refleknya cukup bagus memajukan pedangnya dan menangkis tebasan Naruto.
Naruto yang melihat serangannya berhasil di tahan melompat ke belakang beberapa meter. Setelah itu dia menyiapkan sebuah kuda-kuda untuk melakukan sebuah teknik. Dia menarik kaki kirinya sedikit ke belakang dan kaki kanan ditekuk dan diposisikan di depan. Tubuhnya dicondongkan ke depan dan memegang pedang di depan tubuhnya.
"Uzumaki Style : Splitter!"
WUUSSHH…
SREETTT TRAAANGG..
SRAATT SRAATT SRAATT…
JLEEEBB…
Naruto melesat ke depan setelah selesai berseru dan meyerang Raiser dengan membabi buta dan cepat. Dia menebaskan pedangnya ke arah kiri tubuh Raiser tapi berhasil ditangkis. Dia dengan cepat menarik pedangnya dan menebaskannya ke kaki kanan Raiser, lalu serangannya berpindah ke kaki kiri Raiser. Setelah itu Naruto menebaskan pedangnya diagonal ke atas kanan tubuh Raiser. Setelah itu dia mengakhiri serangannya dengan menusukkan pedangnya ke perut Raiser lalu menariknya dan menendang Raiser tepat di dadanya. Darah mengucur dari bekas tebasan dan tusukan Naruto di tubuh Raiser setelah Naruto menyelesaikan serangannya.
Dipinggir lapangan terdengar beberapa suara yang mengomentari pertarungan Naruto dan Raiser.
"Whoah! Bocah itu benar-benar hebat! Dia berhasil melukai orang yang jauh lebih tua darinya."
"Hei, umur tidak terlalu mempengaruhi kekuatan. Dia terkena serangan bocah itu karena dia terlalu lengah dan meremehkannya."
Sedangkan di tengah lapangan atau lebih tepatnya di dalam arena, Raiser sedang memekik keras.
"Aaakkhh!"
Raiser memekik keras saat mendapat serangan bertubi-tubi Naruto. Saat ini dia terlempar ke pinggir arena dan berusaha untuk berdiri. Dari 4 tebasan yang dilancarkan dia hanya bisa menangkis 1. 3 yang lainnya berhasil bersarang di tubuhnya. Dia sama sekali tidak bisa menebak arah serangan Naruto karena Naruto bergerak terlalu cepat untuk matanya. Setidaknya untuk saat ini.
'Kecepatannya meningkat menjadi sangat cepat. Apa itu adalah efek dari teknik yang baru saja digunakannya? Untung saja tadi dia tidak terlalu dalam saat menebasakan pedangnya. Jika terlalu dalam pasti tubuhku sudah terpisah menjadi beberapa bagian.'
Raiser sudah berdiriri dan memegang pedang kebanggaannya yang tadi sempat terlepas dari tangannya. Dia menampakkan ekspresi kesakitan yang luar biasa karena tubuhnya terkena serangan yang cukup fatal. Dia tidak bisa beregenerasi karena regenerasinya membutuhkan mana dan jika dia melakukan hal itu maka dia melanggar salah satu peraturan pertarungan ini. Dia sebisa mungkin bergerak ke arah Naruto yang sekarang berjalan santai ke arahnya.
Naruto sekarang hanya berjarak 2 meter dari Raiser. Dia mengangkat pedangnya dan akan melakukan sebuah teknik untuk mengakhiri pertarungannya saat itu juga.
"Uzumaki Style : Heaven's Bl-"
Sebelum Naruto menghujamkan pedangnya ke tubuh Raiser, Raiser sudah melompat ke Naruto dan menebaskan pedangnya ke dada Naruto dan berputar di udara lalu menendang pergelangan tangan kanan Naruto yang sekarang sedang membawa pedang di udara.
"Aakh!"
Naruto yang terkena serangan otomatis kehilangan fokusnya dan mengerang. Pedangnya sekarang juga sudah terlempar dan tersungkur di tanah karena tendangan Raiser.
'Tidak kusangka…, Tidak kusangka dia berhasil berdiri lagi setelah terkena serangan gilaku itu! Dia…, Dia sungguh musuh yang kuat. Belum lagi dia berhasil menebasku seperti ini.'
Naruto berusaha berdiri dengan sisa-sisa tenaganya yang hampir terkuras karena mengeluarkan teknik cepat dan kuatnya tadi dan ditambah dengan terkena serangan Raiser barusan.
Naruto berniat mengambil pedangnya yang tergeletak 1,5 meter darinya. Saat hampir saja menyentuh pedangnya, pedang itu sudah terlempar keluar arena karena Raiser mencongkelnya menggunakan pedangnya.
Raiser berjalan terseok-seok ke atas tubuh Naruto dan mengarahkan pedangnya ke leher Naruto.
"M-Menyerahlah b-bocah…."
Naruto yang melihat bahwa dia sudah tidak bisa melawan lagi akhirnya mengangkat kedua tangannya.
"A-Aku menyerah…."
"Baiklah, Raiser Phenex memenangkan pertarungan!"
Gadis yang menjadi wasit melangkah masuk ke dalam arena dan menginstruksikan Michael untuk masuk ke dalam dan mengobati keduanya.
Suara tepuk tangan dan siulan memenuhi seluruh arena.
"Whoa! Pertarungan yang sangat indah!"
"Untung saja aku tadi memutuskan untuk menyaksikan pertarungan ini. Tidak rugi aku kemari!"
Seruan-seruan yang menandakan bahwa para penonton puas dengan pertarungan juga terdengar dari berbagai sisi.
Kembali ke tengah arena, sekarang Michael dan Vali sudah tiba. Michael segera berlari menuju ke Raiser yang memang lukanya jauh lebih parah dari Naruto dan dia sekarang kehilangan banyak darah.
"Golden Recovery"
Setelah Michael selesai berucap, luka di tubuh Raiser perlahan-lahan menutup dan menghilang sepenuhnya. Michael memberikan sebuah botol kecil berwarna merah darah ke Raiser dan memerintahkan dia untuk meminumnya.
Setelah itu Michael beralih ke Naruto yang masih terbaring di tanah. Dia juga melakukan sihir yang sama dengan sihir yang dilakukannya ke Raiser beberapa saat yang lalu. Michael membantu Naruto untuk duduk.
Naruto yang sudah duduk menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap kedua saudara angkatnya karena kekalahannya dalam pertarungan ini.
"Maafkan aku Vali, Michael-nii. Karena aku kalah kita kehilangan sepasang pedang itu."
Vali yang mendengar itu menepuk pundak Naruto pelan. Naruto yang merasa ditepuk mengangkat kepalanya dan melihat Vali tersenyum tipis.
"Tenanglah. Kau sudah berusaha keras. Kita bisa mendapatkan pedang yang lain," ucap Vali menenangkan Naruto. Michael yang melihat Vali tersenyum.
"Ah, kurasa kalian lebih berhak mendapatkan pedang itu daripada diriku. Mengingat gaya bertarungnya yang sangat brutal tadi, dia jauh lebih membutuhkan pedang itu daripada diriku ini."
Sebuah suara terdengar dari belakang ketiga saudara tidak sedarah itu. Mereka menoleh ke arah suara dan melihat Raiser sedang tersenyum senang. Bukan tersenyum arogan seperti sebelumnya.
"Kalian tahu? Aku sudah lama tidak mendapatkan musuh seperti bocah Uzumaki itu. Dia sudah membuatku babak belur dan aku tadi sangat menikmati pertarungannya. Karena kau sudah membuatku puas dengan pertarungannya, aku akan membayar pedangnya. Anggap saja sebagai bayaran."
Naruto dan kedua saudaranya melihat ke arah Raiser dengan tatapan tidak percaya. Musuh mereka memberikan pedang yang mereka pertaruhkan secara cuma-cuma.
"Tunggu dulu! Harga kedua senjata itu kan sangat mahal!"
"Hahaha…, tenanglah. Aku bahkan membawa 10 koin emas hitam. Mengingat uang yang kubawa sekarang sangat banyak, membelikan kalian berdua senjata itu bukanlah sesuatu yang mahal untukku. Tenang saja."
Naruto dan Vali memperlihatkan senyuman senang mereka. Michael juga tersenyum senang mendengar ucapan Raiser tadi. Meskipun ada sedikit nada arogan di sela-sela ucapannya tadi, dia merasakan bahwa Raiser berkata dengan tulus.
"Hei semuanya. Sekali lagi perkenalkan, namaku adalah Raiser Phenex. Aku berasal dari Sevus. Jika kalian melewatinya mampirlah ke rumahku. Kalian hanya perlu mencari rumah dengan bendera bergambar burung Phoenix. Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kalian."
"Ah, tentu saja Phenex-san. Kami akan mengunjungimu kapan-kapan. Ngomong-ngomong, biarkan kami juga memperkenalkan diri sekali lagi. Namaku adalah Michael Stenz. Adikku yang berambut perak ini bernama Vali. Sedangkan adikku yang berambut pirang itu kau pasti sudah tahu. Namanya Naruto Uzumaki."
Raiser tersenyum lalu mengajak mereka untuk segera kembali ke stand yang menjual senjata tadi. Mereka berjalan keluar dari lapangan. Setelah keluar dari lapangan, Naruto meminta ijin kepada kedua saudaranya untuk ke sungai yang tadi dia lihat di pinggir kota. Michael yang sudah memikirkan hal ini memperbolehkan Naruto dan segera kembali jika sudah selesai. Naruto menganggukkan kepalanya dan meninggalkan mereka.
.
.
.
Naruto berjalan sendirian di tengah ramainya kota. Dia berjalan tanpa memperdulikan pejalan kaki lainnya yang melihat bajunya yang robek dan ada beberapa bercak darah yang masih tersisa di tubuhnya. Dia terus berjalan sampai akhirnya dia sampai di sungai yang dia tuju.
Naruto duduk di atas batu di pinggir sungai lalu memikirkan berbagai hal yang membuatnya lengah tadi saat sedang bertarung. Pikiran tentang Elemental Nations. Dia juga memikirkan tentang reaksi tubuhnya yang berbeda dengan tubuhnya saat sebelum dia terpindah kemari. Naruto terus memikirkannya sampai tidak terasa sudah 30 menit dia duduk di sana dan termenung.
'Kurasa tubuhku memang sepenuhnya kembali ke saat aku masih 13 tahun. Aku tidak bisa bergerak seperti saat berusia 16 tahun dulu. Tubuhku yang sekarang terasa lebih kaku. Mungkin juga aku jarang melatih tubuhku karena terfokus dengan melatih sihirku agar mencapai titik yang belum pernah dicapai oleh seorang mage sebelumnya.'
"Hmm…, tidak kusangka aku akan bertemu denganmu di sini, Ashura."
Naruto terkejut mendengar suara di belakangnya dan menolehkan kepalanya ke arah suara. Dia melihat gadis yang tadi menjadi wasit pertarungannya. Seseorang yang baru saja dia pikirkan begitu keras. Satu-satunya orang yang memanggilnya Ashura.
"Apakah kau tahu? Namaku bukanlah Ashura. Namaku adalah Naruto!"
Naruto berdiri dan melesat ke arah gadis itu. Mendorong gadis itu tepat di lehernya sampai dia terjatuh. Untung saja yang mereka pijaki adalah rumput yang cukup tebal. Jadi mereka tidak merasa kesakitan setelah jatuh.
Naruto masih memegang leher gadis itu dengan tangan kirinya dan tangan kanannya mengepal di atas. Berposisi seperti mengambil ancang-ancang akan memukul seseorang.
"Huh. Apakah seperti itu kau memperlakukan seorang gadis? Apa dulu kau juga seperti itu kepada ibumu?"
"Kau bukanlah seorang gadis! Lagipula kau tahu apa tentangku?! Aku bahkan tidak sempat hidup bersama kedua orang tuaku."
Gadis itu tersenyum sedih mendengar ucapan Naruto tadi.
"Yah, dengan tubuhku yang sekarang ini aku adalah seorang gadis kau tahu…."
"Aku tidak peduli dengan hal itu!"
"Dari semua orang di Elemental Nations, kau adalah orang terakhir yang kuharapkan berada di sini…,"
"…, Kaguya Ōtsutsuki!"
[To be continued]
Hyuhuu…, kembali lagi dengan Sylvathein di sini. Gimana? Baguskah? Jelekkah? Masih banyak kekurangankah? Oke itu nanti silahkan kalian utarakan di kolom review.
Oke, mungkin ada yang bertanya-tanya siapa itu Michael Stenz. Dia itu Michael dari DxD Universe. Aku hanya memberikannya sebuah marga karena itu berhubungan dengan plot kedepannya. Maaf karena aku lupa menuliskannya di chapter-chapter sebelumnya. Yah, maklumlah aku emang seseorang yang pelupa. Tingkat tinggi pula.
Oh ya, aku melupakan sesuatu di chapter kemarin. Kalian pasti mengingat elemen dasar Naruto di Staats Ritter kan? Jika kalian lupa, elemennya adalah tanah. Kenapa diganti dengan tanah dan tidak tetap angin? Aku hanya ingin membuat perbedaan. Jika Naruto rata-rata memiliki elemen yang lebih wow di fic-fic lain, aku hanya memberikan elemen tanah yang menurutku paling lemah. Aku mengatakan bahwa elemen tanah yang paling lemah juga bukan tanpa alasan. Yah, aku lupa mencantumkannya di chapter kemarin. Di sini 80% elemen tanah hanya digunakan sebagai support. Bukan untuk menyerang. Maka dari itu aku membuat Naruto memiliki elemen tanah. Tapi yah, tenang saja. Aku memiliki rencana besar yang sudah kutuliskan untuk yang satu ini.
Yah, di chapter kali ini kalian di perlihatkan apa alasan Michael mengajak Naruto dan Vali ke Terodus. Mereka menghadiri pameran senjata ini. Lalu di chapter ini juga kalian diperlihatkan bahwa ada orang lain yang berasal dari Elemental Nations. Ya, dia adalah Kaguya Ōtsutsuki. Apakah alasannya? Itu akan terungkap di chapter depan.
Ada beberapa review yang menurutku menarik.
Pertama, kenapa kekuatan Naruto kok lemah? Yah, pengen aja :v tapi tenang saja. Nanti kelemahannya akan tertutup dengan kemampuan berpedangnya yang sangat bagus.
Kedua, evolusi elemen tanah. Sejauh yang diketahui, evolusi elemen tanah hanyalah tanaman yang juga termasuk dalam unsur bumi.
Dan semua yang review lanjut dan sebangsanya, noh udah lanjut :v Btw, jangan panggil aku om. Aku baru 15 tahun :3
Oke, itu saja untuk chapter kali ini.
Oh ya, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga lancar dan nggak bolong sampai 1 bulan.
Terima kasih sudah membaca.
Silahkan Follow jika ingin tau perkembangan fic ini…
Favorite jika suka…
Dan yang pasti Review jika ada yang ditanyakan atau mau ngomongin apapun. Saran, kritik, kata-kata penyemangat, atau bahkan flame pasti bakal kuterima.
-Special thanks to Phantom no Emperor-
.
.
.
REVIEW PLEASE!
