Namikaze Horror Fate
Disclamier
Naruto ©Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Comedy
Rated : T+
Warning : OoC, Saltik, dan berbagai kesalahan penulisan lainnya.
Chapter 3
Hujan deras bercampur angin kencang menerpa sebagian besar wilayah Uzhushio. Kediaman Namikaze Minato juga tak luput terkena badai tersebut.
Namun cuaca buruk itu malah disukai oleh Kushina dan Menma. Dengan popcorn di tangan Kushina, mereka tampak sangat tegang menonton film horror berjudul 'Bangkitnya Suster Koprol' yang menceritakan bagaimana kisah seorang hantu yang bertahan dari beratnya hidup kehantuan di dunia hantu. Hantu itupun bekerja sebagai pemain sirkus yang dibayar hanya untuk koprol.
Totalitas mereka sangat tinggi jika sudah berhubungan dengan film horror. Bahkan lampu disekitar mereka dimati- maaf, lebih benarnya mereka pecahkan. Ingat! pecahkan agar seolah tengah berada di bioskop.
Disaat adegan tengah menegangkan, suara pintu terbuka cukup mengagetkan keduanya. Mereka pun melihat sosok dengan surai kuning muncul dan ikut menonton.
"Aku sudah tak tahan lagi jika harus koprol lagi. Aku akan..." itu sepenggal dialog film. Layar tiba-tiba menghitam. Ketiga orang itu menengguk ludah.
"Berubah menjadi ultramilk!" dialog itu muncul dari mulut hantu suster yang sukses membuat ketiga orang yang menonton film terjengkang kaget.
Film terus berlanjut. Dengan antusiasme tinggi mereka bertiga menontonnya sampai tak menyadari satu anggota keluarga mereka telah masuk kedalam ruang keluarga.
"Ayah, Ibu, Menma. Aku ingin bicara." panggil Naruto.
"Katakan saja." jawab Minato dan Kushina tanpa mengalihkan pandangannya seolah tak ingin diganggu sama sekali. Begitu juga Menma yang bahkan tak menjawab.
"Aku punya permintaan." ucap Naruto. Ia menghela nafas. "Aku ingin pindah ke Meikarta..."
Minato tercengang, kotak popcorn yang dipegang Kushina terjatuh lambat dramatis, Menma melongo.
Maaf, salah dialog. Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Kali ini adalah alur cerita yang benar.
"Aku ingin pindah ke Konoha." ucap Naruto mantap.
Ketiga keluarganya menoleh. Menatap kompak Naruto beberapa detik sebelum kembali melanjutkan acara menonton film mereka.
Kesal? Tentu saja. Ia diacuhkan hanya karena film horror tak jelas itu. Akhirnya ia memilih pergi dari ruangan itu menuju kamarnya yang lebih terang.
Setelah sampai di kamarnya, Naruto menghidupkan laptopnya dan mencoba mencari-cari apartemen yang mungkin akan ia tinggali lewat internet. Yah sesuai apa yang ia katakan tadi meskipun tidak dianggap, Ia akan pindah menuju tempat yang lebih ramai.
Uzushio adalah kota yang masih sepi penduduk. Jadi ia lebih sering melihat hantu daripada manusia jika berada diluar rumah. Akibatnya, ia sulit terbiasa melihat hantu.
Meskipun ia memiliki kalung dengan liotin berlian prisma hijau, jika ia tidak dapat terbiasa yah percuma saja. Jiwanya terguncang. Akhirnya bisa gila, dan cerita ini tamat dengan tidak jelasnya.
Namun jika ia pindah ke Konoha yang terkenal dengan kesibukan penduduk yang tak kenal waktu seperti yang diceritakan Sasuke, ia mungkin akan cepat terbiasa melihat hantu karena di luar ruangan akan banyak manusia yang berbaur dengan hantu siang ataupun malam. Otomatis ia lebih mudah terbiasa karena menganggap hantu seperti manusia lainnya.
Itulah yang mendasari keinginannya pindah menuju Meikar- maksudnya Konoha.
-o0o-
Ritual sarapan pagi hari di tanggal merah keluarga Minato mendadak heboh. Naruto dengan malas meminta persetujuan keluarganya untuk pindah ke Meik- maaf, Konoha.
"Tidak usah syok. Kemarin malam aku sudah mengatakannya, tapi aku kalah dengan suster salto." ucap Naruto malas.
"Suster koprol, bego." ralat Menma sembari menggeplak kepala adiknya. Yang digeplak hanya diam dengan lemparan raut wajah datar.
"E?" Menma cukup bingung, biasanya sang adik akan segera membalasnya. Tapi ini tidak. Mungkin suasana pagi ini memang harus serius.
"Jadi kau ingin pindah ke mana?"
"Meikarta." ketiga keluarganya terkejut. "Maksudku Konoha." ralat Naruto.
"Konoha ya?" ulang Minato dengan pose berfikir. Sedangkan Kushina tampak cemas.
"Apa sebegitu takutnya sampai kau ingin pindah kesana?" tanya Kushina.
Naruto mengangguk. "Di Uzushio terlalu menyeramkan, Ibu."
Setelah hening cukup lama, Minato memutuskan. "Baiklah. Ayah setuju jika menurutmu itu yang terbaik." ucapnya.
"Kau yakin Minato?" Kushina menatap suaminya.
"Ibu tidak setuju?" tanya Naruto.
"Bukan begitu." Kushina beralih menatap putra bungsunya. "Hanya saja aku khawatir denganmu."
"Sudahlah Kushina." Minato menengahi. "Aku tidak tahu apa yang dirasakan Naruto disini. Kau tahu sendiri, aku berada di Konoha saat sumuran dengannya. Jadi mungkin memang lebih baik ia tinggal disana sampai terbiasa."
"Kalau begitu aku ikut." ujar Menma yang akhirnya angkat bicara.
"Tidak." Naruto menatap kakaknya. "Kalau kau ikut pergi, ibu akan kesepian saat ayah lembur, bodoh." ucapnya. Sebelum Menma berargumen, Naruto kembali berkata. "Lagipula aku ingin tahu rasanya jika tidak tinggal bersama kembaranku, mungkin akan terasa berbeda. Apa kau tidak ingin mencobanya?"
Tak ada argumen yang keluar dari mulut Menma. Ia sangat memahami adiknya, mau bagaimanapun keinginan adiknya tak akan bisa ia bantah.
"Ibu setuju asalkan..." perhatian beralih menuju Kushina. "Kau tinggal bersama kakek dan nenekmu."
"Tidak mau." ucap Naruto tak suka.
"Lalu kau mau tinggal dengan siapa? Keluarga ayahmu yang ada disana hanya kakek dan nenekmu. Keluarga besar yang lain 'kan tinggal di luar negeri."
"Aku ingin tinggal sendiri di apartemen."
Kening Minato mengerut bingung. "Katanya kau ingin keramaian?"
"Tapi tidak dengan kakek dan nenek juga ayah!" jawabnya kesal. "Rumah kakek dan nenek kan ada di pinggiran kota. Suasananya kalau malam pasti sama saja dengan Uzushio. Jadi aku ingin tinggal sendiri saja ditengah-tengah kota yang sudah pasti malam atau siang ada orangnya." belanya.
Setelah suara Naruto hilang, tak ada lagi yang berbicara. Mereka bertiga saling terdiam mendengar penjelasan Naruto.
Cukup lama berfikir, Minato, Kushina, dan Menma saling menatap. Merasa sepakat, Minato pun memulai pembicaraan. "Baiklah, kau boleh tinggal disana. Em... Apa kau sudah mencari-cari tempat yang cocok?" jawab sekaligus tanya Minato.
"Sudah." Naruto tersenyum ceria. "Tadi malam aku menemukan salah satu rumah yang letaknya strategis. Dan ada bonusnya juga."
"Kenapa rumah?" tanya Minato.
"Em.. karena aku tertarik dengan bonusnya yah."
"Memangnya apa bonusnya?" tanya Menma.
"Tunggu disini sebentar." ia melesat menuju kamarnya. Mengambil Laptop yang sudah ia hidupkan sembari berjalan. Sampai di meja makan, ia membuka riwayat browsing yang ada disana.
"Ini tempatnya, dan bonusnya." kata Naruto semangat.
Ketiga anggota keluarganya syok berat setelah menatap layar laptop Naruto. Sebuah tulisan keramat dengan tambahan gambar wanita cantik bertubuh seksi berbalut busana perawat dengan tagname Mei Terumi.
"Beli Rumah, Bonus Janda."
-To Be Continue-
